inspirasi

inspirasi
Showing posts with label Berbagi. Show all posts
Showing posts with label Berbagi. Show all posts

Tuesday, 15 September 2015

Berani Bermimpi

Selama berbulan-bulan ini aku sering bercerita dengan Yanes David tentang mimpinya untuk membangun Pematang Siantar-Simalungun lewat pendidikan. Waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit rela mereka kuras demi mengejar mimpi ini. Bersama Daniel Ompusunggu dan para agent of change Jimmi Reinhard, dkk, mereka mendirikan Sopo Helios, sebuah lembaga pendidikan dengan pendekatan active learning dan pendidikan karakter.



Hari Minggu kemarin aku dan tim FOKAL.info mendapat kesempatan merasakan langsung mimpi Yanes dan teman-teman. Kesempatan ini menjadi lebih spesial karena kami diminta untuk bercerita tentang apa mimpi kami dan bagaimana kami berusaha mengejar mimpi kami kepada adik-adik SMP binaan mereka.

Kami menceritakan pengalaman kami masing-masing; tentang mimpi kami dan bagaimana kami harus jatuh-bangun mengejar mimpi kami. Bang Pirhot Nababan mengingatkan adik-adik untuk tidak berhenti mengejar mimpi sebelum mimpi itu tercapai. Bang Basar Daniel mengajak adik-adik untuk mengatur waktu sebaik mungkin, sehingga bisa seimbang waktu untuk belajar, bermain, dan aktivitas lainnya. 




Adik-adik juga menceritakan mimpi mereka. Ingin membahagiakan orangtua, sekolah di SMA favorit, dan bekerja di berbagai profesi yang mereka minati. Mata mereka berbinar saat menceritakan mimpi mereka. Ada harapan, ada semangat, ada keberanian untuk bermimpi dan mengejarnya.

Malamnya kami dijamu oleh nikmatnya masakan dan keramahan dari Ibunda Yanes, Inang Diana Nainggolan. Beliau menyemangati kami untuk setia menekuni mimpi kami walau mimpi itu mungkin tidak biasa bagi kebanyakan orang.

Terimakasih kepada teman-teman Sopo Helios yang berani bermimpi yang tidak biasa dan rela jatuh-bangun berusaha membangun Siantar-Simalungun lewat pendidikan. Pengabdian teman-teman mengingatkanku untuk tidak merasa cukup dengan aktivitas/pekerjaan pribadi yang kulakukan. Ternyata masih begitu banyak ruang kosong yang bisa diisi oleh orang-orang yang mau dan berani bermimpi membangun sesama dan lingkungan sekitarnya.

Saturday, 25 July 2015

Menembus Perbedaan Kulit SARA

Menembus Perbedaan Kulit SARA



Pagi itu, di minggu kedua bulan puasa, aku kembali melangkahkan kaki ke Palang Merah Indonesia (PMI) Bandung. Ini baru kali keempat aku menyediakan waktu untuk mendonorkan darah bagi sesama yang membutuhkan. Bukan karena aku tidak mau, bukan karena aku takut suntik ataupun takut melihat darah. Bukan juga karena lokasi PMI yang jauh dari tempat tingggalku.

Berbagai alasan kesibukan menjadi penghambatku datang ke PMI. Padahal hanya sekitar 30 menit saja waktu yang dibutuhkan untuk memberikan darah. Maka kali ini, sejak berminggu-minggu sebelumnya kutekadkan untuk tidak menunda. Dan senyum petugas PMI yang menyambutku telah menunjukkan tekadku ini bukanlah hal yang sia-sia.

Ternyata pagi itu ada belasan anggota Palang Merah Remaja (PMR) yang sedang berkunjung ke PMI. Petugas menerangkan kepada adik-adik ini bahwa tugas PMR adalah tanggung jawab mulia. Donor darah adalah tindakan membantu hidup seseorang. Sayangnya di Indonesia, donor darah belum menjadi gaya hidup. Berbagai alasan menjadi penghambat kita untuk berbuat kebajikan.

Saat dokter PMI memeriksa tensi darahku, dokter memberitahukan kalau stok darah PMI Bandung sangat minim setiap bulan puasa. Sering kali PMI keteteran menyediakan darah untuk korban gawat darurat. Kalau kita perhatikan, saat bulan puasa,  kita sering mendapat broadcast "dibutuhkan darah" di BBM ataupun sosial media kita. Memang di saat minim stok darah, kita baru menyadari betapa berharganya darah, dan betapa bernilainya kebaikan dari para pendonor yang ikhlas berbagi tanpa balasan.

Sang dokter menambahkan, bersyukur saat bulan puasa, PMI Bandung tetap mendapatkan stok darah dari kegiatan donor darah yang dilakukan gereja dan lembaga keumatan lainnya. Para pendonor yang tidak berpuasa juga tetap datang mendonorkan darahnya.Walaupun tidak seperti hari biasa, minimal stok darah PMI tetap ada di saat genting.

Banyak pasien yang tertolong dengan stok yang sedikit ini. Hal yang tidak banyak orang yang tahu. Si pendonor sendiri tidak tahu kalau darahnya telah menyelamatkan nyawa seseorang. Penerima darah juga tidak tahu darah siapa yang mengalir di tubuhnya. Dia dan keluarganya hanya bisa berdoa kepada Sang Pemberi Kehidupan, bersyukur atas anugerah yang diberikan, dan mendoakan sang pendonor darah, pahlawan kemanusiaan yang bahkan mereka tidak tahu wujud dan namanya.

Ya, donor darah adalah kebajikan yang menembus kulit SARA. Di keterangan kantong darah, tidak ada tertulis ini adalah darah Sahat, suku Batak, beragama Kristen, seorang mahasiswa s2 yang sedang merintis usaha kecil-kecilan. Hanya tertulis keterangan bahwa kantong darah ini berisi darah AB. Sehingga penerima darah ini haruslah pasien yang berdarah AB juga, tidak peduli dari suku, agama, ras, dan golongan apapun dia.

