inspirasi

inspirasi
Showing posts with label indah. Show all posts
Showing posts with label indah. Show all posts

Friday, 16 October 2015

Keindahan Adalah Kumpulan Perbedaan

"Keindahan itu baru indah karena ada perbedaan"
"Keindahan baru ada karena perbedaan"
Kamu mungkin akan bingung dengan dua pernyataan saya di atas. Apa hubungan keindahan dengan perbedaan? Kenapa keindahan baru ada, terwujud, nyata, ketika ada perbedaan? Supaya kamu tidak tambah bingung, saya akan contohkan beberapa "keindahan" yang sebenarnya baru disebut indah ketika di dalam "keindahan" itu ada perbedaan.

Contoh pertama: Keindahan di puncak gunung.
Bagi yang pernah naik gunung dan menikmati keindahan di puncak gunung pasti akan menyadari, keindahan yang kita rasakan itu dampak dari kumpulan berbagai perbedaan. Ada kumpulan awan, dataran luas, pepohonan, milyaran bintang, hembusan angin, dan fenomena-fenomena lainnya yang memberikan makna "indah" bagi kita. Coba bayangkan kalau pas di puncak gunung, yang ada di sekitar kita hanya puncak gunung dan hamparan kosong tanpa wujud apapun. Mungkin kita akan menyesal berusaha mendaki ke puncak gunung itu. Maka bisa disimpulkan, keindahan di puncak gunung yang kita lihat dan rasakan merupakan kumpulan dari berbagai perbedaan.

Contoh kedua: Indahnya kebersamaan dalam keluarga.
Tentu keluarga juga memiliki keindahan yang khas. Kita pasti sangat menikmati indahnya kehidupan dalam keluarga. Keindahan itu terwujud karena ada ayah, ibu dan anak-anak yang memiliki karakter yang berbeda namun tetap saling menyayangi. Tapi coba bayangkan jika setiap individu di dalam keluarga memiliki karakter yang sama persis seperti pinang di belah dua. Yang terjadi hanya hubungan yang hambar, monoton, dan datar. Bahkan sepasang anak kembar pun memiliki perbedaan. Maka jelaslah, indahnya kebersamaan dalam keluarga juga baru nyata ketika setiap individu di dalam keluarga memiliki perbedaan dan ciri khas masing-masing.

Dari dua contoh di atas saja, seharusnya kita bisa sepakat kalau segala macam keindahan baik itu antara manusia dengan manusia, alam dengan manusia, manusia dengan masyarakat, dan lain sebagainya, baru bisa dimaknai "indah" ketika di dalam setiap hubungan tersebut terdapat perbedaan yang khas dari masing-masing personal. Perbedaan dapat juga kita asosiasikan dengan keberagaman. 

Maka saya sampai ke sebuah kesimpulan bahwa:
"Keindahan Adalah Sekumpulan Perbedaan / Keberagaman"
Bagaimana jika kita ternyata tidak sadar bahwa keindahan itu adalah sekumpulan perbedaan / keberagaman? Bagaimana pula jika yang ada justru penyeragaman? Bagaimana jika tidak ada lagi perbedaan? 

Kondisi yang ada sekarang ini di sekitar kita memang menunjukkan kesan di atas. Di dalam hubungan antar manusia dan masyarakat, terlihat adanya upaya merusak semangat keberagaman. Beberapa pihak berusaha menyeragamkan perbedaan di daerahnya. Perbedaan ragam: suku, agama, ras, dan golongan diredam, diganti dengan kesamaan ragam yang mematikan kekhasan manusia. 

Dalam hubungan manusia dengan alam, upaya penyeragaman pun terjadi. Dan untuk hal ini, kembali manusia menjadi aktor perusaknya. Alam dan segala isinya dibabat, dirusak, dan diganti dengan keseragaman yang tidak memperhatikan faktor keindahan. Perkebunan sawit yang tidak memperhatikan keberlanjutan lingkungan, penangkapan ikan dengan pukat harimau, dan lain sebagainya.

Jika kita biarkan, maka:
"Keberagaman Sirna, Keindahan Tiada"
Maukah kita kehilangan makna keindahan? Hanya merasakan hal yang hambar, datar, monoton, dan tawar. Tidak ada tawa, emosi, keunikan, dan lainnya?

