inspirasi

inspirasi
Showing posts with label dampak. Show all posts
Showing posts with label dampak. Show all posts

Tuesday, 24 March 2015

Sudut Kehidupan Akhirnya Pensiun

Akhirnya "Sudut Kehidupan" harus pensiun dari tugasnya. 

Setelah bertahun-tahun memilih "Sudut Kehidupan" menjadi tema dari blog ini, hari ini aku memutuskan untuk menggantinya dengan tema lain yang selama beberapa bulan lalu menjadi tagline pribadi. Tagline ini bernama #KegembiraanBersama.

Sebelum membahas tagline baru ini, ada baiknya kita mengenang jasa "Sudut Kehidupan" yang sudah menemani kita saat berselancar di blog ini. Ucapan terima kasih yang besar sudah sepantasnya diberikan kepada "Sudut Kehidupan" karena telah memberikan sudutnya menjadi tempat kita berbagi dan bercerita. Di sudutnya kita bertemu dan berpisah. Di sudutnya pula kita menangis dan tertawa.

Kenapa dulu aku memilih "Sudut Kehidupan" menjadi tema blog ini? 
Tentu tema itu tidak muncul begitu saja.  

Saat itu tahun 2010 saat aku mulai mengetikkan cerita di blog ini, Masa itu, bagiku dan mungkin bagi banyak pemuda lainnya, adalah fase mencari jati diri. Aku baru saja berumur 21 tahun, dan keistimewaan itu membuatku sudah termasuk dalam kategori "di atas 21 tahun". Banyak hal, baik dan buruk, positif dan negatif, yang dikaitkan dengan umur 21 tahun. Bisa kita simpulkan, umur 21 tahun adalah fase kritis bagi seorang pemuda. Apakah setelah umur 21 tahun kita menjadi orang baik atau buruk, menjadi orang yang membawa manfaat atau mudarat.


Ternyata kegalauan pemuda pada fase itu juga merasuk dalam kehidupanku. Maka jadilah aku terkadang harus berhenti sejenak di sudut kehidupan. Melihat ke belakang, untuk mengevaluasi setiap langkah yang kulalui. Memandang ke kiri dan ke kanan, untuk memahami bagaimana diriku sekarang. Dan menatap ke depan, untuk mencari tahu, jalan mana yang akan kulalui esok hari.

Maka di "Sudut Kehidupan" aku merenung, dan di sudut ini juga aku berusaha memahami jati diriku, tujuan aku dilahirkan, alasan kenapa aku harus ada. Di sudut ini aku menyesali kesalahanku, terkadang juga menertawakan kebodohanku. Dan lebih dari itu, di sudut ini juga aku akhirnya menemukan keping demi keping puzzle kehidupanku, yang berusaha kususun satu per satu setiap aku berhenti sejenak di "Sudut Kehidupan". 

Jadi inilah aku, begini adanya, dengan setiap kelebihan dan kekurangan yang dianugerahkan Tuhan kepadaku. Dan setelah bertahun-tahun perenungan di "Sudut Kehidupan", maka kutemukanlah nilai hakiki yang harus kujalani, yakni menjadikan hidup sebagai #KegembiraanBersama.




Dan disinilah #KegembiraanBersama menjadi tagline yang menggantikan “Sudut Kehidupan”.

     


Fase merenung sudah usai, walaupun ke depan juga kita harus tetap berhenti sejenak untuk merenung, mengevaluasi setiap jalan yang kita pilih dalam petualangan kehidupan ini. Namun, saat ini adalah saatnya untuk bertindak aktif, menjadikan diri kita berarti, baik bagi diri kita sendiri, orang di sekitar kita, terutama berarti untuk Sang Pencipta.


#KegembiraanBersama adalah penemuanku akan arti kehidupan. Bahwa hidup ini sebenarnya penuh dengan kegembiraan dan keindahan. Dan hidup yang gembira ini akan semakin indah ketika kita dapat berbagi dengan orang lain sehingga hidup kita menjadi kegembiraan milik bersama.

