inspirasi

inspirasi

Friday, 12 August 2011

Umurnya Tidak Jauh Dari Kita, Wolter Monginsidi

Robert Wolter Monginsidi nama lengkapnya. Kita sering menyebut nama ini ketika sedang mencari alamat rumah ataupun tempat, namun sangat disayangkan, kita jarang mendengar kisah apa yang ada di balik nama itu. Kita tidak mengetahui begitu indah cerita perjuangan dan pengorbanan dari sang Pahlawan Nasional, Pahlawan dari Tanah Minahasa.

Dilahirkan di tanah air tempat dia memberikan hati, pikiran, dan raganya pada 14 Februari 1925, di Malalayang, Manado. Gugur sebagai patriot di Pacinang, Makassar, 5 September 1949. Umurnya tidak sampai 25 tahun, sangat muda dan masih banyak hal yang seharusnya bisa dilakukannya, tapi pilihan untuk membela rakyat, bangsa, dan negara yang dicintainya membuatnya harus mati muda. Pilihan itu sendiri tidak diambilnya dengan setengah hati. Rela berkorban, sukacita, berani, dan ikhlas, justru itu yang terbersit di akhir hayatnya.

Berikut pesan dan kata yang diungkapnya kepada orang-orang terdekatnya, baik itu kala perjuangan membela ibu pertiwi, juga di saat-saat terakhir menumpahkan darah di tanah kecintaannya, Indonesia.

Pesan ini disampaikannya kepada Opie, adiknya. Bukti ketegaran dan keberaniannya yang tidak gusar menghadapi hari kematiannya.

"Apa yang saya bisa tinggalkan hanya rohku saja, yaitu roh setia hingga terakhir pada tanah air dan tidak mundur sekalipun menemui rintangan apa pun, menuju cita-cita kebangsaan yang tetap. Terbatas dari segala pikiran ini, junjunganku senantiasa Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan dengan kepercayaan yang tersebut belakangan ini sangguplah saya tahan segala-galanya, teguh iman di dalam kesukaran, tenang ketika keadaan sederhana dan tidak melupakan kenalan-kenalan jika berada dalam kemajuan. Ingatlah adikku bahwa kepergianku ini bukan jalan yang berbeda dengan yang lain. Perpisahan duniawi membawa manusia masuk ke pertemuan yang kekal. Sekalipun begitu gembira dalam hidup sebab itu pun pemberian Tuhan Yang Tertinggi di dunia."

Sebuah surat disampaikannya kepada teman baiknya, Milly Ratulangi, anak perempuan dari tokoh besar lain, pahlawan nasional Sam Ratulangi. Surat itu berisikan rasa masih ingin berjuang, di tengah kematian yang menanti. Betapa besar kecintaannya kepada tanah tumpah darahnya.

"Aku tidak mengandung perasaan tidak baik terhadap siapa pun, juga terhadap mereka yang menjatuhkan hukuman yang paling berat ini kepadaku karena kupikir mereka tidak mengetahui apa yang mereka kerjakan.... Untuk Tanah Air, saya sudah bulatkan hati menghadapi saat ini. Ah, Milly, apa yang saya hendak tinggalkan buat teman-temanku yang pernah mengenal kepadaku? Perjuanganku terlalu kurang tapi sekarang Tuhan memanggilku. Rohku saja yang akan tetap menyertai pemuda-pemudi.... semua air mata dan darah yang telah dicurahkan akan menjadi salah satu fondasi yang kukuh untuk tanah kita yang dicintai, Indonesia."

Darahnya juga tertumpah beberapa hari kemudian, menjadi fondasi, tiang yang kokoh, menyokong kehidupan kita saat ini di Tanah Air yang dicintainya, dan juga SEHARUSNYA kita cintai.

Kepada adiknya, Robbie, dia tidak lupa memberikan didikan dan ajaran.
Suratnya,

" ... bahwa sedari kecil harus tahu terima kasih, tahu berdiri sendiri ... belajarlah melihat kepahitan! ... Belajarlah bekerja mulai dari 6 tahun! ... Dan jadilah contoh mulai kecil, sedia berkorban untuk orang lain ... Untuk mengingat-ingat itu susah. Semua tidak ada yang gampang tapi terlalu susah pun tak ada juga. Bermain dengan temanmu, bekerja di kebun, bertanam, mencintai hasil usaha sendiri, menjadi penolong bagi kakakmu yang lebih tua, menjadi pembela dari yang lemah dan miskin, hormat pada orang tua, tahu mengaku bila bersalah, jangan mendapat sesuatu dengan jalan gelap dan sebagainya. Itulah, harus jadi darah dagingnya. Bekerjalah untuk kepentingan lain orang sedapat bisa. Itu bukan membuang tenaga percuma! Dan jadilah engkau sebagai adik dari kakakmu!"

Betapa luhur pikirannya. Betapa lurus jalannya. Dan kisahnya terbenam, hanya sebatas alamat jalan. Miris. Sangat disayangkan. Masih adakah Mongonsidi-Mongonsidi muda yang akan menggantikan tokoh bangsa ini?

