inspirasi

inspirasi
Showing posts with label ajaran. Show all posts
Showing posts with label ajaran. Show all posts

Saturday, 21 January 2012

Kenangan Bersama Ompung


Pekanbaru, kota kelahiran. Kembali ke kota ini setelah empat tahun lamanya hanya bisa mengingatnya lewat kenangan. Kembali juga ke sebuah rumah penuh kisah dan cerita, rumah di Jalan Hasanuddin No. 103. Rumah itu masih sama seperti dulu, hanya ada beberapa perubahan fungsi saja. Namun, ada satu yang tidak sama lagi. Ya, tawa dan senyum itu tidak kutemui lagi di sana. Tawa dan senyum dari Ompungdoliku.

Biasanya, tawa dan senyum Ompungdoli akan selalu menyambut setiap kali aku datang. Tak lama setelah aku datang, dia akan selalu mengajakku ke pasar, bukan untuk belanja, melainkan membawaku ke tukang pangkas langganannya. Satu kali aku sengaja berpangkas dulu di Medan sebelum datang ke Pekanbaru, namun alasan itu tidaklah mampu membuatku menolak ajakannya lagi dan lagi. Dahulu aku bosan dan berusaha menolak ajakannya berpangkas, sekarang aku rindu dan menanti berpangkas bersamanya lagi. Sayang, itu semua tinggal kenangan.

Terakhir aku datang ke kota ini, tidaklah senyum segarnya yang menantiku, melainkan tubuh yang terbujur kaku di atas tempat tidur. Tubuhnya telah tertidur selamanya, dan rohnya telah kembali kepada Sang Penciptanya.

Teringat aku kembali kisah orangtuaku. Saat itu aku masih bayi, belum satu tahun mungkin. Ompungdoliku meminta kepada orangtuaku agar aku dapat tinggal di Pekanbaru selama orangtuaku beasiswa di negeri seberang. Seorang bayi kecil selama beberapa bulan ditinggal bersama kedua Ompungnya. Namun, sejak saat itulah aku semakin akrab dengan Ompungku, terkhusus Ompungdoliku. Tidur di kamarnya setiap hari, setiap saat aku berkunjung ke sana. Dan ada satu hal yang selalu dilakukan Ompungdoliku setiap hari, dengan tekun dan setia. Hal yang selalu ditanamkannya kepada kami, cucu-cucunya, dengan ajaran dan juga tindakan -walau para cucunya yang bandel ini selalu berusaha menolak dan mengabaikan- yakni, saat teduh di malam dan pagi hari.

“Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.”
Markus 1 ayat 35 ini berulang kali terdengar di telingaku, sebanyak aku berusaha menolak bangun dari tidur di pagi hari. Dengan setia aku menutup mataku, dengan setia juga dia berusaha membangunkan aku dan saudaraku untuk ikut bernyanyi dan membaca Kitab bersamanya. Sekali waktu hampir belasan menit kami menolak bangun, hingga mungkin dia menyerah dan meninggalkan kami. Suaranya terdengar menyanyikan lagu rohani kesukaannya. Kami yang diliputi rasa bersalah kemudian bangun dan duduk di sebelahnya. Senyuman tersungging di wajahnya. Senyum yang telah lama tidak aku lihat lagi.

Ketika aku malas bangun dan Ibuku mengeluh kepada Ompungku, dengan segera dia memintaku membaca Amsal 6 ayat 6-11. “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen. Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring – maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.”
Ayat ini berulang-ulang diajarkannya kepada kami, para cucunya, hingga aku sendiri pernah luar kepala melafalkan ayat ini. Ayat yang selalu terngiang ketika aku malas dalam beraktivitas, walaupun kadangkala cucu yang bebal ini masih juga jatuh bangun dalam satu hal ini.

Sering kali dia menghubungi kami di Medan. Menanyakan kabar kami, kemudian mengajak kami berdoa dan membacakan Firman dari buku saat teduh favoritnya. Dirinya membentuk diriku sejak kecil, mengajarku ketika aku sendiri masih belum ingin belajar. Kasih dari Ompung kepada cucunya, lewat perkataan, perbuatan, dan pengajaran, dilakukan dengan tekun oleh Ompungdoliku.

