inspirasi

inspirasi
Showing posts with label bangsa. Show all posts
Showing posts with label bangsa. Show all posts

Friday, 6 June 2014

Mencerdaskan Anak Bangsa

Pendidikan adalah salah satu bentuk upaya menuju pendewasaan dalam kehidupan. Pendidikan adalah usaha membentuk insan – insan akademis yang berpikir mandiri dan dapat bertanggung jawab atas tindakan yang diperbuatnya. Melalui pendidikan diharapkan dapat tercipta kehidupan yang lebih baik bagi diri insan tersebut, juga keluarga, masyarakat, bangsa, dan peradaban manusia.

Peran penting pendidikan ini dapat ditinjau dari sejarah masa lampau. Paska Perang Dunia II, Jepang sebagai salah satu negara yang menderita kekalahan, mengalami kehancuran yang luar biasa. Tentara dan penduduknya tercerai berai dan dua kota besarnya hancur karena bom atom. Di tengah upaya memulai lagi pembangunan Jepang yang hancur lebur, Kaisar Jepang saat itu meminta agar pemerintah mendata tenaga pendidik (guru) Jepang yang masih hidup. Kaisar memandang bahwa membangun Jepang dari kehancuran tidak dapat terwujud tanpa membangun pendidikannya terlebih dahulu. Pembangunan nasional hanya dapat terwujud jika karakter dan pengetahuan masyarakat dikembangkan melalui pendidikan.

Dalam pembukaan Undang – Undang Dasar 1945, para pendiri bangsa telah mencantumkan tujuan negara, salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini diperkuat dalam UUD 1945 yang menjelaskan bahwa setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan dan negara memiliki kewajiban untuk memenuhi pendidikan setiap warga negara guna mewujudkan tujuan nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Untuk menjalankan tanggung jawabnya, pemerintah telah mengaturnya ke dalam undang – undang. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional memberikan definisi tentang pendidikan. Menurut UU ini, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dalam upaya meningkatkan pendidikan nasional, pemerintah telah menetapkan Standar Nasional Pendidikan (SNP). Standar Nasional Pendidikan (SNP) adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar Nasional Pendidikan terdiri dari standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.

Tujuan Standar Nasional Pendidikan ini adalah untuk menjamin pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Pemerintah mewajibkan setiap satuan pendidikan, baik formal maupun nonformal untuk melakukan penjaminan mutu pendidikan yang dilakukan secara bertahap, sistematis dan terencana serta memiliki target dan kerangka waktu yang jelas agar dapat memenuhi atau bahkan melampaui standar nasional pendidikan.

Dalam keberjalanannya, usaha mencerdaskan bangsa masih mendapatkan banyak kendala. Masih banyak sekolah yang tidak memiliki fasilitas lengkap seperti buku diktat, perpustakaan dan laboratorium. Sekolah seperti ini kebanyakan terdapat di daerah tertinggal. Namun, di kota-kota besar juga masih banyak terdapat sekolah yang tidak memiliki fasilitas yang baik. Dampak dari fasilitas belajar yang kurang baik, para siswa menjadi kesulitan untuk mengikuti proses belajar di sekolah.

Mutu para pendidik juga belum terlalu memadai. Hal ini dapat dilihat dari adanya sekolah unggulan dan non unggulan di setiap daerah. Kualitas dan kuantitas pendidik juga tidak seimbang antara di kota-kota besar dan di daerah. Bahkan di beberapa daerah terpencil, sekolah hanya didatangi oleh pengajar satu kali per bulan. Para pengajar yang ditempatkan di daerah pedalaman lebih memilih untuk tinggal di kota ketimbang mengajar ke daerah karena faktor infrastruktur dan fasilitas mengajar.

Pengelola sekolah terkadang juga tidak berupaya optimal untuk meningkatkan kualitas guru dan fasilitas sekolah. Pemerintah sebagai pengawas dan pelaksana tanggung jawab pendidikan terkadang kurang memberikan intervensi terhadap pengelola sekolah. Akibatnya terdapat banyak sekolah yang tidak memenuhi standar nasional pendidikan. Bahkan di beberapa daerah terdapat perguruan tinggi swasta yang tidak memiliki izin operasi dari KOPERTIS. Hal ini sangat merisaukan masyarakat karena sudah banyak korban dari masyarakat. Masyarakat yang tidak tahu justru mendaftar dan berkuliah di perguruan tinggi ilegal ini dan membayar biaya perkuliahan namun ijazahnya tidak dapat dipakai untuk melamar pekerjaan.

Menyikapi hal ini, pemerintah perlu meningkatkan mutu sarana dan prasarana sekolah, mutu dan kuantitas serta penyebaran guru, dan metodologi pendidikan yang mendukung dan bukannya menekan siswa. Anggaran pendidikan yang besar (20 persen dari APBN) seharusnya sudah memadai untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Sayangnya, dalam pelaksanaannya, anggaran ini tidak sepenuhnya digunakan untuk pendidikan. Selain pengalokasian yang tidak sesuai kebutuhan, sebagian anggaran ini juga dikorupsi oleh oknum-oknum pendidikan, baik di internal pemerintah, maupun pengelola sekolah. Pemerintah harus tegas mengawasi penggunaan anggaran pendidikan karena lambannya peningkatan pendidikan akan menyebabkan kualitas warga negara Indonesia akan kalah bersaing dengan warga negara-negara lain.

Anak-anak bangsa tidak hanya membutuhkan ijazah dan surat kelulusan dari sekolah. Lebih dari itu, anak-anak bangsa harus mendapatkan pencerdasan pola pikir dan karakter. Dengan ini, mereka dapat mandiri dan bertanggung jawab bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negaranya. Oleh sebab itu, pemerintah harus tegas memperhatikan standar pendidikan dan izin sekolah serta perguruan tinggi. Pihak pengelola pendidikan harus menjadikan anak didik sebagai subjek utama yang harus dikembangkan. Karena itu, infrastruktur pendidikan harus berkualitas untuk membentuk anak-anak bangsa yang cerdas dalam pola pikir, mental, dan karakter.

Pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia bukannya menjadikan manusia sebagai robot pekerja. Pendidikan Indonesia seharusnya membentuk manusia-manusia Indonesia yang dapat berpikir mandiri, kritis, dan mau belajar sehingga setelah lulus, para insan intelektual ini dapat berkarya besar bagi pembangunan masyarakat, bangsa, dan negara. Semangat ini haruslah menjiwai benak setiap perangkat pendidikan sehingga upaya mencerdaskan anak bangsa dapat berjalan seperti yang dicita-citakan.