Kata-kata Mongonsidi kepada keluarganya, lagi-lagi sebagai bukti nyata perpaduan keyakinannya yang teguh dengan kecintaannya kepada bangsanya.

"Saya telah relakan diriku sebagai korban, dengan penuh keikhlasan memenuhi kewajiban buat masyarakat kini dan yang akan datang. Pengertian tanah air Indonesia buat saya sendiri hampir-hampir saja sebagai suatu wujud yang berbentuk nyata sekali. Saya penuh percaya bahwa berkorban untuk tanah air mendekati pengenalan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Betapa kasihku kepada kamu sekalian dan kepada sukuku dan bangsaku tidaklah dapat kukatakan dengan kata-kata!"

Betapa dalam kecintaannya. Betapa kuat keyakinannya. Betapa tinggi.

Kisah, surat, dan tulisan ini saya kutip dari bab Menyumbang Pemimpin, buku Bangkit Memandu Bangsa karya Samuel Tumanggor. Beliau mengutipnya dari buku Jejak Kaki Wolter Mongonsidi: Sebuah Kisah Perjuangan karya S. Sinansari Ecip.

Alkisah mata sang penulis berkaca-kaca ketika menyalin kata-kata Mongonsidi, begitu juga saya ketika membaca dan menuliskan segelintir dari kisahnya. Kagum dan haru. Betapa besar tokoh ini!
Umurnya belum sampai 25 tahun ketika ajal menjemputnya, hanya berbeda dua tahun dari umur saya sekarang. Tapi pemikiran, kedewasaan, idealismenya sangat jauh, tidak dapat dibandingkan dengan saya saat ini. Betapa dalam, betapa kuat, betapa tinggi.
Menjalin dengan indah kecintaan kepada Tuhannya dan kecintaan kepada bangsanya, dan itu memang terpadu dengan baik melalui kisah hidupnya.


Sekali lagi saya bertanya, dan seharusnya kita bertanya, apakah masih ada Mongonsidi-Mongonsidi muda yang siap melanjutkan perjuangannya?

Ataukah kemapanan, kenyamanan, dan kemerdekaan ini telah membutakan kita dari 'penjajahan' yang masih terus berlangsung di tanah tumpah darah yang sangat dicintai Mongonsidi dan SEHARUSNYA sangat kita cintai juga?
Mari kita memikirkan dan menjawabnya bersama, wahai Mongonsidi-Mongonsidi muda yang sedang tertidur. Mari.

Terima kasih kepada b'sam yang telah mengenalkan tokoh ini kepada saya sehingga saya tidak sebatas mengetahui nama tokoh ini sebagai sebuah nama jalan di dekat tempat tinggal saya.


#Tulisan ini dibuat dalam rangka 17 Agustus, agar kita mengenang kisah para tokoh kita, yang telah memberikan fondasi kokoh untuk kehidupan yang kita jalani saat ini. Sudah SELAYAKNYA kita tidak terlena dengan kenyamanan, tapi tetap berjuang, melanjutkan kisah yang mereka rajut.

Sunday, 7 August 2011

Keledai Dungu

Keledai Dungu

Keledai dungu yang jatuh dua kali ke lubang yang sama dan tampaknya saya termasuk kategori itu.
-___-"


Dalam perjalanan hidup kita, banyak hal yang harus kita lalui. Tantangan, hambatan, dan masalah datang silih-berganti, banyak yang bisa kita atasi, namun terkadang ada juga yang gagal kita lewati.

Sering kali ketika gagal, kita mengevaluasi diri dan menyesali kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan saat menjalani permasalahan itu. Kita membuang waktu, bermalas-malasan, tidak cermat, dan banyak hal lainnya yang seandainya tidak kita lakukan, mungkin kegagalan itu tidak pernah terjadi dan keberhasilan yang akan kita raih. Kesal, sesal, rasa bersalah. Akhirnya rasa putus asa pun hadir mengalahkan optimisme. Ya, penyesalan selalu menampilkan dirinya di akhir acara.

Sering kali kegagalan menjadi sumbu terpuruknya seseorang lebih dalam ke lubang penyesalan. Antusiasme dan optimisme seakan menghilang. Ini persoalan pilihan apa yang kita ambil. Tetap terpuruk di dalam lubang, atau berusaha bangun, bangkit, dan melangkah kembali.

Seseorang pernah berkata, kegagalan adalah pintu awal menuju keberhasilan. Seorang lagi berkata, kesuksesan adalah petualangan dari kegagalan yang satu ke kegagalan yang lain tanpa kehilangan antusiasme. Ya, pilihan mana yang kita ambil, itu yang menentukan petualangan kita selanjutnya.

