inspirasi

inspirasi
Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts

Saturday, 27 August 2011

Agustus Yang Akan Segera Berakhir

Walau Agustus akan berlalu, bukan berarti kenangan akan Merah Putih yang berkibar juga akan berlalu. Masih ada sebelas bulan, yang bisa diisi oleh sikap pesimis akan perubahan, atau optimis akan kebangkitan.


September, Oktober, November, dan Desember, biarlah di setiap bulan ini Merah Putih tetap berkibar di hati kita yang juga terwujud nyata melalui tindakan-tindakan kita.


Januari, Februari, Maret, dan April, di bulan-bulan ini saatnya orang lain melihat rasa bangga akan bangsa ini tidak pernah pudar, dan justru terus meningkat seiring berjalannya waktu.


Mei, Juni, Juli dan kembali Agustus, doa dan harapan harus terus dilantunkan, karya nyata harus terus dilakukan, agar tangis Ibu Pertiwi bisa terhenti, dan senyum Anak-anak Pertiwi merekah dari Sabang sampai Merauke.


Sebuah lagu patriotik Indonesia karangan/ciptaan Ibu Sud yang sangat menginspirasi. Lagu tentang Ibu Pertiwi, lagu tentang Tanah Air.

Tanah Airku

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai


Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan


Perubahan ada di tangan para muda Indonesia. Hari ini saat kita untuk menggali ilmu dan ajaran, besok tiba waktu kita untuk menanam ilmu dan ajaran.

Semoga semangat itu terus ada di dada kita, kawan.
:)

Monday, 9 May 2011

Mengasihi Sepenuhnya


(dirangkum dari buku One Month to Live, Kerry & Chris Shook)

Pada hakikatnya, hubungan merupakan hal yang terpenting. Tidak masalah seberapa banyak uang yang kita miliki, di mana kita hidup, atau seberapa banyak mainan indah yang kita kumpulkan. Tidak satu pun dari hal ini yang bisa membuat kita nyaman, menghibur kita, menangis bersama kita, atau mengasihi kita. Hubungan kita dengan orang lain, itulah satu-satunya hal yang bisa bertahan melampaui waktu hidup kita.

Studi Sosial
Allah merancang kita untuk menjalin hubungan baik secara vertikal denganNya maupun secara horizontal dengan orang-orang di sekitar kita. Namun, sekalipun kita memiliki keinginan yang kuat untuk berhubungan dengan keluarga, teman-teman, dan komunitas kita, kita semua mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Harapan, kekecewaan, pengkhianatan, sakit hati, kebohongan, kesalahpahaman – ada begitu banyak halangan untuk mengasihi orang lain dan dikasihi mereka. Tapi, kita diciptakan untuk menjalin hubungan dan bagaimanapun rumitnya, setiap halangan itu haruslah kita hadapi.

Jadi mengapa kita tidak hidup seolah-olah hubungan kita merupakan hal yang paling berarti? Mengapa kita menunggu sampai orang-orang meninggal untuk memberi mereka bunga? Tampaknya ironis bahwa kebanyakan kita menghargai hubungan kita, tetapi tidak menggunakan energi untuk menjalin hubungan dengan sepenuhnya. Dalam aktivitas hidup kita yang berkecepatan tinggi dengan jadwal yang begitu padat, kebanyakan kita cenderung memperlakukan orang lain asal-asalan saja. Satu-satunya masalah adalah tidak peduli seberapa keras kita berusaha mengasingkan diri kita dari orang lain, hal itu bertentangan dengan sifat dasar kita. Kita semua dirancang sebagai makhluk yang hidup melalui hubungan dengan yang lainnya – makhluk sosial, yang ingin menjadi bagian kelompok. Itulah cara Allah menciptakan kita – sesual gambarNya.

Harga Kasih
Kita dirancang untuk menjalin keintiman sosial dan emosional dengan orang-orang di sekitar kita, tetapi kerinduan kita dicemari oleh kecenderungan sikap egois kita yang hanya memikirkan diri sendiri. Pada dasarnya, kedua kekuatan ini terus menerus berbenturan sepanjang hidup kita. Kita ingin mengasihi orang lain, dan sebagai balasannya kita ingin dikenal, disukai, dan dikasihi. Namun, orang-orang mengecewakan kita, melukai kita, dan tidak selalu menanggapi kita dengan cara seperti yang kita inginkan. Akhirnya, kita memutuskan untuk bermain aman, dan memberi tahu diri sendiri bahwa kita sesungguhnya sama sekali tidak membutuhkan mereka, tetapi hati kita memberi tahu hal yang sebaliknya. Bunda Teresa berkata bahwa kesepian adalah kemiskinan yang paling mengerikan. Ia benar – tanpa kasih kita bangkrut secara emosional.

