inspirasi

inspirasi
Showing posts with label Yesus. Show all posts
Showing posts with label Yesus. Show all posts

Sunday, 1 May 2016

Menjadi Pendamai

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita terlibat pertikaian dengan orang lain. Sakit hati, dendam, kekecewaan, amarah, dan banyak hal lainnya menjadi biang keladi dari permusuhan. Kedamaian seakan jauh dari kehidupan kita. Kita bertikai dengan teman, guru, tetangga, bahkan keluarga atau orangtua kita sendiri.

Yesus datang ke dunia untuk memberikan kasih dan membawa kedamaian bagi setiap orang. Dia datang tidak hanya untuk mengajarkan apa kasih itu, tapi juga menunjukkannya melalui kehidupan-Nya. Dia hidup di dunia bukan hanya untuk meminta manusia mewujudkan kedamaian, tapi Dia juga mencontohkannya. Yesus meruntuhkan setiap tembok yang berusaha membelenggu hadirnya kedamaian di tengah kehidupan manusia.

Dia mendamaikan perselisihan antara orang Yahudi dan orang Samaria dengan meminum air dari timba perempuan Samaria (Yoh 4: 1-42). Yesus mendamaikan para penderita kusta dengan masyarakat Yahudi yang terikat hukum adat dimana para penderita kusta harus disisihkan dan dikeluarkan dari kota (Luk 5: 12-16, Luk 17: 11-19). Yesus juga memberi kedamaian kepada orang-orang yang dianggap sebelah mata; para pemungut cukai, pelacur, janda, anak-anak, orang buta, lumpuh, dan lainnya. Yesus menunjukkan bahwa kasih dan kedamaian harus dirasakan oleh setiap orang. Dan diakhir hidupnya, sebagai puncak dari perjalanan hidupnya, Yesus menjembatani hadirnya kedamaian antara manusia dengan Penciptanya. Yesus mendamaikan manusia dan Allah, dengan mati di kayu salib dan bangkit pada hari ketiga. Maka nyatalah bahwa kehidupan Yesus adalah kehidupan yang menghadirkan kasih dan damai antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam sekitarnya, dan paling utama, manusia dengan Allah.

Sayangnya, dalam kehidupan kita sekarang ini, ketimbang menjadi seorang pendamai, kita lebih senang menjadi pembuat onar ataupun penyulut kemarahan. Kita mengganggu, menghasut, ataupun menjelekkan orang lain. Terkadang kita juga mendiamkan perselisihan ataupun permasalahan yang terjadi di sekitar kita. Kita membiarkan keluarga kita saling bertengkar, teman kita saling menjatuhkan, ataupun lingkungan kita tercemar. Kita malah merasa puas dengan berdiam diri dan terhanyut dalam aktivitas pribadi kita.

Kehidupan Yesus sebenarnya telah memberi pelajaran hidup yang dapat kita lakukan dalam kehidupan kita. Mungkin selama ini mudah bagi kita untuk sakit hati, dendam, kecewa, dan marah kepada orang lain. Tapi, sejak kita mengenal dan memahami kehidupan Yesus, maka seharusnya kita dapat menguasai diri kita dan berbuat kebaikan yang membawa damai. Yesus telah menjadi pendamai dalam wujud manusia. Kehidupan Yesus dalam wujud manusia telah menjadi teladan nyata bagi kita, bahwa manusia yang tidak sempurna pun dapat menjadi pendamai seperti Yesus.

Maka genaplah keinginan Yesus Sang Pembawa Damai, bahwa setiap orang yang belajar dari kehidupan-Nya akan menjadi agen-agen pembawa kedamaian bagi dunia. Pembawa kedamaian bukan berarti diam ketika ada masalah di sekitarnya. Namun pembawa kedamaian harus berani bicara benar walaupun orang lain tidak suka dengan apa yang akan dikatakan, ataupun berani bertindak benar walau tidak sesuai dengan keinginan lingkungan kita. Karena Yesus berdamai bukan dengan diam melihat permasalahan, tapi berpikir, berbicara, dan bertindak melawan tirani; melawan orang Farisi, hukum adat, kematian, dan hal-hal lainnya.

