inspirasi

inspirasi
Showing posts with label anak. Show all posts
Showing posts with label anak. Show all posts

Friday, 6 June 2014

Mencerdaskan Anak Bangsa

Pendidikan adalah salah satu bentuk upaya menuju pendewasaan dalam kehidupan. Pendidikan adalah usaha membentuk insan – insan akademis yang berpikir mandiri dan dapat bertanggung jawab atas tindakan yang diperbuatnya. Melalui pendidikan diharapkan dapat tercipta kehidupan yang lebih baik bagi diri insan tersebut, juga keluarga, masyarakat, bangsa, dan peradaban manusia.

Peran penting pendidikan ini dapat ditinjau dari sejarah masa lampau. Paska Perang Dunia II, Jepang sebagai salah satu negara yang menderita kekalahan, mengalami kehancuran yang luar biasa. Tentara dan penduduknya tercerai berai dan dua kota besarnya hancur karena bom atom. Di tengah upaya memulai lagi pembangunan Jepang yang hancur lebur, Kaisar Jepang saat itu meminta agar pemerintah mendata tenaga pendidik (guru) Jepang yang masih hidup. Kaisar memandang bahwa membangun Jepang dari kehancuran tidak dapat terwujud tanpa membangun pendidikannya terlebih dahulu. Pembangunan nasional hanya dapat terwujud jika karakter dan pengetahuan masyarakat dikembangkan melalui pendidikan.

Dalam pembukaan Undang – Undang Dasar 1945, para pendiri bangsa telah mencantumkan tujuan negara, salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini diperkuat dalam UUD 1945 yang menjelaskan bahwa setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan dan negara memiliki kewajiban untuk memenuhi pendidikan setiap warga negara guna mewujudkan tujuan nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Untuk menjalankan tanggung jawabnya, pemerintah telah mengaturnya ke dalam undang – undang. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional memberikan definisi tentang pendidikan. Menurut UU ini, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dalam upaya meningkatkan pendidikan nasional, pemerintah telah menetapkan Standar Nasional Pendidikan (SNP). Standar Nasional Pendidikan (SNP) adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar Nasional Pendidikan terdiri dari standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.

Tujuan Standar Nasional Pendidikan ini adalah untuk menjamin pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Pemerintah mewajibkan setiap satuan pendidikan, baik formal maupun nonformal untuk melakukan penjaminan mutu pendidikan yang dilakukan secara bertahap, sistematis dan terencana serta memiliki target dan kerangka waktu yang jelas agar dapat memenuhi atau bahkan melampaui standar nasional pendidikan.

Dalam keberjalanannya, usaha mencerdaskan bangsa masih mendapatkan banyak kendala. Masih banyak sekolah yang tidak memiliki fasilitas lengkap seperti buku diktat, perpustakaan dan laboratorium. Sekolah seperti ini kebanyakan terdapat di daerah tertinggal. Namun, di kota-kota besar juga masih banyak terdapat sekolah yang tidak memiliki fasilitas yang baik. Dampak dari fasilitas belajar yang kurang baik, para siswa menjadi kesulitan untuk mengikuti proses belajar di sekolah.

Mutu para pendidik juga belum terlalu memadai. Hal ini dapat dilihat dari adanya sekolah unggulan dan non unggulan di setiap daerah. Kualitas dan kuantitas pendidik juga tidak seimbang antara di kota-kota besar dan di daerah. Bahkan di beberapa daerah terpencil, sekolah hanya didatangi oleh pengajar satu kali per bulan. Para pengajar yang ditempatkan di daerah pedalaman lebih memilih untuk tinggal di kota ketimbang mengajar ke daerah karena faktor infrastruktur dan fasilitas mengajar.

