Berusaha untuk Lebih Setia
Kalau kupikir-pikir lagi, selama ini ternyata aku salah mengetikkan harapan saat menutup pembicaraan dengan teman bicara. Aku sering mengetik"semoga Tuhan menjaga kita", "semoga Tuhan memberkati kita", "semoga Tuhan melindungi kita", dan kalimat harapan sejenis lainnya.
Kalimat itu seakan-akan mengatakan ada kalanya Tuhan akan menjaga, memberkati, dan melindungi kita, tapi ada kalanya tidak.
Padahal, tanpa kita minta pun, sebenarnya Tuhan selalu setia menjaga, memberkati, dan melindungi kita. Idealnya kasih orangtua dan anak, jauh lebih sempurna lagi kasih Tuhan kepada makhluk ciptaan-Nya.
Justru sebaliknya, kita yang makhluk ciptaan ini justru yang kurang bahkan tidak setia. Ada juga kita yang menjauh bahkan membenci-Nya.
Terkadang kita mengaku mencintai Tuhan, tapi malah membenci ciptaan-Nya. Memusuhi orang lain, merusak lingkungan, membunuh hewan seenaknya.
Mungkin kita tidak sadar, ketika kita melukai, melecehkan, bahkan merusak makhluk ciptaan-Nya, maka kita juga telah melukai hati Tuhan Sang Pencipta.
Ini bisa dianalogikan dengan seorang pelukis yang akan kecewa bahkan marah ketika lukisan terbaik karya tangannya dirusak atau dilecehkan oleh orang lain.
Maka sepertinya kalimat harapan "semoga Tuhan menjaga, memberkati, dan melindungi kita" tidak lagi tepat menjadi kalimat penutup suatu pembicaraan. Karena faktanya Tuhan selalu setia, tapi sebaliknya kita tidak setia.
Kita meminta Tuhan menjaga, memberkati, dan melindungi kita, tapi kita tidak menjaga dan melindungi sesama makhluk ciptaan Tuhan (manusia dan alam).
Lebih tepat jika kita ucapkan "semoga kita setia menjaga keluarga, teman, sesama, dan alam sekitar kita karena Tuhan setia menjaga kita". Dengan kalimat harapan seperti ini, semoga mengingatkan kita untuk berusaha lebih setia.
Hidup ini penuh kegembiraan dan keindahan. Dan hidup akan semakin indah ketika kita dapat berbagi dengan orang lain sehingga hidup kita menjadi kegembiraan milik bersama. Mari berbagi kegembiraan disini.
inspirasi
Showing posts with label Alam. Show all posts
Showing posts with label Alam. Show all posts
Tuesday, 16 June 2015
Sunday, 15 December 2013
Malaysia Truly Indonesia
Judul yang mungkin akan membuat kening teman-teman berkerut.
Ya, iklan Malaysia Truly Asia kembali memenuhi TV. Masih di bulan Oktober 2013, mereka sudah menayangkan promosi Visit Malaysia 2014. Aneka keindahan alam dan bermacam objek wisata disajikan untuk menggoda minat calon wisatawan. Tawarannya jelas: ingin mengenal dan menikmati Asia, tidak perlu mengunjungi banyak negara, cukup datang ke Malaysia.
Malaysia adalah Asia sebenarnya. Berbagai jenis flora dan fauna ada di Malaysia. Dalam salah satu bagian iklan, mereka juga menunjukkan Bunga Rafflesia dan Orangutan sebagai kekayaan alam yang dimiliki Malaysia. Malaysia Truly Indonesia. Ingin melihat Bunga Rafflesia dan Orangutan? Tidak perlu jauh-jauh ke Indonesia, mari datang ke Malaysia. Dan keberadaan itu telah mereka nyatakan melalui promosi iklan mereka.
Memang Bunga Rafflesia dan Orangutan tidak hanya ada di Indonesia dan ada juga di Malaysia. Sayangnya, kekayaan itu bagi mereka adalah potensi untuk dilestarikan dan dimanfaatkan, dan bagi Indonesia hanyalah dua dari sekian banyak kekayaan lainnya yang disia-siakan. Pernahkah kita melihat pemerintah mempromosikan Bunga Rafflesia atau Orangutan sebagai objek wisata bagi para penikmat wisata?
Sebagian besar dari kita pasti segera menggelengkan kepala.
