inspirasi

inspirasi
Showing posts with label Refleksi. Show all posts
Showing posts with label Refleksi. Show all posts

Monday, 19 August 2013

Refleksi Kemerdekaan: Negeri Kaya di Tengah Dua Samudera


sumber: http://muhammadsoleh.blogspot.com
Alkisah sebuah negeri di tengah dua samudera. Negeri kaya, makmur alam dan isinya. Telah menjadi bangsa besar sejak ratusan tahun, tapi terpecah-pecah dan mudah dibelah. Tiga ratus lima puluh tahun lamanya menjadi budak di tanah sendiri. Kerinduan untuk menjadi bangsa yang merdeka ternyata telah melahirkan geliat pergerakan dari kaum mudanya. Perjuangan yang selama ini dilakukan dengan senjata secara sporadis dan sendiri-sendiri mulai berganti wujud. Kaum muda negeri ini yang sudah mengecap pendidikan ala Eropa menggunakan metode lain dalam mencapai angan mereka. Gerakan-gerakan intelektual dibangun. Organisasi massa dibentuk. Media cetak mulai digunakan sebagai alat berbagi pemikiran dan gagasan.

Kaum intelektual negeri ini mulai berjejaring. Berawal dari ikatan organisasi satu suku, daerah, dan agama, kaum muda ini kemudian menempuh langkah lanjutan. Mereka mulai membentuk organisasi yang diikat satu bangsa, tanpa lagi melihat latar suku, daerah, ataupun agama masing-masing. Ikatan ini mengikrarkan sumpah, Sumpah Pemuda, pada pertemuan yang mereka lakukan tanggal 28 Oktober 1928. Dan perjuangan sebagai satu nusa, satu bangsa, satu bahasa semakin marak dilakukan oleh kaum muda.

Tahun 1945, bulan Agustus, tanggal 17, merupakan saksi bisu membulatnya tekad menjadi rangkaian kata dalam proklamasi kemerdekaan, sebuah pernyataan tegas untuk menjadi bangsa dan negara yang merdeka dan mandiri; satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Negeri ini, bangsa ini berhasil mencapai kemerdekaannya. Ribuan liter keringat dan darah telah jatuh ke tanah untuk meraihnya, begitu juga puluhan ribu liter menyusul saat mempertahankannya. Sangat besar harga yang harus dibayar untuk sebuah kemerdekaan, tapi ribuan, bahkan jutaan nyawa sudah bertekad berjuang bahkan mati untuk menjaganya.

Para pejuang, laki-laki dan perempuan, telah mengikatkan tekad perjuangan “Merdeka atau Mati” di kepala, lengan, dan hatinya. Mereka bertarung di sela gedung dan rumah. Mereka berjibaku di sawah, kebun, ataupun sungai. Mereka beradu di meja-meja perundingan. Mereka juga bergerilya di tengah rimba-rimba tak terjamah. Pertempuran demi pertempuran dilalui. Perundingan demi perundingan dijalani. Tangis, tawa, hidup, mati berganti-gantian mengisi hari-hari mereka. Semua dilalui dengan gagah berani karena satu semangat; Kita telah merdeka, dan akan terus merdeka.


Apabila ada orang bertanja kepadamoe, berapakah djoemlahmoe?
Maka djawablah: “... KAMI SATOE!”


Enam puluh delapan tahun telah berlalu sejak hari jadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Apakah cita-cita kemerdekaan yakni merdekanya setiap insan dalam bumi pertiwi, menjadi tuan di tanah sendiri, sudah tercapai? Apakah kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan telah menjadi milik seluruh rakyat Indonesia dan tidak hanya sebagian? Apakah pembangunan yang merata sudah dialami oleh setiap daerah? Ataukah ternyata itu semua hanyalah milik segelintir pribadi dan golongan saja?

