inspirasi

inspirasi
Showing posts with label baik. Show all posts
Showing posts with label baik. Show all posts

Sunday, 21 June 2015

Jangan Berhenti, Tetaplah Membangun

JANGAN BERHENTI, TETAPLAH MEMBANGUN
(Inspirasi dari Bunda Theresa)

Beberapa waktu ini mendengar kabar yang membuat jengkel dan kecewa. Bersyukur waktu ibadah Minggu di GKI Maulana Yusuf, sang pengkhotbah mengutip kalimat inspiratif dari Bunda Theresa.


Dulu saya pernah membaca kutipan suster peraih Nobel ini, dan dalam momen yang sangat pas saya diingatkan kembali pesan berharga ini. Tetaplah bahagia dalam berbuat baik. Tuhan memang selalu menguatkan di waktu yang tepat.

Semoga pesan Bunda Theresa ini dapat bermanfaat bagi teman-teman yang membaca. Selamat membaca. :)

•    Terkadang orang berpikir secara tidak masuk akal dan bersikap egois. Tetapi, bagaimanapun juga, terimalah mereka apa adanya.

•    Apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud-maksud buruk di balik perbuatan baik yang kaulakukan itu. Tetapi, tetaplah berbuat baik selalu.

•    Apabila engkau sukses, engkau mungkin akan mempunyai musuh dan juga teman-teman yang iri hati atau cemburu. Tetapi teruskanlah kesuksesanmu itu.

•    Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin akan menipumu. Tetapi tetaplah bersikap jujur dan terbuka setiap saat. Walau suatu saat nanti engkau akan tertipu lagi.

•    Apa yang telah kau bangun bertahun-tahun lamanya, dapat dihancurkan orang dalam satu malam saja. Tetapi, janganlah berhenti, dan tetaplah membangun.

•    Apabila engkau menemukan kedamaian dan kebahagiaan di dalam hati, orang lain mungkin akan iri hati kepadamu. Tetapi, tetaplah berbahagia.

•    Kebaikan yang kalakukan hari ini, mungkin besok akan dilupakan orang. Tetapi, teruslah berbuat baik.

•    Berikan yang terbaik dari apa yang kaumiliki, dan itu mungkin tidak akan pernah cukup. Tetapi, tetap berikanlah yang terbaik.

•    Sadarilah bahwa semuanya itu ada diantara engkau dan Tuhan. Tidak akan pernah ada antara engkau dan orang lain. Jangan pedulikan apa yang orang lain pikirkan atas perbuatan baik yang kaulakukan. Tetapi, percayalah bahwa mata Tuhan tertuju pada orang-orang yang jujur, dan Dia dapat melihat ketulusan hatimu.

Semangat selalu dalam berbuat baik. Berdiri teguh, jangan goyah.
Selalu optimis dan positif menjalani hari.
:)

Sunday, 7 June 2015

Semua Orang Menghadapi Hari Yang Berat

Setiap hari kita harus menghadapi aktivitas yang penuh tantangan. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan dan tahun juga berlalu. Namun selama itu juga kita harus melakukan pekerjaan, perkuliahan, pertemuan, rapat, ataupun berbagai aktivitas lainnya.

Setiap hari kita harus berinteraksi, dengan pimpinan, rekan kerja, dosen, orangtua, mertua, istri, anak, teman, dan berpuluh bahkan beratus orang lainnya. Sering kali mereka memberikan sapaan hangat, pujian, ataupun senyuman. Tapi tidak jarang juga mereka menyampaikan keluhan, amarah, hujatan, curhatan, bahkan makian. Setiap hari terasa berat, dan sayangnya orang-orang terdekat kita bahkan tidak dapat membantu meringankan beban kita.

Bersikaplah baik kepada semua orang, sebab semua orang menghadapi hari yang berat -Gostick & Elton-

Ya, setiap orang menghadapi hari yang berat. Maka berucap, bersikap dan berbuat baiklah pada semua orang, terutama orang-orang di sekitar kita.

Kita tidak akan pernah tahu kapan kata-kata atau tindakan baik kita bakal membuat perbedaan dalam hidup seseorang.

Selamat menjalani hari. :)

Monday, 25 May 2015

Tuhan Yang Tidak Berdaulat

TUHAN YANG TIDAK BERDAULAT?