Cinta tidak dapat dibeli, tetapi cinta tentu saja memiliki harga, dan itu disebut pengorbanan. Bahkan dalam hubungan yang terbaik sekalipun, ada rasa kehilangan yang menghantui – bahwa orang lain suatu hari nanti akan pergi meninggalkan kita sendiri. Kita tidak berhenti mencintai orang-orang ini, tetapi hati kita sakit karena kita tidak dapat bersama-sama dengan mereka dan tidak dapat selalu berhubungan dengan mereka hingga akhir. Di mana ada perjumpaan, suatu saat pasti ada perpisahan. Penderitaan ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari hubungan yang akrab.

Jika kita mau mencintai orang lain, menanggung sakit hati maupun merayakan berbagi kehidupan, kita akan membutuhkan kasih yang lebih besar dari kasih kita sendiri. Kita perlu mengalami kepenuhan kasih Allah bagi kita untuk mati bagi keinginan kita yang egois dan memberi kepada orang lain dengan cuma-cuma. kasihNya begitu besar, bahkan apabila kasih setiap orang di dunia ini dikumpulkan menjadi satu, kasihNya masih jauh lebih besar dari itu. Dengan mengetahui bahwa ada Allah yang memiliki kasih sebesar itu di belakang kita, maka kita akan siap juga untuk mengasihi orang lain dengan sepenuhnya.

Pengorbanan kasih yang terbesar dalam sejarah terjadi melalui kematianNya di kayu salib. Pengorbanan Allah mengingatkan kita tentang cerita seorang yang bekerja mengoperasikan jembatan tarik di sebuah pantai di sebuah kota pelabuhan kecil, setiap hari ia berjalan ke kantor di sebelah jembatan tarik, di mana ia bisa mengontrol pengungkitnya. Ia menarik pengungkit tersebut, jembatan tarik dengan rel kereta di atasnya akan naik, dan kapal yang sangat besar akan meluncur lewat. Kemudian ia menurunkan pengungkit itu, dan jembatan tarik itu akan merendah sehingga kereta bisa menyeberang dengan aman.

Hampir setiap hari anak laki-lakinya yang masih kecil pergi bekerja bersamanya. Suatu hari ketika mereka bersama-sama di sana, ayahnya menerima pesan lewat radio bahwa kereta yang tidak dijadwalkan sedang dalam perjalanan dan ia perlu menurunkan jembatan tarik itu. Ia memandang keluar jendela sepintas ketika ia menyentuh pengungkit itu, dan ia melihat anaknya sedang berada di luar bermain di gir besar jembatan tarik itu dekat pantai. Ia berteriak memanggil anaknya, tetapi anaknya tidak bisa mendengarnya karena semua keributan dan kebisingan dekat air itu.

Laki-laki itu berlari ke kantor dan berlari ke arah anaknya supaya bisa menggapainya dan menariknya ke tempat yang aman, tetapi kemudian kebenaran yang mengerikan menyentaknya. Jika ia tidak segera menurunkan pengungkit itu, kereta itu akan jatuh ke sungai dan ratusan penumpang akan mati. Namun, jika ia menurunkan jembatan itu, anaknya akan terbunuh. Pada detik terakhir, ia mengambil keputusan yang sangat berat, berlari kembali ke stasiunnya, da menarik pengungkit itu, jatuh berlutut dengan kesedihan yang luar biasa karena anaknya tergencet jembatan itu dan mati. Dengan air mata bercucuran di pipinya, ia melihat keluar dan melihat kereta itu melaju dengan aman di jembatan. Ia bisa melihat di salah satu jendela orang-orang sedang makan, minum dan tertawa, sama sekali tidak tahu pengorbanan terbesar yang baru saja ia lakukan sehingga mereka bisa tetap hidup.

Begitulah pengorbananNya yang begitu besar. Ketika kita berpikir tentang apa artinya berkorban bagi orang-orang di sekitar kita, mungkin kita perlu terlebih dahulu memikirkan seberapa besar Allah telah berkorban bagi kita. Karena begitu besar kasihNya kepada kita, Allah akan berkorban sekalipun hanya kita satu-satunya penduduk di dunia ini. Jika hanya kita satu-satunya penumpang di kereta itu, Ia masih akan tetap menurunkan jembatan tarik itu – itulah bukti kasihNya yang besar, mengasihi dengan sepenuhnya.