Tulisan ini dimuat di www.siperubahan.com 

Tuesday, 17 January 2012

Kumpul-Kumpul Membawa Perubahan


Manusia merupakan makhluk individu dan makhluk sosial. Sebagai individu, manusia memiliki unsur jiwa, jasmani dan rohani. Setiap manusia memiliki keunikan dan ciri khasnya tersendiri. Keunikan ini juga berkaitan dengan kemampuan, potensi diri, dan minat yang berbeda-beda. Tidak ada manusia yang persis sama, bahkan untuk yang kembar siam sekalipun. Sebagai makhluk sosial, manusia pada kodratnya adalah makhluk bermasyarakat yang harus hidup bersama manusia lainnya. Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan, potensi diri, dan minat manusia juga akan berkembang bila ia hidup di tengah manusia lainnya.

Terkait dengan hal di atas, secara sadar atau tidak sadar, manusia cenderung berkumpul dengan manusia lainnya yang memiliki kemampuan, potensi diri, dan minat yang mirip dengannya. Manusia membentuk perkumpulan, kelompok, ataupun organisasi sebagai wadah aktivitas bersama. Begitu juga dengan pemuda. Para pemuda membentuk perkumpulan di kampus, lingkungan rumah, masjid, gereja, atau komunitas lainnya. Banyak kegiatan yang dapat dilakukan di komunitas ini. Peminat tarik suara melakukan latihan vokal grup, pecinta diskusi melakukan kajian setiap minggu, dan lain-lainnya. Potensi, minat, dan kemampuan para pemuda pun semakin berkembang di komunitas ini.

Kumpul-kumpul di komunitas merupakan tempat kita untuk belajar di kala muda. Komunitas ini adalah laboratorium kehidupan, ruang persiapan bagi kita sebelum memasuki komunitas besar: masyarakat. Saat muda adalah waktu untuk mengasah kemampuan dan potensi diri, berbuat salah dan mengevaluasinya, serta kemudian melakukan perbaikan agar menjadi lebih baik lagi. Saat muda juga adalah saat untuk mencari minat, ke bidang mana nantinya akan bergelut kala terjun ke masyarakat. Peran komunitas sangat penting dalam menyiapkan para pemuda ini.

Realitanya, komunitas-komunitas ini cenderung hanya bermanfaat bagi individu dan komunitas itu  saja. Para pemuda menikmati pengembangan diri di komunitas ini, namun kurang memberikan manfaat ke luar komunitasnya. Komunitas seperti ini terkadang justru menjauhkan pemuda dari realita dan bukan sebaliknya. Para pemuda pun membentuk dirinya menjadi makhluk anti masyarakat yang hanya nyaman hidup di komunitas kecilnya saja.

Tak dapat dipungkiri, pemuda adalah generasi calon penerus yang suatu saat akan memimpin bangsa besar bernama Indonesia. Pemuda adalah pembawa perubahan bagi bangsa, baik itu perubahan menuju kebaikan ataupun kehancuran. Oleh karena itu, kumpul-kumpul yang selama ini membawa perubahan positif bagi individu anggotanya juga harus bermanfaat lebih, membawa perubahan positif bagi masyarakat dan bangsa. Para pemuda dan komunitasnya harus mau keluar dari zona nyaman dan berkarya bagi sekitar. Aksi dan karya tersebut tidak perlu muluk. Para pemuda memberi karya yang sesuai dengan potensi komunitasnya. Para pemuda harus berani memulai dari karya kecil, yang seiring dengan waktu akan berlanjut menjadi karya lebih besar lagi bagi masyarakat.

Kumpul-kumpul yang selama ini belum terlalu memberikan manfaat baik kepada anggota ataupun lingkungan sekitarnya juga harus mau berbenah diri. Komunitas tersebut harus melakukan evaluasi perbaikan sehingga komunitas ini dapat melakukan perannya dengan optimal, yakni menyiapkan para pemuda yang siap berkarya bagi masyarakat dan bangsa. Semakin banyak komunitas yang memiliki tujuan membangun bangsa akan semakin baik. Akan semakin banyak dihasilkan pemuda yang siap menggeluti bidang di masyarakat sesuai minat dan kemampuannya masing-masing.

Banyak hal bermanfaat yang bisa dilakukan oleh komunitas ini. Komunitas peminat diskusi dapat melakukan kajian tentang permasalahan yang sedang terjadi di masyarakat. Komunitas pemuda masjid atau gereja dapat melakukan kegiatan bakti sosial ataupun penyuluhan di lingkungan sekitarnya. Komunitas pecinta lingkungan dapat melakukan gotong royong membersihkan taman kota, dan banyak hal baik lainnya yang bisa dilakukan sesuai potensi dari komunitas masing-masing. Pada akhirnya, komunitas ini dapat belajar berdampak mulai dari hal kecil, dan kumpul-kumpul itu akan membawa angin perubahan baik bagi anggota, komunitas, masyarakat, dan bangsa.

Thursday, 10 November 2011

Veni, Vidi, Vici

Saya datang, saya lihat, saya menang. Bagi kita yang senang membolak-balik buku sejarah dunia tentunya pernah membaca pernyataan ini. Ya, kalimat ini diucapkan oleh Julius Caesar, jenderal dan konsul Romawi pada tahun 47 SM. Julius Caesar menggunakan kalimat ini dalam pesannya kepada senat Romawi untuk menggambarkan kemenangannya atas Pharnaces II dari Pontus dalam pertempuran Zela. Dalam bahasa Latin, kalimat ini kita kenal sebagai Veni, Vidi, Vici. (sumber: id.wikipedia.org, kata kunci: veni, vidi,vici)

Julius Caesar menggambarkan kisah kemenangannya dalam satu kalimat yang pendek. Namun, perjuangan yang harus dilakukan Caesar tentunya tidak semudah menuliskan kalimat singkat ini.  Akal Sang Jenderal dipenuhi ide dan pemikiran bagaimana memenangkan peperangan ketika dia datang dan melihat arena pertempuran. Butuh strategi yang mumpuni, persiapan yang matang, dan prajurit bertekad baja untuk memenangkan sebuah peperangan. Dan pasukan Romawi sangat beruntung memiliki seorang Julius Caesar sebagai pucuk pimpinan mereka. Sang jenderal memiliki karisma dan kemampuan untuk menjalankan itu semua. Pada akhirnya dia dapat menuliskan dengan tegas: Saya datang, saya lihat, saya menang. Sang jenderal telah memenangkan pertarungan dengan mudah.