Pengelola sekolah terkadang juga tidak berupaya optimal untuk meningkatkan kualitas guru dan fasilitas sekolah. Pemerintah sebagai pengawas dan pelaksana tanggung jawab pendidikan terkadang kurang memberikan intervensi terhadap pengelola sekolah. Akibatnya terdapat banyak sekolah yang tidak memenuhi standar nasional pendidikan. Bahkan di beberapa daerah terdapat perguruan tinggi swasta yang tidak memiliki izin operasi dari KOPERTIS. Hal ini sangat merisaukan masyarakat karena sudah banyak korban dari masyarakat. Masyarakat yang tidak tahu justru mendaftar dan berkuliah di perguruan tinggi ilegal ini dan membayar biaya perkuliahan namun ijazahnya tidak dapat dipakai untuk melamar pekerjaan.

Menyikapi hal ini, pemerintah perlu meningkatkan mutu sarana dan prasarana sekolah, mutu dan kuantitas serta penyebaran guru, dan metodologi pendidikan yang mendukung dan bukannya menekan siswa. Anggaran pendidikan yang besar (20 persen dari APBN) seharusnya sudah memadai untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Sayangnya, dalam pelaksanaannya, anggaran ini tidak sepenuhnya digunakan untuk pendidikan. Selain pengalokasian yang tidak sesuai kebutuhan, sebagian anggaran ini juga dikorupsi oleh oknum-oknum pendidikan, baik di internal pemerintah, maupun pengelola sekolah. Pemerintah harus tegas mengawasi penggunaan anggaran pendidikan karena lambannya peningkatan pendidikan akan menyebabkan kualitas warga negara Indonesia akan kalah bersaing dengan warga negara-negara lain.

Anak-anak bangsa tidak hanya membutuhkan ijazah dan surat kelulusan dari sekolah. Lebih dari itu, anak-anak bangsa harus mendapatkan pencerdasan pola pikir dan karakter. Dengan ini, mereka dapat mandiri dan bertanggung jawab bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negaranya. Oleh sebab itu, pemerintah harus tegas memperhatikan standar pendidikan dan izin sekolah serta perguruan tinggi. Pihak pengelola pendidikan harus menjadikan anak didik sebagai subjek utama yang harus dikembangkan. Karena itu, infrastruktur pendidikan harus berkualitas untuk membentuk anak-anak bangsa yang cerdas dalam pola pikir, mental, dan karakter.

Pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia bukannya menjadikan manusia sebagai robot pekerja. Pendidikan Indonesia seharusnya membentuk manusia-manusia Indonesia yang dapat berpikir mandiri, kritis, dan mau belajar sehingga setelah lulus, para insan intelektual ini dapat berkarya besar bagi pembangunan masyarakat, bangsa, dan negara. Semangat ini haruslah menjiwai benak setiap perangkat pendidikan sehingga upaya mencerdaskan anak bangsa dapat berjalan seperti yang dicita-citakan.

Tulisan ini dimuat di www.siperubahan.com 

Wednesday, 1 May 2013

Sebuah Cerita Tentang Berbagi


Akhirnya aku menyelesaikan Pertemuan Wilayah 13 bersama Korwil 13 dan saudara2 BPC se-wilayah 13. Hari-hari yang luar biasa dan aku banyak mendapat inspirasi.
Berdosalah aku jika tidak membagikan inspirasi yang aku dapat dari saudara2 GMKI di sini, paling tidak melalui media sosial ini.

Dengan tantangan yang mereka hadapi: harus bekerja dan kuliah sambil melayani di GMKI, mereka masih bisa melakukan pengabdian bagi masyarakat. Teman2 GMKI Dumai mengadakan les gratis Rumah Pintar bagi anak2 di sekitar sekretariat mereka.Padahal teman2 ini juga harus bekerja dan berkuliah. Kegiatan ini rutin dilakukan tiap minggu di sekretariat mereka dan diikuti 20-50an anak kecil.

Teman2 GMKI Pekanbaru juga ternyata mengadakan program bina anak utk mengajar anak2 kecil di daerah Pasir Putih, Pekanbaru. Teman2 ini mengajar di 3 titik dan rutin dilaksanakan minimal 1 x 2minggu. Padahal mereka juga sama seperti kita, harus memikirkan kuliah dan kesibukan lain.