Beberapa waktu lalu sempat berdiskusi dengan seorang teman tentang ke-MAHAKUASA-an Tuhan. Apakah Tuhan benar-benar Maha Kuasa?
Apakah Tuhan berdaulat atas semua manusia yang berbeda suku, agama, ras, dan lainnya?
Apakah Tuhan juga berkuasa atas berbagai bidang kehidupan, seperti hukum, ekonomi, politik, musik, sosial, dan lainnya?

Kalau Tuhan berdaulat atas semua manusia, kenapa terjadi perang, genosida, konflik antar umat beragama, dan lainnya?
Jika Tuhan memang berkuasa atas semua bidang, kenapa masih terjadi kemiskinan, korupsi, penjajahan, dan lainnya?

Jika kita realistis, mungkin kita akan pesimis. Perang, kemiskinan, ketidakadilan, dan lainnya masih terus terjadi beratus bahkan beribu tahun. Pesimis akan terjadi perubahan. Lebih baik kita memikirkan bagaimana diri kita sendiri bisa 'survive' dari tantangan hidup.

Namun, teman ini melanjutkan pernyataannya. "Tapi ternyata Tuhan masih berdaulat. Buktinya di setiap perang, penjajahan, kemiskinan, ketidakadilan, korupsi, dan lainnya itu, selalu tampil orang-orang yang berupaya melawan dan melakukan hal baik."

Lantas, aku pun langsung teringat dengan buku yang pernah kubaca beberapa tahun silam dan masih tersimpan di perpustakaan mungilku, Tuhan Gunung atau Tuhan Alam Semesta? karya Samuel Tumanggor.

Tuhan bukannya tidak berkuasa. Tuhan bukannya tidak menyatakan diri-Nya. Tuhan tidak hanya berkuasa di rumah ibadah ataupun pada hal-hal yang kelihatan baik. Tuhan juga berkuasa di bidang umum seperti hukum, politik, ekonomi, musik, dan lain sebagainya.

Tuhan menciptakan semua umat manusia, dengan berbagai suku, ras, dan agama. Maka Tuhan Sang Pencipta tentu tidak bisa didikte oleh manusia yang diciptakan-Nya. Kita tidak bisa semena-mena mengatakan Tuhan hanya terbatas pada lingkup tertentu.

Tuhan menerbitkan matahari bagi orang jahat dan baik, menurunkan hujan bagi orang yang benar dan tidak benar. Tuhan membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing, namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai kebajikan di berbagai bidang kehidupan.

Maka sungguh edanlah kita, ketika Tuhan yang berdaulat masih terus menyatakan kebajikan-Nya hingga saat ini, namun kita justru putus asa, urung berbuat dan hanya terpaku dengan aktivitas pribadi saja. Keputusasaan yang demikian justru merendahkan martabat Tuhan karena kita berpikir seakan-akan Tuhan tidak mampu lagi membantu kita menyelesaikan berbagai permasalahan di sekitar kita.

Oleh karena itu, kita yang yakin akan kedaulatan Tuhan, harus yakin juga untuk terjun dan berbuat kebajikan di berbagai bidang yang kita ikuti. Hukum harus dibuat jujur dan adil; politik harus memperjuangkan kepentingan bersama; ekonomi harus dapat menyejahterakan orang banyak; musik harus menampilkan karya yang membawa kelegaan, teknologi harus bisa tepat guna dan lain sebagainya.

Inilah wujud kita yang yakin akan kedaulatan Tuhan. Yakin akan ada perubahan yang lebih baik, serta yakin bahwasanya kita juga harus ikut berperan menghadirkan kebajikan dalam bidang yang kita jalani. Semangat menjalani hari. :)


Catatan: Saya sangat merekomendasikan teman-teman untuk mempunyai buku 'Tuhan Gunung atau Tuhan Alam Semesta?' ini. Bagi yang tertarik, dapat hubungi saya. Kebetulan tinggal satu kota dengan penulisnya. Hehe.

