inspirasi

inspirasi
Showing posts with label hidup. Show all posts
Showing posts with label hidup. Show all posts

Tuesday, 15 September 2015

Berani Bermimpi

Selama berbulan-bulan ini aku sering bercerita dengan Yanes David tentang mimpinya untuk membangun Pematang Siantar-Simalungun lewat pendidikan. Waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit rela mereka kuras demi mengejar mimpi ini. Bersama Daniel Ompusunggu dan para agent of change Jimmi Reinhard, dkk, mereka mendirikan Sopo Helios, sebuah lembaga pendidikan dengan pendekatan active learning dan pendidikan karakter.



Hari Minggu kemarin aku dan tim FOKAL.info mendapat kesempatan merasakan langsung mimpi Yanes dan teman-teman. Kesempatan ini menjadi lebih spesial karena kami diminta untuk bercerita tentang apa mimpi kami dan bagaimana kami berusaha mengejar mimpi kami kepada adik-adik SMP binaan mereka.

Kami menceritakan pengalaman kami masing-masing; tentang mimpi kami dan bagaimana kami harus jatuh-bangun mengejar mimpi kami. Bang Pirhot Nababan mengingatkan adik-adik untuk tidak berhenti mengejar mimpi sebelum mimpi itu tercapai. Bang Basar Daniel mengajak adik-adik untuk mengatur waktu sebaik mungkin, sehingga bisa seimbang waktu untuk belajar, bermain, dan aktivitas lainnya. 




Adik-adik juga menceritakan mimpi mereka. Ingin membahagiakan orangtua, sekolah di SMA favorit, dan bekerja di berbagai profesi yang mereka minati. Mata mereka berbinar saat menceritakan mimpi mereka. Ada harapan, ada semangat, ada keberanian untuk bermimpi dan mengejarnya.

Malamnya kami dijamu oleh nikmatnya masakan dan keramahan dari Ibunda Yanes, Inang Diana Nainggolan. Beliau menyemangati kami untuk setia menekuni mimpi kami walau mimpi itu mungkin tidak biasa bagi kebanyakan orang.

Terimakasih kepada teman-teman Sopo Helios yang berani bermimpi yang tidak biasa dan rela jatuh-bangun berusaha membangun Siantar-Simalungun lewat pendidikan. Pengabdian teman-teman mengingatkanku untuk tidak merasa cukup dengan aktivitas/pekerjaan pribadi yang kulakukan. Ternyata masih begitu banyak ruang kosong yang bisa diisi oleh orang-orang yang mau dan berani bermimpi membangun sesama dan lingkungan sekitarnya.

Monday, 29 June 2015

Berlari Dengan Tujuan


“Ada seribu jalan ke Roma”. Peribahasa ini sudah sering kali kita dengar dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan cepat kita dapat memahami maksud dari pepatah ini. Ada banyak kemungkinan dan cara untuk mencapai target atau tujuan kita. Oleh karena itu, jangan pernah menyerah jika gagal di satu kemungkinan. Selalu ada kemungkinan lainnya yang dapat kita jalani untuk mencapai keberhasilan.

Kita pasti puas dengan kesimpulan dari pepatah ini. Ada seribu jalan, seribu cara, seribu metode, seribu kemungkinan dan kesempatan. Fokus kita sering kali tertuju kepada frase ini. Namun sering kali kita lupa akan dua kata penting yang membuat pepatah ini menjadi utuh dan bermakna. Ke Roma.


Menentukan Tujuan
Pepatah ini tidak lengkap jika hanya ‘ada seribu jalan’. Ada seribu jalan, tapi jalan kemana? Ada seribu cara, namun cara mengerjakan apa? Seribu, bahkan sepuluh ribu jalan tidak akan ada gunanya jika kita tidak menetapkan tujuan kita. Ke Roma, maka jelaslah apa target kita, dan kita dapat melakukan perjalanan dengan tujuan. Tanpa tujuan, kita hanya akan berlari dengan sia-sia, tidak tentu arah, menghabiskan waktu untuk hal yang tidak berguna.