Mari kita jaga, rawat, lestarikan, dan kembangkan perbedaan. Tentu perbedaan yang membangun dan memberikan manfaat positif bagi setiap individunya.  Kita menjadi duta-duta pembawa damai, menunjukkan bahwa keindahan itu ada karena perbedaan, oleh karena itu perbedaan harus kita rawat sebaik-baiknya demi kebaikan bersama. Ya, kita harus memaknai, bahwasanya:
"Perbedaan Itu Indah"

Thursday, 29 January 2015

Pelajaran Hidup 1: Suratan Takdir atau Usaha?

Perjalanan hidup kita memang tidak mudah.
Jalan terlihat tidak berujung, terjal dan berbatu.
Banyak kerikil tajam yang siap memangsa kaki para pejalan.
Tidak jarang perjalanan kita diusik semak berduri yang tumbuh hingga ke tengah jalan.
Beratnya jalan bercampur aduk dengan letihnya badan.
Semangat di awal berganti segera dengan keputusasaan.

Tidak jarang kita berpikir apa kita salah jalan.
Terkadang kita badan kita menuntut untuk berhenti.
Bahkan lebih dari sekali kita ingin berbalik arah dan kembali.
Perjalanan begitu berat.
Ini sepertinya bukan jalan kita.

Beberapa orang tua mengatakan perjalanan hidup itu merupakan suratan takdir.
Tidak ada yang dapat menduga, juga menerka.
Kita hanya bisa berpasrah.
Sehingga hidup tanpa berjuang dan lupa dengan kenyataan.

Ada juga yang mengatakan perjalanan hidup ditentukan oleh kita sendiri.
Kitalah yang menentukan nasib kita, baik atau buruk, berhasil atau terbuang.
Mereka yang sepakat dengan ini kemudian berusaha merancang hidupnya.
Mengejar mimpi yang indah sehingga terkadang lupa dengan kenyataan.

Yang manakah kita?
Apakah menjadi orang yang pasrah dan lupa dengan kenyataan?
Ataukah menjadi pemimpi yang juga lupa dengan kenyataan?

BUKAN.
Kita bukanlah si pasrah.
Kita juga bukanlah si pemimpi.

Kita adalah perpaduan keduanya.
Kita adalah orang yang pasrah dan bermimpi.
Pasrah akan suratan takdir dari Sang Perancang Agung, yang telah merancang perjalanan hidup kita sedemikian rupa, sehingga perjalanan hidup kita akan menjadi Legenda Pribadi milik kita semata.
Kita juga pemimpi yang memimpikan hal-hal indah dan berusaha mencapainya.

Maka genaplah perjalanan hidup kita.
Buah dari suratan takdir dan usaha.
Hasil yang didapat dari perjuangan anak manusia dan penyertaan Sang Khalik.
Perjalanan hidup yang walau berat dan berliku-liku, akan berakhir dengan indah dan bahagia.
Jika dan hanya jika kita berusaha optimal selama menjalaninya, sembari tetap berpasrah pada kehendak Sang Pencipta.


Salam pagi. :)

Monday, 14 April 2014

Menakar Waktu

Pagi, siang, sore, malam, dan pagi lagi
Malam, pagi, siang, sore, dan malam lagi
Bergulir, berganti, berulang
Suka, duka, kalah, dan menang

Siapa yang dapat menahan hari?
Atau adakah yang dapat menghentikan waktu?
Umur selalu terus berlari
Dan kenangan juga akan silih berlalu

Hei, semua umat manusia
Itu hanyalah usaha menjaring angin
Tak ada yang dapat melihatnya
Juga tak satupun yang bisa merasakan

Waktu...
Usia...
Masa...
Lalu?

Semua indah pada waktunya
Namun tidak semua berguna
Apakah setiap hal hanyalah kesia-siaan?

Waktu akan terus berjalan, kadang berlari
Manusia akan bertambah umur, hingga lanjut usia
Siapa yang dapat menunda hari?
Atau adakah yang dapat menyangkal masa?

