inspirasi

inspirasi
Showing posts with label kemiskinan. Show all posts
Showing posts with label kemiskinan. Show all posts

Monday, 6 June 2016

Menghapus Kemiskinan*

Oleh: Sahat Martin Philip Sinurat**

Pembangunan nasional tidak boleh pandang bulu dan harus dirasakan semua rakyat Indonesia. Namun, salah satu permasalahan utama dalam pembangunan adalah sebagian rakyat Indonesia yang masih hidup di ambang garis kemiskinan. Padahal salah satu tanggung jawab dalam mendukung pembangunan berkelanjutan adalah mengentaskan kemiskinan. Kemiskinan adalah salah satu problem kehidupan manusia yang menghambat berjalannya pembangunan berkelanjutan.

Pada Konferensi Stockholm tahun 1972, Deklarasi Stockholm menyerukan perlunya komitmen, pandangan, dan prinsip bersama bangsa-bangsa di dunia untuk melindungi dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup umat manusia. Konsep lingkungan hidup manusia yang diperkenalkan menekankan perlunya langkah-langkah pengendalian laju pertumbuhan penduduk, menghapuskan kemiskinan, dan menghilangkan kelaparan yang diderita sebagian besar manusia di negara berkembang. Dengan mengatasi kemiskinan, mutu kehidupan manusia akan ditingkatkan, dan berbagai macam akibat kemiskinan seperti penyakit, sanitasi, kurangnya ketersediaan air bersih, rendahnya tingkat pendidikan, dan lainnya juga akan bisa diatasi.

Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, berbagai etnis, agama, dan kultur masing-masing memiliki tantangan tersendiri dalam mendorong terjadinya pembangunan yang berkelanjutan. Pemerintah sebagai pengawal pembangunan harus mengentaskan kemiskinan dengan menjadikan masyarakat miskin sebagai
objek utama berbagai kebijakannya. Pembangunan harus dilakukan secara merata, tidak hanya di pulau-pulau utama seperti Jawa dan Sumatra yang selama bertahun-tahun telah menjadi pusat perekonomian Indonesia, namun juga di pulau-pulau lain seperti Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan pulau-pulau lainnya.

Pembangunan yang (tidak) adil dan (tidak) merata
Pemerintah saat ini telah banyak menjalankan proyek pembangunan infrastruktur di luar Jawa. Pembangunan bandara, pelabuhan, jalan, jalur kereta api, dan kawasan industri telah dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. Pembangunan ini diharapkan dapat memicu masuknya investasi ke daerah-daerah bersangkutan. Dengan adanya investasi, diharapkan adanya peningkatan aktivitas ekonomi yang akan memberikan kesejahteraan pada masyarakat.

Sayangnya, pembangunan ini masih belum mengakomodir aspirasi dari masyarakat yang berada di lokasi pembangunan. Pembangunan infrastuktur yang dilakukan pemerintah terkesan hanya menguntungkan para pemilik modal dan segelintir kelompok saja. Kebijakan pemerintah yang seharusnya untuk meningkatkan daya saing masyarakat, khususnya masyarakat menengah ke bawah, masih belum dijalankan dengan baik. Pemerintah juga belum memberi proporsi penggunaan lahan ekonomi yang jelas antara untuk masyarakat menengah ke bawah dengan para pemilik modal besar.

Beberapa proyek pembangunan seperti reklamasi pantai utara Jakarta, reklamasi Teluk Benoa, dan jalur kereta cepat Jakarta-Bandung dapat menjadi contoh ketidakadilan pembangunan yang dilakukan pemerintah. Belum termasuk pembangunan-pembangunan di daerah yang tidak terekspos selama ini.  Pemerintah seperti memberi ruang yang luas bagi pemilik modal untuk berusaha, namun tidak memberikan porsi yang adil bagi masyarakat lainnya.

Jika seperti ini, masyarakat menengah ke bawah hanya akan menjadi penonton dari pembangunan infrastruktur yang terjadi di daerahnya masing-masing. Ketidakadilan dirasakan oleh masyarakat yang tidak memiliki modal. Pembangunan yang tidak merata juga dirasakan masyarakat di kawasan Indonesia bagian tengah dan timur. Sumber daya alam wilayah ini dieksploitasi secara besar-besaran, namun hanya sedikit hasilnya yang dapat dirasakan oleh penduduk lokal.

Perpanjangan pengelolaan Freeport dan pembangunan Blok Masela menjadi contoh pembangunan yang diperebutkan oleh pejabat dan para cukong di belakangnya. Sementara masyarakat yang berada di sekitar kawasan sumber daya alam itu tetap melarat dan kesulitan melangsungkan kehidupannya. Aksi dari oknum-oknum pemerintahan juga memperparah kondisi yang sudah parah dengan sibuk memperkaya diri sendiri ataupun golongannya. Penyakit KKN yang sudah akut dan menyebar dari pusat hingga ke daerah, dinasti pemerintahan di berbagai daerah, dan aksi kekerasan demi memperjuangkan kursi kepemimpinan daerah seakan menunjukkan ketidaksiapan Indonesia dalam hidup bernegara dan berbangsa.