Nyatanya, perjuangan kemerdekaan belumlah usai. Keringat dan darah yang dulu sudah tertumpah tidak boleh menetes sia-sia. Namun, jangan lagi kita bangunkan para pejuang dari tidur panjangnya dan meminta mereka kembali untuk menyelesaikan permasalahan bangsa saat ini. Biarlah mereka beristirahat panjang karena pengabdian mereka sudah mencapai klimaksnya. Bagian muda-mudi Indonesia masa kini untuk meneruskan semangat dan perjuangan mereka dan menjadi pelopor-pelopor era sekarang. Pelopor dalam berbagai bidang; sosial, ekonomi, teknik, politik, kesehatan, hukum, dan lainnya. Saatnya keringat dan darah kita yang harus tertumpah di bumi pertiwi.

sumber: http://the-otherside-of-history.blogspot.com
Dirgahayu negeriku, jayalah selalu. Sejahtera rakyatnya, adil pemerintahnya, berdaulat negaranya, lestari alamnya.
Selamat hari kemerdekaan.
Salam Pelopor!

*tulisan ini dimuat di www.institutpelopor.org

Wednesday, 1 May 2013

Sebuah Cerita Tentang Berbagi


Akhirnya aku menyelesaikan Pertemuan Wilayah 13 bersama Korwil 13 dan saudara2 BPC se-wilayah 13. Hari-hari yang luar biasa dan aku banyak mendapat inspirasi.
Berdosalah aku jika tidak membagikan inspirasi yang aku dapat dari saudara2 GMKI di sini, paling tidak melalui media sosial ini.

Dengan tantangan yang mereka hadapi: harus bekerja dan kuliah sambil melayani di GMKI, mereka masih bisa melakukan pengabdian bagi masyarakat. Teman2 GMKI Dumai mengadakan les gratis Rumah Pintar bagi anak2 di sekitar sekretariat mereka.Padahal teman2 ini juga harus bekerja dan berkuliah. Kegiatan ini rutin dilakukan tiap minggu di sekretariat mereka dan diikuti 20-50an anak kecil.

Teman2 GMKI Pekanbaru juga ternyata mengadakan program bina anak utk mengajar anak2 kecil di daerah Pasir Putih, Pekanbaru. Teman2 ini mengajar di 3 titik dan rutin dilaksanakan minimal 1 x 2minggu. Padahal mereka juga sama seperti kita, harus memikirkan kuliah dan kesibukan lain.

Tidak berhenti di situ, teman2 GMKI Tanjung Pinang juga melakukan hal sama,mengadakan bimbingan belajar gratis untuk anak2 kurang mampu. Pendidikan menjadi sorotan utama dari ketiga cabang ini. Pendidikan memang menjadi salah satu faktor penting meningkatkan kehidupan. Ketimbang meneriaki kegelapan ataupun menunggu orang lain menyalakan lilin, mereka lebih memilih menjadi lilin itu sendiri. :) Pilihan yang jarang diambil di tengah sibuknya aktivitas mahasiswa saat ini, hedonisme yg semakin marak dalam kehidupan mahasiswa, dll. Mereka yang hanya puluhan orang saja dapat memberikan perbedaan. Tidak dapat membayangkan kalau semua mahasiswa punya keinginan yang sama. Pasti luar biasa!

Teman2 GMKI Batam juga membuat perbedaan lainnya. Mereka yang juga harus kerja sambil kuliah gelisah melihat kondisi rakyat yang gitu2 saja. Di tengah kesibukan kuliah dan tuntutan kerja, mereka masih sempat-sempatnya mengadakan pelatihan kewirausahaan untuk anggota dan masyarakat di Batam. Keinginan teman2 ini jelas, suatu saat rakyat di Batam tidak lagi menjadi budak industri tapi mampu mandiri membuat pekerjaan sendiri. Kata mereka, pendidikan yang mereka dapat di kampus tidak membentuk mereka menjadi manusia yang mandiri, justru tetap diarahkan menjadi pekerja. Melalui pelatihan kewirausahaan ini, mereka berharap pemuda Batam berani berpikir mandiri dan kreatif merancang usaha sendiri. Lagi2 sebuah keinginan menyalakan lilin di tengah kegelapan. Rakyat harus bangkit! Aku terharu mendengar semangat teman2 ini.

