inspirasi

inspirasi
Showing posts with label sesama. Show all posts
Showing posts with label sesama. Show all posts

Saturday, 25 July 2015

Menembus Perbedaan Kulit SARA

Menembus Perbedaan Kulit SARA



Pagi itu, di minggu kedua bulan puasa, aku kembali melangkahkan kaki ke Palang Merah Indonesia (PMI) Bandung. Ini baru kali keempat aku menyediakan waktu untuk mendonorkan darah bagi sesama yang membutuhkan. Bukan karena aku tidak mau, bukan karena aku takut suntik ataupun takut melihat darah. Bukan juga karena lokasi PMI yang jauh dari tempat tingggalku.

Berbagai alasan kesibukan menjadi penghambatku datang ke PMI. Padahal hanya sekitar 30 menit saja waktu yang dibutuhkan untuk memberikan darah. Maka kali ini, sejak berminggu-minggu sebelumnya kutekadkan untuk tidak menunda. Dan senyum petugas PMI yang menyambutku telah menunjukkan tekadku ini bukanlah hal yang sia-sia.

Ternyata pagi itu ada belasan anggota Palang Merah Remaja (PMR) yang sedang berkunjung ke PMI. Petugas menerangkan kepada adik-adik ini bahwa tugas PMR adalah tanggung jawab mulia. Donor darah adalah tindakan membantu hidup seseorang. Sayangnya di Indonesia, donor darah belum menjadi gaya hidup. Berbagai alasan menjadi penghambat kita untuk berbuat kebajikan.

Saat dokter PMI memeriksa tensi darahku, dokter memberitahukan kalau stok darah PMI Bandung sangat minim setiap bulan puasa. Sering kali PMI keteteran menyediakan darah untuk korban gawat darurat. Kalau kita perhatikan, saat bulan puasa,  kita sering mendapat broadcast "dibutuhkan darah" di BBM ataupun sosial media kita. Memang di saat minim stok darah, kita baru menyadari betapa berharganya darah, dan betapa bernilainya kebaikan dari para pendonor yang ikhlas berbagi tanpa balasan.

Sang dokter menambahkan, bersyukur saat bulan puasa, PMI Bandung tetap mendapatkan stok darah dari kegiatan donor darah yang dilakukan gereja dan lembaga keumatan lainnya. Para pendonor yang tidak berpuasa juga tetap datang mendonorkan darahnya.Walaupun tidak seperti hari biasa, minimal stok darah PMI tetap ada di saat genting.

Banyak pasien yang tertolong dengan stok yang sedikit ini. Hal yang tidak banyak orang yang tahu. Si pendonor sendiri tidak tahu kalau darahnya telah menyelamatkan nyawa seseorang. Penerima darah juga tidak tahu darah siapa yang mengalir di tubuhnya. Dia dan keluarganya hanya bisa berdoa kepada Sang Pemberi Kehidupan, bersyukur atas anugerah yang diberikan, dan mendoakan sang pendonor darah, pahlawan kemanusiaan yang bahkan mereka tidak tahu wujud dan namanya.

Ya, donor darah adalah kebajikan yang menembus kulit SARA. Di keterangan kantong darah, tidak ada tertulis ini adalah darah Sahat, suku Batak, beragama Kristen, seorang mahasiswa s2 yang sedang merintis usaha kecil-kecilan. Hanya tertulis keterangan bahwa kantong darah ini berisi darah AB. Sehingga penerima darah ini haruslah pasien yang berdarah AB juga, tidak peduli dari suku, agama, ras, dan golongan apapun dia.

Tidak pernah kita mendengar adanya seorang pasien bersuku Batak yang hanya mau menerima transfusi dari darah pendonor bersuku Batak saja. Atau seorang pasien beragama Hindu yang tubuhnya menolak menerima transfusi dari darah seorang beragama Muslim. Darah tidak mengenal perbedaan SARA, maka darah akan selalu dapat menembus perbedaan kulit SARA. Di tengah konflik SARA yang masih sering terjadi di sekitar kita, yang bahkan sering kali menumpahkan darah dengan sia-sia, donor darah adalah suatu contoh tindakan kehidupan yang mengajarkan hakikat hubungan manusia yang sebenarnya.

Donor darah mengajarkan kita, bahwa setiap manusia seharusnya saling membantu tanpa terhalang tembok SARA, layaknya darah yang saling membaur tanpa pernah terhalang tebalnya kulit SARA.



Mari donorkan darah kita dan merasakan indahnya berbagi kebajikan tanpa terhalang tembok SARA.

Tuesday, 16 June 2015

Berusaha Untuk Lebih Setia

Berusaha untuk Lebih Setia

Kalau kupikir-pikir lagi, selama ini ternyata aku salah mengetikkan harapan saat menutup pembicaraan dengan teman bicara. Aku sering mengetik"semoga Tuhan menjaga kita", "semoga Tuhan memberkati kita", "semoga Tuhan melindungi kita", dan kalimat harapan sejenis lainnya.

Kalimat itu seakan-akan mengatakan ada kalanya Tuhan akan menjaga, memberkati, dan melindungi kita, tapi ada kalanya tidak.