Tidak pernah kita mendengar adanya seorang pasien bersuku Batak yang hanya mau menerima transfusi dari darah pendonor bersuku Batak saja. Atau seorang pasien beragama Hindu yang tubuhnya menolak menerima transfusi dari darah seorang beragama Muslim. Darah tidak mengenal perbedaan SARA, maka darah akan selalu dapat menembus perbedaan kulit SARA. Di tengah konflik SARA yang masih sering terjadi di sekitar kita, yang bahkan sering kali menumpahkan darah dengan sia-sia, donor darah adalah suatu contoh tindakan kehidupan yang mengajarkan hakikat hubungan manusia yang sebenarnya.

Donor darah mengajarkan kita, bahwa setiap manusia seharusnya saling membantu tanpa terhalang tembok SARA, layaknya darah yang saling membaur tanpa pernah terhalang tebalnya kulit SARA.



Mari donorkan darah kita dan merasakan indahnya berbagi kebajikan tanpa terhalang tembok SARA.

Sunday, 7 June 2015

Semua Orang Menghadapi Hari Yang Berat

Setiap hari kita harus menghadapi aktivitas yang penuh tantangan. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan dan tahun juga berlalu. Namun selama itu juga kita harus melakukan pekerjaan, perkuliahan, pertemuan, rapat, ataupun berbagai aktivitas lainnya.

Setiap hari kita harus berinteraksi, dengan pimpinan, rekan kerja, dosen, orangtua, mertua, istri, anak, teman, dan berpuluh bahkan beratus orang lainnya. Sering kali mereka memberikan sapaan hangat, pujian, ataupun senyuman. Tapi tidak jarang juga mereka menyampaikan keluhan, amarah, hujatan, curhatan, bahkan makian. Setiap hari terasa berat, dan sayangnya orang-orang terdekat kita bahkan tidak dapat membantu meringankan beban kita.

Bersikaplah baik kepada semua orang, sebab semua orang menghadapi hari yang berat -Gostick & Elton-

Ya, setiap orang menghadapi hari yang berat. Maka berucap, bersikap dan berbuat baiklah pada semua orang, terutama orang-orang di sekitar kita.

Kita tidak akan pernah tahu kapan kata-kata atau tindakan baik kita bakal membuat perbedaan dalam hidup seseorang.

Selamat menjalani hari. :)

Tuesday, 24 March 2015

Sudut Kehidupan Akhirnya Pensiun

Akhirnya "Sudut Kehidupan" harus pensiun dari tugasnya. 

Setelah bertahun-tahun memilih "Sudut Kehidupan" menjadi tema dari blog ini, hari ini aku memutuskan untuk menggantinya dengan tema lain yang selama beberapa bulan lalu menjadi tagline pribadi. Tagline ini bernama #KegembiraanBersama.

Sebelum membahas tagline baru ini, ada baiknya kita mengenang jasa "Sudut Kehidupan" yang sudah menemani kita saat berselancar di blog ini. Ucapan terima kasih yang besar sudah sepantasnya diberikan kepada "Sudut Kehidupan" karena telah memberikan sudutnya menjadi tempat kita berbagi dan bercerita. Di sudutnya kita bertemu dan berpisah. Di sudutnya pula kita menangis dan tertawa.

Kenapa dulu aku memilih "Sudut Kehidupan" menjadi tema blog ini? 
Tentu tema itu tidak muncul begitu saja.  

Saat itu tahun 2010 saat aku mulai mengetikkan cerita di blog ini, Masa itu, bagiku dan mungkin bagi banyak pemuda lainnya, adalah fase mencari jati diri. Aku baru saja berumur 21 tahun, dan keistimewaan itu membuatku sudah termasuk dalam kategori "di atas 21 tahun". Banyak hal, baik dan buruk, positif dan negatif, yang dikaitkan dengan umur 21 tahun. Bisa kita simpulkan, umur 21 tahun adalah fase kritis bagi seorang pemuda. Apakah setelah umur 21 tahun kita menjadi orang baik atau buruk, menjadi orang yang membawa manfaat atau mudarat.


Ternyata kegalauan pemuda pada fase itu juga merasuk dalam kehidupanku. Maka jadilah aku terkadang harus berhenti sejenak di sudut kehidupan. Melihat ke belakang, untuk mengevaluasi setiap langkah yang kulalui. Memandang ke kiri dan ke kanan, untuk memahami bagaimana diriku sekarang. Dan menatap ke depan, untuk mencari tahu, jalan mana yang akan kulalui esok hari.

Maka di "Sudut Kehidupan" aku merenung, dan di sudut ini juga aku berusaha memahami jati diriku, tujuan aku dilahirkan, alasan kenapa aku harus ada. Di sudut ini aku menyesali kesalahanku, terkadang juga menertawakan kebodohanku. Dan lebih dari itu, di sudut ini juga aku akhirnya menemukan keping demi keping puzzle kehidupanku, yang berusaha kususun satu per satu setiap aku berhenti sejenak di "Sudut Kehidupan". 

Jadi inilah aku, begini adanya, dengan setiap kelebihan dan kekurangan yang dianugerahkan Tuhan kepadaku. Dan setelah bertahun-tahun perenungan di "Sudut Kehidupan", maka kutemukanlah nilai hakiki yang harus kujalani, yakni menjadikan hidup sebagai #KegembiraanBersama.




Dan disinilah #KegembiraanBersama menjadi tagline yang menggantikan “Sudut Kehidupan”.

     


Fase merenung sudah usai, walaupun ke depan juga kita harus tetap berhenti sejenak untuk merenung, mengevaluasi setiap jalan yang kita pilih dalam petualangan kehidupan ini. Namun, saat ini adalah saatnya untuk bertindak aktif, menjadikan diri kita berarti, baik bagi diri kita sendiri, orang di sekitar kita, terutama berarti untuk Sang Pencipta.


#KegembiraanBersama adalah penemuanku akan arti kehidupan. Bahwa hidup ini sebenarnya penuh dengan kegembiraan dan keindahan. Dan hidup yang gembira ini akan semakin indah ketika kita dapat berbagi dengan orang lain sehingga hidup kita menjadi kegembiraan milik bersama.

                                                 


Terima kasih “Sudut Kehidupan” dan  selamat datang #KegembiraanBersama.

                                                 

                              

Wednesday, 1 May 2013

Sebuah Cerita Tentang Berbagi


Akhirnya aku menyelesaikan Pertemuan Wilayah 13 bersama Korwil 13 dan saudara2 BPC se-wilayah 13. Hari-hari yang luar biasa dan aku banyak mendapat inspirasi.
Berdosalah aku jika tidak membagikan inspirasi yang aku dapat dari saudara2 GMKI di sini, paling tidak melalui media sosial ini.

