inspirasi

inspirasi
Showing posts with label hubungan. Show all posts
Showing posts with label hubungan. Show all posts

Saturday, 4 June 2011

Don't judge the book from its cover, man!

Don't judge the book from its cover!

Kalimat di atas sering kita dengar dalam obrolan ataupun tulisan. Dalam bahasa kita, kalimat di atas dapat diartikan jangan menilai sebuah buku hanya berdasarkan sampul depannya. Jelas, ini sebuah makna konotasi yang bisa diartikan ke dalam berbagai kondisi. Untuk kasus kali ini, saya memakai kalimat ini sebagai konotasi untuk perilaku dasar manusia yang terkadang menilai seseorang hanya berdasarkan tampilan luarnya saja.

Apa pendapat anda tentang seorang pria/wanita yang merokok? Apakah mereka anda nilai lebih rendah dari pada pria/wanita yang tidak merokok? Ya, saya bisa membaca pikiran anda. Tampaknya anda sepakat dengan penilaian itu. Pertanyaan saya, apakah anda dapat memastikan bahwa perilaku/sifat/sikap sang pria/wanita yang merokok itu juga jauh lebih rendah/hina dari pria/wanita yang tidak merokok? Kalau anda menganggukkan kepala anda, ya, sepertinya anda termasuk ke dalam komunitas orang yang menilai sebuah buku dari sampul depannya.

Seorang teman pernah bercerita kepada saya. Juniornya pernah bertanya kepadanya, apakah dia percaya Tuhan. Wow, pertanyaan yang sangat tajam. Saya tertawa ketika dia menyampaikan bagian itu kepada saya. Teman saya ini aktif dalam kegiatan pemuda di tempat ibadahnya. Dia juga aktif menulis tentang agama dikaitkan konteks dan sejauh yang saya kenal, kehidupan rohaninya juga baik. Bahkan saya yakin, juniornya juga mengetahui semua hal ini. Tapi kenapa pertanyaan itu bisa keluar? Dua hal yang belum saya sebutkan, teman tersebut penampilannya sedikit berantakan dan juga perokok. Ya, menurut saya pertanyaan itu muncul karena dua hal ini. Dan ternyata anda juga sepakat dengan pertanyaan itu? Apa yang dilakukannya, aktif di kegiatan pemuda, kehidupan rohani yang baik, dan aktif menulis menjadi sirna karena dua hal terakhir tadi? Anda mempertanyakan itu semua? Anda pikir dia melakukan itu semua supaya kelihatan hebat saja, agar kelihatan eksis di mata orang lain atau ikut-ikut teman saja?
Ya, kembali saya menuliskan, sepertinya anda termasuk ke dalam komunitas para penilai buku dari sampul depannya.

Saya mempunyai seorang sahabat. Awalnya saya tidak terlalu mengenalnya tapi seiring berjalannya waktu beberapa hal membuat kami sering bertemu dan saya pun semakin mengenal pribadi dirinya. Beberapa waktu yang lalu saya pernah mendengar cerita tentang dirinya dari orang lain. Kembali keluar pernyataan unik, bahwa sahabat saya ini bukanlah orang yang beragama. Wow, kembali lagi wow. Lagi-lagi ada orang yang mencoba menyamai Tuhan, menilai seseorang baik atau tidak baik, beragama atau tidak beragama. Sahabat saya ini seseorang yang aktif dalam berbagai hal, aktif di kampus dan komunitas lainnya. Dia juga baik di akademik. Setelah semakin mengenalnya, saya juga mengetahui kalau setiap malam dia sering membaca tulisan-tulisan tentang agamanya dan baik dalam mengatur penggunaan waktu dengan efektif. Dia memang tidak perokok, tapi hal yang belum saya sebutkan, sang sahabat juga memiliki penampilan yang agak berantakan dan banyak bergaul dengan orang yang tidak seagamanya dengannya. Ya, kembali fenomena itu terjadi. Para pengadil buku dari sampul depan!

Saya tidak bermaksud membela para perokok. Tidak, sampai saat ini saya belum berpikir ke arah sana. Tapi bukan berarti itu membuat saya lebih baik dari teman saya yang perokok. Nilai seseorang tidak cukup dilihat dari hal yang sangat kecil seperti itu. Masih banyak aspek-aspek kehidupan yang lebih bernilai tapi dikerdilkan karena satu hal ini saja.