Terkadang, kita gagal di persoalan yang sama berkali-kali, layaknya keledai yang mungkin karena kepolosannya terjatuh di lubang yang sama berulang kali. Hal ini membuat kita semakin jatuh dalam penyesalan dan berpikir bahwa kita tidak mungkin sanggup menjalani ini semua. Apakah itu benar?

S. I. Hayakawa berujar, "perhatikan perbedaan antara apa yang terjadi bila seseorang berkata, 'Saya telah gagal tiga kali', dan apa yang terjadi bila ia berkata, 'Saya orang yang gagal'".
Thomas Alfa Edison, sang penemu lampu dan yang sama-sama kita tahu beratus kali mengalami kegagalan sebelum akhirnya penelitiannya berhasil juga berpesan, "banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan, saat mereka menyerah"

Jatuh dan bangkit, jatuh lagi dan bangkit lagi, jatuh berkali-kali dan bangkit berkali-kali. Selalu bangkit pada akhirnya.


Kebanggaan kita yang terbesar bukan karena tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setiap kita jatuh (Confusius)

Hanya mereka yang berani gagal dapat meraih keberhasilan (Robert F. Kennedy)


Sebenarnya apakah keberhasilan dan kesuksesan itu?

"Winning and success is not about what you get, but it's about what you give to other person and what lesson you get along the race.."


Walaupun kita gagal berkali-kali, Tuhan pasti akan selalu membuka jalan, pertanyaannya, apakah yang akan kita lakukan?

Tetap berjuang, dan selalu bangkit!!
:)

Thursday, 14 July 2011

Kisah, Kenangan, dan Kesan

Beratus kisah, beribu kenangan, berjuta kesan,
Itulah yang kurasakan bersamamu teman.
Aku berharap kau membaca tulisan ini hingga akhir.


November 2006,
Pelantikan di Dago Pakar saat itu menjadi awal rangkaian perjalanan yang kita lalui bersama di tempat sepasang kaki terhenti. Panitia Wisuda, Panitia PPAB, Panitia LKO, hingga diakhiri Panitia Lustrum dan Kepengurusan, ya, itu semua menjadi kisah, kenangan, dan kesan yang tak tergantikan dan banyak membentuk pemikiran dan karakter yang ada padaku sekarang. Nasi goreng ataupun sate padang Balubur, roti keju dan indomie Madtari atau Gembul, dan banyak tempat makan lain menjadi wahana kita berbagi cerita dan tawa. SC W-06 menjadi tempat kita berbagi suka dan duka. Hampir lima tahun berlalu sejak awal perjumpaan itu dan ya, semua itu mungkin akan sulit terulang lagi. Dimana ada perjumpaan pasti akan selalu ada perpisahan.


April 2008,
Lapangan di Punclut kala itu menjadi sebuah peralihan hubungan di antara kita teman. Dari yang mengkader dan dikader menjadi teman dan sahabat. Awal-awal perkenalan kita harus ditempuh dengan perjuangan dan tantangan, mungkin hanya beberapa kalian yang mengetahui hal ini, tapi itu justru semakin mempererat persahabatan di antara kita. Perbedaan angkatan tidak menjadi sebuah sekat pemisah. Tiga tahun lebih berbagi kisah denganmu teman, terlalu banyak kesan, dan itu mungkin tidak akan terulang, kembali aku menyadari, perjumpaan pasti harus diakhiri perpisahan, cepat ataupun lambat waktunya.


13 Juli 2011,
Kemarin merupakan akhir dari kisahmu di tempat sepasang kaki terhenti. Tempat itu sudah cukup lama menjadi tempatmu berhenti untuk memperkaya ilmu, melatih karakter, menjalin persaudaraan, dan sekarang tiba saatmu untuk melangkahkan kaki menuju dunia di luar sana. Ya, kurasakan juga keraguan dan kekuatiran di dalam dirimu, tapi tenang kawan, kau pasti bisa menjalani itu semua. Beratus tawa, salam, ucapan selamat, tangisan, dan doa telah diberikan kepadamu, itu bukanlah diberikan sembarangan, tapi kami berharap itu menjadi penguat untukmu melangkahkan kaki menuju komunitas baru yang mungkin belum terbayang olehmu.


13 Juli 2011,
Kemarin merupakan perpisahan antara dirimu dan kami semua. Bukan berarti kita tidak akan berjumpa lagi, mungkin besok pun kita masih berjumpa. Tapi malam itu lebih ke sebuah peringatan, bahwa perjumpaan kita mungkin tidak akan sesering dulu lagi. Sangat lucu malam itu, 2006 yang biasanya dikenal melankolis namun malam itu justru 2007 yang sanguin yang banyak mengeluarkan air mata. Bisa juga kalian menangis. Hehe. Ya, memang seperti itu teman, perpisahan itu memang seperti itu. Terkadang justru tangisan, bukan kata-kata, yang menunjukkan betapa besarnya ikatan persahabatan yang terjalin, betapa banyak doa dan harapan ditujukan kepadamu, dan itu dibuktikan tadi malam. Bukan berarti kita tidak akan berjumpa lagi teman, mungkin besok pun kita masih berjumpa.


