inspirasi

inspirasi
Showing posts with label Damai. Show all posts
Showing posts with label Damai. Show all posts

Sunday, 1 May 2016

Menjadi Pendamai

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita terlibat pertikaian dengan orang lain. Sakit hati, dendam, kekecewaan, amarah, dan banyak hal lainnya menjadi biang keladi dari permusuhan. Kedamaian seakan jauh dari kehidupan kita. Kita bertikai dengan teman, guru, tetangga, bahkan keluarga atau orangtua kita sendiri.

Yesus datang ke dunia untuk memberikan kasih dan membawa kedamaian bagi setiap orang. Dia datang tidak hanya untuk mengajarkan apa kasih itu, tapi juga menunjukkannya melalui kehidupan-Nya. Dia hidup di dunia bukan hanya untuk meminta manusia mewujudkan kedamaian, tapi Dia juga mencontohkannya. Yesus meruntuhkan setiap tembok yang berusaha membelenggu hadirnya kedamaian di tengah kehidupan manusia.

Dia mendamaikan perselisihan antara orang Yahudi dan orang Samaria dengan meminum air dari timba perempuan Samaria (Yoh 4: 1-42). Yesus mendamaikan para penderita kusta dengan masyarakat Yahudi yang terikat hukum adat dimana para penderita kusta harus disisihkan dan dikeluarkan dari kota (Luk 5: 12-16, Luk 17: 11-19). Yesus juga memberi kedamaian kepada orang-orang yang dianggap sebelah mata; para pemungut cukai, pelacur, janda, anak-anak, orang buta, lumpuh, dan lainnya. Yesus menunjukkan bahwa kasih dan kedamaian harus dirasakan oleh setiap orang. Dan diakhir hidupnya, sebagai puncak dari perjalanan hidupnya, Yesus menjembatani hadirnya kedamaian antara manusia dengan Penciptanya. Yesus mendamaikan manusia dan Allah, dengan mati di kayu salib dan bangkit pada hari ketiga. Maka nyatalah bahwa kehidupan Yesus adalah kehidupan yang menghadirkan kasih dan damai antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam sekitarnya, dan paling utama, manusia dengan Allah.

Sayangnya, dalam kehidupan kita sekarang ini, ketimbang menjadi seorang pendamai, kita lebih senang menjadi pembuat onar ataupun penyulut kemarahan. Kita mengganggu, menghasut, ataupun menjelekkan orang lain. Terkadang kita juga mendiamkan perselisihan ataupun permasalahan yang terjadi di sekitar kita. Kita membiarkan keluarga kita saling bertengkar, teman kita saling menjatuhkan, ataupun lingkungan kita tercemar. Kita malah merasa puas dengan berdiam diri dan terhanyut dalam aktivitas pribadi kita.

Kehidupan Yesus sebenarnya telah memberi pelajaran hidup yang dapat kita lakukan dalam kehidupan kita. Mungkin selama ini mudah bagi kita untuk sakit hati, dendam, kecewa, dan marah kepada orang lain. Tapi, sejak kita mengenal dan memahami kehidupan Yesus, maka seharusnya kita dapat menguasai diri kita dan berbuat kebaikan yang membawa damai. Yesus telah menjadi pendamai dalam wujud manusia. Kehidupan Yesus dalam wujud manusia telah menjadi teladan nyata bagi kita, bahwa manusia yang tidak sempurna pun dapat menjadi pendamai seperti Yesus.

Maka genaplah keinginan Yesus Sang Pembawa Damai, bahwa setiap orang yang belajar dari kehidupan-Nya akan menjadi agen-agen pembawa kedamaian bagi dunia. Pembawa kedamaian bukan berarti diam ketika ada masalah di sekitarnya. Namun pembawa kedamaian harus berani bicara benar walaupun orang lain tidak suka dengan apa yang akan dikatakan, ataupun berani bertindak benar walau tidak sesuai dengan keinginan lingkungan kita. Karena Yesus berdamai bukan dengan diam melihat permasalahan, tapi berpikir, berbicara, dan bertindak melawan tirani; melawan orang Farisi, hukum adat, kematian, dan hal-hal lainnya.

