inspirasi

inspirasi
Showing posts with label Alkitab. Show all posts
Showing posts with label Alkitab. Show all posts

Sunday, 1 May 2016

Menjadi Pendamai

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita terlibat pertikaian dengan orang lain. Sakit hati, dendam, kekecewaan, amarah, dan banyak hal lainnya menjadi biang keladi dari permusuhan. Kedamaian seakan jauh dari kehidupan kita. Kita bertikai dengan teman, guru, tetangga, bahkan keluarga atau orangtua kita sendiri.

Yesus datang ke dunia untuk memberikan kasih dan membawa kedamaian bagi setiap orang. Dia datang tidak hanya untuk mengajarkan apa kasih itu, tapi juga menunjukkannya melalui kehidupan-Nya. Dia hidup di dunia bukan hanya untuk meminta manusia mewujudkan kedamaian, tapi Dia juga mencontohkannya. Yesus meruntuhkan setiap tembok yang berusaha membelenggu hadirnya kedamaian di tengah kehidupan manusia.

Dia mendamaikan perselisihan antara orang Yahudi dan orang Samaria dengan meminum air dari timba perempuan Samaria (Yoh 4: 1-42). Yesus mendamaikan para penderita kusta dengan masyarakat Yahudi yang terikat hukum adat dimana para penderita kusta harus disisihkan dan dikeluarkan dari kota (Luk 5: 12-16, Luk 17: 11-19). Yesus juga memberi kedamaian kepada orang-orang yang dianggap sebelah mata; para pemungut cukai, pelacur, janda, anak-anak, orang buta, lumpuh, dan lainnya. Yesus menunjukkan bahwa kasih dan kedamaian harus dirasakan oleh setiap orang. Dan diakhir hidupnya, sebagai puncak dari perjalanan hidupnya, Yesus menjembatani hadirnya kedamaian antara manusia dengan Penciptanya. Yesus mendamaikan manusia dan Allah, dengan mati di kayu salib dan bangkit pada hari ketiga. Maka nyatalah bahwa kehidupan Yesus adalah kehidupan yang menghadirkan kasih dan damai antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam sekitarnya, dan paling utama, manusia dengan Allah.

Sayangnya, dalam kehidupan kita sekarang ini, ketimbang menjadi seorang pendamai, kita lebih senang menjadi pembuat onar ataupun penyulut kemarahan. Kita mengganggu, menghasut, ataupun menjelekkan orang lain. Terkadang kita juga mendiamkan perselisihan ataupun permasalahan yang terjadi di sekitar kita. Kita membiarkan keluarga kita saling bertengkar, teman kita saling menjatuhkan, ataupun lingkungan kita tercemar. Kita malah merasa puas dengan berdiam diri dan terhanyut dalam aktivitas pribadi kita.

Kehidupan Yesus sebenarnya telah memberi pelajaran hidup yang dapat kita lakukan dalam kehidupan kita. Mungkin selama ini mudah bagi kita untuk sakit hati, dendam, kecewa, dan marah kepada orang lain. Tapi, sejak kita mengenal dan memahami kehidupan Yesus, maka seharusnya kita dapat menguasai diri kita dan berbuat kebaikan yang membawa damai. Yesus telah menjadi pendamai dalam wujud manusia. Kehidupan Yesus dalam wujud manusia telah menjadi teladan nyata bagi kita, bahwa manusia yang tidak sempurna pun dapat menjadi pendamai seperti Yesus.

Maka genaplah keinginan Yesus Sang Pembawa Damai, bahwa setiap orang yang belajar dari kehidupan-Nya akan menjadi agen-agen pembawa kedamaian bagi dunia. Pembawa kedamaian bukan berarti diam ketika ada masalah di sekitarnya. Namun pembawa kedamaian harus berani bicara benar walaupun orang lain tidak suka dengan apa yang akan dikatakan, ataupun berani bertindak benar walau tidak sesuai dengan keinginan lingkungan kita. Karena Yesus berdamai bukan dengan diam melihat permasalahan, tapi berpikir, berbicara, dan bertindak melawan tirani; melawan orang Farisi, hukum adat, kematian, dan hal-hal lainnya.

