inspirasi

inspirasi
Showing posts with label semangat. Show all posts
Showing posts with label semangat. Show all posts

Saturday, 21 January 2012

Kenangan Bersama Ompung


Pekanbaru, kota kelahiran. Kembali ke kota ini setelah empat tahun lamanya hanya bisa mengingatnya lewat kenangan. Kembali juga ke sebuah rumah penuh kisah dan cerita, rumah di Jalan Hasanuddin No. 103. Rumah itu masih sama seperti dulu, hanya ada beberapa perubahan fungsi saja. Namun, ada satu yang tidak sama lagi. Ya, tawa dan senyum itu tidak kutemui lagi di sana. Tawa dan senyum dari Ompungdoliku.

Biasanya, tawa dan senyum Ompungdoli akan selalu menyambut setiap kali aku datang. Tak lama setelah aku datang, dia akan selalu mengajakku ke pasar, bukan untuk belanja, melainkan membawaku ke tukang pangkas langganannya. Satu kali aku sengaja berpangkas dulu di Medan sebelum datang ke Pekanbaru, namun alasan itu tidaklah mampu membuatku menolak ajakannya lagi dan lagi. Dahulu aku bosan dan berusaha menolak ajakannya berpangkas, sekarang aku rindu dan menanti berpangkas bersamanya lagi. Sayang, itu semua tinggal kenangan.

Terakhir aku datang ke kota ini, tidaklah senyum segarnya yang menantiku, melainkan tubuh yang terbujur kaku di atas tempat tidur. Tubuhnya telah tertidur selamanya, dan rohnya telah kembali kepada Sang Penciptanya.

Teringat aku kembali kisah orangtuaku. Saat itu aku masih bayi, belum satu tahun mungkin. Ompungdoliku meminta kepada orangtuaku agar aku dapat tinggal di Pekanbaru selama orangtuaku beasiswa di negeri seberang. Seorang bayi kecil selama beberapa bulan ditinggal bersama kedua Ompungnya. Namun, sejak saat itulah aku semakin akrab dengan Ompungku, terkhusus Ompungdoliku. Tidur di kamarnya setiap hari, setiap saat aku berkunjung ke sana. Dan ada satu hal yang selalu dilakukan Ompungdoliku setiap hari, dengan tekun dan setia. Hal yang selalu ditanamkannya kepada kami, cucu-cucunya, dengan ajaran dan juga tindakan -walau para cucunya yang bandel ini selalu berusaha menolak dan mengabaikan- yakni, saat teduh di malam dan pagi hari.

“Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.”
Markus 1 ayat 35 ini berulang kali terdengar di telingaku, sebanyak aku berusaha menolak bangun dari tidur di pagi hari. Dengan setia aku menutup mataku, dengan setia juga dia berusaha membangunkan aku dan saudaraku untuk ikut bernyanyi dan membaca Kitab bersamanya. Sekali waktu hampir belasan menit kami menolak bangun, hingga mungkin dia menyerah dan meninggalkan kami. Suaranya terdengar menyanyikan lagu rohani kesukaannya. Kami yang diliputi rasa bersalah kemudian bangun dan duduk di sebelahnya. Senyuman tersungging di wajahnya. Senyum yang telah lama tidak aku lihat lagi.

Ketika aku malas bangun dan Ibuku mengeluh kepada Ompungku, dengan segera dia memintaku membaca Amsal 6 ayat 6-11. “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen. Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring – maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.”
Ayat ini berulang-ulang diajarkannya kepada kami, para cucunya, hingga aku sendiri pernah luar kepala melafalkan ayat ini. Ayat yang selalu terngiang ketika aku malas dalam beraktivitas, walaupun kadangkala cucu yang bebal ini masih juga jatuh bangun dalam satu hal ini.

Sering kali dia menghubungi kami di Medan. Menanyakan kabar kami, kemudian mengajak kami berdoa dan membacakan Firman dari buku saat teduh favoritnya. Dirinya membentuk diriku sejak kecil, mengajarku ketika aku sendiri masih belum ingin belajar. Kasih dari Ompung kepada cucunya, lewat perkataan, perbuatan, dan pengajaran, dilakukan dengan tekun oleh Ompungdoliku.