                                                 


Terima kasih “Sudut Kehidupan” dan  selamat datang #KegembiraanBersama.

                                                 

                              

Wednesday, 2 April 2014

Dampak Jejaring Sosial Terhadap Perubahan Sosial Masyarakat


A.    Perkembangan Jejaring Sosial
Pada awal abad yang baru ini, peradaban dunia dibawa ke dalam situasi yang paradoks. Di satu sisi, globalisasi telah melahirkan kesadaran manusia sebagai penghuni satu bumi. Sekat ruang dan waktu terasa sirna dihempas gelombang teknologi yang merambah dunia, akselarasi informasi dan komunikasi yang tak lagi mampu dihambat, yang semuanya itu menciptakan fenomena yang mengglobal. Namun di sisi lain, globalisasi pun telah merangsang munculnya kecenderungan lokalisasi, seperti munculnya aliansi regionalisme ekonomi, menguatnya kesadaran etnik, serta pencarian jati diri dari berbagai komunitas, beserta faham-faham yang menyertainya seperti gerakan fundamentalisme agama, militansi etnik, solidaritas teritorial dan berbagai fenomena komunitas lainnya.
Dalam realitas kebangsaan Indonesia, fenomena global juga memberikan dampak terhadap paradigma masyarakat. Pada satu sisi fenomena ini mendorong masyarakat untuk mencapai kesejahteraan hidup dalam kehidupan sebagai satu bangsa. Namun, pada sisi yang lain, bangsa ini telah memasuki ruang-ruang kepentingan komunitas, kelompok, dan kepentingan primordialisme lainnya yang merasuk dalam berbagai dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu kehidupan politik, ekonomi, sosial, budaya dan masyarakat.
Tak dapat dipungkiri bahwa bangsa Indonesia telah cukup lama berdaya upaya untuk menggagas demokrasi. Banyak pihak berpendapat bahwa demokrasi berakar pada nilai-nilai budaya bangsa, karenanya demokrasi bukanlah sesuatu yang baru bagi Indonesia, akan tetapi realitas yang ada adalah bahwa bangsa ini belum berhasil merumuskan konsep demokrasi yang substansial. Pembangunan demokrasi sangat erat kaitannya dengan partisipasi aktif masyarakat sebagai subjek dari demokrasi tersebut. Masyarakat harus memiliki kesadaran dan kepekaan untuk memainkan perannya dalam mendorong terjadinya pembangunan yang adil dan merata bagi segenap rakyat Indonesia.
Dalam perjalanan waktu, masyarakat Indonesia harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman yang ada sekarang ini. Perkembangan teknologi informasi, akulturasi budaya, ekonomi global, dan banyak perkembangan zaman lainnya seharusnya tidak menjadi hambatan masyarakat dalam menjalankan perannya melakukan perubahan bagi dirinya dan lingkungan sekitarnya. Masyarakat harus bersifat dinamis menyesuaikan diri dengan zaman, namun tetap mengedepankan aturan dan norma-norma yang berlaku di Indonesia. Sehingga walaupun mengikuti perkembangan yang terjadi di dunia, masyarakat tetap menjunjung tinggi kultur khas dari bangsa Indonesia.
Masyarakat Indonesia sekarang ini sudah mulai fasih memberdayakan teknologi informasi. Masyarakat menggunakan media sosial untuk berbagai aktivitas seperti bisnis online, publikasi kegiatan, menyampaikan gagasan, ataupun sekedar bertegur sapa dengan teman dan kolega. Kecenderungan masyarakat saat ini juga lebih suka sesuatu yang instan, cepat, dan tidak menghabiskan waktu. Fenomenanya dapat kita lihat bersama. Masyarakat yang dulu lebih senang berlama-lama membaca koran cetak, sekarang ini sudah cukup puas dengan membaca berita di twitter ataupun membaca koran secara dijital sambil naik angkutan umum ke tempat kerja/kampus. Kita dapat melihat di angkutan umum seperti busway, angkot, kereta, dan angkutan massal lainnya, masyarakat menggunakan waktu perjalanannya untuk berselancar di dunia maya. Bahkan tidak jarang dalam sela-sela aktivitas kerja ataupun belajar, masyarakat menyempatkan diri untuk berjejaring sosial.