Jika keluarga kita sampai sekarang masih sering bertengkar, kita tidak hanya diam, namun menenangkan dan mendamaikan keluarga kita. Saat rekan kita saling menjelekkan, kita tidak ikut-ikutan menjelekkan melainkan menjadi penengah di antara mereka. Waktu teman kita dikucilkan karena ketahuan berbuat salah, kita seharusnya tetap berteman dan membantu teman kita untuk berubah menjadi lebih baik. Bahkan jika kita melihat orang lain bahkan pemerintah melakukan ketidakadilan terhadap orang lain, kita berani untuk bersuara dan menyatakan apa yang dilakukan orang lain atau pemerintah ini merupakan hal yang salah.


Menjadi pendamai merupakan panggilan setiap orang percaya. Kita tidak bisa membantah atau menolak kewajiban kita menjadi pendamai. Lingkungan dan masyarakat di sekitar kita saat ini banyak mengalami tantangan dan permasalahan. Maukah kita menjadi pendamai bagi mereka?

Thursday, 15 October 2015

Toleransi, Jangan Reaktif

Seorang terpelajar harus sudah berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan -Pram-

Sejak kemarin berusaha menahan diri untuk berkomentar tentang peristiwa yang saat ini sedang terjadi di Singkil, Aceh. Masih belum hilang ingatan peristiwa beberapa bulan lalu, saat Tolikara juga mengalami nasib yang kurang lebih serupa.

Teringat, waktu itu dalam beberapa jam saja setelah peristiwa, beberapa teman kampus dan rekan aktivis yang beragama Muslim dengan sigap langsung membuat status, mempertanyakan tentang toleransi, Pancasila, dan lainnya sembari memaki para pelaku pembakaran di Tolikara. Dengan sigap pula waktu itu aku menunjukkan solidaritas, begitu juga rekan-rekan non Muslim lainnya, menunjukkan sikap bahwa apa yang terjadi di Tolikara kali itu bukanlah cerminan ke-Indonesiaan kita, dan masih lebih banyak masyarakat yang peduli kedamaian dan kebersamaan dalam perbedaan.

Belajar dari kejadian itu, untuk kali ini aku berusaha tidak reaktif dan menahan diri, sembari percaya, sahabat-sahabatku dari kampus dan rekan aktivis yang waktu itu mempertanyakan tentang Pancasila, toleransi, dan lainnya akan kembali bersuara dan menunjukkan solidaritasnya. Bersyukur ada banyak sahabat yang menunjukkan sikapnya, bahwa apa yang terjadi di Singkil itu juga bukan cerminan ke-Indonesiaan kita. Sikap dari teman-teman ini memberikan kelegaan dan semangat, menunjukkan kita ternyata tidak sendiri memperjuangkan kesatuan.

Sayang, tidak semua bersikap adil, baik itu yang beragama Kristen, Islam, Hindu, Budha, dll. Pancasila dan toleransi hanya dikoarkan saat dirinya sedang "terusik" saja, selain itu, ternyata hanya menjadi jargon semata.

Ya, apapun itu, kiranya kita tetap mengingat, keindahan itu baru nyata ketika ada keberagaman/perbedaan. Pelangi indah karena berbeda warna. Pemandangan alam indah karena ada sungai, gunung, pohon, dan keberagaman lainnya. Begitu juga terumbu karang menjadi indah karena aneka warna terumbu karang dan berbagai jenis makhluk laut disana.

Keindahan itu indah karena keberagaman, begitu halnya juga dengan manusia, baru indah ketika di antara manusia ada keberagaman, bukan keseragaman.

Salam damai Indonesia. :)

Tuesday, 8 September 2015

Menatap Masa Depan Asia-Afrika Baru


Opini CePSA ini dirilis pasca pembukaan Konferensi Asia Afrika lalu dan sempat dikutip oleh beberapa media online dan cetak seperti Jakarta Post, Antara, dan Bisnis.com,. Berikut saya lampirkan versi lengkap dari Opini CePSA ini.