Dengan kasihNya sebagai fondasi kita, kita bisa menemukan kekuatan baru dalam cara berhubungan dengan orang lain. Kita tidak perlu menuntut balasan kasih dari mereka karena kasih yang kita berikan tidak bergantung pada pengakuan, balasan, dan izin dari mereka. Sama seperti Allah yang mengasihi kita dengan sempurna, tidak menuntut balasan apapun dari kita, begitu juga kita tentunya mengasihi orang lain – bahkan yang tidak kita kenal sama sekali, mengasihi mereka dengan sempurna, mengasihi dengan sepenuhnya.

Saturday, 16 October 2010

Foto Bernama Keluarga

Kali ini mencoba membagikan pengalaman yang aku dapatkan baru-baru ini. Untuk pertama kalinya datang ke Car Free Day hari Minggu di sepanjang Dago. Bersama teman, sambil berjalan sepanjang jalan, mencoba mendokumentasi berbagai hal yang terjadi disana. Setelah mengambil beberapa foto dan melihat hasilnya, aku tertarik melihat satu objek fotoku, tiga orang dalam satu keluarga yang sedang berjalan bersama sambil bersenda gurau. Setelah melihat foto ini, akhirnya aku memutuskan untuk hari ini fokus mengabadikan keluarga-keluarga yang menghabiskan Minggu paginya berolahraga di Dago. Dan hunting foto pun dimulai.





Setelah selesai menjalankan aksi di pagi hari yang cerah, sambil beristirahat di Wisma Sejahtera, aku mencoba melihat foto-foto yang kuambil. Setiap foto menunjukkan keakraban di dalam keluarga. Berjalan bersama, berlari bersama, berfoto bersama, dan lainnya. Tiba-tiba, pikiran pun terbawa angin hingga jauh ke pulau seberang, beratus-ratus kilometer ke sebuah kota, Medan. Teringat kepada kedua orangtua disana dan juga seorang adik yang masih bersekolah disana. Tanpa diminta ingatan pun membuka setiap halamannya, mencoba mengingatkan kenangan-kenangan ketika keluarga kami berkumpul bersama pada saat liburan. Walaupun kadang diisi dengan perselisihan dan lainnya, namun itulah yang semakin mengakrabkan dan mendekatkan satu sama lain. Kembali melihat foto-foto yang kuambil dan aku pun diingatkan lagi betapa besar kasih orangtua kepada anaknya dan menyadari beberapa minggu ini telah beberapa kali mengecewakan mereka yang pasti selalu membawa namaku dalam setiap lantunan doanya. Teringat juga kepada adik dan kakakku, yang sama-sama merantau ke tanah Jawa ini dan mengingat berbagai hal yang telah dilalui bersama baik ketika berkumpul di Bandung, ataupun ketika di Medan. Berantam, beradu argumen, dan lainnya yang sering memanaskan kepala, tapi kalau diingat-ingat lagi, itu merupakan bumbu-bumbu kasih sayang dan salah satu bentuk perhatian yang diberikan, walaupun kadang dalam penyampaiannya sering berlebihan.





Setelah melihat semua foto yang kuabadikan di pagi hari itu, aku pun berdoa sejenak, berharap yang terbaik selalu diberikanNya kepada mereka. Meminta agar mereka selalu sehat, dimanapun mereka berada. Meminta kepada Tuhan berkat dan rahmat selalu diberikanNya kepada mereka semua. Dan semoga aku, Sahat Martin Philip Sinurat bisa membanggakan mereka.






Untuk keluargaku: Tagor Hasiholan Sinurat, Linda Mariaty Panjaitan, Yohana Rotua Yosefin Sinurat, Martha Christina Sinurat, dan Olivia Dame Masterina Sinurat.

Saturday, 18 September 2010

Panggilan dari Ibu Pertiwi

kulihat ibu pertiwi
sedang bersusah hati
air matamu berlinang
mas intanmu terkenang


hutan gunung sawah lautan
simpanan kekayaan
kini ibu sedang susah
merintih dan berdoa


Pagi hari di 14 September 2010, aku keluar dari kosan untuk membeli makanan dan pergi ke kampus. Masih libur memang, tidak ada kerjaan di kosan, sayangnya tidak punya tempat persinggahan lain, sohib-sohib masih berada di kampung halaman ataupun berlibur di luar kota, akhirnya kampus pun menjadi jawaban terakhir untuk mengatasi kesendirian.
Sebelum memasuki paragraf selanjutnya, agar tulisanku ini dapat menggapai tujuan penulisannya, kalau rekan-rekan berkenan, aku merekomendasikan untuk kita sama-sama coba mencari lagu 'Ibu Pertiwi', memutarnya dan menghayati setiap lirik, setiap pesan yang disampaikan di lagu tersebut.
Kemudian, aku yakin rekan-rekan sekalian mempunyai imajinasi yang sangat tinggi, kita dapat mencoba membayangkan kondisi-kondisi yang ada di ibu pertiwi dan juga coba membayangkan kondisi yang akan coba aku ceritakan di paragraf selanjutnya. Sudah mulai mendengar dan membayangkan? Oke, sudah ternyata. Terimakasih kawan, mari kita lanjutkan lagi.