Berlari dengan tujuan adalah hal mutlak yang harus kita lakukan. Dalam perusahaan, organisasi, pemerintahan, bahkan aktivitas pribadi, kita harus menetapkan tujuan agar mampu menentukan jalan dan melangkah untuk menjalaninya. Tujuan adalah hal yang penting dan harus ditetapkan sedari awal sebelum kita melangkah dan menetapkan jalan.

Pernahkah kita menyaksikan gelanggang marathon? Akan berlari kemanakah para pelari jika mereka tidak mengetahui garis akhir mereka? Atau adakah perusahaan dan pemerintahan yang berhasil tanpa menentukan terlebih dahulu target pencapaian mereka setiap tahunnya?

Tanpa tujuan, perusahaan, organisasi, pemerintahan, ataupun aktivitas pribadi kita tidak akan pernah dapat berlari mencapai hal yang lebih baik. Bahkan berlari tanpa tujuan justru dapat membawa kita kepada kehancuran. Banyak perusahaan dan organisasi yang mandek, mundur, bahkan hancur karena tidak mampu menentukan tujuan yang jelas dan spesifik. Pemerintahan yang tidak memiliki tujuan yang jelas dan terarah hanya akan membawa mudarat bagi warganya. Pemerintahan tanpa tujuan akan berakhir sia-sia dan tidak dapat membawa kesejahteraan bagi masyarakat.

Roma adalah sebuah tujuan yang ditetapkan seorang pelancong sehingga dia dapat memikirkan seribu kemungkinan jalan menuju Roma. Pelancong ini menunjukkan kepemimpinannya dengan menetapkan tujuan sebelum berjalan ataupun berlari. Berlari dengan tujuan membutuhkan kepemimpinan. Begitu juga sebaliknya, seorang pemimpin harus memiliki tujuan agar dapat berlari membawa perusahaan, organisasi, ataupun masyarakat yang dipimpinnya.

Merencanakan Perjalanan
Pemimpin yang memimpin tanpa tujuan tidak akan dapat merencanakan perjalanan yang baik untuk perusahaan, organisasi, ataupun masyarakat yang dipimpinnya. Pemimpin yang seperti ini akan membawa perusahaan, organisasi, ataupun masyarakatnya berjalan di tempat, ataupun berlari tanpa arah bahkan kehilangan arah. Tidak ada tujuan yang ditetapkan, maka tidak jelas jalan yang akan dilalui. Pemimpin tanpa tujuan tidak akan membawa manfaat bagi orang yang dipimpinnya.

Sayangnya kita sering kali memilih pemimpin yang belum menetapkan tujuannya dengan jelas. Kita lebih senang memilih pemimpin yang kelihatan bagus dari luar, tanpa berusaha melihat seberapa luas dan jauh visi dari pemimpin ini. Perusahaan, organisasi, ataupun masyarakat kita justru memberikan amanah kepada pemimpin yang tidak bervisi ketimbang kepada pemimpin yang memiliki arah dan tujuan.

Di sekitar kita, ada banyak contoh perusahaan, organisasi, ataupun daerah yang dipimpin oleh pemimpin yang tidak punya arah tujuan. Akhirnya, dana habis dengan sia-sia, sumber daya manusia tidak diberdayakan dengan baik, fasilitas terbuang tanpa guna, dan banyak potensi-potensi baik lainnya yang gagal dan tidak dapat dimanfaatkan.

Pemimpin yang baik harus dapat membawa masyarakat yang dipimpinnya berlari dengan tujuan. Adanya tujuan dapat memberi gambaran kepada kita tentang bagaimana cara kita mencapai tujuan tersebut. Dengan adanya gambaran, kita dapat merencanakan perjalanan dengan baik; menyusun persiapan, baik dana, sumber daya, ataupun fasilitas yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan kita. Pemimpin yang berlari dengan tujuan akan dapat mengembangkan perusahaan, organisasi, ataupun daerah yang dipimpinnya menjadi lebih baik dari sebelumnya.
 
