inspirasi

inspirasi
Showing posts with label perjuangan. Show all posts
Showing posts with label perjuangan. Show all posts

Thursday, 29 January 2015

Pelajaran Hidup 1: Suratan Takdir atau Usaha?

Perjalanan hidup kita memang tidak mudah.
Jalan terlihat tidak berujung, terjal dan berbatu.
Banyak kerikil tajam yang siap memangsa kaki para pejalan.
Tidak jarang perjalanan kita diusik semak berduri yang tumbuh hingga ke tengah jalan.
Beratnya jalan bercampur aduk dengan letihnya badan.
Semangat di awal berganti segera dengan keputusasaan.

Tidak jarang kita berpikir apa kita salah jalan.
Terkadang kita badan kita menuntut untuk berhenti.
Bahkan lebih dari sekali kita ingin berbalik arah dan kembali.
Perjalanan begitu berat.
Ini sepertinya bukan jalan kita.

Beberapa orang tua mengatakan perjalanan hidup itu merupakan suratan takdir.
Tidak ada yang dapat menduga, juga menerka.
Kita hanya bisa berpasrah.
Sehingga hidup tanpa berjuang dan lupa dengan kenyataan.

Ada juga yang mengatakan perjalanan hidup ditentukan oleh kita sendiri.
Kitalah yang menentukan nasib kita, baik atau buruk, berhasil atau terbuang.
Mereka yang sepakat dengan ini kemudian berusaha merancang hidupnya.
Mengejar mimpi yang indah sehingga terkadang lupa dengan kenyataan.

Yang manakah kita?
Apakah menjadi orang yang pasrah dan lupa dengan kenyataan?
Ataukah menjadi pemimpi yang juga lupa dengan kenyataan?

BUKAN.
Kita bukanlah si pasrah.
Kita juga bukanlah si pemimpi.

Kita adalah perpaduan keduanya.
Kita adalah orang yang pasrah dan bermimpi.
Pasrah akan suratan takdir dari Sang Perancang Agung, yang telah merancang perjalanan hidup kita sedemikian rupa, sehingga perjalanan hidup kita akan menjadi Legenda Pribadi milik kita semata.
Kita juga pemimpi yang memimpikan hal-hal indah dan berusaha mencapainya.

Maka genaplah perjalanan hidup kita.
Buah dari suratan takdir dan usaha.
Hasil yang didapat dari perjuangan anak manusia dan penyertaan Sang Khalik.
Perjalanan hidup yang walau berat dan berliku-liku, akan berakhir dengan indah dan bahagia.
Jika dan hanya jika kita berusaha optimal selama menjalaninya, sembari tetap berpasrah pada kehendak Sang Pencipta.


Salam pagi. :)

Monday, 17 October 2011

Anak Kecil yang Belajar Bersepeda


Sulit bagi seorang anak kecil untuk bisa mahir bersepeda dalam sekali latihan. Tentu dia pernah terjatuh dari sepedanya. Yang utama adalah, dia harus selalu bangkit dari jatuhnya. Jatuh dan bangkit. Jatuh lagi dan bangkit lagi hingga pada akhirnya dia akan lancar bersepeda.

Seorang muda yang sedang belajar menyetir tidak jarang menghantamkan mobilnya ke mobil orang lain ataupun pembatas jalan. Hal ini harus terjadi beberapa kali hingga akhirnya dia bisa mengendarai kendaraan dengan stabil dan aman dari tabrakan. Tekad untuk bisa mengendarai mobil dengan benar, itulah salah salah kunci keberhasilannya.

Begitu juga dalam hal lainnya, hal paling rohani sekalipun. Perubahan tidak segampang membalik telapak tangan.  Seseorang yang sudah tahu kalau kebiasaannya selama ini salah tidak semudah itu juga meninggalkan kebiasaannya tersebut. Terkadang dia harus jatuh bangun mengatasi kebiasaan salah ini. Yang utama adalah, dia terus berusaha bangkit dari jatuhnya. Jatuh dan bangkit. Jatuh lagi dan bangkit lagi.

Apakah baik kita mencemooh seseorang ketika dia sedang berusaha bangkit? Baikkah kita ketika kita mencela seseorang salah, padahal dia sedang berusaha mengatasi kesalahannya itu?
Jika ternyata hal itu baik, anak kecil sepertinya tidak akan pernah bisa lancar bersepeda; anak muda tidak akan pernah bisa menyetir mobil; dan seseorang tidak akan pernah bisa memperbaiki kebiasaan salahnya.

Wednesday, 5 October 2011

Sang Semut dan Sang Daun


Saya tahu Allah tidak akan memberikan kepada saya sesuatu yang tidak dapat saya tangani. Saya hanya berharap bahwa Dia tidak memercayai saya begitu banyak. –Bunda Teresa-


Alkisah, hidup seekor semut yang senang berpetualang. Dalam petualangannya dia tersesat dan sampai ke sehelai daun yang menempel di sebuah pohon di pinggir sungai. Saat dia hendak kembali, hembusan angin yang kencang telah melepaskan sang daun dari pokoknya. Daun yang malang ini dipermainkan angin hingga kemudian jatuh ke sungai. Sang semut petualang ternyata ikut serta bersamanya. Petualangan yang tak pernah diduga oleh sang semut kemudian dimulai.

