inspirasi

inspirasi
Showing posts with label Sosial. Show all posts
Showing posts with label Sosial. Show all posts

Monday, 14 April 2014

Pendidikan Politik Menjelang Pemilu 2014

Tulisan ini dimuat di www.siperubahan.com

Rakyat Indonesia menjadi subjek utama dari pembangunan. Pembangunan nasional tidak boleh pandang bulu dan harus dirasakan “segenap bangsa Indonesia” dan “seluruh tumpah darah Indonesia”. Sayangnya, pembangunan Indonesia masih belum sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa. Pemilihan Umum yang telah diadakan tiga kali setelah reformasi 1998 sepertinya masih belum menjawab jeritan masyarakat. 

Banyak kasus korupsi yang justru menjerat para pemimpin daerah dan nasional yang seharusnya menjadi contoh teladan dalam meniadakan praktek-praktek korupsi, kolusi dan nepotisme yang menjamur pada masa Orde Baru. Para pemimpin di pemerintahan yang seharusnya memberikan manfaat dan mencerminkan nilai-nilai kebaikan dan keadilan justru memberikan mudarat dan menunjukkan citra yang buruk dan tidak adil.

Virus korupsi
Indonesia Corruption Watch (ICW) pada tahun 2010 telah merilis data yang menunjukkan bahwa salah satu penyumbang kerugian negara adalah korupsi keuangan daerah yang dilakukan oknum DPRD dan Kepala Daerah. Fakta ini telah menjadi evaluasi kritis bagi masyarakat tentang etika moral yang dimiliki oleh kepala daerah dan oknum-oknum pemerintahan. Ketimbang melakukan sumpah jabatan mereka dengan berintegritas, mereka justru mencuri dari kas negara dan kantong penduduk. Bukannya berusaha melakukan pembangunan yang adil dan merata bagi masyarakat, mereka justru berusaha memperkaya diri dan golongannya. Nilai-nilai keadilan, kejujuran, kebaikan, dan integritas telah hilang atau mungkin tidak pernah ada di dalam diri para pemimpin ini.

Rakyat sendiri sebagai subjek demokrasi nyatanya belum siap untuk berdemokrasi. Demokrasi menuntut peran aktif dari masyarakat untuk memilih wakil rakyat dan pemimpin daerah maupun nasional. Namun, kondisi masyarakat, kemiskinan dan rendahnya pendidikan, membuat mereka mudah diperalat dan diarahkan oleh oknum-oknum yang berkepentingan. Suara masyarakat diarahkan untuk memilih calon yang tidak memiliki kapasitas. Sayangnya, masyarakat tidak mampu mengkritisinya karena faktor perut (kemiskinan) dan rendahnya tingkat pendidikan mereka. Layaknya virus, apabila korupsi ini dibiarkan berlarut-larut, akan menyebabkan penyakit ini semakin sulit untuk disembuhkan, bahkan menyebar ke setiap sendi kehidupan masyarakat.

Kondisi ini juga setali tiga uang dengan para calon pemimpin. Melihat faktor psikologis masyarakat yang terkadang menuntut “apa yang diberikan” saat kampanye, para calon pemimpin ini mengeluarkan uang demi menjawab permintaan para pemilihnya. Mereka berpikir itu adalah cara instan untuk mendapatkan suara dari masyarakat. Pemilihan kepala daerah maupun legislatif akhirnya diwarnai dengan politik uang yang membodohi masyarakat awam.

Pendidikan Politik
Peran aktif masyarakat sangat besar untuk memilih kepala daerah atau nasional maupun anggota legislatif karena masyarakat menjadi subjek dari pembangunan itu sendiri. Masyarakat harus dicerdaskan sehingga tidak mudah diperalat oleh oknum-oknum yang memiliki kepentingan. Menjelang pemilihan umum yang tinggal hitungan hari, masyarakat diberi pilihan yang pelik. Memilih tidak menggunakan hak suaranya karena sudah pesimis akan hadirnya pembangunan yang ideal, ataukah tetap menggunakan hak suaranya, namun kembali harus tertipu dan tidak mendapatkan pembangunan yang sesuai harapannya selama lima tahun ke depan. Layaknya buah simalakama, kedua pilihan tersebut tidak akan akan memberikan pembangunan yang adil dan merata bagi masyarakat.

Menjawab itu, pendidikan politik harus dilakukan bagi penduduk yang miskin dan tingkat pendidikannya masih rendah. Pendidikan politik menjelang pemilihan umum ini harus diupayakan karena kunci terjadi pembangunan nasional yang dicita-citakan bergantung kepada hasil dari pemilihan umum, baik pemilihan legislatif maupun pemilihan presiden. Apabila masyarakat belum cerdas untuk memilih, maka orang-orang tidak baik akan lebih mudah masuk ke dalam sistem pemerintahan. Oleh karena itu, masyarakat harus paham dan dicerdaskan sehingga dapat memilih pemimpin yang tepat.

Masyarakat yang cerdas dalam politik akan mendukung tumbuhnya kehidupan demokrasi yang diidamkan. Masyarakat yang cerdas dan berintegritas akan memilih pemimpin yang cerdas dan berintegritas. Beberapa pemilihan kepala daerah telah menjadi contoh pemilihan yang dilakukan oleh masyarakat dengan cerdas tanpa terpengaruh dengan politik uang. Kepala daerah yang terpilih dengan sistem yang baik ini pada akhirnya tidak punya utang atau janji kampanye kepada para sponsor dan pengusaha yang memberikan dana kampanye serta tidak perlu korupsi untuk mengganti biaya kampanye. Pemerintah yang lahir dari pemilihan yang ideal ini akan fokus pada pembangunan yang diidam-idamkan segenap rakyat Indonesia.

Lembaga-lembaga masyarakat harus berperan aktif melakukan pembinaan dan pelatihan politik kepada masyarakat serta melakukan pengawasan terhadap kinerja pemerintah. Partai politik seharusnya juga melakukan pembinaan politik terhadap para anggotanya dan tidak hanya mengutamakan kepentingan partai saja. Partai politik harus mendidik kader-kader partainya agar memiliki nilai-nilai integritas, keadilan, kejujuran, dan rasa nasionalisme yang kuat sehingga tidak membedakan suku, agama, gender, dan golongan.