Utamakan Masyarakat
Pemerintah Indonesia harus kembali mengingat perannya sebagai pengawal pembangunan Indonesia. Pemerintah harus memberikan proporsi yang adil dan merata bagi masyarakat. Pembangunan infrastruktur tidak hanya ditujukan untuk mendatangkan investasi namun harus disertai juga dengan mempersiapkan daya saing masyarakat lokal. Permasalahan kemiskinan harus dijawab dengan membuat berbagai program yang sesuai dengan kultur lokal di tengah masyarakat. Potensi-potensi yang ada di daerah harus ditonjolkan dan ditingkatkan produksinya sehingga dapat meningkatkan perekonomian di daerah tersebut. Pemerintah perlu melakukan upaya edukasi dan pendekatan kepada masyarakat sehingga Indonesia dapat menjadi rumah bersama bagi setiap orang dan pembangunan bisa semakin ditingkatkan di setiap wilayah di Indonesia.

Pembangunan Indonesia memiliki keunikan tersendiri yang berbeda dengan negara-negara lainnya. Dalam usaha mengentaskan kemiskinan dimana penduduk miskin tersebar di ribuan pulau dengan berbagai etnis, agama, dan kultur, pemerintah harus menghilangkan paradigma-paradigma primordial yang ada selama ini di dalam pemerintahan. Pemerintah juga harus mengutamakan pembangunan di daerah pedesaan serta kawasan Indonesia di luar Jawa. Dengan memahami kondisi keberagaman Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, etnis, agama, dan kultur masyarakat, upaya mengentaskan kemiskinan dapat dilakukan dan pembangunan yang dicita-citakan dapat diusahakan di setiap wilayah Indonesia.

* Tulisan ini dimuat di Harian Mimbar Rakyat, Jumat, 3 Juni 2016 
**Direktur Eksekutif Centre for People Studies and Advocation (CePSA), Magister Studi Pembangunan Institut Teknologi Bandung


Thursday, 10 November 2011

Veni, Vidi, Vici

Saya datang, saya lihat, saya menang. Bagi kita yang senang membolak-balik buku sejarah dunia tentunya pernah membaca pernyataan ini. Ya, kalimat ini diucapkan oleh Julius Caesar, jenderal dan konsul Romawi pada tahun 47 SM. Julius Caesar menggunakan kalimat ini dalam pesannya kepada senat Romawi untuk menggambarkan kemenangannya atas Pharnaces II dari Pontus dalam pertempuran Zela. Dalam bahasa Latin, kalimat ini kita kenal sebagai Veni, Vidi, Vici. (sumber: id.wikipedia.org, kata kunci: veni, vidi,vici)

Julius Caesar menggambarkan kisah kemenangannya dalam satu kalimat yang pendek. Namun, perjuangan yang harus dilakukan Caesar tentunya tidak semudah menuliskan kalimat singkat ini.  Akal Sang Jenderal dipenuhi ide dan pemikiran bagaimana memenangkan peperangan ketika dia datang dan melihat arena pertempuran. Butuh strategi yang mumpuni, persiapan yang matang, dan prajurit bertekad baja untuk memenangkan sebuah peperangan. Dan pasukan Romawi sangat beruntung memiliki seorang Julius Caesar sebagai pucuk pimpinan mereka. Sang jenderal memiliki karisma dan kemampuan untuk menjalankan itu semua. Pada akhirnya dia dapat menuliskan dengan tegas: Saya datang, saya lihat, saya menang. Sang jenderal telah memenangkan pertarungan dengan mudah.

Dalam konteks kekinian, apabila sosok tersebut hadir di tengah negeri, angan kita tentu akan menari dalam indahnya kemakmuran dan kemajuan Indonesia. Kemiskinan, ketidakadilan, dan korupsi akan bergidik mengenal karakter seperti Sang Jenderal. Namun sayang, orang yang memiliki sifat berani seperti Julius Caesar masih jarang ditemukan di bangsa ini. Sulit rasanya mencari pemimpin yang berani mengatakan kalimat ini -saya datang, saya lihat, saya menang- dan kemudian segera melakukan langkah-langkah kongkrit agar hal tersebut bisa terjadi.

Dari media dan informasi yang ada, kita dapat mengenal dan mengamati pejabat di bangsa kita. Mereka yang memegang posisi-posisi strategis seharusnya menjadi pemimpin kita dalam mengatasi permasalahan yang ada. Namun, dalam realita yang terjadi, pejabat bangsa kita yang sedang berada di tengah sebuah permasalahan, dia datang ke permasalahan tersebut. Bukannya melihat dan menjawab/memenangkan permasalahan, sang pejabat bersikap seakan permasalahan itu tidak ada. Dia tidak melihat adanya permasalahan tersebut.

Tidak jarang juga kita melihat pemimpin yang datang ke sebuah kondisi dan dia melihat adanya sebuah permasalahan. Namun, sang pemimpin tidak berusaha memenangkan permasalahan tersebut. Dia hanya membiarkan dirinya sebatas tahu, tanpa berusaha mengalahkan sang masalah. Akalnya seakan tidak ingin berpikir mencari ide memenangkan pertempuran dan memberikan kebahagiaan bagi rakyat yang menanti di belakangnya.