Dalam konteks kekinian, apabila sosok tersebut hadir di tengah negeri, angan kita tentu akan menari dalam indahnya kemakmuran dan kemajuan Indonesia. Kemiskinan, ketidakadilan, dan korupsi akan bergidik mengenal karakter seperti Sang Jenderal. Namun sayang, orang yang memiliki sifat berani seperti Julius Caesar masih jarang ditemukan di bangsa ini. Sulit rasanya mencari pemimpin yang berani mengatakan kalimat ini -saya datang, saya lihat, saya menang- dan kemudian segera melakukan langkah-langkah kongkrit agar hal tersebut bisa terjadi.

Dari media dan informasi yang ada, kita dapat mengenal dan mengamati pejabat di bangsa kita. Mereka yang memegang posisi-posisi strategis seharusnya menjadi pemimpin kita dalam mengatasi permasalahan yang ada. Namun, dalam realita yang terjadi, pejabat bangsa kita yang sedang berada di tengah sebuah permasalahan, dia datang ke permasalahan tersebut. Bukannya melihat dan menjawab/memenangkan permasalahan, sang pejabat bersikap seakan permasalahan itu tidak ada. Dia tidak melihat adanya permasalahan tersebut.

Tidak jarang juga kita melihat pemimpin yang datang ke sebuah kondisi dan dia melihat adanya sebuah permasalahan. Namun, sang pemimpin tidak berusaha memenangkan permasalahan tersebut. Dia hanya membiarkan dirinya sebatas tahu, tanpa berusaha mengalahkan sang masalah. Akalnya seakan tidak ingin berpikir mencari ide memenangkan pertempuran dan memberikan kebahagiaan bagi rakyat yang menanti di belakangnya.

Kita juga tidak sedikit melihat pemimpin kita yang mengucap dengan lantang saya datang, saya lihat, saya menang, namun dirinya tidak berusaha melakukan tindak nyata untuk membuat kata-katanya terjadi. Dia menyangka ketika dia telah mengatakannya, maka hal yang diucapkannya itu telah terjadi. Pada akhirnya, kemenangan pun akan sulit diraih oleh bangsa ini; kemenangan di segala sektor dan bidang yang sudah letih akan penjajahan kemiskinan, ketidakadilan, korupsi, dan lainnya, dan lainnya.

Melakukan perubahan tidak segampang meneriakkan perubahan. Dibutuhkan strategi, persiapan dan tekad untuk merealisasikan sebuah impian menjadi kenyataan. Begitu juga dalam membawa kemenangan bagi bangsa ini; menang dari kemiskinan, menang dari ketidakadilan, menang dari korupsi dan lain sebagainya. Bangsa ini rindu akan orang yang memiliki karakter berani seperti Julius Caesar. Mengatakan dengan tegas; Veni, Vidi, Vici –saya datang, saya lihat, saya menang- dan kemudian melakukan tindakan dan langkah kongkrit untuk membuat kemenangan itu nyata; baginya, bagi rakyatnya, bagi bangsa dan negaranya.

Saturday, 27 August 2011

Agustus Yang Akan Segera Berakhir

Walau Agustus akan berlalu, bukan berarti kenangan akan Merah Putih yang berkibar juga akan berlalu. Masih ada sebelas bulan, yang bisa diisi oleh sikap pesimis akan perubahan, atau optimis akan kebangkitan.


September, Oktober, November, dan Desember, biarlah di setiap bulan ini Merah Putih tetap berkibar di hati kita yang juga terwujud nyata melalui tindakan-tindakan kita.


Januari, Februari, Maret, dan April, di bulan-bulan ini saatnya orang lain melihat rasa bangga akan bangsa ini tidak pernah pudar, dan justru terus meningkat seiring berjalannya waktu.


Mei, Juni, Juli dan kembali Agustus, doa dan harapan harus terus dilantunkan, karya nyata harus terus dilakukan, agar tangis Ibu Pertiwi bisa terhenti, dan senyum Anak-anak Pertiwi merekah dari Sabang sampai Merauke.


Sebuah lagu patriotik Indonesia karangan/ciptaan Ibu Sud yang sangat menginspirasi. Lagu tentang Ibu Pertiwi, lagu tentang Tanah Air.

Tanah Airku

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai


Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan


Perubahan ada di tangan para muda Indonesia. Hari ini saat kita untuk menggali ilmu dan ajaran, besok tiba waktu kita untuk menanam ilmu dan ajaran.

Semoga semangat itu terus ada di dada kita, kawan.
:)

Friday, 12 August 2011

Umurnya Tidak Jauh Dari Kita, Wolter Monginsidi

Robert Wolter Monginsidi nama lengkapnya. Kita sering menyebut nama ini ketika sedang mencari alamat rumah ataupun tempat, namun sangat disayangkan, kita jarang mendengar kisah apa yang ada di balik nama itu. Kita tidak mengetahui begitu indah cerita perjuangan dan pengorbanan dari sang Pahlawan Nasional, Pahlawan dari Tanah Minahasa.

Dilahirkan di tanah air tempat dia memberikan hati, pikiran, dan raganya pada 14 Februari 1925, di Malalayang, Manado. Gugur sebagai patriot di Pacinang, Makassar, 5 September 1949. Umurnya tidak sampai 25 tahun, sangat muda dan masih banyak hal yang seharusnya bisa dilakukannya, tapi pilihan untuk membela rakyat, bangsa, dan negara yang dicintainya membuatnya harus mati muda. Pilihan itu sendiri tidak diambilnya dengan setengah hati. Rela berkorban, sukacita, berani, dan ikhlas, justru itu yang terbersit di akhir hayatnya.

Berikut pesan dan kata yang diungkapnya kepada orang-orang terdekatnya, baik itu kala perjuangan membela ibu pertiwi, juga di saat-saat terakhir menumpahkan darah di tanah kecintaannya, Indonesia.

Pesan ini disampaikannya kepada Opie, adiknya. Bukti ketegaran dan keberaniannya yang tidak gusar menghadapi hari kematiannya.