Pemerintahan baik pusat maupun daerah dipilih dan ditentukan oleh rakyat. Oleh karena itu, rakyat memiliki peranan penting dalam menentukan siapa saja yang diberi wewenang untuk menjadi pemerintah. Menjadi waktu yang tepat bagi rakyat karena pemilihan umum akan dilakukan beberapa waktu mendatang. Apabila rakyat cerdas memilih, maka dapat ditempatkan negarawan yang berkeadilan sosial, yang siap membangun Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Tidak lepas dari itu, setiap rakyat Indonesia harus diajak merefleksi ke belakang dan melihat jauh ke depan. Tugas membangun bangsa bukanlah tugas satu-dua hari. Tugas ini juga tidak dapat tuntas hanya dengan janji-janji saat kampanye ataupun lembaran uang kertas yang dibagikan menjelang pemilihan. Tugas pembangunan tersebut harus dilakukan bertahun-tahun dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki latar belakang yang baik; berintegritas, jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki semangat nasionalisme.

Rakyat Indonesia harus bisa menilai dengan kritis dan tidak mudah dipengaruhi oleh janji dan lembaran uang semata. Kekritisan rakyat adalah jawaban dalam menentukan pemimpin yang tepat, pemimpin yang memiliki karakter negarawan yang berkeadilan sosial.

Wednesday, 2 April 2014

Dampak Jejaring Sosial Terhadap Perubahan Sosial Masyarakat


A.    Perkembangan Jejaring Sosial
Pada awal abad yang baru ini, peradaban dunia dibawa ke dalam situasi yang paradoks. Di satu sisi, globalisasi telah melahirkan kesadaran manusia sebagai penghuni satu bumi. Sekat ruang dan waktu terasa sirna dihempas gelombang teknologi yang merambah dunia, akselarasi informasi dan komunikasi yang tak lagi mampu dihambat, yang semuanya itu menciptakan fenomena yang mengglobal. Namun di sisi lain, globalisasi pun telah merangsang munculnya kecenderungan lokalisasi, seperti munculnya aliansi regionalisme ekonomi, menguatnya kesadaran etnik, serta pencarian jati diri dari berbagai komunitas, beserta faham-faham yang menyertainya seperti gerakan fundamentalisme agama, militansi etnik, solidaritas teritorial dan berbagai fenomena komunitas lainnya.
Dalam realitas kebangsaan Indonesia, fenomena global juga memberikan dampak terhadap paradigma masyarakat. Pada satu sisi fenomena ini mendorong masyarakat untuk mencapai kesejahteraan hidup dalam kehidupan sebagai satu bangsa. Namun, pada sisi yang lain, bangsa ini telah memasuki ruang-ruang kepentingan komunitas, kelompok, dan kepentingan primordialisme lainnya yang merasuk dalam berbagai dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu kehidupan politik, ekonomi, sosial, budaya dan masyarakat.
Tak dapat dipungkiri bahwa bangsa Indonesia telah cukup lama berdaya upaya untuk menggagas demokrasi. Banyak pihak berpendapat bahwa demokrasi berakar pada nilai-nilai budaya bangsa, karenanya demokrasi bukanlah sesuatu yang baru bagi Indonesia, akan tetapi realitas yang ada adalah bahwa bangsa ini belum berhasil merumuskan konsep demokrasi yang substansial. Pembangunan demokrasi sangat erat kaitannya dengan partisipasi aktif masyarakat sebagai subjek dari demokrasi tersebut. Masyarakat harus memiliki kesadaran dan kepekaan untuk memainkan perannya dalam mendorong terjadinya pembangunan yang adil dan merata bagi segenap rakyat Indonesia.
Dalam perjalanan waktu, masyarakat Indonesia harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman yang ada sekarang ini. Perkembangan teknologi informasi, akulturasi budaya, ekonomi global, dan banyak perkembangan zaman lainnya seharusnya tidak menjadi hambatan masyarakat dalam menjalankan perannya melakukan perubahan bagi dirinya dan lingkungan sekitarnya. Masyarakat harus bersifat dinamis menyesuaikan diri dengan zaman, namun tetap mengedepankan aturan dan norma-norma yang berlaku di Indonesia. Sehingga walaupun mengikuti perkembangan yang terjadi di dunia, masyarakat tetap menjunjung tinggi kultur khas dari bangsa Indonesia.
Masyarakat Indonesia sekarang ini sudah mulai fasih memberdayakan teknologi informasi. Masyarakat menggunakan media sosial untuk berbagai aktivitas seperti bisnis online, publikasi kegiatan, menyampaikan gagasan, ataupun sekedar bertegur sapa dengan teman dan kolega. Kecenderungan masyarakat saat ini juga lebih suka sesuatu yang instan, cepat, dan tidak menghabiskan waktu. Fenomenanya dapat kita lihat bersama. Masyarakat yang dulu lebih senang berlama-lama membaca koran cetak, sekarang ini sudah cukup puas dengan membaca berita di twitter ataupun membaca koran secara dijital sambil naik angkutan umum ke tempat kerja/kampus. Kita dapat melihat di angkutan umum seperti busway, angkot, kereta, dan angkutan massal lainnya, masyarakat menggunakan waktu perjalanannya untuk berselancar di dunia maya. Bahkan tidak jarang dalam sela-sela aktivitas kerja ataupun belajar, masyarakat menyempatkan diri untuk berjejaring sosial.
Saat ini telah banyak jasa jejaring sosial yang tersedia untuk diakses oleh masyarakat. Mulai dari Friendster yang ramai digunakan oleh masyarakat Indonesia di tahun 2002-2006, dilanjutkan dengan Facebook, MySpace, YouTube, Flickr, Twitter, dan lainnya. Setiap jejaring sosial menyediakan fasilitas yang unik dan berbeda-beda. Beberapa contohnya antara lain:
Friendster
Friendster merupakan salah satu jejaring sosial pertama yang populer di Indonesia. Jejaring sosial ini menawarkan konten dimana pengguna bisa membuat sebuah profil yang bisa terhubung ke profil orang lain. Kita dapat mengunggah foto ataupun menuliskan aktivitas kita di profil yang kita buat. Jejaring sosial ini populer pada awal tahun 2002 hingga 2006.
YouTube
YouTube adalah sebuah situs yang menyediakan konten untuk berbagi video, audio, berita, dan lainnya. Kita dapat mencari, mengunggah, ataupun mengunduh berbagai jenis data di website ini. Umumnya masyarakat menggunakan jejaring sosial ini untuk berbagi video dan berita. Salah satu birokrat yang aktif memberdayakan jejaring ini adalah Wakil Gubernur DKI Jakarta. Pak Basuki melalui timnya rutin mengunggah video rekaman rapat Pemda DKI Jakarta, ataupun aktivitas-aktivitas Wakil Gubernur lainnya.
Facebook
Facebook adalah jejaring sosial paling populer yang masih digunakan masyarakat hingga saat ini. Facebook didirikan oleh Mark Zuckerberg pada tahun 2004. Jejaring sosial ini menawarkan konten dan fasilitas yang lebih lengkap dari jejaring sosial lainnya. Fasilitas yang diandalkan dari jejaring ini antara lain konten chat, berbagi foto dan video, beragam permainan Facebook, ataupun dapat berbagi status maupun catatan (note). Saat ini ada lebih dari 600 juta orang di dunia yang menggunakan Facebook dan Indonesia merupakan salah satu negara penyumbang pengguna terbanyak.
Twitter
Twitter adalah jejaring sosial yang menfokuskan diri pada micro-blogging. Namun fokus ini menjadi keunggulan tersendiri dari Twitter. Twitter memungkinkan kita untuk mengikuti (follow) teman maupun orang lain yang ingin kita ketahui aktivitasnya. Kita juga dapat berbagi informasi terkini melalui jejaring ini. Twitter banyak digunakan oleh tokoh-tokoh masyarakat maupun artis untuk menyampaikan aktivitasnya maupun pemikiran-pemikiran dari tokoh-tokoh tersebut. Bahkan berbagai situs baik situs berita, lembaga pemerintahan, perusahaan, dan lainnya menggunakan media ini untuk menyampaikan aktivitasnya.
Change.org
Change.org adalah jejaring sosial yang digunakan sebagai wadah bagi masyarakat untuk memberikan petisi terkait suatu kondisi ataupun permasalahan. Banyak digunakan oleh masyarakat global untuk mengangkat isu-isu yang terjadi di lingkungan dunia. Masyarakat Indonesia sendiri mulai menggunakannya pada tahun 2010. Banyak permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat yang kemudian diangkat melalui media ini seperti terkait ekosistem Gunung Leuser, stop mobil murah, dan kampanye-kampanye lainnya.