Tuesday, 25 October 2011

Surat Untuk Sahabat


jalan itu kita rintis bersama, dulu.

jalan yang sudah dipenuhi semak dan ilalang,
keheningan yang mematikan,
kekeringan di kiri – kanan,
bersama rekan-rekan yang lain kita memperbaiki setiap jengkalnya,
tapi,
itu semua, dulu.

kisah lama mengatakan jalan itu dulu sekali pernah indah.
dipenuhi bunga di kiri dan kanan.
kicauan burung dan decitan tupai menjadi teman di kala berjalan.
pemandangan indah menjadi santapan bagi setiap orang yang berlalu.
kita punya keinginan mengembalikan keindahan jalan itu.

ya, tantangannya memang berat, sahabat.
bunga  berganti semak dan ilalang,
kicauan dan decitan berubah menjadi keheningan,
tapi tempat itu masih punya harapan,
itu pikir kita kala itu.

------------------------

kala itu di persimpangan jalan aku sempat berhenti.
berpikir untuk berjalan ke arah yang berbeda dengan kalian.
pikirku kalian pasti bisa melanjutkan,
dan aku coba melangkah di jalan lain yang juga penuh tantangan.
aku yakin kalian mampu, aku yakin kau mampu, sahabat.

beberapa waktu kucoba pikirkan keputusanku,
ternyata aku tidak tega meninggalkan kalian sahabat,
kembali aku mencoba berjalan bersama,
meninggalkan semua keinginan di belakang.
itu semua bisa ditunda,
masih banyak waktu dan persimpangan jalan di depan sana.
yang utama, angan kita bersama,
mengembalikan jalan ini indah seperti dahulu.


bayangan bahwa kita akan menjalani jalan itu bersama,
dan merealisasikan mimpi kita mengembalikan keindahan jalan itu,
telah membuatku semangat untuk menjalani setiap langkah.
perbaikan pasti bisa kita lakukan, sahabat.
aku yakin akan hal itu,
asalkan berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.
ya, jalan itu pasti bisa kembali indah.
bayangan indah itu sudah menari di anganku, sahabat,
kala itu.

sekarang,
jalan kita ternyata sudah berbeda, sahabat.
kucoba tetap di jalan ini, tapi nyatanya kau yang berpaling.
kau memilih berbelok di persimpangan ini.

selamat berjuang di jalanmu, sahabat.
banyak hal yang kudapat di perjalanan kita.
senang berjalan bersamamu, sahabat.
sampai bertemu di ujung jalan.

Monday, 17 October 2011

Anak Kecil yang Belajar Bersepeda


Sulit bagi seorang anak kecil untuk bisa mahir bersepeda dalam sekali latihan. Tentu dia pernah terjatuh dari sepedanya. Yang utama adalah, dia harus selalu bangkit dari jatuhnya. Jatuh dan bangkit. Jatuh lagi dan bangkit lagi hingga pada akhirnya dia akan lancar bersepeda.

Seorang muda yang sedang belajar menyetir tidak jarang menghantamkan mobilnya ke mobil orang lain ataupun pembatas jalan. Hal ini harus terjadi beberapa kali hingga akhirnya dia bisa mengendarai kendaraan dengan stabil dan aman dari tabrakan. Tekad untuk bisa mengendarai mobil dengan benar, itulah salah salah kunci keberhasilannya.

Begitu juga dalam hal lainnya, hal paling rohani sekalipun. Perubahan tidak segampang membalik telapak tangan.  Seseorang yang sudah tahu kalau kebiasaannya selama ini salah tidak semudah itu juga meninggalkan kebiasaannya tersebut. Terkadang dia harus jatuh bangun mengatasi kebiasaan salah ini. Yang utama adalah, dia terus berusaha bangkit dari jatuhnya. Jatuh dan bangkit. Jatuh lagi dan bangkit lagi.

Apakah baik kita mencemooh seseorang ketika dia sedang berusaha bangkit? Baikkah kita ketika kita mencela seseorang salah, padahal dia sedang berusaha mengatasi kesalahannya itu?
Jika ternyata hal itu baik, anak kecil sepertinya tidak akan pernah bisa lancar bersepeda; anak muda tidak akan pernah bisa menyetir mobil; dan seseorang tidak akan pernah bisa memperbaiki kebiasaan salahnya.