Sungai ini tidak terlalu besar. Lebarnya hanya 3 meter dan kedalamannya hanya berkisar 1 meter. Layaknya sungai ini disebut anak sungai. Tapi bagi sang semut yang selama ini hanya pernah melihat genangan air, anak sungai ini bagaikan laut tak berujung. Riak-riakan kecil bagaikan ombak yang besar. Hembusan angin sepoi-sepoi bagaikan topan yang kuat menerjang. Bagi sang semut, tetap berada di atas daun merupakan satu-satunya jalan untuk tetap hidup. Sang semut berusaha mempererat genggamannya pada sang daun. Dia yang selama ini selalu berjalan dengan pongah dan merasa tidak ada tantangan yang terlalu berat untuk dijalaninya akhirnya menyesali keangkuhannya. Saat itu dia  menyadari, dia juga harus bergantung kepada sang daun yang selama ini dianggapnya lemah tak berguna.

Sang semut dan sang daun tidak tahu ke mana arah perjalanan mereka. Yang bisa dilakukan hanya pasrah mengikuti kehendak sang air. Tanpa mereka ketahui, anak sungai ternyata berusaha mencari induknya dan sampai ke sungai yang lebih besar. Lebarnya 10 meter dan memiliki kedalaman hingga belasan meter. Yang menakutkan dan kemudian diakui oleh para penumpang gelap ini, terdapat banyak batu besar di sepanjang jalur sungai. Benturan yang hebat antara air dan batu menimbulkan buih-buih yang sangat menyeramkan bagi sang semut yang kecil. Sesaat dia merindukan rumahnya yang nyaman, berkumpul bersama ribuan saudaranya, namun kenangan itu telah tertinggal jauh berkilo-kilometer di belakang. Saat ini dia harus menghadapi tantangan di depannya. Kembali dia menyadari genggaman tangannyalah yang menjadi kekuatannya saat ini. Dia berusaha bertahan, menggenggam lebih kuat. Beberapa kali cipratan air yang menerjang wajahnya membuat genggamannya longgar. Namun dia terus bertahan, memperkuat genggamannya dan memperbaiki posisi tubuhnya agar lebih nyaman di atas daun. Tekad yang kuat membuatnya bisa melewati sungai yang mematikan itu. Waktu terasa berjalan dengan lambat. Dia menutup mata, berharap ini semua bisa segera berlalu. Tidak tahu kepada siapa dia berharap, tapi dia yakin ada yang mendengar suara hatinya.

Sungai besar telah menanti di hilir. Banyak sungai yang lebih kecil yang bergabung di sungai ini. Lebar sungai ini tidak main-main, hampir mencapai 70 meter. Kedalamannya bahkan belum diketahui sampai saat ini. Tapi, berkebalikan dengan sungai sebelumnya, sungai ini begitu tenang, mengalir dengan santainya. Mungkin sungai ini berusaha bijaksana dan lebih dewasa karena banyak sungai-sungai lebih kecil yang bergantung padanya. Sang semut merasakan tenangnya sungai ini, tidak ada batu besar yang menghadang, tidak ada cipratan air yang menghanyutkan, begitu tentram, begitu sunyi. Sang semut kemudian melonggarkan genggamannya. Dia bersyukur bisa melewati semua tantangan di belakangnya. Namun, masalah masih ada di depan matanya. Ternyata tidak ada daratan, hanya air di sekelilingnya. Perutnya mulai lapar, tenggorokannya telah haus. Walau dia bisa selamat dari bahaya alam, tampaknya sang semut tidak bisa selamat dari bahaya kelaparan dan kehausan. Rasa takut kembali hinggap di benaknya. Sia-sia tampaknya semua perjuangan tadi.

Air terus mengalir seakan memberikan harapan kosong pada sang semut. Sepuluh menit, tiga puluh menit, satu jam, empat jam, waktu terus berjalan. Sang semut memandang sekitarnya, kembali dilhatnya hanya air, air, dan air. Air menetes dari matanya. Dia kembali menyesali kepongahannya dulu. Matanya menutup dan dia mulai berandai. Andai dia bisa kembali berkumpul dengan keluarga besarnya, dia berjanji untuk lebih peduli pada adik-adiknya, dan mau membantu ibunya ketika dimintai tolong. Dia juga berjanji akan lebih sabar lagi pada neneknya yang sudah tua namun sangat menyayanginya. Dia juga tidak akan lagi mengganggu guru dan teman-temannya. Ternyata doanya terjawab. Sesaat dia mendengar suara gemerisik pohon dari sisi kirinya. Dia membuka matanya dan menoleh, ternyata dia sudah sangat dekat dengan daratan. Hatinya bersorak dan dia memandang dengan penuh harap ke tanah di depan matanya. Akhirnya, setelah penantian selama lima menit yang terasa seperti berjam-jam, sang daun berhasil mencapai daratan. Sang semut melangkah dengan pelan, menjejakkan setiap kakinya ke tanah di bawahnya, dan tidak lupa berterimakasih kepada sanga daun dan siapapun yang telah mengabulkan doanya. Akhirnya, daratan!