Berkumpul dengannya menjadi salah satu kesempatan bagi kami untuk mendengar banyak cerita. Mulai dari perjuangannya di zaman kemerdekaan, saat dia menjadi penatua gereja namun masih memiliki jimat-jimat pribadi, dan waktu dia meninggalkan serta membakar semua jimatnya (berulang kali dia bercerita bahwa ibuku ternyata salah satu yang berperan menyadarkannya atas dosanya tersebut). Dia juga bercerita ketika dia memulai pelayanan ke desa-desa di Sumatera Utara ataupun Riau, menjalin hubungan dengan penduduk sekitar, dan banyak kisah lainnya.

Banyak pelayanan yang dilakukannya, baik yang gerejawi maupun pada masyarakat umum. Ada satu hal yang menarik dari Ompungdoliku, dia seorang perokok aktif. Namun hal ini jugalah yang memberikan pemahaman padaku hingga hari ini. Bahwa salah ketika orang menganggap para perokok itu hina, jahat, penuh dosa, dan lainnya. Dengan berani aku akan berdiri di depan menolak anggapan itu, karena Ompungdoliku telah memberikan kesaksian yang hidup tentang hal ini. Bahwa banyak orang yang kelihatannya baik di luar, tidak merokok, dan lainnya, namun hidupnya bejat, menghakimi orang lain, dan lain sebagainya.

Sebuah ayat disampaikannya kepadaku, menunjukkan semangatnya yang berapi-api untuk memberitakan perbuatan yang besar dari Tuhan, ayat yang kemudian juga menjadi ayat katekisasiku. “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib.”
Ayat ini telah mengajarkanku untuk setia bersaksi, memberitakan perbuatan yang besar dari Tuhan. Lewat perkataan, perbuatan, dan pengajaran. Hal yang telah Ompungdoliku lakukan hingga akhir hayatnya, dan tentunya harus juga kulakukan hingga tiba akhir hayatku.

Menjelang akhir hayatnya, bukannya beristirahat, Ompungdoliku justru menyibukkan diri dengan mendamaikan perseteruan di dalam keluarga besar. Sepertinya dia sudah menduga Tuhan akan segera memanggilnya. “Aku ingin konflik ini bisa selesai sebelum aku mati,” ujarnya padaku suatu kali. Hingga masa tuanya dia terus memikirkan orang lain. Banyak pegawainya yang dulu ketika dia masih muda, dibantu, dibimbing, dan diberinya uang agar bisa berkembang, sekarang sudah mandiri dan mapan, bahkan lebih mapan darinya. Namun tidak sekalipun dia mengharapkan pamrih, hal yang juga diajarkannya kepada kami, bahwa kami harus mengasihi tanpa pamrih, seperti Tuhan juga mengasihi tanpa pamrih.

Ketika aku lulus ke perguruan tinggi negeri yang kujalani sekarang, dengan penuh semangat dia menghubungiku dan memberiku motivasi serta ucapan selamat. Dia mengajakku berdoa lewat telpon, dan aku yakin setiap hari juga dia terus mendoakanku, serta mendoakan anak cucunya yang lain agar bisa menjalani hidup ini sesuai dengan rencana Tuhan. Di doa Ompungdoliku berkali-kali namaku disebut, doa yang dilantunkannya agar aku terus setia berada dalam sertaan Tuhan.

Beberapa minggu sebelum meninggal, kami bertemu di Jakarta. Aku hendak pulang Minggu pagi ke Bandung, namun dia memintaku menunda kepulanganku. Dia ingin bergereja pagi denganku. Aku menolaknya dengan alasan ada yang harus dikerjakan di Bandung. Ternyata saat itu merupakan kesempatan terakhirku untuk bisa bergereja bersamanya. Ketika aku mendengar kabar dari ibuku bahwa Ompungdoliku telah meninggal, penyesalan pun segera datang; kenapa aku menolak permintaannya. Tapi penyesalan memang selalu datang terlambat. Ompungdoli kesayanganku telah kembali ke hadirat Bapa yang dikasihinya.