"Apa yang saya bisa tinggalkan hanya rohku saja, yaitu roh setia hingga terakhir pada tanah air dan tidak mundur sekalipun menemui rintangan apa pun, menuju cita-cita kebangsaan yang tetap. Terbatas dari segala pikiran ini, junjunganku senantiasa Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan dengan kepercayaan yang tersebut belakangan ini sangguplah saya tahan segala-galanya, teguh iman di dalam kesukaran, tenang ketika keadaan sederhana dan tidak melupakan kenalan-kenalan jika berada dalam kemajuan. Ingatlah adikku bahwa kepergianku ini bukan jalan yang berbeda dengan yang lain. Perpisahan duniawi membawa manusia masuk ke pertemuan yang kekal. Sekalipun begitu gembira dalam hidup sebab itu pun pemberian Tuhan Yang Tertinggi di dunia."

Sebuah surat disampaikannya kepada teman baiknya, Milly Ratulangi, anak perempuan dari tokoh besar lain, pahlawan nasional Sam Ratulangi. Surat itu berisikan rasa masih ingin berjuang, di tengah kematian yang menanti. Betapa besar kecintaannya kepada tanah tumpah darahnya.

"Aku tidak mengandung perasaan tidak baik terhadap siapa pun, juga terhadap mereka yang menjatuhkan hukuman yang paling berat ini kepadaku karena kupikir mereka tidak mengetahui apa yang mereka kerjakan.... Untuk Tanah Air, saya sudah bulatkan hati menghadapi saat ini. Ah, Milly, apa yang saya hendak tinggalkan buat teman-temanku yang pernah mengenal kepadaku? Perjuanganku terlalu kurang tapi sekarang Tuhan memanggilku. Rohku saja yang akan tetap menyertai pemuda-pemudi.... semua air mata dan darah yang telah dicurahkan akan menjadi salah satu fondasi yang kukuh untuk tanah kita yang dicintai, Indonesia."

Darahnya juga tertumpah beberapa hari kemudian, menjadi fondasi, tiang yang kokoh, menyokong kehidupan kita saat ini di Tanah Air yang dicintainya, dan juga SEHARUSNYA kita cintai.

Kepada adiknya, Robbie, dia tidak lupa memberikan didikan dan ajaran.
Suratnya,

" ... bahwa sedari kecil harus tahu terima kasih, tahu berdiri sendiri ... belajarlah melihat kepahitan! ... Belajarlah bekerja mulai dari 6 tahun! ... Dan jadilah contoh mulai kecil, sedia berkorban untuk orang lain ... Untuk mengingat-ingat itu susah. Semua tidak ada yang gampang tapi terlalu susah pun tak ada juga. Bermain dengan temanmu, bekerja di kebun, bertanam, mencintai hasil usaha sendiri, menjadi penolong bagi kakakmu yang lebih tua, menjadi pembela dari yang lemah dan miskin, hormat pada orang tua, tahu mengaku bila bersalah, jangan mendapat sesuatu dengan jalan gelap dan sebagainya. Itulah, harus jadi darah dagingnya. Bekerjalah untuk kepentingan lain orang sedapat bisa. Itu bukan membuang tenaga percuma! Dan jadilah engkau sebagai adik dari kakakmu!"

Betapa luhur pikirannya. Betapa lurus jalannya. Dan kisahnya terbenam, hanya sebatas alamat jalan. Miris. Sangat disayangkan. Masih adakah Mongonsidi-Mongonsidi muda yang akan menggantikan tokoh bangsa ini?

Kata-kata Mongonsidi kepada keluarganya, lagi-lagi sebagai bukti nyata perpaduan keyakinannya yang teguh dengan kecintaannya kepada bangsanya.

"Saya telah relakan diriku sebagai korban, dengan penuh keikhlasan memenuhi kewajiban buat masyarakat kini dan yang akan datang. Pengertian tanah air Indonesia buat saya sendiri hampir-hampir saja sebagai suatu wujud yang berbentuk nyata sekali. Saya penuh percaya bahwa berkorban untuk tanah air mendekati pengenalan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Betapa kasihku kepada kamu sekalian dan kepada sukuku dan bangsaku tidaklah dapat kukatakan dengan kata-kata!"

Betapa dalam kecintaannya. Betapa kuat keyakinannya. Betapa tinggi.

Kisah, surat, dan tulisan ini saya kutip dari bab Menyumbang Pemimpin, buku Bangkit Memandu Bangsa karya Samuel Tumanggor. Beliau mengutipnya dari buku Jejak Kaki Wolter Mongonsidi: Sebuah Kisah Perjuangan karya S. Sinansari Ecip.

Alkisah mata sang penulis berkaca-kaca ketika menyalin kata-kata Mongonsidi, begitu juga saya ketika membaca dan menuliskan segelintir dari kisahnya. Kagum dan haru. Betapa besar tokoh ini!
Umurnya belum sampai 25 tahun ketika ajal menjemputnya, hanya berbeda dua tahun dari umur saya sekarang. Tapi pemikiran, kedewasaan, idealismenya sangat jauh, tidak dapat dibandingkan dengan saya saat ini. Betapa dalam, betapa kuat, betapa tinggi.
Menjalin dengan indah kecintaan kepada Tuhannya dan kecintaan kepada bangsanya, dan itu memang terpadu dengan baik melalui kisah hidupnya.


Sekali lagi saya bertanya, dan seharusnya kita bertanya, apakah masih ada Mongonsidi-Mongonsidi muda yang siap melanjutkan perjuangannya?

Ataukah kemapanan, kenyamanan, dan kemerdekaan ini telah membutakan kita dari 'penjajahan' yang masih terus berlangsung di tanah tumpah darah yang sangat dicintai Mongonsidi dan SEHARUSNYA sangat kita cintai juga?
Mari kita memikirkan dan menjawabnya bersama, wahai Mongonsidi-Mongonsidi muda yang sedang tertidur. Mari.

Terima kasih kepada b'sam yang telah mengenalkan tokoh ini kepada saya sehingga saya tidak sebatas mengetahui nama tokoh ini sebagai sebuah nama jalan di dekat tempat tinggal saya.


#Tulisan ini dibuat dalam rangka 17 Agustus, agar kita mengenang kisah para tokoh kita, yang telah memberikan fondasi kokoh untuk kehidupan yang kita jalani saat ini. Sudah SELAYAKNYA kita tidak terlena dengan kenyamanan, tapi tetap berjuang, melanjutkan kisah yang mereka rajut.