Terakhir kisah dari teman2 GMKI Padang. Walau mereka tidak terlalu banyak, mereka juga tetap mencoba berpikir melakukan sesuatu yang berguna bagi sesama. Mereka saat ini sedang merancang pengabdian masyarakat ke Mentawai, daerah yang beberapa kali dilanda gempa dan saat ini sangat tertinggal. Teman2 ini ingin melakukan pengembangan masyarakat di bidang pertanian. Mereka berharap rakyat Mentawai dapat bangkit melalui pertanian.

Aku kembali diingatkan, mereka juga mahasiswa yang punya kesibukan, tuntutan keluarga, dan selusin alasan yg membuat mahasiswa malas bergerak. Tapi mereka menolak untuk tunduk pada semua alasan-alasan itu. Mereka lagi2 berusaha menjadi lilin ditengah gelap. Mereka anti kenyamanan selama rakyat masih menangis! Bahkan mereka bersedia 1 bulan tinggal di Mentawai untuk melakukan pengabdian dan pengembangan masyarakat, jauh dari kenikmatan TV, Mall, internet, bioskop,teman2, dll.

Ya, momen bertemu teman2 dari Dumai, Batam, P.baru, Tj.Pinang, Padang menyadarkanku bahwa mereka saja masih sempat-sempatnya memikirkan rakyat. Angan-anganku pun mencapai puncak impiannya. Andai semua mahasiswa punya hati yang sama dengan mereka. Hati yang berduka melihat rakyat yang menangis dan mau menggunakan tangan sendiri untuk menyeka tangisan mereka.
Aku yakin percaya, selain mereka, masih banyak juga anak bangsa, dari daerah, kampus, lembaga, agama apapun yang juga punya hati yg sama, hati yang ingin menghapus tangisan ibu pertiwi, dan dilakukan dengan nyata melalui tindakan. Ya, tidak ada guna meneriaki kegelapan.

Bagaimana teman2, tidak inginkah dirimu ikut serta menjadi lilin-lilin kecil di negeri kita? Pasti akan menjadi gerakan sosial dan gerakan inspiratif yang luar biasa. Bagi yang sudah menjalaninya, tetap semangat melakukan pilihan itu. Rasakan indahnya berbagi susah dan senyum bersama rakyat.

Terimakasih teman2 GMKI Wilayah 13. Kalian telah mengingatkanku lagi arti kata "berbagi". Tetap semangat walau gangguan menghadang. Semoga kisah tentang teman2 ini dapat memberi inspirasi bagi kita semua termasuk aku sendiri. Itu perjuangan mereka, bagaimana perjuangan kita?

Demikian kisah dari teman2 ini. Tidak ada maksud lain selain untuk berbagi inspirasi sesama anak bangsa yang punya tugas membangun negeri ini. Semangat bagi kita semua, mungkin kita belum memulai, tapi tidak pernah ada kata terlambat untuk sebuah perubahan. Mari bangkit. :)

Wednesday, 26 December 2012

Refleksi Dies Natalis 1 abad Student Christian Movement of Srilanka (Gerakan Mahasiswa Kristen Srilanka)


So what does peace mean in this savage, corporatized, militarized world? What does it mean in a world where a entrenched system of appropriation has created a situation in which poor countries, which have been plundered by colonizing regimes for centuries, are steeped in debt to the very same countries that plundered them and have repay that debt at the rate of 382 billion dollars a year?

What does peace mean in a world in which the combined wealth of the world’s 587 billionaires exceeds the combined ross domestic product of the world’s poorest countries? Or when rich countries –that pay farm subsidies of a billion dollars a day- try and force poor countries to drop their subsidies?

What does peace mean to people in occupied Iraq, Palestine, Kashmir, Tibet, and Chechnya? Or to the Aboriginal people of Australia? Or the origin of Nigeria. Or the Kurds in Turkey? Or the Dalitis and Adivasais of India? What does peace mean to women in Iran, Saudi Arabia and Afghanistan?

What does it mean to the millions who are beiing unprooted from their lands by dams and development projects? What does peace mean to the poor who are being actively robbed of their resources and for whom everyday life is a grim battle for water, shelter, survival, and, above all, some semblance of dignity?
FOR THEM PEACE IS WAR.