Tidak berhenti di situ, teman2 GMKI Tanjung Pinang juga melakukan hal sama,mengadakan bimbingan belajar gratis untuk anak2 kurang mampu. Pendidikan menjadi sorotan utama dari ketiga cabang ini. Pendidikan memang menjadi salah satu faktor penting meningkatkan kehidupan. Ketimbang meneriaki kegelapan ataupun menunggu orang lain menyalakan lilin, mereka lebih memilih menjadi lilin itu sendiri. :) Pilihan yang jarang diambil di tengah sibuknya aktivitas mahasiswa saat ini, hedonisme yg semakin marak dalam kehidupan mahasiswa, dll. Mereka yang hanya puluhan orang saja dapat memberikan perbedaan. Tidak dapat membayangkan kalau semua mahasiswa punya keinginan yang sama. Pasti luar biasa!

Teman2 GMKI Batam juga membuat perbedaan lainnya. Mereka yang juga harus kerja sambil kuliah gelisah melihat kondisi rakyat yang gitu2 saja. Di tengah kesibukan kuliah dan tuntutan kerja, mereka masih sempat-sempatnya mengadakan pelatihan kewirausahaan untuk anggota dan masyarakat di Batam. Keinginan teman2 ini jelas, suatu saat rakyat di Batam tidak lagi menjadi budak industri tapi mampu mandiri membuat pekerjaan sendiri. Kata mereka, pendidikan yang mereka dapat di kampus tidak membentuk mereka menjadi manusia yang mandiri, justru tetap diarahkan menjadi pekerja. Melalui pelatihan kewirausahaan ini, mereka berharap pemuda Batam berani berpikir mandiri dan kreatif merancang usaha sendiri. Lagi2 sebuah keinginan menyalakan lilin di tengah kegelapan. Rakyat harus bangkit! Aku terharu mendengar semangat teman2 ini.

Terakhir kisah dari teman2 GMKI Padang. Walau mereka tidak terlalu banyak, mereka juga tetap mencoba berpikir melakukan sesuatu yang berguna bagi sesama. Mereka saat ini sedang merancang pengabdian masyarakat ke Mentawai, daerah yang beberapa kali dilanda gempa dan saat ini sangat tertinggal. Teman2 ini ingin melakukan pengembangan masyarakat di bidang pertanian. Mereka berharap rakyat Mentawai dapat bangkit melalui pertanian.

Aku kembali diingatkan, mereka juga mahasiswa yang punya kesibukan, tuntutan keluarga, dan selusin alasan yg membuat mahasiswa malas bergerak. Tapi mereka menolak untuk tunduk pada semua alasan-alasan itu. Mereka lagi2 berusaha menjadi lilin ditengah gelap. Mereka anti kenyamanan selama rakyat masih menangis! Bahkan mereka bersedia 1 bulan tinggal di Mentawai untuk melakukan pengabdian dan pengembangan masyarakat, jauh dari kenikmatan TV, Mall, internet, bioskop,teman2, dll.

Ya, momen bertemu teman2 dari Dumai, Batam, P.baru, Tj.Pinang, Padang menyadarkanku bahwa mereka saja masih sempat-sempatnya memikirkan rakyat. Angan-anganku pun mencapai puncak impiannya. Andai semua mahasiswa punya hati yang sama dengan mereka. Hati yang berduka melihat rakyat yang menangis dan mau menggunakan tangan sendiri untuk menyeka tangisan mereka.
Aku yakin percaya, selain mereka, masih banyak juga anak bangsa, dari daerah, kampus, lembaga, agama apapun yang juga punya hati yg sama, hati yang ingin menghapus tangisan ibu pertiwi, dan dilakukan dengan nyata melalui tindakan. Ya, tidak ada guna meneriaki kegelapan.

Bagaimana teman2, tidak inginkah dirimu ikut serta menjadi lilin-lilin kecil di negeri kita? Pasti akan menjadi gerakan sosial dan gerakan inspiratif yang luar biasa. Bagi yang sudah menjalaninya, tetap semangat melakukan pilihan itu. Rasakan indahnya berbagi susah dan senyum bersama rakyat.

Terimakasih teman2 GMKI Wilayah 13. Kalian telah mengingatkanku lagi arti kata "berbagi". Tetap semangat walau gangguan menghadang. Semoga kisah tentang teman2 ini dapat memberi inspirasi bagi kita semua termasuk aku sendiri. Itu perjuangan mereka, bagaimana perjuangan kita?