Jika keluarga kita sampai sekarang masih sering bertengkar, kita tidak hanya diam, namun menenangkan dan mendamaikan keluarga kita. Saat rekan kita saling menjelekkan, kita tidak ikut-ikutan menjelekkan melainkan menjadi penengah di antara mereka. Waktu teman kita dikucilkan karena ketahuan berbuat salah, kita seharusnya tetap berteman dan membantu teman kita untuk berubah menjadi lebih baik. Bahkan jika kita melihat orang lain bahkan pemerintah melakukan ketidakadilan terhadap orang lain, kita berani untuk bersuara dan menyatakan apa yang dilakukan orang lain atau pemerintah ini merupakan hal yang salah.


Menjadi pendamai merupakan panggilan setiap orang percaya. Kita tidak bisa membantah atau menolak kewajiban kita menjadi pendamai. Lingkungan dan masyarakat di sekitar kita saat ini banyak mengalami tantangan dan permasalahan. Maukah kita menjadi pendamai bagi mereka?

Saturday, 23 April 2016

Kehidupan Bersaksi dan Melayani

“Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga”.
Petikan diatas merupakan sepenggal kalimat dari lantunan indah Doa Bapa Kami yang telah diajarkan Yesus Kristus kepada para murid. Dari buku ‘Orang Nasrani, Pandu Bangsamu!’ karya Samuel Tumanggor, petikan tersebut secara langsung menunjukkan kehendak Allah yang tidak hanya terbatas di lingkup surga saja, namun juga yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana agar kehendak-Nya juga terjadi di bumi. Tanggung jawab untuk bisa menjadikan kehendak-Nya di bumi merupakan tugas yang diemban para murid saat itu, yang tentunya hingga sekarang masih terus berlanjut, dan tanggung jawab itu diemban oleh kita saat ini.

“Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga”. Petikan ini menunjukkan keinginan yang sangat besar dari Allah agar bumi dapat seperti surga. Untuk mencapai keinginan-Nya inilah maka setiap manusia ditetapkan ada, diciptakan sesuai dengan tujuan hidupnya masing-masing agar kemuliaan nama-Nya nyata di muka bumi, inilah tujuan hidup Kristen.

Sebagai umat Nasrani yang telah mengetahui Berita tentang Kasih Anugerah yang sangat besar itu, sudah selayaknya setiap orang Kristen menjalankan panggilannya, tujuan hidupnya, sesuai dengan perannya masing-masing di dunia ini. Setiap orang Kristen seharusnya menjadi berkat melalui hidupnya, menjadi terang dan garam bagi dunia, menjadikan hidupnya kesaksian yang nyata tentang betapa besarnya penyertaan Allah kepada setiap manusia. Setiap orang Kristen harus menjalankan nilai-nilai kebenaran yang telah diajarkan oleh-Nya, ini semua dilakukan sebagai tindakan nyata dari iman yang besar kepada Sang Pencipta.

Dua Kewarganegaraan
Pahlawan Nasional Johannes Leimena pernah mengatakan bahwa umat Kristen memiliki dua kewarganegaraan, warga negara surga dan warga negara dunia. Peran yang dilakukan dari kedwiwarganegaraan ini haruslah seimbang, tidak timpang salah satu. Allah ingin agar manusia dapat hidup di bumi dengan memancarkan nilai-nilai surgawi. Rencana Allah akan dunia ini akan berjalan melalui peran dari kita masing-masing.