Tidak semua berguna di waktu yang hilang dan muncul satu persatu
Maka jadilah berhikmat
Jalani hidup dengan indah
Seakan tidak akan pernah ada lagi hari esok...

Salemba, subuh hari tanggal 14-04-2014

Monday, 1 April 2013

Perjalanan Wisata ke Danau Toba: Bermimpi ke Negeri Mimpi, Negeri Para Pemimpi (Bagian 1)

Bagian Pertama

Apa kabar, Teman? Bagaimana liburanmu? Semoga menyenangkan di sana. Liburanku juga menyenangkan. Aku ingin cerita, Teman, berbagi tentang kisah perjalananku. Tapi ini bukanlah perjalanan biasa, Teman, karena aku berlibur bukan di Dunia Kita, tapi di Dunia Mimpi. Maukah kau mendengar ceritaku, Teman? Aku harap engkau mau, sambil mengisi waktu luangmu disana.



Beberapa hari yang lalu aku bermimpi. Pagi hari saat itu tapi entah kenapa aku bisa tertidur. Aku bermimpi Teman, bermimpi pergi ke suatu negeri. Kata mereka itu Negeri Mimpi, Negeri Para Pemimpi. Disini sesuatu itu terjadi tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Ini bukanlah Negeri Impian, dimana sesuatu yang kita inginkan akan muncul begitu saja ketika kita menginginkan, bukan seperti itu, Teman. Ini Negeri Mimpi, sama seperti ketika kau tertidur dan kemudian tiba-tiba kau sudah berada di suatu tempat dan kau hanya bisa mengikuti apa yang sudah ada disana yang belum tentu sesuai dengan yang kau harapkan, dan ketika kau terbangun, kau kembali berada di duniamu, dan lupa dengan yang terjadi disana. Tapi kali ini aku beruntung Teman, aku masih bisa mengingat setiap peristiwa yang terjadi disana, namun tidak tahu kenapa, aku tidak bisa mengingat nama tempat-tempat yang kukunjungi. Semoga kau bisa membayangkan apa yang akan kuceritakan kepadamu.


Di Negeri Mimpi ini, aku bertemu dengan beberapa sahabat, mereka juga Para Pemimpi. Aku diajak ke sebuah daerah, aku lupa nama daerah ini. Daerahnya luas, berada di dataran tinggi. Dingin di sana, dan ketika kami datang, Kabut sedang tinggi dan mengganggu pandangan mata. Awalnya aku tidak suka di sana karena kondisi ini, tapi alam sepertinya menjawab keluhanku. Tiba-tiba Kabut itu menghilang tanpa jejak dan aku pun melihat apa yang kelihatannya ingin disembunyikan oleh si Kabut. Tempat itu begitu indah Teman, begitu indah. Air yang begitu luasnya, Danau namanya, ditemani banyaknya pegunungan dan ada sebuah pulau besar di tengah-tengahnya. Bayangkan Kawan, sebuah Pulau Di Tengah Pulau. Aku melihat ini semua dari ketinggian dan aku pun menyadari kenapa bahkan Kabut yang begitu baik hati pun sempat berpikir untuk memilikinya sendiri.

Selama beberapa waktu kami menikmati pemandangan ini. Sahabat-sahabatku yang lain bahkan mendokumentasikan pemandangan ini. Entah darimana mereka mendapatkan kamera dan berpikir untuk mengabadikan keindahan alam yang belum tentu mereka dapatkan di Dunia Kita. Hahaha, sepertinya mereka tidak tahu kalau foto yang mereka ambil tidak mungkin bisa dibawa ke Dunia Kita, tapi biarlah mereka melakukannya. Kami pun melanjutkan perjalanan kami memasuki daerah itu. Aku diajak menginap di penginapan di suatu Kota, aku juga lupa nama Kota itu. Letaknya tepat di pinggir Danau dan tinggal berjalan beberapa langkah maka kau akan dapat berenang ke dalam Danau yang indah itu.


