inspirasi

inspirasi

Wednesday, 1 May 2013

Sebuah Cerita Tentang Berbagi


Akhirnya aku menyelesaikan Pertemuan Wilayah 13 bersama Korwil 13 dan saudara2 BPC se-wilayah 13. Hari-hari yang luar biasa dan aku banyak mendapat inspirasi.
Berdosalah aku jika tidak membagikan inspirasi yang aku dapat dari saudara2 GMKI di sini, paling tidak melalui media sosial ini.

Dengan tantangan yang mereka hadapi: harus bekerja dan kuliah sambil melayani di GMKI, mereka masih bisa melakukan pengabdian bagi masyarakat. Teman2 GMKI Dumai mengadakan les gratis Rumah Pintar bagi anak2 di sekitar sekretariat mereka.Padahal teman2 ini juga harus bekerja dan berkuliah. Kegiatan ini rutin dilakukan tiap minggu di sekretariat mereka dan diikuti 20-50an anak kecil.

Teman2 GMKI Pekanbaru juga ternyata mengadakan program bina anak utk mengajar anak2 kecil di daerah Pasir Putih, Pekanbaru. Teman2 ini mengajar di 3 titik dan rutin dilaksanakan minimal 1 x 2minggu. Padahal mereka juga sama seperti kita, harus memikirkan kuliah dan kesibukan lain.

Tidak berhenti di situ, teman2 GMKI Tanjung Pinang juga melakukan hal sama,mengadakan bimbingan belajar gratis untuk anak2 kurang mampu. Pendidikan menjadi sorotan utama dari ketiga cabang ini. Pendidikan memang menjadi salah satu faktor penting meningkatkan kehidupan. Ketimbang meneriaki kegelapan ataupun menunggu orang lain menyalakan lilin, mereka lebih memilih menjadi lilin itu sendiri. :) Pilihan yang jarang diambil di tengah sibuknya aktivitas mahasiswa saat ini, hedonisme yg semakin marak dalam kehidupan mahasiswa, dll. Mereka yang hanya puluhan orang saja dapat memberikan perbedaan. Tidak dapat membayangkan kalau semua mahasiswa punya keinginan yang sama. Pasti luar biasa!

Teman2 GMKI Batam juga membuat perbedaan lainnya. Mereka yang juga harus kerja sambil kuliah gelisah melihat kondisi rakyat yang gitu2 saja. Di tengah kesibukan kuliah dan tuntutan kerja, mereka masih sempat-sempatnya mengadakan pelatihan kewirausahaan untuk anggota dan masyarakat di Batam. Keinginan teman2 ini jelas, suatu saat rakyat di Batam tidak lagi menjadi budak industri tapi mampu mandiri membuat pekerjaan sendiri. Kata mereka, pendidikan yang mereka dapat di kampus tidak membentuk mereka menjadi manusia yang mandiri, justru tetap diarahkan menjadi pekerja. Melalui pelatihan kewirausahaan ini, mereka berharap pemuda Batam berani berpikir mandiri dan kreatif merancang usaha sendiri. Lagi2 sebuah keinginan menyalakan lilin di tengah kegelapan. Rakyat harus bangkit! Aku terharu mendengar semangat teman2 ini.

Terakhir kisah dari teman2 GMKI Padang. Walau mereka tidak terlalu banyak, mereka juga tetap mencoba berpikir melakukan sesuatu yang berguna bagi sesama. Mereka saat ini sedang merancang pengabdian masyarakat ke Mentawai, daerah yang beberapa kali dilanda gempa dan saat ini sangat tertinggal. Teman2 ini ingin melakukan pengembangan masyarakat di bidang pertanian. Mereka berharap rakyat Mentawai dapat bangkit melalui pertanian.