Saat ini banyak permasalahan yang sedang terjadi di tengah-tengah masyarakat dan bangsa. Sebagai umat Kristen, khususnya generasi muda Kristen yang sudah menempuh pendidikan tinggi, kita memiliki peran menjadi terang dan garam, menjadi jawaban atas setiap permasalahan yang ada di berbagai bidang kehidupan. Kita tidak cukup hanya mempersiapkan diri kita sendiri menanti hari kedatangan Yesus kembali dalam kemegahan-Nya, namun selama penantian itu, kita justru ditugaskan Tuhan untuk membangun bumi menjadi indah seperti surga. Seorang pemikir Kristen, Yonky Karman dengan tegas menyimpulkannya, “Apakah Injil hanya berurusan dengan masuk surga, sementara kita masih hidup berpuluh-puluh tahun di dunia. Apakah bukan tugas kita untuk melakukan sesuatu di dunia, yang telah Tuhan titipkan kepada kita?”.

 Inilah tujuan hidup Kristen, kehidupan yang bersaksi, dan hal ini sangat terkait erat dengan kepemimpinan. Kepemimpinan merupakan aspek penting untuk mendukung efektifitas pelayanan dalam menjadi kehidupan yang bersaksi. Kepemimpinan bukanlah posisi, tetapi ‘pengaruh’. Melalui kepemimpinan, pengaruh baik yang diberikan dapat menjadi kesaksian yang indah untuk melakukan perubahan di dalam lingkungan masing-masing. Setiap umat Nasrani diharapkan menjadi pemimpin di rumah, lingkungan, kantor, gereja, dan tempat komunitasnya masing-masing.

Belajar Memimpin
Sikap kepemimpinan ada yang muncul dalam diri seseorang secara alami didorong oleh pengalaman hidup dan pengalaman dari lingkungannya. Kita harus melatih jiwa kepemimpinan kita sejak muda. Melatih jiwa kepemimpinan tidak cukup hanya dengan membaca teori. Kita harus mau juga untuk menjalaninya. Kita sebaiknya aktif dalam organisasi, lembaga, persekutuan, ataupun komunitas di sekitar kita. Kita turut mengambil bagian dalam program ataupun kegiatan yang sedang dikerjakan. Bahkan kita juga harus berani mengambil tanggung jawab yang besar dan menjalaninya dengan sepenuh hati.

Bertanggung jawab di organisasi merupakan salah satu latihan penting dalam kepemimpinan. Kita belajar tentang kerjasama tim, komunikasi efektif, mengelola tim, empati dan kepekaan sosial, serta pengalaman menghadapi masalah. Kita juga bisa melatih kemampuan menulis, public speaking, dan teknik pemecahan masalah. Dan yang paling utama, kita dapat belajar dan melatih integritas dan kejujuran kita sejak muda.

Dengan latihan dan usaha yang terus-menerus, diharapkan nilai-nilai kepemimpinan itu dapat menjadi karakter dalam diri kita. Dengan karakter yang baik, kita dapat menjadi saksi yang baik. Ketika tiba waktu kita untuk terjun ke tengah masyarakat, kita akan siap mengabdi dimanapun Tuhan menempatkan kita. Kita mampu menunjukkan jiwa kepemimpinan kita di bidang yang kita geluti. Kita akan berusaha menyelesaikan permasalahan yang ada di pekerjaan kita, melakukan perubahan, mencari regenerasi untuk meneruskan perubahan tersebut, dan terus berusaha hingga jadilah kehendak Allah di bumi seperti di surga.

Saturday, 21 January 2012

Kenangan Bersama Ompung


Pekanbaru, kota kelahiran. Kembali ke kota ini setelah empat tahun lamanya hanya bisa mengingatnya lewat kenangan. Kembali juga ke sebuah rumah penuh kisah dan cerita, rumah di Jalan Hasanuddin No. 103. Rumah itu masih sama seperti dulu, hanya ada beberapa perubahan fungsi saja. Namun, ada satu yang tidak sama lagi. Ya, tawa dan senyum itu tidak kutemui lagi di sana. Tawa dan senyum dari Ompungdoliku.