Seorang sahabat memanggilku dari pinggir Danau. Ternyata mereka hendak mengajakku berjalan mengelilingi Kota tersebut. Kami pun berjalan. Dengan celana pendek, kaos, dan sendal jepit kami pun menjalani Kota itu. Saat itu malam hari kawan, dan sangat dingin cuacanya. Tapi, entah kenapa, walaupun dingin, aku sangat menikmati keadaan itu Teman. Berjalan di Kota itu, ditemani embusan angin, pohon di kiri kanan, pemandangan malam hari, dan air Danau yang terkadang bersuara, seakan memanggil para pelancong untuk selalu mengingat mereka. Aku sungguh menikmati suasana ini hingga akhirnya kami pun lelah untuk melangkahkan kaki dan memilih kembali ke penginapan kami. Coba engkau bayangkan perjalanan ini kawan. Aku harap kau bisa membayangkannya.

Hari telah pagi dan aku pun terbangun dari tidurku. Beberapa sahabat sudah bangun juga dan beberapa yang memang memiliki jam tidur lebih lama masih terlelap di atas pembaringannya. Setelah semua bangun dan mempersiapkan diri, kami pun beranjak dari penginapan kami untuk sarapan di pinggir Danau. Apakah kau pernah membayangkan Kawan? Duduk di pinggiran Danau; meminum secangkir teh manis ataupun kopi hangat; memakan beberapa gorengan sambil memandang indahnya kolaborasi gunung, danau, alam di sekitarnya dan tidak lupa ditemani dengan angin dan dingin yang sedikit menusuk badan namun membuat kita betah disana. Apakah kau pernah membayangkan, Kawan? Disini tempatnya, di daerah ini. Sayang kau tidak disini, semoga kau bisa membayangkannya.

Setelah kami sarapan, kami pun bergegas pergi ke tempat kapal berlabuh tidak jauh dari sana. Kami hendak menyeberangi Danau itu dan mengunjungi Pulau Misterius yang berada di tengahnya. Kata ibu penjual makanan, kapal itu menyeberang setiap sejam sekali dan hampir saja kami ketinggalan kapal. Kami pun segera naik ke atas kapal dan duduk di lantai paling atas. Angin Danau pun segera menyambut kami dan perjalanan menuju Pulau Di Tengah Pulau pun segera dimulai. Berharap kau berada di sini kawan, menikmati bersamaku semua perjalanan ini.

Kisah ini berlanjut ke Bagian Kedua. :)


Wednesday, 5 October 2011

Jalan yang Berkelok, Tebing yang Curam


jalan itu berkelok-kelok,

bukan berarti tidak ada yang lurus di depan.



tebing itu curam,

bukan berarti tidak ada yang landai di atas.



sungai itu deras,

bukan berarti tidak ada yang tenang di hilir.



tikungan, hambatan, gangguan,

selalu ada kerikil bahkan batuan dalam kehidupan,

bukan berarti hanya itu yang ada di sepanjang perjalanan,

karena pasti akan ada harapan dalam setiap pilihan yang ditentukan.



karakter yang dewasa,

mental yang teruji,

nalar yang tinggi,

raga yang kuat,

setiap hal itu merupakan buah dari perjalanan,

untuk menciptakan pribadi yang semakin siap dan semakin siap,



ibarat ranting pokok anggur yang harus selalu dipangkas untuk menghasilkan buah yang banyak,

bagai anak rajawali yang harus dijatuhkan dari atas tebing agar dapat terbang,

layaknya ikan salmon yang melawan arus sungai demi menelurkan anak-anaknya,

seperti perjalanan 40 tahun suatu bangsa agar siap mengisi sebuah wilayah,

ya, ibarat, bagai, layaknya, seperti itu.



hidup ini perjalanan melatih diri,

perjalanan mencari arti hidup,

kenapa seseorang itu harus ada,

atau ditetapkan ada.



tentu semuanya bukan kebetulan,

atau ketidaksengajaan semata,

melainkan ada karena di balik kenapa,

selalu ada sebab di belakang mengapa.



setiap langkah, setiap jejak,

semuanya itu seharusnya meluaskan wadah,

menambah gagas diri,

akan makna kehidupan.



semua orang pasti akan mati suatu saat,

tapi tidak semua orang hidup.



apakah kita sudah hidup?

ataukah selama ini napas itu hanya terbuang sia-sia,

dan raga itu bergerak tanpa makna,

serta jiwa itu kosong tak berguna?