Di rumah duka, rumah Jalan Hasanuddin No. 103, aku melihat sosok tubuhnya. Tubuh yang tenang seakan menunjukkan tugasnya telah selesai di dunia ini. Seketika aku mengingat sebuah ayat, yang beberapa kali juga dibacakannya di depanku. “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”
Ya, Ompungdoliku telah mengakhiri pertandingan yang baik, dia telah mencapai garis akhir dan teguh memelihara imannya. Saat ini mahkota kebenaran telah tersedia baginya, juga bagiku apabila aku juga berdiri teguh hingga akhir melakukan panggilanku.

Saat acara adat untuk menguburkan Ompungdoli, ratusan orang datang ke rumah duka, puluhan papan bunga mengisi sisi jalan di depan rumah. Benar kata pepatah, “waktu kamu lahir, kamu menangis dan orang-orang di sekelilingmu tersenyum. Jalanilah hidupmu sehingga pada waktu kamu meninggal, kamu tersenyum dan orang-orang di sekelilingmu menangis.”

Tahun ini merupakan tahun terakhirku berkuliah di perguruan tinggi. Dulu aku berharap Ompungdoliku bisa hadir saat pembacaan namaku di gedung Sabuga. Harapan itu masih bisa kulakukan, karena Ompungboruku masih hidup dan sehat. Harapan dan doa Ompungdoliku terus hidup dan mengalir dari Ompungboruku. Harapan dan doa yang selama empat tahun sejak sepeninggalan Ompungdoliku tanpa kusadari ternyata terus dilantunkan Ompungboruku dengan setia setiap harinya dari rumah penuh cinta di Jalan Hasanuddin No. 103.

Terima kasih Ompungdoli dan Ompungboruku atas nasihat dan didikan kalian selama ini. Cucu yang bebal ini berjanji akan membuat kalian tersenyum, baik dari rumah nan asri di Jalan Hasanuddin itu, juga dari rumah kekal di atas sana.

Sunday, 26 September 2010

Berdirilah Teguh, Jangan Goyah

Seminggu ini sepertinya membaca dan mendengar banyak hal tentang kepedulian dan berbagi kasih dengan sesama. Berawal dari note yang ditulis dek sandra, note yang dibuat oleh kak irene (selamat ren sudah lulus,selamat berkarya ya), dilanjutkan tema PA minggu ini di GMKI, dan juga tema jumatan PMK minggu ini. Dunia semakin apatis dan setiap orang sering hanya memikirkan diri sendiri termasuk saya sendiri pastinya. Sebelum sampai pada akhirnya, mungkin aku coba menyimpulkan apa yang bisa kusimpulkan dari keempat hal diatas.

Setelah mencoba mengambil kesimpulan dari keempat hal diatas, hal yang sangat menarik ketika  menyadari bahwa keempat hal diatas tadi seperti membentuk suatu alur dari kecil ke besar.

Pada note sandra , salah satu kesimpulan yang bisa kusimpulkan (maaf kalau salah menyimpulkan dek, kurang atau lebih jangan dikoreksi disini ya, malu, haha) adalah tentang semakin menyebarnya virus ketidakpedulian di masyarakat saat ini, terkhusus yang disorot adalah kaum pemuda. Pemahaman tentang kasih sudah terdistorsi, dan melalui tulisan ini kita, para pemuda-pemudi yang tahu defenisi sebenarnya dari kasih dan kepedulian diajak untuk mau terus mengaplikasikan hal tersebut dalam kehidupan di lingkungan kita masing-masing. Untuk kesimpulan yang lebih lanjut, dapat membaca langsung di link ini. (http://www.facebook.com/notes.php?id=1373377815&notes_tab=app_2347471856#!/note.php?note_id=438911219729)

Pada note irene, satu kesimpulan yang bisa kuambil (maaf juga kalau salah ya ren) adalah walaupun mungkin tinggal sedikit, tapi keramahtamahan, salah satu implementasi dari kasih, masih ada terdapat di sekitar kita, bahkan dari orang-orang yang tidak kita duga seperti dari orang yang tidak kita kenal, dari teman-teman yang tidak seiman, dan lainnya. Kita sendiri, bagaimana sikap kita? Di tulisan ini, penulis lebih menyoroti tentang bagaimana anak-anak PMK, LP, atau secara umumnya pemuda-pemudi Kristen menanggapi hal ini. Apakah terus bersikap tidak peduli dan hanya mau berinteraksi dengan orang yang itu-itu saja? Atau mau untuk keluar dari zona nyamannya, melepas arogansi diri, berinteraksi dengan teman-teman kita yang lain, seluas-luasnya, sebanyak-banyaknya, dari latar belakang apapun mereka. Lebih lanjut dapat teman-teman baca dan diskusikan langsung dengan penulisnya (hehe) di link ini. (http://www.facebook.com/note.php?note_id=429575603923)