Thursday, 24 February 2011

Masihkah Tempat Itu Menjadi Tempat Sepasang Kaki Terhenti (Sebuah Perbincangan Santai Sebelum Tidur)

Durasi baca: 3-5 menit

Tulisan ini ditujukan untukmu. Ya, untukmu. Ini cerita tentangmu dan Si Dia. Si Dia yang selalu menunggumu. Si Dia yang sudah rindu akan setiap lantunan musik yang dulu pernah kau nyanyikan di samping telinganya. Si Dia yang sudah lama tidak menyaksikan gerak gemulai tarian yang kau tampilkan di depan matanya. Si Dia yang hanya bisa menunggu kehadiranmu di siang hari, mendengar segala hal cerita yang kau bincangkan dengan temanmu, namun tak satu pun yang menyinggung dirinya. Si Dia yang selalu menanti saat-saat dimana kau bersama yang lain berkumpul di depannya, berdiskusi tentang segala cita yang mungkin dicapai, dan bersatu untuk meraih tujuan yang telah ditetapkan. Ya, tulisan ini ditujukan untukmu, dan juga untuk Si Dia.


Tempat sepasang kaki terhenti
Di rumah budaya bangsaku
Kuikrarkan dalam jiwaku
Budayaku cermin bangsaku
Kuderapkan langkah bersatu
Menuju cita mulia


Teks diatas adalah sepenggal lirik hymne dari sebuah unit di suatu kampus ternama. Unit yang sudah berdiri sejak tahun 1978 dan tahun ini sudah berumur 32 tahun dan apabila dianalogikan dengan manusia, masa ini seharusnya merupakan masa dewasa dari kehidupan seseorang, kala dimana seseorang yang sudah belajar sejak muda mendedikasikan dan membaktikan dirinya bagi keluarga, teman, dan bangsanya. Masa dimana seseorang sudah bisa berbuat dan tidak hanya melihat saja. Masa ketika seseorang tidak lagi hanya memikirkan kemajuan dirinya, tapi juga memikirkan kemajuan lingkungan di sekitarnya. Ya, kira-kira seperti itu.

Bagaimana dengan unit ini sendiri?

Ketika menyanyikan hymne diatas, timbul berbagai pertanyaan di benakku,
Masihkah unit itu menjadi rumah budaya bangsa?
Apakah kader-kadernya masih mengikrarkan di dalam jiwanya, budaya merupakan cermin bangsanya?
Apakah langkah itu masih berderap bersatu menuju cita mulia di ujung jalan?
Dan masihkah tempat itu menjadi tempat sepasang kaki terhenti??

Beberapa pertanyaan yang seharusnya kita pertanyakan ketika kita menyanyikan hymne itu, agar hymne itu tidaklah menjadi nyanyian kosong tanpa arti, ataupun menjadi lirik yang sarat makna tanpa aksi. Demikianlah hymne itu dibuat untuk tidak hanya menjadi lagu yang harus dihapalkan ketika kita dulu berdiri dengan tekad dan semangat menggebu-gebu, menggedor-gedor pintu gerbang rumah itu, namun ketika gerbang sudah dibukakan, dan kita sudah masuk ke halaman rumahnya, hymne itu terus menjadi lagu yang dihapalkan, dan terus dihapalkan, tapi tanpa aksi. Kebanggaan pun akan timbul, tapi hanya kebanggaan yang semu, tanpa tindakan yang jelas.

Apakah benar seperti itu? Ini hanyalah asumsi, semoga tidak itu yang terjadi. Apabila tidak, mari kita berharap hal itu tidak akan pernah terjadi di rumah ini. Semoga setiap kader yang telah dan akan berdiri di depan pintu gerbang itu tidak hanya menghapalkan hymne itu, namun juga merasakan makna dari setiap kata yang diucapkan, dan melakukan tindakan dari rasa yang sudah mengalir di dalam dada.

Tapi kalau ternyata asumsiku ini benar, walau tidak semua kader, mungkin hanya segelintir, apa yang harus kita lakukan? Apakah hanya membiarkan hal itu terus terjadi? Dan Si Dia, rumah itu, hanya bisa terus menunggu, dan terus menunggu, tanpa bisa melakukan apa-apa. Karena memang begitulah kondisinya, rumah itu akan menjadi rumah seperti yang dinyanyikan di hymne itu, ketika para penghuninya melakukan sesuatu, namun hanya akan menjadi rumah kosong tanpa makna, ketika kita, para penghuninya memakainya untuk menjadi tempat persinggahan semata, bukan menjadi tempat sepasang kaki terhenti.

Jadi, bagaimana? Apa yang bisa kita lakukan? Sebelum kita melakukan sesuatu, mungkin ada satu pertanyaan yang harus dijawab terlebih dahulu. Apakah cita mulia itu? Apakah cita mulia yang menurut hymne ini harus dituju bersama dengan langkah bersatu?

Menurutku, dan juga beberapa kawan-kawanku, dan aku harap kau dan aku bisa berdiskusi bersama mengenai hal ini, karena mungkin aku dan kawan-kawanku masih keliru dalam memaknai cita mulia ini, tapi menurut kami cita mulia itu bukanlah bercerita tentang cita yang bisa dicapai saat ini. Cita itu bercerita tentang sesuatu yang akan terjadi nanti, tapi harus kita usahakan sejak saat ini dengan langkah yang berlelah namun tidak pernah berhenti untuk mencapainya. Bahkan ketika tiba saat dimana kita harus keluar dari rumah itu untuk melihat luasnya lingkungan di sekitar, cita itu mungkin masih belum juga tercapai dan kita pun masih harus terus melangkah untuk mencapainya. Namun karena sejak dibina di rumah itu kita terus memupuk rasa cinta untuk mencapai cita itu, maka ketika tiba saat ketika kita harus keluar dan berada di lingkungan yang lebih besar, keinginan untuk melangkah mencapai cita mulia itu seharusnya akan terus tertanam, di hatiku, hati kawan-kawanku, dan hatimu juga. Seharusnya seperti itu. Karena menurut kami, sebenarnya itulah peran dari rumah ini. Menyiapkan kader-kadernya selama masih di dalam rumah, agar memiliki kecintaan dalam mencapai cita mulia itu, sehingga ketika tiba saat untuk keluar rumah, kecintaan itu akan terus tertanam, dan hal besar bisa dilakukan untuk mencapai cita itu.