Jika keluarga kita sampai sekarang masih sering bertengkar, kita tidak hanya diam, namun menenangkan dan mendamaikan keluarga kita. Saat rekan kita saling menjelekkan, kita tidak ikut-ikutan menjelekkan melainkan menjadi penengah di antara mereka. Waktu teman kita dikucilkan karena ketahuan berbuat salah, kita seharusnya tetap berteman dan membantu teman kita untuk berubah menjadi lebih baik. Bahkan jika kita melihat orang lain bahkan pemerintah melakukan ketidakadilan terhadap orang lain, kita berani untuk bersuara dan menyatakan apa yang dilakukan orang lain atau pemerintah ini merupakan hal yang salah.


Menjadi pendamai merupakan panggilan setiap orang percaya. Kita tidak bisa membantah atau menolak kewajiban kita menjadi pendamai. Lingkungan dan masyarakat di sekitar kita saat ini banyak mengalami tantangan dan permasalahan. Maukah kita menjadi pendamai bagi mereka?

Saturday, 19 April 2014

Rela Mati untuk Sahabat

Kelahiran Yesus (Isa Al Masih) ke dunia bertujuan utk membawa kedamaian di tengah dunia. Manusia telah jatuh ke dalam dosa, dan kehilangan kemuliaan Allah. Manusia semakin jauh dari kebenaran, dan berteman akrab dengan kejahatan.

Dosa manusia telah menyebabkan kehidupan di bumi jauh dari ideal Allah. Kehidupan bumi yang seharusnya penuh dengan sukacita, kebahagiaan, kedamaian, keadilan, dan keindahan justru diisi dengan peperangan, kemiskinan, sakit-penyakit, dan ketidakadilan.

Yesus datang mengajarkan bagaimana kebenaran dan kebaikan yang sebenar-benarnya, sehingga kedamaian dapat kembali tercipta di tengah bumi. Yesus mengajarkan dan mencontohkan juga ajaran-Nya itu melalui kehidupan-Nya.

Yesus peduli kepada janda dan anak-anak, kelompok manusia yang disepelekan oleh masyarakat. Yesus menunjukkan kasih-Nya kepada para pemungut cukai dan pelacur, mereka yang dianggap manusia yang penuh dosa. Yesus juga menolong para penderita kusta, orang-orang yang dikucilkan dan diusir dari kota. Yesus juga menyembuhkan penyakit dari berbagai lapisan masyarakat. Dan Yesus juga melawan pengajaran yang tidak benar dari para Ahli Taurat dan orang Farisi.

Kematian-Nya adalah salah satu titik puncak pengorbanan-Nya. Dia dihakimi, disiksa, dan disalibkan utk kesalahan yang tdk pernah diperbuat-Nya.

Tiada kasih yang lebih besar dari kasih seseorang yang rela mati untuk sahabatnya.

Terima kasih Yesus atas pengorbanan dan kematian-Mu. Engkau telah mengajarkan kepada kami, bagaimana seharusnya yang dilakukan orang benar; rela berkorban bahkan nyawa demi orang-orang lain.

Engkau telah mengajarkan, HIDUP adalah KEBENARAN, dan MATI adalah KEUNTUNGAN.

Kiranya DAMAI bisa dirasakan semua orang di muka bumi, ketika setiap orang bisa saling berkorban demi orang lain.

Kiranya DAMAI bisa hadir di tengah bumi, ketika orang-orang baik tidak hanya memilih diam, tapi juga berusaha berbuat kebaikan.

Kiranya DAMAI memenuhi setiap kehidupan, ketika kebobrokan dilawan oleh para orang baik yang berjuang membela kebenaran dan keadilan, ketimbang sekedar meneriaki kegelapan dan ketidakadilan.

Sudikah kita memperjuangkan kebenaran bagi sesama kita?
Maukah kita saling berkorban satu sama lain demi kebahagiaan bersama?
Siapkah kita mengatakan HIDUP adalah KEBENARAN dan berjuang bersama melawan kebobrokan yang ada di sekitar kita?

"Apapun yang kau ingin orang lain lakukan terhadapmu, lakukanlah terlebih dahulu hal itu kepada orang lain," sabda Yesus.

Damailah Indonesia...
Damailah negeriku...
Selamat merefleksikan Jumat Agung...

Wednesday, 26 December 2012

Damai Natal, Damai Indonesia




Tahun ini kembali memperingati hari kelahiran Yesus Kristus, Isa Al-masih. Berbeda dengan Natal beberapa tahun terakhir dimana dapat merayakan Natal bersama keluarga di Medan, kali ini harus merayakannya bersama teman-teman di Bandung. Suasana Natal di tengah keluarga yang dikasihi pun batal dirasakan, namun Natal tahun ini tetap memberikan banyak makna dan pembelajaran baru, dan kali ini menyinggung tentang ‘damai’.