14 Juli 2011 hingga seterusnya,
Saatmu untuk kembali menatap ke depan, merajut rangkaian jalan dan langkah di komunitas baru yang cepat atau lambat akan segera kau hadapi. Berat tantangan itu, sulit perjalanan itu, tapi yakinlah kau bisa menjalani itu semua. Sang Pencipta pasti akan selalu menjagaimu. Yakinlah akan rencanaNya kepadamu. Rencana indah pasti disematkanNya untukmu.


Banyak rintangan yang mungkin akan kau hadapi dalam perjalanan itu. Ketika kau butuh teman untuk mendengarkan keluh kesahmu menjalani itu semua, tidak perlu berpaling ke belakang kawan, kami semua tidak akan mungkin ada di belakangmu. Cukup menoleh ke kiri dan ke kanan, kami pasti ada disana, tetap ada menemanimu, memberikan tawa untuk setiap senyuman yang kau berikan, menyediakan telinga untuk setiap kisah yang kau ceritakan, dan siap memberikan pundak dan lengan apabila kau harus berhenti sejenak, beristirahat menghadapi tantangan besar yang sedang kau tempuh. Ingat, perpisahan itu mungkin ada, tapi persahabatan yang telah terjalin itu tidak akan selesai, dan akan terus berlanjut bahkan hingga hayat memisahkan kita.


Selamat berjuang teman, dan tema tadi malam bukanlah kebetulan diperuntukkan kepadamu. Bagaimanapun beban itu memang harus ada di pundakmu, dan aku juga nantinya, karena itulah yang memang coba diajarkan kepada kita di tempat sepasang kaki terhenti. Mencintai seni, budaya, dan Sumatera Utara itu sendiri yang nantinya akan berbuah menjadi tindakan di kala kita sudah selesai menjadi mahasiswa. Dan kau sudah selesai menjadi mahasiswa bukan, itu berarti kecintaanmu harus berbuah menjadi tindakan. Ini juga doa dan harapanku kepadamu teman.


Sukses selalu untukmu teman, semoga bisa merajut perjalanan terbaik yang direncanakanNya untukmu. Ingat, cukup menoleh ke kiri dan ke kanan, kami pasti ada disana karena persahabatan adalah salah satu anugerah terindah yang Tuhan berikan kepada manusia, begitu juga bersahabat denganmu teman.

Beratus kisah, beribu kenangan, berjuta kesan,
Itulah yang kurasakan bersamamu teman.


Salam hangat,
smps, 14 juli 2011

Friday, 1 July 2011

Berita Hari Ini


BERITA HARI INI

1 Juli 2011.

Berita hari ini.
Di Garut ditemukan satu keluarga yang menderita lumpuh. Emun (55) beserta ketiga anaknya, Adah (30), Aah (28), dan Yudi (21) mengalami kelumpuhan sejak beberapa tahun yang lalu. Keseharian mereka hanya diisi dengan berbaring di tempat tidur. Selama ini, Haryati (50), istri Emun yang merawat suami dan ketiga anaknya. Keempat penderita kelumpuhan ini tinggal dalam satu panggung yang tampak kumuh dan tidak terurus.

Berita hari ini.
Seorang mantan anak jalanan mendirikan sekolah gratis di kawasan Terminal Depok. Pada tahun 2000, Nurrohim sengaja mendirikan tempat belajar di beranda mesjid Terminal Depok. “Tak ada diskriminasi dalam pendidikan”, katanya dengan semangat. Tidak hanya anak jalanan, pengamen dan anak putus sekolah dari keluarga tidak mampu ikut bergabung menimba ilmu di sini dengan jumlah saat ini mencapai dua ribu orang mulai dari tingkat usia dini hingga SMA.
Biaya operasional sekolah gratis ini semula dari warung milik Nurrohim, tapi kini ada bantuan juga dari badan zakat, dan penjualan barang rongsokan. Pengajarnya adalah relawan yang rela mengajar tanpa pamrih/tidak dibayar. Meski begitu mereka bangga bisa berbuat sesuatu untuk sesama. Usaha Nurrohim tidak sia-sia, beberapa anak berhasil mendapatkan beasiswa ke luar negeri, ataupun diterima di perguruan tinggi negeri. Terbentang angan Nurrohim untuk membangun rumah sakit dan perguruan tinggi yang semua tenaga dan anak didiknya direkrut dari anak-anak jalanan dan kurang mampu.

Berita hari ini.
Empat orang TKI asal Lampung terancam dihukum gantung di Malaysia. Menurut Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Lampung, Setiojo, keempat TKI  ini diancam hukuman mati akibat tuduhan pengeroyokan hingga mati terhadap seorang preman atau perampok di Negara Bagian Perak Malaysia. Proses hukum keempat WNI yang diketahui menjadi TKI secara ilegal ini telah berlangsung setahun terakhir ini.