Padahal, tanpa kita minta pun, sebenarnya Tuhan selalu setia menjaga, memberkati, dan melindungi kita. Idealnya kasih orangtua dan anak, jauh lebih sempurna lagi kasih Tuhan kepada makhluk ciptaan-Nya.

Justru sebaliknya, kita yang makhluk ciptaan ini justru yang kurang bahkan tidak setia. Ada juga kita yang menjauh bahkan membenci-Nya.

Terkadang kita mengaku mencintai Tuhan, tapi malah membenci ciptaan-Nya. Memusuhi orang lain, merusak lingkungan, membunuh hewan seenaknya.

Mungkin kita tidak sadar, ketika kita melukai, melecehkan, bahkan merusak makhluk ciptaan-Nya, maka kita juga telah melukai hati Tuhan Sang Pencipta.

Ini bisa dianalogikan dengan seorang pelukis yang akan kecewa bahkan marah ketika lukisan terbaik karya tangannya dirusak atau dilecehkan oleh orang lain.

Maka sepertinya kalimat harapan "semoga Tuhan menjaga, memberkati, dan melindungi kita" tidak lagi tepat menjadi kalimat penutup suatu pembicaraan. Karena faktanya Tuhan selalu setia, tapi sebaliknya kita tidak setia.

Kita meminta Tuhan menjaga, memberkati, dan melindungi kita, tapi kita tidak menjaga dan melindungi sesama makhluk ciptaan Tuhan (manusia dan alam).

Lebih tepat jika kita ucapkan "semoga kita setia menjaga keluarga, teman, sesama, dan alam sekitar kita karena Tuhan setia menjaga kita". Dengan kalimat harapan seperti ini, semoga mengingatkan kita untuk berusaha lebih setia.

Sunday, 7 June 2015

Semua Orang Menghadapi Hari Yang Berat

Setiap hari kita harus menghadapi aktivitas yang penuh tantangan. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan dan tahun juga berlalu. Namun selama itu juga kita harus melakukan pekerjaan, perkuliahan, pertemuan, rapat, ataupun berbagai aktivitas lainnya.

Setiap hari kita harus berinteraksi, dengan pimpinan, rekan kerja, dosen, orangtua, mertua, istri, anak, teman, dan berpuluh bahkan beratus orang lainnya. Sering kali mereka memberikan sapaan hangat, pujian, ataupun senyuman. Tapi tidak jarang juga mereka menyampaikan keluhan, amarah, hujatan, curhatan, bahkan makian. Setiap hari terasa berat, dan sayangnya orang-orang terdekat kita bahkan tidak dapat membantu meringankan beban kita.

Bersikaplah baik kepada semua orang, sebab semua orang menghadapi hari yang berat -Gostick & Elton-

Ya, setiap orang menghadapi hari yang berat. Maka berucap, bersikap dan berbuat baiklah pada semua orang, terutama orang-orang di sekitar kita.

Kita tidak akan pernah tahu kapan kata-kata atau tindakan baik kita bakal membuat perbedaan dalam hidup seseorang.

Selamat menjalani hari. :)

Monday, 17 October 2011

Bersyukurlah Kita, Kawan


Pak Adang, seorang guru di SMP dan SMA Pasundan, telah mengajar pelajaran bahasa dan budaya Sunda sejak 14 tahun lalu. Penampilan yang rapi dan sifatnya yang ramah seakan menutupi fakta dirinya yang ternyata seorang tuna netra. Kekurangannya dalam melihat tidak membatasi totalitasnya dalam mengajar. Bahkan tidak sebatas pengajar, beliau juga dipercayakan menjadi Wakil Kepala Sekolah. Salut, itu kata pertama yang terlintas di pikiranku ketika mengobrol dengan beliau.

“Pemerintah Bandung tidak memperbolehkan kami menjadi pegawai negeri. Apakah tuna netra itu penyakit? Kami juga berhak membangun bangsa. Teman-teman di Wyata Guna juga enggan keluar dari panti ini. Mereka takut keluar menghadapi masyarakat, dan sudah nyaman dengan kondisi yang ada”, keluhnya.

Ya, tidak perlu membahasnya secara mendalam, kita pun pasti telah menyadarinya, ketidakadilan masih belum melepaskan genggamnya dari bumi pertiwi. Hak asasi manusia Indonesia seakan terkubur, tertulis dengan rapih di dalam setiap butir konstitusi yang menumpuk berdebu di sudut perpustakaan. Sampai kapankah penantian itu; saat ketidakadilan disimpan dalam peti berdebu dan dikubur di bumi terdalam; saat keadilan bisa tegak berdiri, keluar dari kurungannya selama ini?

Mereka saja punya semangat, menikmati keindahan hidup yang sebenarnya ‘melawan’ mereka. Masa kita yang ‘normal’ ini hanya bisa mengeluh dan ‘biasa-biasa’ saja menjalani keindahan hidup di depan mata kita???

Bersyukurlah kita kawan, bisa mendengar dan bisa membaca. Bisa berjalan dan bisa berbicara. Bisa bersekolah dan bisa belanja. Dan kiranya syukur itu tidak hanya kita panjatkan kepada Yang Diatas, tapi juga kepada sesama.