Saat ini telah banyak jasa jejaring sosial yang tersedia untuk diakses oleh masyarakat. Mulai dari Friendster yang ramai digunakan oleh masyarakat Indonesia di tahun 2002-2006, dilanjutkan dengan Facebook, MySpace, YouTube, Flickr, Twitter, dan lainnya. Setiap jejaring sosial menyediakan fasilitas yang unik dan berbeda-beda. Beberapa contohnya antara lain:
Friendster
Friendster merupakan salah satu jejaring sosial pertama yang populer di Indonesia. Jejaring sosial ini menawarkan konten dimana pengguna bisa membuat sebuah profil yang bisa terhubung ke profil orang lain. Kita dapat mengunggah foto ataupun menuliskan aktivitas kita di profil yang kita buat. Jejaring sosial ini populer pada awal tahun 2002 hingga 2006.
YouTube
YouTube adalah sebuah situs yang menyediakan konten untuk berbagi video, audio, berita, dan lainnya. Kita dapat mencari, mengunggah, ataupun mengunduh berbagai jenis data di website ini. Umumnya masyarakat menggunakan jejaring sosial ini untuk berbagi video dan berita. Salah satu birokrat yang aktif memberdayakan jejaring ini adalah Wakil Gubernur DKI Jakarta. Pak Basuki melalui timnya rutin mengunggah video rekaman rapat Pemda DKI Jakarta, ataupun aktivitas-aktivitas Wakil Gubernur lainnya.
Facebook
Facebook adalah jejaring sosial paling populer yang masih digunakan masyarakat hingga saat ini. Facebook didirikan oleh Mark Zuckerberg pada tahun 2004. Jejaring sosial ini menawarkan konten dan fasilitas yang lebih lengkap dari jejaring sosial lainnya. Fasilitas yang diandalkan dari jejaring ini antara lain konten chat, berbagi foto dan video, beragam permainan Facebook, ataupun dapat berbagi status maupun catatan (note). Saat ini ada lebih dari 600 juta orang di dunia yang menggunakan Facebook dan Indonesia merupakan salah satu negara penyumbang pengguna terbanyak.
Twitter
Twitter adalah jejaring sosial yang menfokuskan diri pada micro-blogging. Namun fokus ini menjadi keunggulan tersendiri dari Twitter. Twitter memungkinkan kita untuk mengikuti (follow) teman maupun orang lain yang ingin kita ketahui aktivitasnya. Kita juga dapat berbagi informasi terkini melalui jejaring ini. Twitter banyak digunakan oleh tokoh-tokoh masyarakat maupun artis untuk menyampaikan aktivitasnya maupun pemikiran-pemikiran dari tokoh-tokoh tersebut. Bahkan berbagai situs baik situs berita, lembaga pemerintahan, perusahaan, dan lainnya menggunakan media ini untuk menyampaikan aktivitasnya.
Change.org
Change.org adalah jejaring sosial yang digunakan sebagai wadah bagi masyarakat untuk memberikan petisi terkait suatu kondisi ataupun permasalahan. Banyak digunakan oleh masyarakat global untuk mengangkat isu-isu yang terjadi di lingkungan dunia. Masyarakat Indonesia sendiri mulai menggunakannya pada tahun 2010. Banyak permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat yang kemudian diangkat melalui media ini seperti terkait ekosistem Gunung Leuser, stop mobil murah, dan kampanye-kampanye lainnya.