Dengan tantangan yang mereka hadapi: harus bekerja dan kuliah sambil melayani di GMKI, mereka masih bisa melakukan pengabdian bagi masyarakat. Teman2 GMKI Dumai mengadakan les gratis Rumah Pintar bagi anak2 di sekitar sekretariat mereka.Padahal teman2 ini juga harus bekerja dan berkuliah. Kegiatan ini rutin dilakukan tiap minggu di sekretariat mereka dan diikuti 20-50an anak kecil.

Teman2 GMKI Pekanbaru juga ternyata mengadakan program bina anak utk mengajar anak2 kecil di daerah Pasir Putih, Pekanbaru. Teman2 ini mengajar di 3 titik dan rutin dilaksanakan minimal 1 x 2minggu. Padahal mereka juga sama seperti kita, harus memikirkan kuliah dan kesibukan lain.

Tidak berhenti di situ, teman2 GMKI Tanjung Pinang juga melakukan hal sama,mengadakan bimbingan belajar gratis untuk anak2 kurang mampu. Pendidikan menjadi sorotan utama dari ketiga cabang ini. Pendidikan memang menjadi salah satu faktor penting meningkatkan kehidupan. Ketimbang meneriaki kegelapan ataupun menunggu orang lain menyalakan lilin, mereka lebih memilih menjadi lilin itu sendiri. :) Pilihan yang jarang diambil di tengah sibuknya aktivitas mahasiswa saat ini, hedonisme yg semakin marak dalam kehidupan mahasiswa, dll. Mereka yang hanya puluhan orang saja dapat memberikan perbedaan. Tidak dapat membayangkan kalau semua mahasiswa punya keinginan yang sama. Pasti luar biasa!

Teman2 GMKI Batam juga membuat perbedaan lainnya. Mereka yang juga harus kerja sambil kuliah gelisah melihat kondisi rakyat yang gitu2 saja. Di tengah kesibukan kuliah dan tuntutan kerja, mereka masih sempat-sempatnya mengadakan pelatihan kewirausahaan untuk anggota dan masyarakat di Batam. Keinginan teman2 ini jelas, suatu saat rakyat di Batam tidak lagi menjadi budak industri tapi mampu mandiri membuat pekerjaan sendiri. Kata mereka, pendidikan yang mereka dapat di kampus tidak membentuk mereka menjadi manusia yang mandiri, justru tetap diarahkan menjadi pekerja. Melalui pelatihan kewirausahaan ini, mereka berharap pemuda Batam berani berpikir mandiri dan kreatif merancang usaha sendiri. Lagi2 sebuah keinginan menyalakan lilin di tengah kegelapan. Rakyat harus bangkit! Aku terharu mendengar semangat teman2 ini.

Terakhir kisah dari teman2 GMKI Padang. Walau mereka tidak terlalu banyak, mereka juga tetap mencoba berpikir melakukan sesuatu yang berguna bagi sesama. Mereka saat ini sedang merancang pengabdian masyarakat ke Mentawai, daerah yang beberapa kali dilanda gempa dan saat ini sangat tertinggal. Teman2 ini ingin melakukan pengembangan masyarakat di bidang pertanian. Mereka berharap rakyat Mentawai dapat bangkit melalui pertanian.

Aku kembali diingatkan, mereka juga mahasiswa yang punya kesibukan, tuntutan keluarga, dan selusin alasan yg membuat mahasiswa malas bergerak. Tapi mereka menolak untuk tunduk pada semua alasan-alasan itu. Mereka lagi2 berusaha menjadi lilin ditengah gelap. Mereka anti kenyamanan selama rakyat masih menangis! Bahkan mereka bersedia 1 bulan tinggal di Mentawai untuk melakukan pengabdian dan pengembangan masyarakat, jauh dari kenikmatan TV, Mall, internet, bioskop,teman2, dll.

Ya, momen bertemu teman2 dari Dumai, Batam, P.baru, Tj.Pinang, Padang menyadarkanku bahwa mereka saja masih sempat-sempatnya memikirkan rakyat. Angan-anganku pun mencapai puncak impiannya. Andai semua mahasiswa punya hati yang sama dengan mereka. Hati yang berduka melihat rakyat yang menangis dan mau menggunakan tangan sendiri untuk menyeka tangisan mereka.
Aku yakin percaya, selain mereka, masih banyak juga anak bangsa, dari daerah, kampus, lembaga, agama apapun yang juga punya hati yg sama, hati yang ingin menghapus tangisan ibu pertiwi, dan dilakukan dengan nyata melalui tindakan. Ya, tidak ada guna meneriaki kegelapan.

Bagaimana teman2, tidak inginkah dirimu ikut serta menjadi lilin-lilin kecil di negeri kita? Pasti akan menjadi gerakan sosial dan gerakan inspiratif yang luar biasa. Bagi yang sudah menjalaninya, tetap semangat melakukan pilihan itu. Rasakan indahnya berbagi susah dan senyum bersama rakyat.

Terimakasih teman2 GMKI Wilayah 13. Kalian telah mengingatkanku lagi arti kata "berbagi". Tetap semangat walau gangguan menghadang. Semoga kisah tentang teman2 ini dapat memberi inspirasi bagi kita semua termasuk aku sendiri. Itu perjuangan mereka, bagaimana perjuangan kita?

Demikian kisah dari teman2 ini. Tidak ada maksud lain selain untuk berbagi inspirasi sesama anak bangsa yang punya tugas membangun negeri ini. Semangat bagi kita semua, mungkin kita belum memulai, tapi tidak pernah ada kata terlambat untuk sebuah perubahan. Mari bangkit. :)

Monday, 17 October 2011

Bersyukurlah Kita, Kawan


Pak Adang, seorang guru di SMP dan SMA Pasundan, telah mengajar pelajaran bahasa dan budaya Sunda sejak 14 tahun lalu. Penampilan yang rapi dan sifatnya yang ramah seakan menutupi fakta dirinya yang ternyata seorang tuna netra. Kekurangannya dalam melihat tidak membatasi totalitasnya dalam mengajar. Bahkan tidak sebatas pengajar, beliau juga dipercayakan menjadi Wakil Kepala Sekolah. Salut, itu kata pertama yang terlintas di pikiranku ketika mengobrol dengan beliau.