Wednesday, 5 October 2011

Jalan yang Berkelok, Tebing yang Curam


jalan itu berkelok-kelok,

bukan berarti tidak ada yang lurus di depan.



tebing itu curam,

bukan berarti tidak ada yang landai di atas.



sungai itu deras,

bukan berarti tidak ada yang tenang di hilir.



tikungan, hambatan, gangguan,

selalu ada kerikil bahkan batuan dalam kehidupan,

bukan berarti hanya itu yang ada di sepanjang perjalanan,

karena pasti akan ada harapan dalam setiap pilihan yang ditentukan.



karakter yang dewasa,

mental yang teruji,

nalar yang tinggi,

raga yang kuat,

setiap hal itu merupakan buah dari perjalanan,

untuk menciptakan pribadi yang semakin siap dan semakin siap,



ibarat ranting pokok anggur yang harus selalu dipangkas untuk menghasilkan buah yang banyak,

bagai anak rajawali yang harus dijatuhkan dari atas tebing agar dapat terbang,

layaknya ikan salmon yang melawan arus sungai demi menelurkan anak-anaknya,

seperti perjalanan 40 tahun suatu bangsa agar siap mengisi sebuah wilayah,

ya, ibarat, bagai, layaknya, seperti itu.



hidup ini perjalanan melatih diri,

perjalanan mencari arti hidup,

kenapa seseorang itu harus ada,

atau ditetapkan ada.



tentu semuanya bukan kebetulan,

atau ketidaksengajaan semata,

melainkan ada karena di balik kenapa,

selalu ada sebab di belakang mengapa.



setiap langkah, setiap jejak,

semuanya itu seharusnya meluaskan wadah,

menambah gagas diri,

akan makna kehidupan.



semua orang pasti akan mati suatu saat,

tapi tidak semua orang hidup.



apakah kita sudah hidup?

ataukah selama ini napas itu hanya terbuang sia-sia,

dan raga itu bergerak tanpa makna,

serta jiwa itu kosong tak berguna?





seorang pelari tidak pernah tahu kapan dia akan berhenti berlari,

yang dia tahu hanyalah akan ada suatu garis akhir di depan,

dan sejauh apapun itu, dia harus terus berlari untuk mencapainya,

karena memang untuk itu dia menjadi pelari.



begitupun kapal,

yang akan aman dan jauh dari perompak ataupun batu karang selama berada di pelabuhan,

namun bukan untuk itu kapal diciptakan,

karena dia ada justru untuk berlayar di lautan,

melawan semua perompak dan mengatasi segala batu karang.



terus melangkah di jalan yang berkelok,

tetap mendaki di tebing yang curam,

hadapi setiap ombak yang menghadang,

karena di balik itu,

akan menanti padang edelweis yang indah,

dan pemandangan bintang yang gemerlap,

serta daratan yang mempesona.

Thursday, 23 June 2011

Kisah Dokter Yo, Penolong Pasien Miskin di Malang

Beberapa bulan lalu melihat sebuah link di satu jejaring sosial. Ketika membukanya, ternyata link tersebut mengisahkan tentang pengabdian seorang dokter di Malang, Dokter Yo nama beliau. Berprofesi sebagai dokter tidak membuat beliau jauh dari masyarakat menengah ke bawah, melainkan justru membuatnya tersentuh tentang kondisi realita yang terjadi di masyarakat sekitarnya. Usaha-usaha dilakukannya untuk melakukan sesuatu bagi mereka. Mulai dari menyekolahkan ratusan anak-anak, pelatihan tarian, perbengkelan, dan hal-hal lainnya. Silakan membuka link ini kawan-kawan untuk mendengar dan melihat kisahnya lebih lanjut.

http://tv.liputan6.com/main/read/3/1048247/0/dokter_yo_penolong_pasien_miskin_di_malang

Beliau berumur 70 tahun ketika liputan ini dilakukan. Jelas, pengabdian sebagai dokter, bidang profesi yang digelutinya dilakukan dengan penuh ketulusan.
Masih adakah dokter-dokter lain yang memiliki pengabdian seperti beliau?
Bagaimana apabila tiba saat ketika beliau harus sampai di ujung jalan pengabdian dan harus kembali menghadap Sang Khalik?Apakah masih ada dokter-dokter lain, ataupun manusia-manusia lain di bidang profesinya masing-masing yang memiliki pengabdian tulus yang sama, yang meneruskan apa yang telah dilakukannya??

Pertanyaan-pertanyaan ini sempat keluar dari benakku pada saat membuka link ini pertama kali.