Aku kembali diingatkan, mereka juga mahasiswa yang punya kesibukan, tuntutan keluarga, dan selusin alasan yg membuat mahasiswa malas bergerak. Tapi mereka menolak untuk tunduk pada semua alasan-alasan itu. Mereka lagi2 berusaha menjadi lilin ditengah gelap. Mereka anti kenyamanan selama rakyat masih menangis! Bahkan mereka bersedia 1 bulan tinggal di Mentawai untuk melakukan pengabdian dan pengembangan masyarakat, jauh dari kenikmatan TV, Mall, internet, bioskop,teman2, dll.

Ya, momen bertemu teman2 dari Dumai, Batam, P.baru, Tj.Pinang, Padang menyadarkanku bahwa mereka saja masih sempat-sempatnya memikirkan rakyat. Angan-anganku pun mencapai puncak impiannya. Andai semua mahasiswa punya hati yang sama dengan mereka. Hati yang berduka melihat rakyat yang menangis dan mau menggunakan tangan sendiri untuk menyeka tangisan mereka.
Aku yakin percaya, selain mereka, masih banyak juga anak bangsa, dari daerah, kampus, lembaga, agama apapun yang juga punya hati yg sama, hati yang ingin menghapus tangisan ibu pertiwi, dan dilakukan dengan nyata melalui tindakan. Ya, tidak ada guna meneriaki kegelapan.

Bagaimana teman2, tidak inginkah dirimu ikut serta menjadi lilin-lilin kecil di negeri kita? Pasti akan menjadi gerakan sosial dan gerakan inspiratif yang luar biasa. Bagi yang sudah menjalaninya, tetap semangat melakukan pilihan itu. Rasakan indahnya berbagi susah dan senyum bersama rakyat.

Terimakasih teman2 GMKI Wilayah 13. Kalian telah mengingatkanku lagi arti kata "berbagi". Tetap semangat walau gangguan menghadang. Semoga kisah tentang teman2 ini dapat memberi inspirasi bagi kita semua termasuk aku sendiri. Itu perjuangan mereka, bagaimana perjuangan kita?

Demikian kisah dari teman2 ini. Tidak ada maksud lain selain untuk berbagi inspirasi sesama anak bangsa yang punya tugas membangun negeri ini. Semangat bagi kita semua, mungkin kita belum memulai, tapi tidak pernah ada kata terlambat untuk sebuah perubahan. Mari bangkit. :)

Monday, 22 April 2013

Perjalanan Wisata ke Danau Toba: Bermimpi ke Negeri Mimpi, Negeri Para Pemimpi (Bagian 2)

pun memulai pelayaran kami. Kata Sang Nakhoda hanya ditempuh dalam waktu 30 menit saja. Angin di atas kapal sungguh sejuk kawan, membuatmu ingin terlelap dalam tidur. Tidak beberapa lama kemudian kami telah berada di tengah Danau. Aku melihat ke sekelilingku dan apa yang kulihat teman, aku sulit menggambarkannya. Kau harus disini untuk melihatnya. Begitu indah teman, begitu indah. Begitu indah pegunungan yang mengelilingi Danau ini kawan. Sedikit berbeda dengan air di pinggir Danau yang entah kenapa sedikit keruh, air di tengah Danau ini begitu jernihnya, sehingga aku pun berharap ingin meminumnya karena aku yakin air ini pasti menyegarkan. Sayang kapal ini tinggi dan aku juga tidak berani melompat ke Danau ini. Kata seorang penumpang, di beberapa tempat Danau ini memiliki kedalaman hingga 450 meter. Sungguh dalam untuk ukuran sebuah Danau. Bahkan Kapal Feri yang membawa mobil pun ada di Danau ini. Kapal Feri yang biasanya digunakan sebagai transportasi menyeberangi selat, di daerah ini digunakan untuk menyeberangi Danau. Bisa kau bayangkan betapa besar Danau ini kawan. 