Berita hari ini, sebagian besar masyarakat petani di beberapa kecamatan Kabupaten Mojokerto, saat ini sedang dilanda keresahan. Pasalnya tanaman padi milik para petani terancam gagal panen karena sedang diserang hama wereng. Hal ini menimbulkan rasa khawatir dan keresahan bagi para petani. Bila hama ini tidak segera diatasi, maka akan menimbulkan gagal panen secara massal di kawasan ini. Persediaan padi dan beras akan terancam, dan perekonomian para petani juga akan terganggu.

Berita hari ini.
Perdana Menteri Perancis, Francois Fillon mengungkapkan kekagumannya akan budaya Indonesia. Hal ini disampaikan saat memberi Kuliah Umum di Universitas Indonesia, hari ini.
“Leluhur orang Indonesia banyak meninggalkan monumen-monumen yang indah seperti Borobudur dan Prambanan. Bangunan yang juga merupakan peradaban dari bangsa ini. Hasil peradaban tersebut telah menjadi sebuah warisan budaya yang beragam dan sukses menjadi daya tarik bagi para turis, di antaranya 150 ribu orang Perancis. Karena itu, sudah semestinya dijaga,” kata Fillon. “Saya sangat bangga karena daerah di Indonesia memiliki kekhasan dari satu etnis, satu provinsi bahkan satu pulau dimana tempat tinggal, produksi, adat istiadatnya merupakan juga peninggalan yang tidak dapat dipungkiri,” ungkap Fillon.

Berita hari ini.
Kasus century, mafia peradilan, dan lainnya masih teronggok tanpa kejelasan kapan akan diselesaikan. Nasib korban Lapindo masih terkatung-katung. Pegawai Freeport berdemo di Papua meminta kenaikan gaji. Korban bencana alam Tarutung masih menanti uluran tangan dari pemerintah dan masyarakat. Beribu TKI menanti namanya dipanggil oleh peradilan Arab Saudi. Tempe, jengkol, Reog Ponorogo, dan batik telah diklaim/dipatenkan oleh negara asing dan budaya/milik Indonesia lainnya telah siap untuk diklaim juga.

Berita hari ini,
Beribu siswa SMA telah lulus SNMPTN dan siap menempuh pendidikan di universitas. Beribu lulusan universitas telah siap menempuh kehidupan di dalam masyarakat. Sebuah kabupaten di Kalimantan memberikan jaminan kesehatan gratis dan pendidikan gratis hingga SMA kepada penduduknya. Beberapa orang mahasiswa melakukan pendidikan gratis kepada anak jalanan di pinggiran kota Bandung. Seorang dokter mengadakan pengobatan gratis bagi penduduk yang tidak mampu. Kekayaan budaya Indonesia diakui kancah internasional.

Berita hari ini,
Masih ada kebaikan, semangat, dan kejujuran di Indonesia kita tercinta yang siap mengalahkan dan mengenyahkan kebobrokan, kemiskinan, dan ketidakadilan dari bumi Sabang-Merauke. Masih ada anak-anak pertiwi yang memiliki keinginan untuk membangun negeri, merintis jalan menuju kebangkitan dan membuka pintu-jendela keadilan, menghidupkan lagi aroma tawa dan sukacita dari setiap anak bangsa, setiap manusia yang bertanah-airkan merah putih.

Berita hari ini.
Masih ada anda dan saya, yang pada waktu selanjutnya akan mengisi “berita hari ini”. “Berita hari ini” manakah yang akan anda dan saya akan pilih? “Berita hari ini” yang memberikan kesesakan dan tangis bagi anak bangsa yang lain? Ataukah “berita hari ini” yang akan memberikan harapan dan tawa bagi setiap orang yang membacanya? Keputusan itu ada di tangan anda dan saya.

Berita hari ini.
Jalan menuju kemajuan/kemunduran bangsa telah ada sejak lama dan siap ditempuh siapa saja. Jalan mana yang anda dan saya tempuh? Jalan menuju kemajuan yang telah ditempuh para tokoh besar Indonesia, Nurrohim, ataupun sang dokter? Atau jalan menuju kemunduran yang telah ditempuh para koruptor ataupun mafia peradilan?
Semoga langkah dan pilihan yang anda dan saya ambil akan membawakan sukacita dan kesenangan bagi siapapun yang merasakannya. Semoga.
Selamat menjalani “berita hari ini”.
^^

*Berita-berita di atas diambil dari kompas.com dan liputan6.com


 

Thursday, 23 June 2011

Kisah Dokter Yo, Penolong Pasien Miskin di Malang

Beberapa bulan lalu melihat sebuah link di satu jejaring sosial. Ketika membukanya, ternyata link tersebut mengisahkan tentang pengabdian seorang dokter di Malang, Dokter Yo nama beliau. Berprofesi sebagai dokter tidak membuat beliau jauh dari masyarakat menengah ke bawah, melainkan justru membuatnya tersentuh tentang kondisi realita yang terjadi di masyarakat sekitarnya. Usaha-usaha dilakukannya untuk melakukan sesuatu bagi mereka. Mulai dari menyekolahkan ratusan anak-anak, pelatihan tarian, perbengkelan, dan hal-hal lainnya. Silakan membuka link ini kawan-kawan untuk mendengar dan melihat kisahnya lebih lanjut.