B.    Perubahan Sosial
Fenomena belakangan ini, Gerakan-gerakan di Timur Tengah, Brasil, dan negara-negara lainnya yang merintis terjadinya perubahan sosial diawali dengan gerakan di media sosial. Diskusi-diskusi yang selama ini dilakukan secara bertatap mata di dunia nyata juga mulai beralih ke dunia maya. Oleh karena itu, di era sekarang ini media sosial telah menjadi salah satu ujung tombak gerakan pemikiran dalam mendorong terjadinya perubahan sosial di tengah masyarakat.
Berbagai lembaga seperti lembaga pemerintah, perusahaan, lembaga masyarakat seperti NGO dan LSM mengganggap teknologi informasi ini penting sehingga memiliki pengurus/pegawai di bidang komunikasi. Mereka memiliki tugas untuk rutin mengunggah setiap informasi aktivitas dan data terkait tugas dan tanggung jawab dari lembaga tersebut. Harapannya masyarakat ataupun pendukung lembaga tersebut akan mendapatkan perkembangan aktivitas lembaga tersebut secara update.
Saat ini, informasi bisa diakses oleh masyarakat dengan cepat. Berita yang terjadi di pulau bahkan belahan dunia lain dapat diketahui hanya dalam hitungan menit bahkan detik. Ini jauh berbeda dengan era sebelum perkembangan teknologi informasi dimana informasi ataupun berita baru bisa diketahui setelah menunggu beberapa hari, minggu, bahkan bulan. Kondisi ini memberikan pengaruh terhadap perubahan sosial. Masyarakat, baik di perkotaan maupun perdesaan, ataupun di pusat maupun daerah dapat mengetahui setiap informasi dan berita yang terjadi di tengah masyarakat dalam waktu yang cepat. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh gerakan sosial di Brazil dan Timur Tengah, dan beberapa kali juga dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia.
Masyarakat Indonesia mulai memberdayakan jejaring sosial untuk melakukan advokasi dan kampanye terhadap berbagai permasalahan masyarakat maupun kebijakan yang tidak sesuai dengan kehendak masyarakat. Dalam prakteknya, beberapa kampanye dan advokasi yang dilakukan dengan jejaring sosial berhasil mencapai tujuannya. Kita dapat mengingat kampanye “koin untuk Prita” yang didukung oleh ribuan masyarakat yang bahkan tidak pernah kenal ataupun bertemu dengan Prita. Begitu juga sekarang ini banyak kampanye yang sedang dijalankan, baik melalui media Facebook, Twitter, Change.org, dan lainnya.
Dalam artikel koran Kompas bulan November lalu, dituliskan topik tentang Demokrasi Digital. Terdapat tiga pembagian generasi sesuai dengan perkembangan zaman. Adapun pembagian tersebut antara lain:
  1. Generasi X = lahir pada tahun 1966 – 1976 (konservatif)
  2. Generasi Y = lahir pada tahun 1977 – 1994 (transisi)
  3. Generasi Z = lahir pada tahun 1995 – 2005 (baru/ICT)
Saat ini yang menjadi pemimpin di Indonesia dalam berbagai bidang (sosial, politik, budaya, dan lain-lain) masih generasi X. Sementara itu, generasi Y yang adalah generasi transisi teknologi sudah mulai masuk ke dalam sistem. Dan dalam waktu yang tidak lama, generasi Z juga akan segera masuk ke dalam sistem. Hal ini akan berdampak terhadap kondisi sosial masyarakat. Tingkat pendidikan masyarakat Indonesia belum merata, termasuk dalam hal pemahaman terkait pemanfaatan teknologi informasi, khususnya jejaring sosial. Oleh karena itu, pemerintah maupun stake holder di dalam masyarakat harus menyikapi perkembangan ini dengan seksama agar perkembangan teknologi ini dapat membawa manfaat terhadap perkembangan pembangunan masyarakat dan bukannya mudarat.