Mari berkunjung ke Kebun Binatang Singapura (Singapura Zoo) dan kita nikmati aneka flora dan fauna dunia yang hampir setengahnya hanya tumbuh dan berkembang biak di Indonesia. Harimau Sumatera, aneka jenis ular, ikan, burung, dan tumbuhan. Bahkan Kebun Binatang Singapura itu mengklaim dirinya sebagai salah satu kebun binatang terbesar di dunia yang menyimpan kekayaan flora dan fauna dari hutan hujan tropis. Masih ingatkah kita pelajaran geografi SMP atau SMA yang menyatakan bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki wilayah hutan hujan tropis terbesar di dunia, dan juga disebut sebagai paru-paru dunia. Tapi mengapa salah satu kebun binatang hutan hujan tropis terbesar di dunia justru ada di Singapura, yang besar negaranya lebih kecil dari provinsi terkecil Indonesia?
Ketika Malaysia memakai Bunga Rafflesia dan Orangutan sebagai sumber penghasil devisa mereka, Indonesia justru menjadikan hutan tempat Bunga Rafflesia dan Orangutan sebagai penghasil pemasukan negara. Ketika Singapura justru menyediakan satu lokasi khusus dari wilayahnya yang kecil sebagai kebun binatang serta menjadikan Orangutan sebagai maskotnya, Indonesia justru membiarkan pembantaian terhadap Orangutan ataupun merusak ekosistem tempat tinggal Bunga Rafflesia.
Maka tidak salah jika kita mengatakan Malaysia Truly Indonesia. Karena merekalah yang menyadari potensi kekayaan Indonesia, dan kita hanya menjadi penikmat semata.
Hanya begini-begini sajakah kita?
Mari lakukan sesuatu. :)
Sunday, 19 June 2011
Pejuang Gerhana
16 Juni 2011,
malam dingin jadi saksi,
hilang putri ayu malam di gemerlap cakrawala.
putra alam mengambil bagian,
sembunyi sang putri untuk sejenak,
dengan keperkasaannya,
jauh dari para pemimpi malam.
putri ayu dan putra alam,
bersenda-gurau berbagi kisah,
seakan hanya berdua,
membiar sang fajar dan anak,
tersembunyi di gelapnya layar langit.
para pemimpi berhenti bermimpi,
mendongak kepala mencari tanda,
menatap indah putri dan putra,
dalam pertemuan akrab dan intim,
saat sekali seabad.
dimana sang putri?
pergi sesaat untuk kembali,
memberi keayuan,
menarik sang fajar dan anak,
bersinar di gelapnya langit.
dimana sang putra?
kembali ke alam,
meninggalkan sang putri,
atau ditinggalkan?
kosong dalam kehampaan.
dimana pejuang gerhana?
diam?
tanpa kata?
berpaling?
selesai?
atau
dimanakah pejuang gerhana?
kokoh?
berjuang?
melangkah?
hingga akhir?
kemanapun pejuang gerhana,
para pemimpi melanjut mimpi,
berharap terjadi momen,
kembali perjumpaan antara,
sang putri ayu dan sang putra alam perkasa.
can't be moved or over??
*tulisan ini dipersembahkan untuk seorang teman, pejuang gerhana, pria berinisial SS
16 Juni 2011
malam gerhana bulan
dini hari di kota Bandung
malam dingin jadi saksi,
hilang putri ayu malam di gemerlap cakrawala.
putra alam mengambil bagian,
sembunyi sang putri untuk sejenak,
dengan keperkasaannya,
jauh dari para pemimpi malam.
putri ayu dan putra alam,
bersenda-gurau berbagi kisah,
seakan hanya berdua,
membiar sang fajar dan anak,
tersembunyi di gelapnya layar langit.
para pemimpi berhenti bermimpi,
mendongak kepala mencari tanda,
menatap indah putri dan putra,
dalam pertemuan akrab dan intim,
saat sekali seabad.
dimana sang putri?
pergi sesaat untuk kembali,
memberi keayuan,
menarik sang fajar dan anak,
bersinar di gelapnya langit.
dimana sang putra?
kembali ke alam,
meninggalkan sang putri,
atau ditinggalkan?
kosong dalam kehampaan.
dimana pejuang gerhana?
diam?
tanpa kata?
berpaling?
selesai?
atau
dimanakah pejuang gerhana?
kokoh?
berjuang?
melangkah?
hingga akhir?
kemanapun pejuang gerhana,
para pemimpi melanjut mimpi,
berharap terjadi momen,
kembali perjumpaan antara,
sang putri ayu dan sang putra alam perkasa.
can't be moved or over??
*tulisan ini dipersembahkan untuk seorang teman, pejuang gerhana, pria berinisial SS
16 Juni 2011
malam gerhana bulan
dini hari di kota Bandung
Subscribe to:
Posts (Atom)