Kita juga tidak sedikit melihat pemimpin kita yang mengucap dengan lantang saya datang, saya lihat, saya menang, namun dirinya tidak berusaha melakukan tindak nyata untuk membuat kata-katanya terjadi. Dia menyangka ketika dia telah mengatakannya, maka hal yang diucapkannya itu telah terjadi. Pada akhirnya, kemenangan pun akan sulit diraih oleh bangsa ini; kemenangan di segala sektor dan bidang yang sudah letih akan penjajahan kemiskinan, ketidakadilan, korupsi, dan lainnya, dan lainnya.

Melakukan perubahan tidak segampang meneriakkan perubahan. Dibutuhkan strategi, persiapan dan tekad untuk merealisasikan sebuah impian menjadi kenyataan. Begitu juga dalam membawa kemenangan bagi bangsa ini; menang dari kemiskinan, menang dari ketidakadilan, menang dari korupsi dan lain sebagainya. Bangsa ini rindu akan orang yang memiliki karakter berani seperti Julius Caesar. Mengatakan dengan tegas; Veni, Vidi, Vici –saya datang, saya lihat, saya menang- dan kemudian melakukan tindakan dan langkah kongkrit untuk membuat kemenangan itu nyata; baginya, bagi rakyatnya, bagi bangsa dan negaranya.

Monday, 17 October 2011

Bersyukurlah Kita, Kawan


Pak Adang, seorang guru di SMP dan SMA Pasundan, telah mengajar pelajaran bahasa dan budaya Sunda sejak 14 tahun lalu. Penampilan yang rapi dan sifatnya yang ramah seakan menutupi fakta dirinya yang ternyata seorang tuna netra. Kekurangannya dalam melihat tidak membatasi totalitasnya dalam mengajar. Bahkan tidak sebatas pengajar, beliau juga dipercayakan menjadi Wakil Kepala Sekolah. Salut, itu kata pertama yang terlintas di pikiranku ketika mengobrol dengan beliau.

“Pemerintah Bandung tidak memperbolehkan kami menjadi pegawai negeri. Apakah tuna netra itu penyakit? Kami juga berhak membangun bangsa. Teman-teman di Wyata Guna juga enggan keluar dari panti ini. Mereka takut keluar menghadapi masyarakat, dan sudah nyaman dengan kondisi yang ada”, keluhnya.

Ya, tidak perlu membahasnya secara mendalam, kita pun pasti telah menyadarinya, ketidakadilan masih belum melepaskan genggamnya dari bumi pertiwi. Hak asasi manusia Indonesia seakan terkubur, tertulis dengan rapih di dalam setiap butir konstitusi yang menumpuk berdebu di sudut perpustakaan. Sampai kapankah penantian itu; saat ketidakadilan disimpan dalam peti berdebu dan dikubur di bumi terdalam; saat keadilan bisa tegak berdiri, keluar dari kurungannya selama ini?

Mereka saja punya semangat, menikmati keindahan hidup yang sebenarnya ‘melawan’ mereka. Masa kita yang ‘normal’ ini hanya bisa mengeluh dan ‘biasa-biasa’ saja menjalani keindahan hidup di depan mata kita???

Bersyukurlah kita kawan, bisa mendengar dan bisa membaca. Bisa berjalan dan bisa berbicara. Bisa bersekolah dan bisa belanja. Dan kiranya syukur itu tidak hanya kita panjatkan kepada Yang Diatas, tapi juga kepada sesama.

Sang hak masih terus menunggu. Menantikan saat dimana dia bisa terbang dengan leluasa dari ujung barat Pulau We sampai ujung timur pulau Irian. Menikmati Samudera Hindia dari Pulau Rote di selatan dan indahnya pantai Pulau Mianggas di utara. Merasakan suka dan tawa dari setiap anak Indonesia; di pedalaman dan perbatasan, di perkotaan dan pedesaan, di gedung tinggi dan gubuk kumuh.

Ya, sang hak masih terus menanti. Menantikan kita, yang mau bertindak memanjatkan syukur atas kasih Yang Maha Kuasa, dengan mengabdi dan membagikan kasih-Nya kepada sesama.

Saturday, 27 August 2011

Agustus Yang Akan Segera Berakhir

Walau Agustus akan berlalu, bukan berarti kenangan akan Merah Putih yang berkibar juga akan berlalu. Masih ada sebelas bulan, yang bisa diisi oleh sikap pesimis akan perubahan, atau optimis akan kebangkitan.


September, Oktober, November, dan Desember, biarlah di setiap bulan ini Merah Putih tetap berkibar di hati kita yang juga terwujud nyata melalui tindakan-tindakan kita.


Januari, Februari, Maret, dan April, di bulan-bulan ini saatnya orang lain melihat rasa bangga akan bangsa ini tidak pernah pudar, dan justru terus meningkat seiring berjalannya waktu.


Mei, Juni, Juli dan kembali Agustus, doa dan harapan harus terus dilantunkan, karya nyata harus terus dilakukan, agar tangis Ibu Pertiwi bisa terhenti, dan senyum Anak-anak Pertiwi merekah dari Sabang sampai Merauke.


Sebuah lagu patriotik Indonesia karangan/ciptaan Ibu Sud yang sangat menginspirasi. Lagu tentang Ibu Pertiwi, lagu tentang Tanah Air.

