inspirasi

inspirasi
Showing posts with label setia. Show all posts
Showing posts with label setia. Show all posts

Sunday, 21 June 2015

Jangan Berhenti, Tetaplah Membangun

JANGAN BERHENTI, TETAPLAH MEMBANGUN
(Inspirasi dari Bunda Theresa)

Beberapa waktu ini mendengar kabar yang membuat jengkel dan kecewa. Bersyukur waktu ibadah Minggu di GKI Maulana Yusuf, sang pengkhotbah mengutip kalimat inspiratif dari Bunda Theresa.


Dulu saya pernah membaca kutipan suster peraih Nobel ini, dan dalam momen yang sangat pas saya diingatkan kembali pesan berharga ini. Tetaplah bahagia dalam berbuat baik. Tuhan memang selalu menguatkan di waktu yang tepat.

Semoga pesan Bunda Theresa ini dapat bermanfaat bagi teman-teman yang membaca. Selamat membaca. :)

•    Terkadang orang berpikir secara tidak masuk akal dan bersikap egois. Tetapi, bagaimanapun juga, terimalah mereka apa adanya.

•    Apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud-maksud buruk di balik perbuatan baik yang kaulakukan itu. Tetapi, tetaplah berbuat baik selalu.

•    Apabila engkau sukses, engkau mungkin akan mempunyai musuh dan juga teman-teman yang iri hati atau cemburu. Tetapi teruskanlah kesuksesanmu itu.

•    Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin akan menipumu. Tetapi tetaplah bersikap jujur dan terbuka setiap saat. Walau suatu saat nanti engkau akan tertipu lagi.

•    Apa yang telah kau bangun bertahun-tahun lamanya, dapat dihancurkan orang dalam satu malam saja. Tetapi, janganlah berhenti, dan tetaplah membangun.

•    Apabila engkau menemukan kedamaian dan kebahagiaan di dalam hati, orang lain mungkin akan iri hati kepadamu. Tetapi, tetaplah berbahagia.

•    Kebaikan yang kalakukan hari ini, mungkin besok akan dilupakan orang. Tetapi, teruslah berbuat baik.

•    Berikan yang terbaik dari apa yang kaumiliki, dan itu mungkin tidak akan pernah cukup. Tetapi, tetap berikanlah yang terbaik.

•    Sadarilah bahwa semuanya itu ada diantara engkau dan Tuhan. Tidak akan pernah ada antara engkau dan orang lain. Jangan pedulikan apa yang orang lain pikirkan atas perbuatan baik yang kaulakukan. Tetapi, percayalah bahwa mata Tuhan tertuju pada orang-orang yang jujur, dan Dia dapat melihat ketulusan hatimu.

Semangat selalu dalam berbuat baik. Berdiri teguh, jangan goyah.
Selalu optimis dan positif menjalani hari.
:)

Tuesday, 16 June 2015

Berusaha Untuk Lebih Setia

Berusaha untuk Lebih Setia

Kalau kupikir-pikir lagi, selama ini ternyata aku salah mengetikkan harapan saat menutup pembicaraan dengan teman bicara. Aku sering mengetik"semoga Tuhan menjaga kita", "semoga Tuhan memberkati kita", "semoga Tuhan melindungi kita", dan kalimat harapan sejenis lainnya.

Kalimat itu seakan-akan mengatakan ada kalanya Tuhan akan menjaga, memberkati, dan melindungi kita, tapi ada kalanya tidak.

Padahal, tanpa kita minta pun, sebenarnya Tuhan selalu setia menjaga, memberkati, dan melindungi kita. Idealnya kasih orangtua dan anak, jauh lebih sempurna lagi kasih Tuhan kepada makhluk ciptaan-Nya.

Justru sebaliknya, kita yang makhluk ciptaan ini justru yang kurang bahkan tidak setia. Ada juga kita yang menjauh bahkan membenci-Nya.

Terkadang kita mengaku mencintai Tuhan, tapi malah membenci ciptaan-Nya. Memusuhi orang lain, merusak lingkungan, membunuh hewan seenaknya.

Mungkin kita tidak sadar, ketika kita melukai, melecehkan, bahkan merusak makhluk ciptaan-Nya, maka kita juga telah melukai hati Tuhan Sang Pencipta.

Ini bisa dianalogikan dengan seorang pelukis yang akan kecewa bahkan marah ketika lukisan terbaik karya tangannya dirusak atau dilecehkan oleh orang lain.