Menjadi pemimpin yang berlari dengan tujuan bukanlah pekerjaan yang mudah. Namun kita semua dapat menjadi pemimpin yang demikian asalkan memiliki komitmen, semangat pembelajar, dan visi membangun. Ada seribu jalan ke Roma. Mari putuskan tujuan ‘Roma’ kita sehingga kita dapat memikirkan ‘seribu jalan’ untuk mencapainya.

Tuesday, 24 March 2015

Sudut Kehidupan Akhirnya Pensiun

Akhirnya "Sudut Kehidupan" harus pensiun dari tugasnya. 

Setelah bertahun-tahun memilih "Sudut Kehidupan" menjadi tema dari blog ini, hari ini aku memutuskan untuk menggantinya dengan tema lain yang selama beberapa bulan lalu menjadi tagline pribadi. Tagline ini bernama #KegembiraanBersama.

Sebelum membahas tagline baru ini, ada baiknya kita mengenang jasa "Sudut Kehidupan" yang sudah menemani kita saat berselancar di blog ini. Ucapan terima kasih yang besar sudah sepantasnya diberikan kepada "Sudut Kehidupan" karena telah memberikan sudutnya menjadi tempat kita berbagi dan bercerita. Di sudutnya kita bertemu dan berpisah. Di sudutnya pula kita menangis dan tertawa.

Kenapa dulu aku memilih "Sudut Kehidupan" menjadi tema blog ini? 
Tentu tema itu tidak muncul begitu saja.  

Saat itu tahun 2010 saat aku mulai mengetikkan cerita di blog ini, Masa itu, bagiku dan mungkin bagi banyak pemuda lainnya, adalah fase mencari jati diri. Aku baru saja berumur 21 tahun, dan keistimewaan itu membuatku sudah termasuk dalam kategori "di atas 21 tahun". Banyak hal, baik dan buruk, positif dan negatif, yang dikaitkan dengan umur 21 tahun. Bisa kita simpulkan, umur 21 tahun adalah fase kritis bagi seorang pemuda. Apakah setelah umur 21 tahun kita menjadi orang baik atau buruk, menjadi orang yang membawa manfaat atau mudarat.


Ternyata kegalauan pemuda pada fase itu juga merasuk dalam kehidupanku. Maka jadilah aku terkadang harus berhenti sejenak di sudut kehidupan. Melihat ke belakang, untuk mengevaluasi setiap langkah yang kulalui. Memandang ke kiri dan ke kanan, untuk memahami bagaimana diriku sekarang. Dan menatap ke depan, untuk mencari tahu, jalan mana yang akan kulalui esok hari.

Maka di "Sudut Kehidupan" aku merenung, dan di sudut ini juga aku berusaha memahami jati diriku, tujuan aku dilahirkan, alasan kenapa aku harus ada. Di sudut ini aku menyesali kesalahanku, terkadang juga menertawakan kebodohanku. Dan lebih dari itu, di sudut ini juga aku akhirnya menemukan keping demi keping puzzle kehidupanku, yang berusaha kususun satu per satu setiap aku berhenti sejenak di "Sudut Kehidupan". 

Jadi inilah aku, begini adanya, dengan setiap kelebihan dan kekurangan yang dianugerahkan Tuhan kepadaku. Dan setelah bertahun-tahun perenungan di "Sudut Kehidupan", maka kutemukanlah nilai hakiki yang harus kujalani, yakni menjadikan hidup sebagai #KegembiraanBersama.




Dan disinilah #KegembiraanBersama menjadi tagline yang menggantikan “Sudut Kehidupan”.

     


Fase merenung sudah usai, walaupun ke depan juga kita harus tetap berhenti sejenak untuk merenung, mengevaluasi setiap jalan yang kita pilih dalam petualangan kehidupan ini. Namun, saat ini adalah saatnya untuk bertindak aktif, menjadikan diri kita berarti, baik bagi diri kita sendiri, orang di sekitar kita, terutama berarti untuk Sang Pencipta.