Kami pun segera tiba di Pulau Di Tengah Pulau. Seorang anak kapal mengutip uang perjalanan ke setiap penumpang. Seorang penumpang di sebelahku mengeluh. Aku bertanya kenapa. Katanya entah kenapa harga tiket kali ini naik, tidak seperti biasanya. Sepertinya karena adanya kami, yang kelihatan jelas berpakaian tidak seperti penduduk lokal. Aku tidak tahu apa maksud hal ini. Anak kapal itu menghampiriku dan aku pun segera membayar uang perjalananku.

Kami pun tiba di Pulau Di Tengah Pulau. Sungguh indah Pulau ini kawan. Terasa kehidupan lokal di daerah ini yang membuatmu betah untuk menetap disana. Tapi sayang kawan, di  pelabuhan ini banyak sampah yang bertebaran. Mungkin karena ini merupakan kawasan yang sibuk pikirku. Semoga di tempat lain tidak. Tapi ternyata kondisi yang ada tidak jauh berbeda, walau tidaklah lebih kotor dari pelabuhan tadi. Banyak sampah yang bertebaran di jalan. Aku tidak tahu kenapa, mungkin ini hal yang biasa disana, tidak seperti di Dunia Kita. Ya, mungkin seperti itu.

 
Aku dan Para Pemimpi lainnya pun melanjutkan perjalanan kami. Kami menyewa sebuah angkutan kota disana. Perjalanan pun dimulai, aku duduk di sebelah Sang Supir. Sungguh indah pemandangan di kiri kanan jalan teman. Aktivitas penduduk lokal dan para pelancong di suatu kota yang tampaknya merupakan pusat souvenir di Pulau itu. Banyak karya seni yang terpajang disana yang merupakan karya asli para penduduk lokal. Tapi aku juga melihat beberapa karya yang sepertinya merupakan produksi dari luar Pulau Di Tengah Pulau Besar, bahkan di luar Pulau Besar, yang entah karena alasan apa dijual juga di Pulau ini. Padahal menurutku apa yang berasal dari Pulau ini saja sudah sangat menarik, tanpa perlu menjajakan produk dari luar Pulau. Tapi mungkin mereka punya pertimbangan sendiri. Ya, mungkin seperti itu.

Kami tiba di suatu tempat. Huta namanya, tapi aku lupa Huta apa. Butuh kurang lebih 10 menit untuk tiba disana. Tidak lama. Kami pun disambut oleh beberapa orang yang sepertinya merupakan penduduk Huta tersebut. Mereka menawarkan diri untuk menjelaskan kisah panjang tentang kehidupan di Huta tersebut. Oh iya, kami juga dikutip biaya untuk masuk ke dalam. Tidak mahal, hanya seribu perak saja kawan dan kami bisa menikmati keindahan budaya yang berada di Huta tersebut. Sungguh indah Huta ini kawan. Kata seorang sahabat yang di Dunia Kita merupakan pecinta seni, rumah-rumah di Huta ini masih asli dan banyak peninggalan yang sudah berumur beratus-ratus tahun disini. Sang Penduduk Lokal mengisahkan banyak hal kepada kami yang tentunya tidak akan pernah kami dapatkan di tempat lain. Aku lupa membawa catatan untuk mencatat setiap penjelasan yang diterangkan oleh Sang Penduduk Lokal. Kau harus kesini kawan, ya kau harus kesini. Ada Sopo, Jabu, Gorga, Ulos, Tempat Rapat Adat, Tempat Pemasungan, dan banyak hal lainnya. Aku juga mengerti tentang Dalihan Na Tolu disini. Kau harus datang kesini kawan, ya, kau harus datang kesini.

 

Kami kembali melanjutkan perjalanan kami kawan. Kali ini kami pergi ke sebuah daerah. Di tempat ini, setiap harinya ada penampilan tarian yang merupakan budaya di Pulau tersebut. Waktu kedatangan kami tepat. Kami pun bergegas memasuki amphitheater tempat pertunjukan tarian ini. Ada beberapa rumah disana yang menjadi latar. Ada juga para pemain musik yang duduk di lantai dua sebuah rumah. Tarian pun dimulai diiringi permainan Gondang, Sarunei, dan alat musik lainnya. 