B.    Perubahan Sosial
Fenomena belakangan ini, Gerakan-gerakan di Timur Tengah, Brasil, dan negara-negara lainnya yang merintis terjadinya perubahan sosial diawali dengan gerakan di media sosial. Diskusi-diskusi yang selama ini dilakukan secara bertatap mata di dunia nyata juga mulai beralih ke dunia maya. Oleh karena itu, di era sekarang ini media sosial telah menjadi salah satu ujung tombak gerakan pemikiran dalam mendorong terjadinya perubahan sosial di tengah masyarakat.
Berbagai lembaga seperti lembaga pemerintah, perusahaan, lembaga masyarakat seperti NGO dan LSM mengganggap teknologi informasi ini penting sehingga memiliki pengurus/pegawai di bidang komunikasi. Mereka memiliki tugas untuk rutin mengunggah setiap informasi aktivitas dan data terkait tugas dan tanggung jawab dari lembaga tersebut. Harapannya masyarakat ataupun pendukung lembaga tersebut akan mendapatkan perkembangan aktivitas lembaga tersebut secara update.
Saat ini, informasi bisa diakses oleh masyarakat dengan cepat. Berita yang terjadi di pulau bahkan belahan dunia lain dapat diketahui hanya dalam hitungan menit bahkan detik. Ini jauh berbeda dengan era sebelum perkembangan teknologi informasi dimana informasi ataupun berita baru bisa diketahui setelah menunggu beberapa hari, minggu, bahkan bulan. Kondisi ini memberikan pengaruh terhadap perubahan sosial. Masyarakat, baik di perkotaan maupun perdesaan, ataupun di pusat maupun daerah dapat mengetahui setiap informasi dan berita yang terjadi di tengah masyarakat dalam waktu yang cepat. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh gerakan sosial di Brazil dan Timur Tengah, dan beberapa kali juga dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia.
Masyarakat Indonesia mulai memberdayakan jejaring sosial untuk melakukan advokasi dan kampanye terhadap berbagai permasalahan masyarakat maupun kebijakan yang tidak sesuai dengan kehendak masyarakat. Dalam prakteknya, beberapa kampanye dan advokasi yang dilakukan dengan jejaring sosial berhasil mencapai tujuannya. Kita dapat mengingat kampanye “koin untuk Prita” yang didukung oleh ribuan masyarakat yang bahkan tidak pernah kenal ataupun bertemu dengan Prita. Begitu juga sekarang ini banyak kampanye yang sedang dijalankan, baik melalui media Facebook, Twitter, Change.org, dan lainnya.
Dalam artikel koran Kompas bulan November lalu, dituliskan topik tentang Demokrasi Digital. Terdapat tiga pembagian generasi sesuai dengan perkembangan zaman. Adapun pembagian tersebut antara lain:
  1. Generasi X = lahir pada tahun 1966 – 1976 (konservatif)
  2. Generasi Y = lahir pada tahun 1977 – 1994 (transisi)
  3. Generasi Z = lahir pada tahun 1995 – 2005 (baru/ICT)
Saat ini yang menjadi pemimpin di Indonesia dalam berbagai bidang (sosial, politik, budaya, dan lain-lain) masih generasi X. Sementara itu, generasi Y yang adalah generasi transisi teknologi sudah mulai masuk ke dalam sistem. Dan dalam waktu yang tidak lama, generasi Z juga akan segera masuk ke dalam sistem. Hal ini akan berdampak terhadap kondisi sosial masyarakat. Tingkat pendidikan masyarakat Indonesia belum merata, termasuk dalam hal pemahaman terkait pemanfaatan teknologi informasi, khususnya jejaring sosial. Oleh karena itu, pemerintah maupun stake holder di dalam masyarakat harus menyikapi perkembangan ini dengan seksama agar perkembangan teknologi ini dapat membawa manfaat terhadap perkembangan pembangunan masyarakat dan bukannya mudarat.