Seringkali kita terlibat pertikaian dengan orang lain. Sakit hati, dendam, kekecewaan, amarah, dan banyak hal lainnya menjadi biang keladi dari permusuhan, dan kedamaian seakan jauh dari kehidupan kita. Kita bertikai dengan teman, guru, tetangga, bahkan keluarga atau orangtua kita sendiri. Alasan pembenar kita pun klasik, kita hanyalah manusia biasa yang pasti juga bisa sakit hati dan marah. Wajar kalau sesekali terlarut dengan emosi diri.

Yesus, Sang Bayi Pendamai lahir ke dunia untuk memberikan kasih dan membawa kedamaian bagi setiap orang. Dia datang bukan hanya untuk mengajarkan apa kasih itu, tapi juga menunjukkan melalui kehidupannya. Dia hidup di dunia bukan hanya untuk meminta manusia mewujudkan kedamaian, tapi juga melakukannya, meruntuhkan setiap tembok yang berusaha membelenggu tegaknya kedamaian di tengah kehidupan manusia.

Dia mendamaikan perselisihan antara orang Yahudi dan orang Samaria dengan meminum air dari timba perempuan Samaria. Yesus mendamaikan para penderita kusta dengan masyarakat Yahudi yang terikat hukum adat dimana para penderita kusta harus disisihkan dan dikeluarkan dari kota. Yesus juga memberi kedamaian kepada orang-orang yang dianggap sebelah mata; para pemungut cukai, pelacur, janda, anak-anak, orang buta, lumpuh, dan lainnya. Yesus menunjukkan bahwa kasih dan kedamaian harus dirasakan oleh setiap orang. Dan diakhir hidupnya, sebagai puncak dari perjalanan hidupnya, Yesus menjembatani hadirnya kedamaian antara manusia dengan Penciptanya. Yesus mendamaikan manusia dan Allah, dengan mati di kayu salib dan bangkit pada hari ketiga. Maka nyatalah bahwa kehidupan Yesus adalah kehidupan yang menghadirkan kasih dan damai antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam sekitarnya, dan paling utama, manusia dengan Allah.

Kembali kepada Natal tahun ini, kiranya kehidupan Yesus dapat menjadi pelajaran hidup yang akan kita lakukan dalam kehidupan kita. Mungkin selama ini mudah bagi kita untuk sakit hati, dendam, kecewa, dan marah kepada orang lain, tapi sejak kita mengenal dan memahami kehidupan Yesus maka semua itu tidak akan mudah lagi masuk dalam kehidupan kita. Sehingga genaplah keinginan Yesus Sang Pembawa Damai, bahwa setiap orang yang belajar dari kehidupanNya akan menjadi agen-agen pembawa kedamaian di setiap lingkungan di sekitar kita. Pembawa kedamaian yang bukan berarti diam (baca: ‘damai’) ketika ada masalah di sekitarnya. Namun berani bicara benar walaupun orang lain tidak suka dengan apa yang akan kita katakan, ataupun berani bertindak benar walau tidak sesuai dengan keinginan lingkungan kita. Karena Yesus berdamai bukan dengan diam melihat permasalahan, tapi berpikir, berbicara, dan bertindak melawan tirani; melawan orang Farisi, hukum adat, kematian, dan hal-hal lainnya.


Damai Natal, Damai Indonesia.
Kiranya kasih dan kedamaian yang kita rasakan selama masa-masa Natal ini tidak akan berlalu begitu saja ketika hari-hari sudah jauh meninggalkan tanggal 25 Desember. Semoga kasih dan kedamaian yang sudah diajarkan oleh Yesus 2000 tahun lalu, dapat juga hadir dalam kehidupan kita sehingga 364 hari ke depan, kasih dan kedamaian selalu terpancar dari kehidupan kita. Damai dan kasiih yang kita bagikan kiranya dapat menjadi damai bagi keluarga, teman, bangsa, dan negara kita. Tuhan menyertai kita semua.
Damai Natal, Damai Indonesia. Selamat Natal bagi kita semua.