Tanah Airku

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai


Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan


Perubahan ada di tangan para muda Indonesia. Hari ini saat kita untuk menggali ilmu dan ajaran, besok tiba waktu kita untuk menanam ilmu dan ajaran.

Semoga semangat itu terus ada di dada kita, kawan.
:)

Friday, 1 July 2011

Berita Hari Ini


BERITA HARI INI

1 Juli 2011.

Berita hari ini.
Di Garut ditemukan satu keluarga yang menderita lumpuh. Emun (55) beserta ketiga anaknya, Adah (30), Aah (28), dan Yudi (21) mengalami kelumpuhan sejak beberapa tahun yang lalu. Keseharian mereka hanya diisi dengan berbaring di tempat tidur. Selama ini, Haryati (50), istri Emun yang merawat suami dan ketiga anaknya. Keempat penderita kelumpuhan ini tinggal dalam satu panggung yang tampak kumuh dan tidak terurus.

Berita hari ini.
Seorang mantan anak jalanan mendirikan sekolah gratis di kawasan Terminal Depok. Pada tahun 2000, Nurrohim sengaja mendirikan tempat belajar di beranda mesjid Terminal Depok. “Tak ada diskriminasi dalam pendidikan”, katanya dengan semangat. Tidak hanya anak jalanan, pengamen dan anak putus sekolah dari keluarga tidak mampu ikut bergabung menimba ilmu di sini dengan jumlah saat ini mencapai dua ribu orang mulai dari tingkat usia dini hingga SMA.
Biaya operasional sekolah gratis ini semula dari warung milik Nurrohim, tapi kini ada bantuan juga dari badan zakat, dan penjualan barang rongsokan. Pengajarnya adalah relawan yang rela mengajar tanpa pamrih/tidak dibayar. Meski begitu mereka bangga bisa berbuat sesuatu untuk sesama. Usaha Nurrohim tidak sia-sia, beberapa anak berhasil mendapatkan beasiswa ke luar negeri, ataupun diterima di perguruan tinggi negeri. Terbentang angan Nurrohim untuk membangun rumah sakit dan perguruan tinggi yang semua tenaga dan anak didiknya direkrut dari anak-anak jalanan dan kurang mampu.

Berita hari ini.
Empat orang TKI asal Lampung terancam dihukum gantung di Malaysia. Menurut Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Lampung, Setiojo, keempat TKI  ini diancam hukuman mati akibat tuduhan pengeroyokan hingga mati terhadap seorang preman atau perampok di Negara Bagian Perak Malaysia. Proses hukum keempat WNI yang diketahui menjadi TKI secara ilegal ini telah berlangsung setahun terakhir ini.

Berita hari ini, sebagian besar masyarakat petani di beberapa kecamatan Kabupaten Mojokerto, saat ini sedang dilanda keresahan. Pasalnya tanaman padi milik para petani terancam gagal panen karena sedang diserang hama wereng. Hal ini menimbulkan rasa khawatir dan keresahan bagi para petani. Bila hama ini tidak segera diatasi, maka akan menimbulkan gagal panen secara massal di kawasan ini. Persediaan padi dan beras akan terancam, dan perekonomian para petani juga akan terganggu.

Berita hari ini.
Perdana Menteri Perancis, Francois Fillon mengungkapkan kekagumannya akan budaya Indonesia. Hal ini disampaikan saat memberi Kuliah Umum di Universitas Indonesia, hari ini.
“Leluhur orang Indonesia banyak meninggalkan monumen-monumen yang indah seperti Borobudur dan Prambanan. Bangunan yang juga merupakan peradaban dari bangsa ini. Hasil peradaban tersebut telah menjadi sebuah warisan budaya yang beragam dan sukses menjadi daya tarik bagi para turis, di antaranya 150 ribu orang Perancis. Karena itu, sudah semestinya dijaga,” kata Fillon. “Saya sangat bangga karena daerah di Indonesia memiliki kekhasan dari satu etnis, satu provinsi bahkan satu pulau dimana tempat tinggal, produksi, adat istiadatnya merupakan juga peninggalan yang tidak dapat dipungkiri,” ungkap Fillon.

Berita hari ini.
Kasus century, mafia peradilan, dan lainnya masih teronggok tanpa kejelasan kapan akan diselesaikan. Nasib korban Lapindo masih terkatung-katung. Pegawai Freeport berdemo di Papua meminta kenaikan gaji. Korban bencana alam Tarutung masih menanti uluran tangan dari pemerintah dan masyarakat. Beribu TKI menanti namanya dipanggil oleh peradilan Arab Saudi. Tempe, jengkol, Reog Ponorogo, dan batik telah diklaim/dipatenkan oleh negara asing dan budaya/milik Indonesia lainnya telah siap untuk diklaim juga.

Berita hari ini,
Beribu siswa SMA telah lulus SNMPTN dan siap menempuh pendidikan di universitas. Beribu lulusan universitas telah siap menempuh kehidupan di dalam masyarakat. Sebuah kabupaten di Kalimantan memberikan jaminan kesehatan gratis dan pendidikan gratis hingga SMA kepada penduduknya. Beberapa orang mahasiswa melakukan pendidikan gratis kepada anak jalanan di pinggiran kota Bandung. Seorang dokter mengadakan pengobatan gratis bagi penduduk yang tidak mampu. Kekayaan budaya Indonesia diakui kancah internasional.