----------------------------------------------------------------------------------------
---------------------


Tadi malam secara kebetulan menemukan link ini dan secara iseng membuka link itu lagi. Membaca sebuah komentar, dikirim pada tanggal 15 April 2011 yang menyampaikan sebuah informasi yang membuatku tertegun, sang dokter telah menyelesaikan tugas mulianya dan dipanggil menghadap Penciptanya pada tanggal 31 Maret 2011 lalu.
Kisah pengabdiannya telah berakhir dan meninggalkan kenangan indah bagi orang-orang yang mengenalnya.

Lagi-lagi timbul pertanyaan,
Apakah perjalanan pengabdian itu juga telah mencapai ujung jalan yang buntu, ataukah ada yang akan meneruskan jejak sang dokter?
Masih adakah yang akan melanjutkan langkah beliau, melakukan pengabdian bagi sesamanya melalui bidang profesi yang digelutinya?

--------------------------------------------------------------------------
--------------------------------

Semoga aku yang telah mengetahui jejak perjalanan sang dokter tidak hanya sebatas mengaguminya saja sebagai seorang tokoh yang menginspirasi, tanpa pernah berusaha menjadi seperti beliau. Semoga kelak aku dapat meniru apa yang telah dilakukan beliau.
Semoga juga akan bermunculan Dokter Yo - Dokter Yo muda, yang melakukan sesuatu di bidang profesinya masing-masing.
Semoga apa yang dilakukannya tidak berakhir.
Lagi-lagi semoga, semoga, semoga.
Ya, semoga kisah perjalanan itu masih akan terus dilanjutkan,

Tongkat estafet itu sekarang ada di tangan kita...

Saturday, 4 June 2011

Don't judge the book from its cover, man!

Don't judge the book from its cover!

Kalimat di atas sering kita dengar dalam obrolan ataupun tulisan. Dalam bahasa kita, kalimat di atas dapat diartikan jangan menilai sebuah buku hanya berdasarkan sampul depannya. Jelas, ini sebuah makna konotasi yang bisa diartikan ke dalam berbagai kondisi. Untuk kasus kali ini, saya memakai kalimat ini sebagai konotasi untuk perilaku dasar manusia yang terkadang menilai seseorang hanya berdasarkan tampilan luarnya saja.

Apa pendapat anda tentang seorang pria/wanita yang merokok? Apakah mereka anda nilai lebih rendah dari pada pria/wanita yang tidak merokok? Ya, saya bisa membaca pikiran anda. Tampaknya anda sepakat dengan penilaian itu. Pertanyaan saya, apakah anda dapat memastikan bahwa perilaku/sifat/sikap sang pria/wanita yang merokok itu juga jauh lebih rendah/hina dari pria/wanita yang tidak merokok? Kalau anda menganggukkan kepala anda, ya, sepertinya anda termasuk ke dalam komunitas orang yang menilai sebuah buku dari sampul depannya.

Seorang teman pernah bercerita kepada saya. Juniornya pernah bertanya kepadanya, apakah dia percaya Tuhan. Wow, pertanyaan yang sangat tajam. Saya tertawa ketika dia menyampaikan bagian itu kepada saya. Teman saya ini aktif dalam kegiatan pemuda di tempat ibadahnya. Dia juga aktif menulis tentang agama dikaitkan konteks dan sejauh yang saya kenal, kehidupan rohaninya juga baik. Bahkan saya yakin, juniornya juga mengetahui semua hal ini. Tapi kenapa pertanyaan itu bisa keluar? Dua hal yang belum saya sebutkan, teman tersebut penampilannya sedikit berantakan dan juga perokok. Ya, menurut saya pertanyaan itu muncul karena dua hal ini. Dan ternyata anda juga sepakat dengan pertanyaan itu? Apa yang dilakukannya, aktif di kegiatan pemuda, kehidupan rohani yang baik, dan aktif menulis menjadi sirna karena dua hal terakhir tadi? Anda mempertanyakan itu semua? Anda pikir dia melakukan itu semua supaya kelihatan hebat saja, agar kelihatan eksis di mata orang lain atau ikut-ikut teman saja?
Ya, kembali saya menuliskan, sepertinya anda termasuk ke dalam komunitas para penilai buku dari sampul depannya.