Menatap Masa Depan Asia-Afrika Baru
Oleh Sahat Martin Philip Sinurat*

Pidato Presiden Joko Widodo pada pembukaan Konferensi Asia Afrika 2015 kemarin ternyata mendapat sambutan hangat dari peserta KAA. Dalam pidatonya, Presiden Jokowi menyinggung berbagai permasalahan yang saat ini sedang terjadi di negara-negara Asia dan Afrika. Beliau juga mengingatkan esensi KAA 1955, yakni gelora mendapatkan hak hidup sebagai bangsa merdeka dan menolak segala bentuk imperialisme, serta semangat menciptakan kesejahteraan dan keadilan bagi segenap rakyat Asia-Afrika.

Dunia saat ini sarat dengan kesenjangan, ketidakadilan, dan kekerasan global. Beberapa kelompok negara mendominasi negara-negara lainnya. Sumber daya bumi dihabiskan oleh negara-negara kaya. Berbagai lembaga keuangan internasional justru dipakai untuk mencekik negara miskin dan berkembang. Aksi kekerasan secara sepihak dilakukan sekelompok negara tanpa mendapat larangan berarti dari badan dunia PBB. Presiden Jokowi memandang pentingnya tatanan dunia baru yang berdasarkan keadilan, kesetaraan, dan kemakmuran. Dunia membutuhkan kepemimpinan global yang kolektif dan Indonesia siap memainkan peran global sebagai kekuatan positif bagi perdamaian dan kesejahteraan.


Mewujudkan Kesejahteraan Asia-Afrika

Pidato Presiden Jokowi yang tegas di hadapan puluhan delegasi negara Asia-Afrika tentu harus dapat diwujudnyatakan. Untuk mewujudkan kesejahteraan, negara-negara Asia-Afrika harus berkolaborasi memerangi kemiskinan dan keterbelakangan serta memacu pertumbuhan ekonomi.

Menurut Prof. W. A. Lewis, pendorong utama pertumbuhan ekonomi ialah upaya untuk berhemat, peningkatan pengetahuan dan penerapannya di bidang produksi, serta peningkatan jumlah modal. Negara Asia-Afrika yang lebih maju perlu menjalin kemitraan dengan negara lainnya untuk penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna. Hal ini penting karena kebanyakan negara Afrika-Asia masih tertinggal jauh dalam penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang produksi. Kemitraan yang terjalin ini harus saling menguntungkan sehingga setiap negara saling bergantung dan terdapat relasi yang setara di antara masing-masing negara.

Pengentasan kemiskinan dan keterbelakangan juga membutuhkan penerapan tata kelola pemerintahan (good governance) yang baik. Sayangnya, sebagian besar negara-negara Asia-Afrika masih dilanda konflik dan gejolak internal. Akibatnya pemerintahan tidak dapat berjalan dengan baik dan pembangunan masih jauh dari harapan ideal.

Untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, Indonesia bersama negara-negara Asia-Afrika lainnya harus berperan aktif menyelesaikan berbagai permasalahan yang melanda negara-negara Asia-Afrika. Keterlibatan negara-negara Barat dalam penyelesaian konflik harus diambil-alih oleh negara-negara Asia-Afrika. Negara-negara Asia-Afrika harus dapat menyelesaikan permasalahan rumah tangganya sendiri tanpa terlalu bergantung pada negara-negara kaya dan maju. Dengan ini tidak timbul ketergantungan antara negara Asia-Afrika dan negara kaya dan maju sehingga bangsa-bangsa Asia-Afrika dapat berdiri sejajar sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Produk Domestik Bruto (PDB) kedua benua ini pada 2014 mencapai 51 persen dari PDB dunia. Jumlah penduduk Asia-Afrika mencapai dua pertiga dari total penduduk dunia. Jalur perdagangan di kedua benua ini padat dan rawan akan gangguan keamanan dan ketertiban. Prof. Cairncross menyatakan bahwa pembangunan bukanlah sekedar masalah memiliki sejumlah besar uang atau semata-mata fenomena ekonomi. Ia mencakup semua aspek perilaku masyarakat, termasuk penegakan hukum dan ketertiban. Pendapat Prof. Cairncross ini harus menjadi sorotan utama negara-negara Asia-Afrika. Semua negara Asia-Afrika harus bekerjasama mewujudkan jalur perdagangan dan transportasi Asia-Afrika yang damai dan aman, baik darat, laut, maupun udara.