Para Penari menari dengan baiknya, tapi sayang kawan, beberapa kali seorang penari mengalihkan pandangannya ke luar, seakan pikirannya tidak disana. Ada juga penari yang umurnya sepertinya sudah tua, tampaknya di atas 50 tahun. Kemana pemuda-pemudi yang lain? Mungkin mereka sedang bekerja, ya, mungkin seperti itu. Tarian-tarian ini memiliki cerita. Dulu mereka ini ditarikan untuk berbagai ritual, namun sekarang tidak lagi. Oh iya kawan, kami sempat diajak menari bersama. Sulit digambarkan dengan kata-kata betapa serunya kondisi waktu itu. Kami mengikuti tarian seorang penari, berjalan, menunduk, menggerakkan kedua tangan kami. Ah, menceritakan ini membuatku jadi ingin kembali kesana. Kau seharusnya ikut menari bersama kami kawan, sayang kau tidak ikut bermimpi bersamaku.

Berlanjut ke bagian ketiga.

Monday, 1 April 2013

Perjalanan Wisata ke Danau Toba: Bermimpi ke Negeri Mimpi, Negeri Para Pemimpi (Bagian 1)

Bagian Pertama

Apa kabar, Teman? Bagaimana liburanmu? Semoga menyenangkan di sana. Liburanku juga menyenangkan. Aku ingin cerita, Teman, berbagi tentang kisah perjalananku. Tapi ini bukanlah perjalanan biasa, Teman, karena aku berlibur bukan di Dunia Kita, tapi di Dunia Mimpi. Maukah kau mendengar ceritaku, Teman? Aku harap engkau mau, sambil mengisi waktu luangmu disana.



Beberapa hari yang lalu aku bermimpi. Pagi hari saat itu tapi entah kenapa aku bisa tertidur. Aku bermimpi Teman, bermimpi pergi ke suatu negeri. Kata mereka itu Negeri Mimpi, Negeri Para Pemimpi. Disini sesuatu itu terjadi tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Ini bukanlah Negeri Impian, dimana sesuatu yang kita inginkan akan muncul begitu saja ketika kita menginginkan, bukan seperti itu, Teman. Ini Negeri Mimpi, sama seperti ketika kau tertidur dan kemudian tiba-tiba kau sudah berada di suatu tempat dan kau hanya bisa mengikuti apa yang sudah ada disana yang belum tentu sesuai dengan yang kau harapkan, dan ketika kau terbangun, kau kembali berada di duniamu, dan lupa dengan yang terjadi disana. Tapi kali ini aku beruntung Teman, aku masih bisa mengingat setiap peristiwa yang terjadi disana, namun tidak tahu kenapa, aku tidak bisa mengingat nama tempat-tempat yang kukunjungi. Semoga kau bisa membayangkan apa yang akan kuceritakan kepadamu.


Di Negeri Mimpi ini, aku bertemu dengan beberapa sahabat, mereka juga Para Pemimpi. Aku diajak ke sebuah daerah, aku lupa nama daerah ini. Daerahnya luas, berada di dataran tinggi. Dingin di sana, dan ketika kami datang, Kabut sedang tinggi dan mengganggu pandangan mata. Awalnya aku tidak suka di sana karena kondisi ini, tapi alam sepertinya menjawab keluhanku. Tiba-tiba Kabut itu menghilang tanpa jejak dan aku pun melihat apa yang kelihatannya ingin disembunyikan oleh si Kabut. Tempat itu begitu indah Teman, begitu indah. Air yang begitu luasnya, Danau namanya, ditemani banyaknya pegunungan dan ada sebuah pulau besar di tengah-tengahnya. Bayangkan Kawan, sebuah Pulau Di Tengah Pulau. Aku melihat ini semua dari ketinggian dan aku pun menyadari kenapa bahkan Kabut yang begitu baik hati pun sempat berpikir untuk memilikinya sendiri.