Pada tema PA minggu ini di GMKI yang kucoba simpulkan, kita, dalam hal saat itu aku, kembali diajarkan bagaimana cara untuk bisa peduli dan berbagi kasih dengan sesama. Intinya hanyalah satu kalimat, kalimat yang terdiri dari empat kata dan hanya membutuhkan dua detik untuk mengucapkannya. Namun dalam mengaplikasikannya, wow, sangat berat tentunya kalau kita bersandar pada kemampuan kita sendiri. Kalimat apa itu? Hidup seperti Dia hidup. Bagaimana teman? Cukup dua detik saja kan mengucapkannya, kalau lebih lama dari dua detik, sepertinya harus coba belajar mengeja lagi (just kidding,^^), namun dalam mengimplementasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari, butuh perjuangan yang sangat berat kawan. Hidup seperti Dia hidup, sepertinya tidak perlu dijabarkan lagi seperti apa Dia hidup. Andai setiap kita di dunia ini bisa mengimplementasikannya, dunia ini pastinya akan sempurna, dan tidak perlu ada tulisan yang aku tulis ini, ataupun sandra dan irene tulis. Setiap orang saling peduli satu sama lain, dan lebih luasnya lagi, semua negara akan hidup makmur, bahkan hukum pun tidak dibutuhkan lagi karena siapa lagi yang mau melanggarnya, karena setiap orang sudah peduli, setiap orang tidak mementingkan dirinya sendiri. Sebuah utopia terjadi di bumi ini. Apakah itu mungkin terjadi di muka bumi ini? Tentunya sulit karena dunia sudah dipenuhi oleh kejahatan (dosa). Tapi apakah karena sangat sulit, akhirnya kita sendiri juga memilih untuk tidak melakukan apa-apa dalam merealisasikannya, kita yang sudah tahu seperti apa Dia hidup, namun memilih untuk hanya sekedar diam, dan menyimpan setiap hal yang kita ketahui itu dalam ingatan kita saja. Kalau begitu, apa gunanya Dia mengajarkan itu semua kepada kita, dan kita tahu tentang hal itu kalau toh kita tidak melakukan apa. Dia yang dulu menolong orang-orang, orang yang tidak dikenalnya, berbeda suku dengan dia, bahkan orang-orang yang membencinya. Dia yang selalu membagikan kepedulian dan kasih kepada sesama, apakah bukan bagian kita juga melakukan hal yang sama? Kalaupun dunia ini begitu apatis, apakah pada akhirnya akan membuat kita juga menjadi apatis, dan menyia-nyiakan semua hal yang sudah Dia ajarkan kepada kita. Ajaran tentang nilai-nilai kemanusiaan itu.
Kurang lebih seperti itu kesimpulan yang bisa kuambil dari PA kemarin. Sayang, kali ini tidak ada linknya. Jadi percaya saja pada apa yang kutulis ini. Haha.

Yang terakhir sebelum pada akhirnya, jumatan minggu ini di PMK. Tiba di puncak dari semua alur ini. Bagaimana kita peduli dengan bangsa ini. Bagaimana kita bisa berdampak bagi bangsa ini, melakukan perubahan untuk bisa membangun lagi bangsa kita yang telah Tuhan kita berikan pada kita. Jumatan ini adalah jumatan yang spesial menurutku, karena untuk pertama kalinya selama aku mengikuti jumatan PMK (kalau ternyata salah, mungkin saat itu terjadi, aku gak datang jumatan) kebaktian dilakukan bukan dengan metode kebaktian biasa, tapi dengan metode diskusi interaktif, tanpa pembicara, mahasiswalah yang berbicara. Diawali dengan pemutaran dua buah slide, dan kemudian pemimpin pujian, Mordekhai, menantang setiap mahasiswa yang hadir untuk maju ke depan membagikan apa yang bisa dibagikan. Ada tiga orang yang maju kemarin itu, dua orang dari angkatan 2010 (salut dengan semangat dan keberanian kalian) dan satu dari angkatan 2007 (kalau yang satu ini memang tidak tahu malu,hehe), dan kesimpulan yang bisa diambil dari ketiganya, setiap mereka mengajak kita untuk lebih peduli lagi dalam membangun bangsa ini, menggunakan kesempatan yang sangat berharga saat ini untuk belajar dan menambah pengetahuan karena bekal inilah yang akan kita butuhkan untuk membangun bangsa kita ini setelah kita lulus nanti.

