inspirasi

inspirasi
Showing posts with label berusaha. Show all posts
Showing posts with label berusaha. Show all posts

Monday, 17 October 2011

Anak Kecil yang Belajar Bersepeda


Sulit bagi seorang anak kecil untuk bisa mahir bersepeda dalam sekali latihan. Tentu dia pernah terjatuh dari sepedanya. Yang utama adalah, dia harus selalu bangkit dari jatuhnya. Jatuh dan bangkit. Jatuh lagi dan bangkit lagi hingga pada akhirnya dia akan lancar bersepeda.

Seorang muda yang sedang belajar menyetir tidak jarang menghantamkan mobilnya ke mobil orang lain ataupun pembatas jalan. Hal ini harus terjadi beberapa kali hingga akhirnya dia bisa mengendarai kendaraan dengan stabil dan aman dari tabrakan. Tekad untuk bisa mengendarai mobil dengan benar, itulah salah salah kunci keberhasilannya.

Begitu juga dalam hal lainnya, hal paling rohani sekalipun. Perubahan tidak segampang membalik telapak tangan.  Seseorang yang sudah tahu kalau kebiasaannya selama ini salah tidak semudah itu juga meninggalkan kebiasaannya tersebut. Terkadang dia harus jatuh bangun mengatasi kebiasaan salah ini. Yang utama adalah, dia terus berusaha bangkit dari jatuhnya. Jatuh dan bangkit. Jatuh lagi dan bangkit lagi.

Apakah baik kita mencemooh seseorang ketika dia sedang berusaha bangkit? Baikkah kita ketika kita mencela seseorang salah, padahal dia sedang berusaha mengatasi kesalahannya itu?
Jika ternyata hal itu baik, anak kecil sepertinya tidak akan pernah bisa lancar bersepeda; anak muda tidak akan pernah bisa menyetir mobil; dan seseorang tidak akan pernah bisa memperbaiki kebiasaan salahnya.

Wednesday, 5 October 2011

Sang Semut dan Sang Daun


Saya tahu Allah tidak akan memberikan kepada saya sesuatu yang tidak dapat saya tangani. Saya hanya berharap bahwa Dia tidak memercayai saya begitu banyak. –Bunda Teresa-


Alkisah, hidup seekor semut yang senang berpetualang. Dalam petualangannya dia tersesat dan sampai ke sehelai daun yang menempel di sebuah pohon di pinggir sungai. Saat dia hendak kembali, hembusan angin yang kencang telah melepaskan sang daun dari pokoknya. Daun yang malang ini dipermainkan angin hingga kemudian jatuh ke sungai. Sang semut petualang ternyata ikut serta bersamanya. Petualangan yang tak pernah diduga oleh sang semut kemudian dimulai.

Sungai ini tidak terlalu besar. Lebarnya hanya 3 meter dan kedalamannya hanya berkisar 1 meter. Layaknya sungai ini disebut anak sungai. Tapi bagi sang semut yang selama ini hanya pernah melihat genangan air, anak sungai ini bagaikan laut tak berujung. Riak-riakan kecil bagaikan ombak yang besar. Hembusan angin sepoi-sepoi bagaikan topan yang kuat menerjang. Bagi sang semut, tetap berada di atas daun merupakan satu-satunya jalan untuk tetap hidup. Sang semut berusaha mempererat genggamannya pada sang daun. Dia yang selama ini selalu berjalan dengan pongah dan merasa tidak ada tantangan yang terlalu berat untuk dijalaninya akhirnya menyesali keangkuhannya. Saat itu dia  menyadari, dia juga harus bergantung kepada sang daun yang selama ini dianggapnya lemah tak berguna.

Sang semut dan sang daun tidak tahu ke mana arah perjalanan mereka. Yang bisa dilakukan hanya pasrah mengikuti kehendak sang air. Tanpa mereka ketahui, anak sungai ternyata berusaha mencari induknya dan sampai ke sungai yang lebih besar. Lebarnya 10 meter dan memiliki kedalaman hingga belasan meter. Yang menakutkan dan kemudian diakui oleh para penumpang gelap ini, terdapat banyak batu besar di sepanjang jalur sungai. Benturan yang hebat antara air dan batu menimbulkan buih-buih yang sangat menyeramkan bagi sang semut yang kecil. Sesaat dia merindukan rumahnya yang nyaman, berkumpul bersama ribuan saudaranya, namun kenangan itu telah tertinggal jauh berkilo-kilometer di belakang. Saat ini dia harus menghadapi tantangan di depannya. Kembali dia menyadari genggaman tangannyalah yang menjadi kekuatannya saat ini. Dia berusaha bertahan, menggenggam lebih kuat. Beberapa kali cipratan air yang menerjang wajahnya membuat genggamannya longgar. Namun dia terus bertahan, memperkuat genggamannya dan memperbaiki posisi tubuhnya agar lebih nyaman di atas daun. Tekad yang kuat membuatnya bisa melewati sungai yang mematikan itu. Waktu terasa berjalan dengan lambat. Dia menutup mata, berharap ini semua bisa segera berlalu. Tidak tahu kepada siapa dia berharap, tapi dia yakin ada yang mendengar suara hatinya.