Biasanya, tawa dan senyum Ompungdoli akan selalu menyambut setiap kali aku datang. Tak lama setelah aku datang, dia akan selalu mengajakku ke pasar, bukan untuk belanja, melainkan membawaku ke tukang pangkas langganannya. Satu kali aku sengaja berpangkas dulu di Medan sebelum datang ke Pekanbaru, namun alasan itu tidaklah mampu membuatku menolak ajakannya lagi dan lagi. Dahulu aku bosan dan berusaha menolak ajakannya berpangkas, sekarang aku rindu dan menanti berpangkas bersamanya lagi. Sayang, itu semua tinggal kenangan.

Terakhir aku datang ke kota ini, tidaklah senyum segarnya yang menantiku, melainkan tubuh yang terbujur kaku di atas tempat tidur. Tubuhnya telah tertidur selamanya, dan rohnya telah kembali kepada Sang Penciptanya.

Teringat aku kembali kisah orangtuaku. Saat itu aku masih bayi, belum satu tahun mungkin. Ompungdoliku meminta kepada orangtuaku agar aku dapat tinggal di Pekanbaru selama orangtuaku beasiswa di negeri seberang. Seorang bayi kecil selama beberapa bulan ditinggal bersama kedua Ompungnya. Namun, sejak saat itulah aku semakin akrab dengan Ompungku, terkhusus Ompungdoliku. Tidur di kamarnya setiap hari, setiap saat aku berkunjung ke sana. Dan ada satu hal yang selalu dilakukan Ompungdoliku setiap hari, dengan tekun dan setia. Hal yang selalu ditanamkannya kepada kami, cucu-cucunya, dengan ajaran dan juga tindakan -walau para cucunya yang bandel ini selalu berusaha menolak dan mengabaikan- yakni, saat teduh di malam dan pagi hari.

“Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.”
Markus 1 ayat 35 ini berulang kali terdengar di telingaku, sebanyak aku berusaha menolak bangun dari tidur di pagi hari. Dengan setia aku menutup mataku, dengan setia juga dia berusaha membangunkan aku dan saudaraku untuk ikut bernyanyi dan membaca Kitab bersamanya. Sekali waktu hampir belasan menit kami menolak bangun, hingga mungkin dia menyerah dan meninggalkan kami. Suaranya terdengar menyanyikan lagu rohani kesukaannya. Kami yang diliputi rasa bersalah kemudian bangun dan duduk di sebelahnya. Senyuman tersungging di wajahnya. Senyum yang telah lama tidak aku lihat lagi.

Ketika aku malas bangun dan Ibuku mengeluh kepada Ompungku, dengan segera dia memintaku membaca Amsal 6 ayat 6-11. “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen. Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring – maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.”
Ayat ini berulang-ulang diajarkannya kepada kami, para cucunya, hingga aku sendiri pernah luar kepala melafalkan ayat ini. Ayat yang selalu terngiang ketika aku malas dalam beraktivitas, walaupun kadangkala cucu yang bebal ini masih juga jatuh bangun dalam satu hal ini.

Sering kali dia menghubungi kami di Medan. Menanyakan kabar kami, kemudian mengajak kami berdoa dan membacakan Firman dari buku saat teduh favoritnya. Dirinya membentuk diriku sejak kecil, mengajarku ketika aku sendiri masih belum ingin belajar. Kasih dari Ompung kepada cucunya, lewat perkataan, perbuatan, dan pengajaran, dilakukan dengan tekun oleh Ompungdoliku.

Berkumpul dengannya menjadi salah satu kesempatan bagi kami untuk mendengar banyak cerita. Mulai dari perjuangannya di zaman kemerdekaan, saat dia menjadi penatua gereja namun masih memiliki jimat-jimat pribadi, dan waktu dia meninggalkan serta membakar semua jimatnya (berulang kali dia bercerita bahwa ibuku ternyata salah satu yang berperan menyadarkannya atas dosanya tersebut). Dia juga bercerita ketika dia memulai pelayanan ke desa-desa di Sumatera Utara ataupun Riau, menjalin hubungan dengan penduduk sekitar, dan banyak kisah lainnya.