Saat itu sebenarnya ingin maju juga untuk coba membagikan apa yang bisa kubagikan terkait tema jumatan kali ini, tapi apa daya, hati ingin melakukan, tapi kaki menahan setiap langkahnya. Grogi sepertinya berdiri di depan. Mungkin memang bukan bagian saya untuk berdiri di depan dan berbicara. Sepertinya posisi sekarang sudah tepat, duduk di atas kursi dan mencoba menuliskan sesuatu yang bisa kubagikan kepada rekan-rekan yang berminat membacanya. Dan berharap rekan-rekan bisa menemukan hal yang baik dari tulisan ini dan membagikannya kepada kawan-kawan yang lain. Semoga terus ada 2010-2010 lain (aku lupa nama mereka dua yang maju kemarin), Arion-arion lain, Mordekhai-Mordekhai lain, yang berani dan mau untuk mengeluarkan pemikiran mereka, dan mengajak rekan-rekan yang lain untuk bergabung melakukannya. Kenapa itu perlu, akan kita bahas pada akhirnya. Inti kesimpulan dari jumatan ini, apakah bukan tugas kita untuk bisa mengatasi kebobrokan dari bangsa kita ini, apakah bukan tugas kita untuk bisa peduli kepada nasib bangsa ini, ataukah kita cukup nyaman dengan aktivitas kita sehari-hari?
Hidup seperti Dia hidup. Tentunya melalui integritas yang telah Dia ajarkan kepada kita, itu juga dapat kita implementasikan dalam kehidupan kita untuk menjadi jawaban atas setiap permasalahan yang ada di dalam masyarakat. Mungkin itu kesimpulan yang bisa saya ambil dari jumatan kemarin, lebih kurang bisa langsung tanya ke pemimpin pujian atau koordinator PMK. Hehe. Oiya, untuk coba sama-sama kita memikirkan tentang hal ini, teman-teman bisa membuka link ini, salah satu slide yang diputar pada jumatan kemarin dan semoga melalui slide ini, kita semua semakin sadar bahwa peran kita sangat dibutuhkan untuk mengubah bangsa ini. Selamat menikmati videonya. (http://www.facebook.com/notes.php?id=1382956990&notes_tab=app_2347471856#!/video/video.php?v=1629826230534)

Tiba di akhir cerita. Kita sudah berjalan-jalan dari note sandra hingga jumatan PMK dan sudah berdiri di puncak alur. Pada akhirnya, sudah berada di akhir alur dan sudah berada di puncaknya, tujuan dari ini semua. Apalagi yang masih kurang? Sedikit dari saya untuk coba melengkapi keempat hal tadi. Tantangan terberat selanjutnya yang akan kita hadapi, terpaan angin yang sangat kuat dari kiri dan kanan yang menggoyahkan pendirian kita. Akhir dari saya, Berdirilah teguh, jangan goyah.