Masih di jalan kecil di dekat kosanku, aku melihat sebuah keluarga tunawisma yang terdiri dari suami istri dan beberapa orang anaknya, kira-kira 6 orang, aku tidak menghitungnya dengan pasti, sedang berjalan ke arah jalan besar. Keenam orang anak ini tubuhnya mungil, mungkin jarak umur di antara mereka hanya dipisahkan waktu 9 bulan sampai satu tahun dan umur yang paling besar kira-kira 10-12 tahun atau jangan-jangan lebih tua dari itu, namun badan mereka yang sangat mungil pada akhirnya hanya dapat membuat aku menerka-nerka.

Tidak ada barang bawaan yang mereka pikul, hanya pakaian yang mereka kenakan. Sang ibu menggendong anaknya yang paling kecil dan juga membawa kain yang diikatkan di punggungnya layaknya para pengelana zaman dahulu dimana di dalam kain ini mungkin berisikan sedikit pakaian ataupun benda-benda paling berharga yang dimiliki keluarga ini.



Namun ada satu hal yang juga sempat menyita perhatianku dan akhirnya terus terbayang di pikiranku hingga saat ini. Sang bapak yang tidak mengenakan sehelai pun alas kaki membawa beban juga di pundaknya, bukan tas ataupun kain juga, melainkan seorang anak yang digendong layaknya para kuli di pelabuhan mengangkat sekarung beras di pundaknya. Tangan dan kaki sang anak terayun-ayun begitu saja dipermainkan langkah kaki sang bapak. Aku hanya menoleh sesaat, kemudian sambil mengendarai kendaraanku, aku melewati keluarga ini dan beberapa puluh meter di depan mereka aku berhenti untuk membeli makananku. Selesai memesan makanan, aku keluar dari warung makanan untuk coba melihat kondisi yang ada di sekitar pada pagi hari dan ketika aku melihat ke arah kendaraanku, ternyata keluarga tuna wisma ini sedang beristirahat tidak jauh dari sana. Beberapa orang anak bermain di sekitar sang ibu, dan sang ayah duduk di trotoar dan anak yang digendongnya tergeletak di jalan dengan mata tertutup. Kaki sang ayah berada di atas betis sang anak.

Kira-kira 10 menit mereka berada di sana dan rasa penasaranku akan kondisi sang anak ini membuatku beberapa kali berusaha untuk melihat ke arah keluarga ini, begitu juga ternyata yang dilakukan orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar mereka. Aku melihat ke arah dadanya, mungkin karena jarak kami yang jauh, aku tidak melihat gerakan naik-turun di dada layaknya seseorang yang sedang menghirup udara. Aku kembali bertanya-tanya, namun ketidakberanian aku untuk mencari tahu lebih lagi, dan mungkin juga sikap ketidakpedulian yang masih ada di dalam diriku membuatku pada akhirnya hanya melihat keluarga ini saja hingga mereka beranjak dan kemudian berjalan lagi meninggalkan kawasan tersebut.

Selesai membayar makanan, aku pun kembali ke kendaraanku dan memulai perjalananku ke kampus. Kembali kondisi tadi bermain-main di alam pikiranku. Pertanyaan-pertanyaan kembali keluar. Kemana mereka pergi? Bagaimana kondisi sang anak tadi? Apakah dia sakit, atau jangan-jangan dia telah kembali ke pelukan Sang Khalik? Apa yang anak-anak itu makan? Bagaimana cara mereka bertahan hidup?
Banyak pertanyaan yang berkecamuk namun siapa yang bisa menjawabnya, tidak ada saat itu, karena aku telah melewatkan kesempatan itu. Ketika tadi aku memutuskan untuk hanya melihat keluarga ini, sama halnya dengan yang dilakukan juga oleh setiap orang yang ada di tempat itu, aku telah memutuskan juga kunci jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini yang akhirnya hanya semakin menambah pertanyaan-pertanyaan lain di benakku.