http://tv.liputan6.com/main/read/3/1048247/0/dokter_yo_penolong_pasien_miskin_di_malang

Beliau berumur 70 tahun ketika liputan ini dilakukan. Jelas, pengabdian sebagai dokter, bidang profesi yang digelutinya dilakukan dengan penuh ketulusan.
Masih adakah dokter-dokter lain yang memiliki pengabdian seperti beliau?
Bagaimana apabila tiba saat ketika beliau harus sampai di ujung jalan pengabdian dan harus kembali menghadap Sang Khalik?Apakah masih ada dokter-dokter lain, ataupun manusia-manusia lain di bidang profesinya masing-masing yang memiliki pengabdian tulus yang sama, yang meneruskan apa yang telah dilakukannya??

Pertanyaan-pertanyaan ini sempat keluar dari benakku pada saat membuka link ini pertama kali.

----------------------------------------------------------------------------------------
---------------------


Tadi malam secara kebetulan menemukan link ini dan secara iseng membuka link itu lagi. Membaca sebuah komentar, dikirim pada tanggal 15 April 2011 yang menyampaikan sebuah informasi yang membuatku tertegun, sang dokter telah menyelesaikan tugas mulianya dan dipanggil menghadap Penciptanya pada tanggal 31 Maret 2011 lalu.
Kisah pengabdiannya telah berakhir dan meninggalkan kenangan indah bagi orang-orang yang mengenalnya.

Lagi-lagi timbul pertanyaan,
Apakah perjalanan pengabdian itu juga telah mencapai ujung jalan yang buntu, ataukah ada yang akan meneruskan jejak sang dokter?
Masih adakah yang akan melanjutkan langkah beliau, melakukan pengabdian bagi sesamanya melalui bidang profesi yang digelutinya?

--------------------------------------------------------------------------
--------------------------------

Semoga aku yang telah mengetahui jejak perjalanan sang dokter tidak hanya sebatas mengaguminya saja sebagai seorang tokoh yang menginspirasi, tanpa pernah berusaha menjadi seperti beliau. Semoga kelak aku dapat meniru apa yang telah dilakukan beliau.
Semoga juga akan bermunculan Dokter Yo - Dokter Yo muda, yang melakukan sesuatu di bidang profesinya masing-masing.
Semoga apa yang dilakukannya tidak berakhir.
Lagi-lagi semoga, semoga, semoga.
Ya, semoga kisah perjalanan itu masih akan terus dilanjutkan,

Tongkat estafet itu sekarang ada di tangan kita...

Sunday, 19 June 2011

Pejuang Gerhana

16 Juni 2011,  
malam dingin jadi saksi, 
hilang putri ayu malam di gemerlap cakrawala. 

           putra alam mengambil bagian,
           sembunyi sang putri untuk sejenak,
           dengan keperkasaannya,
           jauh dari para pemimpi malam.

putri ayu dan putra alam, 
bersenda-gurau berbagi kisah,
seakan hanya berdua, 
membiar sang fajar dan anak,
tersembunyi di gelapnya layar langit.

          para pemimpi berhenti bermimpi,
          mendongak kepala mencari tanda,
          menatap indah putri dan putra, 
          dalam pertemuan akrab dan intim, 
          saat sekali seabad.

dimana sang putri?
pergi sesaat untuk kembali,
memberi keayuan,
menarik sang fajar dan anak,
bersinar di gelapnya langit.

          dimana sang putra?
          kembali ke alam,
          meninggalkan sang putri,
          atau ditinggalkan?
          kosong dalam kehampaan. 

dimana pejuang gerhana? 
diam? 
tanpa kata?
berpaling?
selesai?

   atau

          dimanakah pejuang gerhana?
          kokoh?
          berjuang?
          melangkah?
          hingga akhir?

kemanapun pejuang gerhana,
para pemimpi melanjut mimpi,
berharap terjadi momen,
kembali perjumpaan antara,
sang putri ayu dan sang putra alam perkasa.


    can't be moved or over??

*tulisan ini dipersembahkan untuk seorang teman, pejuang gerhana, pria berinisial SS


16 Juni 2011
malam gerhana bulan
dini hari di kota Bandung

Saturday, 4 June 2011

Don't judge the book from its cover, man!

Don't judge the book from its cover!

Kalimat di atas sering kita dengar dalam obrolan ataupun tulisan. Dalam bahasa kita, kalimat di atas dapat diartikan jangan menilai sebuah buku hanya berdasarkan sampul depannya. Jelas, ini sebuah makna konotasi yang bisa diartikan ke dalam berbagai kondisi. Untuk kasus kali ini, saya memakai kalimat ini sebagai konotasi untuk perilaku dasar manusia yang terkadang menilai seseorang hanya berdasarkan tampilan luarnya saja.