Berkumpul dengannya menjadi salah satu kesempatan bagi kami untuk mendengar banyak cerita. Mulai dari perjuangannya di zaman kemerdekaan, saat dia menjadi penatua gereja namun masih memiliki jimat-jimat pribadi, dan waktu dia meninggalkan serta membakar semua jimatnya (berulang kali dia bercerita bahwa ibuku ternyata salah satu yang berperan menyadarkannya atas dosanya tersebut). Dia juga bercerita ketika dia memulai pelayanan ke desa-desa di Sumatera Utara ataupun Riau, menjalin hubungan dengan penduduk sekitar, dan banyak kisah lainnya.

Banyak pelayanan yang dilakukannya, baik yang gerejawi maupun pada masyarakat umum. Ada satu hal yang menarik dari Ompungdoliku, dia seorang perokok aktif. Namun hal ini jugalah yang memberikan pemahaman padaku hingga hari ini. Bahwa salah ketika orang menganggap para perokok itu hina, jahat, penuh dosa, dan lainnya. Dengan berani aku akan berdiri di depan menolak anggapan itu, karena Ompungdoliku telah memberikan kesaksian yang hidup tentang hal ini. Bahwa banyak orang yang kelihatannya baik di luar, tidak merokok, dan lainnya, namun hidupnya bejat, menghakimi orang lain, dan lain sebagainya.

Sebuah ayat disampaikannya kepadaku, menunjukkan semangatnya yang berapi-api untuk memberitakan perbuatan yang besar dari Tuhan, ayat yang kemudian juga menjadi ayat katekisasiku. “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib.”
Ayat ini telah mengajarkanku untuk setia bersaksi, memberitakan perbuatan yang besar dari Tuhan. Lewat perkataan, perbuatan, dan pengajaran. Hal yang telah Ompungdoliku lakukan hingga akhir hayatnya, dan tentunya harus juga kulakukan hingga tiba akhir hayatku.

Menjelang akhir hayatnya, bukannya beristirahat, Ompungdoliku justru menyibukkan diri dengan mendamaikan perseteruan di dalam keluarga besar. Sepertinya dia sudah menduga Tuhan akan segera memanggilnya. “Aku ingin konflik ini bisa selesai sebelum aku mati,” ujarnya padaku suatu kali. Hingga masa tuanya dia terus memikirkan orang lain. Banyak pegawainya yang dulu ketika dia masih muda, dibantu, dibimbing, dan diberinya uang agar bisa berkembang, sekarang sudah mandiri dan mapan, bahkan lebih mapan darinya. Namun tidak sekalipun dia mengharapkan pamrih, hal yang juga diajarkannya kepada kami, bahwa kami harus mengasihi tanpa pamrih, seperti Tuhan juga mengasihi tanpa pamrih.

Ketika aku lulus ke perguruan tinggi negeri yang kujalani sekarang, dengan penuh semangat dia menghubungiku dan memberiku motivasi serta ucapan selamat. Dia mengajakku berdoa lewat telpon, dan aku yakin setiap hari juga dia terus mendoakanku, serta mendoakan anak cucunya yang lain agar bisa menjalani hidup ini sesuai dengan rencana Tuhan. Di doa Ompungdoliku berkali-kali namaku disebut, doa yang dilantunkannya agar aku terus setia berada dalam sertaan Tuhan.

Beberapa minggu sebelum meninggal, kami bertemu di Jakarta. Aku hendak pulang Minggu pagi ke Bandung, namun dia memintaku menunda kepulanganku. Dia ingin bergereja pagi denganku. Aku menolaknya dengan alasan ada yang harus dikerjakan di Bandung. Ternyata saat itu merupakan kesempatan terakhirku untuk bisa bergereja bersamanya. Ketika aku mendengar kabar dari ibuku bahwa Ompungdoliku telah meninggal, penyesalan pun segera datang; kenapa aku menolak permintaannya. Tapi penyesalan memang selalu datang terlambat. Ompungdoli kesayanganku telah kembali ke hadirat Bapa yang dikasihinya.