Berita hari ini,
Masih ada kebaikan, semangat, dan kejujuran di Indonesia kita tercinta yang siap mengalahkan dan mengenyahkan kebobrokan, kemiskinan, dan ketidakadilan dari bumi Sabang-Merauke. Masih ada anak-anak pertiwi yang memiliki keinginan untuk membangun negeri, merintis jalan menuju kebangkitan dan membuka pintu-jendela keadilan, menghidupkan lagi aroma tawa dan sukacita dari setiap anak bangsa, setiap manusia yang bertanah-airkan merah putih.

Berita hari ini.
Masih ada anda dan saya, yang pada waktu selanjutnya akan mengisi “berita hari ini”. “Berita hari ini” manakah yang akan anda dan saya akan pilih? “Berita hari ini” yang memberikan kesesakan dan tangis bagi anak bangsa yang lain? Ataukah “berita hari ini” yang akan memberikan harapan dan tawa bagi setiap orang yang membacanya? Keputusan itu ada di tangan anda dan saya.

Berita hari ini.
Jalan menuju kemajuan/kemunduran bangsa telah ada sejak lama dan siap ditempuh siapa saja. Jalan mana yang anda dan saya tempuh? Jalan menuju kemajuan yang telah ditempuh para tokoh besar Indonesia, Nurrohim, ataupun sang dokter? Atau jalan menuju kemunduran yang telah ditempuh para koruptor ataupun mafia peradilan?
Semoga langkah dan pilihan yang anda dan saya ambil akan membawakan sukacita dan kesenangan bagi siapapun yang merasakannya. Semoga.
Selamat menjalani “berita hari ini”.
^^

*Berita-berita di atas diambil dari kompas.com dan liputan6.com


 

Saturday, 26 March 2011

Peduli itu Harus Nyata

Tulisan ini dikutip dari buku Isu-Isu Global karya John Stott. Tulisan yang ketika aku pertama kali baca, sejenak membuatku terdiam dan bertanya kepada diriku, apa aku juga seperti sang perempuan tuliskan. Kadangkala kita merasa hubungan kita begitu baik dengan-Nya, tanpa menyadari bahwa kita lupa pada hukum kedua yang juga terutama, yakni 'Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri'. Semoga tulisan ini bisa membuat kita kembali tersadar akan peran kita, sama seperti yang kurasakan ketika membaca tulisan ini. Selamat membaca.

_________

Ada seorang perempuan malang yang tidak punya tempat berteduh, melapor kepada pendeta akan kondisinya, namun dengan mimik tulus dan serius, namun terlalu sibuk untuk langsung membantu, pendeta itu berjanji akan mendoakannya. Dengan sangat kecewa, perempuan itu meninggalkan gereja, dan menuliskan sajak ini.

"Saya kelaparan,
dan anda membentuk kelompok diskusi untuk membicarakan kelaparan saya.

Saya terpenjara,
dan anda menyelinap ke kapel anda untuk berdoa bagi kebebasan saya.

Saya telanjang,
dan anda mempertanyakan dalam hati akan kelayakan penampilan saya.

Saya sakit,
dan anda berlutut menaikkan syukur kepada Allah atas kesehatan anda.

Saya tak mempunyai tempat berteduh,
dan anda berkotbah kepada saya tentang kasih Allah sebagai tempat berteduh spiritual.

Saya kesepian,
dan anda meninggalkan saya sendirian untuk berdoa bagi saya.

Anda kelihatan begitu suci, begitu dekat kepada Allah.
Tapi saya tetap amat lapar -dan kesepian- dan kedinginan."

Saturday, 18 September 2010

Panggilan dari Ibu Pertiwi

kulihat ibu pertiwi
sedang bersusah hati
air matamu berlinang
mas intanmu terkenang


hutan gunung sawah lautan
simpanan kekayaan
kini ibu sedang susah
merintih dan berdoa


Pagi hari di 14 September 2010, aku keluar dari kosan untuk membeli makanan dan pergi ke kampus. Masih libur memang, tidak ada kerjaan di kosan, sayangnya tidak punya tempat persinggahan lain, sohib-sohib masih berada di kampung halaman ataupun berlibur di luar kota, akhirnya kampus pun menjadi jawaban terakhir untuk mengatasi kesendirian.
Sebelum memasuki paragraf selanjutnya, agar tulisanku ini dapat menggapai tujuan penulisannya, kalau rekan-rekan berkenan, aku merekomendasikan untuk kita sama-sama coba mencari lagu 'Ibu Pertiwi', memutarnya dan menghayati setiap lirik, setiap pesan yang disampaikan di lagu tersebut.
Kemudian, aku yakin rekan-rekan sekalian mempunyai imajinasi yang sangat tinggi, kita dapat mencoba membayangkan kondisi-kondisi yang ada di ibu pertiwi dan juga coba membayangkan kondisi yang akan coba aku ceritakan di paragraf selanjutnya. Sudah mulai mendengar dan membayangkan? Oke, sudah ternyata. Terimakasih kawan, mari kita lanjutkan lagi.