C.     Dampak Negatif Jejaring Sosial
Dampak negatif dari jejaring sosial ini adalah pemanfaatan jejaring sosial yang tidak sesuai dengan fungsinya. Berbagai aksi kejahatan dapat terjadi melalui jejaring sosial. Maraknya penipuan melalui media sosial, pencemaran nama baik, pencurian identitas, peredaran narkoba, akses pornografi dan pornoaksi, serta beragam tindak kejahatan lainnya. Selain itu penggunaan jejaring sosial yang tidak sesuai dengan umur juga memberikan dampak terhadap mental masyarakat, khususnya anak-anak. Anak-anak yang terlalu cepat mengakses jejaring sosial dan kurang mendapat pembinaan dari guru ataupun orangtua akan membuat anak tersebut cenderung anti sosial. Anak tersebut akan lebih senang bersosial melalui jejaring sosial ketimbang melalui aktivitas pertemanan di dunia nyata. Selain itu anak yang mudah mengakses jejaring sosial akan lebih rawan terkena aktivitas kejahatan di dunia maya seperti mengakses situs pornografi, pencurian anak, dan lainnya.
Dalam aktivitas gerakan sosial, penggunaan jejaring sosial juga memberikan dampak negatif. Masyarakat lebih berani berkomentar di media sosial, namun tapi tidak berani mempertanggungjawabkan pendapatnya di dunia nyata. Tidak jarang jejaring sosial digunakan untuk mencemarkan nama baik individu maupun institusi. Beberapa pelaku terorisme juga mengaku belajar merakit bom melalui jejaring sosial. Gerakan-gerakan primordial, anti SARA juga berkembang melalui jejaring sosial. Banyak situs dan akun-akun dunia maya yang menghina suku, agama, ataupun golongan lainnya. Apabila tidak ada hukum yang mengatur pemanfaatan media teknologi informasi ini, dikuatirkan hal ini akan membawa dampak negatif terhadap masyarakat bahkan mengganggu keamanan, ketertiban, dan kedamaian di tengah masyarakat.
Untuk mengatasi berbagai permasalahan yang timbul dari penyalahgunaan teknologi informasi, termasuk jejaring sosial, pemerintah mengeluarkan UU No. 11 Tahun 2008 yang berisikan tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Terdapat sanksi baik pidana maupun uang terhadap berbagai pelanggaran yang ditimbulkan dari penyalahgunakan teknologi informasi ini. Sudah terdapat beberapa tindak pidana yang ditujukan kepada pelanggar UU No. 18 Tahun 2008. Dengan adanya undang-undang ini diharapkan dapat menjadi batasan bagi masyarakat yang bebas memanfaatkan jejaring sosial ini.
Namun, selain lewat pendekatan peraturan untuk menangani penyalahgunaan jejaring sosial, pemerintah dan berbagai lembaga masyarakat perlu melakukan pelatihan dan lokakarya bagi masyarakat sebagai langkah pencegahan, mulai dari tingkat anak-anak, remaja, hingga orang tua. Dengan ini, masyarakat akan mengerti bagaimana menggunakan teknologi informasi dan jejaring sosial yang baik dan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Dengan adanya pendidikan ini, harapannya jejaring sosial dapat mendukung terjadinya perubahan sosial yang positif dalam masyarakat sehingga dapat lebih cepat mencapai pembangunan yang dicita-citakan.

Daftar Pustaka
Saswinadi Sasmojo, Sains, Teknologi, Masyarakat, dan Pembangunan, Bandung, Program Pascasarjana Studi Pembangunan ITB, 2004.
UU No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik

*Mahasiswa S2 Studi Pembangunan
Institut Teknologi Bandung

Tulisan ini dimuat di www.vicaraveritas.com

Thursday, 19 July 2012

Enam Tahun, Selanjutnya Apa?