Berdirilah teguh, jangan goyah. Sebuah kalimat yang terus terngiang di pikiranku selama beberapa bulan ini, dan ternyata memiliki makna yang sangat mendalam. Kenapa sangat mendalam? Mungkin melalui berbagai kasus, musibah, dan peristiwa yang terjadi beberapa bulan ini di bangsa kita, membuat kita, dalam hal ini aku, memiliki keinginan untuk coba melakukan sesuatu yang berarti bagi bangsa ini ketika aku nanti terjun ke dalamnya. Dan perasaan dan tekad itu mungkin juga kawan-kawan rasakan dan kita semua sudah memiliki keinginan tekad yang elips. Dan mungkin melalui tulisan diatas dan video yang telah kawan-kawan lihat, tekad kita yang sudah membentuk elips itu menemukan keutuhannya dan menjadi bulat dan semangat itu ada di dada setiap kita. Namun, perasaan dan tekad yang sudah kita rasakan sekarang, seharusnya tidaklah sebatas sekarang saja, tapi terus dipertahankan hingga akhir nanti. Karena itulah kuncinya. Karena begitulah yang sering terjadi, perasaan dan tekad untuk mengubah bangsa yang sudah dibangun pada saat mahasiswa, sering hilang lenyap tak tersisa ketika sudah berhadapan dengan dunia sebenarnya. Di saat-saat inilah semangat itu harus terus kita jaga. Berdirilah teguh, jangan goyah.

Selain mempertahankan semangat itu, saatnya juga untuk melakukan hal lainnya yang tidak kalah penting. Mengajak rekan-rekan yang lain untuk juga bisa merasakan perasaan dan tekad yang sama. Karena akan sangat berat melakukan hal itu sendiri, ataupun berdua, ataupun bertiga. Dan pendirian kita juga akan semakin mudah digoyahkan. Dibutuhkan barisan sebanyak-banyaknya, semakin banyak pemuda-pemudi yang memiliki semangat yang sama ini, maka akan semakin kuat kita berdiri, dan akan semakin besar dan cepat kans bangsa ini berubah menuju arah yang lebih baik.

Bagaimana cara mengajak rekan-rekan kita? Tentunya dengan bertukar pikiran, berdiskusi, mencoba membagikan semangat yang sudah kita punya kepada mereka dengan berbagai metode. Tanpa pandang latar belakang, suku,agama, ras, atau apapun, saatnya kita menghimpun pemuda-pemudi yang mempunyai keinginan yang sama, membangun bangsa ini.

Dimana melakukannya? Tentunya tidak akan bisa apabila kita hanya bergelut di kosan, ataupun berkeliaran di jalanan. Saatnya masuk ke himpunan jurusan, unit-unit budaya, kajian, olahraga, serta organisasi-organisasi kemahasiswaan ataupun sosial lainnya. Saatnya masuk kesana, dan berbagi tentang hal ini. Saatnya melakukan diskusi-diskusi, kajian ilmu, bakti sosial, pengabdian masyarakat, ataupun hal-hal lainnya yang sesuai dengan ciri khas organisasi tersebut.

Untuk apa kita melakukan hal-hal tersebut? Mungkin semua hal yang kita lakukan ini tidaklah menghasilkan hal yang signifikan bagi perubahan masyarakat saat ini, tapi satu yang menjadi poin sangat penting yang bisa didapat adalah melalui metode-metode itu kita bisa semakin menanamkan perasaan dan tekad yang sudah kita miliki ini ke rekan-rekan kita yang lain. Mereka yang mengikuti kegiatan-kegiatan itu tentunya diharapkan bisa memaknai tujuan dari kegiatan-kegiatan ini dan pada akhirnya makna dan semangat itu terus mengalir di urat darah mereka hingga tiba di dunia kerja nantinya. Mungkin awalnya barisan kita hanya 20 orang, namun ketika kita melakukan hal diatas, barisan kita akan terus bertambah dan mimpi kita, Indonesia yang makmur dari Sabang sampai Merauke akan semakin mendekati kenyataan.

