inspirasi

inspirasi
Showing posts with label pekanbaru. Show all posts
Showing posts with label pekanbaru. Show all posts

Saturday, 23 February 2019

Jadi Calon Wakil Rakyat Harus Punya Banyak Duit?

"Sudah siapkan berapa milyar? Paling tidak kamu harus siapkan sekitar 3-4milyar!"

"Kalau hanya punya 100-200juta, sebaiknya jangan maju caleg, sia-sia."

"Untuk jadi caleg DPRD butuh minimal 500juta, bahkan ada yang menyiapkan milyaran rupiah, apalagi kalau maju ke pusat."

"Kami sekarang meminta uang dari caleg, karena toh nanti pasti kami akan dilupakan jika caleg itu terpilih."

Sudah beberapa bulan, saya didukung keluarga, teman, simpatisan, dan relawan melaksanakan kampanye sebagai calon DPD RI dapil Riau. Pernyataan-pernyataan seperti di atas sudah akrab di telinga kami. Maksudnya jelas. Menjadi calon wakil rakyat membutuhkan dana yang banyak. Maka yang bermodal sedikit, sebaiknya mundur saja agar tidak sia-sia. Apakah benar harus demikian?

Setiap mendengar pernyataan di atas, baik dari masyarakat ataupun sesama caleg, saya selalu tertegun. Apakah di masa mudanya dulu, Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, atau Leimena juga mengalami hal yang sama? Apakah idealisme pengabdian mereka kemudian harus berhadapan dengan realita, bahwa rakyat ternyata belum tentu membutuhkan pengabdian mereka, melainkan uang mereka?

Pastinya apa yang mereka hadapi tidak sama dengan yang kita hadapi saat ini. Zaman itu, mereka tidak harus menyiapkan dana ratusan juta bahkan milyaran untuk dapat mengabdi. Rakyat memilih mereka dengan hati, bukan karena materi. Yang harus mereka siapkan adalah kapasitas diri untuk mengabdi. Sehingga kemudian, mereka tidak lagi berpikir untuk memperbanyak harta pribadi, melainkan fokus memikirkan keberlangsungan nasib negeri.

Dan sejarah mencatat bukti bahwa mereka fokus mengabdi dan bukan memperkaya diri. Bung Karno di masa tuanya harus meminjam uang untuk menikahkan anaknya. Bung Hatta tidak mampu membeli sepatu bally idamannya. Leimena pun harus meminjam jas dan dasi saat mengikuti perundingan damai dengan perwakilan negara lain.

Mereka tidak harus menghamburkan uang demi dapat mengabdi. Sehingga setelah mendapatkan tanggungjawab, diri mereka berupaya memberikan dedikasi bukannya memikirkan nasib sendiri.

Tentunya hal yang sama pun kita harapkan saat ini. Masyarakat memilih orang yang tepat untuk mewakilkannya, baik sebagai eksekutif ataupun legislatif. Memilih seorang calon bukan karena melihat isi kantongnya, melainkan apa yang ada di benaknya. Mengukur kapasitas calon berdasarkan rekam jejaknya, bukan berdasarkan janji atau duitnya.

Lagipula politik uang dan politik transaksional justru akan menjadi pendidikan politik yang tidak baik bagi rakyat. Selain itu, justru politik uang adalah tindakan yang merendahkan pemilih, karena dalam demokrasi, suara rakyat sangat mahal dan tidak ternilai harganya. Tidak bisa dibandingkan dengan angka Rp. 100.000, Rp. 200.000, ataupun Rp. 500.000.

Maka saya pun berkomitmen hal yang sama. Menjadi calon bukan karena saya punya dana yang banyak. Bahkan dalam kampanye ini, saya disokong oleh banyak pihak. Mereka bergotongroyong, sehingga saya tetap dapat melangkah hingga hari ini.

Saya menjadi calon karena saya ingin rakyat punya alternatif pilihan. Bahwa ada generasi muda yang bersedia mendedikasikan dirinya untuk pengabdian. Agar rakyat tidak lagi dikecewakan karena salah pilihan. Itulah keinginan saya, dan juga tanggung jawab saya ke depan.

Rakyat adalah raja, dan para calon wakil rakyat adalah pelayannya. Saat ini raja sedang menentukan siapa yang tepat menjadi pelayan raja. Maka pelayan yang baik bukan dipilih karena banyak uangnya, melainkan karena dapat dipercaya dan dapat memberikan pengabdian dan pelayanan yang terbaik.

Kita ingin rakyat memilih berdasarkan hati, bukan materi. Sehingga wakil rakyat yang terpilih nantinya akan selalu mengabdi, bukan memperkaya diri.

Tolak politik uang, untuk Indonesia yang lebih baik.