#KegembiraanBersama adalah penemuanku akan arti kehidupan. Bahwa hidup ini sebenarnya penuh dengan kegembiraan dan keindahan. Dan hidup yang gembira ini akan semakin indah ketika kita dapat berbagi dengan orang lain sehingga hidup kita menjadi kegembiraan milik bersama.

                                                 


Terima kasih “Sudut Kehidupan” dan  selamat datang #KegembiraanBersama.

                                                 

                              

Sunday, 8 March 2015

Perjalanan Hidup 2: Tidak Hilang Harapan Menjadi Lebih Baik

Setiap kesatria cahaya pernah merasa takut untuk terjun ke medan tempur.
Setiap kesatria cahaya pernah, di masa lalu, membohongi atau mengkhianati seseorang.
Setiap kesatria cahaya pernah melangkahkan kaki di jalan yang bukan jalannya.
Setiap kesatria cahaya pernah menderita karena alasan-alasan yang paling sepele.
Setiap kesatria cahaya pernah, setidaknya sekali, meyakini bahwa dirinya bukan kesatria cahaya.
Setiap kesatria cahaya pernah gagal dalam menunaikan kewajiban-kewajiban spiritualnya.
Setiap kesatria cahaya pernah berkata 'ya' ketika dia ingin mengatakan 'tidak'.
Setiap kesatria cahaya pernah menyakiti seseorang yang dia sayangi.
Itulah sebabnya dia disebut kesatria cahaya, sebab dia telah melalui semua itu namun tidak kehilangan harapan untuk menjadi lebih baik daripada dirinya yang sekarang.
‪
*dikutip dari buku Kesatria Cahaya karya Paulo Coelho.

Thursday, 29 January 2015

Pelajaran Hidup 1: Suratan Takdir atau Usaha?

Perjalanan hidup kita memang tidak mudah.
Jalan terlihat tidak berujung, terjal dan berbatu.
Banyak kerikil tajam yang siap memangsa kaki para pejalan.
Tidak jarang perjalanan kita diusik semak berduri yang tumbuh hingga ke tengah jalan.
Beratnya jalan bercampur aduk dengan letihnya badan.
Semangat di awal berganti segera dengan keputusasaan.

Tidak jarang kita berpikir apa kita salah jalan.
Terkadang kita badan kita menuntut untuk berhenti.
Bahkan lebih dari sekali kita ingin berbalik arah dan kembali.
Perjalanan begitu berat.
Ini sepertinya bukan jalan kita.

Beberapa orang tua mengatakan perjalanan hidup itu merupakan suratan takdir.
Tidak ada yang dapat menduga, juga menerka.
Kita hanya bisa berpasrah.
Sehingga hidup tanpa berjuang dan lupa dengan kenyataan.

Ada juga yang mengatakan perjalanan hidup ditentukan oleh kita sendiri.
Kitalah yang menentukan nasib kita, baik atau buruk, berhasil atau terbuang.
Mereka yang sepakat dengan ini kemudian berusaha merancang hidupnya.
Mengejar mimpi yang indah sehingga terkadang lupa dengan kenyataan.

Yang manakah kita?
Apakah menjadi orang yang pasrah dan lupa dengan kenyataan?
Ataukah menjadi pemimpi yang juga lupa dengan kenyataan?

BUKAN.
Kita bukanlah si pasrah.
Kita juga bukanlah si pemimpi.

Kita adalah perpaduan keduanya.
Kita adalah orang yang pasrah dan bermimpi.
Pasrah akan suratan takdir dari Sang Perancang Agung, yang telah merancang perjalanan hidup kita sedemikian rupa, sehingga perjalanan hidup kita akan menjadi Legenda Pribadi milik kita semata.
Kita juga pemimpi yang memimpikan hal-hal indah dan berusaha mencapainya.

Maka genaplah perjalanan hidup kita.
Buah dari suratan takdir dan usaha.
Hasil yang didapat dari perjuangan anak manusia dan penyertaan Sang Khalik.
Perjalanan hidup yang walau berat dan berliku-liku, akan berakhir dengan indah dan bahagia.
Jika dan hanya jika kita berusaha optimal selama menjalaninya, sembari tetap berpasrah pada kehendak Sang Pencipta.