Banyak pelayanan yang dilakukannya, baik yang gerejawi maupun pada masyarakat umum. Ada satu hal yang menarik dari Ompungdoliku, dia seorang perokok aktif. Namun hal ini jugalah yang memberikan pemahaman padaku hingga hari ini. Bahwa salah ketika orang menganggap para perokok itu hina, jahat, penuh dosa, dan lainnya. Dengan berani aku akan berdiri di depan menolak anggapan itu, karena Ompungdoliku telah memberikan kesaksian yang hidup tentang hal ini. Bahwa banyak orang yang kelihatannya baik di luar, tidak merokok, dan lainnya, namun hidupnya bejat, menghakimi orang lain, dan lain sebagainya.

Sebuah ayat disampaikannya kepadaku, menunjukkan semangatnya yang berapi-api untuk memberitakan perbuatan yang besar dari Tuhan, ayat yang kemudian juga menjadi ayat katekisasiku. “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib.”
Ayat ini telah mengajarkanku untuk setia bersaksi, memberitakan perbuatan yang besar dari Tuhan. Lewat perkataan, perbuatan, dan pengajaran. Hal yang telah Ompungdoliku lakukan hingga akhir hayatnya, dan tentunya harus juga kulakukan hingga tiba akhir hayatku.

Menjelang akhir hayatnya, bukannya beristirahat, Ompungdoliku justru menyibukkan diri dengan mendamaikan perseteruan di dalam keluarga besar. Sepertinya dia sudah menduga Tuhan akan segera memanggilnya. “Aku ingin konflik ini bisa selesai sebelum aku mati,” ujarnya padaku suatu kali. Hingga masa tuanya dia terus memikirkan orang lain. Banyak pegawainya yang dulu ketika dia masih muda, dibantu, dibimbing, dan diberinya uang agar bisa berkembang, sekarang sudah mandiri dan mapan, bahkan lebih mapan darinya. Namun tidak sekalipun dia mengharapkan pamrih, hal yang juga diajarkannya kepada kami, bahwa kami harus mengasihi tanpa pamrih, seperti Tuhan juga mengasihi tanpa pamrih.

Ketika aku lulus ke perguruan tinggi negeri yang kujalani sekarang, dengan penuh semangat dia menghubungiku dan memberiku motivasi serta ucapan selamat. Dia mengajakku berdoa lewat telpon, dan aku yakin setiap hari juga dia terus mendoakanku, serta mendoakan anak cucunya yang lain agar bisa menjalani hidup ini sesuai dengan rencana Tuhan. Di doa Ompungdoliku berkali-kali namaku disebut, doa yang dilantunkannya agar aku terus setia berada dalam sertaan Tuhan.

Beberapa minggu sebelum meninggal, kami bertemu di Jakarta. Aku hendak pulang Minggu pagi ke Bandung, namun dia memintaku menunda kepulanganku. Dia ingin bergereja pagi denganku. Aku menolaknya dengan alasan ada yang harus dikerjakan di Bandung. Ternyata saat itu merupakan kesempatan terakhirku untuk bisa bergereja bersamanya. Ketika aku mendengar kabar dari ibuku bahwa Ompungdoliku telah meninggal, penyesalan pun segera datang; kenapa aku menolak permintaannya. Tapi penyesalan memang selalu datang terlambat. Ompungdoli kesayanganku telah kembali ke hadirat Bapa yang dikasihinya.

Di rumah duka, rumah Jalan Hasanuddin No. 103, aku melihat sosok tubuhnya. Tubuh yang tenang seakan menunjukkan tugasnya telah selesai di dunia ini. Seketika aku mengingat sebuah ayat, yang beberapa kali juga dibacakannya di depanku. “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”
Ya, Ompungdoliku telah mengakhiri pertandingan yang baik, dia telah mencapai garis akhir dan teguh memelihara imannya. Saat ini mahkota kebenaran telah tersedia baginya, juga bagiku apabila aku juga berdiri teguh hingga akhir melakukan panggilanku.