Indonesia, India, dan Afrika Selatan sebagai Jembatan Asia-Afrika

Salah satu semangat KAA 1955 adalah menolak pembentukan dua blok ideologi: Blok Barat di bawah pimpinan Amerika Serikat yang liberal dan Blok Timur di bawah pimpinan Uni Soviet yang komunis. Saat ini, pertarungan dunia tidak lagi berkutat pada blok ideologi saja melainkan juga ekonomi. Blok ekonomi dunia terbagi atas blok AS dan Blok Cina Rusia.

Sejalan dengan visi KAA, pemerintah Indonesia saat ini harus tetap berpegang pada kebijakan politik bebas aktif. Indonesia tidak perlu terjebak di tengah pertarungan ekonomi dua raksasa dunia, Amerika Serikat dan Republik Rakyat Tiongkok. Ketimbang berpihak pada salah satu kekuatan, Indonesia sebaiknya membangun kekuatan ekonomi non-blok di antara negara-negara Asia-Afrika.

Indonesia, India, dan Afrika Selatan yang memiliki tren pertumbuhan ekonomi yang positif dapat menjadi motor bagi kekuatan ekonomi non-blok tersebut. Negara-negara Asia-Afrika harus melawan imperialis-kolonialis modern yang menjajah dengan kekuatan ekonomi. Ketiga negara ini dapat menjadi jembatan bagi terwujudnya kekuatan ekonomi baru Asia-Afrika yang damai, adil, dan setara.

India yang jumlah penduduknya terbanyak kedua di dunia adalah negara dengan ekonomi terbesar kesembilan di dunia berdasarkan produk domestik bruto (PDB). Bersama dengan Afrika Selatan, India merupakan anggota G-20 dan anggota BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) yang saat ini memiliki pertumbuhan ekonomi yang pesat. Sektor industri Afrika Selatan sangat maju dan merupakan negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi terbesar ke-25 di dunia. Data Bank Dunia menyebutkan pendapatan domestik bruto Afrika Selatan pada 2013 mencapai US$ 366,1 miliar. Capaian ini mendudukkan negara tersebut sebagai negara berpendapatan tinggi.

Indonesia adalah negara demokratis terbesar ketiga di dunia dan negara mayoritas muslim terbesar di dunia. Peran aktif Indonesia dalam KAA, Gerakan Non Blok, dan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) memberikan nilai tersendiri bagi Indonesia di mata negara-negara Asia-Afrika. Indonesia dan sebagian besar negara Asia-Afrika selama ini memiliki kesamaan kepentingan, baik dalam bidang ekonomi maupun politik sehingga bisa dijadikan dasar motivasi untuk meningkatkan hubungan kerjasama.

Ketiga negara ini, Indonesia, India, dan Afrika Selatan adalah jembatan yang paling tepat menghubungkan negara-negara Asia-Afrika. Kekuatan ekonomi non-blok Asia-Afrika dapat menjadi kekuatan ekonomi baru selain hegemoni ekonomi dari AS, China, dan negara-negara kaya lainnya.

Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi mengatakan bahwa Asia is engine of global growth, dan Africa is continent of hope. Negara-negara di kedua benua ini ke depannya harus menjalin investasi dua arah yang saling menguntungkan satu sama lain. Saatnya negara-negara Asia-Afrika berkolaborasi dan mewujudkan cita-cita bersama yang dirangkum Presiden Soekarno pada pidato pembukaan Konferensi Asia Afrika, 60 tahun silam. Let a New Asia and a New Africa be Born!