Manakah yang lebih baik, seorang perokok atau pembohong? Menurut saya dan juga ajaran agama saya, tidak ada yang lebih baik, jelas keduanya tidak baik. Tapi karena merokok dilihat orang lain sementara berbohong tidak dilihat, hal ini ternyata berdampak besar pada penilaian terhadap seseorang. Seperti yang saya tuliskan, saya bukanlah seorang perokok. Orang lain juga tahu hal ini dan mungkin saya dikira baik. Tapi tahukah anda bahwa saya seorang pembohong? Bahkan beberapa hari yang lalu saya berbohong kepada teman saya. Tapi karena anda tidak melihat ini, anda mengira saya orang yang baik, sementara rekan saya yang sangat jujur tapi memiliki kebiasaan merokok langsung anda nilai lebih rendah dari saya. Ini sebuah pemisalan, tapi kenyataannya hal ini sering terjadi di tengah kita. Menilai seseorang dari apa yang kelihatan tanpa pernah berusaha mengenalnya dulu lebih dekat.

Masih banyak contoh/pemisalan lainnya. Apakah anda pernah memandang rendah seseorang yang pergi ke tempat ibadah dengan pakaian yang kata orang-orang ‘kurang kain’, atau ‘baju adiknya’? Ya, saya dulu pernah melakukan hal itu dan saya menyesalinya. Apakah anda dapat menjamin bahwa iman anda, ketaatan anda terhadap agama anda lebih baik dari orang tersebut? Tapi karena dia menggunakan pakaian yang minim anda langsung menilai dia rendah? Bahkan Tuhan yang saya sembah saja tidak akan pernah memikirkan hal itu. Saya teringat sebuah kalimat yang sering diucapkan Johannes Leimena yang merupakan sabda Tuhan yang disembahnya, "Siapa diantaramu yang tidak berdosa.. biarlah ia melempar batu terlebih dahulu...". Sepertinya sekarang ini semakin bertambah komunitas pelempar batu. Ah....

Terakhir saya membaca sebuah tulisan. Saya tidak tahu apa tujuan penulisannya tapi ada satu sudut pandang yang saya tangkap dari tulisan itu. Sang penulis mempertanyakan kondisi sekarang ini dimana semakin banyak orang yang mengajak orang lain untuk peduli kepada sekitar, membangun bangsa, ataupun hal-hal serupa lainnya. Yang dipertanyakan adalah apa motivasi dari itu semua? Apakah usaha eksis diri ataupun ikut-ikut teman? Ataupun euforia sesaat? Dan sang penulis juga mempertanyakan jangan-jangan itu semua dilakukan tanpa pernah memahami apa maksud itu semua? Bagaimana mungkin kita mau menjadi terang yang mencerminkan Tuhan ketika kita melupakan siapa itu Tuhan dan siapa diri kita sebagai Anak Tuhan?

Sebenarnya saya malas menanggapi hal-hal seperti ini. Menjawabnya akan kelihatan seperti usaha bela diri ataupun mencari alasan pembenaran. Tapi berkali-kali menahan diri akhirnya tidak tahan juga. Dua pernyataan saya, kenapa pertanyaan itu bisa keluar? Apakah karena orang yang mengajak orang lain itu kelihatannya tidak rohani? Mungkin dia kelihatannya tidak pernah ke persekutuan ataupun penampilannya berantakan dan akhirnya kita menilai bahwa apa yang dilakukannya itu hanya mengangkat nilai diri, ikut-ikut teman ataupun euforia sesaat?!

Siapakah kita sehingga kita bisa menilai motivasi seseorang itu baik atau tidak baik?! Dan pertanyaan “”bagaimana mungkin kita mau menjadi terang yang mencerminkan Tuhan ketika kita melupakan siapa itu Tuhan dan siapa diri kita sebagai Anak Tuhan?” menurut saya sama dengan pertanyaan-pertanyaan di paragraf-paragraf awal kepada teman dan sahabat saya, “apakah percaya Tuhan?”

Apakah seseorang harus KELIHATAN baik, rohani, kudus, rajin beribadah, punya adik persekutuan, dan lainnya baru bisa mengajak orang lain peduli kepada sekitar, membangun bangsa, dan lainnya. Kalau memang harus KELIHATAN seperti itu, wow, lagi-lagi-lagi WOW!, sepertinya sampul depan setiap orang haruslah sama, KELIHATAN baik, rohani, kudus, dan lainnya.