Sang hak masih terus menunggu. Menantikan saat dimana dia bisa terbang dengan leluasa dari ujung barat Pulau We sampai ujung timur pulau Irian. Menikmati Samudera Hindia dari Pulau Rote di selatan dan indahnya pantai Pulau Mianggas di utara. Merasakan suka dan tawa dari setiap anak Indonesia; di pedalaman dan perbatasan, di perkotaan dan pedesaan, di gedung tinggi dan gubuk kumuh.

Ya, sang hak masih terus menanti. Menantikan kita, yang mau bertindak memanjatkan syukur atas kasih Yang Maha Kuasa, dengan mengabdi dan membagikan kasih-Nya kepada sesama.

Monday, 9 May 2011

Mengasihi Sepenuhnya


(dirangkum dari buku One Month to Live, Kerry & Chris Shook)

Pada hakikatnya, hubungan merupakan hal yang terpenting. Tidak masalah seberapa banyak uang yang kita miliki, di mana kita hidup, atau seberapa banyak mainan indah yang kita kumpulkan. Tidak satu pun dari hal ini yang bisa membuat kita nyaman, menghibur kita, menangis bersama kita, atau mengasihi kita. Hubungan kita dengan orang lain, itulah satu-satunya hal yang bisa bertahan melampaui waktu hidup kita.

Studi Sosial
Allah merancang kita untuk menjalin hubungan baik secara vertikal denganNya maupun secara horizontal dengan orang-orang di sekitar kita. Namun, sekalipun kita memiliki keinginan yang kuat untuk berhubungan dengan keluarga, teman-teman, dan komunitas kita, kita semua mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Harapan, kekecewaan, pengkhianatan, sakit hati, kebohongan, kesalahpahaman – ada begitu banyak halangan untuk mengasihi orang lain dan dikasihi mereka. Tapi, kita diciptakan untuk menjalin hubungan dan bagaimanapun rumitnya, setiap halangan itu haruslah kita hadapi.

Jadi mengapa kita tidak hidup seolah-olah hubungan kita merupakan hal yang paling berarti? Mengapa kita menunggu sampai orang-orang meninggal untuk memberi mereka bunga? Tampaknya ironis bahwa kebanyakan kita menghargai hubungan kita, tetapi tidak menggunakan energi untuk menjalin hubungan dengan sepenuhnya. Dalam aktivitas hidup kita yang berkecepatan tinggi dengan jadwal yang begitu padat, kebanyakan kita cenderung memperlakukan orang lain asal-asalan saja. Satu-satunya masalah adalah tidak peduli seberapa keras kita berusaha mengasingkan diri kita dari orang lain, hal itu bertentangan dengan sifat dasar kita. Kita semua dirancang sebagai makhluk yang hidup melalui hubungan dengan yang lainnya – makhluk sosial, yang ingin menjadi bagian kelompok. Itulah cara Allah menciptakan kita – sesual gambarNya.

Harga Kasih
Kita dirancang untuk menjalin keintiman sosial dan emosional dengan orang-orang di sekitar kita, tetapi kerinduan kita dicemari oleh kecenderungan sikap egois kita yang hanya memikirkan diri sendiri. Pada dasarnya, kedua kekuatan ini terus menerus berbenturan sepanjang hidup kita. Kita ingin mengasihi orang lain, dan sebagai balasannya kita ingin dikenal, disukai, dan dikasihi. Namun, orang-orang mengecewakan kita, melukai kita, dan tidak selalu menanggapi kita dengan cara seperti yang kita inginkan. Akhirnya, kita memutuskan untuk bermain aman, dan memberi tahu diri sendiri bahwa kita sesungguhnya sama sekali tidak membutuhkan mereka, tetapi hati kita memberi tahu hal yang sebaliknya. Bunda Teresa berkata bahwa kesepian adalah kemiskinan yang paling mengerikan. Ia benar – tanpa kasih kita bangkrut secara emosional.

Cinta tidak dapat dibeli, tetapi cinta tentu saja memiliki harga, dan itu disebut pengorbanan. Bahkan dalam hubungan yang terbaik sekalipun, ada rasa kehilangan yang menghantui – bahwa orang lain suatu hari nanti akan pergi meninggalkan kita sendiri. Kita tidak berhenti mencintai orang-orang ini, tetapi hati kita sakit karena kita tidak dapat bersama-sama dengan mereka dan tidak dapat selalu berhubungan dengan mereka hingga akhir. Di mana ada perjumpaan, suatu saat pasti ada perpisahan. Penderitaan ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari hubungan yang akrab.

Jika kita mau mencintai orang lain, menanggung sakit hati maupun merayakan berbagi kehidupan, kita akan membutuhkan kasih yang lebih besar dari kasih kita sendiri. Kita perlu mengalami kepenuhan kasih Allah bagi kita untuk mati bagi keinginan kita yang egois dan memberi kepada orang lain dengan cuma-cuma. kasihNya begitu besar, bahkan apabila kasih setiap orang di dunia ini dikumpulkan menjadi satu, kasihNya masih jauh lebih besar dari itu. Dengan mengetahui bahwa ada Allah yang memiliki kasih sebesar itu di belakang kita, maka kita akan siap juga untuk mengasihi orang lain dengan sepenuhnya.