*Penulis saat ini sedang menyelesaikan magister di Studi Pembangunan ITB dan merupakan Direktur Eksekutif Centre for People Studies and Advocation (CePSA)

Saturday, 19 April 2014

Rela Mati untuk Sahabat

Kelahiran Yesus (Isa Al Masih) ke dunia bertujuan utk membawa kedamaian di tengah dunia. Manusia telah jatuh ke dalam dosa, dan kehilangan kemuliaan Allah. Manusia semakin jauh dari kebenaran, dan berteman akrab dengan kejahatan.

Dosa manusia telah menyebabkan kehidupan di bumi jauh dari ideal Allah. Kehidupan bumi yang seharusnya penuh dengan sukacita, kebahagiaan, kedamaian, keadilan, dan keindahan justru diisi dengan peperangan, kemiskinan, sakit-penyakit, dan ketidakadilan.

Yesus datang mengajarkan bagaimana kebenaran dan kebaikan yang sebenar-benarnya, sehingga kedamaian dapat kembali tercipta di tengah bumi. Yesus mengajarkan dan mencontohkan juga ajaran-Nya itu melalui kehidupan-Nya.

Yesus peduli kepada janda dan anak-anak, kelompok manusia yang disepelekan oleh masyarakat. Yesus menunjukkan kasih-Nya kepada para pemungut cukai dan pelacur, mereka yang dianggap manusia yang penuh dosa. Yesus juga menolong para penderita kusta, orang-orang yang dikucilkan dan diusir dari kota. Yesus juga menyembuhkan penyakit dari berbagai lapisan masyarakat. Dan Yesus juga melawan pengajaran yang tidak benar dari para Ahli Taurat dan orang Farisi.

Kematian-Nya adalah salah satu titik puncak pengorbanan-Nya. Dia dihakimi, disiksa, dan disalibkan utk kesalahan yang tdk pernah diperbuat-Nya.

Tiada kasih yang lebih besar dari kasih seseorang yang rela mati untuk sahabatnya.

Terima kasih Yesus atas pengorbanan dan kematian-Mu. Engkau telah mengajarkan kepada kami, bagaimana seharusnya yang dilakukan orang benar; rela berkorban bahkan nyawa demi orang-orang lain.

Engkau telah mengajarkan, HIDUP adalah KEBENARAN, dan MATI adalah KEUNTUNGAN.

Kiranya DAMAI bisa dirasakan semua orang di muka bumi, ketika setiap orang bisa saling berkorban demi orang lain.

Kiranya DAMAI bisa hadir di tengah bumi, ketika orang-orang baik tidak hanya memilih diam, tapi juga berusaha berbuat kebaikan.

Kiranya DAMAI memenuhi setiap kehidupan, ketika kebobrokan dilawan oleh para orang baik yang berjuang membela kebenaran dan keadilan, ketimbang sekedar meneriaki kegelapan dan ketidakadilan.

Sudikah kita memperjuangkan kebenaran bagi sesama kita?
Maukah kita saling berkorban satu sama lain demi kebahagiaan bersama?
Siapkah kita mengatakan HIDUP adalah KEBENARAN dan berjuang bersama melawan kebobrokan yang ada di sekitar kita?

"Apapun yang kau ingin orang lain lakukan terhadapmu, lakukanlah terlebih dahulu hal itu kepada orang lain," sabda Yesus.

Damailah Indonesia...
Damailah negeriku...
Selamat merefleksikan Jumat Agung...

Wednesday, 26 December 2012

Damai Natal, Damai Indonesia




Tahun ini kembali memperingati hari kelahiran Yesus Kristus, Isa Al-masih. Berbeda dengan Natal beberapa tahun terakhir dimana dapat merayakan Natal bersama keluarga di Medan, kali ini harus merayakannya bersama teman-teman di Bandung. Suasana Natal di tengah keluarga yang dikasihi pun batal dirasakan, namun Natal tahun ini tetap memberikan banyak makna dan pembelajaran baru, dan kali ini menyinggung tentang ‘damai’.

Seringkali kita terlibat pertikaian dengan orang lain. Sakit hati, dendam, kekecewaan, amarah, dan banyak hal lainnya menjadi biang keladi dari permusuhan, dan kedamaian seakan jauh dari kehidupan kita. Kita bertikai dengan teman, guru, tetangga, bahkan keluarga atau orangtua kita sendiri. Alasan pembenar kita pun klasik, kita hanyalah manusia biasa yang pasti juga bisa sakit hati dan marah. Wajar kalau sesekali terlarut dengan emosi diri.