Saturday, 21 January 2012

Kenangan Bersama Ompung


Pekanbaru, kota kelahiran. Kembali ke kota ini setelah empat tahun lamanya hanya bisa mengingatnya lewat kenangan. Kembali juga ke sebuah rumah penuh kisah dan cerita, rumah di Jalan Hasanuddin No. 103. Rumah itu masih sama seperti dulu, hanya ada beberapa perubahan fungsi saja. Namun, ada satu yang tidak sama lagi. Ya, tawa dan senyum itu tidak kutemui lagi di sana. Tawa dan senyum dari Ompungdoliku.

Biasanya, tawa dan senyum Ompungdoli akan selalu menyambut setiap kali aku datang. Tak lama setelah aku datang, dia akan selalu mengajakku ke pasar, bukan untuk belanja, melainkan membawaku ke tukang pangkas langganannya. Satu kali aku sengaja berpangkas dulu di Medan sebelum datang ke Pekanbaru, namun alasan itu tidaklah mampu membuatku menolak ajakannya lagi dan lagi. Dahulu aku bosan dan berusaha menolak ajakannya berpangkas, sekarang aku rindu dan menanti berpangkas bersamanya lagi. Sayang, itu semua tinggal kenangan.

Terakhir aku datang ke kota ini, tidaklah senyum segarnya yang menantiku, melainkan tubuh yang terbujur kaku di atas tempat tidur. Tubuhnya telah tertidur selamanya, dan rohnya telah kembali kepada Sang Penciptanya.

Teringat aku kembali kisah orangtuaku. Saat itu aku masih bayi, belum satu tahun mungkin. Ompungdoliku meminta kepada orangtuaku agar aku dapat tinggal di Pekanbaru selama orangtuaku beasiswa di negeri seberang. Seorang bayi kecil selama beberapa bulan ditinggal bersama kedua Ompungnya. Namun, sejak saat itulah aku semakin akrab dengan Ompungku, terkhusus Ompungdoliku. Tidur di kamarnya setiap hari, setiap saat aku berkunjung ke sana. Dan ada satu hal yang selalu dilakukan Ompungdoliku setiap hari, dengan tekun dan setia. Hal yang selalu ditanamkannya kepada kami, cucu-cucunya, dengan ajaran dan juga tindakan -walau para cucunya yang bandel ini selalu berusaha menolak dan mengabaikan- yakni, saat teduh di malam dan pagi hari.

“Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.”
Markus 1 ayat 35 ini berulang kali terdengar di telingaku, sebanyak aku berusaha menolak bangun dari tidur di pagi hari. Dengan setia aku menutup mataku, dengan setia juga dia berusaha membangunkan aku dan saudaraku untuk ikut bernyanyi dan membaca Kitab bersamanya. Sekali waktu hampir belasan menit kami menolak bangun, hingga mungkin dia menyerah dan meninggalkan kami. Suaranya terdengar menyanyikan lagu rohani kesukaannya. Kami yang diliputi rasa bersalah kemudian bangun dan duduk di sebelahnya. Senyuman tersungging di wajahnya. Senyum yang telah lama tidak aku lihat lagi.

Ketika aku malas bangun dan Ibuku mengeluh kepada Ompungku, dengan segera dia memintaku membaca Amsal 6 ayat 6-11. “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen. Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring – maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.”
Ayat ini berulang-ulang diajarkannya kepada kami, para cucunya, hingga aku sendiri pernah luar kepala melafalkan ayat ini. Ayat yang selalu terngiang ketika aku malas dalam beraktivitas, walaupun kadangkala cucu yang bebal ini masih juga jatuh bangun dalam satu hal ini.

Sering kali dia menghubungi kami di Medan. Menanyakan kabar kami, kemudian mengajak kami berdoa dan membacakan Firman dari buku saat teduh favoritnya. Dirinya membentuk diriku sejak kecil, mengajarku ketika aku sendiri masih belum ingin belajar. Kasih dari Ompung kepada cucunya, lewat perkataan, perbuatan, dan pengajaran, dilakukan dengan tekun oleh Ompungdoliku.

Berkumpul dengannya menjadi salah satu kesempatan bagi kami untuk mendengar banyak cerita. Mulai dari perjuangannya di zaman kemerdekaan, saat dia menjadi penatua gereja namun masih memiliki jimat-jimat pribadi, dan waktu dia meninggalkan serta membakar semua jimatnya (berulang kali dia bercerita bahwa ibuku ternyata salah satu yang berperan menyadarkannya atas dosanya tersebut). Dia juga bercerita ketika dia memulai pelayanan ke desa-desa di Sumatera Utara ataupun Riau, menjalin hubungan dengan penduduk sekitar, dan banyak kisah lainnya.