Maka sepertinya kalimat harapan "semoga Tuhan menjaga, memberkati, dan melindungi kita" tidak lagi tepat menjadi kalimat penutup suatu pembicaraan. Karena faktanya Tuhan selalu setia, tapi sebaliknya kita tidak setia.

Kita meminta Tuhan menjaga, memberkati, dan melindungi kita, tapi kita tidak menjaga dan melindungi sesama makhluk ciptaan Tuhan (manusia dan alam).

Lebih tepat jika kita ucapkan "semoga kita setia menjaga keluarga, teman, sesama, dan alam sekitar kita karena Tuhan setia menjaga kita". Dengan kalimat harapan seperti ini, semoga mengingatkan kita untuk berusaha lebih setia.

Saturday, 21 January 2012

Kenangan Bersama Ompung


Pekanbaru, kota kelahiran. Kembali ke kota ini setelah empat tahun lamanya hanya bisa mengingatnya lewat kenangan. Kembali juga ke sebuah rumah penuh kisah dan cerita, rumah di Jalan Hasanuddin No. 103. Rumah itu masih sama seperti dulu, hanya ada beberapa perubahan fungsi saja. Namun, ada satu yang tidak sama lagi. Ya, tawa dan senyum itu tidak kutemui lagi di sana. Tawa dan senyum dari Ompungdoliku.

Biasanya, tawa dan senyum Ompungdoli akan selalu menyambut setiap kali aku datang. Tak lama setelah aku datang, dia akan selalu mengajakku ke pasar, bukan untuk belanja, melainkan membawaku ke tukang pangkas langganannya. Satu kali aku sengaja berpangkas dulu di Medan sebelum datang ke Pekanbaru, namun alasan itu tidaklah mampu membuatku menolak ajakannya lagi dan lagi. Dahulu aku bosan dan berusaha menolak ajakannya berpangkas, sekarang aku rindu dan menanti berpangkas bersamanya lagi. Sayang, itu semua tinggal kenangan.

Terakhir aku datang ke kota ini, tidaklah senyum segarnya yang menantiku, melainkan tubuh yang terbujur kaku di atas tempat tidur. Tubuhnya telah tertidur selamanya, dan rohnya telah kembali kepada Sang Penciptanya.

Teringat aku kembali kisah orangtuaku. Saat itu aku masih bayi, belum satu tahun mungkin. Ompungdoliku meminta kepada orangtuaku agar aku dapat tinggal di Pekanbaru selama orangtuaku beasiswa di negeri seberang. Seorang bayi kecil selama beberapa bulan ditinggal bersama kedua Ompungnya. Namun, sejak saat itulah aku semakin akrab dengan Ompungku, terkhusus Ompungdoliku. Tidur di kamarnya setiap hari, setiap saat aku berkunjung ke sana. Dan ada satu hal yang selalu dilakukan Ompungdoliku setiap hari, dengan tekun dan setia. Hal yang selalu ditanamkannya kepada kami, cucu-cucunya, dengan ajaran dan juga tindakan -walau para cucunya yang bandel ini selalu berusaha menolak dan mengabaikan- yakni, saat teduh di malam dan pagi hari.

“Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.”
Markus 1 ayat 35 ini berulang kali terdengar di telingaku, sebanyak aku berusaha menolak bangun dari tidur di pagi hari. Dengan setia aku menutup mataku, dengan setia juga dia berusaha membangunkan aku dan saudaraku untuk ikut bernyanyi dan membaca Kitab bersamanya. Sekali waktu hampir belasan menit kami menolak bangun, hingga mungkin dia menyerah dan meninggalkan kami. Suaranya terdengar menyanyikan lagu rohani kesukaannya. Kami yang diliputi rasa bersalah kemudian bangun dan duduk di sebelahnya. Senyuman tersungging di wajahnya. Senyum yang telah lama tidak aku lihat lagi.

Ketika aku malas bangun dan Ibuku mengeluh kepada Ompungku, dengan segera dia memintaku membaca Amsal 6 ayat 6-11. “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen. Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring – maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.”
Ayat ini berulang-ulang diajarkannya kepada kami, para cucunya, hingga aku sendiri pernah luar kepala melafalkan ayat ini. Ayat yang selalu terngiang ketika aku malas dalam beraktivitas, walaupun kadangkala cucu yang bebal ini masih juga jatuh bangun dalam satu hal ini.