Detik pun berlalu dan kembali aku berjalan-jalan di alam pikiranku.
Kondisi tadi terjadi di kota ini, kota pendidikan yang memiliki berpuluh-puluh sekolah dan perguruan tinggi. Kondisi tadi terjadi di kota ini, kota yang sangat banyak didatangi wisatawan dari luar maupun dalam negeri.
Kondisi tadi terjadi di kota ini, ibukota provinsi yang sangat dekat dengan ibukota negara dan tentunya memiliki akses cepat dalam setiap isu yang ada.
Kondisi tadi terjadi di kota ini, kota yang pembangunan gedung-gedung serta tempat rekreasi seperti mall, factory outlet dan lainnya serta pertumbuhan kendaraan bermotornya setiap harinya terus meningkat,
Kondisi itu terjadi di kota ini.

Bagaimana lagi dengan daerah-daerah lain di kabupaten dan perdesaan?
Bagaimana kondisi daerah-daerah di pedalaman yang jauh dari akses listrik, jalan, dan jauh dari kota-kota besar?
Bagaimana kabar saudara-saudara kita yang berada di bagian timur Indonesia yang jauh dari ibukota karena sudah rahasia umum, pembangunan nasional masih terlalu berpusat di bagian barat saja.
Kondisi seperti tadi saja masih terjadi di kota ini, bagaimana lagi di tempat-tempat lain.




 Tanda tanya pun semakin banyak berkumpul di benakku yang mendesak keluar untuk segera bisa dijawab, namun sebuah hembusan angin sejuk datang, mencoba menahan pertanyaan ini untuk bisa tenang dan mau disimpan lagi di lokernya yang paling terdalam.
Sudahlah kawan, untuk apa kau pikirkan itu semua. Itu terlalu berat untuk kau pikirkan sekarang, biarlah para pemimpin kita yang memikirkannya dan kau kerjakan saja bagianmu saat ini. Engkau mahasiswa dan belajarlah yang tekun dan nanti ketika kau sudah sukses, saat itulah kau membuka lagi loker penyimpananmu, dan jawablah setiap pertanyaan yang kau simpan disana.
Sebuah hembusan angin yang sejuk, memberikan solusi kepadaku untuk melupakan setiap pertanyaan yang ada, namun apakah yang sejuk itu baik? Simpan pertanyaan itu, tapi tidak perlu dimasukkan ke loker penyimpananmu, segera kita akan membahasnya.

Aku mencoba berhenti dari perjalanan di pikiranku dan coba kembali ke dunia nyata yang ada, namun sebelum aku sempat berbalik, suatu kenyataan kembali menghampiriku dan akhirnya membuat aku betah untuk berlama-lama lagi di alam pikiranku.

Beberapa waktu ini kita banyak dihebohkan dengan berbagai permasalahan yang terjadi di bangsa ini.
Kasus century, mafia hukum, pajak, komitmen anggota DPR, dan banyak hal lainnya yang terakhir ini ditutup oleh permasalahan kerukunan umat beragama terkait pemukulan di HKBP Bekasi.
Belum lagi kondisi-kondisi yang terjadi di mancanegara seperti depresi perekonomian global, Indonesia vs Malaysia dengan segala pemantiknya seperti kasus perbatasan, TKI, dan lainnya serta yang baru-baru ini terkait rencana pembakaran kitab suci agama Islam di AS.

Pada saat membaca dan mengetahui setiap isu-isu ini aku, kita selalu merespon. Ada yang mengkritik, mengeluh, memaki, memberikan harapan, dan banyak respon-respon lainnya. Namun ketika waktu sudah berlalu, beberapa hari dan minggu sudah lewat dari kejadian yang ada, semua respon itu dilupakan dan respon-respon lain, untuk permasalahan lain dikeluarkan lagi oleh kita, dan begitu seterusnya.
Selalu reaktif ketika ada permasalahan yang mengusik, namun segera melupakan dan tidak mengingat kembali ketika itu sudah berlalu.

Bagaimana dengan hal tadi?
Kondisi tadi terjadi di depan mataku kira-kira beberapa puluh menit yang lalu dan aku tidak melakukan apa-apa.
Lalu, untuk apa selama ini aku memberikan respon untuk setiap kondisi yang terjadi di luar sana, namun hal yang ada di depan mataku, aku tidak mampu melakukan apa-apa.

Beberapa waktu ini kerukunan umat beragama digoncang dengan kejadian di luar negeri, di AS dan juga kejadian di dalam negeri di Bekasi. Banyak respon yang keluar dan aku juga menanggapi kedua permasalahan tersebut.