Teriring doa dan salam hangat,
Sahat Martin Philip Sinurat, S.T, M.T
Calon DPD RI dapil Riau no. urut 43

Saturday, 21 January 2012

Kenangan Bersama Ompung


Pekanbaru, kota kelahiran. Kembali ke kota ini setelah empat tahun lamanya hanya bisa mengingatnya lewat kenangan. Kembali juga ke sebuah rumah penuh kisah dan cerita, rumah di Jalan Hasanuddin No. 103. Rumah itu masih sama seperti dulu, hanya ada beberapa perubahan fungsi saja. Namun, ada satu yang tidak sama lagi. Ya, tawa dan senyum itu tidak kutemui lagi di sana. Tawa dan senyum dari Ompungdoliku.

Biasanya, tawa dan senyum Ompungdoli akan selalu menyambut setiap kali aku datang. Tak lama setelah aku datang, dia akan selalu mengajakku ke pasar, bukan untuk belanja, melainkan membawaku ke tukang pangkas langganannya. Satu kali aku sengaja berpangkas dulu di Medan sebelum datang ke Pekanbaru, namun alasan itu tidaklah mampu membuatku menolak ajakannya lagi dan lagi. Dahulu aku bosan dan berusaha menolak ajakannya berpangkas, sekarang aku rindu dan menanti berpangkas bersamanya lagi. Sayang, itu semua tinggal kenangan.

Terakhir aku datang ke kota ini, tidaklah senyum segarnya yang menantiku, melainkan tubuh yang terbujur kaku di atas tempat tidur. Tubuhnya telah tertidur selamanya, dan rohnya telah kembali kepada Sang Penciptanya.

Teringat aku kembali kisah orangtuaku. Saat itu aku masih bayi, belum satu tahun mungkin. Ompungdoliku meminta kepada orangtuaku agar aku dapat tinggal di Pekanbaru selama orangtuaku beasiswa di negeri seberang. Seorang bayi kecil selama beberapa bulan ditinggal bersama kedua Ompungnya. Namun, sejak saat itulah aku semakin akrab dengan Ompungku, terkhusus Ompungdoliku. Tidur di kamarnya setiap hari, setiap saat aku berkunjung ke sana. Dan ada satu hal yang selalu dilakukan Ompungdoliku setiap hari, dengan tekun dan setia. Hal yang selalu ditanamkannya kepada kami, cucu-cucunya, dengan ajaran dan juga tindakan -walau para cucunya yang bandel ini selalu berusaha menolak dan mengabaikan- yakni, saat teduh di malam dan pagi hari.

“Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.”
Markus 1 ayat 35 ini berulang kali terdengar di telingaku, sebanyak aku berusaha menolak bangun dari tidur di pagi hari. Dengan setia aku menutup mataku, dengan setia juga dia berusaha membangunkan aku dan saudaraku untuk ikut bernyanyi dan membaca Kitab bersamanya. Sekali waktu hampir belasan menit kami menolak bangun, hingga mungkin dia menyerah dan meninggalkan kami. Suaranya terdengar menyanyikan lagu rohani kesukaannya. Kami yang diliputi rasa bersalah kemudian bangun dan duduk di sebelahnya. Senyuman tersungging di wajahnya. Senyum yang telah lama tidak aku lihat lagi.

Ketika aku malas bangun dan Ibuku mengeluh kepada Ompungku, dengan segera dia memintaku membaca Amsal 6 ayat 6-11. “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen. Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring – maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.”
Ayat ini berulang-ulang diajarkannya kepada kami, para cucunya, hingga aku sendiri pernah luar kepala melafalkan ayat ini. Ayat yang selalu terngiang ketika aku malas dalam beraktivitas, walaupun kadangkala cucu yang bebal ini masih juga jatuh bangun dalam satu hal ini.

Sering kali dia menghubungi kami di Medan. Menanyakan kabar kami, kemudian mengajak kami berdoa dan membacakan Firman dari buku saat teduh favoritnya. Dirinya membentuk diriku sejak kecil, mengajarku ketika aku sendiri masih belum ingin belajar. Kasih dari Ompung kepada cucunya, lewat perkataan, perbuatan, dan pengajaran, dilakukan dengan tekun oleh Ompungdoliku.

Berkumpul dengannya menjadi salah satu kesempatan bagi kami untuk mendengar banyak cerita. Mulai dari perjuangannya di zaman kemerdekaan, saat dia menjadi penatua gereja namun masih memiliki jimat-jimat pribadi, dan waktu dia meninggalkan serta membakar semua jimatnya (berulang kali dia bercerita bahwa ibuku ternyata salah satu yang berperan menyadarkannya atas dosanya tersebut). Dia juga bercerita ketika dia memulai pelayanan ke desa-desa di Sumatera Utara ataupun Riau, menjalin hubungan dengan penduduk sekitar, dan banyak kisah lainnya.

Banyak pelayanan yang dilakukannya, baik yang gerejawi maupun pada masyarakat umum. Ada satu hal yang menarik dari Ompungdoliku, dia seorang perokok aktif. Namun hal ini jugalah yang memberikan pemahaman padaku hingga hari ini. Bahwa salah ketika orang menganggap para perokok itu hina, jahat, penuh dosa, dan lainnya. Dengan berani aku akan berdiri di depan menolak anggapan itu, karena Ompungdoliku telah memberikan kesaksian yang hidup tentang hal ini. Bahwa banyak orang yang kelihatannya baik di luar, tidak merokok, dan lainnya, namun hidupnya bejat, menghakimi orang lain, dan lain sebagainya.