Salam pagi. :)

Monday, 14 April 2014

Menakar Waktu

Pagi, siang, sore, malam, dan pagi lagi
Malam, pagi, siang, sore, dan malam lagi
Bergulir, berganti, berulang
Suka, duka, kalah, dan menang

Siapa yang dapat menahan hari?
Atau adakah yang dapat menghentikan waktu?
Umur selalu terus berlari
Dan kenangan juga akan silih berlalu

Hei, semua umat manusia
Itu hanyalah usaha menjaring angin
Tak ada yang dapat melihatnya
Juga tak satupun yang bisa merasakan

Waktu...
Usia...
Masa...
Lalu?

Semua indah pada waktunya
Namun tidak semua berguna
Apakah setiap hal hanyalah kesia-siaan?

Waktu akan terus berjalan, kadang berlari
Manusia akan bertambah umur, hingga lanjut usia
Siapa yang dapat menunda hari?
Atau adakah yang dapat menyangkal masa?

Tidak semua berguna di waktu yang hilang dan muncul satu persatu
Maka jadilah berhikmat
Jalani hidup dengan indah
Seakan tidak akan pernah ada lagi hari esok...

Salemba, subuh hari tanggal 14-04-2014

Saturday, 14 December 2013

Tujuan Sebuah Cita-Cita

Tahun ini pun akan segera berakhir. Hari-hari penuh suka dan duka telah berlalu dan ke depan kita akan menamakan mereka sejarah. Sejarah dari usaha kita untuk mencapai impian dan cita-cita. Sering juga kita menamakannya tujuan hidup kita.

Apakah impian atau cita-cita kita? Lulus SMA, lulus SPMB (atau apapun namanya sekarang), dapat pacar yang pintar, manis, dan puluhan kesempurnaan pacar lainnya, lulus tepat waktu dengan IP 4 kalau bisa 5, bekerja dengan gaji sebesar gaji direktur, menikah dengan primadona, menjadi presiden, ataupun seabrek keinginan lainnya. Impian itu begitu besar, sampai-sampai memaksa kita untuk menetapkan resolusi di setiap awal tahun. Ada yang menyebutnya janji, ada juga yang menggelarinya nazar (tentunya bukan Nazarudin). Apapun panggilannya, resolusi itu adalah buah dari keinginan kita. Dan kita bertekad untuk bisa mencapainya setahap demi tahap.

Tidak jarang kita rela menyakiti diri sendiri untuk mencapai keinginan kita. Tidak tidur semalaman (bisa dibayangkan sakitnya menahan kantuk), menabung (menahan diri untuk membeli hal-hal yang kita inginkan), seharian di luar rumah, stres karena beban pikiran, menolak ikut kumpul-kumpul dengan rekan sepermainan, sampai juga sakit fisik seperti batuk, demam, bahkan tipus atau demam berdarah. Itu semua siap kita hadapi demi meraih impian kita.

Namun, pertanyaan pun muncul. Untuk apakah kita berjuang meraih cita-cita, impian, atau keinginan kita?
Lulus SMA agar bisa melanjut kuliah. Lulus kuliah agar bisa melanjut kerja. Kerja agar bisa mendapat gaji untuk hidup dan menikah, dan seterusnya. Pada akhirnya setiap tujuan itu hanya menjadi tujuan sementara, tujuan sementara yang akan berganti lagi menjadi tujuan sementara lainnya ketika kita sudah mencapai tujuan sementara tersebut. Kita tidak pernah puas mencapai satu tujuan dan terus berjuang meraih tujuan selanjutnya, bahkan terkadang menyimpang dari semestinya.
Suami yang tidak puas beristri satu dan justru sering mencari "jajan" di luar, koruptor yang sudah punya uang banyak namun tetap korupsi, dan fenomena-fenomena lainnya.
Pertanyaannya, sampai tujuan manakah kita baru puas dan berhenti?