Demikian kisah dari teman2 ini. Tidak ada maksud lain selain untuk berbagi inspirasi sesama anak bangsa yang punya tugas membangun negeri ini. Semangat bagi kita semua, mungkin kita belum memulai, tapi tidak pernah ada kata terlambat untuk sebuah perubahan. Mari bangkit. :)

Thursday, 19 July 2012

Enam Tahun, Selanjutnya Apa?


Enam tahun, masa pembentukan di Kawah Candradimuka, Laboratorium Kehidupan, Kampus Ganesha, Institut Teknologi Bandung.
Enam tahun, proses belajar dalam indahnya suka dan duka, senang dan sedih, serta ringan dan berat.
Enam tahun, waktu yang tidak cepat, juga tidak lama.
Enam tahun, selanjutnya apa?

 
Naik kereta dari Medan ke Rantauprapat dan melihat alam di sepanjang jalur rel kereta. Menyaksikan jutaan pepohonan yang terhampar luas, diselingi rumah-rumah kecil terkadang gubuk. Ada yang dilapisi dinding bersemen, terkadang hanya batu bata telanjang, dan tidak jarang hanya diselumuti papan juga triplek.
Enam tahun merasakan fasilitas kuliah, selanjutnya apa?


Menyeberangi jembatan di jalanan Medan, terbentang lebarnya sungai Babura dan Deli. Terpampang bantaran sungai yang penuh warna. Ibu-ibu yang mencuci bajunya sampai bersih dengan air sungai yang kotor. Anak-anak kecil yang bersukaria mandi di pinggiran sungai. Rumah-rumah kumuh dengan baju-baju yang dijemur di depan rumah, tidak dapat dibedakan mana yang sudah dicuci dengan yang belum dicuci. Para pemuda dan kaum ayah yang pergi pagi dan pulang malam, menarik becak ataupun menjadi kuli bangunan, demi sesuap nasi esok hari.
Enam tahun menikmati indahnya pendidikan di kota Bandung, selanjutnya apa?

Bagaimana lagi kabar masyarakat di pedalaman Sumatera Selatan, ataupun kondisi rakyat di perbatasan Indonesia-Malaysia?


Siapakah yang tahu suka-duka anak pertiwi di pulau-pulau kecil Indonesia ataupun cerita senang-sedih putra-putri tanah air di Papua ataupun Sulawesi?


Enam tahun, waktu yang tidak cepat, juga tidak lama.


Apakah waktu tersebut telah menyiapkan masa yang bermakna?
Ataukah hanya akan menjadi kesia-siaan belaka?


Enam tahun masa menimba ilmu dan pengetahuan serta mencari permasalahan dan solusinya. Namun selama enam tahun itu juga, rumah-rumah di sepanjang rel kereta api Medan-Rantauprapat tetaplah diselimuti batu-bata dan papan-triplek. Bantaran sungai Babura dan Deli masih juga dihias oleh rumah-rumah kumuh dan keluarga yang menikmati bersihnya air sungai yang kotor. Bagaimana juga kabar masyarakat di pedalaman Sumatera Selatan, rakyat di perbatasan Indonesia-Malaysia, anak pertiwi di pulau-pulau kecil Indonesia, ataupun putra putri tanah air di Papua ataupun Sulawesi?

Maka,
Enam tahun, selanjutnya apa???


Rabu, 18 Juli 2012
Sepanjang Rel Kereta Api Medan-Rantauprapat

Monday, 17 October 2011

Bersyukurlah Kita, Kawan


Pak Adang, seorang guru di SMP dan SMA Pasundan, telah mengajar pelajaran bahasa dan budaya Sunda sejak 14 tahun lalu. Penampilan yang rapi dan sifatnya yang ramah seakan menutupi fakta dirinya yang ternyata seorang tuna netra. Kekurangannya dalam melihat tidak membatasi totalitasnya dalam mengajar. Bahkan tidak sebatas pengajar, beliau juga dipercayakan menjadi Wakil Kepala Sekolah. Salut, itu kata pertama yang terlintas di pikiranku ketika mengobrol dengan beliau.