seorang pelari tidak pernah tahu kapan dia akan berhenti berlari,

yang dia tahu hanyalah akan ada suatu garis akhir di depan,

dan sejauh apapun itu, dia harus terus berlari untuk mencapainya,

karena memang untuk itu dia menjadi pelari.



begitupun kapal,

yang akan aman dan jauh dari perompak ataupun batu karang selama berada di pelabuhan,

namun bukan untuk itu kapal diciptakan,

karena dia ada justru untuk berlayar di lautan,

melawan semua perompak dan mengatasi segala batu karang.



terus melangkah di jalan yang berkelok,

tetap mendaki di tebing yang curam,

hadapi setiap ombak yang menghadang,

karena di balik itu,

akan menanti padang edelweis yang indah,

dan pemandangan bintang yang gemerlap,

serta daratan yang mempesona.

Wednesday, 11 May 2011

Lakukanlah Perbuatanmu untuk Penciptamu

Kemarin membaca sebuah buku, buku pertama dari lima buku yang dituliskan oleh sang pengarang. Buku ini membuka pemikiranku dan banyak bagian-bagiannya yang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalaku saat ini. Dan yang tidak kalah pentingnya, tentunya buku ini ditulis berlandaskan Alkitab.
Sangat banyak isi yang menarik dari buku Demi Allah dan Demi Indonesia karya Samuel Tumanggor yang memiliki 227 halaman. Beberapa kutipan yang menarik akan kutuliskan disini tapi harapannya kawan-kawan bisa juga membaca buku ini karena yang kutulis di bawah ini hanya setitik saja dari makna yang terkandung di buku itu. Ya, bisa dibilang promosi buku juga lah. Hehe.
Baiklah, sedikit kutipan di buku ini dari halaman 149-160.

Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hambaNya.

Henderik Rookmaaker, professor seni asal Belanda pernah berkata:
Tukang-tukang ledeng yang menyampaikan pembicaraan penginjilan yang hebat tetapi membiarkan air bocor tidaklah melakukan pekerjaannya. Mereka tukang ledeng yang buruk. Jelas bahwa mereka tidak mengasihi sesamanya. Makna pekerjaan terletak dalam kasih kepada Allah dan sesama. Setiap orang harus berdoa dengan caranya sendiri, “Dimuliakanlah namaMu. Datanglah KerajaanMu,” lalu bekerja ke arah itu dalam pekerjaannya yang khas.

Marthin Luther pernah menulis:
Pembantu perempuan yang menyapu dapurnya melakukan kehendak Allah tepat seperti biarawan yang berdoa – bukan karena ia bisa menyanyikan himne Nasrani sambil menyapu, melainkan karena Allah menyukai lantai yang bersih. Tukang sepatu Nasrani melakukan tugas Nasraninya bukan dengan membubuhkan tanda salib kecil di sepatu-sepatunya, melainkan dengan membuat sepatu yang baik, karena Allah tertarik kepada pertukangan yang baik.

C.S. Lewis juga pernah menulis:
Pekerjaan seorang Beethoven dan pekerjaan seorang wanita juru sapu menjadi rohani dalam keadaan yang persis sama, yakni jika dipersembahkan kepada Allah, jika dilakukan dengan rendah hati “seperti untuk Tuhan.” Tentunya hal ini tidak berarti bahwa orang tinggal melempar koin saja untuk menentukan apakah ia harus menyapu ruangan atau mengubah simfoni. Tikus mondok harus menggali tanah bagi kemuliaan Allah dan ayam jantan harus berkokok.

C.H. Spurgeon merangkum bagi kita:
“Kristus  adalah tuan dan kamu hambaNya.” Kolose iii.24
Untuk golongan pejabat pilihan manakah perkataan ini diucapkan? Kepada raja-raja congkak yang membanggakan hak ilahi? Ah, bukan! Terlalu sering mereka hanya melayani diri mereka atau Setan dan melupakan Allah yang dalam kesabaranNya mengizinkan mereka memasang mimik mulia mereka untuk waktu yang singkat. Kalau begitu, apakah sang rasul berbicara kepada mereka yang disebut “bapa-bapa yang amat terhormat di dalam Allah,” para uskup, atau “diaken agung yang mulia”? Tentu saja tidak. Paulus tidak tahu apa-apa tentang jabatan-jabatan ini yang adalah buatan manusia belaka.