Selama beberapa waktu kami menikmati pemandangan ini. Sahabat-sahabatku yang lain bahkan mendokumentasikan pemandangan ini. Entah darimana mereka mendapatkan kamera dan berpikir untuk mengabadikan keindahan alam yang belum tentu mereka dapatkan di Dunia Kita. Hahaha, sepertinya mereka tidak tahu kalau foto yang mereka ambil tidak mungkin bisa dibawa ke Dunia Kita, tapi biarlah mereka melakukannya. Kami pun melanjutkan perjalanan kami memasuki daerah itu. Aku diajak menginap di penginapan di suatu Kota, aku juga lupa nama Kota itu. Letaknya tepat di pinggir Danau dan tinggal berjalan beberapa langkah maka kau akan dapat berenang ke dalam Danau yang indah itu.


Seorang sahabat memanggilku dari pinggir Danau. Ternyata mereka hendak mengajakku berjalan mengelilingi Kota tersebut. Kami pun berjalan. Dengan celana pendek, kaos, dan sendal jepit kami pun menjalani Kota itu. Saat itu malam hari kawan, dan sangat dingin cuacanya. Tapi, entah kenapa, walaupun dingin, aku sangat menikmati keadaan itu Teman. Berjalan di Kota itu, ditemani embusan angin, pohon di kiri kanan, pemandangan malam hari, dan air Danau yang terkadang bersuara, seakan memanggil para pelancong untuk selalu mengingat mereka. Aku sungguh menikmati suasana ini hingga akhirnya kami pun lelah untuk melangkahkan kaki dan memilih kembali ke penginapan kami. Coba engkau bayangkan perjalanan ini kawan. Aku harap kau bisa membayangkannya.

Hari telah pagi dan aku pun terbangun dari tidurku. Beberapa sahabat sudah bangun juga dan beberapa yang memang memiliki jam tidur lebih lama masih terlelap di atas pembaringannya. Setelah semua bangun dan mempersiapkan diri, kami pun beranjak dari penginapan kami untuk sarapan di pinggir Danau. Apakah kau pernah membayangkan Kawan? Duduk di pinggiran Danau; meminum secangkir teh manis ataupun kopi hangat; memakan beberapa gorengan sambil memandang indahnya kolaborasi gunung, danau, alam di sekitarnya dan tidak lupa ditemani dengan angin dan dingin yang sedikit menusuk badan namun membuat kita betah disana. Apakah kau pernah membayangkan, Kawan? Disini tempatnya, di daerah ini. Sayang kau tidak disini, semoga kau bisa membayangkannya.

Setelah kami sarapan, kami pun bergegas pergi ke tempat kapal berlabuh tidak jauh dari sana. Kami hendak menyeberangi Danau itu dan mengunjungi Pulau Misterius yang berada di tengahnya. Kata ibu penjual makanan, kapal itu menyeberang setiap sejam sekali dan hampir saja kami ketinggalan kapal. Kami pun segera naik ke atas kapal dan duduk di lantai paling atas. Angin Danau pun segera menyambut kami dan perjalanan menuju Pulau Di Tengah Pulau pun segera dimulai. Berharap kau berada di sini kawan, menikmati bersamaku semua perjalanan ini.

Kisah ini berlanjut ke Bagian Kedua. :)


Monday, 25 March 2013

Kata dan Cipta


Kata dan cipta, dua kata yang tercipta untuk saling melengkapi. Kata yang terucap pada akhirnya harus diciptakan agar menjadi sebuah karya yang nyata, bukan sekedar angan saja. Begitu juga setiap cipta yang terbentuk pasti berawal dari rencana dan kata yang terangkai di pikiran serta ucapan.