Enam tahun, masa pembentukan di Kawah Candradimuka, Laboratorium Kehidupan, Kampus Ganesha, Institut Teknologi Bandung.
Enam tahun, proses belajar dalam indahnya suka dan duka, senang dan sedih, serta ringan dan berat.
Enam tahun, waktu yang tidak cepat, juga tidak lama.
Enam tahun, selanjutnya apa?

 
Naik kereta dari Medan ke Rantauprapat dan melihat alam di sepanjang jalur rel kereta. Menyaksikan jutaan pepohonan yang terhampar luas, diselingi rumah-rumah kecil terkadang gubuk. Ada yang dilapisi dinding bersemen, terkadang hanya batu bata telanjang, dan tidak jarang hanya diselumuti papan juga triplek.
Enam tahun merasakan fasilitas kuliah, selanjutnya apa?


Menyeberangi jembatan di jalanan Medan, terbentang lebarnya sungai Babura dan Deli. Terpampang bantaran sungai yang penuh warna. Ibu-ibu yang mencuci bajunya sampai bersih dengan air sungai yang kotor. Anak-anak kecil yang bersukaria mandi di pinggiran sungai. Rumah-rumah kumuh dengan baju-baju yang dijemur di depan rumah, tidak dapat dibedakan mana yang sudah dicuci dengan yang belum dicuci. Para pemuda dan kaum ayah yang pergi pagi dan pulang malam, menarik becak ataupun menjadi kuli bangunan, demi sesuap nasi esok hari.
Enam tahun menikmati indahnya pendidikan di kota Bandung, selanjutnya apa?

Bagaimana lagi kabar masyarakat di pedalaman Sumatera Selatan, ataupun kondisi rakyat di perbatasan Indonesia-Malaysia?


Siapakah yang tahu suka-duka anak pertiwi di pulau-pulau kecil Indonesia ataupun cerita senang-sedih putra-putri tanah air di Papua ataupun Sulawesi?


Enam tahun, waktu yang tidak cepat, juga tidak lama.


Apakah waktu tersebut telah menyiapkan masa yang bermakna?
Ataukah hanya akan menjadi kesia-siaan belaka?


Enam tahun masa menimba ilmu dan pengetahuan serta mencari permasalahan dan solusinya. Namun selama enam tahun itu juga, rumah-rumah di sepanjang rel kereta api Medan-Rantauprapat tetaplah diselimuti batu-bata dan papan-triplek. Bantaran sungai Babura dan Deli masih juga dihias oleh rumah-rumah kumuh dan keluarga yang menikmati bersihnya air sungai yang kotor. Bagaimana juga kabar masyarakat di pedalaman Sumatera Selatan, rakyat di perbatasan Indonesia-Malaysia, anak pertiwi di pulau-pulau kecil Indonesia, ataupun putra putri tanah air di Papua ataupun Sulawesi?

Maka,
Enam tahun, selanjutnya apa???


Rabu, 18 Juli 2012
Sepanjang Rel Kereta Api Medan-Rantauprapat

Tuesday, 17 January 2012

Kumpul-Kumpul Membawa Perubahan


Manusia merupakan makhluk individu dan makhluk sosial. Sebagai individu, manusia memiliki unsur jiwa, jasmani dan rohani. Setiap manusia memiliki keunikan dan ciri khasnya tersendiri. Keunikan ini juga berkaitan dengan kemampuan, potensi diri, dan minat yang berbeda-beda. Tidak ada manusia yang persis sama, bahkan untuk yang kembar siam sekalipun. Sebagai makhluk sosial, manusia pada kodratnya adalah makhluk bermasyarakat yang harus hidup bersama manusia lainnya. Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan, potensi diri, dan minat manusia juga akan berkembang bila ia hidup di tengah manusia lainnya.