Sang filsuf ternama, Aristoteles, ternyata telah menyadari dan mempertanyakannya 2400 tahun yang lalu. Apakah semua tujuan hidup manusia hanyalah tujuan sementara, tujuan yang akan berganti menjadi tujuan baru ketika tujuan sebelumnya sudah tercapai? Tidak adakah tujuan yang abadi? Tujuan yang ketika manusia mencapainya, dia tidak akan berpikir untuk mencari tujuan baru lainnya.

Dan sang filsuf ternyata juga menjawab pertanyaannya sendiri. Tujuan abadi itu memang ada, yakni KEBAHAGIAAN.
Pada hakikatnya, apapun yang dilakukan manusia adalah upaya untuk mencapai KEBAHAGIAAN. Membahagiakan dirinya, orangtuanya, keluarganya, temannya, gurunya, istrinya, masyarakatnya, negaranya, ataupun Tuhannya.

Kita ingin lulus agar membahagiakan orangtua kita yang sudah menyekolahkan kita dari muda. Kita bekerja untuk membahagiakan orangtua ataupun istri dan keluarga kita. Kita mengabdi dengan setia untuk membawa kebahagiaan bagi masyarakat dan negara kita. Kita rajin beribadah dan hidup taat demi menyenangkan Tuhan yang kita sembah.

Menjadi refleksi bagi kita, apakah usaha yang kita lakukan selama ini sudah kita lakukan untuk mencapai kebahagiaan itu? Apakah cita-cita kita memang bertujuan untuk mencapai kebahagiaan yang sejati, bukan semu dan bisa hilang dimakan waktu?
Ataukah selama ini kita telah berjuang untuk cita-cita yang justru tidak membawa kebahagiaan sejati?

Mari merangkai cita-cita yang berpatok kepada kebahagiaan. Karena tujuan dari cita-cita bukanlah kenikmatan semu, melainkan KEBAHAGIAAN yang sejati. :)

Friday, 12 August 2011

Umurnya Tidak Jauh Dari Kita, Wolter Monginsidi

Robert Wolter Monginsidi nama lengkapnya. Kita sering menyebut nama ini ketika sedang mencari alamat rumah ataupun tempat, namun sangat disayangkan, kita jarang mendengar kisah apa yang ada di balik nama itu. Kita tidak mengetahui begitu indah cerita perjuangan dan pengorbanan dari sang Pahlawan Nasional, Pahlawan dari Tanah Minahasa.

Dilahirkan di tanah air tempat dia memberikan hati, pikiran, dan raganya pada 14 Februari 1925, di Malalayang, Manado. Gugur sebagai patriot di Pacinang, Makassar, 5 September 1949. Umurnya tidak sampai 25 tahun, sangat muda dan masih banyak hal yang seharusnya bisa dilakukannya, tapi pilihan untuk membela rakyat, bangsa, dan negara yang dicintainya membuatnya harus mati muda. Pilihan itu sendiri tidak diambilnya dengan setengah hati. Rela berkorban, sukacita, berani, dan ikhlas, justru itu yang terbersit di akhir hayatnya.

Berikut pesan dan kata yang diungkapnya kepada orang-orang terdekatnya, baik itu kala perjuangan membela ibu pertiwi, juga di saat-saat terakhir menumpahkan darah di tanah kecintaannya, Indonesia.

Pesan ini disampaikannya kepada Opie, adiknya. Bukti ketegaran dan keberaniannya yang tidak gusar menghadapi hari kematiannya.

"Apa yang saya bisa tinggalkan hanya rohku saja, yaitu roh setia hingga terakhir pada tanah air dan tidak mundur sekalipun menemui rintangan apa pun, menuju cita-cita kebangsaan yang tetap. Terbatas dari segala pikiran ini, junjunganku senantiasa Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan dengan kepercayaan yang tersebut belakangan ini sangguplah saya tahan segala-galanya, teguh iman di dalam kesukaran, tenang ketika keadaan sederhana dan tidak melupakan kenalan-kenalan jika berada dalam kemajuan. Ingatlah adikku bahwa kepergianku ini bukan jalan yang berbeda dengan yang lain. Perpisahan duniawi membawa manusia masuk ke pertemuan yang kekal. Sekalipun begitu gembira dalam hidup sebab itu pun pemberian Tuhan Yang Tertinggi di dunia."