Sering kali dia menghubungi kami di Medan. Menanyakan kabar kami, kemudian mengajak kami berdoa dan membacakan Firman dari buku saat teduh favoritnya. Dirinya membentuk diriku sejak kecil, mengajarku ketika aku sendiri masih belum ingin belajar. Kasih dari Ompung kepada cucunya, lewat perkataan, perbuatan, dan pengajaran, dilakukan dengan tekun oleh Ompungdoliku.

Berkumpul dengannya menjadi salah satu kesempatan bagi kami untuk mendengar banyak cerita. Mulai dari perjuangannya di zaman kemerdekaan, saat dia menjadi penatua gereja namun masih memiliki jimat-jimat pribadi, dan waktu dia meninggalkan serta membakar semua jimatnya (berulang kali dia bercerita bahwa ibuku ternyata salah satu yang berperan menyadarkannya atas dosanya tersebut). Dia juga bercerita ketika dia memulai pelayanan ke desa-desa di Sumatera Utara ataupun Riau, menjalin hubungan dengan penduduk sekitar, dan banyak kisah lainnya.

Banyak pelayanan yang dilakukannya, baik yang gerejawi maupun pada masyarakat umum. Ada satu hal yang menarik dari Ompungdoliku, dia seorang perokok aktif. Namun hal ini jugalah yang memberikan pemahaman padaku hingga hari ini. Bahwa salah ketika orang menganggap para perokok itu hina, jahat, penuh dosa, dan lainnya. Dengan berani aku akan berdiri di depan menolak anggapan itu, karena Ompungdoliku telah memberikan kesaksian yang hidup tentang hal ini. Bahwa banyak orang yang kelihatannya baik di luar, tidak merokok, dan lainnya, namun hidupnya bejat, menghakimi orang lain, dan lain sebagainya.

Sebuah ayat disampaikannya kepadaku, menunjukkan semangatnya yang berapi-api untuk memberitakan perbuatan yang besar dari Tuhan, ayat yang kemudian juga menjadi ayat katekisasiku. “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib.”
Ayat ini telah mengajarkanku untuk setia bersaksi, memberitakan perbuatan yang besar dari Tuhan. Lewat perkataan, perbuatan, dan pengajaran. Hal yang telah Ompungdoliku lakukan hingga akhir hayatnya, dan tentunya harus juga kulakukan hingga tiba akhir hayatku.

Menjelang akhir hayatnya, bukannya beristirahat, Ompungdoliku justru menyibukkan diri dengan mendamaikan perseteruan di dalam keluarga besar. Sepertinya dia sudah menduga Tuhan akan segera memanggilnya. “Aku ingin konflik ini bisa selesai sebelum aku mati,” ujarnya padaku suatu kali. Hingga masa tuanya dia terus memikirkan orang lain. Banyak pegawainya yang dulu ketika dia masih muda, dibantu, dibimbing, dan diberinya uang agar bisa berkembang, sekarang sudah mandiri dan mapan, bahkan lebih mapan darinya. Namun tidak sekalipun dia mengharapkan pamrih, hal yang juga diajarkannya kepada kami, bahwa kami harus mengasihi tanpa pamrih, seperti Tuhan juga mengasihi tanpa pamrih.

Ketika aku lulus ke perguruan tinggi negeri yang kujalani sekarang, dengan penuh semangat dia menghubungiku dan memberiku motivasi serta ucapan selamat. Dia mengajakku berdoa lewat telpon, dan aku yakin setiap hari juga dia terus mendoakanku, serta mendoakan anak cucunya yang lain agar bisa menjalani hidup ini sesuai dengan rencana Tuhan. Di doa Ompungdoliku berkali-kali namaku disebut, doa yang dilantunkannya agar aku terus setia berada dalam sertaan Tuhan.

Beberapa minggu sebelum meninggal, kami bertemu di Jakarta. Aku hendak pulang Minggu pagi ke Bandung, namun dia memintaku menunda kepulanganku. Dia ingin bergereja pagi denganku. Aku menolaknya dengan alasan ada yang harus dikerjakan di Bandung. Ternyata saat itu merupakan kesempatan terakhirku untuk bisa bergereja bersamanya. Ketika aku mendengar kabar dari ibuku bahwa Ompungdoliku telah meninggal, penyesalan pun segera datang; kenapa aku menolak permintaannya. Tapi penyesalan memang selalu datang terlambat. Ompungdoli kesayanganku telah kembali ke hadirat Bapa yang dikasihinya.