Perjuangan belum berakhir, sang semut masih harus menemukan jalan kembali ke kampung halamannya. Sayang, cerita itu tidak akan kita dengar disini. Akan ada waktu lain untuk menceritakan kisah perjalanannya yang sangat panjang untuk kembali, bahkan jauh lebih berat dari yang pernah dihadapinya saat terhanyut. Namun, pengalamannya di cerita ini menjadi bekal yang cukup untuknya menjalani itu semua. Tubuhnya semakin kuat. Genggamannya semakin keras. Pikirannya semakin jernih. Hatinya semakin sabar. Dia juga menyadari ada sesuatu atau seseorang yang selalu memperhatikannya dan menjawab harapannya. Dan itu semua tidak akan pernah dia dapatkan seandainya dia tidak melewati perjalanan bersama sang daun. Akhirnya, setelah berbulan-bulan, dia berhasil mencapai rumahnya. Dia menunjukkan perubahan yang jauh mencolok dibanding sosoknya yang dahulu. Dia kemudian menjadi Raja Semut yang terbaik yang pernah ada dan membawa kemakmuran di bangsanya. Tercatat dalam sejarah para semut, dia adalah semut paling kuat di zamannya, namun sangat sabar dan peduli kepada sesamanya. Kisah perjalanannya diceritakan turun-temurun hingga generasi-generasi di bawahnya. Begitulah kisah Sang Semut dan Sang Daun.


Tantangan, hambatan, masalah yang ada di depan mata bukanlah suatu cobaan yang membuat kita jadi rendah diri dan kalah. Itu semua justru ada untuk membuat kita selangkah lagi, setahap lagi lebih baik dari kita sebelumnya. Lebih besar tantangan, lebih berat masalah, ketika kita bisa menjalani dan melewatinya, maka akan lebih besar lagi kapasitas diri kita. Lebih baik, lebih sabar, lebih peduli, lebih jernih dalam pemikiran, layaknya Sang Semut. Namun satu yang pasti, Sang Semut pun menyadari ada kuasa besar di balik kekuatannya. Begitu juga kita tentunya harus menyadari kita tidak bisa berjalan sendiri. Ada rencana yang besar di belakang kita untuk membuat kita semakin baik lagi, dan semakin baik lagi. Dan Sang Perencana Terbaik itu tidak pernah lepas tangan akan karya rencana-Nya, selalu memegang tangan kita, bahkan menggendong ketika kita terjatuh.

Maukah kita selalu bersandar padaNya? Dan maukah kita menjalani setiap rencana yang ditentukanNya bagi kita?


Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku;
Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri,
Engkau mengerti pikiranku dari jauh.
                Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring,
                Segala jalanku Kaumaklumi.
Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan,
Sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya Tuhan.
               
Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana;
Jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau.
Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut,
Juga disana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.

Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku,
Menenun aku dalam kandungan ibuku.
Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib;
Ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.

Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak,
Dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk,
Sebelum ada satu pun dari padanya.
-Mazmur Daud-

Saturday, 27 August 2011

Agustus Yang Akan Segera Berakhir

Walau Agustus akan berlalu, bukan berarti kenangan akan Merah Putih yang berkibar juga akan berlalu. Masih ada sebelas bulan, yang bisa diisi oleh sikap pesimis akan perubahan, atau optimis akan kebangkitan.


September, Oktober, November, dan Desember, biarlah di setiap bulan ini Merah Putih tetap berkibar di hati kita yang juga terwujud nyata melalui tindakan-tindakan kita.


Januari, Februari, Maret, dan April, di bulan-bulan ini saatnya orang lain melihat rasa bangga akan bangsa ini tidak pernah pudar, dan justru terus meningkat seiring berjalannya waktu.


Mei, Juni, Juli dan kembali Agustus, doa dan harapan harus terus dilantunkan, karya nyata harus terus dilakukan, agar tangis Ibu Pertiwi bisa terhenti, dan senyum Anak-anak Pertiwi merekah dari Sabang sampai Merauke.


Sebuah lagu patriotik Indonesia karangan/ciptaan Ibu Sud yang sangat menginspirasi. Lagu tentang Ibu Pertiwi, lagu tentang Tanah Air.

Tanah Airku

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai


Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan


Perubahan ada di tangan para muda Indonesia. Hari ini saat kita untuk menggali ilmu dan ajaran, besok tiba waktu kita untuk menanam ilmu dan ajaran.