Saat acara adat untuk menguburkan Ompungdoli, ratusan orang datang ke rumah duka, puluhan papan bunga mengisi sisi jalan di depan rumah. Benar kata pepatah, “waktu kamu lahir, kamu menangis dan orang-orang di sekelilingmu tersenyum. Jalanilah hidupmu sehingga pada waktu kamu meninggal, kamu tersenyum dan orang-orang di sekelilingmu menangis.”

Tahun ini merupakan tahun terakhirku berkuliah di perguruan tinggi. Dulu aku berharap Ompungdoliku bisa hadir saat pembacaan namaku di gedung Sabuga. Harapan itu masih bisa kulakukan, karena Ompungboruku masih hidup dan sehat. Harapan dan doa Ompungdoliku terus hidup dan mengalir dari Ompungboruku. Harapan dan doa yang selama empat tahun sejak sepeninggalan Ompungdoliku tanpa kusadari ternyata terus dilantunkan Ompungboruku dengan setia setiap harinya dari rumah penuh cinta di Jalan Hasanuddin No. 103.

Terima kasih Ompungdoli dan Ompungboruku atas nasihat dan didikan kalian selama ini. Cucu yang bebal ini berjanji akan membuat kalian tersenyum, baik dari rumah nan asri di Jalan Hasanuddin itu, juga dari rumah kekal di atas sana.

Saturday, 4 June 2011

Don't judge the book from its cover, man!

Don't judge the book from its cover!

Kalimat di atas sering kita dengar dalam obrolan ataupun tulisan. Dalam bahasa kita, kalimat di atas dapat diartikan jangan menilai sebuah buku hanya berdasarkan sampul depannya. Jelas, ini sebuah makna konotasi yang bisa diartikan ke dalam berbagai kondisi. Untuk kasus kali ini, saya memakai kalimat ini sebagai konotasi untuk perilaku dasar manusia yang terkadang menilai seseorang hanya berdasarkan tampilan luarnya saja.

Apa pendapat anda tentang seorang pria/wanita yang merokok? Apakah mereka anda nilai lebih rendah dari pada pria/wanita yang tidak merokok? Ya, saya bisa membaca pikiran anda. Tampaknya anda sepakat dengan penilaian itu. Pertanyaan saya, apakah anda dapat memastikan bahwa perilaku/sifat/sikap sang pria/wanita yang merokok itu juga jauh lebih rendah/hina dari pria/wanita yang tidak merokok? Kalau anda menganggukkan kepala anda, ya, sepertinya anda termasuk ke dalam komunitas orang yang menilai sebuah buku dari sampul depannya.

Seorang teman pernah bercerita kepada saya. Juniornya pernah bertanya kepadanya, apakah dia percaya Tuhan. Wow, pertanyaan yang sangat tajam. Saya tertawa ketika dia menyampaikan bagian itu kepada saya. Teman saya ini aktif dalam kegiatan pemuda di tempat ibadahnya. Dia juga aktif menulis tentang agama dikaitkan konteks dan sejauh yang saya kenal, kehidupan rohaninya juga baik. Bahkan saya yakin, juniornya juga mengetahui semua hal ini. Tapi kenapa pertanyaan itu bisa keluar? Dua hal yang belum saya sebutkan, teman tersebut penampilannya sedikit berantakan dan juga perokok. Ya, menurut saya pertanyaan itu muncul karena dua hal ini. Dan ternyata anda juga sepakat dengan pertanyaan itu? Apa yang dilakukannya, aktif di kegiatan pemuda, kehidupan rohani yang baik, dan aktif menulis menjadi sirna karena dua hal terakhir tadi? Anda mempertanyakan itu semua? Anda pikir dia melakukan itu semua supaya kelihatan hebat saja, agar kelihatan eksis di mata orang lain atau ikut-ikut teman saja?
Ya, kembali saya menuliskan, sepertinya anda termasuk ke dalam komunitas para penilai buku dari sampul depannya.