“Pemerintah Bandung tidak memperbolehkan kami menjadi pegawai negeri. Apakah tuna netra itu penyakit? Kami juga berhak membangun bangsa. Teman-teman di Wyata Guna juga enggan keluar dari panti ini. Mereka takut keluar menghadapi masyarakat, dan sudah nyaman dengan kondisi yang ada”, keluhnya.

Ya, tidak perlu membahasnya secara mendalam, kita pun pasti telah menyadarinya, ketidakadilan masih belum melepaskan genggamnya dari bumi pertiwi. Hak asasi manusia Indonesia seakan terkubur, tertulis dengan rapih di dalam setiap butir konstitusi yang menumpuk berdebu di sudut perpustakaan. Sampai kapankah penantian itu; saat ketidakadilan disimpan dalam peti berdebu dan dikubur di bumi terdalam; saat keadilan bisa tegak berdiri, keluar dari kurungannya selama ini?

Mereka saja punya semangat, menikmati keindahan hidup yang sebenarnya ‘melawan’ mereka. Masa kita yang ‘normal’ ini hanya bisa mengeluh dan ‘biasa-biasa’ saja menjalani keindahan hidup di depan mata kita???

Bersyukurlah kita kawan, bisa mendengar dan bisa membaca. Bisa berjalan dan bisa berbicara. Bisa bersekolah dan bisa belanja. Dan kiranya syukur itu tidak hanya kita panjatkan kepada Yang Diatas, tapi juga kepada sesama.

Sang hak masih terus menunggu. Menantikan saat dimana dia bisa terbang dengan leluasa dari ujung barat Pulau We sampai ujung timur pulau Irian. Menikmati Samudera Hindia dari Pulau Rote di selatan dan indahnya pantai Pulau Mianggas di utara. Merasakan suka dan tawa dari setiap anak Indonesia; di pedalaman dan perbatasan, di perkotaan dan pedesaan, di gedung tinggi dan gubuk kumuh.

Ya, sang hak masih terus menanti. Menantikan kita, yang mau bertindak memanjatkan syukur atas kasih Yang Maha Kuasa, dengan mengabdi dan membagikan kasih-Nya kepada sesama.

Monday, 24 January 2011

Kisah Tentang Mereka

Kisah ini didedikasikan untuk mereka, saudara-saudaraku di Wyata Guna. Kawan-kawan baruku, yang baru kukenal beberapa hari yang lalu. Kisah ini tentang mereka, perjuangan mereka, suka dan duka mereka. Semoga apa yang coba kubagikan ini bisa memberikan arti yang baik bagi kawan-kawan.

Beberapa hari yang lalu, aku dan kawan-kawan mengunjungi sebuah panti yang dikelola oleh Kementerian Sosial, Panti Wyata Guna. Panti ini terletak di Jalan Pajajaran, seberang GOR Pajajaran, dekat Istana Plaza. Begitu sering aku melewati jalan ini sebelumnya, tapi baru kali itu aku mengetahui bahwa itu adalah sebuah panti, panti untuk saudara-saudara kita yang tunanetra. Terimakasih untuk kawan yang telah memberitahukan tentang panti ini kepada kami.

Kami kesana berjumlah 29 orang, dari berbagai kampus di Bandung. Sebelumnya kami dihubungi oleh seorang koordinator disana, Mbak Resty namanya. Dia kuliah di UPI sekarang, angkatan 2006 dan saat ini sedang menyusun skripsi untuk jurusan Sekolah Luar Biasa. Mbak Resty juga seorang tunanetra. Mendengar ini aku sempat sedikit malu, karena aku sendiri masih angkatan 2006 dan parahnya masih belum menyusun skripsi hingga detik itu. Tapi besok harus sudah memulailah, besok hari apa dan tanggal berapa? Ya, besok lah. Hehe, kembali ke topik.

Awalnya kami diminta untuk membacakan buku Matematika dan Bahasa Inggris untuk beberapa orang dan hanya dibutuhkan beberapa orang reader saja. Oh iya, reader itu adalah istilah di panti ini untuk orang-orang yang membacakan buku/cerita kepada mereka. Namun, karena keinginan yang sangat besar dari kawan-kawan, dimana setiap orang mengajak kawannya yang lain, maka terjadilah peristiwa ekonomi “supply lebih banyak dari demand”. Jumlah kami yang datang melebihi kebutuhan yang diminta Mbak Resty. Tapi tidak mengapa kata Mbak Resty. Di panti ini terdapat banyak asrama, dimana setiap asrama ditempati oleh beberapa belas kawan-kawan kita yang tunanetra. Kami diminta untuk mendatangi setiap asrama untuk menanyakan apakah ada yang ingin dibacakan buku/cerita, dan kami pun melakukannya.

Kami dibagi-bagi ke setiap asrama yang membutuhkan reader. Ternyata kawan-kawan yang tinggal disini bersekolah mulai dari SD sampai kuliah dan banyak yang bersekolah di sekolah umum. Di beberapa kamar yang kami masuki, mereka ada yang sedang menggunakan laptop, mengobrol tentang kuliah dengan kawan satu kamarnya, dan banyak aktivitas lain. Kebetulan kami datang di Jumat sore dan ini biasanya merupakan jadwal mereka untuk bersantai. Banyak hal baru yang kami saksikan disini, namun ada beberapa hal yang paling berkesan yang kudapat disini.

Di satu asrama, Asrama Nuri, aku berkenalan dengan Leo, seseorang yang tunanetra. Kami bercerita banyak hal. Leo menceritakan bahwa dia berasal dari Bengkulu dan sampai ke tempat ini kira-kira setahun yang lalu. Dulunya dia bisa melihat dan saat itu sudah kelas dua SMA, tapi kecelakaan menyebabkan penglihatannya menjadi terganggu dan dia hanya bisa melihat dari sisi samping matanya. Selama beberapa lama Leo merasa depresi dan frustasi atas kejadian ini sebelum akhirnya dia dibawa oleh keluarganya ke Panti Wyata Guna ini. Disini dia berkenalan dengan teman-teman yang lain dan mulai bisa menyesuaikan diri dengan kondisi baru yang dihadapinya. Sekarang dia sedang menjalani masa rehabilitasi dan sekolah di kursus pijat yang ada di panti ini.