Pengorbanan kasih yang terbesar dalam sejarah terjadi melalui kematianNya di kayu salib. Pengorbanan Allah mengingatkan kita tentang cerita seorang yang bekerja mengoperasikan jembatan tarik di sebuah pantai di sebuah kota pelabuhan kecil, setiap hari ia berjalan ke kantor di sebelah jembatan tarik, di mana ia bisa mengontrol pengungkitnya. Ia menarik pengungkit tersebut, jembatan tarik dengan rel kereta di atasnya akan naik, dan kapal yang sangat besar akan meluncur lewat. Kemudian ia menurunkan pengungkit itu, dan jembatan tarik itu akan merendah sehingga kereta bisa menyeberang dengan aman.

Hampir setiap hari anak laki-lakinya yang masih kecil pergi bekerja bersamanya. Suatu hari ketika mereka bersama-sama di sana, ayahnya menerima pesan lewat radio bahwa kereta yang tidak dijadwalkan sedang dalam perjalanan dan ia perlu menurunkan jembatan tarik itu. Ia memandang keluar jendela sepintas ketika ia menyentuh pengungkit itu, dan ia melihat anaknya sedang berada di luar bermain di gir besar jembatan tarik itu dekat pantai. Ia berteriak memanggil anaknya, tetapi anaknya tidak bisa mendengarnya karena semua keributan dan kebisingan dekat air itu.

Laki-laki itu berlari ke kantor dan berlari ke arah anaknya supaya bisa menggapainya dan menariknya ke tempat yang aman, tetapi kemudian kebenaran yang mengerikan menyentaknya. Jika ia tidak segera menurunkan pengungkit itu, kereta itu akan jatuh ke sungai dan ratusan penumpang akan mati. Namun, jika ia menurunkan jembatan itu, anaknya akan terbunuh. Pada detik terakhir, ia mengambil keputusan yang sangat berat, berlari kembali ke stasiunnya, da menarik pengungkit itu, jatuh berlutut dengan kesedihan yang luar biasa karena anaknya tergencet jembatan itu dan mati. Dengan air mata bercucuran di pipinya, ia melihat keluar dan melihat kereta itu melaju dengan aman di jembatan. Ia bisa melihat di salah satu jendela orang-orang sedang makan, minum dan tertawa, sama sekali tidak tahu pengorbanan terbesar yang baru saja ia lakukan sehingga mereka bisa tetap hidup.

Begitulah pengorbananNya yang begitu besar. Ketika kita berpikir tentang apa artinya berkorban bagi orang-orang di sekitar kita, mungkin kita perlu terlebih dahulu memikirkan seberapa besar Allah telah berkorban bagi kita. Karena begitu besar kasihNya kepada kita, Allah akan berkorban sekalipun hanya kita satu-satunya penduduk di dunia ini. Jika hanya kita satu-satunya penumpang di kereta itu, Ia masih akan tetap menurunkan jembatan tarik itu – itulah bukti kasihNya yang besar, mengasihi dengan sepenuhnya.

Dengan kasihNya sebagai fondasi kita, kita bisa menemukan kekuatan baru dalam cara berhubungan dengan orang lain. Kita tidak perlu menuntut balasan kasih dari mereka karena kasih yang kita berikan tidak bergantung pada pengakuan, balasan, dan izin dari mereka. Sama seperti Allah yang mengasihi kita dengan sempurna, tidak menuntut balasan apapun dari kita, begitu juga kita tentunya mengasihi orang lain – bahkan yang tidak kita kenal sama sekali, mengasihi mereka dengan sempurna, mengasihi dengan sepenuhnya.

Thursday, 21 April 2011

Kamis Putih

Untuk pertama kalinya melalui Kamis Putih menjelang Jumat Agung bukan di Medan ataupun Bandung melainkan di sebuah ibukota kabupaten di Jawa Barat, Cirebon.

Hari ini mulai mengerjakan tugas akhir. Dapat kesempatan mengikuti survei ttg abrasi pantai serta kaitannya dengan sosial ekonomi masyarakat. Padahal sudah tahun kelima, tapi ini merupakan survei pertama yg pernah kuikuti. Ntah apa aja kerjaanku selama ini. Hahaha. Tapi, apapun yg dijalani itu aku yakin gak sia2. Sekarang yg paling penting bagaimana mengakhiri ini semua dgn caraNya, bukan caraku. Ya, memang itulah inti dari ini semua. Menjalani sesuai panggilan.

Hari ini adalah Kamis Putih, hari dimana kurang lebih dua ribu tahun yang lalu Dia melakukan Perjamuan Terakhir dengan para rasul. Anggur dan Roti diberikan, bukti penyertaanNya yang akan selalu setia menjaga perjalanan hidup para rasul, termasuk saya saat ini.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita lupa akan penyertaanNya. Ketika hidup begitu menyenangkan, hari-hari berlalu dengan lancarnya, kita sering berpikir bahwa itu karena hasil usaha kita sendiri. Kita lupa mengucap syukur kepada Sang Khalik pemberi itu semua. Dan akhirnya tiba saat ketika segala masalah datang mengganggu kehidupan kita, kita pun hanya bisa mengeluh mempertanyakan penyertaan Tuhan. Keliatannya Tuhan tidak setia. Tidak. Kita yang tidak setia kepadaNya.