“Pemerintah Bandung tidak memperbolehkan kami menjadi pegawai negeri. Apakah tuna netra itu penyakit? Kami juga berhak membangun bangsa. Teman-teman di Wyata Guna juga enggan keluar dari panti ini. Mereka takut keluar menghadapi masyarakat, dan sudah nyaman dengan kondisi yang ada”, keluhnya.

Ya, tidak perlu membahasnya secara mendalam, kita pun pasti telah menyadarinya, ketidakadilan masih belum melepaskan genggamnya dari bumi pertiwi. Hak asasi manusia Indonesia seakan terkubur, tertulis dengan rapih di dalam setiap butir konstitusi yang menumpuk berdebu di sudut perpustakaan. Sampai kapankah penantian itu; saat ketidakadilan disimpan dalam peti berdebu dan dikubur di bumi terdalam; saat keadilan bisa tegak berdiri, keluar dari kurungannya selama ini?

Mereka saja punya semangat, menikmati keindahan hidup yang sebenarnya ‘melawan’ mereka. Masa kita yang ‘normal’ ini hanya bisa mengeluh dan ‘biasa-biasa’ saja menjalani keindahan hidup di depan mata kita???

Bersyukurlah kita kawan, bisa mendengar dan bisa membaca. Bisa berjalan dan bisa berbicara. Bisa bersekolah dan bisa belanja. Dan kiranya syukur itu tidak hanya kita panjatkan kepada Yang Diatas, tapi juga kepada sesama.

Sang hak masih terus menunggu. Menantikan saat dimana dia bisa terbang dengan leluasa dari ujung barat Pulau We sampai ujung timur pulau Irian. Menikmati Samudera Hindia dari Pulau Rote di selatan dan indahnya pantai Pulau Mianggas di utara. Merasakan suka dan tawa dari setiap anak Indonesia; di pedalaman dan perbatasan, di perkotaan dan pedesaan, di gedung tinggi dan gubuk kumuh.

Ya, sang hak masih terus menanti. Menantikan kita, yang mau bertindak memanjatkan syukur atas kasih Yang Maha Kuasa, dengan mengabdi dan membagikan kasih-Nya kepada sesama.

Anak Kecil yang Belajar Bersepeda


Sulit bagi seorang anak kecil untuk bisa mahir bersepeda dalam sekali latihan. Tentu dia pernah terjatuh dari sepedanya. Yang utama adalah, dia harus selalu bangkit dari jatuhnya. Jatuh dan bangkit. Jatuh lagi dan bangkit lagi hingga pada akhirnya dia akan lancar bersepeda.

Seorang muda yang sedang belajar menyetir tidak jarang menghantamkan mobilnya ke mobil orang lain ataupun pembatas jalan. Hal ini harus terjadi beberapa kali hingga akhirnya dia bisa mengendarai kendaraan dengan stabil dan aman dari tabrakan. Tekad untuk bisa mengendarai mobil dengan benar, itulah salah salah kunci keberhasilannya.

Begitu juga dalam hal lainnya, hal paling rohani sekalipun. Perubahan tidak segampang membalik telapak tangan.  Seseorang yang sudah tahu kalau kebiasaannya selama ini salah tidak semudah itu juga meninggalkan kebiasaannya tersebut. Terkadang dia harus jatuh bangun mengatasi kebiasaan salah ini. Yang utama adalah, dia terus berusaha bangkit dari jatuhnya. Jatuh dan bangkit. Jatuh lagi dan bangkit lagi.

Apakah baik kita mencemooh seseorang ketika dia sedang berusaha bangkit? Baikkah kita ketika kita mencela seseorang salah, padahal dia sedang berusaha mengatasi kesalahannya itu?
Jika ternyata hal itu baik, anak kecil sepertinya tidak akan pernah bisa lancar bersepeda; anak muda tidak akan pernah bisa menyetir mobil; dan seseorang tidak akan pernah bisa memperbaiki kebiasaan salahnya.