Sungai besar telah menanti di hilir. Banyak sungai yang lebih kecil yang bergabung di sungai ini. Lebar sungai ini tidak main-main, hampir mencapai 70 meter. Kedalamannya bahkan belum diketahui sampai saat ini. Tapi, berkebalikan dengan sungai sebelumnya, sungai ini begitu tenang, mengalir dengan santainya. Mungkin sungai ini berusaha bijaksana dan lebih dewasa karena banyak sungai-sungai lebih kecil yang bergantung padanya. Sang semut merasakan tenangnya sungai ini, tidak ada batu besar yang menghadang, tidak ada cipratan air yang menghanyutkan, begitu tentram, begitu sunyi. Sang semut kemudian melonggarkan genggamannya. Dia bersyukur bisa melewati semua tantangan di belakangnya. Namun, masalah masih ada di depan matanya. Ternyata tidak ada daratan, hanya air di sekelilingnya. Perutnya mulai lapar, tenggorokannya telah haus. Walau dia bisa selamat dari bahaya alam, tampaknya sang semut tidak bisa selamat dari bahaya kelaparan dan kehausan. Rasa takut kembali hinggap di benaknya. Sia-sia tampaknya semua perjuangan tadi.

Air terus mengalir seakan memberikan harapan kosong pada sang semut. Sepuluh menit, tiga puluh menit, satu jam, empat jam, waktu terus berjalan. Sang semut memandang sekitarnya, kembali dilhatnya hanya air, air, dan air. Air menetes dari matanya. Dia kembali menyesali kepongahannya dulu. Matanya menutup dan dia mulai berandai. Andai dia bisa kembali berkumpul dengan keluarga besarnya, dia berjanji untuk lebih peduli pada adik-adiknya, dan mau membantu ibunya ketika dimintai tolong. Dia juga berjanji akan lebih sabar lagi pada neneknya yang sudah tua namun sangat menyayanginya. Dia juga tidak akan lagi mengganggu guru dan teman-temannya. Ternyata doanya terjawab. Sesaat dia mendengar suara gemerisik pohon dari sisi kirinya. Dia membuka matanya dan menoleh, ternyata dia sudah sangat dekat dengan daratan. Hatinya bersorak dan dia memandang dengan penuh harap ke tanah di depan matanya. Akhirnya, setelah penantian selama lima menit yang terasa seperti berjam-jam, sang daun berhasil mencapai daratan. Sang semut melangkah dengan pelan, menjejakkan setiap kakinya ke tanah di bawahnya, dan tidak lupa berterimakasih kepada sanga daun dan siapapun yang telah mengabulkan doanya. Akhirnya, daratan!

Perjuangan belum berakhir, sang semut masih harus menemukan jalan kembali ke kampung halamannya. Sayang, cerita itu tidak akan kita dengar disini. Akan ada waktu lain untuk menceritakan kisah perjalanannya yang sangat panjang untuk kembali, bahkan jauh lebih berat dari yang pernah dihadapinya saat terhanyut. Namun, pengalamannya di cerita ini menjadi bekal yang cukup untuknya menjalani itu semua. Tubuhnya semakin kuat. Genggamannya semakin keras. Pikirannya semakin jernih. Hatinya semakin sabar. Dia juga menyadari ada sesuatu atau seseorang yang selalu memperhatikannya dan menjawab harapannya. Dan itu semua tidak akan pernah dia dapatkan seandainya dia tidak melewati perjalanan bersama sang daun. Akhirnya, setelah berbulan-bulan, dia berhasil mencapai rumahnya. Dia menunjukkan perubahan yang jauh mencolok dibanding sosoknya yang dahulu. Dia kemudian menjadi Raja Semut yang terbaik yang pernah ada dan membawa kemakmuran di bangsanya. Tercatat dalam sejarah para semut, dia adalah semut paling kuat di zamannya, namun sangat sabar dan peduli kepada sesamanya. Kisah perjalanannya diceritakan turun-temurun hingga generasi-generasi di bawahnya. Begitulah kisah Sang Semut dan Sang Daun.