Semoga semangat itu terus ada di dada kita, kawan.
:)

Friday, 12 August 2011

Umurnya Tidak Jauh Dari Kita, Wolter Monginsidi

Robert Wolter Monginsidi nama lengkapnya. Kita sering menyebut nama ini ketika sedang mencari alamat rumah ataupun tempat, namun sangat disayangkan, kita jarang mendengar kisah apa yang ada di balik nama itu. Kita tidak mengetahui begitu indah cerita perjuangan dan pengorbanan dari sang Pahlawan Nasional, Pahlawan dari Tanah Minahasa.

Dilahirkan di tanah air tempat dia memberikan hati, pikiran, dan raganya pada 14 Februari 1925, di Malalayang, Manado. Gugur sebagai patriot di Pacinang, Makassar, 5 September 1949. Umurnya tidak sampai 25 tahun, sangat muda dan masih banyak hal yang seharusnya bisa dilakukannya, tapi pilihan untuk membela rakyat, bangsa, dan negara yang dicintainya membuatnya harus mati muda. Pilihan itu sendiri tidak diambilnya dengan setengah hati. Rela berkorban, sukacita, berani, dan ikhlas, justru itu yang terbersit di akhir hayatnya.

Berikut pesan dan kata yang diungkapnya kepada orang-orang terdekatnya, baik itu kala perjuangan membela ibu pertiwi, juga di saat-saat terakhir menumpahkan darah di tanah kecintaannya, Indonesia.

Pesan ini disampaikannya kepada Opie, adiknya. Bukti ketegaran dan keberaniannya yang tidak gusar menghadapi hari kematiannya.

"Apa yang saya bisa tinggalkan hanya rohku saja, yaitu roh setia hingga terakhir pada tanah air dan tidak mundur sekalipun menemui rintangan apa pun, menuju cita-cita kebangsaan yang tetap. Terbatas dari segala pikiran ini, junjunganku senantiasa Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan dengan kepercayaan yang tersebut belakangan ini sangguplah saya tahan segala-galanya, teguh iman di dalam kesukaran, tenang ketika keadaan sederhana dan tidak melupakan kenalan-kenalan jika berada dalam kemajuan. Ingatlah adikku bahwa kepergianku ini bukan jalan yang berbeda dengan yang lain. Perpisahan duniawi membawa manusia masuk ke pertemuan yang kekal. Sekalipun begitu gembira dalam hidup sebab itu pun pemberian Tuhan Yang Tertinggi di dunia."

Sebuah surat disampaikannya kepada teman baiknya, Milly Ratulangi, anak perempuan dari tokoh besar lain, pahlawan nasional Sam Ratulangi. Surat itu berisikan rasa masih ingin berjuang, di tengah kematian yang menanti. Betapa besar kecintaannya kepada tanah tumpah darahnya.

"Aku tidak mengandung perasaan tidak baik terhadap siapa pun, juga terhadap mereka yang menjatuhkan hukuman yang paling berat ini kepadaku karena kupikir mereka tidak mengetahui apa yang mereka kerjakan.... Untuk Tanah Air, saya sudah bulatkan hati menghadapi saat ini. Ah, Milly, apa yang saya hendak tinggalkan buat teman-temanku yang pernah mengenal kepadaku? Perjuanganku terlalu kurang tapi sekarang Tuhan memanggilku. Rohku saja yang akan tetap menyertai pemuda-pemudi.... semua air mata dan darah yang telah dicurahkan akan menjadi salah satu fondasi yang kukuh untuk tanah kita yang dicintai, Indonesia."

Darahnya juga tertumpah beberapa hari kemudian, menjadi fondasi, tiang yang kokoh, menyokong kehidupan kita saat ini di Tanah Air yang dicintainya, dan juga SEHARUSNYA kita cintai.

Kepada adiknya, Robbie, dia tidak lupa memberikan didikan dan ajaran.
Suratnya,

" ... bahwa sedari kecil harus tahu terima kasih, tahu berdiri sendiri ... belajarlah melihat kepahitan! ... Belajarlah bekerja mulai dari 6 tahun! ... Dan jadilah contoh mulai kecil, sedia berkorban untuk orang lain ... Untuk mengingat-ingat itu susah. Semua tidak ada yang gampang tapi terlalu susah pun tak ada juga. Bermain dengan temanmu, bekerja di kebun, bertanam, mencintai hasil usaha sendiri, menjadi penolong bagi kakakmu yang lebih tua, menjadi pembela dari yang lemah dan miskin, hormat pada orang tua, tahu mengaku bila bersalah, jangan mendapat sesuatu dengan jalan gelap dan sebagainya. Itulah, harus jadi darah dagingnya. Bekerjalah untuk kepentingan lain orang sedapat bisa. Itu bukan membuang tenaga percuma! Dan jadilah engkau sebagai adik dari kakakmu!"

Betapa luhur pikirannya. Betapa lurus jalannya. Dan kisahnya terbenam, hanya sebatas alamat jalan. Miris. Sangat disayangkan. Masih adakah Mongonsidi-Mongonsidi muda yang akan menggantikan tokoh bangsa ini?

Kata-kata Mongonsidi kepada keluarganya, lagi-lagi sebagai bukti nyata perpaduan keyakinannya yang teguh dengan kecintaannya kepada bangsanya.