Aku seorang Batak, seorang Kristen, dan seseorang yang beruntung memiliki orangtua yang bisa menghidupiku dengan baik. Kecintaanku pada suku ku sangat kuat, keimananku pada Tuhanku juga bukan sekedar agama di KTP saja, kedua hal inilah salah satu aspek yang membentuk aku dari kecil, tapi aku juga tidak melupakan satu hal, satu hal yang sangat esensial, aku dilahirkan di Indonesia, bukan di Malaysia, Australia, ataupun Amerika dan karakterku juga dibentuk di Indonesia. Sukuku adalah suku di Indonesia, aku Batak Indonesia, aku Kristen Indonesia.
Merah darahku dan putih tulangku sama seperti saudara-saudaraku yang lain, Aceh Indonesia, Jawa Indonesia, Madura Indonesia, Dayak Indonesia, Asmat Indonesia, Tionghoa Indonesia dan suku-suku lainnya. Kecintaanku kepada tanah airku sama seperti saudara-saudaraku yang lain, Islam Indonesia, Budha Indonesia, dan agama-agama lainnya.

Untuk apa aku berpikir tentang perbedaan, Indonesia berada di belakang nama, suku, ras, dan agamaku.
Persatuanlah yang dulu menjadi jawaban atas kemerdekaan kita.
Bhineka Tunggal Ika.
Darah para pejuang, darah orang Aceh, Melayu, Sunda, Bali, Ambon, Papua, Islam, Kristen, Hindu, dan lainnya telah mengalir untuk menebus kemerdekaan ini. Darah mereka telah tumpah ke ibu pertiwi.



Apakah kemudian darah setiap mereka yang sudah mati memisahkan diri sesuai kelompoknya?
Tentu saja tidak, darah itu dengan bangganya bersatu, tumpah ke tanah air yang sama, Indonesia.



Darah persatuan mereka lah yang menjadi dasar terciptanya kemerdekaan ini, lalu, untuk apalagi kita mengelompokkan diri, menganggap kita lebih baik dari yang lain.

Mereka dengan bangganya menyatakan kesatuan mereka di Sumpah Pemuda dan menunjukkannya dengan tindakan konkrit melalui tumpahnya darah mereka dalam perjuangan kemerdekaan dan bahkan pada saat mereka sudah terkapar pun, mereka masih terus mempertahankan kesatuan mereka. Darah mereka pun tetap mengalir ke tanah yang sama kawan, tanah tempat kaki aku dan kau melangkah sekarang.



Sama merah darah kita, putih juga tulang kita, berpijak di tanah air yang sama, apalagi yang kita permasalahkan kawan.

Untuk apalagi kita berteriak-teriak akan perbedaan, sementara masih banyak tugas-tugas lain yang belum sempat diselesaikan para pejuang kita dan merupakan beban kita sebagai penerus mereka untuk menyelesaikannya.
Untuk apalagi kita membuat masalah baru, yang sebenarnya merupakan jawaban dari kondisi yang ada sekarang.




Apa masalah kita?
Apa musuh kita?
KORUPSI MUSUH KITA!!
KEMISKINAN MASALAH KITA!!
KETIDAKADILAN LAWAN KITA!!



Itu musuh kita bersama kawan, masalah kita bersama.
Itu musuh orang Islam, Katolik, Konghucu, Jawa, Batak, Padang, Toraja, Ambon, Papua, Tionghoa, Kaya, Miskin,
Hal-hal itulah yang harus kita bereskan bersama...

Persatuan yang dulu merupakan jawaban dalam memperjuangkan kemerdekaan, tentunya sekarang juga menjadi satu-satunya jawaban dalam mengatasi kebobrokan bangsa saat ini.



Kembali ke pertanyaan yang tadi telah kita simpan sejenak untuk nantinya segera kita jawab.
Kondisi yang aku lihat tadi, itu juga terjadi di seluruh Indonesia, bahkan mungkin dialami sanak keluarga kita sendiri. Mereka yang juga merupakan saudara-saudara kita setanah air, apakah masalah yang mereka hadapi itu bukan masalah untuk kita. Apakah bukan tugas kita agar mereka juga bisa merasakan negara kita yang kaya ini?
Apakah kita harus menunggu nanti, menunggu kita tua, menunggu semangat itu meredup, dan akhirnya hanya jiwa pragmatis saja yang tersisa di diri kita, dan mereka akhirnya hanya berada disana, hingga anak cucunya, menunggu jawaban, sementara kita yang tahu jawaban itu memilih untuk melakukannya nanti, nanti yang tidak diketahui kapan akan dilakukan. Nanti yang layaknya janji yang terus diucapkan. Nanti.