Monday, 2 May 2011

Sahabat Kecil


Banyak pembelajaran yang bisa didapat di luar bangku kuliah, terkhusus dalam pembelajaran akan makna kehidupan. Hari minggu lalu kembali aku mendapatkan pembelajaran yang sangat berharga dan para pengajar ini bukanlah seorang profesor, dosen, ataupun ahli lainnya. Para pengajar ini justru sahabat-sahabat kecil yang mungkin mereka sendiri tidak sadar bahwa kehidupan mereka telah memberikan inspirasi berharga bagi kami yang datang saat itu.

Hari Minggu kemarin, kami mengikuti Paskah GMKI ke Panti Asuhan ‘Rumah Pengharapan Baru’ di Lembang. Rencananya kami akan melakukan kebaktian disana, bernyanyi, mempersembahkan nyanyian dari vokal group, dan bermain dengan adik-adik di panti tersebut. Awalnya aku tidak berencana ke sana karena bentrok waktu dengan kegiatan yang lain, tapi karena beberapa hal, aku dan dua orang teman memutuskan untuk menyusul ke Lembang. Pada akhirnya aku sangat bersyukur kepada Tuhan akan keputusanku ini.

Sepertinya untuk mencapai panti ini bukan perkara gampang. Ketika kami masih seperempat jalan hujan turun, tapi kami memutuskan tetap lanjut ke sana. Sampai di panti, acara sudah berlangsung 1,5 jam. Kami mengikuti acara sisanya dan bersama yang lain bernyanyi, bermain permainan kecil, dan juga mengganggu adik-adik kecil yang mungkin masih berumur 1-2 tahun. Satu pembelajaran yang kudapat, banyak dari mereka yang tidak pernah mengenal ayah dan ibu mereka. Mereka tidak pernah merasakan kasih dari orangtua mereka. Bagaimana dengan aku? Kasih itu melimpah sejak aku kecil dan aku kadang lupa untuk menyukuri itu.



Ternyata panti ini memiliki hal penting lainnya. Panti ini tidak hanya tempat untuk anak kecil saja, tapi juga tempat tinggal beberapa orang wanita yang beberapa orang bahkan seumuran dengan kami yang datang. Sebenarnya aku agak tidak enak untuk menuliskan disini, tapi ini adalah kesaksian dari salah seorang kakak disana yang juga menjadi pembelajaran untukku, pembelajaran kedua, ketiga, dan keempat yang harus kita tanamkan dari sekarang. Sang kakak menceritakan tentang kehidupannya beberapa tahun lalu yang pernah berpacaran dan terjatuh ke dalam dosa hubungan pra nikah. Di poin ini aku belajar tentang bagaimana seharusnya hubungan yang terjalin antar dua orang yang harus selalu kudus hingga akhir hayat memisahkan. Bagi kawan-kawan yang membaca tulisan ini, mari jaga kekudusan hubunganmu kawan, kalau awak sih masih single, hehe.

Kemudian sang kakak juga bercerita bahwa setelah pacarnya mengetahui dia hamil, pacarnya ini meninggalkannya. Di sini aku belajar tentang bagaimanakah komitmen itu. Mungkin hubungan antara kita dan pasangan kita pernah salah, atau jatuh ke dalam dosa. Namun yang paling utama bukanlah kita lari dari masalah itu dan menjalani penyesalan yang panjang dan penuh putus asa, tapi bagaimana kita berusaha bangkit dan keluar dari masalah itu. Jangan lupa, ada Seseorang mengasihi kita dan telah berjanji memegang tangan kita ketika kita terjatuh. Buluh yang terkulai takkan dipatahkanNya. Dan sang kakak kemudian berjumpa dengan seorang teman yang berusaha menguatkannya dan mengingatkan lagi bahwa ada Seseorang yang selalu dan selalu mengasihinya.