"Saya telah relakan diriku sebagai korban, dengan penuh keikhlasan memenuhi kewajiban buat masyarakat kini dan yang akan datang. Pengertian tanah air Indonesia buat saya sendiri hampir-hampir saja sebagai suatu wujud yang berbentuk nyata sekali. Saya penuh percaya bahwa berkorban untuk tanah air mendekati pengenalan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Betapa kasihku kepada kamu sekalian dan kepada sukuku dan bangsaku tidaklah dapat kukatakan dengan kata-kata!"

Betapa dalam kecintaannya. Betapa kuat keyakinannya. Betapa tinggi.

Kisah, surat, dan tulisan ini saya kutip dari bab Menyumbang Pemimpin, buku Bangkit Memandu Bangsa karya Samuel Tumanggor. Beliau mengutipnya dari buku Jejak Kaki Wolter Mongonsidi: Sebuah Kisah Perjuangan karya S. Sinansari Ecip.

Alkisah mata sang penulis berkaca-kaca ketika menyalin kata-kata Mongonsidi, begitu juga saya ketika membaca dan menuliskan segelintir dari kisahnya. Kagum dan haru. Betapa besar tokoh ini!
Umurnya belum sampai 25 tahun ketika ajal menjemputnya, hanya berbeda dua tahun dari umur saya sekarang. Tapi pemikiran, kedewasaan, idealismenya sangat jauh, tidak dapat dibandingkan dengan saya saat ini. Betapa dalam, betapa kuat, betapa tinggi.
Menjalin dengan indah kecintaan kepada Tuhannya dan kecintaan kepada bangsanya, dan itu memang terpadu dengan baik melalui kisah hidupnya.


Sekali lagi saya bertanya, dan seharusnya kita bertanya, apakah masih ada Mongonsidi-Mongonsidi muda yang siap melanjutkan perjuangannya?

Ataukah kemapanan, kenyamanan, dan kemerdekaan ini telah membutakan kita dari 'penjajahan' yang masih terus berlangsung di tanah tumpah darah yang sangat dicintai Mongonsidi dan SEHARUSNYA sangat kita cintai juga?
Mari kita memikirkan dan menjawabnya bersama, wahai Mongonsidi-Mongonsidi muda yang sedang tertidur. Mari.

Terima kasih kepada b'sam yang telah mengenalkan tokoh ini kepada saya sehingga saya tidak sebatas mengetahui nama tokoh ini sebagai sebuah nama jalan di dekat tempat tinggal saya.


#Tulisan ini dibuat dalam rangka 17 Agustus, agar kita mengenang kisah para tokoh kita, yang telah memberikan fondasi kokoh untuk kehidupan yang kita jalani saat ini. Sudah SELAYAKNYA kita tidak terlena dengan kenyamanan, tapi tetap berjuang, melanjutkan kisah yang mereka rajut.

Thursday, 14 July 2011

Kisah, Kenangan, dan Kesan

Beratus kisah, beribu kenangan, berjuta kesan,
Itulah yang kurasakan bersamamu teman.
Aku berharap kau membaca tulisan ini hingga akhir.


November 2006,
Pelantikan di Dago Pakar saat itu menjadi awal rangkaian perjalanan yang kita lalui bersama di tempat sepasang kaki terhenti. Panitia Wisuda, Panitia PPAB, Panitia LKO, hingga diakhiri Panitia Lustrum dan Kepengurusan, ya, itu semua menjadi kisah, kenangan, dan kesan yang tak tergantikan dan banyak membentuk pemikiran dan karakter yang ada padaku sekarang. Nasi goreng ataupun sate padang Balubur, roti keju dan indomie Madtari atau Gembul, dan banyak tempat makan lain menjadi wahana kita berbagi cerita dan tawa. SC W-06 menjadi tempat kita berbagi suka dan duka. Hampir lima tahun berlalu sejak awal perjumpaan itu dan ya, semua itu mungkin akan sulit terulang lagi. Dimana ada perjumpaan pasti akan selalu ada perpisahan.


April 2008,
Lapangan di Punclut kala itu menjadi sebuah peralihan hubungan di antara kita teman. Dari yang mengkader dan dikader menjadi teman dan sahabat. Awal-awal perkenalan kita harus ditempuh dengan perjuangan dan tantangan, mungkin hanya beberapa kalian yang mengetahui hal ini, tapi itu justru semakin mempererat persahabatan di antara kita. Perbedaan angkatan tidak menjadi sebuah sekat pemisah. Tiga tahun lebih berbagi kisah denganmu teman, terlalu banyak kesan, dan itu mungkin tidak akan terulang, kembali aku menyadari, perjumpaan pasti harus diakhiri perpisahan, cepat ataupun lambat waktunya.