Yesus, Sang Bayi Pendamai lahir ke dunia untuk memberikan kasih dan membawa kedamaian bagi setiap orang. Dia datang bukan hanya untuk mengajarkan apa kasih itu, tapi juga menunjukkan melalui kehidupannya. Dia hidup di dunia bukan hanya untuk meminta manusia mewujudkan kedamaian, tapi juga melakukannya, meruntuhkan setiap tembok yang berusaha membelenggu tegaknya kedamaian di tengah kehidupan manusia.

Dia mendamaikan perselisihan antara orang Yahudi dan orang Samaria dengan meminum air dari timba perempuan Samaria. Yesus mendamaikan para penderita kusta dengan masyarakat Yahudi yang terikat hukum adat dimana para penderita kusta harus disisihkan dan dikeluarkan dari kota. Yesus juga memberi kedamaian kepada orang-orang yang dianggap sebelah mata; para pemungut cukai, pelacur, janda, anak-anak, orang buta, lumpuh, dan lainnya. Yesus menunjukkan bahwa kasih dan kedamaian harus dirasakan oleh setiap orang. Dan diakhir hidupnya, sebagai puncak dari perjalanan hidupnya, Yesus menjembatani hadirnya kedamaian antara manusia dengan Penciptanya. Yesus mendamaikan manusia dan Allah, dengan mati di kayu salib dan bangkit pada hari ketiga. Maka nyatalah bahwa kehidupan Yesus adalah kehidupan yang menghadirkan kasih dan damai antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam sekitarnya, dan paling utama, manusia dengan Allah.

Kembali kepada Natal tahun ini, kiranya kehidupan Yesus dapat menjadi pelajaran hidup yang akan kita lakukan dalam kehidupan kita. Mungkin selama ini mudah bagi kita untuk sakit hati, dendam, kecewa, dan marah kepada orang lain, tapi sejak kita mengenal dan memahami kehidupan Yesus maka semua itu tidak akan mudah lagi masuk dalam kehidupan kita. Sehingga genaplah keinginan Yesus Sang Pembawa Damai, bahwa setiap orang yang belajar dari kehidupanNya akan menjadi agen-agen pembawa kedamaian di setiap lingkungan di sekitar kita. Pembawa kedamaian yang bukan berarti diam (baca: ‘damai’) ketika ada masalah di sekitarnya. Namun berani bicara benar walaupun orang lain tidak suka dengan apa yang akan kita katakan, ataupun berani bertindak benar walau tidak sesuai dengan keinginan lingkungan kita. Karena Yesus berdamai bukan dengan diam melihat permasalahan, tapi berpikir, berbicara, dan bertindak melawan tirani; melawan orang Farisi, hukum adat, kematian, dan hal-hal lainnya.


Damai Natal, Damai Indonesia.
Kiranya kasih dan kedamaian yang kita rasakan selama masa-masa Natal ini tidak akan berlalu begitu saja ketika hari-hari sudah jauh meninggalkan tanggal 25 Desember. Semoga kasih dan kedamaian yang sudah diajarkan oleh Yesus 2000 tahun lalu, dapat juga hadir dalam kehidupan kita sehingga 364 hari ke depan, kasih dan kedamaian selalu terpancar dari kehidupan kita. Damai dan kasiih yang kita bagikan kiranya dapat menjadi damai bagi keluarga, teman, bangsa, dan negara kita. Tuhan menyertai kita semua.
Damai Natal, Damai Indonesia. Selamat Natal bagi kita semua.

Refleksi Dies Natalis 1 abad Student Christian Movement of Srilanka (Gerakan Mahasiswa Kristen Srilanka)


So what does peace mean in this savage, corporatized, militarized world? What does it mean in a world where a entrenched system of appropriation has created a situation in which poor countries, which have been plundered by colonizing regimes for centuries, are steeped in debt to the very same countries that plundered them and have repay that debt at the rate of 382 billion dollars a year?