Leo juga menceritakan, dulu masih banyak kawan-kawan mahasiswa yang sering datang kesana untuk menjadi reader, ataupun sekedar berbagi tawa dengan mereka, namun sekarang itu sudah semakin menurun. Dia merasa senang dan berterimakasih karena masih ada yang mau ingat untuk berkunjung ke panti ini. Aku yang mendengarnya sempat tertegun. Aku juga baru kali ini kesini. Ternyata mereka juga sangat merindukan kawan-kawan yang mau menyisihkan sebagian waktu untuk menjadi reader ataupun berbagi cerita dengan mereka.

Kami pun melanjutkan obrolan kami selama beberapa lama. Aku menanyakan tentang bagaimana kawan-kawan yang bersekolah di luar panti pergi ke sekolahnya. Dia mengatakan bahwa mereka pergi dan pulang sendiri. Itu sudah merupakan hal yang biasa mereka lakukan. Bahkan ada yang berkuliah di Jalan Soekarno Hatta. Hal ini juga baru bagiku dan aku semakin mengetahui bagaimana perjuangan mereka dan bagaimana seharusnya aku bersyukur atas apa yang kudapat selama ini.

Lama kami bercerita hingga kemudian datang seorang teman yang lain, Ensah namanya kalau aku tidak salah. Dia meminta tolong kami untuk mencari frekuensi radio di hapenya. Oh iya, satu hal yang juga baru kuketahui disini, mereka sangat menyenangi musik. Di dalam kamar, di teras rumah, ataupun di jalan asrama, banyak kawan-kawan yang mendengarkan mp3 ataupun radio di hape dan tape mereka. Ensah baru pulang dari BEC, berdua dengan temannya, untuk membeli lagu-lagu yang dicopy ke hapenya dan dia kebingungan folder tempat lagu ini disimpan. Aku dan seorang kawan kemudian mencoba mencarinya sambil mengobrol dengannya. Ensah sangat tertarik dengan musik. Panti Wyata Guna memiliki beberapa alat musik dan Ensah tertarik untuk membentuk kelompok band untuk bermain musik bersama. Namun mereka masih belum fasih bermain musik. “Kapan-kapan datang ya kak, ajarin teman-teman main keyboard dan lainnya”. Ensah sendiri berperan sebagai vokalis. Melihat senyumnya ketika membicarakan tentang musik kembali membuatku tertegun. Betapa dengan keterbatasan mereka, mereka bukannya terlarut dengan depresi, tapi menikmati dan mensyukuri apa yang mereka jalani. Sementara di luar sana, masih banyak orang-orang yang tidak mensyukuri apa yang sudah diterimanya, termasuk mungkin aku sendiri.

Aku kemudian masuk ke satu asrama, Asrama Aster namanya. Di asrama ini ada seorang gadis, Fani namanya, seorang anak yang ceria. Dua orang teman sedang menemaninya mengerjakan tugas Bahasa Inggrisnya sambil sesekali diiringi cerita dan tawa. Setelah selesai menjadi reader, kami berkumpul di asrama ini dan mengobrol dengan Fani. Ternyata Fani hari itu berulang tahun dan kami menggodanya untuk bernyanyi. Kami juga menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun untuknya dan bernyanyi beberapa lagu kesukaannya. Dia selalu tersenyum dan menanggapi dengan ceria. Hal yang dulu kukira tidak mungkin bisa keluar dari seseorang yang tunanetra. Ternyata pendapatku itu salah. Di depan mataku terdapat seorang gadis muda yang dengan keterbatasannya bisa menjalani ini semua dengan senyuman.

Kira-kira setengah jam kami berbagi tawa dengannya namun sayang waktu sudah semakin malam dan akhirnya kami pun kembali ke tempat kami masing-masing.

Banyak kesan, banyak makna yang kudapat dari kunjungan ini, namun ternyata hal itu masih belum berakhir.

Hari ini, hari Minggu, aku diajak oleh dua orang kawan yang kemarin ikut juga kesana untuk berkunjung ke Panti Wyata Guna. Mereka membantu Mbak Resty mengerjakan skripsinya dengan mengetik buku yang dipunyai Mbak Resty. Ada dua buku dengan tebal lebih dari 400 halaman dan semua itu harus diketik untuk Mbak Resty. Karena keterbatasan waktu di hari Jumat lalu, mereka membawanya ke kosan dan mengerjakan di kosan mereka. Seorang teman mengerjakannya sepanjang hari Sabtu dari jam 10 pagi sampai jam 10 malam dan harus menahan godaan mengobrol dengan kawan-kawan sekosan ataupun keluar bersama kawan. Aku yang mendengar ini kembali lagi tertegun melihat pengorbanan seorang kawan ini. Aku sendiri belum melakukan sebesar ini.


Kami pun kembali ke Panti Wyata Guna untuk memberikan soft copy buku yang telah diketik kedua kawan ini. Di depan Asrama Aster, kami berjumpa dengan Fani dan sempat berbincang sebentar. Fani ternyata mengingat kami dan juga mengeluarkan pernyataan yang sekali lagi membuatku tertegun. Ulang tahunnya kemarin adalah salah satu ulang tahun terindah yang pernah dialaminya, dimana ada banyak orang yang bernyanyi untuknya. Senyum terpancar dari wajahnya.

Banyak pengalaman baru yang kudapat dari kunjungan ini dan tulisan ini mungkin belum lengkap untuk menyampaikan itu semua. Pengalaman yang mengajarkan untuk bersyukur atas segala sesuatu yang sudah kuterima hingga saat ini. Dan seharusnya merupakan kewajibanku juga untuk bisa membagikan syukurku ini kepada teman-teman di sekitar. Panti ini sendiri ditinggali berpuluh teman-teman kita yang tunanetra mulai dari SD sampai kuliah dan mereka membutuhkan reader setiap harinya untuk membaca buku pelajaran, cerita, dan berbagi tawa dengan mereka. Banyak hal yang bisa didapat disini. Dimana dengan keterbatasan mereka, mereka bisa berjalan sendiri dengan santai, mengobrol, mengenali suara orang lain, belajar dan mengerjakan skripsi, dan hal-hal lainnya yang belum pernah kubayangkan sebelumnya. Aku juga menyadari bahwa mereka ternyata tidak seterbatas itu dan Tuhan juga membuat apa yang ada di mereka menjadi suatu kelebihan untuk mereka. Sementara aku sendiri, dengan kelengkapan tubuh yang diberikan kepadaku, tidak bisa memaksimalkan itu semua sesuai dengan fungsinya masing-masing.