13 Juli 2011,
Kemarin merupakan akhir dari kisahmu di tempat sepasang kaki terhenti. Tempat itu sudah cukup lama menjadi tempatmu berhenti untuk memperkaya ilmu, melatih karakter, menjalin persaudaraan, dan sekarang tiba saatmu untuk melangkahkan kaki menuju dunia di luar sana. Ya, kurasakan juga keraguan dan kekuatiran di dalam dirimu, tapi tenang kawan, kau pasti bisa menjalani itu semua. Beratus tawa, salam, ucapan selamat, tangisan, dan doa telah diberikan kepadamu, itu bukanlah diberikan sembarangan, tapi kami berharap itu menjadi penguat untukmu melangkahkan kaki menuju komunitas baru yang mungkin belum terbayang olehmu.


13 Juli 2011,
Kemarin merupakan perpisahan antara dirimu dan kami semua. Bukan berarti kita tidak akan berjumpa lagi, mungkin besok pun kita masih berjumpa. Tapi malam itu lebih ke sebuah peringatan, bahwa perjumpaan kita mungkin tidak akan sesering dulu lagi. Sangat lucu malam itu, 2006 yang biasanya dikenal melankolis namun malam itu justru 2007 yang sanguin yang banyak mengeluarkan air mata. Bisa juga kalian menangis. Hehe. Ya, memang seperti itu teman, perpisahan itu memang seperti itu. Terkadang justru tangisan, bukan kata-kata, yang menunjukkan betapa besarnya ikatan persahabatan yang terjalin, betapa banyak doa dan harapan ditujukan kepadamu, dan itu dibuktikan tadi malam. Bukan berarti kita tidak akan berjumpa lagi teman, mungkin besok pun kita masih berjumpa.


14 Juli 2011 hingga seterusnya,
Saatmu untuk kembali menatap ke depan, merajut rangkaian jalan dan langkah di komunitas baru yang cepat atau lambat akan segera kau hadapi. Berat tantangan itu, sulit perjalanan itu, tapi yakinlah kau bisa menjalani itu semua. Sang Pencipta pasti akan selalu menjagaimu. Yakinlah akan rencanaNya kepadamu. Rencana indah pasti disematkanNya untukmu.


Banyak rintangan yang mungkin akan kau hadapi dalam perjalanan itu. Ketika kau butuh teman untuk mendengarkan keluh kesahmu menjalani itu semua, tidak perlu berpaling ke belakang kawan, kami semua tidak akan mungkin ada di belakangmu. Cukup menoleh ke kiri dan ke kanan, kami pasti ada disana, tetap ada menemanimu, memberikan tawa untuk setiap senyuman yang kau berikan, menyediakan telinga untuk setiap kisah yang kau ceritakan, dan siap memberikan pundak dan lengan apabila kau harus berhenti sejenak, beristirahat menghadapi tantangan besar yang sedang kau tempuh. Ingat, perpisahan itu mungkin ada, tapi persahabatan yang telah terjalin itu tidak akan selesai, dan akan terus berlanjut bahkan hingga hayat memisahkan kita.


Selamat berjuang teman, dan tema tadi malam bukanlah kebetulan diperuntukkan kepadamu. Bagaimanapun beban itu memang harus ada di pundakmu, dan aku juga nantinya, karena itulah yang memang coba diajarkan kepada kita di tempat sepasang kaki terhenti. Mencintai seni, budaya, dan Sumatera Utara itu sendiri yang nantinya akan berbuah menjadi tindakan di kala kita sudah selesai menjadi mahasiswa. Dan kau sudah selesai menjadi mahasiswa bukan, itu berarti kecintaanmu harus berbuah menjadi tindakan. Ini juga doa dan harapanku kepadamu teman.


Sukses selalu untukmu teman, semoga bisa merajut perjalanan terbaik yang direncanakanNya untukmu. Ingat, cukup menoleh ke kiri dan ke kanan, kami pasti ada disana karena persahabatan adalah salah satu anugerah terindah yang Tuhan berikan kepada manusia, begitu juga bersahabat denganmu teman.

Beratus kisah, beribu kenangan, berjuta kesan,
Itulah yang kurasakan bersamamu teman.


Salam hangat,
smps, 14 juli 2011

Sunday, 19 June 2011

Pejuang Gerhana

16 Juni 2011,  
malam dingin jadi saksi, 
hilang putri ayu malam di gemerlap cakrawala. 

           putra alam mengambil bagian,
           sembunyi sang putri untuk sejenak,
           dengan keperkasaannya,
           jauh dari para pemimpi malam.

putri ayu dan putra alam, 
bersenda-gurau berbagi kisah,
seakan hanya berdua, 
membiar sang fajar dan anak,
tersembunyi di gelapnya layar langit.

          para pemimpi berhenti bermimpi,
          mendongak kepala mencari tanda,
          menatap indah putri dan putra, 
          dalam pertemuan akrab dan intim, 
          saat sekali seabad.

dimana sang putri?
pergi sesaat untuk kembali,
memberi keayuan,
menarik sang fajar dan anak,
bersinar di gelapnya langit.

          dimana sang putra?
          kembali ke alam,
          meninggalkan sang putri,
          atau ditinggalkan?
          kosong dalam kehampaan. 

dimana pejuang gerhana? 
diam? 
tanpa kata?
berpaling?
selesai?

   atau

          dimanakah pejuang gerhana?
          kokoh?
          berjuang?
          melangkah?
          hingga akhir?

kemanapun pejuang gerhana,
para pemimpi melanjut mimpi,
berharap terjadi momen,
kembali perjumpaan antara,
sang putri ayu dan sang putra alam perkasa.


    can't be moved or over??