C.     Dampak Negatif Jejaring Sosial
Dampak negatif dari jejaring sosial ini adalah pemanfaatan jejaring sosial yang tidak sesuai dengan fungsinya. Berbagai aksi kejahatan dapat terjadi melalui jejaring sosial. Maraknya penipuan melalui media sosial, pencemaran nama baik, pencurian identitas, peredaran narkoba, akses pornografi dan pornoaksi, serta beragam tindak kejahatan lainnya. Selain itu penggunaan jejaring sosial yang tidak sesuai dengan umur juga memberikan dampak terhadap mental masyarakat, khususnya anak-anak. Anak-anak yang terlalu cepat mengakses jejaring sosial dan kurang mendapat pembinaan dari guru ataupun orangtua akan membuat anak tersebut cenderung anti sosial. Anak tersebut akan lebih senang bersosial melalui jejaring sosial ketimbang melalui aktivitas pertemanan di dunia nyata. Selain itu anak yang mudah mengakses jejaring sosial akan lebih rawan terkena aktivitas kejahatan di dunia maya seperti mengakses situs pornografi, pencurian anak, dan lainnya.
Dalam aktivitas gerakan sosial, penggunaan jejaring sosial juga memberikan dampak negatif. Masyarakat lebih berani berkomentar di media sosial, namun tapi tidak berani mempertanggungjawabkan pendapatnya di dunia nyata. Tidak jarang jejaring sosial digunakan untuk mencemarkan nama baik individu maupun institusi. Beberapa pelaku terorisme juga mengaku belajar merakit bom melalui jejaring sosial. Gerakan-gerakan primordial, anti SARA juga berkembang melalui jejaring sosial. Banyak situs dan akun-akun dunia maya yang menghina suku, agama, ataupun golongan lainnya. Apabila tidak ada hukum yang mengatur pemanfaatan media teknologi informasi ini, dikuatirkan hal ini akan membawa dampak negatif terhadap masyarakat bahkan mengganggu keamanan, ketertiban, dan kedamaian di tengah masyarakat.
Untuk mengatasi berbagai permasalahan yang timbul dari penyalahgunaan teknologi informasi, termasuk jejaring sosial, pemerintah mengeluarkan UU No. 11 Tahun 2008 yang berisikan tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Terdapat sanksi baik pidana maupun uang terhadap berbagai pelanggaran yang ditimbulkan dari penyalahgunakan teknologi informasi ini. Sudah terdapat beberapa tindak pidana yang ditujukan kepada pelanggar UU No. 18 Tahun 2008. Dengan adanya undang-undang ini diharapkan dapat menjadi batasan bagi masyarakat yang bebas memanfaatkan jejaring sosial ini.
Namun, selain lewat pendekatan peraturan untuk menangani penyalahgunaan jejaring sosial, pemerintah dan berbagai lembaga masyarakat perlu melakukan pelatihan dan lokakarya bagi masyarakat sebagai langkah pencegahan, mulai dari tingkat anak-anak, remaja, hingga orang tua. Dengan ini, masyarakat akan mengerti bagaimana menggunakan teknologi informasi dan jejaring sosial yang baik dan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Dengan adanya pendidikan ini, harapannya jejaring sosial dapat mendukung terjadinya perubahan sosial yang positif dalam masyarakat sehingga dapat lebih cepat mencapai pembangunan yang dicita-citakan.

Daftar Pustaka
Saswinadi Sasmojo, Sains, Teknologi, Masyarakat, dan Pembangunan, Bandung, Program Pascasarjana Studi Pembangunan ITB, 2004.
UU No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik

*Mahasiswa S2 Studi Pembangunan
Institut Teknologi Bandung

Tulisan ini dimuat di www.vicaraveritas.com

Sunday, 26 January 2014

Memimpikan Keadilan Sosial

*Tulisan ini dimuat di Sinar Harapan pada tanggal 23 November 2013
http://www.sinarharapan.co/news/read/28420/memimpikan-keadilan-sosial

---------------------------

Menurut Saswinadi Sasmojo, pembangunan adalah suatu proses (atau suatu fenomena) perubahan. Pembangunan nasional berarti proses-proses perubahan yang ditempuh dan dilakukan atas dasar keinginan suatu masyarakat bangsa.

Masyarakat bangsa menjadi subjek pembangunan. Maksudnya, masyarakat bangsa memiliki peran utama dalam menentukan pembangunan apa yang ingin dilakukan, bagaimana upayanya, dan evaluasi serta rencana-rencana pengembangan pembangunan tersebut. Namun, dalam proses perjalanannya, pemerintah diberikan wewenang untuk mengawal pembangunan nasional tersebut agar sesuai dengan keinginan bersama.

Dalam konteks Indonesia, rakyat Indonesia menjadi subjek utama dari pembangunan. Dalam pembukaan UUD 1945, tertulis “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa.” Jelas tugas pemerintah adalah melindungi serta melakukan pembangunan bagi segenap bangsa Indonesia.

Memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi roh pembangunan Indonesia.
Pembangunan nasional tidak boleh pandang bulu dan harus dirasakan “segenap bangsa Indonesia” dan “seluruh tumpah darah Indonesia”. Tugas ini semakin dipertegas pada sila kelima Pancasila yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Namun, menjadi pertanyaan bagi kita semua, apakah pembangunan nasional saat ini sudah berkeadilan sosial? Apakah pemerintah yang diberikan wewenang untuk mengawal pembangunan Indonesia sudah melakukan tanggung jawabnya bagi “segenap bangsa Indonesia” dan “seluruh tumpah darah Indonesia”?