Apakah memang begitu? Sepertinya pertanyaan ini tidak perlu saya jawab karena sepertinya sang penulis ataupun anda yang berpikiran sama dengan sang penulis sudah tahu jawabannya karena mengenal Tuhan lebih baik dan menjalin hubungan dengan Tuhan lebih baik dari teman dan sahabat yang saya sebutkan di paragraf-paragraf awal dan juga termasuk dibanding saya sendiri. Anda sepertinya lebih rajin membuka kitab suci agama anda ataupun berdoa kepada Tuhan anda. Kami sepertinya KELIHATAN tidak seperti itu. Ya, hak anda untuk menilai seperti itu, tapi sekali saya membaca kitab suci agama saya, dan sepertinya sama dengan kitab suci yang anda baca, jelas di sana tidak ada ayat yang membenarkan pemikiran anda itu. Tapi mungkin karena saya hanya membaca sekali saja sementara anda berkali-kali, ya mungkin seperti itu. Maafkan ke-soktahu-an saya.

Satu kalimat yang berhasil saya kutip dari kitab suci itu, "Siapa diantaramu yang tidak berdosa.. biarlah ia melempar batu terlebih dahulu...".

Akhir kata, Don't judge the book from its cover, man!


*maafkan saya kalau saya mungkin sedikit terbawa emosi ketika menuliskan tulisan ini. Anda yang saya maksud disini tentunya bukanlah anda. Tapi anda yang saya maksud adalah anda yang berpikiran sama dengan anda yang saya tuliskan di tulisan ini. Bingung ya? Ya, intinya tulisan ini hanyalah fiksi belaka yang berdasarkan kisah nyata. Apalagi ini maksudnya? ^^

Monday, 16 May 2011

Hubungan Konstan

durasi baca: 2-3 menit

(dirangkum dari buku One Month to Live, Kerry & Chris Shook)

Bagaimana kita menjaga hubungan kita dengan sumber kuasa tertinggi? Kita membutuhkan dua penghubung untuk tetap sehat, bertumbuh, dan menghasilkan ‘buah’ yang terbaik.

Komunikasi secara konstan merupakan yang pertama. Banyak orang saat ini, karena peralatan komunikasi teknologi tinggi, terus-menerus terhubung dengan kantor mereka. Yang jauh lebih kita butuhkan adalah terus-menerus terhubung pada Allah.


Untuk melakukan komunikasi secara konstan, ada dua hal yang dapat kita lakukan tiap harinya.
1.       Doa percakapan
Ketika kita bangun pada pagi hari, kita perlu memulai hari kita dengan bercakap-cakap dengan Allah. Mungkin kita memandang ke depan dan memikirkan pergumulan dan harapan kita untuk hari ini. Mungkin kita bisa bersyukur untuk pemberian waktu 24 jam lainnya dan bertanya bagaimana Dia menghendaki kita untuk menggunakan waktu itu. Mulailah hari-hari kita dengan Allah!

2.       Percakapan sepanjang sisa hari ini
Lanjutkanlah percakapan denganNya sepanjang sisa hari ini. Kita tidak perlu menggunakan bahasa formal atau menghentikan segala sesuatu yang kita kerjakan. Kita tidak perlu berbicara denganNya dengan suara keras karena Allah tahu pikiran kita sebelum kita berbicara. Jadi, katakan isi hati kita dengan jujur kepadaNya. Katakan kepada Allah semua masalah yang kita hadapi, keputusan yang kita buat, dan kejutan yang kita terima dengan ucapan syukur sepanjang hari. Jika kita merasa stres dan marah, katakan hal itu kepada Allah.


Setelah komunikasi, yang selanjutnya kita lakukan untuk menjalin hubungan yang konstan adalah pengakuan secara konstan. Ini tidak berarti kita harus mencari pendeta atau imam dan memberitahukan dosa terakhir kita. Itu juga tidak dilakukan dengan memukul diri sendiri. Tidak, ini sesungguhnya merupakan dimensi lain dari percakapan kita dengan Allah secara terus-menerus sepanjang hari. Jika kita menyadari tentang sesuatu yang seharusnya tidak kita katakan atau kerjakan, atau sesuatu yang tidak kita lakukan, tetapi kita percaya seharusnya kita lakukan, akui saja terus terang kepadaNya saat itu juga.


Kita semua bekerja menurut proses. Kita gagal dan menyerah pada saat yang rentan terhadap godaan, tetapi kita tidak perlu terus-menerus memikirkannya dan tentu saja tidak berkubang di dalamnya. Jika kita mengakui kegagalan kita dan memohon kasih karunia dan pengampunanNya, Allah dengan senang hati menyucikan hati kita dan memulihkan hubungan kita denganNya. Itu merupakan proses saat demi saat setiap hari.