What does peace mean in a world in which the combined wealth of the world’s 587 billionaires exceeds the combined ross domestic product of the world’s poorest countries? Or when rich countries –that pay farm subsidies of a billion dollars a day- try and force poor countries to drop their subsidies?

What does peace mean to people in occupied Iraq, Palestine, Kashmir, Tibet, and Chechnya? Or to the Aboriginal people of Australia? Or the origin of Nigeria. Or the Kurds in Turkey? Or the Dalitis and Adivasais of India? What does peace mean to women in Iran, Saudi Arabia and Afghanistan?

What does it mean to the millions who are beiing unprooted from their lands by dams and development projects? What does peace mean to the poor who are being actively robbed of their resources and for whom everyday life is a grim battle for water, shelter, survival, and, above all, some semblance of dignity?
FOR THEM PEACE IS WAR.

We know very well who benefits from war in the age of Empire is the Corporate-Military cabel. But we must also ask ourselves honestly who benefits from peace in the age of Empire? War mongering is criminal, but talking of peace without talking of justice could easily become advocacy for a kind of capitalism. And talking of justice without unmasking the institutions and the systems that perpetrate injustice, is beyond hypocritical.

It’s easy to blame the poor for being poor. It’s easy to believe that the world is being caught up in an escalating spiral of terrorism and war. That’s what allows the American President to say: “You’re either with us or with the terrorists.” But know that terrorism is only the privatization of war. That terrorists are the free marketers of war. They believe that the legitmateuse of violence is not the sole prerogative of the state.

It’s mendacious to make moral distinctions between the unspeakable brutality of terrorism and the indiscriminate carnage of war and occupation. Both kinds of violence are unacceptable. We cannot support one and condemn the other.

The real tragedy is that most people in the world are trapped between the horror of a punitive peace and the terror of war. Those are the two sheer cliffs w’re hemmed in by. The question is: How do we climb out of this crevasse?

bersama teman2 Student Christian Movement se-Asia Pasifik

Monday, 18 April 2011

Solidaritas Keberagaman


Sebuah sikap solidaritas kepada saudara-saudara GKI Taman Yasmin, HKBP Cikeuting, Ahmadiyah, dan saudara-saudara lainnya di bumi Indonesia yang sedang menghadapi permasalahan keberagaman.

Salam damai Indonesia,

65 tahun yang lalu, bahkan sekarang hampir 66 tahun, Indonesia mengalami beratnya perjuangan meraih kemerdekaan.
Para pejuang bahu membahu melawan penjajahan dan harga mempertahankan kemerdekaan itu tidak murah.
Darah beribu-ribu orang telah tercucur.

Apakah darah itu hanya milik satu ragam manusia saja?
Atau hanya milik satu etnis penduduk Indonesia?
Jelas tidak.
Sejarah telah menjadi saksi dari perjuangan beragam manusia, manusia Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.
Ada suku Aceh, Batak, Melayu, dan lainnya di Pulau Sumatra.
Ada suku Jawa, Sunda, Madura, dan suku lainnya di Pulau Jawa.
Dan berpuluh-puluh suku lainnya di seluruh Indonesia yang setiap darah dari manusianya telah berkontribusi nyata bagi kemerdekaan yang kita nikmati sekarang.
 Suku Dayak dan lainnya di Kalimantan.
Suku Toraja dan suku-suku lainnya di Sulawesi.
Beragam suku di Maluku dan Papua, serta suku-suku di kawasan Nusa Tenggara.
Tidak lupa juga orang Tionghoa, India, dan lainnya yang walaupun suku pendatang di Indonesia, tapi juga memiliki jiwa Indonesia yang tidak kalah dari suku-suku asli.
Beragam agama juga ikut mempertahankan kemerdekaan.  Orang Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan agama, kepercayaan lainnya ikut berdiri bagi bangsa.
Darah mereka semua telah jatuh ke bumi pertiwi, ke tanah tempat kita berpijak sekarang.