Seperti yang telah teman-teman dengar dari lagu 'Ibu Pertiwi', tanah air kita sedang menangis kawan, ibu pertiwi kita sedang susah. Untuk apa lagi kita membuat masalah baru. Saatnya kita menjadi jawaban untuk ini semua. Tanah kita kaya, alam kita menyimpan banyak hal yang siap untuk digunakan. Siapa lagi yang dapat memberdayakannya kalau bukan kita.

Apakah kita mencintai ibu pertiwi?
Apakah kita semua sepakat kalau kita semua merupakan putra-putri bangsa, tidak ada yang merupakan anak tiri, ataupun hanya penumpang gelap di tanah ini?
Apakah kita siap berbakti menggembirakan ibu kita?
Layaknya ibu yang akan tersenyum ketika melihat anaknya tertawa, menggembirakan ibu kita berarti menggembirakan setiap anak-anaknya, tidak hanya sebagian anak-anaknya, tetapi setiap anak-anaknya dari Sabang sampai Merauke. Ketika itu kita lakukan, ibu pertiwi itu pun akan tertawa teman.

Apakah kita siap untuk itu?
Tentunya berat, sangat berat, kalau kita sendiri, tapi akan menjadi pekerjaan yang sangat-sangat ringan dan juga menggembirakan apabila kita melakukannya bersama-sama. Untuk apa kita mengeluarkan energi yang berlebih untuk hal-hal yang tidak perlu, perselisihan yang tidak perlu.
Hei bung, ibumu membutuhkanmu, keluarkan energi itu untuk membangun bangsamu.
Layaknya kearifan lokal para leluhur kita, bergotong royong sambil bercanda tawa, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.
Mari kawan, ayo kita satukan lagi barisan kita.



kulihat ibu pertiwi
kami datang berbakti
lihatlah putra-putrimu
menggembirakan ibu


ibu kami tetap cinta
putramu yang setia
menjaga harta pusaka
untuk nusa dan bangsa 




Apakah kita siap menjaga harta pusaka itu kawan?
Ayolah, tidak perlu lagi berpikir panjang.
Mantapkan hatimu sahabat, persiapkan dirimu saudara,
Aku yakin keputusan kita sudah bulat.
Mari kita melangkah bersama untuk hari esok yang pasti akan lebih baik.
Bersama kawan, bersama dengan segala perbedaan yang ada.
Bhinneka Tunggal Ika...
Untuk nusa dan bangsa.
Mari kita buat ibu pertiwi kita tersenyum lagi.



MERDEKA!!!


Sunday, 12 September 2010

Penikmat Wisata --> Pemrakarsa Wisata

Libur Lebaran akhirnya tiba. Kampus pun libur selama dua minggu, mulai dari tanggal 6-17 September. Berhenti sejenak dari kepenatan perkuliahan, walaupun sebenarnya gak ada juga yang dipenatkan karena toh pada hari-hari kuliah juga masih menyempatkan untuk bermalas-malasan. Padahal sudah tahun kelima. Apa diri ini berniat menjadi MA (Mahasiswa Abadi) ya, mmm, tentu saja tidak. Kata orang-orang badan ini bukan robot, sekali-kali beristirahat itu juga perlu. Tapi susah juga kalau keseringan, gak baik juga untuk kesehatan pikiran. Yaudah, cukup dengan intermezzonya, mari kembali ke topik awal lagi.

Memulai awal liburan dengan menjadi juru foto dan tour guide perjalanan beberapa puluh anak UKSU plus friend ke Pangandaran sekitarnya. Berwisata dengan rute Pangandaran-Green Canyon-Batu Hiu-Batu Karas-Citumang. Menikmati indahnya pemandangan alam Pangandaran dan Batu Hiu, lezatnya seafood khas Pangandaran, tantangan alam seperti body rafting dan melompat dari ketinggian di Green Canyon dan Citumang serta serunya bertarung melawan ombak sambil bermain Banana Boat di Batu Karas sungguh menjadi pengalaman yang berkesan di liburan kali ini.