Kesenjangan

Faktanya, pembangunan Indonesia masih belum sesuai dengan cita-cita founding fathers. Pembangunan nasional yang berkeadilan sosial masih menjadi mimpi bagi jutaan rakyat Indonesia yang tinggal di pedesaan dan jauh dari gemerlap pembangunan di kota-kota besar.

Kesenjangan pembangunan dirasakan antara perkotaan dan pedesaan sehingga mendorong ribuan warga desa melakukan urbanisasi ke kota demi kehidupan yang lebih layak. Desa-desa yang menjadi ujung tombak pertanian dan peternakan akhirnya hanya ditempati penduduk yang sudah berumur tua, sedangkan para pemudanya memilih mengadu nasib di kota. Wajarlah saat ini banyak komoditas pertanian dan peternakan yang tidak mampu lagi dipenuhi petani dan peternak Indonesia sehingga harus diimpor.

Pembangunan yang tidak berkeadilan sosial juga dirasakan masyarakat di Indonesia bagian tengah dan timur. Sumber daya alam wilayah ini dieksploitasi secara besar-besaran, namun hanya sedikit hasilnya yang dapat dirasakan penduduk lokal. Perindustrian dipusatkan di Pulau Jawa sehingga mendorong rakyat dari luar Jawa untuk berlomba-lomba pindah dan bekerja di Jawa.

Pembangunan yang sangat jauh tertinggal bahkan sangat dirasakan di pulau-pulau kecil Indonesia ataupun daerah-daerah perbatasan yang notabene merupakan halaman depan rumah besar bernama Indonesia.
Ini berbanding terbalik dengan salah satu negara jiran kita, Malaysia. Pemerintah Malaysia justru memoles pulau-pulau ataupun daerah perbatasannya menjadi halaman depan yang menarik sehingga mengundang banyak wisatawan asing singgah ke sana. Sayang, visi ini masih sangat susah dicari dari pemerintah negara kita.

Ketimbang memikirkan pembangunan nasional yang adil bagi segenap rakyat, pemerintah Indonesia justru sibuk dengan kebijakan-kebijakan yang tidak pro segenap rakyat. Kebijakan mobil murah, investasi sumber daya alam Indonesia bagi pemodal asing, peraturan perundang-undangan yang intoleran, dan banyak kebijakan lainnya.
Belum lagi aksi dari oknum-oknum pemerintahan yang justru sibuk memperkaya diri sendiri ataupun golongannya semakin mengembangkan rasa pesimistis rakyat Indonesia kepada pemerintah yang dipilihnya.

Penyakit KKN yang sudah akut dan menyebar dari pusat hingga daerah, dinasti pemerintahan di berbagai daerah, dan aksi kekerasan demi memperjuangkan kursi kepemimpinan seperti yang baru saja terjadi di persidangan Mahkamah Konstitusi seakan menunjukkan ketidaksiapan Indonesia dalam hidup bernegara dan berbangsa.
Menjelang pemilihan umum yang tinggal hitungan bulan, masyarakat diberi kenyataan yang pelik. Memilih tidak menggunakan hak suaranya karena sudah pesimistis akan hadirnya pembangunan yang ideal, ataukah tetap menggunakan hak suaranya, namun kembali harus tertipu dan tidak mendapatkan pembangunan yang sesuai harapannya selama lima tahun ke depan.

Layaknya buah simalakama, kedua pilihan tersebut tidak akan memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan roh pembangunan nasional. Apakah rakyat hanya akan menjadi penonton di tengah pertarungan oknum-oknum yang ingin memperebutkan kekayaan Indonesia?


Butuh Negarawan

Sesuai definisi yang disampaikan Saswinadi Sasmojo, pembangunan nasional harus sesuai dengan keinginan suatu masyarakat bangsa. Dalam konteks keindonesiaan, masyarakat yang beraneka ragam suku, agama, ras, dan golongan dipersatukan oleh satu kebangsaan, yakni bangsa Indonesia. Satu kebangsaan disumpahkan pada 28 Oktober 1928 di Jakarta.

Salah satu poin Sumpah Pemuda menyatakan, “Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.” Sejak saat itu, ragam bangsa di Nusantara; Jawa, Sunda, Melayu, Batak, Flores, Ambon, Dayak, Toraja, Bugis, Asmat, dan lainnya, membaur menjadi satu bangsa, bangsa Indonesia.

Kenyataan satu bangsa ini harus dipahami pemerintah Indonesia sebagai pengawal pembangunan bagi “segenap bangsa Indonesia”. Pemerintahan baik pusat maupun daerah dipilih dan ditentukan oleh rakyat. Oleh karena itu, rakyat memiliki peranan penting dalam menentukan siapa saja yang diberi wewenang untuk menjadi pemerintah.
Menjadi waktu yang tepat bagi rakyat karena pemilihan umum akan dilakukan beberapa waktu mendatang. Namun, ada hal-hal yang harus dituntaskan di tengah masyarakat Indonesia sehingga saat pemilihan umum nanti, dapat ditempatkan negarawan-negarawan yang berkeadilan sosial, baik di bangku legislatif, eksekutif, yudikatif, maupun perangkat-perangkat pemerintah lainnya.

Isu-isu primordial harus dihapuskan dari pemikiran segenap bangsa Indonesia. Dengan semangat kebersamaan dan kebinekaan, setiap rakyat Indonesia harus berpikir untuk membangun seluruh tumpah darah Indonesia, tidak hanya suku, etnis, agama, ataupun golongannya.

Apabila setiap rakyat Indonesia sudah memiliki kesadaran yang sama, rakyat tersebut tentu akan memilih wakil yang tepat untuk ditempatkan di bangku pemerintahan. Rakyat harus memilih negarawan yang berkeadilan sosial, yang siap membangun Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Tidak lepas dari itu, setiap rakyat Indonesia harus diajak merefleksi ke belakang dan melihat jauh ke depan. Memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa bukanlah tugas satu-dua hari. Tugas tersebut juga tidak dapat tuntas hanya dengan janji-janji saat kampanye ataupun lembaran uang kertas yang dibagikan menjelang pemilihan.