Apakah setelah mereka mati, jasad dan darah mereka  terpisah menurut ragam, etnis, suku, dan agama mereka?
Jelas tidak!!
Darah mereka semua mengalir bersama dengan bangganya, ke tanah air yang kita injak sekarang.
PERSATUAN ITULAH YANG MENJADI JAWABAN ATAS KEMERDEKAAN INI!!!

Saya seorang beragama Kristen. 22 tahun lalu saya dilahirkan dari kandungan ibu saya. Tapi sebelum saya mengetahui fakta bahwa saya seorang Kristen, saya terlebih dahulu telah menjadi orang Indonesia. Hal ini jelas. Saya seorang Kristen, Kristen Indonesia.
Begitu juga saudara-saudara saya yang lain. Islam Indonesia, Katolik Indonesia, Budha Indonesia, Hindu Indonesia, Aceh Indonesia, Batak Indonesia, Jawa Indonesia, Tionghoa Indonesia, Toraja Indonesia, Asmat Indonesia, dan beragam Indonesia lainnya.
PERBEDAAN ITU BUKAN UNTUK DIBANDINGKAN, TAPI DISANDINGKAN!!!

Masih banyak permasalahan-permasalahan di Indonesia yang belum selesai. Dari Sabang sampai Merauke dipenuhi permasalahan kemiskinan, ketidakadilan, korupsi, dan banyak permasalahan lainnya.
Kota-kota besar dan kecil banyak menghadapi permasalahan yang berlarut-larut.
Sudah bukan saatnya untuk membuat permasalahan yang dulunya justru adalah jawaban dari permasalahan-permasalahan yang ada.
Rakyat Indonesia sudah terlalu banyak mengeluarkan air mata menghadapi segala permasalahan kemiskinan, ketidakadilan, dan lainnya dan TANGISAN ITU JANGAN DITAMBAHKAN LAGI DENGAN PERMASALAHAN KEBERAGAMAN INI!!!

PERSATUAN ITULAH YANG DULU MENJADI JAWABAN ATAS KEMERDEKAAN, DAN SEKARANG KAMI YAKINI JUGA MERUPAKAN JAWABAN ATAS PERMASALAHAN-PERMASALAHAN YANG ADA DI INDONESIA KITA TERCINTA INI!!!!

Pemerintah, para pimpinan yang telah dipilih oleh suara rakyat harus tegas menyikapi hal ini. Setiap pelanggaran yang ada tidak boleh ditoleransi, tapi harus dikenakan hukuman yang jelas.
Tunjukkan ketegasan kalian!!

Wahai para pemimpin rakyat, masih pahamkah kalian dengan salah satu nilai yang ada di dalam demokrasi, DARI RAKYAT, OLEH RAKYAT, UNTUK RAKYAT???
Apakah kalian lupa, bahwa kalian berasal dari kami, kamilah yang memilih kalian, dan kami menunggu perubahan-perubahan besar yang bisa kalian lakukan untuk membuat bangsa ini bisa semakin baik lagi.
Bukan hanya kemajuan kalian, keluarga kalian, ataupun kelompok-kelompok kalian,
Tapi kemajuan kita sebagai bangsa, kita sebagai bangsa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Kami menunggu ketegasan kalian wahai para pemimpin yang kami hormati dan cintai.

Ingat,
Persatuan itulah yang dulu menjadi jawaban atas kemerdekaan, dan sekarang kami yakini juga merupakan jawaban atas permasalahan-permasalahan yang ada di Indonesia kita tercinta ini!!!!


Ingat,
Setiap ragam saudara-saudara yang sedang mengalami diskriminasi saat ini juga merupakan bagian dari bangsa Indonesia ini.
Saya yakin, kami yakin, semangat, keinginan, dan darah mereka juga tidak kalah dari ragam saudara-saudara lain yang tidak terdiskriminasi dalam berjuang mengisi kemerdekaan dan membangun bangsa yang kita cintai ini...

Hidup keberagaman,
Hidup kebebasan umat beragama,
Hidup persatuan Indonesia,
Hidup Bhinneka Tunggal Ika,

Jaya selalu Negara Kesatuan Republik Indonesia!!!!

MERDEKA!!!!