Banyak pelayanan yang dilakukannya, baik yang gerejawi maupun pada masyarakat umum. Ada satu hal yang menarik dari Ompungdoliku, dia seorang perokok aktif. Namun hal ini jugalah yang memberikan pemahaman padaku hingga hari ini. Bahwa salah ketika orang menganggap para perokok itu hina, jahat, penuh dosa, dan lainnya. Dengan berani aku akan berdiri di depan menolak anggapan itu, karena Ompungdoliku telah memberikan kesaksian yang hidup tentang hal ini. Bahwa banyak orang yang kelihatannya baik di luar, tidak merokok, dan lainnya, namun hidupnya bejat, menghakimi orang lain, dan lain sebagainya.

Sebuah ayat disampaikannya kepadaku, menunjukkan semangatnya yang berapi-api untuk memberitakan perbuatan yang besar dari Tuhan, ayat yang kemudian juga menjadi ayat katekisasiku. “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib.”
Ayat ini telah mengajarkanku untuk setia bersaksi, memberitakan perbuatan yang besar dari Tuhan. Lewat perkataan, perbuatan, dan pengajaran. Hal yang telah Ompungdoliku lakukan hingga akhir hayatnya, dan tentunya harus juga kulakukan hingga tiba akhir hayatku.

Menjelang akhir hayatnya, bukannya beristirahat, Ompungdoliku justru menyibukkan diri dengan mendamaikan perseteruan di dalam keluarga besar. Sepertinya dia sudah menduga Tuhan akan segera memanggilnya. “Aku ingin konflik ini bisa selesai sebelum aku mati,” ujarnya padaku suatu kali. Hingga masa tuanya dia terus memikirkan orang lain. Banyak pegawainya yang dulu ketika dia masih muda, dibantu, dibimbing, dan diberinya uang agar bisa berkembang, sekarang sudah mandiri dan mapan, bahkan lebih mapan darinya. Namun tidak sekalipun dia mengharapkan pamrih, hal yang juga diajarkannya kepada kami, bahwa kami harus mengasihi tanpa pamrih, seperti Tuhan juga mengasihi tanpa pamrih.

Ketika aku lulus ke perguruan tinggi negeri yang kujalani sekarang, dengan penuh semangat dia menghubungiku dan memberiku motivasi serta ucapan selamat. Dia mengajakku berdoa lewat telpon, dan aku yakin setiap hari juga dia terus mendoakanku, serta mendoakan anak cucunya yang lain agar bisa menjalani hidup ini sesuai dengan rencana Tuhan. Di doa Ompungdoliku berkali-kali namaku disebut, doa yang dilantunkannya agar aku terus setia berada dalam sertaan Tuhan.

Beberapa minggu sebelum meninggal, kami bertemu di Jakarta. Aku hendak pulang Minggu pagi ke Bandung, namun dia memintaku menunda kepulanganku. Dia ingin bergereja pagi denganku. Aku menolaknya dengan alasan ada yang harus dikerjakan di Bandung. Ternyata saat itu merupakan kesempatan terakhirku untuk bisa bergereja bersamanya. Ketika aku mendengar kabar dari ibuku bahwa Ompungdoliku telah meninggal, penyesalan pun segera datang; kenapa aku menolak permintaannya. Tapi penyesalan memang selalu datang terlambat. Ompungdoli kesayanganku telah kembali ke hadirat Bapa yang dikasihinya.

Di rumah duka, rumah Jalan Hasanuddin No. 103, aku melihat sosok tubuhnya. Tubuh yang tenang seakan menunjukkan tugasnya telah selesai di dunia ini. Seketika aku mengingat sebuah ayat, yang beberapa kali juga dibacakannya di depanku. “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”
Ya, Ompungdoliku telah mengakhiri pertandingan yang baik, dia telah mencapai garis akhir dan teguh memelihara imannya. Saat ini mahkota kebenaran telah tersedia baginya, juga bagiku apabila aku juga berdiri teguh hingga akhir melakukan panggilanku.