Saya mempunyai seorang sahabat. Awalnya saya tidak terlalu mengenalnya tapi seiring berjalannya waktu beberapa hal membuat kami sering bertemu dan saya pun semakin mengenal pribadi dirinya. Beberapa waktu yang lalu saya pernah mendengar cerita tentang dirinya dari orang lain. Kembali keluar pernyataan unik, bahwa sahabat saya ini bukanlah orang yang beragama. Wow, kembali lagi wow. Lagi-lagi ada orang yang mencoba menyamai Tuhan, menilai seseorang baik atau tidak baik, beragama atau tidak beragama. Sahabat saya ini seseorang yang aktif dalam berbagai hal, aktif di kampus dan komunitas lainnya. Dia juga baik di akademik. Setelah semakin mengenalnya, saya juga mengetahui kalau setiap malam dia sering membaca tulisan-tulisan tentang agamanya dan baik dalam mengatur penggunaan waktu dengan efektif. Dia memang tidak perokok, tapi hal yang belum saya sebutkan, sang sahabat juga memiliki penampilan yang agak berantakan dan banyak bergaul dengan orang yang tidak seagamanya dengannya. Ya, kembali fenomena itu terjadi. Para pengadil buku dari sampul depan!

Saya tidak bermaksud membela para perokok. Tidak, sampai saat ini saya belum berpikir ke arah sana. Tapi bukan berarti itu membuat saya lebih baik dari teman saya yang perokok. Nilai seseorang tidak cukup dilihat dari hal yang sangat kecil seperti itu. Masih banyak aspek-aspek kehidupan yang lebih bernilai tapi dikerdilkan karena satu hal ini saja.

Manakah yang lebih baik, seorang perokok atau pembohong? Menurut saya dan juga ajaran agama saya, tidak ada yang lebih baik, jelas keduanya tidak baik. Tapi karena merokok dilihat orang lain sementara berbohong tidak dilihat, hal ini ternyata berdampak besar pada penilaian terhadap seseorang. Seperti yang saya tuliskan, saya bukanlah seorang perokok. Orang lain juga tahu hal ini dan mungkin saya dikira baik. Tapi tahukah anda bahwa saya seorang pembohong? Bahkan beberapa hari yang lalu saya berbohong kepada teman saya. Tapi karena anda tidak melihat ini, anda mengira saya orang yang baik, sementara rekan saya yang sangat jujur tapi memiliki kebiasaan merokok langsung anda nilai lebih rendah dari saya. Ini sebuah pemisalan, tapi kenyataannya hal ini sering terjadi di tengah kita. Menilai seseorang dari apa yang kelihatan tanpa pernah berusaha mengenalnya dulu lebih dekat.

Masih banyak contoh/pemisalan lainnya. Apakah anda pernah memandang rendah seseorang yang pergi ke tempat ibadah dengan pakaian yang kata orang-orang ‘kurang kain’, atau ‘baju adiknya’? Ya, saya dulu pernah melakukan hal itu dan saya menyesalinya. Apakah anda dapat menjamin bahwa iman anda, ketaatan anda terhadap agama anda lebih baik dari orang tersebut? Tapi karena dia menggunakan pakaian yang minim anda langsung menilai dia rendah? Bahkan Tuhan yang saya sembah saja tidak akan pernah memikirkan hal itu. Saya teringat sebuah kalimat yang sering diucapkan Johannes Leimena yang merupakan sabda Tuhan yang disembahnya, "Siapa diantaramu yang tidak berdosa.. biarlah ia melempar batu terlebih dahulu...". Sepertinya sekarang ini semakin bertambah komunitas pelempar batu. Ah....