Kemudian dia juga bercerita bahwa dia sempat memilih untuk melakukan aborsi, tapi setelah dia berjumpa dengan seorang teman ini, dia disadarkan bahwa keputusannya itu salah. Tuhan telah menitipkan suatu kehidupan baru di rahimnya dan merupakan tugas dan tanggung jawabnya untuk menjaga apa yang telah Tuhan berikan kepadanya. Awalnya dia berpikir bahwa anaknya akan cacat atau memiliki kekurangan karena dosa yang telah dilakukannya itu. Tapi setelah anak itu lahir, anak itu lahir dengan fisik yang sehat dan dia sangat bersyukur akan kelahiran anaknya ini. Sang kakak pun semakin lupa akan perihnya permasalahan yang dihadapinya dulu. Ini pembelajaran keempat yang kudapat, bahwa kesalahan, dosa yang kita buat, ketika kita telah menyesal dan mengaku akan kesalahan kita ini, maka Dia Yang Maha Baik dan Pengampun akan membuat hal baik dari kesalahan atau dosa kita itu.

Setelah kesaksian sang kakak, kami kembali bernyanyi, berfoto, dan akhirnya tiba saat berpisah untuk kembali ke Bandung. Kami membagikan kue dan mainan untuk sahabat-sahabat kecil kami dan jam 6 sore kami pun keluar dari rumah pengharapan itu. Ternyata cuaca di luar masih hujan dan selama kurang lebih 30 menit kami semua berdiri di luar memandang air hujan yang belum juga berhenti turun ke bumi pertiwi. Kami bermain bersama beberapa adik kecil yang ikut menemani kami menghabiskan waktu. Kemudian seorang kakak keluar dan mengajak kami kembali masuk ke dalam. Di dalam ruangan kami kembali bermain dengan sahabat-sahabat kecil. Mereka ternyata sudah mandi dan wangi anak kecil tercium di badan mereka. Jadi semakin gemas. Haha.

Jam 19.30, karpet digelar dan mereka semua duduk di sana. Ternyata mereka akan melakukan Doa Malam yang rutin dilakukan tiap hari di rumah itu. Biasanya mereka melakukan ini jam 20.30, tapi karena hari itu ada tiga kunjungan ke rumah itu termasuk kunjungan kami, mereka ingin beristirahat lebih cepat malam itu. Lagu-lagu pun dinyanyikan dan kemudian ditutup dengan doa bersama dan pembacaan ayat. Di sinilah pembelajaran kelima yang kudapat dan paling menohokku.

Seorang adik berumur 16 tahun memimpin doa bersama itu. Metodenya dia akan membacakan topik doa dan yang lain akan bersama-sama berdoa tentang topik itu. Seperti yang kutuliskan di atas, kebanyakan adik-adik yang ada disana tidak mengenal keluarga mereka sejak kecil, termasuk sang adik yang memimpin doa ini. Kemudian tiba pada satu topik doa yang menohokku, sang adik menyebutkan doa untuk keluarga. Kemudian mereka bersama-sama mendoakan keluarga mereka. Berbagai suara keluar, mulai dari suara anak paling kecil yang sudah bisa berdoa, dan suara yang sudah lebih tua dan juga kami. Mereka mendoakan keluarga. Keluarga yang mana? Keluarga yang tidak pernah mereka kenal. Keluarga yang mungkin tidak pernah mereka rasakan kasih sayangnya. Tapi mereka mendoakan keluarga mereka ini. Bagaimana dengan aku? Apakah aku ingat mendoakan keluargaku, yang telah kulihat sejak aku keluar dari kandungan dan selalu mengasihiku hingga sekarang? Ya aku ingat. Tapi kadang itu pun hanya formalitas saja. Sementara mereka melakukan itu tiap malam, tiap hari, mendoakan keluarga yang tidak pernah mereka kenal.
Ya, itu benar-benar sangat menohokku.

Kemudian setelah doa malam kami kembali bermain dengan adik-adik kecil. Sebelum pulang aku bermain dengan seorang adik. Beberapa minggu lalu dia baru berulang tahun dan sepertinya ingatan itu masih terus ada di kepalanya. Aku sedang memegang gitar dan kemudian dia berbisik, menyebut kata ‘selamat ulang tahun’. Aku sempat bingung sebelum seorang teman memberitahuku tentang fakta tadi. Baru aku sadar kalau dia memintaku melantunkan lagu ‘selamat ulang tahun’. Kemudian dia juga meminta lagu ‘happy birthday’, ‘tiup lilinnya’, dan ‘potong kuenya’. Kami menyanyikan ini berdua dan aku tidak bisa menggambarkan dengan kata-kata bagaimana perasaanku saat itu. Aku selalu merayakan ulang tahunku setiap tahunnya, menyanyikan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan, tapi mungkin baru kali itulah aku benar-benar memaknai nyanyian itu bersama sahabat kecilku yang baru ini.