Saat acara adat untuk menguburkan Ompungdoli, ratusan orang datang ke rumah duka, puluhan papan bunga mengisi sisi jalan di depan rumah. Benar kata pepatah, “waktu kamu lahir, kamu menangis dan orang-orang di sekelilingmu tersenyum. Jalanilah hidupmu sehingga pada waktu kamu meninggal, kamu tersenyum dan orang-orang di sekelilingmu menangis.”

Tahun ini merupakan tahun terakhirku berkuliah di perguruan tinggi. Dulu aku berharap Ompungdoliku bisa hadir saat pembacaan namaku di gedung Sabuga. Harapan itu masih bisa kulakukan, karena Ompungboruku masih hidup dan sehat. Harapan dan doa Ompungdoliku terus hidup dan mengalir dari Ompungboruku. Harapan dan doa yang selama empat tahun sejak sepeninggalan Ompungdoliku tanpa kusadari ternyata terus dilantunkan Ompungboruku dengan setia setiap harinya dari rumah penuh cinta di Jalan Hasanuddin No. 103.

Terima kasih Ompungdoli dan Ompungboruku atas nasihat dan didikan kalian selama ini. Cucu yang bebal ini berjanji akan membuat kalian tersenyum, baik dari rumah nan asri di Jalan Hasanuddin itu, juga dari rumah kekal di atas sana.

Friday, 7 January 2011

25 Desember, Kasih Allah kepada Manusia


Akhir Desember, akhir dari segala hal tentang ujian serta perkuliahan,dan saat memulai waktu liburan, waktu untuk melupakan segala hal tadi untuk sesaat, mengisi waktu dengan hal-hal yang mungkin jarang dilakukan pada hari-hari biasa. Keluar masuk pusat perbelanjaan bagi para pecinta shopping. Melihat sunrise dari gunung bagi para pecinta hiking. Jalan dengan kawan-kawan, ataupun ke toko buku untuk meminjam ataupun membeli buku bagi para pecinta buku. Untuk aku sendiri, tahun ini kembali bisa pulang ke kampung halaman untuk bisa menghabiskan waktu libur bersama keluarga. Waktu libur ini ternyata bertepatan dengan Perayaan Hari Raya pada tanggal 25 Desember dan kalau dibandingkan dengan beberapa kawan yang tidak bisa pulang dan merayakannya di Bandung, aku dapat merayakannya bersama keluarga. Pada tanggal ini, dan malam sebelumnya, 24 Desember, kami sekeluarga, dan jutaan manusia lainnya merayakan Natal, tanggal yang dipercaya merupakan hari kelahiran Yesus Kristus, atau Isa Almasih, kira-kira 2000 tahun yang lalu. Tapi apakah benar memang tanggal 25 Desember atau 24 Desember malam? Dan apakah makna dari perayaan ini? Hal inilah yang membuatku berpikir beberapa lama, menjadi bahan refleksi dan mencoba menuliskannya disini.

25 Desember, tanggal yang dipercaya merupakan hari kelahiran Yesus Kristus, atau Isa Almasih, sampai sekarang pun masih menjadi kontroversi dan diperdebatkan oleh banyak sejarahwan. Beberapa asumsi muncul dari penetapan tanggal ini. Salah satu contoh adalah bahwa di Israel, pada bulan Desember sedang musim dingin, sedangkan pada saat kelahiranNya 2000 tahun lalu, para gembala sedang membawa domba-dombanya keluar kandang. Apakah mungkin mereka melakukannya pada saat musim dingin? Di dalam Alkitab sendiri tidak terdapat penanggalan yang benar-benar jelas tentang kapan tanggal kelahiran ini. Bahkan sebagai contoh belum satu suaranya semua umat Kristen dalam penetapan tanggal 25 Desember ini, Kristen Ortodoks merayakan Natal setiap tahunnya pada tanggal 7 Januari. Pada hari ini, para Kristen Ortodoks di seluruh dunia sedang merayakan dan memperingati hari kelahiran Sang Juruselamat, Tanggal manakah yang benar? 25 Desember? 7 Januari? Atau mungkin nanti akan bermunculan tanggal-tanggal lain seperti 10 Juni, 8 September, ataupun 1 Maret?