Saya mempunyai seorang sahabat. Awalnya saya tidak terlalu mengenalnya tapi seiring berjalannya waktu beberapa hal membuat kami sering bertemu dan saya pun semakin mengenal pribadi dirinya. Beberapa waktu yang lalu saya pernah mendengar cerita tentang dirinya dari orang lain. Kembali keluar pernyataan unik, bahwa sahabat saya ini bukanlah orang yang beragama. Wow, kembali lagi wow. Lagi-lagi ada orang yang mencoba menyamai Tuhan, menilai seseorang baik atau tidak baik, beragama atau tidak beragama. Sahabat saya ini seseorang yang aktif dalam berbagai hal, aktif di kampus dan komunitas lainnya. Dia juga baik di akademik. Setelah semakin mengenalnya, saya juga mengetahui kalau setiap malam dia sering membaca tulisan-tulisan tentang agamanya dan baik dalam mengatur penggunaan waktu dengan efektif. Dia memang tidak perokok, tapi hal yang belum saya sebutkan, sang sahabat juga memiliki penampilan yang agak berantakan dan banyak bergaul dengan orang yang tidak seagamanya dengannya. Ya, kembali fenomena itu terjadi. Para pengadil buku dari sampul depan!

Saya tidak bermaksud membela para perokok. Tidak, sampai saat ini saya belum berpikir ke arah sana. Tapi bukan berarti itu membuat saya lebih baik dari teman saya yang perokok. Nilai seseorang tidak cukup dilihat dari hal yang sangat kecil seperti itu. Masih banyak aspek-aspek kehidupan yang lebih bernilai tapi dikerdilkan karena satu hal ini saja.

Manakah yang lebih baik, seorang perokok atau pembohong? Menurut saya dan juga ajaran agama saya, tidak ada yang lebih baik, jelas keduanya tidak baik. Tapi karena merokok dilihat orang lain sementara berbohong tidak dilihat, hal ini ternyata berdampak besar pada penilaian terhadap seseorang. Seperti yang saya tuliskan, saya bukanlah seorang perokok. Orang lain juga tahu hal ini dan mungkin saya dikira baik. Tapi tahukah anda bahwa saya seorang pembohong? Bahkan beberapa hari yang lalu saya berbohong kepada teman saya. Tapi karena anda tidak melihat ini, anda mengira saya orang yang baik, sementara rekan saya yang sangat jujur tapi memiliki kebiasaan merokok langsung anda nilai lebih rendah dari saya. Ini sebuah pemisalan, tapi kenyataannya hal ini sering terjadi di tengah kita. Menilai seseorang dari apa yang kelihatan tanpa pernah berusaha mengenalnya dulu lebih dekat.

Masih banyak contoh/pemisalan lainnya. Apakah anda pernah memandang rendah seseorang yang pergi ke tempat ibadah dengan pakaian yang kata orang-orang ‘kurang kain’, atau ‘baju adiknya’? Ya, saya dulu pernah melakukan hal itu dan saya menyesalinya. Apakah anda dapat menjamin bahwa iman anda, ketaatan anda terhadap agama anda lebih baik dari orang tersebut? Tapi karena dia menggunakan pakaian yang minim anda langsung menilai dia rendah? Bahkan Tuhan yang saya sembah saja tidak akan pernah memikirkan hal itu. Saya teringat sebuah kalimat yang sering diucapkan Johannes Leimena yang merupakan sabda Tuhan yang disembahnya, "Siapa diantaramu yang tidak berdosa.. biarlah ia melempar batu terlebih dahulu...". Sepertinya sekarang ini semakin bertambah komunitas pelempar batu. Ah....

Terakhir saya membaca sebuah tulisan. Saya tidak tahu apa tujuan penulisannya tapi ada satu sudut pandang yang saya tangkap dari tulisan itu. Sang penulis mempertanyakan kondisi sekarang ini dimana semakin banyak orang yang mengajak orang lain untuk peduli kepada sekitar, membangun bangsa, ataupun hal-hal serupa lainnya. Yang dipertanyakan adalah apa motivasi dari itu semua? Apakah usaha eksis diri ataupun ikut-ikut teman? Ataupun euforia sesaat? Dan sang penulis juga mempertanyakan jangan-jangan itu semua dilakukan tanpa pernah memahami apa maksud itu semua? Bagaimana mungkin kita mau menjadi terang yang mencerminkan Tuhan ketika kita melupakan siapa itu Tuhan dan siapa diri kita sebagai Anak Tuhan?