Tantangan, hambatan, masalah yang ada di depan mata bukanlah suatu cobaan yang membuat kita jadi rendah diri dan kalah. Itu semua justru ada untuk membuat kita selangkah lagi, setahap lagi lebih baik dari kita sebelumnya. Lebih besar tantangan, lebih berat masalah, ketika kita bisa menjalani dan melewatinya, maka akan lebih besar lagi kapasitas diri kita. Lebih baik, lebih sabar, lebih peduli, lebih jernih dalam pemikiran, layaknya Sang Semut. Namun satu yang pasti, Sang Semut pun menyadari ada kuasa besar di balik kekuatannya. Begitu juga kita tentunya harus menyadari kita tidak bisa berjalan sendiri. Ada rencana yang besar di belakang kita untuk membuat kita semakin baik lagi, dan semakin baik lagi. Dan Sang Perencana Terbaik itu tidak pernah lepas tangan akan karya rencana-Nya, selalu memegang tangan kita, bahkan menggendong ketika kita terjatuh.

Maukah kita selalu bersandar padaNya? Dan maukah kita menjalani setiap rencana yang ditentukanNya bagi kita?


Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku;
Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri,
Engkau mengerti pikiranku dari jauh.
                Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring,
                Segala jalanku Kaumaklumi.
Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan,
Sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya Tuhan.
               
Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana;
Jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau.
Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut,
Juga disana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.

Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku,
Menenun aku dalam kandungan ibuku.
Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib;
Ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.

Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak,
Dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk,
Sebelum ada satu pun dari padanya.
-Mazmur Daud-

Thursday, 18 August 2011

Mereka Juga Punya Mimpi

Durasi baca 2-3 menit



“Saya ingin berkarir di dunia musik”, ujar Enny, seorang remaja yang memiliki kualitas suara di atas rata-rata dan mahir memainkan tuts keyboard dan senar gitar. Gadis ini sangat bersemangat ketika menyampaikan mimpinya. Dia baru menyelesaikan studinya di sebuah SMA umum di Bandung. Gadis berumur 17 tahun ini berencana meneruskan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi. Satu hal yang perlu diketahui, Enny merupakan seorang tuna netra. Terdapat beratus-ratus remaja tuna netra di Indonesia yang memiliki mimpi seperti Enny dan ingin menyelesaikan studi hingga jenjang tertinggi.

Pendidikan adalah salah satu proses yang perlu dijalani manusia sehingga manusia tersebut dapat mewujudkan mimpi-mimpinya.



Sesuai konstitusi, UUD 1945 yang telah diamandemen, di Pasal 27 ayat 2 Bab Warga Negara dan Penduduk tertulis, “tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”. Pada Pasal 28C ayat 1 Bab Hak Asasi Manusia juga tertulis, “setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia”. Jelas tertulis disini, setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, bagaimana dengan warga tuna netra?


Menurut data Kementerian Kesehatan, angka kebutaan di Indonesia adalah 1,5% dari jumlah penduduk atau lebih dari 3 juta penduduk Indonesia menderita kebutaan (tuna netra). Dari jumlah ini, menurut survei Pertuni di tahun 2005, tercatat hanya 250 orang tuna netra yang berhasil menyelesaikan pendidikannya hingga perguruan tinggi. Sisanya terputus di jenjang lebih rendah seperti sekolah dasar ataupun sekolah menengah, bahkan banyak yang tidak mengenyam pendidikan. Tercatat hanya 5% anak usia sekolah yang bersekolah. Mereka ini hanya bisa bermimpi dan terus bermimpi, tanpa bisa menjadikan mimpi itu nyata.



Pada SNMPTN 2011 yang lalu, empat siswa dari Panti Tuna Netra Wyata Guna Bandung mengikuti ujian di kampus ITB. Untuk mengikuti ujian tersebut, pemuda-pemudi yang bersemangat ini ditemani oleh reader yang akan membantu mereka dengan membacakan soal-soal SNMPTN. Hal yang dapat diketahui bersama, mereka mengikuti ujian SNMPTN dengan soal yang sama dan waktu yang sama dengan siswa-siswa normal. Menurut pengakuan mereka, mereka kelabakan pada pelajaran matematika dan bahasa inggris. Hasil dari ujian ini, keempat siswa tidak lulus di jurusan yang dipilihnya.