Setelah bernyanyi, dia kemudian melipat tangannya. Aku hanya mengamatinya saja, apalagi yang akan dilakukan adik kecil ini. Kemudian dia mengucapkan ‘Tuhan’, sambil melihat aku. Aku pun mengikutinya membilang ‘Tuhan’. Kemudian aku diam lagi dan memandang dia. Dia juga hanya memandangi aku. Setelah beberapa detik kami berpandang-pandangan, akhirnya aku sadar kalau dia ingin aku memimpin doa dan dia mengikutinya. Aku pun memimpin doa.
“Tuhan”, kataku.
“Tuhan”, katanya.
“Terima kasih aku sudah ulang tahun”, kataku.
“Telima kacih aku cudah ulang tahun”, katanya.
“Berkatilah aku Tuhan”, kataku lagi.
“Belkatilah aku Tuhan”, katanya dengan suara mungilnya.
“Semoga aku tambah baik”, balasku.
“Cemoga aku tambah baik”, jawabnya.
“Tambah pintar”, ucapku.
“Tambah pintal”, katanya.
“Dan tambah sayang sama Tuhan”, kataku kemudian.
“Dan tambah cayang cama Tuhan”, katanya lagi.
“Terimakasih ya Tuhan”, kataku.
“Telimakacih ya Tuhan”, katanya juga.
“Aminnn”, akhir dariku.
“Aminnnn”, akhir darinya.
Kemudian kucium dan menyalam tangannya. Selamat ulang tahun ya dek.



Kami pun meninggalkan rumah pengharapan itu. Seorang junior yang sedari tadi menggendong adik kecil hendak melepas adik kecil ini. Tapi adik kecil ini tidak mau. Kemudian si adik kecil menangis dan terus menangis, tidak ingin sang kakak meninggalkan rumah itu. Aku sempat bercanda kepada sang junior supaya dia tetap tinggal dan besok aja kembali ke Bandung. Akhirnya kami melepaskan adik itu dan dia terus menangis di gendongan kakak penghuni rumah. Sang junior pun akhirnya ikut menangis melihat air mata adik kecil yang terus terjatuh. Aku pun ikut menangis di dalam hati melihat kejadian itu dan berjanji dalam hati bahwa semoga ini bukan kunjungan yang hanya dilakukan pada saat event tertentu saja. Semoga kami bisa datang kesini lagi secara rutin bertemu dan berbagi kasih dan cerita dengan adik-adik di sana. Dan janji ini juga ternyata tidak tertanam di aku saja, tapi kedua puluh orang yang lain yang datang ke rumah itu, sore itu.

Sebelum meninggalkan tempat, aku juga sempat mengucapkan janji dengan beberapa sahabat kecil yang sudah sekolah SD. Mereka akan menghadapi ujian akhir semester dan kusemangati mereka agar terus semangat belajar dan sekolah hingga SMP, SMA, dan kuliah. Semoga Tuhan terus memberkati mereka.

Terimakasih kepada Ruben, Moses, Louis, Gaby, Morina, dan juga adik-adik lainnya yang telah menjadi guru dan memberikan pembelajaran akan makna kehidupan kepada kami. Begitu juga dengan kakak-kakak di sana yang telah menghadapi tantangan dan permasalahan, tapi bangkit dan terus berdiri teguh, tidak goyah. Tuhan memberkati kalian juga kak.

Sangat bersyukur akan hari ini. Akan pembelajaran yang kudapat. Benar pernyataan paling atas. Bahwa pembelajaran itu tidak hanya didapat berdasarkan teks saja, tapi justru akan benar-benar tertanam ketika kita melihat konteks, melihat langsung permasalahan ataupun kondisi yang ada.