Cita seperti apakah itu? Apakah pelestarian budaya? Atau seperti apa? Jawabnya ya dan tidak. Ya untuk pelestarian budaya, tapi tidak apabila hanya pelestarian budaya. Apa yang bisa dilakukan seorang mahasiswa teknik untuk bisa melestarikan budaya? Apakah nantinya kita akan menjadi para seniman, pemusik, atau penari untuk melestarikan budaya ini? Tidak salah memang, tapi berdasarkan peran yang seharusnya kita lakukan, bukan sebatas itu yang bisa kita lakukan. Jadi, apa yang bisa kita lakukan?

Seperti yang  dianalogikan di awal tentang seseorang yang berumur 32 tahun, seharusnya yang kita lakukan sekarang tidaklah sebatas kita saja yang melestarikan budaya itu, tapi bagaimana agar orang lain juga melestarikan dan menghargai budaya itu. Bahkan juga bagaimana membuat budaya itu bisa dihargai di tempat asalnya, dan juga memancing orang-orang dari luar untuk ikut tertarik dan menikmati budaya itu. Akhirnya pelestarian budaya itu bisa berbuat banyak, tidak hanya membuat budaya itu tetap ada dan dilestarikan, tapi pelestarian budaya itu sendiri juga memberikan dampak yang baik bagi orang-orang yang melestarikannya, yaitu dengan peningkatan taraf hidup dan perekonomian mereka karena banyaknya orang-orang dari luar yang ingin menikmati budaya itu dengan datang ke tempat asal budaya itu. Berat dan luas cita itu, tapi memang begitulah, menurut kami. Itulah porsi yang seharusnya bisa kita kerjakan, agar kita tidak berhenti sebagai orang yang melestarikan saja, tapi juga membuat orang lain ikut menghargai dan melestarikan budaya itu.

Hal itulah yang menghasilkan kesimpulan bahwa cita itu mungkin baru akan terwujud nanti, tapi usaha-usaha yang kita lakukan sekarang bisa semakin mempercepat dan mempermudah terwujudnya cita itu nanti.

Usaha-usaha apa saja yang bisa kita lakukan??
Aku harap kita bisa berdiskusi disini.

Akhir kata, ada sebuah cerita, kisah fiksi tentunya, mohon maaf kalau ada kesamaan nama ataupun tempat.

Di sebuah kampus terdapat empat orang mahasiswa yang masih tingkat pertama. Mereka berasal dari daerah yang sama, namun tidak saling mengenal karena berbeda sekolah. Andi seorang mahasiswa dari suatu kabupaten yang jauh dari ibukota provinsi. Perekonomian keluarga dan penduduk di desanya pas-pasan dan dia memiliki keinginan untuk bisa memajukan daerahnya.

Johan adalah seorang mahasiswa yang memiliki jiwa idealis sejati. Sejak SMA dia sudah banyak membaca berbagai artikel di koran dan sering kali merasa kecewa dengan keadaan daerahnya. Dia pun berjanji untuk terus menanamkan idealisme itu selama kuliah agar ketika dia sudah kerja nanti, dia bisa melakukan perubahan yang berarti di lingkungan pekerjaannya.

Mahasiswa yang ketiga, tepatnya mahasiswi, bernama Tika. Dia hidup di dalam keluarga yang harmonis. Sejak kecil di dalam keluarganya sudah ditanamkan ketaatan dalam beragama dan akhirnya sekarang dia sudah memiliki jawaban panggilan hidupnya di dunia. Dia yakin bahwa dia memiliki tanggung jawab juga untuk bisa melakukan perubahan, sekecil apapun itu, untuk bisa membuat bangsa dan negaranya menjadi lebih baik lagi. Dan dia bertekad untuk terus memperkuat keimanannya dan juga kepeduliannya kepada sesama sehingga ketika sudah bekerja, dia bisa melakukan sesuatu yang berarti.

Dan mahasiswa yang terakhir bernama Roni. Dia adalah mahasiswa yang sangat pintar dan memiliki kemampuan akademik di atas rata-rata. Memiliki orangtua yang keduanya merupakan ilmuwan dan bekerja di LIPI membuatnya memiliki semangat untuk meneruskan jejak kedua orangtuanya. Dia bertekad menghasilkan sesuatu yang hebat untuk negaranya dan untuk mencapai itu, selama kuliah dia banyak membaca buku-buku di perpustakaan kampusnya.

Dari keempat mahasiswa ini, sepertinya kita bisa menyimpulkan satu kesamaan dari mereka, yaitu mereka memiliki cita yang sama, yaitu melakukan sesuatu untuk daerahnya, untuk bangsanya. Tapi sayang, keempat mahasiswa ini tidak pernah berjumpa selama di kampus, dan kesempatan menyatukan serta mendiskusikan pemikiran dan cita itu tidak pernah terjadi. Mereka juga tidak pernah berkeinginan mengajak kawan-kawannya yang lain untuk memiliki cita yang sama dan hanya menanamkan cita itu di benak mereka sendiri.

Akhirnya mereka bekerja di empat bidang yang berbeda, dan memang berusaha melakukan sesuatu di lingkungan kerja mereka, tapi karena setiap lingkungan kerja memiliki hubungan satu sama lain, dan perubahan tidak bisa dilakukan di satu lingkungan saja tapi secara menyeluruh. Dan karena tidak adanya kawan yang memiliki cita yang sama di lingkungan kerja lain, atau mungkin sebenarnya ada, tapi mereka tidak pernah saling mengetahui karena tidak pernah berjumpa sebelumnya, akhirnya mereka tidak mampu berjuang sendiri dan cita itu tidak pernah tercapai.


Bagaimana pendapatmu kawan?
Apakah kita akan seperti mereka? Tidak melakukan apa-apa untuk mencapai cita itu dan hanya menanamkan cita itu di benak kita sendiri. Kalau itu yang kita lakukan, mungkin seperti cerita di atas, akhirnya kita akan berjuang sendiri dan cita mulia itu tidak akan pernah bisa kita capai sekuat apapun kita melangkah mengejarnya.

Jadi, apa yang bisa kita lakukan?
Mari kita diskusikan disini kawan, karena kau lah sekarang, bersama kawan-kawan yang lain yang melanjutkan tongkat estafet perjuangan di rumah itu, sebab sedikit waktu lagi sebelum tiba waktu kami untuk keluar dari rumah itu, dan melakukan tugas dan tanggung jawab kami untuk melangkah mencapai cita mulia kita.