*tulisan ini dipersembahkan untuk seorang teman, pejuang gerhana, pria berinisial SS


16 Juni 2011
malam gerhana bulan
dini hari di kota Bandung

Saturday, 21 May 2011

Kemana Langkahku Pergi

Kemana langkahku pergi???

Ya, mungkin kalimat itu paling cocok menggambarkan kondisiku saat ini. Beberapa minggu ini sedang dilema antara beberapa pilihan langkah yang harus dipilih. Mungkin kalau diibaratkan dengan jalan, sekarang sedang berada di persimpangan jalan. Masalahnya pilihan jalannya bukan dua, tapi tiga, empat, atau lima.

Setiap jalan tentunya sesuai dengan karakter dan talenta yang kupunya, tapi jalan mana yang tepat dan sesuai dengan keinginanNya, nah itu yang sulit memutuskannya. Bagaimana cara mencaritahunya?

Seseorang pernah mengatakan lewat doa. Ya, tentunya dengan berdoa dan mencari kehendak Tuhan, kita bisa tahu kemana langkah yang akan kita ambil. Tapi, darimana aku bisa tahu kalau yang kudapat itu merupakan suara Tuhan dan bukan keinginan diriku? Ya, kalau disingkat, darimana bisa tahu itu objektif dan bukan subjektif? Kebetulan aku bukan tipe orang yang setelah berdoa kemudian bisa mengatakan bahwa Tuhan telah bersuara pada saat aku berdoa. Beruntung orang-orang yang bisa demikian.

Kebingungan akan jawaban doa itu pun pernah kupertanyakan ke seorang abang persekutuan. Darimana kita bisa tahu jawaban doa kita? Apakah memang Tuhan akan mengatakannya kepada kita secara langsung seperti kata beberapa orang, atau bagaimana? Bagaimana kita bisa tahu bahwa jawaban Tuhan itu memang jawabanNya, dan bukan sugesti jawaban dari diri kita sendiri??

Dan sang abang pun menjawab. Jawaban Tuhan itu bisa saja diberikan pada saat kita berdoa. Tapi, Tuhan juga memakai orang-orang di sekitar kita untuk memberitahukan rencanaNya kepada kita. Bisa lewat orangtua, teman dekat, saudara kandung, dosen, atau untuk orang-orang yang beruntung :p, oleh pacar mereka. Masukan dari mereka tentunya dapat membantu kita memutuskan langkah yang akan kita ambil pada saat akan memutuskan sesuatu hal, khususnya hal yang sangat penting dan berhubungan dengan perjalanan hidup kita selanjutnya.

Oleh karena itu, ketika tiba waktu kita untuk sampai ke persimpangan jalan dan menentukan perjalanan kehidupan kita yang selanjutnya, kenali karakter dan talenta kita, kenali kemampuan kita, berdiskusi dengan orang-orang terdekat, dan tentunya jangan lupa berdoa kepadaNya, niscaya jawaban yang paling tepat akan kita dapatkan. Lakukan ini semua dengan tepat karena ketika kita salah memilih jalan, tentunya akan mempengaruhi langkah-langkah kita selanjutnya. Dan ingat, peran orang-orang terdekat kita sangat berperan disini, baik untuk memberikan jalan yang tepat, atau justru mengaburkan jalan yang tepat. Mmmm,

Selamat menentukan kemana langkahmu akan pergi untuk mencapai tujuan hidupmu, kawan.
^^

Monday, 18 April 2011

Solidaritas Keberagaman


Sebuah sikap solidaritas kepada saudara-saudara GKI Taman Yasmin, HKBP Cikeuting, Ahmadiyah, dan saudara-saudara lainnya di bumi Indonesia yang sedang menghadapi permasalahan keberagaman.

Salam damai Indonesia,

65 tahun yang lalu, bahkan sekarang hampir 66 tahun, Indonesia mengalami beratnya perjuangan meraih kemerdekaan.
Para pejuang bahu membahu melawan penjajahan dan harga mempertahankan kemerdekaan itu tidak murah.
Darah beribu-ribu orang telah tercucur.