Menurutku sendiri, dan mohon koreksi kalau aku salah karena aku juga masih harus mencari tahu lagi kebenaran dari ‘menurutku’ ini, tanggal bukanlah hal yang esensial. Yang esensial adalah apa sebenarnya yang ada di tanggal itu. Dan ketika kita benar-benar memaknai apa yang ada di tanggal itu, maka tanggal bukanlah menjadi suatu hal yang penting lagi karena makna yang terkandung jauh lebih luas, besar, dan tidak bisa dibatasi oleh satu hari saja. Apakah Natal itu? Kenapa Dia lahir ke dunia ini? Dan setelah kita benar-benar memaknai kedua pertanyaan ini, maka pastinya kita akan bisa menjawab pertanyaan selanjutnya, kapankah Natal itu? Atau mungkin pertanyaan yang lebih tepat, Apakah Natal itu hanya dirayakan pada tanggal 25 Desember ataupun 7 Januari saja?

Apakah Natal itu dan kenapa Dia harus lahir ke dunia ini?
Pada saat masih sekolah minggu, beberapa tahun lalu, ketika aku masih lugu, baik, imut, dan lucu-lucunya, menurutku Natal itu adalah hari kelahiran Yesus yang harus diisi dengan liturgi, kado natal, lilin, lagu-lagu Natal, dan hal-hal lainnya. Dan seiring dengan waktu, aku semakin mengerti apa arti Natal yang sebenarnya. Alasan kedatanganNya yang menurutku akan terlalu panjang apabila dituliskan disini dan karena bukan itu topik utama note ini, marilah masuk ke pertanyaan selanjutnya.

Kapankah Natal itu? Atau mungkin pertanyaan yang lebih tepat, Apakah Natal itu hanya dirayakan pada tanggal 25 Desember ataupun 7 Januari saja?
Kalau aku masih sekolah minggu, aku pasti akan menjawab dengan cepat 25 Desember, ataupun kalau aku merupakan Kristen Ortodoks, maka aku akan menjawab 7 Januari. Tapi apakah memang benar tanggal itu? Seberapa penting kita harus mengetahui kapan tanggal sebenarnya Dia lahir dibandingkan dengan seberapa penting kita harus mengetahui apa maksud sebenarnya Dia lahir ke dunia ini dan apakah kita sudah benar-benar menerima maksud itu? Mana yang lebih penting dan utama?

Apakah kasih yang ditunjukkan oleh Allah kita secara jelas pada Natal ini juga sudah benar-benar kita rasakan? Dan apakah kasihNya itu sudah kita tunjukkan dan lakukan juga kepada keluarga, teman, dan lingkungan sekitar kita, tanpa pandang bulu? Mungkin kita dapat menjawab ‘iya’ untuk dua pertanyaan diatas, dan pertanyaan selanjutnya adalah apakah itu semua hanya dapat kita rasakan ataupun lakukan pada tanggal 25 Desember atau 7 Januari saja, atau mungkin pada bulan Desember saja? Bagaimana dengan tanggal dan bulan lain? Bukankah pada waktu-waktu itu kita juga dapat mensyukuri kasih Allah itu dan juga dapat menunjukkan rasa syukur kita itu dengan menunjukkan kasih kita kepada sesama kita?
Aku pun merenung dan menyadari bahwa aku belum benar-benar melakukan itu dan sering terlena dengan kenyamanan.

Mungkin memang dibutuhkan suatu tanggal sebagai pengingat kita bahwa 2000 tahun lalu pada satu hari, Yesus Kristus atau Isa Almasih telah lahir ke dunia ini, tapi tanggal itu sendiri bukanlah untuk ‘didewakan’ dan akhirnya kita menganggap tanggal itu lebih kudus dari tanggal lain dan melupakan makna penting yang terkandung dari Natal itu sendiri. Seperti yang kualami sekarang, dimana pada 25 Desember tahun ini kembali diingatkan bahwa aku belum benar-benar memaknai Natal itu, yaitu masih belum benar-benar menunjukkan kasih kepada sesama di tanggal-tanggal lain di 364 sisa hari lainnya.

Semoga kita, melalui satu hari di 25 Desember 2010 ini dapat diingatkan lagi dan akhirnya setelah kita ingat, 364 hari lain yang akan kita lewati sebelum mencapai tanggal 25 Desember 2011 akan lebih bermakna dan kita bisa melakukan tanggung jawab kita sebagai orang yang sudah paham akan makna Natal itu sendiri. Mari kita membagikan kasih kita kepada sesama sebagai bentuk rasa syukur kita atas kasih Allah kepada kita.

Walau telat berdasarkan tanggal, tapi tetap belum terlambat dalam hal makna, untuk mengucapkan,
Selamat Natal, kawan.