Bahkan kisah terbuatnya jagat raya berkait erat dengan kata dan cipta. Sang Maha Kuasa mengucapkan bermacam kata yang agung dan mulia dan kemudian dinyatakan-Nya menjadi berbagai ciptaan yang indah nan unik. Begitu juga beraneka ragam ciptaan yang terbentuk berawal dari rangkaian kata yang keluar dari diri-Nya. Tentu kisah tersebut adalah contoh, bahwa kata sebaiknya diakhiri dengan cipta, dan cipta seyogyanya diawali dengan kata.

"Jadilah...", maka hal itu jadi.

Namun sering kali contoh ini tidak ditiru oleh manusia. Ada yang banyak berkata namun tidak mencoba merealisasikan setiap kata yang diucapkannya. Setiap kata yang diucapkannya pun menjadi sia-sia belaka, tanpa pernah diusahakan menjadi wujud yang nyata. Ada juga yang berusaha membuat bermacam cipta, namun tidak terlebih dahulu merangkai kata-kata yang bisa mendukung terbentuknya cipta tersebut. Akhirnya cipta tersebut tidak berbentuk, tidak berfungsi, ataupun tidak berguna.

Kata dan cipta, dua kata yang tercipta untuk saling mengisi. Bagaimanapun, lakukan yang terbaik. Tidak perlu beribu kata, cukup tunjukkan dengan sebuah cipta. Namun sebuah cipta pun berawal dari ribuan kata. Jadi, bagaimanapun, tetap lakukan yang terbaik. Selalu membara dan berkobar. :)

Wednesday, 26 December 2012

Damai Natal, Damai Indonesia




Tahun ini kembali memperingati hari kelahiran Yesus Kristus, Isa Al-masih. Berbeda dengan Natal beberapa tahun terakhir dimana dapat merayakan Natal bersama keluarga di Medan, kali ini harus merayakannya bersama teman-teman di Bandung. Suasana Natal di tengah keluarga yang dikasihi pun batal dirasakan, namun Natal tahun ini tetap memberikan banyak makna dan pembelajaran baru, dan kali ini menyinggung tentang ‘damai’.

Seringkali kita terlibat pertikaian dengan orang lain. Sakit hati, dendam, kekecewaan, amarah, dan banyak hal lainnya menjadi biang keladi dari permusuhan, dan kedamaian seakan jauh dari kehidupan kita. Kita bertikai dengan teman, guru, tetangga, bahkan keluarga atau orangtua kita sendiri. Alasan pembenar kita pun klasik, kita hanyalah manusia biasa yang pasti juga bisa sakit hati dan marah. Wajar kalau sesekali terlarut dengan emosi diri.

Yesus, Sang Bayi Pendamai lahir ke dunia untuk memberikan kasih dan membawa kedamaian bagi setiap orang. Dia datang bukan hanya untuk mengajarkan apa kasih itu, tapi juga menunjukkan melalui kehidupannya. Dia hidup di dunia bukan hanya untuk meminta manusia mewujudkan kedamaian, tapi juga melakukannya, meruntuhkan setiap tembok yang berusaha membelenggu tegaknya kedamaian di tengah kehidupan manusia.

Dia mendamaikan perselisihan antara orang Yahudi dan orang Samaria dengan meminum air dari timba perempuan Samaria. Yesus mendamaikan para penderita kusta dengan masyarakat Yahudi yang terikat hukum adat dimana para penderita kusta harus disisihkan dan dikeluarkan dari kota. Yesus juga memberi kedamaian kepada orang-orang yang dianggap sebelah mata; para pemungut cukai, pelacur, janda, anak-anak, orang buta, lumpuh, dan lainnya. Yesus menunjukkan bahwa kasih dan kedamaian harus dirasakan oleh setiap orang. Dan diakhir hidupnya, sebagai puncak dari perjalanan hidupnya, Yesus menjembatani hadirnya kedamaian antara manusia dengan Penciptanya. Yesus mendamaikan manusia dan Allah, dengan mati di kayu salib dan bangkit pada hari ketiga. Maka nyatalah bahwa kehidupan Yesus adalah kehidupan yang menghadirkan kasih dan damai antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam sekitarnya, dan paling utama, manusia dengan Allah.