Di Kamis Putih ini, saatnya kita mengoreksi lagi apa yg kita lakukan selama ini. Apakah kita masih setia kepadaNya? Apakah kita menjalani hari-hari yg sesuai dgn keinginanNya? Apakah kita telah menjalani panggilan itu, tujuan kita ada di dunia ini?
Aku pun sering terjatuh dalam hal ini. Bukan sekali, dua kali, tapi sering.

Semoga masa-masa Paskah ini kita kembali dapat merefleksikan pengorbananNya, penyertaanNya, dan perlindunganNya kepada kita, dan sebagai murid, tentunya merupakan tugas kita untuk dapat menjalani hidup sesuai keinginanNya, dan menjadi saksi, membagikan kasihNya kepada sesama.

Selamat menjalani masa-masa Paskah ini dan semakin diperbaharui lagi di dalam kehidupan.
Gb, always.

Sunday, 26 September 2010

Berdirilah Teguh, Jangan Goyah

Seminggu ini sepertinya membaca dan mendengar banyak hal tentang kepedulian dan berbagi kasih dengan sesama. Berawal dari note yang ditulis dek sandra, note yang dibuat oleh kak irene (selamat ren sudah lulus,selamat berkarya ya), dilanjutkan tema PA minggu ini di GMKI, dan juga tema jumatan PMK minggu ini. Dunia semakin apatis dan setiap orang sering hanya memikirkan diri sendiri termasuk saya sendiri pastinya. Sebelum sampai pada akhirnya, mungkin aku coba menyimpulkan apa yang bisa kusimpulkan dari keempat hal diatas.

Setelah mencoba mengambil kesimpulan dari keempat hal diatas, hal yang sangat menarik ketika  menyadari bahwa keempat hal diatas tadi seperti membentuk suatu alur dari kecil ke besar.

Pada note sandra , salah satu kesimpulan yang bisa kusimpulkan (maaf kalau salah menyimpulkan dek, kurang atau lebih jangan dikoreksi disini ya, malu, haha) adalah tentang semakin menyebarnya virus ketidakpedulian di masyarakat saat ini, terkhusus yang disorot adalah kaum pemuda. Pemahaman tentang kasih sudah terdistorsi, dan melalui tulisan ini kita, para pemuda-pemudi yang tahu defenisi sebenarnya dari kasih dan kepedulian diajak untuk mau terus mengaplikasikan hal tersebut dalam kehidupan di lingkungan kita masing-masing. Untuk kesimpulan yang lebih lanjut, dapat membaca langsung di link ini. (http://www.facebook.com/notes.php?id=1373377815&notes_tab=app_2347471856#!/note.php?note_id=438911219729)

Pada note irene, satu kesimpulan yang bisa kuambil (maaf juga kalau salah ya ren) adalah walaupun mungkin tinggal sedikit, tapi keramahtamahan, salah satu implementasi dari kasih, masih ada terdapat di sekitar kita, bahkan dari orang-orang yang tidak kita duga seperti dari orang yang tidak kita kenal, dari teman-teman yang tidak seiman, dan lainnya. Kita sendiri, bagaimana sikap kita? Di tulisan ini, penulis lebih menyoroti tentang bagaimana anak-anak PMK, LP, atau secara umumnya pemuda-pemudi Kristen menanggapi hal ini. Apakah terus bersikap tidak peduli dan hanya mau berinteraksi dengan orang yang itu-itu saja? Atau mau untuk keluar dari zona nyamannya, melepas arogansi diri, berinteraksi dengan teman-teman kita yang lain, seluas-luasnya, sebanyak-banyaknya, dari latar belakang apapun mereka. Lebih lanjut dapat teman-teman baca dan diskusikan langsung dengan penulisnya (hehe) di link ini. (http://www.facebook.com/note.php?note_id=429575603923)