Sebuah surat disampaikannya kepada teman baiknya, Milly Ratulangi, anak perempuan dari tokoh besar lain, pahlawan nasional Sam Ratulangi. Surat itu berisikan rasa masih ingin berjuang, di tengah kematian yang menanti. Betapa besar kecintaannya kepada tanah tumpah darahnya.

"Aku tidak mengandung perasaan tidak baik terhadap siapa pun, juga terhadap mereka yang menjatuhkan hukuman yang paling berat ini kepadaku karena kupikir mereka tidak mengetahui apa yang mereka kerjakan.... Untuk Tanah Air, saya sudah bulatkan hati menghadapi saat ini. Ah, Milly, apa yang saya hendak tinggalkan buat teman-temanku yang pernah mengenal kepadaku? Perjuanganku terlalu kurang tapi sekarang Tuhan memanggilku. Rohku saja yang akan tetap menyertai pemuda-pemudi.... semua air mata dan darah yang telah dicurahkan akan menjadi salah satu fondasi yang kukuh untuk tanah kita yang dicintai, Indonesia."

Darahnya juga tertumpah beberapa hari kemudian, menjadi fondasi, tiang yang kokoh, menyokong kehidupan kita saat ini di Tanah Air yang dicintainya, dan juga SEHARUSNYA kita cintai.

Kepada adiknya, Robbie, dia tidak lupa memberikan didikan dan ajaran.
Suratnya,

" ... bahwa sedari kecil harus tahu terima kasih, tahu berdiri sendiri ... belajarlah melihat kepahitan! ... Belajarlah bekerja mulai dari 6 tahun! ... Dan jadilah contoh mulai kecil, sedia berkorban untuk orang lain ... Untuk mengingat-ingat itu susah. Semua tidak ada yang gampang tapi terlalu susah pun tak ada juga. Bermain dengan temanmu, bekerja di kebun, bertanam, mencintai hasil usaha sendiri, menjadi penolong bagi kakakmu yang lebih tua, menjadi pembela dari yang lemah dan miskin, hormat pada orang tua, tahu mengaku bila bersalah, jangan mendapat sesuatu dengan jalan gelap dan sebagainya. Itulah, harus jadi darah dagingnya. Bekerjalah untuk kepentingan lain orang sedapat bisa. Itu bukan membuang tenaga percuma! Dan jadilah engkau sebagai adik dari kakakmu!"

Betapa luhur pikirannya. Betapa lurus jalannya. Dan kisahnya terbenam, hanya sebatas alamat jalan. Miris. Sangat disayangkan. Masih adakah Mongonsidi-Mongonsidi muda yang akan menggantikan tokoh bangsa ini?

Kata-kata Mongonsidi kepada keluarganya, lagi-lagi sebagai bukti nyata perpaduan keyakinannya yang teguh dengan kecintaannya kepada bangsanya.

"Saya telah relakan diriku sebagai korban, dengan penuh keikhlasan memenuhi kewajiban buat masyarakat kini dan yang akan datang. Pengertian tanah air Indonesia buat saya sendiri hampir-hampir saja sebagai suatu wujud yang berbentuk nyata sekali. Saya penuh percaya bahwa berkorban untuk tanah air mendekati pengenalan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Betapa kasihku kepada kamu sekalian dan kepada sukuku dan bangsaku tidaklah dapat kukatakan dengan kata-kata!"

Betapa dalam kecintaannya. Betapa kuat keyakinannya. Betapa tinggi.

Kisah, surat, dan tulisan ini saya kutip dari bab Menyumbang Pemimpin, buku Bangkit Memandu Bangsa karya Samuel Tumanggor. Beliau mengutipnya dari buku Jejak Kaki Wolter Mongonsidi: Sebuah Kisah Perjuangan karya S. Sinansari Ecip.