Di rumah duka, rumah Jalan Hasanuddin No. 103, aku melihat sosok tubuhnya. Tubuh yang tenang seakan menunjukkan tugasnya telah selesai di dunia ini. Seketika aku mengingat sebuah ayat, yang beberapa kali juga dibacakannya di depanku. “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”
Ya, Ompungdoliku telah mengakhiri pertandingan yang baik, dia telah mencapai garis akhir dan teguh memelihara imannya. Saat ini mahkota kebenaran telah tersedia baginya, juga bagiku apabila aku juga berdiri teguh hingga akhir melakukan panggilanku.

Saat acara adat untuk menguburkan Ompungdoli, ratusan orang datang ke rumah duka, puluhan papan bunga mengisi sisi jalan di depan rumah. Benar kata pepatah, “waktu kamu lahir, kamu menangis dan orang-orang di sekelilingmu tersenyum. Jalanilah hidupmu sehingga pada waktu kamu meninggal, kamu tersenyum dan orang-orang di sekelilingmu menangis.”

Tahun ini merupakan tahun terakhirku berkuliah di perguruan tinggi. Dulu aku berharap Ompungdoliku bisa hadir saat pembacaan namaku di gedung Sabuga. Harapan itu masih bisa kulakukan, karena Ompungboruku masih hidup dan sehat. Harapan dan doa Ompungdoliku terus hidup dan mengalir dari Ompungboruku. Harapan dan doa yang selama empat tahun sejak sepeninggalan Ompungdoliku tanpa kusadari ternyata terus dilantunkan Ompungboruku dengan setia setiap harinya dari rumah penuh cinta di Jalan Hasanuddin No. 103.

Terima kasih Ompungdoli dan Ompungboruku atas nasihat dan didikan kalian selama ini. Cucu yang bebal ini berjanji akan membuat kalian tersenyum, baik dari rumah nan asri di Jalan Hasanuddin itu, juga dari rumah kekal di atas sana.

Thursday, 21 April 2011

Kamis Putih

Untuk pertama kalinya melalui Kamis Putih menjelang Jumat Agung bukan di Medan ataupun Bandung melainkan di sebuah ibukota kabupaten di Jawa Barat, Cirebon.

Hari ini mulai mengerjakan tugas akhir. Dapat kesempatan mengikuti survei ttg abrasi pantai serta kaitannya dengan sosial ekonomi masyarakat. Padahal sudah tahun kelima, tapi ini merupakan survei pertama yg pernah kuikuti. Ntah apa aja kerjaanku selama ini. Hahaha. Tapi, apapun yg dijalani itu aku yakin gak sia2. Sekarang yg paling penting bagaimana mengakhiri ini semua dgn caraNya, bukan caraku. Ya, memang itulah inti dari ini semua. Menjalani sesuai panggilan.

Hari ini adalah Kamis Putih, hari dimana kurang lebih dua ribu tahun yang lalu Dia melakukan Perjamuan Terakhir dengan para rasul. Anggur dan Roti diberikan, bukti penyertaanNya yang akan selalu setia menjaga perjalanan hidup para rasul, termasuk saya saat ini.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita lupa akan penyertaanNya. Ketika hidup begitu menyenangkan, hari-hari berlalu dengan lancarnya, kita sering berpikir bahwa itu karena hasil usaha kita sendiri. Kita lupa mengucap syukur kepada Sang Khalik pemberi itu semua. Dan akhirnya tiba saat ketika segala masalah datang mengganggu kehidupan kita, kita pun hanya bisa mengeluh mempertanyakan penyertaan Tuhan. Keliatannya Tuhan tidak setia. Tidak. Kita yang tidak setia kepadaNya.

Di Kamis Putih ini, saatnya kita mengoreksi lagi apa yg kita lakukan selama ini. Apakah kita masih setia kepadaNya? Apakah kita menjalani hari-hari yg sesuai dgn keinginanNya? Apakah kita telah menjalani panggilan itu, tujuan kita ada di dunia ini?
Aku pun sering terjatuh dalam hal ini. Bukan sekali, dua kali, tapi sering.

Semoga masa-masa Paskah ini kita kembali dapat merefleksikan pengorbananNya, penyertaanNya, dan perlindunganNya kepada kita, dan sebagai murid, tentunya merupakan tugas kita untuk dapat menjalani hidup sesuai keinginanNya, dan menjadi saksi, membagikan kasihNya kepada sesama.