Tugas pembangunan tersebut harus dilakukan bertahun-tahun dan hanya bisa dilakukan orang-orang yang memiliki track record yang baik; berintegritas, jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan yang paling utama mencintai Indonesia.

Rakyat Indonesia harus bisa menilai dengan kritis dan tidak mudah dipengaruhi janji dan lembaran uang semata. Nasib pembangunan bagi rakyat Indonesia bukanlah berada di tangan pemerintah, melainkan justru ada di atas tangan rakyat itu sendiri. Kekritisan rakyat adalah jawaban dalam menentukan pemimpin yang tepat, pemimpin yang memiliki karakter negarawan yang berkeadilan sosial.

Dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika dan kekritisan dari rakyat Indonesia dalam menentukan pemimpin yang akan mengisi pemerintahan, bukanlah impian jika beberapa tahun mendatang kita akan merasakan kebijakan-kebijakan yang adil bagi “segenap bangsa Indonesia” dan “seluruh tumpah darah Indonesia”.

Memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa bukanlah pekerjaan rumah yang mudah. Namun, pemerintah yang adil serta didukung rakyat yang kritis dan menjunjung kebinekaan pasti akan bisa mencapai pembangunan nasional yang berkeadilan sosial. Semoga!

Wednesday, 1 May 2013

Sebuah Cerita Tentang Berbagi


Akhirnya aku menyelesaikan Pertemuan Wilayah 13 bersama Korwil 13 dan saudara2 BPC se-wilayah 13. Hari-hari yang luar biasa dan aku banyak mendapat inspirasi.
Berdosalah aku jika tidak membagikan inspirasi yang aku dapat dari saudara2 GMKI di sini, paling tidak melalui media sosial ini.

Dengan tantangan yang mereka hadapi: harus bekerja dan kuliah sambil melayani di GMKI, mereka masih bisa melakukan pengabdian bagi masyarakat. Teman2 GMKI Dumai mengadakan les gratis Rumah Pintar bagi anak2 di sekitar sekretariat mereka.Padahal teman2 ini juga harus bekerja dan berkuliah. Kegiatan ini rutin dilakukan tiap minggu di sekretariat mereka dan diikuti 20-50an anak kecil.

Teman2 GMKI Pekanbaru juga ternyata mengadakan program bina anak utk mengajar anak2 kecil di daerah Pasir Putih, Pekanbaru. Teman2 ini mengajar di 3 titik dan rutin dilaksanakan minimal 1 x 2minggu. Padahal mereka juga sama seperti kita, harus memikirkan kuliah dan kesibukan lain.

Tidak berhenti di situ, teman2 GMKI Tanjung Pinang juga melakukan hal sama,mengadakan bimbingan belajar gratis untuk anak2 kurang mampu. Pendidikan menjadi sorotan utama dari ketiga cabang ini. Pendidikan memang menjadi salah satu faktor penting meningkatkan kehidupan. Ketimbang meneriaki kegelapan ataupun menunggu orang lain menyalakan lilin, mereka lebih memilih menjadi lilin itu sendiri. :) Pilihan yang jarang diambil di tengah sibuknya aktivitas mahasiswa saat ini, hedonisme yg semakin marak dalam kehidupan mahasiswa, dll. Mereka yang hanya puluhan orang saja dapat memberikan perbedaan. Tidak dapat membayangkan kalau semua mahasiswa punya keinginan yang sama. Pasti luar biasa!

Teman2 GMKI Batam juga membuat perbedaan lainnya. Mereka yang juga harus kerja sambil kuliah gelisah melihat kondisi rakyat yang gitu2 saja. Di tengah kesibukan kuliah dan tuntutan kerja, mereka masih sempat-sempatnya mengadakan pelatihan kewirausahaan untuk anggota dan masyarakat di Batam. Keinginan teman2 ini jelas, suatu saat rakyat di Batam tidak lagi menjadi budak industri tapi mampu mandiri membuat pekerjaan sendiri. Kata mereka, pendidikan yang mereka dapat di kampus tidak membentuk mereka menjadi manusia yang mandiri, justru tetap diarahkan menjadi pekerja. Melalui pelatihan kewirausahaan ini, mereka berharap pemuda Batam berani berpikir mandiri dan kreatif merancang usaha sendiri. Lagi2 sebuah keinginan menyalakan lilin di tengah kegelapan. Rakyat harus bangkit! Aku terharu mendengar semangat teman2 ini.

Terakhir kisah dari teman2 GMKI Padang. Walau mereka tidak terlalu banyak, mereka juga tetap mencoba berpikir melakukan sesuatu yang berguna bagi sesama. Mereka saat ini sedang merancang pengabdian masyarakat ke Mentawai, daerah yang beberapa kali dilanda gempa dan saat ini sangat tertinggal. Teman2 ini ingin melakukan pengembangan masyarakat di bidang pertanian. Mereka berharap rakyat Mentawai dapat bangkit melalui pertanian.

Aku kembali diingatkan, mereka juga mahasiswa yang punya kesibukan, tuntutan keluarga, dan selusin alasan yg membuat mahasiswa malas bergerak. Tapi mereka menolak untuk tunduk pada semua alasan-alasan itu. Mereka lagi2 berusaha menjadi lilin ditengah gelap. Mereka anti kenyamanan selama rakyat masih menangis! Bahkan mereka bersedia 1 bulan tinggal di Mentawai untuk melakukan pengabdian dan pengembangan masyarakat, jauh dari kenikmatan TV, Mall, internet, bioskop,teman2, dll.

Ya, momen bertemu teman2 dari Dumai, Batam, P.baru, Tj.Pinang, Padang menyadarkanku bahwa mereka saja masih sempat-sempatnya memikirkan rakyat. Angan-anganku pun mencapai puncak impiannya. Andai semua mahasiswa punya hati yang sama dengan mereka. Hati yang berduka melihat rakyat yang menangis dan mau menggunakan tangan sendiri untuk menyeka tangisan mereka.
Aku yakin percaya, selain mereka, masih banyak juga anak bangsa, dari daerah, kampus, lembaga, agama apapun yang juga punya hati yg sama, hati yang ingin menghapus tangisan ibu pertiwi, dan dilakukan dengan nyata melalui tindakan. Ya, tidak ada guna meneriaki kegelapan.