Terkait dengan hal di atas, secara sadar atau tidak sadar, manusia cenderung berkumpul dengan manusia lainnya yang memiliki kemampuan, potensi diri, dan minat yang mirip dengannya. Manusia membentuk perkumpulan, kelompok, ataupun organisasi sebagai wadah aktivitas bersama. Begitu juga dengan pemuda. Para pemuda membentuk perkumpulan di kampus, lingkungan rumah, masjid, gereja, atau komunitas lainnya. Banyak kegiatan yang dapat dilakukan di komunitas ini. Peminat tarik suara melakukan latihan vokal grup, pecinta diskusi melakukan kajian setiap minggu, dan lain-lainnya. Potensi, minat, dan kemampuan para pemuda pun semakin berkembang di komunitas ini.

Kumpul-kumpul di komunitas merupakan tempat kita untuk belajar di kala muda. Komunitas ini adalah laboratorium kehidupan, ruang persiapan bagi kita sebelum memasuki komunitas besar: masyarakat. Saat muda adalah waktu untuk mengasah kemampuan dan potensi diri, berbuat salah dan mengevaluasinya, serta kemudian melakukan perbaikan agar menjadi lebih baik lagi. Saat muda juga adalah saat untuk mencari minat, ke bidang mana nantinya akan bergelut kala terjun ke masyarakat. Peran komunitas sangat penting dalam menyiapkan para pemuda ini.

Realitanya, komunitas-komunitas ini cenderung hanya bermanfaat bagi individu dan komunitas itu  saja. Para pemuda menikmati pengembangan diri di komunitas ini, namun kurang memberikan manfaat ke luar komunitasnya. Komunitas seperti ini terkadang justru menjauhkan pemuda dari realita dan bukan sebaliknya. Para pemuda pun membentuk dirinya menjadi makhluk anti masyarakat yang hanya nyaman hidup di komunitas kecilnya saja.

Tak dapat dipungkiri, pemuda adalah generasi calon penerus yang suatu saat akan memimpin bangsa besar bernama Indonesia. Pemuda adalah pembawa perubahan bagi bangsa, baik itu perubahan menuju kebaikan ataupun kehancuran. Oleh karena itu, kumpul-kumpul yang selama ini membawa perubahan positif bagi individu anggotanya juga harus bermanfaat lebih, membawa perubahan positif bagi masyarakat dan bangsa. Para pemuda dan komunitasnya harus mau keluar dari zona nyaman dan berkarya bagi sekitar. Aksi dan karya tersebut tidak perlu muluk. Para pemuda memberi karya yang sesuai dengan potensi komunitasnya. Para pemuda harus berani memulai dari karya kecil, yang seiring dengan waktu akan berlanjut menjadi karya lebih besar lagi bagi masyarakat.

Kumpul-kumpul yang selama ini belum terlalu memberikan manfaat baik kepada anggota ataupun lingkungan sekitarnya juga harus mau berbenah diri. Komunitas tersebut harus melakukan evaluasi perbaikan sehingga komunitas ini dapat melakukan perannya dengan optimal, yakni menyiapkan para pemuda yang siap berkarya bagi masyarakat dan bangsa. Semakin banyak komunitas yang memiliki tujuan membangun bangsa akan semakin baik. Akan semakin banyak dihasilkan pemuda yang siap menggeluti bidang di masyarakat sesuai minat dan kemampuannya masing-masing.

Banyak hal bermanfaat yang bisa dilakukan oleh komunitas ini. Komunitas peminat diskusi dapat melakukan kajian tentang permasalahan yang sedang terjadi di masyarakat. Komunitas pemuda masjid atau gereja dapat melakukan kegiatan bakti sosial ataupun penyuluhan di lingkungan sekitarnya. Komunitas pecinta lingkungan dapat melakukan gotong royong membersihkan taman kota, dan banyak hal baik lainnya yang bisa dilakukan sesuai potensi dari komunitas masing-masing. Pada akhirnya, komunitas ini dapat belajar berdampak mulai dari hal kecil, dan kumpul-kumpul itu akan membawa angin perubahan baik bagi anggota, komunitas, masyarakat, dan bangsa.