Sebuah ayat disampaikannya kepadaku, menunjukkan semangatnya yang berapi-api untuk memberitakan perbuatan yang besar dari Tuhan, ayat yang kemudian juga menjadi ayat katekisasiku. “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib.”
Ayat ini telah mengajarkanku untuk setia bersaksi, memberitakan perbuatan yang besar dari Tuhan. Lewat perkataan, perbuatan, dan pengajaran. Hal yang telah Ompungdoliku lakukan hingga akhir hayatnya, dan tentunya harus juga kulakukan hingga tiba akhir hayatku.

Menjelang akhir hayatnya, bukannya beristirahat, Ompungdoliku justru menyibukkan diri dengan mendamaikan perseteruan di dalam keluarga besar. Sepertinya dia sudah menduga Tuhan akan segera memanggilnya. “Aku ingin konflik ini bisa selesai sebelum aku mati,” ujarnya padaku suatu kali. Hingga masa tuanya dia terus memikirkan orang lain. Banyak pegawainya yang dulu ketika dia masih muda, dibantu, dibimbing, dan diberinya uang agar bisa berkembang, sekarang sudah mandiri dan mapan, bahkan lebih mapan darinya. Namun tidak sekalipun dia mengharapkan pamrih, hal yang juga diajarkannya kepada kami, bahwa kami harus mengasihi tanpa pamrih, seperti Tuhan juga mengasihi tanpa pamrih.

Ketika aku lulus ke perguruan tinggi negeri yang kujalani sekarang, dengan penuh semangat dia menghubungiku dan memberiku motivasi serta ucapan selamat. Dia mengajakku berdoa lewat telpon, dan aku yakin setiap hari juga dia terus mendoakanku, serta mendoakan anak cucunya yang lain agar bisa menjalani hidup ini sesuai dengan rencana Tuhan. Di doa Ompungdoliku berkali-kali namaku disebut, doa yang dilantunkannya agar aku terus setia berada dalam sertaan Tuhan.

Beberapa minggu sebelum meninggal, kami bertemu di Jakarta. Aku hendak pulang Minggu pagi ke Bandung, namun dia memintaku menunda kepulanganku. Dia ingin bergereja pagi denganku. Aku menolaknya dengan alasan ada yang harus dikerjakan di Bandung. Ternyata saat itu merupakan kesempatan terakhirku untuk bisa bergereja bersamanya. Ketika aku mendengar kabar dari ibuku bahwa Ompungdoliku telah meninggal, penyesalan pun segera datang; kenapa aku menolak permintaannya. Tapi penyesalan memang selalu datang terlambat. Ompungdoli kesayanganku telah kembali ke hadirat Bapa yang dikasihinya.

Di rumah duka, rumah Jalan Hasanuddin No. 103, aku melihat sosok tubuhnya. Tubuh yang tenang seakan menunjukkan tugasnya telah selesai di dunia ini. Seketika aku mengingat sebuah ayat, yang beberapa kali juga dibacakannya di depanku. “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”
Ya, Ompungdoliku telah mengakhiri pertandingan yang baik, dia telah mencapai garis akhir dan teguh memelihara imannya. Saat ini mahkota kebenaran telah tersedia baginya, juga bagiku apabila aku juga berdiri teguh hingga akhir melakukan panggilanku.

Saat acara adat untuk menguburkan Ompungdoli, ratusan orang datang ke rumah duka, puluhan papan bunga mengisi sisi jalan di depan rumah. Benar kata pepatah, “waktu kamu lahir, kamu menangis dan orang-orang di sekelilingmu tersenyum. Jalanilah hidupmu sehingga pada waktu kamu meninggal, kamu tersenyum dan orang-orang di sekelilingmu menangis.”

Tahun ini merupakan tahun terakhirku berkuliah di perguruan tinggi. Dulu aku berharap Ompungdoliku bisa hadir saat pembacaan namaku di gedung Sabuga. Harapan itu masih bisa kulakukan, karena Ompungboruku masih hidup dan sehat. Harapan dan doa Ompungdoliku terus hidup dan mengalir dari Ompungboruku. Harapan dan doa yang selama empat tahun sejak sepeninggalan Ompungdoliku tanpa kusadari ternyata terus dilantunkan Ompungboruku dengan setia setiap harinya dari rumah penuh cinta di Jalan Hasanuddin No. 103.

Terima kasih Ompungdoli dan Ompungboruku atas nasihat dan didikan kalian selama ini. Cucu yang bebal ini berjanji akan membuat kalian tersenyum, baik dari rumah nan asri di Jalan Hasanuddin itu, juga dari rumah kekal di atas sana.