 Kata-kata ini tidak juga diucapkan kepada para gembala dan  guru, atau kepada orang yang kaya dan terpandang di antara orang percaya, tetapi kepada para hamba, ya, dan kepada para budak. Di antara khalayak pekerja keras, para tukang, para pekerja harian, para pembantu rumah tangga, para bujang dapur, sang rasul menemukan – sebagaimana kita pun masih menemukannya – beberapa orang pilihan Tuhan, lalu ia berkata kepada mereka, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hambaNya.”

Perkataan ini menjadikan mulia pekerjaan duniawi yang rutin dan melelahkan serta membubuhkan lingkaran suci di sekeliling pekerjaan yang paling rendah. Membasuh kaki mungkin pekerjaan hamba, tetapi membasuh kakiNya adalah pekerjaan mulia. Membuka tali kasut adalah pekerjaan hina, tetapi membuka kasut Tuan yang agung adalah kehormatan ningrat. Toko, lumbung, dapur, dan bengkel pandai besi menjadi rumah ibadat ketika pria dan wanita melakukan segala sesuatu bagi kemuliaan Allah!

Maka “pelayanan ilahi” bukanlah soal beberapa jam atau beberapa tempat, melainkan seluruh kehidupan menjadi kudus bagi Tuhan, begitu pula setiap tempat dan barang, sedemikian kudus sebagaimana Kemah Suci dan kaki pelita emasnya.

Samuel Tumanggor pun menulis di bukunya:
*isinya tidak dapat saya muat disini karena begitu banyak dan padatnya hal yang bisa didapat. Silakan dan segera dibaca bukunya. ^^

dan tulisan ini ditutup dengan satu kalimat,
pada akhirnya, ketika mereka melihat pekerjaan baik yang dilakukan, mereka akan memuliakan Bapa yang di surga.

Sunday, 12 September 2010

Penikmat Wisata --> Pemrakarsa Wisata

Libur Lebaran akhirnya tiba. Kampus pun libur selama dua minggu, mulai dari tanggal 6-17 September. Berhenti sejenak dari kepenatan perkuliahan, walaupun sebenarnya gak ada juga yang dipenatkan karena toh pada hari-hari kuliah juga masih menyempatkan untuk bermalas-malasan. Padahal sudah tahun kelima. Apa diri ini berniat menjadi MA (Mahasiswa Abadi) ya, mmm, tentu saja tidak. Kata orang-orang badan ini bukan robot, sekali-kali beristirahat itu juga perlu. Tapi susah juga kalau keseringan, gak baik juga untuk kesehatan pikiran. Yaudah, cukup dengan intermezzonya, mari kembali ke topik awal lagi.

Memulai awal liburan dengan menjadi juru foto dan tour guide perjalanan beberapa puluh anak UKSU plus friend ke Pangandaran sekitarnya. Berwisata dengan rute Pangandaran-Green Canyon-Batu Hiu-Batu Karas-Citumang. Menikmati indahnya pemandangan alam Pangandaran dan Batu Hiu, lezatnya seafood khas Pangandaran, tantangan alam seperti body rafting dan melompat dari ketinggian di Green Canyon dan Citumang serta serunya bertarung melawan ombak sambil bermain Banana Boat di Batu Karas sungguh menjadi pengalaman yang berkesan di liburan kali ini.

Keramahan dari penduduk sekitar yang juga menghargai alamnya sebagai pusat mata pencaharian mereka juga patut diacungi jempol. Kegigihan warga sekitar dalam menjalani mata pencahariannya, menarik jaring ikan secara bergotong royong dari pinggir pantai, walau hasilnya tidak sesuai yang diinginkan, tawa canda masih keluar dari mulut mereka.
Menjalani Pangandaran-Green Canyon-Batu Hiu-Batu Karas-Citumang selama dua hari meninggalkan pengalaman yang sangat mengasyikkan bagi 25 orang Penikmat Wisata yang memilih menghabiskan waktu untuk berlibur kesana.

