Setiap hari kita harus menghadapi aktivitas yang penuh tantangan. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan dan tahun juga berlalu. Namun selama itu juga kita harus melakukan pekerjaan, perkuliahan, pertemuan, rapat, ataupun berbagai aktivitas lainnya.
Setiap hari kita harus berinteraksi, dengan pimpinan, rekan kerja, dosen, orangtua, mertua, istri, anak, teman, dan berpuluh bahkan beratus orang lainnya. Sering kali mereka memberikan sapaan hangat, pujian, ataupun senyuman. Tapi tidak jarang juga mereka menyampaikan keluhan, amarah, hujatan, curhatan, bahkan makian. Setiap hari terasa berat, dan sayangnya orang-orang terdekat kita bahkan tidak dapat membantu meringankan beban kita.
Bersikaplah baik kepada semua orang, sebab semua orang menghadapi hari yang berat -Gostick & Elton-
Ya, setiap orang menghadapi hari yang berat. Maka berucap, bersikap dan berbuat baiklah pada semua orang, terutama orang-orang di sekitar kita.
Kita tidak akan pernah tahu kapan kata-kata atau tindakan baik kita bakal membuat perbedaan dalam hidup seseorang.
Selamat menjalani hari. :)
Hidup ini penuh kegembiraan dan keindahan. Dan hidup akan semakin indah ketika kita dapat berbagi dengan orang lain sehingga hidup kita menjadi kegembiraan milik bersama. Mari berbagi kegembiraan disini.
inspirasi
Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts
Sunday, 7 June 2015
Friday, 7 January 2011
25 Desember, Kasih Allah kepada Manusia
Akhir Desember, akhir dari segala hal tentang ujian serta perkuliahan,dan saat memulai waktu liburan, waktu untuk melupakan segala hal tadi untuk sesaat, mengisi waktu dengan hal-hal yang mungkin jarang dilakukan pada hari-hari biasa. Keluar masuk pusat perbelanjaan bagi para pecinta shopping. Melihat sunrise dari gunung bagi para pecinta hiking. Jalan dengan kawan-kawan, ataupun ke toko buku untuk meminjam ataupun membeli buku bagi para pecinta buku. Untuk aku sendiri, tahun ini kembali bisa pulang ke kampung halaman untuk bisa menghabiskan waktu libur bersama keluarga. Waktu libur ini ternyata bertepatan dengan Perayaan Hari Raya pada tanggal 25 Desember dan kalau dibandingkan dengan beberapa kawan yang tidak bisa pulang dan merayakannya di Bandung, aku dapat merayakannya bersama keluarga. Pada tanggal ini, dan malam sebelumnya, 24 Desember, kami sekeluarga, dan jutaan manusia lainnya merayakan Natal, tanggal yang dipercaya merupakan hari kelahiran Yesus Kristus, atau Isa Almasih, kira-kira 2000 tahun yang lalu. Tapi apakah benar memang tanggal 25 Desember atau 24 Desember malam? Dan apakah makna dari perayaan ini? Hal inilah yang membuatku berpikir beberapa lama, menjadi bahan refleksi dan mencoba menuliskannya disini.
25 Desember, tanggal yang dipercaya merupakan hari kelahiran Yesus Kristus, atau Isa Almasih, sampai sekarang pun masih menjadi kontroversi dan diperdebatkan oleh banyak sejarahwan. Beberapa asumsi muncul dari penetapan tanggal ini. Salah satu contoh adalah bahwa di Israel, pada bulan Desember sedang musim dingin, sedangkan pada saat kelahiranNya 2000 tahun lalu, para gembala sedang membawa domba-dombanya keluar kandang. Apakah mungkin mereka melakukannya pada saat musim dingin? Di dalam Alkitab sendiri tidak terdapat penanggalan yang benar-benar jelas tentang kapan tanggal kelahiran ini. Bahkan sebagai contoh belum satu suaranya semua umat Kristen dalam penetapan tanggal 25 Desember ini, Kristen Ortodoks merayakan Natal setiap tahunnya pada tanggal 7 Januari. Pada hari ini, para Kristen Ortodoks di seluruh dunia sedang merayakan dan memperingati hari kelahiran Sang Juruselamat, Tanggal manakah yang benar? 25 Desember? 7 Januari? Atau mungkin nanti akan bermunculan tanggal-tanggal lain seperti 10 Juni, 8 September, ataupun 1 Maret?
Menurutku sendiri, dan mohon koreksi kalau aku salah karena aku juga masih harus mencari tahu lagi kebenaran dari ‘menurutku’ ini, tanggal bukanlah hal yang esensial. Yang esensial adalah apa sebenarnya yang ada di tanggal itu. Dan ketika kita benar-benar memaknai apa yang ada di tanggal itu, maka tanggal bukanlah menjadi suatu hal yang penting lagi karena makna yang terkandung jauh lebih luas, besar, dan tidak bisa dibatasi oleh satu hari saja. Apakah Natal itu? Kenapa Dia lahir ke dunia ini? Dan setelah kita benar-benar memaknai kedua pertanyaan ini, maka pastinya kita akan bisa menjawab pertanyaan selanjutnya, kapankah Natal itu? Atau mungkin pertanyaan yang lebih tepat, Apakah Natal itu hanya dirayakan pada tanggal 25 Desember ataupun 7 Januari saja?