Masihkah tempat itu menjadi tempat sepasang kaki terhenti? Tempat untuk berhenti dan belajar banyak hal, memupuk rasa cinta dan keinginan untuk melakukan sesuatu, sebelum tiba saat untuk melangkahkan sepasang kaki, keluar dari rumah, menuju lautan perjuangan mencapai cita, yang mungkin tidak akan berhenti hingga akhir hayat. Aku yakin masih. Apabila kau mau, mari kita diskusikan itu disini. Agar teriakan yel-yel itu tidaklah menjadi teriakan semu tanpa tindakan. Ataupun menjadi sebuah arogansi tanpa aksi. Semoga tidak demikian.

Selamat malam kawan.


Rumah di Pulau Di Tengah Pulau

Bersama budaya lokal
Museum

Thursday, 2 September 2010

Menjadi Jawaban, Bukan Masalah

Jadilah terang jangan ditempat yang terang
Jadilah terang di tempat yang gelap

   Jadilah jawaban jangan hanya kau diam
   Jadilah jawaban diluar rumahmu

Oooooo… jadilah jawaban
Oooooo… jadilah terang

Jadilah garam jangan ditengah lautan
Jadilah harapan jangan hanya berharap
Jadilah jawaban jangan hanya ucapan
Jadilah jawaban jangan tambahkan beban

    Kedamaian yang kita inginkan
    Hanya ada bila hati kita bersama
(Terang, Glenn Fredly)


Malam ini sedang online bareng seorang teman dan tiba-tiba mendengar lagu ini keluar dari speaker laptopnya. Terang, karya Glenn Fredly. Sebelumnya sering mendengarnya dan entah kenapa kali ini maknanya benar-benar mengena. Mungkin ini karena selama beberapa minggu ini sangat banyak notes, status, dan lainnya di Facebook yang menuliskan tentang berdampak, kepedulian, menjadi terang, dan hal lainnya yang intinya sama, bagaimana kita sebagai mahasiswa harus bisa melakukan perubahan untuk membangun bangsa ini.

Sempat bertanya-tanya juga, kenapa kok tiba-tiba isu ini menjadi suatu hot news di kalangan mahasiswa. Ada yang bisa menjawabnya? Hehe. Mungkin saatnya kita main tebak-tebakan.
Apa mungkin karena bulan Agustus dan semangat kemerdekaan masih ada di dada setiap orang. 
Atau karena isu sedang memanasnya hubungan Indonesia dengan Malaysia di kawasan Selat Malaka. 
Atau mungkin karena begitu bobroknya keadaan sosial dan politik Indonesia saat ini, dimana para pejabat negara, anggota DPR, bahkan pihak-pihak di bidang hukum seperti hakim, pengacara, dan polisi  tidak menunjukkan kapabilitasnya sebagai orang-orang yang mengemban amanat rakyat. 

Mmmm, banyak kemungkinan penyebabnya. Tapi segala hal yang dituliskan itu, perubahan, perbaikan, pembangunan, dan lainnya akan sia-sia kalau hanya menjadi sebuah cerita untuk tidur, dimana enak untuk didengar saat itu, tapi ketika kita sudah terbangun, kita lupa akan cerita tersebut.

Apakah akan seperti itu?
Sepertinya tidak, dan aku harap tidak.
Saatnya perubahan terjadi di Indonesia.
Saatnya Indonesia kembali bangun dari tidurnya yang panjang, dan raksasa itu bisa bangkit dari keterpurukannya.
Saatnya tawa itu keluar dari mulut seorang anak, bukan hanya dari kota-kota besar, tapi juga dari setiap desa, di penjuru daerah di Sabang sampai Merauke.
Saatnya senyum itu keluar dari wajah seorang tua, bukan hanya di gedung-gedung tinggi, tapi juga di rumah-rumah di pinggiran kota, dimana setiap orang bisa merasakan bangsa yang kaya ini bisa berkembang dan bangkit dari ketertinggalan.

Suatu hal yang muluk kah?
Kalau sekarang pasti iya, karena hal itu memang tidak mungkin terjadi saat ini.
Itu terjadi nanti.
Tapi sesuatu yang nanti akan sangat ditentukan oleh apa yang terjadi saat ini.

Ketika para mahasiswa, terkhusus yang sudah sadar akan arti pentingnya kehadirannya memilih untuk sekedar menuangkannya saja di sebuah status ataupun note tanpa berusaha melakukan perubahan berarti sejak saat ini, maka nanti itu mungkin hanya akan menjadi sebuah impian yang sangat indah untuk dibayangkan.
Tapi, ketika setiap kita berani untuk melakukan perubahan, sekecil apapun itu, dan juga membagikan apa yang sudah kita sadari itu ke orang lain, sehingga barisan kita akan semakin kuat, mulai saat ini, yakinlah, nanti itu bukan hanya sekedar mimpi, perubahan itu pasti akan terjadi.
Dan itu PASTI akan terjadi nanti.


Jika rumah menjadi gelap karena malam tiba, tidak ada gunanya menyalahkan rumah itu, sebab itulah yang terjadi kalau matahari tenggelam. Pertanyaan yang perlu kita ajukan ialah:
'Dimana lampu-lampunya?'

Jika daging menjadi busuk dan tak termakan lagi, maka tidak ada gunanya menyalahkan daging itu, karena itulah yang terjadi bila kuman-kuman dibiarkan membiak di dalamnya. Pertanyaan yang harus dikemukakan ialah: 'Dimana garam-garamnya?'
(Isu-Isu Global, John Stott, hal. 88)


Tidak ada gunanya lagi menyalahkan para pejabat, anggota DPR, polisi, dan setiap orang yang mungkin membuat Indonesia seperti ini karena mereka mungkin tidak tahu apa itu makna dari integritas, pengabdian, dan lainnya. Atau mungkin mereka tahu tapi tidak tahu seperti apa implementasinya. Haha. Capek juga memikirkan hal itu.

Dan tidak ada juga gunanya kita berdoa agar Indonesia berubah dan menyerahkan perubahan itu kepada mereka-mereka ini. Sia-sia semua doa dan harapan itu kalau bukan kita yang melakukannya teman, kita yang mungkin tahu tentang itu dan memang harus kita.

Dan segala hal yang mendukung kesana, integritas, kepedulian, dan lainnya tentunya harus dipupuk dari sekarang agar bisa tertanam kuat di diri kita masing-masing sehingga itu akan menjadi buah yang enak untuk dirasakan nantinya. Agar segala hal itu bisa terus ada, dan bukannya hilang seiring waktu ketika kita sudah menjadi alumni.
Karena banyak alumni-alumni, yang dulunya ketika masih menjadi seorang mahasiswa, dia memegang idealisme, namun ketika sudah terjun ke apa yang dulu ditentangnya, dia hanya bisa menyimpan segala idealismenya, dan justru terikut dengan arus yang ada.