Sejenak teringat dengan kondisi pariwisata di kampung sendiri. Bagaimana dengan Penikmat Wisata disana? Apakah mereka juga memilih untuk menghabiskan waktu berlibur mengunjungi tempat wisata disana. Indahnya pemandangan dipadukan dengan kearifan lokal yang dianut oleh penduduk sekitar pastinya juga ada disana. Apakah kelebihan-kelebihan yang ada disana sudah benar-benar dioptimalkan?

Indahnya kawasan Nias dengan budaya suku disana, Danau Toba dengan beragam suku yang ada, Berastagi dengan keindahan alam gunungnya, pantai di pesisir barat Sumatera Utara yang tentunya tidak kalah menarik dengan Pangandaran, Parangtritis, atau pantai lainnya. Belum lagi indahnya Air Terjun Dua Warna yang terdapat di Sibolangit, Pemandian Air Panas di Sidebu-debu, wahana permainan di Mickey Holiday, Hill Park, dan juga Water Boom di Pantai Cermin. Dan tentunya banyak keunggulan lain yang terdapat disana.


Namun kondisi yang ada selama ini, sulitnya infrastruktrur, kesadaran masyarakat dalam melestarikan lingkungan, dan banyak hal lainnya membuat potensi-potensi itu hanya mengisi opsi-opsi terakhir dalam menentukan pilihan liburan. Apakah benar? Ini hanya asumsi saya saja. Semoga tidak.

Beberapa hari yang lalu bertanya kepada seorang teman yang berdomisili di Samosir dan menanyakan bagaimana kondisi disana saat ini. Apakah pencemaran air danau dengan kotoran dan makanan ikan, banyaknya eceng gondok, dan penebangan pohon masih menjadi santapan sehari-hari disana? Dan untungnya sang kawan menjawabnya dengan sebuah harapan, bahwa itu semua sedang diperbaiki. Masyarakat mulai sadar dan mulai memperhatikan lingkungannya. Semoga ini bisa terus terjadi dan bukan 'panas-panas taik ayam'. Dan semoga perubahan itu tidak hanya diusahakan di kawasan Samosir saja, tapi juga di seluruh Sumatera Utara pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya.

Begitu juga dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia, pastinya punya potensi-potensi pariwisata juga. Kebetulan saya berasal dari Sumut sehingga tahunya potensi wisata disana juga.

Bagaimana dengan kita?
Apa yang bisa kita lakukan?
Apakah cukup dengan menjadi Penikmat Wisata?
Atau ada hal lain yang bisa dilakukan?

Tentu banyak yang bisa kita lakukan.
Pertama, tentunya mencintai pariwisata lokal itu sendiri. Saatnya berhenti melihat halaman yang indah di sebelah rumah karena halaman rumah kita juga tidak kalah indahnya, namun belum tertata dengan rapi.
Saatnya mencoba berkunjung di halaman sendiri, sehingga lambat laun juga halaman itu akan tertata dengan rapi tergantung intensitas kita mengunjunginnya.



Kedua, mulailah kita ikut memperkenalkan tempat-tempat wisata ini ke rekan-rekan kita. Kalau bukan kita yang memperkenalkan, siapa lagi. Dari seorang Penikmat Wisata menjadi Pemrakarsa Wisata, memperkenalkan, mengajak teman-teman untuk berwisata ke potensi-potensi wisata yang ada di sekitar kita.
Sangat banyak dan sangat indah. Tapi sayang belum tertata rapi. Dan kehadiran kita akan menjadi nafas dalam menghidupkan pariwisata kita.

Ketiga dan terakhir, ketika sukses meniti karir nantinya, jangan pernah lupa untuk melihat ke bawah, ikut berinvestasi dalam mengembangkan pariwisata ini. Karena peran kita juga sangat diperlukan dalam membangun pariwisata di daerah kita. Dan sedikit investasi dari kita akan semakin memperkuat denyut nadi masyarakat disana untuk hidup dan juga memajukan kondisi masyarakat disana.









Bagaimana teman-teman?
Mari kita berwisata keliling Indonesia!!!
Tuntaskan dulu keliling halaman sendiri baru melihat halaman tetangga kita,,
Selamat berlibur...



^^

_sahatmps