Apakah Natal itu dan kenapa Dia harus lahir ke dunia ini?
Pada saat masih sekolah minggu, beberapa tahun lalu, ketika aku masih lugu, baik, imut, dan lucu-lucunya, menurutku Natal itu adalah hari kelahiran Yesus yang harus diisi dengan liturgi, kado natal, lilin, lagu-lagu Natal, dan hal-hal lainnya. Dan seiring dengan waktu, aku semakin mengerti apa arti Natal yang sebenarnya. Alasan kedatanganNya yang menurutku akan terlalu panjang apabila dituliskan disini dan karena bukan itu topik utama note ini, marilah masuk ke pertanyaan selanjutnya.
Kapankah Natal itu? Atau mungkin pertanyaan yang lebih tepat, Apakah Natal itu hanya dirayakan pada tanggal 25 Desember ataupun 7 Januari saja?
Kalau aku masih sekolah minggu, aku pasti akan menjawab dengan cepat 25 Desember, ataupun kalau aku merupakan Kristen Ortodoks, maka aku akan menjawab 7 Januari. Tapi apakah memang benar tanggal itu? Seberapa penting kita harus mengetahui kapan tanggal sebenarnya Dia lahir dibandingkan dengan seberapa penting kita harus mengetahui apa maksud sebenarnya Dia lahir ke dunia ini dan apakah kita sudah benar-benar menerima maksud itu? Mana yang lebih penting dan utama?
Apakah kasih yang ditunjukkan oleh Allah kita secara jelas pada Natal ini juga sudah benar-benar kita rasakan? Dan apakah kasihNya itu sudah kita tunjukkan dan lakukan juga kepada keluarga, teman, dan lingkungan sekitar kita, tanpa pandang bulu? Mungkin kita dapat menjawab ‘iya’ untuk dua pertanyaan diatas, dan pertanyaan selanjutnya adalah apakah itu semua hanya dapat kita rasakan ataupun lakukan pada tanggal 25 Desember atau 7 Januari saja, atau mungkin pada bulan Desember saja? Bagaimana dengan tanggal dan bulan lain? Bukankah pada waktu-waktu itu kita juga dapat mensyukuri kasih Allah itu dan juga dapat menunjukkan rasa syukur kita itu dengan menunjukkan kasih kita kepada sesama kita?
Aku pun merenung dan menyadari bahwa aku belum benar-benar melakukan itu dan sering terlena dengan kenyamanan.
Mungkin memang dibutuhkan suatu tanggal sebagai pengingat kita bahwa 2000 tahun lalu pada satu hari, Yesus Kristus atau Isa Almasih telah lahir ke dunia ini, tapi tanggal itu sendiri bukanlah untuk ‘didewakan’ dan akhirnya kita menganggap tanggal itu lebih kudus dari tanggal lain dan melupakan makna penting yang terkandung dari Natal itu sendiri. Seperti yang kualami sekarang, dimana pada 25 Desember tahun ini kembali diingatkan bahwa aku belum benar-benar memaknai Natal itu, yaitu masih belum benar-benar menunjukkan kasih kepada sesama di tanggal-tanggal lain di 364 sisa hari lainnya.
Semoga kita, melalui satu hari di 25 Desember 2010 ini dapat diingatkan lagi dan akhirnya setelah kita ingat, 364 hari lain yang akan kita lewati sebelum mencapai tanggal 25 Desember 2011 akan lebih bermakna dan kita bisa melakukan tanggung jawab kita sebagai orang yang sudah paham akan makna Natal itu sendiri. Mari kita membagikan kasih kita kepada sesama sebagai bentuk rasa syukur kita atas kasih Allah kepada kita.
Walau telat berdasarkan tanggal, tapi tetap belum terlambat dalam hal makna, untuk mengucapkan,
Selamat Natal, kawan.
Saturday, 16 October 2010
Foto Bernama Keluarga
Kali ini mencoba membagikan pengalaman yang aku dapatkan baru-baru ini. Untuk pertama kalinya datang ke Car Free Day hari Minggu di sepanjang Dago. Bersama teman, sambil berjalan sepanjang jalan, mencoba mendokumentasi berbagai hal yang terjadi disana. Setelah mengambil beberapa foto dan melihat hasilnya, aku tertarik melihat satu objek fotoku, tiga orang dalam satu keluarga yang sedang berjalan bersama sambil bersenda gurau. Setelah melihat foto ini, akhirnya aku memutuskan untuk hari ini fokus mengabadikan keluarga-keluarga yang menghabiskan Minggu paginya berolahraga di Dago. Dan hunting foto pun dimulai.