Sebenarnya saya malas menanggapi hal-hal seperti ini. Menjawabnya akan kelihatan seperti usaha bela diri ataupun mencari alasan pembenaran. Tapi berkali-kali menahan diri akhirnya tidak tahan juga. Dua pernyataan saya, kenapa pertanyaan itu bisa keluar? Apakah karena orang yang mengajak orang lain itu kelihatannya tidak rohani? Mungkin dia kelihatannya tidak pernah ke persekutuan ataupun penampilannya berantakan dan akhirnya kita menilai bahwa apa yang dilakukannya itu hanya mengangkat nilai diri, ikut-ikut teman ataupun euforia sesaat?!

Siapakah kita sehingga kita bisa menilai motivasi seseorang itu baik atau tidak baik?! Dan pertanyaan “”bagaimana mungkin kita mau menjadi terang yang mencerminkan Tuhan ketika kita melupakan siapa itu Tuhan dan siapa diri kita sebagai Anak Tuhan?” menurut saya sama dengan pertanyaan-pertanyaan di paragraf-paragraf awal kepada teman dan sahabat saya, “apakah percaya Tuhan?”

Apakah seseorang harus KELIHATAN baik, rohani, kudus, rajin beribadah, punya adik persekutuan, dan lainnya baru bisa mengajak orang lain peduli kepada sekitar, membangun bangsa, dan lainnya. Kalau memang harus KELIHATAN seperti itu, wow, lagi-lagi-lagi WOW!, sepertinya sampul depan setiap orang haruslah sama, KELIHATAN baik, rohani, kudus, dan lainnya.

Apakah memang begitu? Sepertinya pertanyaan ini tidak perlu saya jawab karena sepertinya sang penulis ataupun anda yang berpikiran sama dengan sang penulis sudah tahu jawabannya karena mengenal Tuhan lebih baik dan menjalin hubungan dengan Tuhan lebih baik dari teman dan sahabat yang saya sebutkan di paragraf-paragraf awal dan juga termasuk dibanding saya sendiri. Anda sepertinya lebih rajin membuka kitab suci agama anda ataupun berdoa kepada Tuhan anda. Kami sepertinya KELIHATAN tidak seperti itu. Ya, hak anda untuk menilai seperti itu, tapi sekali saya membaca kitab suci agama saya, dan sepertinya sama dengan kitab suci yang anda baca, jelas di sana tidak ada ayat yang membenarkan pemikiran anda itu. Tapi mungkin karena saya hanya membaca sekali saja sementara anda berkali-kali, ya mungkin seperti itu. Maafkan ke-soktahu-an saya.

Satu kalimat yang berhasil saya kutip dari kitab suci itu, "Siapa diantaramu yang tidak berdosa.. biarlah ia melempar batu terlebih dahulu...".

Akhir kata, Don't judge the book from its cover, man!


*maafkan saya kalau saya mungkin sedikit terbawa emosi ketika menuliskan tulisan ini. Anda yang saya maksud disini tentunya bukanlah anda. Tapi anda yang saya maksud adalah anda yang berpikiran sama dengan anda yang saya tuliskan di tulisan ini. Bingung ya? Ya, intinya tulisan ini hanyalah fiksi belaka yang berdasarkan kisah nyata. Apalagi ini maksudnya? ^^

Wednesday, 11 May 2011

Lakukanlah Perbuatanmu untuk Penciptamu

Kemarin membaca sebuah buku, buku pertama dari lima buku yang dituliskan oleh sang pengarang. Buku ini membuka pemikiranku dan banyak bagian-bagiannya yang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalaku saat ini. Dan yang tidak kalah pentingnya, tentunya buku ini ditulis berlandaskan Alkitab.
Sangat banyak isi yang menarik dari buku Demi Allah dan Demi Indonesia karya Samuel Tumanggor yang memiliki 227 halaman. Beberapa kutipan yang menarik akan kutuliskan disini tapi harapannya kawan-kawan bisa juga membaca buku ini karena yang kutulis di bawah ini hanya setitik saja dari makna yang terkandung di buku itu. Ya, bisa dibilang promosi buku juga lah. Hehe.
Baiklah, sedikit kutipan di buku ini dari halaman 149-160.

Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hambaNya.