Tadi sore Mbak Resty menghubungi seorang kawan dan dia menyampaikan bahwa ada 10 orang kawan kita yang sekarang sedang kelas 3 SMA dan saat ini ingin mengikuti SPMB di pertengahan tahun. Mereka mengharapkan ada reader yang bisa membantu mereka belajar pelajaran-pelajaran yang akan diujikan pada saat SPMB nanti. Berdasarkan pengalaman Mbak Resty ketika SMA dulu, biasanya mereka mengadakan pertemuan setiap dua kali seminggu dan setiap pertemuan membahas soal dari satu mata pelajaran. Setiap pertemuan cukup membutuhkan dua reader  saja yang ganti-gantian membacakan soal untuk dikerjakan, dan kemudian kunci jawaban dari persoalan itu.

Apakah teman-teman ada yang berminat untuk menyisihkan sebagian dari waktunya, berbagi dengan kawan-kawan kita dan menjadi reader bagi mereka?
Semoga teman-teman memiliki keinginan itu dan bisa merasakan apa yang telah kurasakan dari kunjungan itu.
Mari berbagi kisah dengan mereka.

Saturday, 18 September 2010

Panggilan dari Ibu Pertiwi

kulihat ibu pertiwi
sedang bersusah hati
air matamu berlinang
mas intanmu terkenang


hutan gunung sawah lautan
simpanan kekayaan
kini ibu sedang susah
merintih dan berdoa


Pagi hari di 14 September 2010, aku keluar dari kosan untuk membeli makanan dan pergi ke kampus. Masih libur memang, tidak ada kerjaan di kosan, sayangnya tidak punya tempat persinggahan lain, sohib-sohib masih berada di kampung halaman ataupun berlibur di luar kota, akhirnya kampus pun menjadi jawaban terakhir untuk mengatasi kesendirian.
Sebelum memasuki paragraf selanjutnya, agar tulisanku ini dapat menggapai tujuan penulisannya, kalau rekan-rekan berkenan, aku merekomendasikan untuk kita sama-sama coba mencari lagu 'Ibu Pertiwi', memutarnya dan menghayati setiap lirik, setiap pesan yang disampaikan di lagu tersebut.
Kemudian, aku yakin rekan-rekan sekalian mempunyai imajinasi yang sangat tinggi, kita dapat mencoba membayangkan kondisi-kondisi yang ada di ibu pertiwi dan juga coba membayangkan kondisi yang akan coba aku ceritakan di paragraf selanjutnya. Sudah mulai mendengar dan membayangkan? Oke, sudah ternyata. Terimakasih kawan, mari kita lanjutkan lagi.

Masih di jalan kecil di dekat kosanku, aku melihat sebuah keluarga tunawisma yang terdiri dari suami istri dan beberapa orang anaknya, kira-kira 6 orang, aku tidak menghitungnya dengan pasti, sedang berjalan ke arah jalan besar. Keenam orang anak ini tubuhnya mungil, mungkin jarak umur di antara mereka hanya dipisahkan waktu 9 bulan sampai satu tahun dan umur yang paling besar kira-kira 10-12 tahun atau jangan-jangan lebih tua dari itu, namun badan mereka yang sangat mungil pada akhirnya hanya dapat membuat aku menerka-nerka.

Tidak ada barang bawaan yang mereka pikul, hanya pakaian yang mereka kenakan. Sang ibu menggendong anaknya yang paling kecil dan juga membawa kain yang diikatkan di punggungnya layaknya para pengelana zaman dahulu dimana di dalam kain ini mungkin berisikan sedikit pakaian ataupun benda-benda paling berharga yang dimiliki keluarga ini.



Namun ada satu hal yang juga sempat menyita perhatianku dan akhirnya terus terbayang di pikiranku hingga saat ini. Sang bapak yang tidak mengenakan sehelai pun alas kaki membawa beban juga di pundaknya, bukan tas ataupun kain juga, melainkan seorang anak yang digendong layaknya para kuli di pelabuhan mengangkat sekarung beras di pundaknya. Tangan dan kaki sang anak terayun-ayun begitu saja dipermainkan langkah kaki sang bapak. Aku hanya menoleh sesaat, kemudian sambil mengendarai kendaraanku, aku melewati keluarga ini dan beberapa puluh meter di depan mereka aku berhenti untuk membeli makananku. Selesai memesan makanan, aku keluar dari warung makanan untuk coba melihat kondisi yang ada di sekitar pada pagi hari dan ketika aku melihat ke arah kendaraanku, ternyata keluarga tuna wisma ini sedang beristirahat tidak jauh dari sana. Beberapa orang anak bermain di sekitar sang ibu, dan sang ayah duduk di trotoar dan anak yang digendongnya tergeletak di jalan dengan mata tertutup. Kaki sang ayah berada di atas betis sang anak.

Kira-kira 10 menit mereka berada di sana dan rasa penasaranku akan kondisi sang anak ini membuatku beberapa kali berusaha untuk melihat ke arah keluarga ini, begitu juga ternyata yang dilakukan orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar mereka. Aku melihat ke arah dadanya, mungkin karena jarak kami yang jauh, aku tidak melihat gerakan naik-turun di dada layaknya seseorang yang sedang menghirup udara. Aku kembali bertanya-tanya, namun ketidakberanian aku untuk mencari tahu lebih lagi, dan mungkin juga sikap ketidakpedulian yang masih ada di dalam diriku membuatku pada akhirnya hanya melihat keluarga ini saja hingga mereka beranjak dan kemudian berjalan lagi meninggalkan kawasan tersebut.