Setelah selesai menjalankan aksi di pagi hari yang cerah, sambil beristirahat di Wisma Sejahtera, aku mencoba melihat foto-foto yang kuambil. Setiap foto menunjukkan keakraban di dalam keluarga. Berjalan bersama, berlari bersama, berfoto bersama, dan lainnya. Tiba-tiba, pikiran pun terbawa angin hingga jauh ke pulau seberang, beratus-ratus kilometer ke sebuah kota, Medan. Teringat kepada kedua orangtua disana dan juga seorang adik yang masih bersekolah disana. Tanpa diminta ingatan pun membuka setiap halamannya, mencoba mengingatkan kenangan-kenangan ketika keluarga kami berkumpul bersama pada saat liburan. Walaupun kadang diisi dengan perselisihan dan lainnya, namun itulah yang semakin mengakrabkan dan mendekatkan satu sama lain. Kembali melihat foto-foto yang kuambil dan aku pun diingatkan lagi betapa besar kasih orangtua kepada anaknya dan menyadari beberapa minggu ini telah beberapa kali mengecewakan mereka yang pasti selalu membawa namaku dalam setiap lantunan doanya. Teringat juga kepada adik dan kakakku, yang sama-sama merantau ke tanah Jawa ini dan mengingat berbagai hal yang telah dilalui bersama baik ketika berkumpul di Bandung, ataupun ketika di Medan. Berantam, beradu argumen, dan lainnya yang sering memanaskan kepala, tapi kalau diingat-ingat lagi, itu merupakan bumbu-bumbu kasih sayang dan salah satu bentuk perhatian yang diberikan, walaupun kadang dalam penyampaiannya sering berlebihan.


Setelah melihat semua foto yang kuabadikan di pagi hari itu, aku pun berdoa sejenak, berharap yang terbaik selalu diberikanNya kepada mereka. Meminta agar mereka selalu sehat, dimanapun mereka berada. Meminta kepada Tuhan berkat dan rahmat selalu diberikanNya kepada mereka semua. Dan semoga aku, Sahat Martin Philip Sinurat bisa membanggakan mereka.
Untuk keluargaku: Tagor Hasiholan Sinurat, Linda Mariaty Panjaitan, Yohana Rotua Yosefin Sinurat, Martha Christina Sinurat, dan Olivia Dame Masterina Sinurat.
Setelah selesai menjalankan aksi di pagi hari yang cerah, sambil beristirahat di Wisma Sejahtera, aku mencoba melihat foto-foto yang kuambil. Setiap foto menunjukkan keakraban di dalam keluarga. Berjalan bersama, berlari bersama, berfoto bersama, dan lainnya. Tiba-tiba, pikiran pun terbawa angin hingga jauh ke pulau seberang, beratus-ratus kilometer ke sebuah kota, Medan. Teringat kepada kedua orangtua disana dan juga seorang adik yang masih bersekolah disana. Tanpa diminta ingatan pun membuka setiap halamannya, mencoba mengingatkan kenangan-kenangan ketika keluarga kami berkumpul bersama pada saat liburan. Walaupun kadang diisi dengan perselisihan dan lainnya, namun itulah yang semakin mengakrabkan dan mendekatkan satu sama lain. Kembali melihat foto-foto yang kuambil dan aku pun diingatkan lagi betapa besar kasih orangtua kepada anaknya dan menyadari beberapa minggu ini telah beberapa kali mengecewakan mereka yang pasti selalu membawa namaku dalam setiap lantunan doanya. Teringat juga kepada adik dan kakakku, yang sama-sama merantau ke tanah Jawa ini dan mengingat berbagai hal yang telah dilalui bersama baik ketika berkumpul di Bandung, ataupun ketika di Medan. Berantam, beradu argumen, dan lainnya yang sering memanaskan kepala, tapi kalau diingat-ingat lagi, itu merupakan bumbu-bumbu kasih sayang dan salah satu bentuk perhatian yang diberikan, walaupun kadang dalam penyampaiannya sering berlebihan.
Setelah melihat semua foto yang kuabadikan di pagi hari itu, aku pun berdoa sejenak, berharap yang terbaik selalu diberikanNya kepada mereka. Meminta agar mereka selalu sehat, dimanapun mereka berada. Meminta kepada Tuhan berkat dan rahmat selalu diberikanNya kepada mereka semua. Dan semoga aku, Sahat Martin Philip Sinurat bisa membanggakan mereka.
Untuk keluargaku: Tagor Hasiholan Sinurat, Linda Mariaty Panjaitan, Yohana Rotua Yosefin Sinurat, Martha Christina Sinurat, dan Olivia Dame Masterina Sinurat.
Subscribe to:
Posts (Atom)