Masih di jalan kecil di dekat kosanku, aku melihat sebuah keluarga tunawisma yang terdiri dari suami istri dan beberapa orang anaknya, kira-kira 6 orang, aku tidak menghitungnya dengan pasti, sedang berjalan ke arah jalan besar. Keenam orang anak ini tubuhnya mungil, mungkin jarak umur di antara mereka hanya dipisahkan waktu 9 bulan sampai satu tahun dan umur yang paling besar kira-kira 10-12 tahun atau jangan-jangan lebih tua dari itu, namun badan mereka yang sangat mungil pada akhirnya hanya dapat membuat aku menerka-nerka.

Tidak ada barang bawaan yang mereka pikul, hanya pakaian yang mereka kenakan. Sang ibu menggendong anaknya yang paling kecil dan juga membawa kain yang diikatkan di punggungnya layaknya para pengelana zaman dahulu dimana di dalam kain ini mungkin berisikan sedikit pakaian ataupun benda-benda paling berharga yang dimiliki keluarga ini.



Namun ada satu hal yang juga sempat menyita perhatianku dan akhirnya terus terbayang di pikiranku hingga saat ini. Sang bapak yang tidak mengenakan sehelai pun alas kaki membawa beban juga di pundaknya, bukan tas ataupun kain juga, melainkan seorang anak yang digendong layaknya para kuli di pelabuhan mengangkat sekarung beras di pundaknya. Tangan dan kaki sang anak terayun-ayun begitu saja dipermainkan langkah kaki sang bapak. Aku hanya menoleh sesaat, kemudian sambil mengendarai kendaraanku, aku melewati keluarga ini dan beberapa puluh meter di depan mereka aku berhenti untuk membeli makananku. Selesai memesan makanan, aku keluar dari warung makanan untuk coba melihat kondisi yang ada di sekitar pada pagi hari dan ketika aku melihat ke arah kendaraanku, ternyata keluarga tuna wisma ini sedang beristirahat tidak jauh dari sana. Beberapa orang anak bermain di sekitar sang ibu, dan sang ayah duduk di trotoar dan anak yang digendongnya tergeletak di jalan dengan mata tertutup. Kaki sang ayah berada di atas betis sang anak.

Kira-kira 10 menit mereka berada di sana dan rasa penasaranku akan kondisi sang anak ini membuatku beberapa kali berusaha untuk melihat ke arah keluarga ini, begitu juga ternyata yang dilakukan orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar mereka. Aku melihat ke arah dadanya, mungkin karena jarak kami yang jauh, aku tidak melihat gerakan naik-turun di dada layaknya seseorang yang sedang menghirup udara. Aku kembali bertanya-tanya, namun ketidakberanian aku untuk mencari tahu lebih lagi, dan mungkin juga sikap ketidakpedulian yang masih ada di dalam diriku membuatku pada akhirnya hanya melihat keluarga ini saja hingga mereka beranjak dan kemudian berjalan lagi meninggalkan kawasan tersebut.

Selesai membayar makanan, aku pun kembali ke kendaraanku dan memulai perjalananku ke kampus. Kembali kondisi tadi bermain-main di alam pikiranku. Pertanyaan-pertanyaan kembali keluar. Kemana mereka pergi? Bagaimana kondisi sang anak tadi? Apakah dia sakit, atau jangan-jangan dia telah kembali ke pelukan Sang Khalik? Apa yang anak-anak itu makan? Bagaimana cara mereka bertahan hidup?
Banyak pertanyaan yang berkecamuk namun siapa yang bisa menjawabnya, tidak ada saat itu, karena aku telah melewatkan kesempatan itu. Ketika tadi aku memutuskan untuk hanya melihat keluarga ini, sama halnya dengan yang dilakukan juga oleh setiap orang yang ada di tempat itu, aku telah memutuskan juga kunci jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini yang akhirnya hanya semakin menambah pertanyaan-pertanyaan lain di benakku.

Detik pun berlalu dan kembali aku berjalan-jalan di alam pikiranku.
Kondisi tadi terjadi di kota ini, kota pendidikan yang memiliki berpuluh-puluh sekolah dan perguruan tinggi. Kondisi tadi terjadi di kota ini, kota yang sangat banyak didatangi wisatawan dari luar maupun dalam negeri.
Kondisi tadi terjadi di kota ini, ibukota provinsi yang sangat dekat dengan ibukota negara dan tentunya memiliki akses cepat dalam setiap isu yang ada.
Kondisi tadi terjadi di kota ini, kota yang pembangunan gedung-gedung serta tempat rekreasi seperti mall, factory outlet dan lainnya serta pertumbuhan kendaraan bermotornya setiap harinya terus meningkat,
Kondisi itu terjadi di kota ini.

Bagaimana lagi dengan daerah-daerah lain di kabupaten dan perdesaan?
Bagaimana kondisi daerah-daerah di pedalaman yang jauh dari akses listrik, jalan, dan jauh dari kota-kota besar?
Bagaimana kabar saudara-saudara kita yang berada di bagian timur Indonesia yang jauh dari ibukota karena sudah rahasia umum, pembangunan nasional masih terlalu berpusat di bagian barat saja.
Kondisi seperti tadi saja masih terjadi di kota ini, bagaimana lagi di tempat-tempat lain.