Dengan pengakuan, pada dasarnya kita mengingatkan diri sendiri bahwa kita tidak dapat melakukan itu semua dengan kemampuan kita sendiri, bahwa kita membutuhkan Allah dan menghendaki Dia untuk terus bekerja dalam hidup kita untuk memberikan kekuatan dan kuasa yang kita butuhkan untuk bertumbuh secara sehat. Pengakuan berarti setuju dengan Allah bahwa jalan kita salah, dan pertobatan merupakan keputusan untuk menuruti jalan Allah.


Keputusan dan komitmen tidak ada gunanya jika kita bergantung pada kekuatan kehendak kita sendiri. Kita mungkin berhasil mempertahankannya untuk sementara, tetapi akhirnya kekuatan kita sendiri tidak akan cukup. Dengan kekuatanNya kita dapat menjalani hari demi hari kehidupan kita.

Monday, 9 May 2011

Mengasihi Sepenuhnya


(dirangkum dari buku One Month to Live, Kerry & Chris Shook)

Pada hakikatnya, hubungan merupakan hal yang terpenting. Tidak masalah seberapa banyak uang yang kita miliki, di mana kita hidup, atau seberapa banyak mainan indah yang kita kumpulkan. Tidak satu pun dari hal ini yang bisa membuat kita nyaman, menghibur kita, menangis bersama kita, atau mengasihi kita. Hubungan kita dengan orang lain, itulah satu-satunya hal yang bisa bertahan melampaui waktu hidup kita.

Studi Sosial
Allah merancang kita untuk menjalin hubungan baik secara vertikal denganNya maupun secara horizontal dengan orang-orang di sekitar kita. Namun, sekalipun kita memiliki keinginan yang kuat untuk berhubungan dengan keluarga, teman-teman, dan komunitas kita, kita semua mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Harapan, kekecewaan, pengkhianatan, sakit hati, kebohongan, kesalahpahaman – ada begitu banyak halangan untuk mengasihi orang lain dan dikasihi mereka. Tapi, kita diciptakan untuk menjalin hubungan dan bagaimanapun rumitnya, setiap halangan itu haruslah kita hadapi.

Jadi mengapa kita tidak hidup seolah-olah hubungan kita merupakan hal yang paling berarti? Mengapa kita menunggu sampai orang-orang meninggal untuk memberi mereka bunga? Tampaknya ironis bahwa kebanyakan kita menghargai hubungan kita, tetapi tidak menggunakan energi untuk menjalin hubungan dengan sepenuhnya. Dalam aktivitas hidup kita yang berkecepatan tinggi dengan jadwal yang begitu padat, kebanyakan kita cenderung memperlakukan orang lain asal-asalan saja. Satu-satunya masalah adalah tidak peduli seberapa keras kita berusaha mengasingkan diri kita dari orang lain, hal itu bertentangan dengan sifat dasar kita. Kita semua dirancang sebagai makhluk yang hidup melalui hubungan dengan yang lainnya – makhluk sosial, yang ingin menjadi bagian kelompok. Itulah cara Allah menciptakan kita – sesual gambarNya.

Harga Kasih
Kita dirancang untuk menjalin keintiman sosial dan emosional dengan orang-orang di sekitar kita, tetapi kerinduan kita dicemari oleh kecenderungan sikap egois kita yang hanya memikirkan diri sendiri. Pada dasarnya, kedua kekuatan ini terus menerus berbenturan sepanjang hidup kita. Kita ingin mengasihi orang lain, dan sebagai balasannya kita ingin dikenal, disukai, dan dikasihi. Namun, orang-orang mengecewakan kita, melukai kita, dan tidak selalu menanggapi kita dengan cara seperti yang kita inginkan. Akhirnya, kita memutuskan untuk bermain aman, dan memberi tahu diri sendiri bahwa kita sesungguhnya sama sekali tidak membutuhkan mereka, tetapi hati kita memberi tahu hal yang sebaliknya. Bunda Teresa berkata bahwa kesepian adalah kemiskinan yang paling mengerikan. Ia benar – tanpa kasih kita bangkrut secara emosional.

Cinta tidak dapat dibeli, tetapi cinta tentu saja memiliki harga, dan itu disebut pengorbanan. Bahkan dalam hubungan yang terbaik sekalipun, ada rasa kehilangan yang menghantui – bahwa orang lain suatu hari nanti akan pergi meninggalkan kita sendiri. Kita tidak berhenti mencintai orang-orang ini, tetapi hati kita sakit karena kita tidak dapat bersama-sama dengan mereka dan tidak dapat selalu berhubungan dengan mereka hingga akhir. Di mana ada perjumpaan, suatu saat pasti ada perpisahan. Penderitaan ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari hubungan yang akrab.