Kembali kepada Natal tahun ini, kiranya kehidupan Yesus dapat menjadi pelajaran hidup yang akan kita lakukan dalam kehidupan kita. Mungkin selama ini mudah bagi kita untuk sakit hati, dendam, kecewa, dan marah kepada orang lain, tapi sejak kita mengenal dan memahami kehidupan Yesus maka semua itu tidak akan mudah lagi masuk dalam kehidupan kita. Sehingga genaplah keinginan Yesus Sang Pembawa Damai, bahwa setiap orang yang belajar dari kehidupanNya akan menjadi agen-agen pembawa kedamaian di setiap lingkungan di sekitar kita. Pembawa kedamaian yang bukan berarti diam (baca: ‘damai’) ketika ada masalah di sekitarnya. Namun berani bicara benar walaupun orang lain tidak suka dengan apa yang akan kita katakan, ataupun berani bertindak benar walau tidak sesuai dengan keinginan lingkungan kita. Karena Yesus berdamai bukan dengan diam melihat permasalahan, tapi berpikir, berbicara, dan bertindak melawan tirani; melawan orang Farisi, hukum adat, kematian, dan hal-hal lainnya.


Damai Natal, Damai Indonesia.
Kiranya kasih dan kedamaian yang kita rasakan selama masa-masa Natal ini tidak akan berlalu begitu saja ketika hari-hari sudah jauh meninggalkan tanggal 25 Desember. Semoga kasih dan kedamaian yang sudah diajarkan oleh Yesus 2000 tahun lalu, dapat juga hadir dalam kehidupan kita sehingga 364 hari ke depan, kasih dan kedamaian selalu terpancar dari kehidupan kita. Damai dan kasiih yang kita bagikan kiranya dapat menjadi damai bagi keluarga, teman, bangsa, dan negara kita. Tuhan menyertai kita semua.
Damai Natal, Damai Indonesia. Selamat Natal bagi kita semua.

Refleksi Dies Natalis 1 abad Student Christian Movement of Srilanka (Gerakan Mahasiswa Kristen Srilanka)


So what does peace mean in this savage, corporatized, militarized world? What does it mean in a world where a entrenched system of appropriation has created a situation in which poor countries, which have been plundered by colonizing regimes for centuries, are steeped in debt to the very same countries that plundered them and have repay that debt at the rate of 382 billion dollars a year?

What does peace mean in a world in which the combined wealth of the world’s 587 billionaires exceeds the combined ross domestic product of the world’s poorest countries? Or when rich countries –that pay farm subsidies of a billion dollars a day- try and force poor countries to drop their subsidies?

What does peace mean to people in occupied Iraq, Palestine, Kashmir, Tibet, and Chechnya? Or to the Aboriginal people of Australia? Or the origin of Nigeria. Or the Kurds in Turkey? Or the Dalitis and Adivasais of India? What does peace mean to women in Iran, Saudi Arabia and Afghanistan?

What does it mean to the millions who are beiing unprooted from their lands by dams and development projects? What does peace mean to the poor who are being actively robbed of their resources and for whom everyday life is a grim battle for water, shelter, survival, and, above all, some semblance of dignity?
FOR THEM PEACE IS WAR.

We know very well who benefits from war in the age of Empire is the Corporate-Military cabel. But we must also ask ourselves honestly who benefits from peace in the age of Empire? War mongering is criminal, but talking of peace without talking of justice could easily become advocacy for a kind of capitalism. And talking of justice without unmasking the institutions and the systems that perpetrate injustice, is beyond hypocritical.