 Tanda tanya pun semakin banyak berkumpul di benakku yang mendesak keluar untuk segera bisa dijawab, namun sebuah hembusan angin sejuk datang, mencoba menahan pertanyaan ini untuk bisa tenang dan mau disimpan lagi di lokernya yang paling terdalam.
Sudahlah kawan, untuk apa kau pikirkan itu semua. Itu terlalu berat untuk kau pikirkan sekarang, biarlah para pemimpin kita yang memikirkannya dan kau kerjakan saja bagianmu saat ini. Engkau mahasiswa dan belajarlah yang tekun dan nanti ketika kau sudah sukses, saat itulah kau membuka lagi loker penyimpananmu, dan jawablah setiap pertanyaan yang kau simpan disana.
Sebuah hembusan angin yang sejuk, memberikan solusi kepadaku untuk melupakan setiap pertanyaan yang ada, namun apakah yang sejuk itu baik? Simpan pertanyaan itu, tapi tidak perlu dimasukkan ke loker penyimpananmu, segera kita akan membahasnya.

Aku mencoba berhenti dari perjalanan di pikiranku dan coba kembali ke dunia nyata yang ada, namun sebelum aku sempat berbalik, suatu kenyataan kembali menghampiriku dan akhirnya membuat aku betah untuk berlama-lama lagi di alam pikiranku.

Beberapa waktu ini kita banyak dihebohkan dengan berbagai permasalahan yang terjadi di bangsa ini.
Kasus century, mafia hukum, pajak, komitmen anggota DPR, dan banyak hal lainnya yang terakhir ini ditutup oleh permasalahan kerukunan umat beragama terkait pemukulan di HKBP Bekasi.
Belum lagi kondisi-kondisi yang terjadi di mancanegara seperti depresi perekonomian global, Indonesia vs Malaysia dengan segala pemantiknya seperti kasus perbatasan, TKI, dan lainnya serta yang baru-baru ini terkait rencana pembakaran kitab suci agama Islam di AS.

Pada saat membaca dan mengetahui setiap isu-isu ini aku, kita selalu merespon. Ada yang mengkritik, mengeluh, memaki, memberikan harapan, dan banyak respon-respon lainnya. Namun ketika waktu sudah berlalu, beberapa hari dan minggu sudah lewat dari kejadian yang ada, semua respon itu dilupakan dan respon-respon lain, untuk permasalahan lain dikeluarkan lagi oleh kita, dan begitu seterusnya.
Selalu reaktif ketika ada permasalahan yang mengusik, namun segera melupakan dan tidak mengingat kembali ketika itu sudah berlalu.

Bagaimana dengan hal tadi?
Kondisi tadi terjadi di depan mataku kira-kira beberapa puluh menit yang lalu dan aku tidak melakukan apa-apa.
Lalu, untuk apa selama ini aku memberikan respon untuk setiap kondisi yang terjadi di luar sana, namun hal yang ada di depan mataku, aku tidak mampu melakukan apa-apa.

Beberapa waktu ini kerukunan umat beragama digoncang dengan kejadian di luar negeri, di AS dan juga kejadian di dalam negeri di Bekasi. Banyak respon yang keluar dan aku juga menanggapi kedua permasalahan tersebut.



Aku seorang Batak, seorang Kristen, dan seseorang yang beruntung memiliki orangtua yang bisa menghidupiku dengan baik. Kecintaanku pada suku ku sangat kuat, keimananku pada Tuhanku juga bukan sekedar agama di KTP saja, kedua hal inilah salah satu aspek yang membentuk aku dari kecil, tapi aku juga tidak melupakan satu hal, satu hal yang sangat esensial, aku dilahirkan di Indonesia, bukan di Malaysia, Australia, ataupun Amerika dan karakterku juga dibentuk di Indonesia. Sukuku adalah suku di Indonesia, aku Batak Indonesia, aku Kristen Indonesia.
Merah darahku dan putih tulangku sama seperti saudara-saudaraku yang lain, Aceh Indonesia, Jawa Indonesia, Madura Indonesia, Dayak Indonesia, Asmat Indonesia, Tionghoa Indonesia dan suku-suku lainnya. Kecintaanku kepada tanah airku sama seperti saudara-saudaraku yang lain, Islam Indonesia, Budha Indonesia, dan agama-agama lainnya.

Untuk apa aku berpikir tentang perbedaan, Indonesia berada di belakang nama, suku, ras, dan agamaku.
Persatuanlah yang dulu menjadi jawaban atas kemerdekaan kita.
Bhineka Tunggal Ika.
Darah para pejuang, darah orang Aceh, Melayu, Sunda, Bali, Ambon, Papua, Islam, Kristen, Hindu, dan lainnya telah mengalir untuk menebus kemerdekaan ini. Darah mereka telah tumpah ke ibu pertiwi.



Apakah kemudian darah setiap mereka yang sudah mati memisahkan diri sesuai kelompoknya?
Tentu saja tidak, darah itu dengan bangganya bersatu, tumpah ke tanah air yang sama, Indonesia.



Darah persatuan mereka lah yang menjadi dasar terciptanya kemerdekaan ini, lalu, untuk apalagi kita mengelompokkan diri, menganggap kita lebih baik dari yang lain.