Pada tema PA minggu ini di GMKI yang kucoba simpulkan, kita, dalam hal saat itu aku, kembali diajarkan bagaimana cara untuk bisa peduli dan berbagi kasih dengan sesama. Intinya hanyalah satu kalimat, kalimat yang terdiri dari empat kata dan hanya membutuhkan dua detik untuk mengucapkannya. Namun dalam mengaplikasikannya, wow, sangat berat tentunya kalau kita bersandar pada kemampuan kita sendiri. Kalimat apa itu? Hidup seperti Dia hidup. Bagaimana teman? Cukup dua detik saja kan mengucapkannya, kalau lebih lama dari dua detik, sepertinya harus coba belajar mengeja lagi (just kidding,^^), namun dalam mengimplementasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari, butuh perjuangan yang sangat berat kawan. Hidup seperti Dia hidup, sepertinya tidak perlu dijabarkan lagi seperti apa Dia hidup. Andai setiap kita di dunia ini bisa mengimplementasikannya, dunia ini pastinya akan sempurna, dan tidak perlu ada tulisan yang aku tulis ini, ataupun sandra dan irene tulis. Setiap orang saling peduli satu sama lain, dan lebih luasnya lagi, semua negara akan hidup makmur, bahkan hukum pun tidak dibutuhkan lagi karena siapa lagi yang mau melanggarnya, karena setiap orang sudah peduli, setiap orang tidak mementingkan dirinya sendiri. Sebuah utopia terjadi di bumi ini. Apakah itu mungkin terjadi di muka bumi ini? Tentunya sulit karena dunia sudah dipenuhi oleh kejahatan (dosa). Tapi apakah karena sangat sulit, akhirnya kita sendiri juga memilih untuk tidak melakukan apa-apa dalam merealisasikannya, kita yang sudah tahu seperti apa Dia hidup, namun memilih untuk hanya sekedar diam, dan menyimpan setiap hal yang kita ketahui itu dalam ingatan kita saja. Kalau begitu, apa gunanya Dia mengajarkan itu semua kepada kita, dan kita tahu tentang hal itu kalau toh kita tidak melakukan apa. Dia yang dulu menolong orang-orang, orang yang tidak dikenalnya, berbeda suku dengan dia, bahkan orang-orang yang membencinya. Dia yang selalu membagikan kepedulian dan kasih kepada sesama, apakah bukan bagian kita juga melakukan hal yang sama? Kalaupun dunia ini begitu apatis, apakah pada akhirnya akan membuat kita juga menjadi apatis, dan menyia-nyiakan semua hal yang sudah Dia ajarkan kepada kita. Ajaran tentang nilai-nilai kemanusiaan itu.
Kurang lebih seperti itu kesimpulan yang bisa kuambil dari PA kemarin. Sayang, kali ini tidak ada linknya. Jadi percaya saja pada apa yang kutulis ini. Haha.

Yang terakhir sebelum pada akhirnya, jumatan minggu ini di PMK. Tiba di puncak dari semua alur ini. Bagaimana kita peduli dengan bangsa ini. Bagaimana kita bisa berdampak bagi bangsa ini, melakukan perubahan untuk bisa membangun lagi bangsa kita yang telah Tuhan kita berikan pada kita. Jumatan ini adalah jumatan yang spesial menurutku, karena untuk pertama kalinya selama aku mengikuti jumatan PMK (kalau ternyata salah, mungkin saat itu terjadi, aku gak datang jumatan) kebaktian dilakukan bukan dengan metode kebaktian biasa, tapi dengan metode diskusi interaktif, tanpa pembicara, mahasiswalah yang berbicara. Diawali dengan pemutaran dua buah slide, dan kemudian pemimpin pujian, Mordekhai, menantang setiap mahasiswa yang hadir untuk maju ke depan membagikan apa yang bisa dibagikan. Ada tiga orang yang maju kemarin itu, dua orang dari angkatan 2010 (salut dengan semangat dan keberanian kalian) dan satu dari angkatan 2007 (kalau yang satu ini memang tidak tahu malu,hehe), dan kesimpulan yang bisa diambil dari ketiganya, setiap mereka mengajak kita untuk lebih peduli lagi dalam membangun bangsa ini, menggunakan kesempatan yang sangat berharga saat ini untuk belajar dan menambah pengetahuan karena bekal inilah yang akan kita butuhkan untuk membangun bangsa kita ini setelah kita lulus nanti.

Saat itu sebenarnya ingin maju juga untuk coba membagikan apa yang bisa kubagikan terkait tema jumatan kali ini, tapi apa daya, hati ingin melakukan, tapi kaki menahan setiap langkahnya. Grogi sepertinya berdiri di depan. Mungkin memang bukan bagian saya untuk berdiri di depan dan berbicara. Sepertinya posisi sekarang sudah tepat, duduk di atas kursi dan mencoba menuliskan sesuatu yang bisa kubagikan kepada rekan-rekan yang berminat membacanya. Dan berharap rekan-rekan bisa menemukan hal yang baik dari tulisan ini dan membagikannya kepada kawan-kawan yang lain. Semoga terus ada 2010-2010 lain (aku lupa nama mereka dua yang maju kemarin), Arion-arion lain, Mordekhai-Mordekhai lain, yang berani dan mau untuk mengeluarkan pemikiran mereka, dan mengajak rekan-rekan yang lain untuk bergabung melakukannya. Kenapa itu perlu, akan kita bahas pada akhirnya. Inti kesimpulan dari jumatan ini, apakah bukan tugas kita untuk bisa mengatasi kebobrokan dari bangsa kita ini, apakah bukan tugas kita untuk bisa peduli kepada nasib bangsa ini, ataukah kita cukup nyaman dengan aktivitas kita sehari-hari?
Hidup seperti Dia hidup. Tentunya melalui integritas yang telah Dia ajarkan kepada kita, itu juga dapat kita implementasikan dalam kehidupan kita untuk menjadi jawaban atas setiap permasalahan yang ada di dalam masyarakat. Mungkin itu kesimpulan yang bisa saya ambil dari jumatan kemarin, lebih kurang bisa langsung tanya ke pemimpin pujian atau koordinator PMK. Hehe. Oiya, untuk coba sama-sama kita memikirkan tentang hal ini, teman-teman bisa membuka link ini, salah satu slide yang diputar pada jumatan kemarin dan semoga melalui slide ini, kita semua semakin sadar bahwa peran kita sangat dibutuhkan untuk mengubah bangsa ini. Selamat menikmati videonya. (http://www.facebook.com/notes.php?id=1382956990&notes_tab=app_2347471856#!/video/video.php?v=1629826230534)