Keramahan dari penduduk sekitar yang juga menghargai alamnya sebagai pusat mata pencaharian mereka juga patut diacungi jempol. Kegigihan warga sekitar dalam menjalani mata pencahariannya, menarik jaring ikan secara bergotong royong dari pinggir pantai, walau hasilnya tidak sesuai yang diinginkan, tawa canda masih keluar dari mulut mereka.
Menjalani Pangandaran-Green Canyon-Batu Hiu-Batu Karas-Citumang selama dua hari meninggalkan pengalaman yang sangat mengasyikkan bagi 25 orang Penikmat Wisata yang memilih menghabiskan waktu untuk berlibur kesana.

Sejenak teringat dengan kondisi pariwisata di kampung sendiri. Bagaimana dengan Penikmat Wisata disana? Apakah mereka juga memilih untuk menghabiskan waktu berlibur mengunjungi tempat wisata disana. Indahnya pemandangan dipadukan dengan kearifan lokal yang dianut oleh penduduk sekitar pastinya juga ada disana. Apakah kelebihan-kelebihan yang ada disana sudah benar-benar dioptimalkan?

Indahnya kawasan Nias dengan budaya suku disana, Danau Toba dengan beragam suku yang ada, Berastagi dengan keindahan alam gunungnya, pantai di pesisir barat Sumatera Utara yang tentunya tidak kalah menarik dengan Pangandaran, Parangtritis, atau pantai lainnya. Belum lagi indahnya Air Terjun Dua Warna yang terdapat di Sibolangit, Pemandian Air Panas di Sidebu-debu, wahana permainan di Mickey Holiday, Hill Park, dan juga Water Boom di Pantai Cermin. Dan tentunya banyak keunggulan lain yang terdapat disana.


Namun kondisi yang ada selama ini, sulitnya infrastruktrur, kesadaran masyarakat dalam melestarikan lingkungan, dan banyak hal lainnya membuat potensi-potensi itu hanya mengisi opsi-opsi terakhir dalam menentukan pilihan liburan. Apakah benar? Ini hanya asumsi saya saja. Semoga tidak.

Beberapa hari yang lalu bertanya kepada seorang teman yang berdomisili di Samosir dan menanyakan bagaimana kondisi disana saat ini. Apakah pencemaran air danau dengan kotoran dan makanan ikan, banyaknya eceng gondok, dan penebangan pohon masih menjadi santapan sehari-hari disana? Dan untungnya sang kawan menjawabnya dengan sebuah harapan, bahwa itu semua sedang diperbaiki. Masyarakat mulai sadar dan mulai memperhatikan lingkungannya. Semoga ini bisa terus terjadi dan bukan 'panas-panas taik ayam'. Dan semoga perubahan itu tidak hanya diusahakan di kawasan Samosir saja, tapi juga di seluruh Sumatera Utara pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya.

Begitu juga dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia, pastinya punya potensi-potensi pariwisata juga. Kebetulan saya berasal dari Sumut sehingga tahunya potensi wisata disana juga.

Bagaimana dengan kita?
Apa yang bisa kita lakukan?
Apakah cukup dengan menjadi Penikmat Wisata?
Atau ada hal lain yang bisa dilakukan?

Tentu banyak yang bisa kita lakukan.
Pertama, tentunya mencintai pariwisata lokal itu sendiri. Saatnya berhenti melihat halaman yang indah di sebelah rumah karena halaman rumah kita juga tidak kalah indahnya, namun belum tertata dengan rapi.
Saatnya mencoba berkunjung di halaman sendiri, sehingga lambat laun juga halaman itu akan tertata dengan rapi tergantung intensitas kita mengunjunginnya.



Kedua, mulailah kita ikut memperkenalkan tempat-tempat wisata ini ke rekan-rekan kita. Kalau bukan kita yang memperkenalkan, siapa lagi. Dari seorang Penikmat Wisata menjadi Pemrakarsa Wisata, memperkenalkan, mengajak teman-teman untuk berwisata ke potensi-potensi wisata yang ada di sekitar kita.
Sangat banyak dan sangat indah. Tapi sayang belum tertata rapi. Dan kehadiran kita akan menjadi nafas dalam menghidupkan pariwisata kita.

Ketiga dan terakhir, ketika sukses meniti karir nantinya, jangan pernah lupa untuk melihat ke bawah, ikut berinvestasi dalam mengembangkan pariwisata ini. Karena peran kita juga sangat diperlukan dalam membangun pariwisata di daerah kita. Dan sedikit investasi dari kita akan semakin memperkuat denyut nadi masyarakat disana untuk hidup dan juga memajukan kondisi masyarakat disana.









Bagaimana teman-teman?
Mari kita berwisata keliling Indonesia!!!
Tuntaskan dulu keliling halaman sendiri baru melihat halaman tetangga kita,,
Selamat berlibur...



^^

_sahatmps