Bagaimana teman2, tidak inginkah dirimu ikut serta menjadi lilin-lilin kecil di negeri kita? Pasti akan menjadi gerakan sosial dan gerakan inspiratif yang luar biasa. Bagi yang sudah menjalaninya, tetap semangat melakukan pilihan itu. Rasakan indahnya berbagi susah dan senyum bersama rakyat.

Terimakasih teman2 GMKI Wilayah 13. Kalian telah mengingatkanku lagi arti kata "berbagi". Tetap semangat walau gangguan menghadang. Semoga kisah tentang teman2 ini dapat memberi inspirasi bagi kita semua termasuk aku sendiri. Itu perjuangan mereka, bagaimana perjuangan kita?

Demikian kisah dari teman2 ini. Tidak ada maksud lain selain untuk berbagi inspirasi sesama anak bangsa yang punya tugas membangun negeri ini. Semangat bagi kita semua, mungkin kita belum memulai, tapi tidak pernah ada kata terlambat untuk sebuah perubahan. Mari bangkit. :)

Monday, 1 April 2013

Perjalanan Wisata ke Danau Toba: Bermimpi ke Negeri Mimpi, Negeri Para Pemimpi (Bagian 1)

Bagian Pertama

Apa kabar, Teman? Bagaimana liburanmu? Semoga menyenangkan di sana. Liburanku juga menyenangkan. Aku ingin cerita, Teman, berbagi tentang kisah perjalananku. Tapi ini bukanlah perjalanan biasa, Teman, karena aku berlibur bukan di Dunia Kita, tapi di Dunia Mimpi. Maukah kau mendengar ceritaku, Teman? Aku harap engkau mau, sambil mengisi waktu luangmu disana.



Beberapa hari yang lalu aku bermimpi. Pagi hari saat itu tapi entah kenapa aku bisa tertidur. Aku bermimpi Teman, bermimpi pergi ke suatu negeri. Kata mereka itu Negeri Mimpi, Negeri Para Pemimpi. Disini sesuatu itu terjadi tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Ini bukanlah Negeri Impian, dimana sesuatu yang kita inginkan akan muncul begitu saja ketika kita menginginkan, bukan seperti itu, Teman. Ini Negeri Mimpi, sama seperti ketika kau tertidur dan kemudian tiba-tiba kau sudah berada di suatu tempat dan kau hanya bisa mengikuti apa yang sudah ada disana yang belum tentu sesuai dengan yang kau harapkan, dan ketika kau terbangun, kau kembali berada di duniamu, dan lupa dengan yang terjadi disana. Tapi kali ini aku beruntung Teman, aku masih bisa mengingat setiap peristiwa yang terjadi disana, namun tidak tahu kenapa, aku tidak bisa mengingat nama tempat-tempat yang kukunjungi. Semoga kau bisa membayangkan apa yang akan kuceritakan kepadamu.


Di Negeri Mimpi ini, aku bertemu dengan beberapa sahabat, mereka juga Para Pemimpi. Aku diajak ke sebuah daerah, aku lupa nama daerah ini. Daerahnya luas, berada di dataran tinggi. Dingin di sana, dan ketika kami datang, Kabut sedang tinggi dan mengganggu pandangan mata. Awalnya aku tidak suka di sana karena kondisi ini, tapi alam sepertinya menjawab keluhanku. Tiba-tiba Kabut itu menghilang tanpa jejak dan aku pun melihat apa yang kelihatannya ingin disembunyikan oleh si Kabut. Tempat itu begitu indah Teman, begitu indah. Air yang begitu luasnya, Danau namanya, ditemani banyaknya pegunungan dan ada sebuah pulau besar di tengah-tengahnya. Bayangkan Kawan, sebuah Pulau Di Tengah Pulau. Aku melihat ini semua dari ketinggian dan aku pun menyadari kenapa bahkan Kabut yang begitu baik hati pun sempat berpikir untuk memilikinya sendiri.

Selama beberapa waktu kami menikmati pemandangan ini. Sahabat-sahabatku yang lain bahkan mendokumentasikan pemandangan ini. Entah darimana mereka mendapatkan kamera dan berpikir untuk mengabadikan keindahan alam yang belum tentu mereka dapatkan di Dunia Kita. Hahaha, sepertinya mereka tidak tahu kalau foto yang mereka ambil tidak mungkin bisa dibawa ke Dunia Kita, tapi biarlah mereka melakukannya. Kami pun melanjutkan perjalanan kami memasuki daerah itu. Aku diajak menginap di penginapan di suatu Kota, aku juga lupa nama Kota itu. Letaknya tepat di pinggir Danau dan tinggal berjalan beberapa langkah maka kau akan dapat berenang ke dalam Danau yang indah itu.


Seorang sahabat memanggilku dari pinggir Danau. Ternyata mereka hendak mengajakku berjalan mengelilingi Kota tersebut. Kami pun berjalan. Dengan celana pendek, kaos, dan sendal jepit kami pun menjalani Kota itu. Saat itu malam hari kawan, dan sangat dingin cuacanya. Tapi, entah kenapa, walaupun dingin, aku sangat menikmati keadaan itu Teman. Berjalan di Kota itu, ditemani embusan angin, pohon di kiri kanan, pemandangan malam hari, dan air Danau yang terkadang bersuara, seakan memanggil para pelancong untuk selalu mengingat mereka. Aku sungguh menikmati suasana ini hingga akhirnya kami pun lelah untuk melangkahkan kaki dan memilih kembali ke penginapan kami. Coba engkau bayangkan perjalanan ini kawan. Aku harap kau bisa membayangkannya.