We know very well who benefits from war in the age of Empire is the Corporate-Military cabel. But we must also ask ourselves honestly who benefits from peace in the age of Empire? War mongering is criminal, but talking of peace without talking of justice could easily become advocacy for a kind of capitalism. And talking of justice without unmasking the institutions and the systems that perpetrate injustice, is beyond hypocritical.

It’s easy to blame the poor for being poor. It’s easy to believe that the world is being caught up in an escalating spiral of terrorism and war. That’s what allows the American President to say: “You’re either with us or with the terrorists.” But know that terrorism is only the privatization of war. That terrorists are the free marketers of war. They believe that the legitmateuse of violence is not the sole prerogative of the state.

It’s mendacious to make moral distinctions between the unspeakable brutality of terrorism and the indiscriminate carnage of war and occupation. Both kinds of violence are unacceptable. We cannot support one and condemn the other.

The real tragedy is that most people in the world are trapped between the horror of a punitive peace and the terror of war. Those are the two sheer cliffs w’re hemmed in by. The question is: How do we climb out of this crevasse?

bersama teman2 Student Christian Movement se-Asia Pasifik

Thursday, 19 July 2012

Enam Tahun, Selanjutnya Apa?


Enam tahun, masa pembentukan di Kawah Candradimuka, Laboratorium Kehidupan, Kampus Ganesha, Institut Teknologi Bandung.
Enam tahun, proses belajar dalam indahnya suka dan duka, senang dan sedih, serta ringan dan berat.
Enam tahun, waktu yang tidak cepat, juga tidak lama.
Enam tahun, selanjutnya apa?

 
Naik kereta dari Medan ke Rantauprapat dan melihat alam di sepanjang jalur rel kereta. Menyaksikan jutaan pepohonan yang terhampar luas, diselingi rumah-rumah kecil terkadang gubuk. Ada yang dilapisi dinding bersemen, terkadang hanya batu bata telanjang, dan tidak jarang hanya diselumuti papan juga triplek.
Enam tahun merasakan fasilitas kuliah, selanjutnya apa?


Menyeberangi jembatan di jalanan Medan, terbentang lebarnya sungai Babura dan Deli. Terpampang bantaran sungai yang penuh warna. Ibu-ibu yang mencuci bajunya sampai bersih dengan air sungai yang kotor. Anak-anak kecil yang bersukaria mandi di pinggiran sungai. Rumah-rumah kumuh dengan baju-baju yang dijemur di depan rumah, tidak dapat dibedakan mana yang sudah dicuci dengan yang belum dicuci. Para pemuda dan kaum ayah yang pergi pagi dan pulang malam, menarik becak ataupun menjadi kuli bangunan, demi sesuap nasi esok hari.
Enam tahun menikmati indahnya pendidikan di kota Bandung, selanjutnya apa?

Bagaimana lagi kabar masyarakat di pedalaman Sumatera Selatan, ataupun kondisi rakyat di perbatasan Indonesia-Malaysia?


Siapakah yang tahu suka-duka anak pertiwi di pulau-pulau kecil Indonesia ataupun cerita senang-sedih putra-putri tanah air di Papua ataupun Sulawesi?


Enam tahun, waktu yang tidak cepat, juga tidak lama.


Apakah waktu tersebut telah menyiapkan masa yang bermakna?
Ataukah hanya akan menjadi kesia-siaan belaka?


Enam tahun masa menimba ilmu dan pengetahuan serta mencari permasalahan dan solusinya. Namun selama enam tahun itu juga, rumah-rumah di sepanjang rel kereta api Medan-Rantauprapat tetaplah diselimuti batu-bata dan papan-triplek. Bantaran sungai Babura dan Deli masih juga dihias oleh rumah-rumah kumuh dan keluarga yang menikmati bersihnya air sungai yang kotor. Bagaimana juga kabar masyarakat di pedalaman Sumatera Selatan, rakyat di perbatasan Indonesia-Malaysia, anak pertiwi di pulau-pulau kecil Indonesia, ataupun putra putri tanah air di Papua ataupun Sulawesi?

Maka,
Enam tahun, selanjutnya apa???


Rabu, 18 Juli 2012
Sepanjang Rel Kereta Api Medan-Rantauprapat