Jika kita mau mencintai orang lain, menanggung sakit hati maupun merayakan berbagi kehidupan, kita akan membutuhkan kasih yang lebih besar dari kasih kita sendiri. Kita perlu mengalami kepenuhan kasih Allah bagi kita untuk mati bagi keinginan kita yang egois dan memberi kepada orang lain dengan cuma-cuma. kasihNya begitu besar, bahkan apabila kasih setiap orang di dunia ini dikumpulkan menjadi satu, kasihNya masih jauh lebih besar dari itu. Dengan mengetahui bahwa ada Allah yang memiliki kasih sebesar itu di belakang kita, maka kita akan siap juga untuk mengasihi orang lain dengan sepenuhnya.

Pengorbanan kasih yang terbesar dalam sejarah terjadi melalui kematianNya di kayu salib. Pengorbanan Allah mengingatkan kita tentang cerita seorang yang bekerja mengoperasikan jembatan tarik di sebuah pantai di sebuah kota pelabuhan kecil, setiap hari ia berjalan ke kantor di sebelah jembatan tarik, di mana ia bisa mengontrol pengungkitnya. Ia menarik pengungkit tersebut, jembatan tarik dengan rel kereta di atasnya akan naik, dan kapal yang sangat besar akan meluncur lewat. Kemudian ia menurunkan pengungkit itu, dan jembatan tarik itu akan merendah sehingga kereta bisa menyeberang dengan aman.

Hampir setiap hari anak laki-lakinya yang masih kecil pergi bekerja bersamanya. Suatu hari ketika mereka bersama-sama di sana, ayahnya menerima pesan lewat radio bahwa kereta yang tidak dijadwalkan sedang dalam perjalanan dan ia perlu menurunkan jembatan tarik itu. Ia memandang keluar jendela sepintas ketika ia menyentuh pengungkit itu, dan ia melihat anaknya sedang berada di luar bermain di gir besar jembatan tarik itu dekat pantai. Ia berteriak memanggil anaknya, tetapi anaknya tidak bisa mendengarnya karena semua keributan dan kebisingan dekat air itu.

Laki-laki itu berlari ke kantor dan berlari ke arah anaknya supaya bisa menggapainya dan menariknya ke tempat yang aman, tetapi kemudian kebenaran yang mengerikan menyentaknya. Jika ia tidak segera menurunkan pengungkit itu, kereta itu akan jatuh ke sungai dan ratusan penumpang akan mati. Namun, jika ia menurunkan jembatan itu, anaknya akan terbunuh. Pada detik terakhir, ia mengambil keputusan yang sangat berat, berlari kembali ke stasiunnya, da menarik pengungkit itu, jatuh berlutut dengan kesedihan yang luar biasa karena anaknya tergencet jembatan itu dan mati. Dengan air mata bercucuran di pipinya, ia melihat keluar dan melihat kereta itu melaju dengan aman di jembatan. Ia bisa melihat di salah satu jendela orang-orang sedang makan, minum dan tertawa, sama sekali tidak tahu pengorbanan terbesar yang baru saja ia lakukan sehingga mereka bisa tetap hidup.

Begitulah pengorbananNya yang begitu besar. Ketika kita berpikir tentang apa artinya berkorban bagi orang-orang di sekitar kita, mungkin kita perlu terlebih dahulu memikirkan seberapa besar Allah telah berkorban bagi kita. Karena begitu besar kasihNya kepada kita, Allah akan berkorban sekalipun hanya kita satu-satunya penduduk di dunia ini. Jika hanya kita satu-satunya penumpang di kereta itu, Ia masih akan tetap menurunkan jembatan tarik itu – itulah bukti kasihNya yang besar, mengasihi dengan sepenuhnya.

Dengan kasihNya sebagai fondasi kita, kita bisa menemukan kekuatan baru dalam cara berhubungan dengan orang lain. Kita tidak perlu menuntut balasan kasih dari mereka karena kasih yang kita berikan tidak bergantung pada pengakuan, balasan, dan izin dari mereka. Sama seperti Allah yang mengasihi kita dengan sempurna, tidak menuntut balasan apapun dari kita, begitu juga kita tentunya mengasihi orang lain – bahkan yang tidak kita kenal sama sekali, mengasihi mereka dengan sempurna, mengasihi dengan sepenuhnya.