Saat-saat ini mungkin kita tidak bisa melakukan sesuatu yang sangat besar yang dapat langsung mengubah bangsa ini secara drastis, tapi sekaranglah saatnya kita belajar dan juga memperkuat barisan, sehingga ketika tiba waktunya, barisan kita akan kuat, dan senjata yang kita gunakan tidak hanya sebatas omongan saja, tapi kita juga sudah dibekali pemahaman dari keilmuan kita, soft skill, dan kemampuan-kemampuan lainnya dan itu semua bisa kita usahakan saat ini, bukan nanti, tapi saat ini.
Ketika kita sudah memutuskan untuk berjuang membangun bangsa, tapi kita sekarang tidak mengajak kawan-kawan kita yang lain untuk berjuang bersama, itu sama saja dengan bunuh diri. Tidak salah memang, tapi tanpa persiapan. Sulit untuk mengubah bangsa yang tersebar dari Sabang dari Merauke, dengan segala kebobrokannya kalau jumlah kita hanya 20,50, ataupun sebanyak mahasiswa yang datang jumatan kemarin. Tapi akan sangat besar kemungkinan apabila setiap kita mengajak kawan-kawan kita yang lain, setiap satu orang mendiskusikannya dengan yang lain, maka barisan kita akan semakin kuat.
Seperti apa memberitahukannya? Seperti yang sudah dituliskan diatas, aktif di unit, himpunan, organisasi kemahasiswaan lainnya dan melakukan kegiatan-kegiatannya yang membuat kita dan juga rekan-rekan kita bisa belajar menemukan dan memupuk semangat itu.
Ada beberapa himpunan jurusan yang sudah memiliki program pengabdian masyarakat sendiri, apakah teman-teman terlibat di dalamnya? Apakah semangat pengabdian itu hanya dibutuhkan pada saat mahasiswa saja?
Banyak himpunan yang belum memiliki program pengabdian masyarakat, termasuk himpunanku. Apakah kita hanya tinggal diam saja?
Banyak unit-unit yang melakukan kegiatan-kegiatan yang bisa menimbulkan semangat melakukan perubahan sesuai ciri khas nya masing-masing. Ada unit yang memiliki kepedulian tentang lingkungan hidup. Seperti teman-teman tahu, kepedulian terhadap lingkungan hidup masih sangat kurang di bangsa kita. Ada unit yang mendiskusikan tentang isu-isu sosial masyarakat. Ada unit yang melestarikan seni dan budaya karena seni dan budaya itu sendiri bisa dimanfaatkan sebagai media untuk meningkatkan perekonomian masyarakat lokal, dan banyak organisasi-organisasi lainnya yang memiliki ciri khas masing-masing.
Apakah kita sudah berperan di dalamnya atau memilih untuk melihatnya saja? Karena melalui inilah kita bisa semakin memperdalam semangat kita dan juga membagikan semangat kita itu kepada yang lain.

Bagaimana kawan, jalan mana yang kau pilih? Berjuang sendiri, atau berjuang dengan barisan yang kuat?

Berdirilah teguh, jangan goyah.
Sampai sekarang pun aku masih sering takut dan ragu kepada diriku, apakah aku hanya akan menjadi seseorang yang OMDO, omong doang, menuliskan tentang kepedulian kepada bangsa, tapi ketika nanti aku benar-benar dihadapkan dengan kondisi yang ada, aku hanya terdiam saja dan tidak mampu melakukan apa-apa. Disinilah kita saling mendukung, saling menguatkan, agar barisan kita tetap kokoh, hingga akhir nanti dan kita bisa bersama-sama terus berdiri teguh, jangan goyah.

Akan sangat menyenangkan membayangkannya ketika kita semua, para pejuang ini bisa menyelesaikannya hingga akhir, berjuang di medan perjuangan kita masing-masing, tentunya dengan barisan yang kuat, dan mengakhirinya dengan indah, kita bisa melakukan perubahan, sekecil apapun itu, bagi bangsa kita ini. Dan disinilah terjawab kenapa dibutuhkan 2010-2010 lain, Mordekhai-Mordekhai lain, Arion-Arion lain, yang berani dan mau untuk mengajak rekan-rekan yang lain, sehingga barisan kita bisa semakin kuat, dan semakin kuat lagi, untuk melakukan perubahan bagi bangsa ini.

Sungguh sangat menyenangkan ketika kita bisa berkata-kata seperti Paulus, ‘aku telah mengakhiri pertandingan dengan baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman’. Pertandingan yang tentunya akan penuh dengan tantangan dan permasalahan teman.
Mari kita saling mendukung dan menguatkan dalam menghadapi pertandingan ini kawan. Dan sekarang ini saatnya mempertajam kualitas diri dan memperkuat barisan, agar kita bisa terus BERDIRI TEGUH, JANGAN GOYAH.

Selamat menjalani pertandingan teman-teman,
Semoga senyuman yang akan tampak dari setiap wajah kita, di akhir pertandingan nanti.

Salam perjuangan...