It’s easy to blame the poor for being poor. It’s easy to believe that the world is being caught up in an escalating spiral of terrorism and war. That’s what allows the American President to say: “You’re either with us or with the terrorists.” But know that terrorism is only the privatization of war. That terrorists are the free marketers of war. They believe that the legitmateuse of violence is not the sole prerogative of the state.

It’s mendacious to make moral distinctions between the unspeakable brutality of terrorism and the indiscriminate carnage of war and occupation. Both kinds of violence are unacceptable. We cannot support one and condemn the other.

The real tragedy is that most people in the world are trapped between the horror of a punitive peace and the terror of war. Those are the two sheer cliffs w’re hemmed in by. The question is: How do we climb out of this crevasse?

bersama teman2 Student Christian Movement se-Asia Pasifik

Thursday, 19 July 2012

Enam Tahun, Selanjutnya Apa?


Enam tahun, masa pembentukan di Kawah Candradimuka, Laboratorium Kehidupan, Kampus Ganesha, Institut Teknologi Bandung.
Enam tahun, proses belajar dalam indahnya suka dan duka, senang dan sedih, serta ringan dan berat.
Enam tahun, waktu yang tidak cepat, juga tidak lama.
Enam tahun, selanjutnya apa?

 
Naik kereta dari Medan ke Rantauprapat dan melihat alam di sepanjang jalur rel kereta. Menyaksikan jutaan pepohonan yang terhampar luas, diselingi rumah-rumah kecil terkadang gubuk. Ada yang dilapisi dinding bersemen, terkadang hanya batu bata telanjang, dan tidak jarang hanya diselumuti papan juga triplek.
Enam tahun merasakan fasilitas kuliah, selanjutnya apa?


Menyeberangi jembatan di jalanan Medan, terbentang lebarnya sungai Babura dan Deli. Terpampang bantaran sungai yang penuh warna. Ibu-ibu yang mencuci bajunya sampai bersih dengan air sungai yang kotor. Anak-anak kecil yang bersukaria mandi di pinggiran sungai. Rumah-rumah kumuh dengan baju-baju yang dijemur di depan rumah, tidak dapat dibedakan mana yang sudah dicuci dengan yang belum dicuci. Para pemuda dan kaum ayah yang pergi pagi dan pulang malam, menarik becak ataupun menjadi kuli bangunan, demi sesuap nasi esok hari.
Enam tahun menikmati indahnya pendidikan di kota Bandung, selanjutnya apa?

Bagaimana lagi kabar masyarakat di pedalaman Sumatera Selatan, ataupun kondisi rakyat di perbatasan Indonesia-Malaysia?


Siapakah yang tahu suka-duka anak pertiwi di pulau-pulau kecil Indonesia ataupun cerita senang-sedih putra-putri tanah air di Papua ataupun Sulawesi?


Enam tahun, waktu yang tidak cepat, juga tidak lama.


Apakah waktu tersebut telah menyiapkan masa yang bermakna?
Ataukah hanya akan menjadi kesia-siaan belaka?


Enam tahun masa menimba ilmu dan pengetahuan serta mencari permasalahan dan solusinya. Namun selama enam tahun itu juga, rumah-rumah di sepanjang rel kereta api Medan-Rantauprapat tetaplah diselimuti batu-bata dan papan-triplek. Bantaran sungai Babura dan Deli masih juga dihias oleh rumah-rumah kumuh dan keluarga yang menikmati bersihnya air sungai yang kotor. Bagaimana juga kabar masyarakat di pedalaman Sumatera Selatan, rakyat di perbatasan Indonesia-Malaysia, anak pertiwi di pulau-pulau kecil Indonesia, ataupun putra putri tanah air di Papua ataupun Sulawesi?

Maka,
Enam tahun, selanjutnya apa???


Rabu, 18 Juli 2012
Sepanjang Rel Kereta Api Medan-Rantauprapat