Bagaimana kita 10 atau 20 tahun lagi bisa peduli, berintegritas dan mengubah Indonesia di bidang kita masing-masing kalau hal itu tidak dilatih sejak muda.
Bagaimana kita bisa melatih itu sejak muda, kalau pada saat muda saja kita tidak peduli hal itu dan hanya berfokus kepada diri sendiri.
Siapa, apa, bagaimana kita pada saat sekarang ini menentukan seperti siapa, apa, bagaimana kita 10,20 tahun mendatang.

Saatnya kita mulai dari sekarang, dan saatnya juga untuk mendiskusikannya dengan teman-teman kita yang lain.
Karena tentunya perjuangan itu tidak bisa dilakukan sendiri. Semakin kuat barisan kita, akan semakin mantap hasilnya.
Saatnya kita, di lingkungan kita masing-masing memperkuat barisan kita.
Untuk Indonesia yang lebih baik, nanti, dan proses itu kita mulai dari detik ini.

Sepertinya mulai berapi-api ya. Mungkin karena malam yang semakin dingin dan butuh penghangat sama seperti kondisi bangsa ini juga masih sulit untuk bangkit dan butuh generasi pejuang, yang berani menjadi jawaban, bukan masalah.

Dan tentunya, berputarnya lagu Terang, karya Glenn Fredly tadi, ataupun semua notes dan status tadi yang sedang banyak berkeliaran di dunia maya bukanlah sebuah kebetulan belaka.
Itu pasti merupakan sebuah awal untuk PERUBAHAN INDONESIA MENJADI BANGSA YANG LEBIH BAIK.

kapal itu aman di pelabuhan,
tapi bukan untuk itu tujuan kapal diciptakan.
(William Shedd)

begitu juga dengan kita,
ada untuk MENJADI JAWABAN, BUKAN HANYA DIAM ATAUPUN MENJADI MASALAH.

Saatnya memulai teman,
Saat kita telah tiba.
Mari kita tuliskan lembar sejarah kita.

MERDEKA!!
haha.

-shtmps-

Tuesday, 31 August 2010

Para Pemimpin Bangsa

Plaza Widya Nusantara


supaya kampus ini menjadi tempat anak bangsa menimba ilmu,
belajar tentang sains, seni, dan teknologi;

supaya kampus ini menjadi tempat bertanya,
dan harus ada jawabnya;


supaya kehidupan kampus ini membentuk watak dan kepribadian;

supaya lulusannya bukan saja menjadi pelopor pembangunan,
tetapi juga pelopor persatuan dan kesatuan bangsa.


untuk kawanku, sahabatku, saudaraku

selamat dan sukses,
kata yang pasti sudah sering kalian dengar beberapa waktu ini,
dan akan kembali kutuliskan disini kepada kalian.
selamat dan sukses selalu untukmu sahabat.
akhirnya kau telah menyelesaikannya dengan baik.

empat tahun, lima tahun, enam tahun,
tak terasa sudah selama itu kita berjuang di bumi ganesha,
selama ini kita berpikir itu waktu yang lama,
dan aku yakin, kawan-kawan beberapa hari ini merasa waktu itu berlalu begitu cepatnya,
dan rindu untuk mengulang masa-masa itu.

bagaimanapun,
perjuangan di bumi ganesha sudah berakhir,
dan saatnya yang lebih muda yang meneruskan perjuangan di medan tempur ini.
dan bagi kawan-kawan yang sudah mendapat kenaikan jabatan dengan pangkat 'S' menempel di belakang nama, :)
saatnya memulai perjuangan baru di medan tempur yang jauh lebih berat,
bumi Indonesia.

bukan empat tahun, lima tahun, enam tahun,
tapi empat puluh tahun, lima puluh tahun, enam puluh tahun,
selama Yang Diatas masih memberikan kita kesempatan hidup di bumi ini, selama itulah perjuanganmu teman.
dan semoga apa yang sudah didapat di bumi ganesha,
bisa menjadi bekal berharga dalam perjuanganmu, di bidang masing-masing.

saatnya dirimu beralih,
dari yang sudah diajar, menjadi yang mengajar,
dari yang sudah diberikan banyak hal, menjadi yang memberikan banyak hal.
saatmu telah tiba teman.


Mentari menyala disini
Disini di dalam hatiku
Gemuruhnya hingga disini
Disini di urat darahku


    Meskipun tembok yang tinggi mengurungku
    Berlapis pagar duri sekitarku
    Tak satupun yang sanggup menghalangiku
    Menyala di dalam hatiku


Hari ini hari milikku
Juga esok masih terbentang
Dan mentari kan tetap bernyala
Disini di dalam hatiku...


tak ada perjumpaan tanpa perpisahan,
namun di kesempatan ini aku tak akan mengucapkan salam perpisahan,
karena aku berharap,
kita akan berjumpa lagi suatu saat nanti,
bercengkrama, bertukar tawa,
membagikan banyak hal,
bercerita tentang kisah perjuangan kita di medan perjuangan kita masing-masing.
dan semoga kisah perjuangan itu bukan sebuah kisah pendek, namun merupakan sebuah kisah yang panjang, dipenuhi kegagalan dan kesuksesan, dimana itu semua bisa membangun karakter kita menjadi lebih baik lagi.
semoga dirimu bisa memberikan yang terbaik dari yang terbaik yang sudah didapat di kampus ini.

sukses selalu untukmu sahabat,
dulu pada saat dirimu masuk, engkau disambut dengan tulisan CALON PEMIMPIN BANGSA,
sekarang saatnya aku memanggilmu,
SANG PEMIMPIN BANGSA!
semoga semangat itu terus mengalir di urat darahmu!!

Kemana langkahku pergi
S'lalu ada bayangmu
Ku yakin makna nurani
Kau takkan pernah terganti


Saat lautan kau sebrangiku
Janganlah ragu bersauh
Ku percaya hati kecilku
Kau takkan berpaling

medan perjuangan selanjutnya seluas lautan,
tetap fokus ke matahari sebagai patokan,
pasti sampai ke tujuan akhir.
tetap semangat,
dan nikmati semua permasalahan yang ada.


SAMPAI JUMPA BRO AND SIS!!
Good luck!


salam hangat,
sahabatmu yang masih berjuang :)