Mereka dengan bangganya menyatakan kesatuan mereka di Sumpah Pemuda dan menunjukkannya dengan tindakan konkrit melalui tumpahnya darah mereka dalam perjuangan kemerdekaan dan bahkan pada saat mereka sudah terkapar pun, mereka masih terus mempertahankan kesatuan mereka. Darah mereka pun tetap mengalir ke tanah yang sama kawan, tanah tempat kaki aku dan kau melangkah sekarang.



Sama merah darah kita, putih juga tulang kita, berpijak di tanah air yang sama, apalagi yang kita permasalahkan kawan.

Untuk apalagi kita berteriak-teriak akan perbedaan, sementara masih banyak tugas-tugas lain yang belum sempat diselesaikan para pejuang kita dan merupakan beban kita sebagai penerus mereka untuk menyelesaikannya.
Untuk apalagi kita membuat masalah baru, yang sebenarnya merupakan jawaban dari kondisi yang ada sekarang.




Apa masalah kita?
Apa musuh kita?
KORUPSI MUSUH KITA!!
KEMISKINAN MASALAH KITA!!
KETIDAKADILAN LAWAN KITA!!



Itu musuh kita bersama kawan, masalah kita bersama.
Itu musuh orang Islam, Katolik, Konghucu, Jawa, Batak, Padang, Toraja, Ambon, Papua, Tionghoa, Kaya, Miskin,
Hal-hal itulah yang harus kita bereskan bersama...

Persatuan yang dulu merupakan jawaban dalam memperjuangkan kemerdekaan, tentunya sekarang juga menjadi satu-satunya jawaban dalam mengatasi kebobrokan bangsa saat ini.



Kembali ke pertanyaan yang tadi telah kita simpan sejenak untuk nantinya segera kita jawab.
Kondisi yang aku lihat tadi, itu juga terjadi di seluruh Indonesia, bahkan mungkin dialami sanak keluarga kita sendiri. Mereka yang juga merupakan saudara-saudara kita setanah air, apakah masalah yang mereka hadapi itu bukan masalah untuk kita. Apakah bukan tugas kita agar mereka juga bisa merasakan negara kita yang kaya ini?
Apakah kita harus menunggu nanti, menunggu kita tua, menunggu semangat itu meredup, dan akhirnya hanya jiwa pragmatis saja yang tersisa di diri kita, dan mereka akhirnya hanya berada disana, hingga anak cucunya, menunggu jawaban, sementara kita yang tahu jawaban itu memilih untuk melakukannya nanti, nanti yang tidak diketahui kapan akan dilakukan. Nanti yang layaknya janji yang terus diucapkan. Nanti.



Seperti yang telah teman-teman dengar dari lagu 'Ibu Pertiwi', tanah air kita sedang menangis kawan, ibu pertiwi kita sedang susah. Untuk apa lagi kita membuat masalah baru. Saatnya kita menjadi jawaban untuk ini semua. Tanah kita kaya, alam kita menyimpan banyak hal yang siap untuk digunakan. Siapa lagi yang dapat memberdayakannya kalau bukan kita.

Apakah kita mencintai ibu pertiwi?
Apakah kita semua sepakat kalau kita semua merupakan putra-putri bangsa, tidak ada yang merupakan anak tiri, ataupun hanya penumpang gelap di tanah ini?
Apakah kita siap berbakti menggembirakan ibu kita?
Layaknya ibu yang akan tersenyum ketika melihat anaknya tertawa, menggembirakan ibu kita berarti menggembirakan setiap anak-anaknya, tidak hanya sebagian anak-anaknya, tetapi setiap anak-anaknya dari Sabang sampai Merauke. Ketika itu kita lakukan, ibu pertiwi itu pun akan tertawa teman.

Apakah kita siap untuk itu?
Tentunya berat, sangat berat, kalau kita sendiri, tapi akan menjadi pekerjaan yang sangat-sangat ringan dan juga menggembirakan apabila kita melakukannya bersama-sama. Untuk apa kita mengeluarkan energi yang berlebih untuk hal-hal yang tidak perlu, perselisihan yang tidak perlu.
Hei bung, ibumu membutuhkanmu, keluarkan energi itu untuk membangun bangsamu.
Layaknya kearifan lokal para leluhur kita, bergotong royong sambil bercanda tawa, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.
Mari kawan, ayo kita satukan lagi barisan kita.



kulihat ibu pertiwi
kami datang berbakti
lihatlah putra-putrimu
menggembirakan ibu


ibu kami tetap cinta
putramu yang setia
menjaga harta pusaka
untuk nusa dan bangsa 




Apakah kita siap menjaga harta pusaka itu kawan?
Ayolah, tidak perlu lagi berpikir panjang.
Mantapkan hatimu sahabat, persiapkan dirimu saudara,
Aku yakin keputusan kita sudah bulat.
Mari kita melangkah bersama untuk hari esok yang pasti akan lebih baik.
Bersama kawan, bersama dengan segala perbedaan yang ada.
Bhinneka Tunggal Ika...
Untuk nusa dan bangsa.
Mari kita buat ibu pertiwi kita tersenyum lagi.



MERDEKA!!!