Tiba di akhir cerita. Kita sudah berjalan-jalan dari note sandra hingga jumatan PMK dan sudah berdiri di puncak alur. Pada akhirnya, sudah berada di akhir alur dan sudah berada di puncaknya, tujuan dari ini semua. Apalagi yang masih kurang? Sedikit dari saya untuk coba melengkapi keempat hal tadi. Tantangan terberat selanjutnya yang akan kita hadapi, terpaan angin yang sangat kuat dari kiri dan kanan yang menggoyahkan pendirian kita. Akhir dari saya, Berdirilah teguh, jangan goyah.

Berdirilah teguh, jangan goyah. Sebuah kalimat yang terus terngiang di pikiranku selama beberapa bulan ini, dan ternyata memiliki makna yang sangat mendalam. Kenapa sangat mendalam? Mungkin melalui berbagai kasus, musibah, dan peristiwa yang terjadi beberapa bulan ini di bangsa kita, membuat kita, dalam hal ini aku, memiliki keinginan untuk coba melakukan sesuatu yang berarti bagi bangsa ini ketika aku nanti terjun ke dalamnya. Dan perasaan dan tekad itu mungkin juga kawan-kawan rasakan dan kita semua sudah memiliki keinginan tekad yang elips. Dan mungkin melalui tulisan diatas dan video yang telah kawan-kawan lihat, tekad kita yang sudah membentuk elips itu menemukan keutuhannya dan menjadi bulat dan semangat itu ada di dada setiap kita. Namun, perasaan dan tekad yang sudah kita rasakan sekarang, seharusnya tidaklah sebatas sekarang saja, tapi terus dipertahankan hingga akhir nanti. Karena itulah kuncinya. Karena begitulah yang sering terjadi, perasaan dan tekad untuk mengubah bangsa yang sudah dibangun pada saat mahasiswa, sering hilang lenyap tak tersisa ketika sudah berhadapan dengan dunia sebenarnya. Di saat-saat inilah semangat itu harus terus kita jaga. Berdirilah teguh, jangan goyah.

Selain mempertahankan semangat itu, saatnya juga untuk melakukan hal lainnya yang tidak kalah penting. Mengajak rekan-rekan yang lain untuk juga bisa merasakan perasaan dan tekad yang sama. Karena akan sangat berat melakukan hal itu sendiri, ataupun berdua, ataupun bertiga. Dan pendirian kita juga akan semakin mudah digoyahkan. Dibutuhkan barisan sebanyak-banyaknya, semakin banyak pemuda-pemudi yang memiliki semangat yang sama ini, maka akan semakin kuat kita berdiri, dan akan semakin besar dan cepat kans bangsa ini berubah menuju arah yang lebih baik.

Bagaimana cara mengajak rekan-rekan kita? Tentunya dengan bertukar pikiran, berdiskusi, mencoba membagikan semangat yang sudah kita punya kepada mereka dengan berbagai metode. Tanpa pandang latar belakang, suku,agama, ras, atau apapun, saatnya kita menghimpun pemuda-pemudi yang mempunyai keinginan yang sama, membangun bangsa ini.

Dimana melakukannya? Tentunya tidak akan bisa apabila kita hanya bergelut di kosan, ataupun berkeliaran di jalanan. Saatnya masuk ke himpunan jurusan, unit-unit budaya, kajian, olahraga, serta organisasi-organisasi kemahasiswaan ataupun sosial lainnya. Saatnya masuk kesana, dan berbagi tentang hal ini. Saatnya melakukan diskusi-diskusi, kajian ilmu, bakti sosial, pengabdian masyarakat, ataupun hal-hal lainnya yang sesuai dengan ciri khas organisasi tersebut.

Untuk apa kita melakukan hal-hal tersebut? Mungkin semua hal yang kita lakukan ini tidaklah menghasilkan hal yang signifikan bagi perubahan masyarakat saat ini, tapi satu yang menjadi poin sangat penting yang bisa didapat adalah melalui metode-metode itu kita bisa semakin menanamkan perasaan dan tekad yang sudah kita miliki ini ke rekan-rekan kita yang lain. Mereka yang mengikuti kegiatan-kegiatan itu tentunya diharapkan bisa memaknai tujuan dari kegiatan-kegiatan ini dan pada akhirnya makna dan semangat itu terus mengalir di urat darah mereka hingga tiba di dunia kerja nantinya. Mungkin awalnya barisan kita hanya 20 orang, namun ketika kita melakukan hal diatas, barisan kita akan terus bertambah dan mimpi kita, Indonesia yang makmur dari Sabang sampai Merauke akan semakin mendekati kenyataan.