Di rumah duka, rumah Jalan Hasanuddin No. 103, aku melihat sosok tubuhnya. Tubuh yang tenang seakan menunjukkan tugasnya telah selesai di dunia ini. Seketika aku mengingat sebuah ayat, yang beberapa kali juga dibacakannya di depanku. “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”
Ya, Ompungdoliku telah mengakhiri pertandingan yang baik, dia telah mencapai garis akhir dan teguh memelihara imannya. Saat ini mahkota kebenaran telah tersedia baginya, juga bagiku apabila aku juga berdiri teguh hingga akhir melakukan panggilanku.

Saat acara adat untuk menguburkan Ompungdoli, ratusan orang datang ke rumah duka, puluhan papan bunga mengisi sisi jalan di depan rumah. Benar kata pepatah, “waktu kamu lahir, kamu menangis dan orang-orang di sekelilingmu tersenyum. Jalanilah hidupmu sehingga pada waktu kamu meninggal, kamu tersenyum dan orang-orang di sekelilingmu menangis.”

Tahun ini merupakan tahun terakhirku berkuliah di perguruan tinggi. Dulu aku berharap Ompungdoliku bisa hadir saat pembacaan namaku di gedung Sabuga. Harapan itu masih bisa kulakukan, karena Ompungboruku masih hidup dan sehat. Harapan dan doa Ompungdoliku terus hidup dan mengalir dari Ompungboruku. Harapan dan doa yang selama empat tahun sejak sepeninggalan Ompungdoliku tanpa kusadari ternyata terus dilantunkan Ompungboruku dengan setia setiap harinya dari rumah penuh cinta di Jalan Hasanuddin No. 103.

Terima kasih Ompungdoli dan Ompungboruku atas nasihat dan didikan kalian selama ini. Cucu yang bebal ini berjanji akan membuat kalian tersenyum, baik dari rumah nan asri di Jalan Hasanuddin itu, juga dari rumah kekal di atas sana.

Thursday, 28 April 2011

Semakin Seperti

Durasi baca: 3-4 menit

Malam ini makan malam bersama dua orang sahabat. Tak berbeda dengan orang lain, sambil menunggu datangnya hidangan, kami berdiskusi tentang banyak hal dan akhirnya sampai ke topik yang menjadi judul tulisan ini. Semakin seperti.

Semakin seperti apa? Atau semakin seperti siapa?

Aku akan coba membagikan apa yang kami diskusikan di tulisan ini.

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, marilah kita beralih sejenak ke kehidupan selebritis. Seorang fans yang menggemari artis idolanya biasanya akan meniru apa yang dilakukan atau dikenakan oleh idolanya itu. Biasanya barang-barang yang dikenakan artis itu akan jadi tren dan laku di pasaran. Itu juga yang membuat sering kali selebritis ditawarkan menjadi model sebuah brand dimana dia akan disewa selama beberapa waktu menjadi ‘iklan berjalan’ brand tersebut. Hal ini karena melihat psikologis manusia yang biasanya berusaha untuk menjadi seperti siapa yang diidolakannya.

Sekarang kita beralih ke klub sepakbola. Sudah jelas fakta bahwa sepakbola merupakan olahraga yang paling banyak digemari di dunia. Setiap negara biasanya mempunyai kompetisi dan klub-klub sepakbolanya masing-masing. Tentunya setiap klub ini juga punya fans setia bahkan di beberapa klub, mereka mempunyai fans yang tidak hanya setia, tapi juga fanatik dan bahkan siap berkorban nyawa demi klub idolanya ini.

Salah satu klub terbaik yang mempunyai penggemar terbanyak di dunia adalah Manchester United (hehe, silakan anda tentukan sendiri klub terbaik menurut anda). Sama halnya dengan selebritis tadi, seorang fans MU pastinya akan berusaha semakin seperti klub yang diidolakannya ini. Dia akan membeli merchandise klub tersebut, menonton setiap pertandingan klub itu, dan mencari tahu informasi-informasi yang berhubungan dengan klub tersebut. Seperti itulah psikologis manusia, berusaha semakin seperti apa yang dicintainya, apa yang diidolakannya.

Terus, ke arah mana tujuan tulisan ini? Hehe, sebelum sampai kesana, kita akan membahas contoh kasus terakhir.