Apa pendapat anda tentang seorang pria/wanita yang merokok? Apakah mereka anda nilai lebih rendah dari pada pria/wanita yang tidak merokok? Ya, saya bisa membaca pikiran anda. Tampaknya anda sepakat dengan penilaian itu. Pertanyaan saya, apakah anda dapat memastikan bahwa perilaku/sifat/sikap sang pria/wanita yang merokok itu juga jauh lebih rendah/hina dari pria/wanita yang tidak merokok? Kalau anda menganggukkan kepala anda, ya, sepertinya anda termasuk ke dalam komunitas orang yang menilai sebuah buku dari sampul depannya.

Seorang teman pernah bercerita kepada saya. Juniornya pernah bertanya kepadanya, apakah dia percaya Tuhan. Wow, pertanyaan yang sangat tajam. Saya tertawa ketika dia menyampaikan bagian itu kepada saya. Teman saya ini aktif dalam kegiatan pemuda di tempat ibadahnya. Dia juga aktif menulis tentang agama dikaitkan konteks dan sejauh yang saya kenal, kehidupan rohaninya juga baik. Bahkan saya yakin, juniornya juga mengetahui semua hal ini. Tapi kenapa pertanyaan itu bisa keluar? Dua hal yang belum saya sebutkan, teman tersebut penampilannya sedikit berantakan dan juga perokok. Ya, menurut saya pertanyaan itu muncul karena dua hal ini. Dan ternyata anda juga sepakat dengan pertanyaan itu? Apa yang dilakukannya, aktif di kegiatan pemuda, kehidupan rohani yang baik, dan aktif menulis menjadi sirna karena dua hal terakhir tadi? Anda mempertanyakan itu semua? Anda pikir dia melakukan itu semua supaya kelihatan hebat saja, agar kelihatan eksis di mata orang lain atau ikut-ikut teman saja?
Ya, kembali saya menuliskan, sepertinya anda termasuk ke dalam komunitas para penilai buku dari sampul depannya.

Saya mempunyai seorang sahabat. Awalnya saya tidak terlalu mengenalnya tapi seiring berjalannya waktu beberapa hal membuat kami sering bertemu dan saya pun semakin mengenal pribadi dirinya. Beberapa waktu yang lalu saya pernah mendengar cerita tentang dirinya dari orang lain. Kembali keluar pernyataan unik, bahwa sahabat saya ini bukanlah orang yang beragama. Wow, kembali lagi wow. Lagi-lagi ada orang yang mencoba menyamai Tuhan, menilai seseorang baik atau tidak baik, beragama atau tidak beragama. Sahabat saya ini seseorang yang aktif dalam berbagai hal, aktif di kampus dan komunitas lainnya. Dia juga baik di akademik. Setelah semakin mengenalnya, saya juga mengetahui kalau setiap malam dia sering membaca tulisan-tulisan tentang agamanya dan baik dalam mengatur penggunaan waktu dengan efektif. Dia memang tidak perokok, tapi hal yang belum saya sebutkan, sang sahabat juga memiliki penampilan yang agak berantakan dan banyak bergaul dengan orang yang tidak seagamanya dengannya. Ya, kembali fenomena itu terjadi. Para pengadil buku dari sampul depan!

Saya tidak bermaksud membela para perokok. Tidak, sampai saat ini saya belum berpikir ke arah sana. Tapi bukan berarti itu membuat saya lebih baik dari teman saya yang perokok. Nilai seseorang tidak cukup dilihat dari hal yang sangat kecil seperti itu. Masih banyak aspek-aspek kehidupan yang lebih bernilai tapi dikerdilkan karena satu hal ini saja.

Manakah yang lebih baik, seorang perokok atau pembohong? Menurut saya dan juga ajaran agama saya, tidak ada yang lebih baik, jelas keduanya tidak baik. Tapi karena merokok dilihat orang lain sementara berbohong tidak dilihat, hal ini ternyata berdampak besar pada penilaian terhadap seseorang. Seperti yang saya tuliskan, saya bukanlah seorang perokok. Orang lain juga tahu hal ini dan mungkin saya dikira baik. Tapi tahukah anda bahwa saya seorang pembohong? Bahkan beberapa hari yang lalu saya berbohong kepada teman saya. Tapi karena anda tidak melihat ini, anda mengira saya orang yang baik, sementara rekan saya yang sangat jujur tapi memiliki kebiasaan merokok langsung anda nilai lebih rendah dari saya. Ini sebuah pemisalan, tapi kenyataannya hal ini sering terjadi di tengah kita. Menilai seseorang dari apa yang kelihatan tanpa pernah berusaha mengenalnya dulu lebih dekat.