Saat-saat ini mungkin kita tidak bisa melakukan sesuatu yang sangat besar yang dapat langsung mengubah bangsa ini secara drastis, tapi sekaranglah saatnya kita belajar dan juga memperkuat barisan, sehingga ketika tiba waktunya, barisan kita akan kuat, dan senjata yang kita gunakan tidak hanya sebatas omongan saja, tapi kita juga sudah dibekali pemahaman dari keilmuan kita, soft skill, dan kemampuan-kemampuan lainnya dan itu semua bisa kita usahakan saat ini, bukan nanti, tapi saat ini.
Ketika kita sudah memutuskan untuk berjuang membangun bangsa, tapi kita sekarang tidak mengajak kawan-kawan kita yang lain untuk berjuang bersama, itu sama saja dengan bunuh diri. Tidak salah memang, tapi tanpa persiapan. Sulit untuk mengubah bangsa yang tersebar dari Sabang dari Merauke, dengan segala kebobrokannya kalau jumlah kita hanya 20,50, ataupun sebanyak mahasiswa yang datang jumatan kemarin. Tapi akan sangat besar kemungkinan apabila setiap kita mengajak kawan-kawan kita yang lain, setiap satu orang mendiskusikannya dengan yang lain, maka barisan kita akan semakin kuat.
Seperti apa memberitahukannya? Seperti yang sudah dituliskan diatas, aktif di unit, himpunan, organisasi kemahasiswaan lainnya dan melakukan kegiatan-kegiatannya yang membuat kita dan juga rekan-rekan kita bisa belajar menemukan dan memupuk semangat itu.
Ada beberapa himpunan jurusan yang sudah memiliki program pengabdian masyarakat sendiri, apakah teman-teman terlibat di dalamnya? Apakah semangat pengabdian itu hanya dibutuhkan pada saat mahasiswa saja?
Banyak himpunan yang belum memiliki program pengabdian masyarakat, termasuk himpunanku. Apakah kita hanya tinggal diam saja?
Banyak unit-unit yang melakukan kegiatan-kegiatan yang bisa menimbulkan semangat melakukan perubahan sesuai ciri khas nya masing-masing. Ada unit yang memiliki kepedulian tentang lingkungan hidup. Seperti teman-teman tahu, kepedulian terhadap lingkungan hidup masih sangat kurang di bangsa kita. Ada unit yang mendiskusikan tentang isu-isu sosial masyarakat. Ada unit yang melestarikan seni dan budaya karena seni dan budaya itu sendiri bisa dimanfaatkan sebagai media untuk meningkatkan perekonomian masyarakat lokal, dan banyak organisasi-organisasi lainnya yang memiliki ciri khas masing-masing.
Apakah kita sudah berperan di dalamnya atau memilih untuk melihatnya saja? Karena melalui inilah kita bisa semakin memperdalam semangat kita dan juga membagikan semangat kita itu kepada yang lain.

Bagaimana kawan, jalan mana yang kau pilih? Berjuang sendiri, atau berjuang dengan barisan yang kuat?

Berdirilah teguh, jangan goyah.
Sampai sekarang pun aku masih sering takut dan ragu kepada diriku, apakah aku hanya akan menjadi seseorang yang OMDO, omong doang, menuliskan tentang kepedulian kepada bangsa, tapi ketika nanti aku benar-benar dihadapkan dengan kondisi yang ada, aku hanya terdiam saja dan tidak mampu melakukan apa-apa. Disinilah kita saling mendukung, saling menguatkan, agar barisan kita tetap kokoh, hingga akhir nanti dan kita bisa bersama-sama terus berdiri teguh, jangan goyah.

Akan sangat menyenangkan membayangkannya ketika kita semua, para pejuang ini bisa menyelesaikannya hingga akhir, berjuang di medan perjuangan kita masing-masing, tentunya dengan barisan yang kuat, dan mengakhirinya dengan indah, kita bisa melakukan perubahan, sekecil apapun itu, bagi bangsa kita ini. Dan disinilah terjawab kenapa dibutuhkan 2010-2010 lain, Mordekhai-Mordekhai lain, Arion-Arion lain, yang berani dan mau untuk mengajak rekan-rekan yang lain, sehingga barisan kita bisa semakin kuat, dan semakin kuat lagi, untuk melakukan perubahan bagi bangsa ini.

Sungguh sangat menyenangkan ketika kita bisa berkata-kata seperti Paulus, ‘aku telah mengakhiri pertandingan dengan baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman’. Pertandingan yang tentunya akan penuh dengan tantangan dan permasalahan teman.
Mari kita saling mendukung dan menguatkan dalam menghadapi pertandingan ini kawan. Dan sekarang ini saatnya mempertajam kualitas diri dan memperkuat barisan, agar kita bisa terus BERDIRI TEGUH, JANGAN GOYAH.

Selamat menjalani pertandingan teman-teman,
Semoga senyuman yang akan tampak dari setiap wajah kita, di akhir pertandingan nanti.

Salam perjuangan...