Umumnya setiap orang punya sosok yang diidolakannya. Sosok itu seperti ayahnya, ibunya, gurunya, pahlawan nasional, ataupun tokoh-tokoh lain yang menurutnya melakukan hal-hal yang menginspirasinya. Setelah mengidolakan mereka, biasanya seseorang ini akan berusaha belajar dari kehidupan sosok yang diidolakannya ini, mengenalinya lebih jauh, dan mencontoh apa yang telah dilakukan oleh mereka. Seperti itulah psikologis manusia, berusaha semakin seperti siapa yang dicintainya, siapa yang diidolakannya.

Seperti itulah psikologis manusia, berusaha semakin seperti apa yang dicintainya, apa yang diidolakannya. Seperti itulah psikologis manusia, berusaha semakin seperti siapa yang dicintainya, siapa yang diidolakannya. Dan seharusnya seperti itulah juga manusia, ketika mencintai Tuhan yang dicintainya. Berusaha semakin seperti Tuhan yang dicintai dan disembahnya.

Berusaha semakin seperti Tuhan ini tentunya bukan bermakna dangkal yaitu bahwa manusia itu berusaha menjadi Tuhan, menyamai Tuhan, bahkan berusaha melebihi Tuhan. Beribu-ribu tahun yang lalu, peristiwa di Babel menjadi contoh nyata bagaimana kecongkakan manusia yang dengan pemahaman dangkalnya berusaha menyamai Tuhan, telah diceraiberaikan oleh Tuhan ke penjuru dunia. Hanya Tuhan Yang Maha Tahu, Maha Pencipta, dan Maha Segalanya, itu sudah jelas.

Terus, bagaimana kita berusaha semakin seperti Tuhan?

Semakin seperti Tuhan disini menurutku adalah sama seperti contoh-contoh di atas tadi. Mengenal Tuhan lebih jauh, berusaha belajar tentang semua hal yang diajarkanNya, terus dan terus berusaha memahami apa yang diinginkanNya.

Tuhan Maha Baik, Maha Penyayang, Maha Pengasih, Maha Adil, dan Maha lainnya, tentunya kita juga sebagai manusia seharusnya berusaha untuk semakin sepertiNya, semakin baik, semakin penyayang, semakin pengasih, semakin adil, dan semakin lainnya.
Seperti itulah psikologis manusia, berusaha semakin seperti siapa yang dicintainya. Dan seharusnya seperti itulah juga manusia, ketika mencintai Tuhan yang dicintainya. Berusaha semakin seperti Tuhan yang dicintai dan disembahnya.

Kita saja berusaha untuk meniru apa yang dikenakan artis idola kita, atau mencari semua informasi yang berhubungan dengan klub kesayangan kita, ataupun berusaha belajar dari kehidupan Ayah kita yang merupakan sosok idola kita, masa kita tidak juga berusaha mengenali Tuhan yang kata kita, sangat kita cintai???

Ketika seseorang berkata bahwa dia menyembah dan mencintai Tuhan yang disembahnya, tapi dia tidak pernah berusaha untuk mengenalNya lebih jauh, tidak belajar tentang nilai-nilai yang diajarkanNya, dan tidak berusaha memahami apa yang diinginkanNya, maka perkataan seseorang ini bahwa dia mencintai Tuhan yang disembahnya harus dipertanyakan lagi.

Ketika seseorang mengatakan bahwa dia mencintai Tuhan yang disembahnya, tapi dia justru melakukan hal yang berseberangan dengan Tuhannya ini, maka perkataannya itu jelas merupakan kata-kata semata.

Hal ini jelas berlaku untuk semua agama yang ada di dunia. Semakin seperti Tuhan yang disembahnya dan tentunya tidak melakukan apa yang tidak diajarkan Tuhannya.


Bila Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan Yang Maha Baik, Maha Penyayang, Maha Adil, dan begitu banyak Maha lainnya, tentunya kita juga harus semakin baik, semakin penyayang, semakin adil, dan semakin lainnya. Bukannya menjadi seseorang yang membenci orang lain, bersikap tidak adil, dan hal-hal lainnya yang bertentangan dengan keinginan Tuhan yang kita sembah.


Semua ini berawal dari pengenalan yang terus menerus akan Tuhan, membaca KitabNya dengan sungguh dan memahami ajaranNya dengan utuh.

Semoga tulisan ini berguna.
^^