Masih banyak contoh/pemisalan lainnya. Apakah anda pernah memandang rendah seseorang yang pergi ke tempat ibadah dengan pakaian yang kata orang-orang ‘kurang kain’, atau ‘baju adiknya’? Ya, saya dulu pernah melakukan hal itu dan saya menyesalinya. Apakah anda dapat menjamin bahwa iman anda, ketaatan anda terhadap agama anda lebih baik dari orang tersebut? Tapi karena dia menggunakan pakaian yang minim anda langsung menilai dia rendah? Bahkan Tuhan yang saya sembah saja tidak akan pernah memikirkan hal itu. Saya teringat sebuah kalimat yang sering diucapkan Johannes Leimena yang merupakan sabda Tuhan yang disembahnya, "Siapa diantaramu yang tidak berdosa.. biarlah ia melempar batu terlebih dahulu...". Sepertinya sekarang ini semakin bertambah komunitas pelempar batu. Ah....

Terakhir saya membaca sebuah tulisan. Saya tidak tahu apa tujuan penulisannya tapi ada satu sudut pandang yang saya tangkap dari tulisan itu. Sang penulis mempertanyakan kondisi sekarang ini dimana semakin banyak orang yang mengajak orang lain untuk peduli kepada sekitar, membangun bangsa, ataupun hal-hal serupa lainnya. Yang dipertanyakan adalah apa motivasi dari itu semua? Apakah usaha eksis diri ataupun ikut-ikut teman? Ataupun euforia sesaat? Dan sang penulis juga mempertanyakan jangan-jangan itu semua dilakukan tanpa pernah memahami apa maksud itu semua? Bagaimana mungkin kita mau menjadi terang yang mencerminkan Tuhan ketika kita melupakan siapa itu Tuhan dan siapa diri kita sebagai Anak Tuhan?

Sebenarnya saya malas menanggapi hal-hal seperti ini. Menjawabnya akan kelihatan seperti usaha bela diri ataupun mencari alasan pembenaran. Tapi berkali-kali menahan diri akhirnya tidak tahan juga. Dua pernyataan saya, kenapa pertanyaan itu bisa keluar? Apakah karena orang yang mengajak orang lain itu kelihatannya tidak rohani? Mungkin dia kelihatannya tidak pernah ke persekutuan ataupun penampilannya berantakan dan akhirnya kita menilai bahwa apa yang dilakukannya itu hanya mengangkat nilai diri, ikut-ikut teman ataupun euforia sesaat?!

Siapakah kita sehingga kita bisa menilai motivasi seseorang itu baik atau tidak baik?! Dan pertanyaan “”bagaimana mungkin kita mau menjadi terang yang mencerminkan Tuhan ketika kita melupakan siapa itu Tuhan dan siapa diri kita sebagai Anak Tuhan?” menurut saya sama dengan pertanyaan-pertanyaan di paragraf-paragraf awal kepada teman dan sahabat saya, “apakah percaya Tuhan?”

Apakah seseorang harus KELIHATAN baik, rohani, kudus, rajin beribadah, punya adik persekutuan, dan lainnya baru bisa mengajak orang lain peduli kepada sekitar, membangun bangsa, dan lainnya. Kalau memang harus KELIHATAN seperti itu, wow, lagi-lagi-lagi WOW!, sepertinya sampul depan setiap orang haruslah sama, KELIHATAN baik, rohani, kudus, dan lainnya.

Apakah memang begitu? Sepertinya pertanyaan ini tidak perlu saya jawab karena sepertinya sang penulis ataupun anda yang berpikiran sama dengan sang penulis sudah tahu jawabannya karena mengenal Tuhan lebih baik dan menjalin hubungan dengan Tuhan lebih baik dari teman dan sahabat yang saya sebutkan di paragraf-paragraf awal dan juga termasuk dibanding saya sendiri. Anda sepertinya lebih rajin membuka kitab suci agama anda ataupun berdoa kepada Tuhan anda. Kami sepertinya KELIHATAN tidak seperti itu. Ya, hak anda untuk menilai seperti itu, tapi sekali saya membaca kitab suci agama saya, dan sepertinya sama dengan kitab suci yang anda baca, jelas di sana tidak ada ayat yang membenarkan pemikiran anda itu. Tapi mungkin karena saya hanya membaca sekali saja sementara anda berkali-kali, ya mungkin seperti itu. Maafkan ke-soktahu-an saya.

Satu kalimat yang berhasil saya kutip dari kitab suci itu, "Siapa diantaramu yang tidak berdosa.. biarlah ia melempar batu terlebih dahulu...".

Akhir kata, Don't judge the book from its cover, man!


*maafkan saya kalau saya mungkin sedikit terbawa emosi ketika menuliskan tulisan ini. Anda yang saya maksud disini tentunya bukanlah anda. Tapi anda yang saya maksud adalah anda yang berpikiran sama dengan anda yang saya tuliskan di tulisan ini. Bingung ya? Ya, intinya tulisan ini hanyalah fiksi belaka yang berdasarkan kisah nyata. Apalagi ini maksudnya? ^^