Selesai membayar makanan, aku pun kembali ke kendaraanku dan memulai perjalananku ke kampus. Kembali kondisi tadi bermain-main di alam pikiranku. Pertanyaan-pertanyaan kembali keluar. Kemana mereka pergi? Bagaimana kondisi sang anak tadi? Apakah dia sakit, atau jangan-jangan dia telah kembali ke pelukan Sang Khalik? Apa yang anak-anak itu makan? Bagaimana cara mereka bertahan hidup?
Banyak pertanyaan yang berkecamuk namun siapa yang bisa menjawabnya, tidak ada saat itu, karena aku telah melewatkan kesempatan itu. Ketika tadi aku memutuskan untuk hanya melihat keluarga ini, sama halnya dengan yang dilakukan juga oleh setiap orang yang ada di tempat itu, aku telah memutuskan juga kunci jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini yang akhirnya hanya semakin menambah pertanyaan-pertanyaan lain di benakku.

Detik pun berlalu dan kembali aku berjalan-jalan di alam pikiranku.
Kondisi tadi terjadi di kota ini, kota pendidikan yang memiliki berpuluh-puluh sekolah dan perguruan tinggi. Kondisi tadi terjadi di kota ini, kota yang sangat banyak didatangi wisatawan dari luar maupun dalam negeri.
Kondisi tadi terjadi di kota ini, ibukota provinsi yang sangat dekat dengan ibukota negara dan tentunya memiliki akses cepat dalam setiap isu yang ada.
Kondisi tadi terjadi di kota ini, kota yang pembangunan gedung-gedung serta tempat rekreasi seperti mall, factory outlet dan lainnya serta pertumbuhan kendaraan bermotornya setiap harinya terus meningkat,
Kondisi itu terjadi di kota ini.

Bagaimana lagi dengan daerah-daerah lain di kabupaten dan perdesaan?
Bagaimana kondisi daerah-daerah di pedalaman yang jauh dari akses listrik, jalan, dan jauh dari kota-kota besar?
Bagaimana kabar saudara-saudara kita yang berada di bagian timur Indonesia yang jauh dari ibukota karena sudah rahasia umum, pembangunan nasional masih terlalu berpusat di bagian barat saja.
Kondisi seperti tadi saja masih terjadi di kota ini, bagaimana lagi di tempat-tempat lain.




 Tanda tanya pun semakin banyak berkumpul di benakku yang mendesak keluar untuk segera bisa dijawab, namun sebuah hembusan angin sejuk datang, mencoba menahan pertanyaan ini untuk bisa tenang dan mau disimpan lagi di lokernya yang paling terdalam.
Sudahlah kawan, untuk apa kau pikirkan itu semua. Itu terlalu berat untuk kau pikirkan sekarang, biarlah para pemimpin kita yang memikirkannya dan kau kerjakan saja bagianmu saat ini. Engkau mahasiswa dan belajarlah yang tekun dan nanti ketika kau sudah sukses, saat itulah kau membuka lagi loker penyimpananmu, dan jawablah setiap pertanyaan yang kau simpan disana.
Sebuah hembusan angin yang sejuk, memberikan solusi kepadaku untuk melupakan setiap pertanyaan yang ada, namun apakah yang sejuk itu baik? Simpan pertanyaan itu, tapi tidak perlu dimasukkan ke loker penyimpananmu, segera kita akan membahasnya.

Aku mencoba berhenti dari perjalanan di pikiranku dan coba kembali ke dunia nyata yang ada, namun sebelum aku sempat berbalik, suatu kenyataan kembali menghampiriku dan akhirnya membuat aku betah untuk berlama-lama lagi di alam pikiranku.

Beberapa waktu ini kita banyak dihebohkan dengan berbagai permasalahan yang terjadi di bangsa ini.
Kasus century, mafia hukum, pajak, komitmen anggota DPR, dan banyak hal lainnya yang terakhir ini ditutup oleh permasalahan kerukunan umat beragama terkait pemukulan di HKBP Bekasi.
Belum lagi kondisi-kondisi yang terjadi di mancanegara seperti depresi perekonomian global, Indonesia vs Malaysia dengan segala pemantiknya seperti kasus perbatasan, TKI, dan lainnya serta yang baru-baru ini terkait rencana pembakaran kitab suci agama Islam di AS.

Pada saat membaca dan mengetahui setiap isu-isu ini aku, kita selalu merespon. Ada yang mengkritik, mengeluh, memaki, memberikan harapan, dan banyak respon-respon lainnya. Namun ketika waktu sudah berlalu, beberapa hari dan minggu sudah lewat dari kejadian yang ada, semua respon itu dilupakan dan respon-respon lain, untuk permasalahan lain dikeluarkan lagi oleh kita, dan begitu seterusnya.
Selalu reaktif ketika ada permasalahan yang mengusik, namun segera melupakan dan tidak mengingat kembali ketika itu sudah berlalu.

Bagaimana dengan hal tadi?
Kondisi tadi terjadi di depan mataku kira-kira beberapa puluh menit yang lalu dan aku tidak melakukan apa-apa.
Lalu, untuk apa selama ini aku memberikan respon untuk setiap kondisi yang terjadi di luar sana, namun hal yang ada di depan mataku, aku tidak mampu melakukan apa-apa.

Beberapa waktu ini kerukunan umat beragama digoncang dengan kejadian di luar negeri, di AS dan juga kejadian di dalam negeri di Bekasi. Banyak respon yang keluar dan aku juga menanggapi kedua permasalahan tersebut.



Aku seorang Batak, seorang Kristen, dan seseorang yang beruntung memiliki orangtua yang bisa menghidupiku dengan baik. Kecintaanku pada suku ku sangat kuat, keimananku pada Tuhanku juga bukan sekedar agama di KTP saja, kedua hal inilah salah satu aspek yang membentuk aku dari kecil, tapi aku juga tidak melupakan satu hal, satu hal yang sangat esensial, aku dilahirkan di Indonesia, bukan di Malaysia, Australia, ataupun Amerika dan karakterku juga dibentuk di Indonesia. Sukuku adalah suku di Indonesia, aku Batak Indonesia, aku Kristen Indonesia.
Merah darahku dan putih tulangku sama seperti saudara-saudaraku yang lain, Aceh Indonesia, Jawa Indonesia, Madura Indonesia, Dayak Indonesia, Asmat Indonesia, Tionghoa Indonesia dan suku-suku lainnya. Kecintaanku kepada tanah airku sama seperti saudara-saudaraku yang lain, Islam Indonesia, Budha Indonesia, dan agama-agama lainnya.