Selamat menjalani masa-masa Paskah ini dan semakin diperbaharui lagi di dalam kehidupan.
Gb, always.

Saturday, 25 September 2010

Monkey bar, kisah perjuangan seorang anak

Saat ini sedang membaca sebuah buku dan ingin berbagi dengan rekan-rekan sedikit kutipan yang aku dapat dari buku ini. Semoga bermanfaat bagi teman-teman semua. Selamat menikmati.


Seorang anak laki-laki bernama Peter, berumur empat atau lima tahun sedang bermain-main di taman bersama orangtuanya. Ia kemudian segera berlari ke tempat favoritnya.

“Tolong angkat saya pada monkey bar (bangunan yang terdiri atas tiang-tiang besi untuk anak-anak panjat dan bermain),” katanya. Kemudian orangtua Peter mengangkat dia ke atas, dan ia menggapai monkey bar itu, dan orangtua itu pun melepaskan dia.
Sepatu Peter yang kecil bergantung sekitar 1,5 meter dari tanah, dan ia sangat bangga. Ia bergantung sendirian dengan senyuman lebar pada wajahnya.

Setelah kurang lebih semenit ia menjadi capai dan berkata, “ Oke, tolong turunkan aku.”

Sang orangtua berkata, ”Peter, lepaskan saja peganganmu, dan aku akan menangkapmu.”

Wajah Peter tampak cemas dan ia berkata, ”Tidak, turunkan aku.”

Sang orangtua berkata, “Peter, jika kamu melepaskan tanganmu, aku akan menangkapmu.”

“Tidak, tolong turunkan aku.”

“Peter, aku menyayangimu. Aku berjanji, aku akan menangkapmu.”

Namun Peter tetap berpaut dengan segenap kekuatannya. Ia terus berpaut sampai buku jarinya menjadi pucat dan ia tidak dapat berpaut lagi lebih lama. Akhirnya, ia melepaskan tangannya, dan orangtua tersebut menangkapnya.

Senyuman lebar tersembul di wajahnya, dan ketika dia didudukkan, ia kembali berlari untuk bermain ayunan. Dan ia segera melupakan semua yang baru saja terjadi.


Pesan apa yang dapat kita ambil dari cerita di atas?

Melalui pesan ini, Allah seakan-akan hendak berkata, “Seperti itulah cara kamu berhubungan dengan-Ku. Kamu berpaut habis-habisan dan berusaha untuk melakukan segala sesuatu dengan kekuatanmu sendiri. Kamu terus bergumul, berusaha mengontrol segala sesuatu, berusaha membuat segala sesuatu tepat seperti yang kau inginkan, berusaha menyenangkan orang-orang, berusaha mengontrol setiap situasi. Kamu berpaut dan berpikir tidak ada orang yang akan menangkapmu sehingga kamu lebih baik menggenggam lebih kuat dan berpaut lebih kuat. Sementara kamu tergantung di sana dan buku-buku jarimu berubah jadi pucat, Aku berkata, ‘Lepaskan tanganmu, dan Aku akan menangkapmu. Lepaskan saja tanganmu. Aku berjanji, Aku menyayangimu, dan Aku akan menangkapmu’. Begitu sering dirimu berpaut dan tidak mau melepaskan genggamanmu, dan ketika genggamanmu terlepas, Aku pasti selalu ada di sana, menangkapmu. Namun setelah dirimu tersenyum atas pertolongan-Ku, di saat itu juga selalu kau segera melupakannya dan kembali berpaut di monkey bar itu dan tidak mau melepaskan genggamanmu ketika kau lelah. Kau selalu mengandalkan dirimu, berusaha untuk melakukan segala sesuatu dengan kekuatanmu sendiri. Tapi, Aku tetap dan selalu mengasihimu. Percayalah, Aku selalu ada disana. Dan ketika genggamanmu terlepas, Aku akan selalu ada menangkapmu.”

(dikutip dari buku One Month to Live karya Kerry & Chris Shook dengan perubahan seperlunya)



Mari kita jangan membatasi kemampuan diri kita, tapi jangan juga hanya mengandalkan kemampuan kita sendiri.
Selalu berserah dan percayakan kepadaNya segala permasalahan yang sedang kita kerjakan.
Semangat menjalani hari-harimu.