Tiga hari yang lalu, dua orang siswa, Enny yang telah disebutkan di atas dan Haris menjalani ujian masuk di sebuah universitas di Bandung. Mereka memilih jurusan musik sebagai pilihan masa depan yang akan mereka jalani. Enny dan Haris menyukai musik. Bakat Enny tidak perlu dipertanyakan lagi. Haris sendiri memiliki keahlian dalam bermain gitar. Kedua orang ini mengikuti ujian teori dan bakat, sama seperti yang dijalani calon-calon mahasiswa lain yang normal.


Pada ujian teori, kedua pemuda pemudi hebat ini tidak berharap banyak. Mereka berharap pada ujian bakat, karena disini mereka dapat memperlihatkan keahlian mereka. Enny mendapat nilai A+ pada setiap poin-poin penilaian di ujian bakat. Menurut pengakuan penilai, Enny termasuk yang terbaik pada ujian bakat kali ini. Nilai Haris sendiri di atas rata-rata walau tidak sebaik Enny. Intinya, kedua remaja yang berani ini menyelesaikan ujian bakat dengan memuaskan. Pertanyaan kita bersama, apakah kedua remaja ini diterima di jurusan yang diimpikannya?



Tidak sampai lima menit setelah mereka menyelesaikan ujiannya, seorang panitia mendekati ibu Enny yang selama ujian ini dengan setia menemani dan menyemangatinya. Sang panitia menyampaikan bahwa Enny memiliki bakat dan mendapat nilai terbaik di ujian ini. Namun yang disayangkan, mereka (baca:kampus ini) belum bisa menerima mahasiswa tuna netra disebabkan pengajar-pengajarnya merasa tidak mampu berinteraksi dengan mahasiswa tuna netra. Akhirnya sang panitia meminta maaf karena Enny dan Haris tidak akan diluluskan. Mereka merekomendasikan kampus lain di Jakarta sebagai universitas yang bisa menampung bakat kedua remaja ini. Hasil ini keluar tidak sampai lima menit, padahal normalnya hasil ujian baru dikeluarkan seminggu setelah hari ujian.


Sang ibu kemudian bercerita kepada saya dengan tidak dapat menutupi kekecewaannya. Berbagai pertanyaan diutarakannya, “Mengapa anak saya tidak dapat belajar di sini, padahal tahun lalu kampus ini masih menerima mahasiswa tuna netra?”, “Mengapa hal ini baru diberitahukan sekarang, bukan saat pendaftaran dulu?”, “Bagaimana anak saya dapat bersekolah kalau kampus-kampus lain melakukan hal yang sama?”, dan banyak pertanyaan lainnya.


Ketika Enny dan Haris keluar dari ruangan, kami segera memberitahukan perihal ini kepada mereka. Enny terus bertanya-tanya kepada ibunya, “kenapa seperti itu bu, kok seperti itu?”, sementara Haris hanya terdiam dan terlihat wajah kekecewaan di wajahnya. Pemuda-pemudi yang penuh semangat ini, memiliki cita dan impian, namun kondisi eksternal, lingkungan, masyarakat, dan pemerintah membatasi mereka untuk berkembang. Mimpi itu hanya bisa tersimpan di peti dan tidak pernah bisa dikeluarkan.

“Mungkin Enny bisa kuliah di Jakarta, tapi tidak tahu apa dana mencukupi. Saya akan coba membicarakan dengan keluarga besar”, keluh sang ibu ketika saya menanyakan bagaimana rencana untuk Enny selanjutnya.



Apakah memang harus seperti itu? Bagaimanakah implementasi dari Pasal 27 ayat 2 dan Pasal 28C ayat 1 UUD 1945? Apakah itu hanya sebatas konstitusi semata yang tidak dapat dijalankan? Apakah hanyalah sebuah utopia, semua warga, setiap orang penduduk Indonesia mendapatkan hak yang sama dalam pendidikan? Tidak hanya penduduk perkotaan tapi juga penduduk pedesaan, pedalaman, dan perbatasan. Tidak hanya penduduk yang memiliki fisik yang normal, tapi juga warga Indonesia yang tuna netra, tuna rungu, tuna wisma, dan lainnya.



Bagaimanapun, pendidikan yang merata, hal itu harus diusahakan terjadi di bumi Indonesia.

Pendidikan adalah salah satu kunci yang membuka pintu gerbang pembangunan bangsa.