Apakah darah itu hanya milik satu ragam manusia saja?
Atau hanya milik satu etnis penduduk Indonesia?
Jelas tidak.
Sejarah telah menjadi saksi dari perjuangan beragam manusia, manusia Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.
Ada suku Aceh, Batak, Melayu, dan lainnya di Pulau Sumatra.
Ada suku Jawa, Sunda, Madura, dan suku lainnya di Pulau Jawa.
Dan berpuluh-puluh suku lainnya di seluruh Indonesia yang setiap darah dari manusianya telah berkontribusi nyata bagi kemerdekaan yang kita nikmati sekarang.
 Suku Dayak dan lainnya di Kalimantan.
Suku Toraja dan suku-suku lainnya di Sulawesi.
Beragam suku di Maluku dan Papua, serta suku-suku di kawasan Nusa Tenggara.
Tidak lupa juga orang Tionghoa, India, dan lainnya yang walaupun suku pendatang di Indonesia, tapi juga memiliki jiwa Indonesia yang tidak kalah dari suku-suku asli.
Beragam agama juga ikut mempertahankan kemerdekaan.  Orang Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan agama, kepercayaan lainnya ikut berdiri bagi bangsa.
Darah mereka semua telah jatuh ke bumi pertiwi, ke tanah tempat kita berpijak sekarang.

Apakah setelah mereka mati, jasad dan darah mereka  terpisah menurut ragam, etnis, suku, dan agama mereka?
Jelas tidak!!
Darah mereka semua mengalir bersama dengan bangganya, ke tanah air yang kita injak sekarang.
PERSATUAN ITULAH YANG MENJADI JAWABAN ATAS KEMERDEKAAN INI!!!

Saya seorang beragama Kristen. 22 tahun lalu saya dilahirkan dari kandungan ibu saya. Tapi sebelum saya mengetahui fakta bahwa saya seorang Kristen, saya terlebih dahulu telah menjadi orang Indonesia. Hal ini jelas. Saya seorang Kristen, Kristen Indonesia.
Begitu juga saudara-saudara saya yang lain. Islam Indonesia, Katolik Indonesia, Budha Indonesia, Hindu Indonesia, Aceh Indonesia, Batak Indonesia, Jawa Indonesia, Tionghoa Indonesia, Toraja Indonesia, Asmat Indonesia, dan beragam Indonesia lainnya.
PERBEDAAN ITU BUKAN UNTUK DIBANDINGKAN, TAPI DISANDINGKAN!!!

Masih banyak permasalahan-permasalahan di Indonesia yang belum selesai. Dari Sabang sampai Merauke dipenuhi permasalahan kemiskinan, ketidakadilan, korupsi, dan banyak permasalahan lainnya.
Kota-kota besar dan kecil banyak menghadapi permasalahan yang berlarut-larut.
Sudah bukan saatnya untuk membuat permasalahan yang dulunya justru adalah jawaban dari permasalahan-permasalahan yang ada.
Rakyat Indonesia sudah terlalu banyak mengeluarkan air mata menghadapi segala permasalahan kemiskinan, ketidakadilan, dan lainnya dan TANGISAN ITU JANGAN DITAMBAHKAN LAGI DENGAN PERMASALAHAN KEBERAGAMAN INI!!!

PERSATUAN ITULAH YANG DULU MENJADI JAWABAN ATAS KEMERDEKAAN, DAN SEKARANG KAMI YAKINI JUGA MERUPAKAN JAWABAN ATAS PERMASALAHAN-PERMASALAHAN YANG ADA DI INDONESIA KITA TERCINTA INI!!!!

Pemerintah, para pimpinan yang telah dipilih oleh suara rakyat harus tegas menyikapi hal ini. Setiap pelanggaran yang ada tidak boleh ditoleransi, tapi harus dikenakan hukuman yang jelas.
Tunjukkan ketegasan kalian!!

Wahai para pemimpin rakyat, masih pahamkah kalian dengan salah satu nilai yang ada di dalam demokrasi, DARI RAKYAT, OLEH RAKYAT, UNTUK RAKYAT???
Apakah kalian lupa, bahwa kalian berasal dari kami, kamilah yang memilih kalian, dan kami menunggu perubahan-perubahan besar yang bisa kalian lakukan untuk membuat bangsa ini bisa semakin baik lagi.
Bukan hanya kemajuan kalian, keluarga kalian, ataupun kelompok-kelompok kalian,
Tapi kemajuan kita sebagai bangsa, kita sebagai bangsa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Kami menunggu ketegasan kalian wahai para pemimpin yang kami hormati dan cintai.

Ingat,
Persatuan itulah yang dulu menjadi jawaban atas kemerdekaan, dan sekarang kami yakini juga merupakan jawaban atas permasalahan-permasalahan yang ada di Indonesia kita tercinta ini!!!!


Ingat,
Setiap ragam saudara-saudara yang sedang mengalami diskriminasi saat ini juga merupakan bagian dari bangsa Indonesia ini.
Saya yakin, kami yakin, semangat, keinginan, dan darah mereka juga tidak kalah dari ragam saudara-saudara lain yang tidak terdiskriminasi dalam berjuang mengisi kemerdekaan dan membangun bangsa yang kita cintai ini...

Hidup keberagaman,
Hidup kebebasan umat beragama,
Hidup persatuan Indonesia,
Hidup Bhinneka Tunggal Ika,

Jaya selalu Negara Kesatuan Republik Indonesia!!!!

MERDEKA!!!!