Untuk apa aku berpikir tentang perbedaan, Indonesia berada di belakang nama, suku, ras, dan agamaku.
Persatuanlah yang dulu menjadi jawaban atas kemerdekaan kita.
Bhineka Tunggal Ika.
Darah para pejuang, darah orang Aceh, Melayu, Sunda, Bali, Ambon, Papua, Islam, Kristen, Hindu, dan lainnya telah mengalir untuk menebus kemerdekaan ini. Darah mereka telah tumpah ke ibu pertiwi.



Apakah kemudian darah setiap mereka yang sudah mati memisahkan diri sesuai kelompoknya?
Tentu saja tidak, darah itu dengan bangganya bersatu, tumpah ke tanah air yang sama, Indonesia.



Darah persatuan mereka lah yang menjadi dasar terciptanya kemerdekaan ini, lalu, untuk apalagi kita mengelompokkan diri, menganggap kita lebih baik dari yang lain.

Mereka dengan bangganya menyatakan kesatuan mereka di Sumpah Pemuda dan menunjukkannya dengan tindakan konkrit melalui tumpahnya darah mereka dalam perjuangan kemerdekaan dan bahkan pada saat mereka sudah terkapar pun, mereka masih terus mempertahankan kesatuan mereka. Darah mereka pun tetap mengalir ke tanah yang sama kawan, tanah tempat kaki aku dan kau melangkah sekarang.



Sama merah darah kita, putih juga tulang kita, berpijak di tanah air yang sama, apalagi yang kita permasalahkan kawan.

Untuk apalagi kita berteriak-teriak akan perbedaan, sementara masih banyak tugas-tugas lain yang belum sempat diselesaikan para pejuang kita dan merupakan beban kita sebagai penerus mereka untuk menyelesaikannya.
Untuk apalagi kita membuat masalah baru, yang sebenarnya merupakan jawaban dari kondisi yang ada sekarang.




Apa masalah kita?
Apa musuh kita?
KORUPSI MUSUH KITA!!
KEMISKINAN MASALAH KITA!!
KETIDAKADILAN LAWAN KITA!!



Itu musuh kita bersama kawan, masalah kita bersama.
Itu musuh orang Islam, Katolik, Konghucu, Jawa, Batak, Padang, Toraja, Ambon, Papua, Tionghoa, Kaya, Miskin,
Hal-hal itulah yang harus kita bereskan bersama...

Persatuan yang dulu merupakan jawaban dalam memperjuangkan kemerdekaan, tentunya sekarang juga menjadi satu-satunya jawaban dalam mengatasi kebobrokan bangsa saat ini.



Kembali ke pertanyaan yang tadi telah kita simpan sejenak untuk nantinya segera kita jawab.
Kondisi yang aku lihat tadi, itu juga terjadi di seluruh Indonesia, bahkan mungkin dialami sanak keluarga kita sendiri. Mereka yang juga merupakan saudara-saudara kita setanah air, apakah masalah yang mereka hadapi itu bukan masalah untuk kita. Apakah bukan tugas kita agar mereka juga bisa merasakan negara kita yang kaya ini?
Apakah kita harus menunggu nanti, menunggu kita tua, menunggu semangat itu meredup, dan akhirnya hanya jiwa pragmatis saja yang tersisa di diri kita, dan mereka akhirnya hanya berada disana, hingga anak cucunya, menunggu jawaban, sementara kita yang tahu jawaban itu memilih untuk melakukannya nanti, nanti yang tidak diketahui kapan akan dilakukan. Nanti yang layaknya janji yang terus diucapkan. Nanti.



Seperti yang telah teman-teman dengar dari lagu 'Ibu Pertiwi', tanah air kita sedang menangis kawan, ibu pertiwi kita sedang susah. Untuk apa lagi kita membuat masalah baru. Saatnya kita menjadi jawaban untuk ini semua. Tanah kita kaya, alam kita menyimpan banyak hal yang siap untuk digunakan. Siapa lagi yang dapat memberdayakannya kalau bukan kita.

Apakah kita mencintai ibu pertiwi?
Apakah kita semua sepakat kalau kita semua merupakan putra-putri bangsa, tidak ada yang merupakan anak tiri, ataupun hanya penumpang gelap di tanah ini?
Apakah kita siap berbakti menggembirakan ibu kita?
Layaknya ibu yang akan tersenyum ketika melihat anaknya tertawa, menggembirakan ibu kita berarti menggembirakan setiap anak-anaknya, tidak hanya sebagian anak-anaknya, tetapi setiap anak-anaknya dari Sabang sampai Merauke. Ketika itu kita lakukan, ibu pertiwi itu pun akan tertawa teman.

Apakah kita siap untuk itu?
Tentunya berat, sangat berat, kalau kita sendiri, tapi akan menjadi pekerjaan yang sangat-sangat ringan dan juga menggembirakan apabila kita melakukannya bersama-sama. Untuk apa kita mengeluarkan energi yang berlebih untuk hal-hal yang tidak perlu, perselisihan yang tidak perlu.
Hei bung, ibumu membutuhkanmu, keluarkan energi itu untuk membangun bangsamu.
Layaknya kearifan lokal para leluhur kita, bergotong royong sambil bercanda tawa, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.
Mari kawan, ayo kita satukan lagi barisan kita.



kulihat ibu pertiwi
kami datang berbakti
lihatlah putra-putrimu
menggembirakan ibu


ibu kami tetap cinta
putramu yang setia
menjaga harta pusaka
untuk nusa dan bangsa 




Apakah kita siap menjaga harta pusaka itu kawan?
Ayolah, tidak perlu lagi berpikir panjang.
Mantapkan hatimu sahabat, persiapkan dirimu saudara,
Aku yakin keputusan kita sudah bulat.
Mari kita melangkah bersama untuk hari esok yang pasti akan lebih baik.
Bersama kawan, bersama dengan segala perbedaan yang ada.
Bhinneka Tunggal Ika...
Untuk nusa dan bangsa.
Mari kita buat ibu pertiwi kita tersenyum lagi.



MERDEKA!!!