Alkisah mata sang penulis berkaca-kaca ketika menyalin kata-kata Mongonsidi, begitu juga saya ketika membaca dan menuliskan segelintir dari kisahnya. Kagum dan haru. Betapa besar tokoh ini!
Umurnya belum sampai 25 tahun ketika ajal menjemputnya, hanya berbeda dua tahun dari umur saya sekarang. Tapi pemikiran, kedewasaan, idealismenya sangat jauh, tidak dapat dibandingkan dengan saya saat ini. Betapa dalam, betapa kuat, betapa tinggi.
Menjalin dengan indah kecintaan kepada Tuhannya dan kecintaan kepada bangsanya, dan itu memang terpadu dengan baik melalui kisah hidupnya.


Sekali lagi saya bertanya, dan seharusnya kita bertanya, apakah masih ada Mongonsidi-Mongonsidi muda yang siap melanjutkan perjuangannya?

Ataukah kemapanan, kenyamanan, dan kemerdekaan ini telah membutakan kita dari 'penjajahan' yang masih terus berlangsung di tanah tumpah darah yang sangat dicintai Mongonsidi dan SEHARUSNYA sangat kita cintai juga?
Mari kita memikirkan dan menjawabnya bersama, wahai Mongonsidi-Mongonsidi muda yang sedang tertidur. Mari.

Terima kasih kepada b'sam yang telah mengenalkan tokoh ini kepada saya sehingga saya tidak sebatas mengetahui nama tokoh ini sebagai sebuah nama jalan di dekat tempat tinggal saya.


#Tulisan ini dibuat dalam rangka 17 Agustus, agar kita mengenang kisah para tokoh kita, yang telah memberikan fondasi kokoh untuk kehidupan yang kita jalani saat ini. Sudah SELAYAKNYA kita tidak terlena dengan kenyamanan, tapi tetap berjuang, melanjutkan kisah yang mereka rajut.

Thursday, 24 February 2011

Hidupilah Hidup

durasi baca: 1-2 menit




 


hidupilah hidup,
dan jangan pernah membiarkan mimpi dan cita yang sudah ada di benak kita itu hanya menjadi mimpi belaka tanpa pernah diusahakan terjadi,
berbangga dan  berbahagialah kita telah diberi kesempatan oleh Yang Diatas untuk mendapatkan mimpi dan cita itu dari sekarang, sejak kita muda,
tapi ingat satu hal,
setiap orang juga diberikan mimpi dan cita, sesuai tujuan kita masing-masing ada di dunia ini,
namun hanya sedikit yg berani keluar dari zona nyaman,
dan melakukan sesuatu yang berarti untuk menggapai mimpi dan cita itu,




yang manakah diri kita?
mari membuat sejarah kita sendiri,
dari sekarang,
mulai dari hal yang kecil,
karena bagaimanapun,
apa yang kita mulai dari sekarang,
pasti tetap berarti untuk merintis jalan,
melangkah lebih dekat menuju mimpi dan cita itu,
dan mimpi serta cita itu aku yakin,
bukan sebatas apa yang terjadi tentang kita,
tapi apa yang dapat kita lakukan, untuk mereka,
karena itu pasti tujuan masing-masing kita ditetapkan ada,
bukan lagi tentang aku, atau kita,
tapi tentang apa yang bisa kita lakukan, untuk mereka, untuk sekitar kita,

mari mulai dari sekarang,
sampai tiba akhir dari kita.



selamat beraktivitas,
dan melangkah lebih dekat,
selangkah, dua langkah, tiga langkah,
menuju mimpi dan cita di ujung jalan.
Yang Diatas akan selalu menyertai langkah kita,
^^

Tuesday, 31 August 2010

Life's Story

kehidupan seperti buku.
judul adalah nama kita, halaman adalah catatan sehari-hari dari usaha, ujian, keputusasaan, dan keberhasilan kita.
hari demi hari, pikiran dan tindakan kita dicatat dalam buku kehidupan kita.
begitu kata tamat ditulis, biarlah saat itu orang akan menilai buku kita bahwa itu adalah sebuah catatan tentang tujuan hidup yg dilaksanakan dengan baik.
mari menulis buku terbaik yg bisa kita tuliskan.