Hari telah pagi dan aku pun terbangun dari tidurku. Beberapa sahabat sudah bangun juga dan beberapa yang memang memiliki jam tidur lebih lama masih terlelap di atas pembaringannya. Setelah semua bangun dan mempersiapkan diri, kami pun beranjak dari penginapan kami untuk sarapan di pinggir Danau. Apakah kau pernah membayangkan Kawan? Duduk di pinggiran Danau; meminum secangkir teh manis ataupun kopi hangat; memakan beberapa gorengan sambil memandang indahnya kolaborasi gunung, danau, alam di sekitarnya dan tidak lupa ditemani dengan angin dan dingin yang sedikit menusuk badan namun membuat kita betah disana. Apakah kau pernah membayangkan, Kawan? Disini tempatnya, di daerah ini. Sayang kau tidak disini, semoga kau bisa membayangkannya.

Setelah kami sarapan, kami pun bergegas pergi ke tempat kapal berlabuh tidak jauh dari sana. Kami hendak menyeberangi Danau itu dan mengunjungi Pulau Misterius yang berada di tengahnya. Kata ibu penjual makanan, kapal itu menyeberang setiap sejam sekali dan hampir saja kami ketinggalan kapal. Kami pun segera naik ke atas kapal dan duduk di lantai paling atas. Angin Danau pun segera menyambut kami dan perjalanan menuju Pulau Di Tengah Pulau pun segera dimulai. Berharap kau berada di sini kawan, menikmati bersamaku semua perjalanan ini.

Kisah ini berlanjut ke Bagian Kedua. :)


Tuesday, 17 January 2012

Kumpul-Kumpul Membawa Perubahan


Manusia merupakan makhluk individu dan makhluk sosial. Sebagai individu, manusia memiliki unsur jiwa, jasmani dan rohani. Setiap manusia memiliki keunikan dan ciri khasnya tersendiri. Keunikan ini juga berkaitan dengan kemampuan, potensi diri, dan minat yang berbeda-beda. Tidak ada manusia yang persis sama, bahkan untuk yang kembar siam sekalipun. Sebagai makhluk sosial, manusia pada kodratnya adalah makhluk bermasyarakat yang harus hidup bersama manusia lainnya. Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan, potensi diri, dan minat manusia juga akan berkembang bila ia hidup di tengah manusia lainnya.

Terkait dengan hal di atas, secara sadar atau tidak sadar, manusia cenderung berkumpul dengan manusia lainnya yang memiliki kemampuan, potensi diri, dan minat yang mirip dengannya. Manusia membentuk perkumpulan, kelompok, ataupun organisasi sebagai wadah aktivitas bersama. Begitu juga dengan pemuda. Para pemuda membentuk perkumpulan di kampus, lingkungan rumah, masjid, gereja, atau komunitas lainnya. Banyak kegiatan yang dapat dilakukan di komunitas ini. Peminat tarik suara melakukan latihan vokal grup, pecinta diskusi melakukan kajian setiap minggu, dan lain-lainnya. Potensi, minat, dan kemampuan para pemuda pun semakin berkembang di komunitas ini.

Kumpul-kumpul di komunitas merupakan tempat kita untuk belajar di kala muda. Komunitas ini adalah laboratorium kehidupan, ruang persiapan bagi kita sebelum memasuki komunitas besar: masyarakat. Saat muda adalah waktu untuk mengasah kemampuan dan potensi diri, berbuat salah dan mengevaluasinya, serta kemudian melakukan perbaikan agar menjadi lebih baik lagi. Saat muda juga adalah saat untuk mencari minat, ke bidang mana nantinya akan bergelut kala terjun ke masyarakat. Peran komunitas sangat penting dalam menyiapkan para pemuda ini.

Realitanya, komunitas-komunitas ini cenderung hanya bermanfaat bagi individu dan komunitas itu  saja. Para pemuda menikmati pengembangan diri di komunitas ini, namun kurang memberikan manfaat ke luar komunitasnya. Komunitas seperti ini terkadang justru menjauhkan pemuda dari realita dan bukan sebaliknya. Para pemuda pun membentuk dirinya menjadi makhluk anti masyarakat yang hanya nyaman hidup di komunitas kecilnya saja.

Tak dapat dipungkiri, pemuda adalah generasi calon penerus yang suatu saat akan memimpin bangsa besar bernama Indonesia. Pemuda adalah pembawa perubahan bagi bangsa, baik itu perubahan menuju kebaikan ataupun kehancuran. Oleh karena itu, kumpul-kumpul yang selama ini membawa perubahan positif bagi individu anggotanya juga harus bermanfaat lebih, membawa perubahan positif bagi masyarakat dan bangsa. Para pemuda dan komunitasnya harus mau keluar dari zona nyaman dan berkarya bagi sekitar. Aksi dan karya tersebut tidak perlu muluk. Para pemuda memberi karya yang sesuai dengan potensi komunitasnya. Para pemuda harus berani memulai dari karya kecil, yang seiring dengan waktu akan berlanjut menjadi karya lebih besar lagi bagi masyarakat.

Kumpul-kumpul yang selama ini belum terlalu memberikan manfaat baik kepada anggota ataupun lingkungan sekitarnya juga harus mau berbenah diri. Komunitas tersebut harus melakukan evaluasi perbaikan sehingga komunitas ini dapat melakukan perannya dengan optimal, yakni menyiapkan para pemuda yang siap berkarya bagi masyarakat dan bangsa. Semakin banyak komunitas yang memiliki tujuan membangun bangsa akan semakin baik. Akan semakin banyak dihasilkan pemuda yang siap menggeluti bidang di masyarakat sesuai minat dan kemampuannya masing-masing.

Banyak hal bermanfaat yang bisa dilakukan oleh komunitas ini. Komunitas peminat diskusi dapat melakukan kajian tentang permasalahan yang sedang terjadi di masyarakat. Komunitas pemuda masjid atau gereja dapat melakukan kegiatan bakti sosial ataupun penyuluhan di lingkungan sekitarnya. Komunitas pecinta lingkungan dapat melakukan gotong royong membersihkan taman kota, dan banyak hal baik lainnya yang bisa dilakukan sesuai potensi dari komunitas masing-masing. Pada akhirnya, komunitas ini dapat belajar berdampak mulai dari hal kecil, dan kumpul-kumpul itu akan membawa angin perubahan baik bagi anggota, komunitas, masyarakat, dan bangsa.