Pendidikan adalah media manusia mengenal dunia luas, menambah wawasan berpikir, dan mengetahui apa mimpinya dan bagaimana mencapai mimpi-mimpinya.

Aku, Sahat Martin Philip Sinurat mempunyai mimpi. Kamu, anda, memiliki mimpi. Kita memiliki mimpi, begitu juga dengan mereka. Mereka juga mempunyai mimpi, sama seperti kita.

Monday, 30 May 2011

Tanya dan Jawab

Entah kenapa, dini hari selalu menjadi waktu yang menyenangkan untuk berpikir, mencari inspirasi, mencari ilham. Suasana yang hening dan sunyi sepertinya mendukung otak untuk berputar-putar mencari pertanyaan dan jawaban yang kadang bersembunyi dan kadang menunjukkan dirinya dengan tidak malu-malu.

Waktu terus berjalan, detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, abad, terus berganti hingga akhir yang tidak pernah bisa diduga kapan waktunya. Begitu juga pertanyaan dan jawaban, berputar seiring waktu, ada yang bisa dijawab dan ditanya, tidak sedikit juga yang tidak bisa dijawab ataupun ditanya, dan juga ada yang berulang kembali, jawab menjadi tanya, tanya menjadi jawab.

Apalah arti ini semua, waktu yang terus berjalan, meninggalkan setiap kenangan di belakang, ada untuk diingat, disesali, dibanggakan, dan terkadang juga dilupakan. Apalah arti jawab dan tanya, ketika itu semua menjadi sia-sia belaka, ditinggalkan di belakang, dilupakan, tergeletak, sendiri.

Hidup adalah kumpulan tanya dan jawab, jawab dan tanya, yang seiring waktu yang terus berjalan, hidup akan juga berjalan menuju klimaksnya, hingga sampai di suatu titik, dimana tanya dan jawab itu tidak ada lagi, hanya menyisakan kepastian, kemutlakan, tidak terbantahkan lagi.

Mari terus bertanya dan menjawab, menjawab dan bertanya, proses yang akan terus berlanjut selama detik, menit, jam, hari, minggu, tahun, abad, terus-menerus hingga sampai tiba di titik akhir, klimaks dari segalanya, dimana pertanyaan tidak perlu dijawab lagi, dan jawaban tidak perlu ditanya lagi. Hingga tiba akhir dari segala sesuatu, namun juga awal dari segala sesuatu.

Thursday, 28 April 2011

Semakin Seperti

Durasi baca: 3-4 menit

Malam ini makan malam bersama dua orang sahabat. Tak berbeda dengan orang lain, sambil menunggu datangnya hidangan, kami berdiskusi tentang banyak hal dan akhirnya sampai ke topik yang menjadi judul tulisan ini. Semakin seperti.

Semakin seperti apa? Atau semakin seperti siapa?

Aku akan coba membagikan apa yang kami diskusikan di tulisan ini.

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, marilah kita beralih sejenak ke kehidupan selebritis. Seorang fans yang menggemari artis idolanya biasanya akan meniru apa yang dilakukan atau dikenakan oleh idolanya itu. Biasanya barang-barang yang dikenakan artis itu akan jadi tren dan laku di pasaran. Itu juga yang membuat sering kali selebritis ditawarkan menjadi model sebuah brand dimana dia akan disewa selama beberapa waktu menjadi ‘iklan berjalan’ brand tersebut. Hal ini karena melihat psikologis manusia yang biasanya berusaha untuk menjadi seperti siapa yang diidolakannya.

Sekarang kita beralih ke klub sepakbola. Sudah jelas fakta bahwa sepakbola merupakan olahraga yang paling banyak digemari di dunia. Setiap negara biasanya mempunyai kompetisi dan klub-klub sepakbolanya masing-masing. Tentunya setiap klub ini juga punya fans setia bahkan di beberapa klub, mereka mempunyai fans yang tidak hanya setia, tapi juga fanatik dan bahkan siap berkorban nyawa demi klub idolanya ini.

Salah satu klub terbaik yang mempunyai penggemar terbanyak di dunia adalah Manchester United (hehe, silakan anda tentukan sendiri klub terbaik menurut anda). Sama halnya dengan selebritis tadi, seorang fans MU pastinya akan berusaha semakin seperti klub yang diidolakannya ini. Dia akan membeli merchandise klub tersebut, menonton setiap pertandingan klub itu, dan mencari tahu informasi-informasi yang berhubungan dengan klub tersebut. Seperti itulah psikologis manusia, berusaha semakin seperti apa yang dicintainya, apa yang diidolakannya.