Henderik Rookmaaker, professor seni asal Belanda pernah berkata:
Tukang-tukang ledeng yang menyampaikan pembicaraan penginjilan yang hebat tetapi membiarkan air bocor tidaklah melakukan pekerjaannya. Mereka tukang ledeng yang buruk. Jelas bahwa mereka tidak mengasihi sesamanya. Makna pekerjaan terletak dalam kasih kepada Allah dan sesama. Setiap orang harus berdoa dengan caranya sendiri, “Dimuliakanlah namaMu. Datanglah KerajaanMu,” lalu bekerja ke arah itu dalam pekerjaannya yang khas.

Marthin Luther pernah menulis:
Pembantu perempuan yang menyapu dapurnya melakukan kehendak Allah tepat seperti biarawan yang berdoa – bukan karena ia bisa menyanyikan himne Nasrani sambil menyapu, melainkan karena Allah menyukai lantai yang bersih. Tukang sepatu Nasrani melakukan tugas Nasraninya bukan dengan membubuhkan tanda salib kecil di sepatu-sepatunya, melainkan dengan membuat sepatu yang baik, karena Allah tertarik kepada pertukangan yang baik.

C.S. Lewis juga pernah menulis:
Pekerjaan seorang Beethoven dan pekerjaan seorang wanita juru sapu menjadi rohani dalam keadaan yang persis sama, yakni jika dipersembahkan kepada Allah, jika dilakukan dengan rendah hati “seperti untuk Tuhan.” Tentunya hal ini tidak berarti bahwa orang tinggal melempar koin saja untuk menentukan apakah ia harus menyapu ruangan atau mengubah simfoni. Tikus mondok harus menggali tanah bagi kemuliaan Allah dan ayam jantan harus berkokok.

C.H. Spurgeon merangkum bagi kita:
“Kristus  adalah tuan dan kamu hambaNya.” Kolose iii.24
Untuk golongan pejabat pilihan manakah perkataan ini diucapkan? Kepada raja-raja congkak yang membanggakan hak ilahi? Ah, bukan! Terlalu sering mereka hanya melayani diri mereka atau Setan dan melupakan Allah yang dalam kesabaranNya mengizinkan mereka memasang mimik mulia mereka untuk waktu yang singkat. Kalau begitu, apakah sang rasul berbicara kepada mereka yang disebut “bapa-bapa yang amat terhormat di dalam Allah,” para uskup, atau “diaken agung yang mulia”? Tentu saja tidak. Paulus tidak tahu apa-apa tentang jabatan-jabatan ini yang adalah buatan manusia belaka.

 Kata-kata ini tidak juga diucapkan kepada para gembala dan  guru, atau kepada orang yang kaya dan terpandang di antara orang percaya, tetapi kepada para hamba, ya, dan kepada para budak. Di antara khalayak pekerja keras, para tukang, para pekerja harian, para pembantu rumah tangga, para bujang dapur, sang rasul menemukan – sebagaimana kita pun masih menemukannya – beberapa orang pilihan Tuhan, lalu ia berkata kepada mereka, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hambaNya.”

Perkataan ini menjadikan mulia pekerjaan duniawi yang rutin dan melelahkan serta membubuhkan lingkaran suci di sekeliling pekerjaan yang paling rendah. Membasuh kaki mungkin pekerjaan hamba, tetapi membasuh kakiNya adalah pekerjaan mulia. Membuka tali kasut adalah pekerjaan hina, tetapi membuka kasut Tuan yang agung adalah kehormatan ningrat. Toko, lumbung, dapur, dan bengkel pandai besi menjadi rumah ibadat ketika pria dan wanita melakukan segala sesuatu bagi kemuliaan Allah!

Maka “pelayanan ilahi” bukanlah soal beberapa jam atau beberapa tempat, melainkan seluruh kehidupan menjadi kudus bagi Tuhan, begitu pula setiap tempat dan barang, sedemikian kudus sebagaimana Kemah Suci dan kaki pelita emasnya.

Samuel Tumanggor pun menulis di bukunya:
*isinya tidak dapat saya muat disini karena begitu banyak dan padatnya hal yang bisa didapat. Silakan dan segera dibaca bukunya. ^^

dan tulisan ini ditutup dengan satu kalimat,
pada akhirnya, ketika mereka melihat pekerjaan baik yang dilakukan, mereka akan memuliakan Bapa yang di surga.