Terakhir saya membaca sebuah tulisan. Saya tidak tahu apa tujuan penulisannya tapi ada satu sudut pandang yang saya tangkap dari tulisan itu. Sang penulis mempertanyakan kondisi sekarang ini dimana semakin banyak orang yang mengajak orang lain untuk peduli kepada sekitar, membangun bangsa, ataupun hal-hal serupa lainnya. Yang dipertanyakan adalah apa motivasi dari itu semua? Apakah usaha eksis diri ataupun ikut-ikut teman? Ataupun euforia sesaat? Dan sang penulis juga mempertanyakan jangan-jangan itu semua dilakukan tanpa pernah memahami apa maksud itu semua? Bagaimana mungkin kita mau menjadi terang yang mencerminkan Tuhan ketika kita melupakan siapa itu Tuhan dan siapa diri kita sebagai Anak Tuhan?

Sebenarnya saya malas menanggapi hal-hal seperti ini. Menjawabnya akan kelihatan seperti usaha bela diri ataupun mencari alasan pembenaran. Tapi berkali-kali menahan diri akhirnya tidak tahan juga. Dua pernyataan saya, kenapa pertanyaan itu bisa keluar? Apakah karena orang yang mengajak orang lain itu kelihatannya tidak rohani? Mungkin dia kelihatannya tidak pernah ke persekutuan ataupun penampilannya berantakan dan akhirnya kita menilai bahwa apa yang dilakukannya itu hanya mengangkat nilai diri, ikut-ikut teman ataupun euforia sesaat?!

Siapakah kita sehingga kita bisa menilai motivasi seseorang itu baik atau tidak baik?! Dan pertanyaan “”bagaimana mungkin kita mau menjadi terang yang mencerminkan Tuhan ketika kita melupakan siapa itu Tuhan dan siapa diri kita sebagai Anak Tuhan?” menurut saya sama dengan pertanyaan-pertanyaan di paragraf-paragraf awal kepada teman dan sahabat saya, “apakah percaya Tuhan?”

Apakah seseorang harus KELIHATAN baik, rohani, kudus, rajin beribadah, punya adik persekutuan, dan lainnya baru bisa mengajak orang lain peduli kepada sekitar, membangun bangsa, dan lainnya. Kalau memang harus KELIHATAN seperti itu, wow, lagi-lagi-lagi WOW!, sepertinya sampul depan setiap orang haruslah sama, KELIHATAN baik, rohani, kudus, dan lainnya.

Apakah memang begitu? Sepertinya pertanyaan ini tidak perlu saya jawab karena sepertinya sang penulis ataupun anda yang berpikiran sama dengan sang penulis sudah tahu jawabannya karena mengenal Tuhan lebih baik dan menjalin hubungan dengan Tuhan lebih baik dari teman dan sahabat yang saya sebutkan di paragraf-paragraf awal dan juga termasuk dibanding saya sendiri. Anda sepertinya lebih rajin membuka kitab suci agama anda ataupun berdoa kepada Tuhan anda. Kami sepertinya KELIHATAN tidak seperti itu. Ya, hak anda untuk menilai seperti itu, tapi sekali saya membaca kitab suci agama saya, dan sepertinya sama dengan kitab suci yang anda baca, jelas di sana tidak ada ayat yang membenarkan pemikiran anda itu. Tapi mungkin karena saya hanya membaca sekali saja sementara anda berkali-kali, ya mungkin seperti itu. Maafkan ke-soktahu-an saya.

Satu kalimat yang berhasil saya kutip dari kitab suci itu, "Siapa diantaramu yang tidak berdosa.. biarlah ia melempar batu terlebih dahulu...".

Akhir kata, Don't judge the book from its cover, man!


*maafkan saya kalau saya mungkin sedikit terbawa emosi ketika menuliskan tulisan ini. Anda yang saya maksud disini tentunya bukanlah anda. Tapi anda yang saya maksud adalah anda yang berpikiran sama dengan anda yang saya tuliskan di tulisan ini. Bingung ya? Ya, intinya tulisan ini hanyalah fiksi belaka yang berdasarkan kisah nyata. Apalagi ini maksudnya? ^^