Terus, ke arah mana tujuan tulisan ini? Hehe, sebelum sampai kesana, kita akan membahas contoh kasus terakhir.

Umumnya setiap orang punya sosok yang diidolakannya. Sosok itu seperti ayahnya, ibunya, gurunya, pahlawan nasional, ataupun tokoh-tokoh lain yang menurutnya melakukan hal-hal yang menginspirasinya. Setelah mengidolakan mereka, biasanya seseorang ini akan berusaha belajar dari kehidupan sosok yang diidolakannya ini, mengenalinya lebih jauh, dan mencontoh apa yang telah dilakukan oleh mereka. Seperti itulah psikologis manusia, berusaha semakin seperti siapa yang dicintainya, siapa yang diidolakannya.

Seperti itulah psikologis manusia, berusaha semakin seperti apa yang dicintainya, apa yang diidolakannya. Seperti itulah psikologis manusia, berusaha semakin seperti siapa yang dicintainya, siapa yang diidolakannya. Dan seharusnya seperti itulah juga manusia, ketika mencintai Tuhan yang dicintainya. Berusaha semakin seperti Tuhan yang dicintai dan disembahnya.

Berusaha semakin seperti Tuhan ini tentunya bukan bermakna dangkal yaitu bahwa manusia itu berusaha menjadi Tuhan, menyamai Tuhan, bahkan berusaha melebihi Tuhan. Beribu-ribu tahun yang lalu, peristiwa di Babel menjadi contoh nyata bagaimana kecongkakan manusia yang dengan pemahaman dangkalnya berusaha menyamai Tuhan, telah diceraiberaikan oleh Tuhan ke penjuru dunia. Hanya Tuhan Yang Maha Tahu, Maha Pencipta, dan Maha Segalanya, itu sudah jelas.

Terus, bagaimana kita berusaha semakin seperti Tuhan?

Semakin seperti Tuhan disini menurutku adalah sama seperti contoh-contoh di atas tadi. Mengenal Tuhan lebih jauh, berusaha belajar tentang semua hal yang diajarkanNya, terus dan terus berusaha memahami apa yang diinginkanNya.

Tuhan Maha Baik, Maha Penyayang, Maha Pengasih, Maha Adil, dan Maha lainnya, tentunya kita juga sebagai manusia seharusnya berusaha untuk semakin sepertiNya, semakin baik, semakin penyayang, semakin pengasih, semakin adil, dan semakin lainnya.
Seperti itulah psikologis manusia, berusaha semakin seperti siapa yang dicintainya. Dan seharusnya seperti itulah juga manusia, ketika mencintai Tuhan yang dicintainya. Berusaha semakin seperti Tuhan yang dicintai dan disembahnya.

Kita saja berusaha untuk meniru apa yang dikenakan artis idola kita, atau mencari semua informasi yang berhubungan dengan klub kesayangan kita, ataupun berusaha belajar dari kehidupan Ayah kita yang merupakan sosok idola kita, masa kita tidak juga berusaha mengenali Tuhan yang kata kita, sangat kita cintai???

Ketika seseorang berkata bahwa dia menyembah dan mencintai Tuhan yang disembahnya, tapi dia tidak pernah berusaha untuk mengenalNya lebih jauh, tidak belajar tentang nilai-nilai yang diajarkanNya, dan tidak berusaha memahami apa yang diinginkanNya, maka perkataan seseorang ini bahwa dia mencintai Tuhan yang disembahnya harus dipertanyakan lagi.

Ketika seseorang mengatakan bahwa dia mencintai Tuhan yang disembahnya, tapi dia justru melakukan hal yang berseberangan dengan Tuhannya ini, maka perkataannya itu jelas merupakan kata-kata semata.

Hal ini jelas berlaku untuk semua agama yang ada di dunia. Semakin seperti Tuhan yang disembahnya dan tentunya tidak melakukan apa yang tidak diajarkan Tuhannya.


Bila Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan Yang Maha Baik, Maha Penyayang, Maha Adil, dan begitu banyak Maha lainnya, tentunya kita juga harus semakin baik, semakin penyayang, semakin adil, dan semakin lainnya. Bukannya menjadi seseorang yang membenci orang lain, bersikap tidak adil, dan hal-hal lainnya yang bertentangan dengan keinginan Tuhan yang kita sembah.


Semua ini berawal dari pengenalan yang terus menerus akan Tuhan, membaca KitabNya dengan sungguh dan memahami ajaranNya dengan utuh.

Semoga tulisan ini berguna.
^^