inspirasi

inspirasi

Monday, 24 January 2011

Kisah Tentang Mereka

Kisah ini didedikasikan untuk mereka, saudara-saudaraku di Wyata Guna. Kawan-kawan baruku, yang baru kukenal beberapa hari yang lalu. Kisah ini tentang mereka, perjuangan mereka, suka dan duka mereka. Semoga apa yang coba kubagikan ini bisa memberikan arti yang baik bagi kawan-kawan.

Beberapa hari yang lalu, aku dan kawan-kawan mengunjungi sebuah panti yang dikelola oleh Kementerian Sosial, Panti Wyata Guna. Panti ini terletak di Jalan Pajajaran, seberang GOR Pajajaran, dekat Istana Plaza. Begitu sering aku melewati jalan ini sebelumnya, tapi baru kali itu aku mengetahui bahwa itu adalah sebuah panti, panti untuk saudara-saudara kita yang tunanetra. Terimakasih untuk kawan yang telah memberitahukan tentang panti ini kepada kami.

Kami kesana berjumlah 29 orang, dari berbagai kampus di Bandung. Sebelumnya kami dihubungi oleh seorang koordinator disana, Mbak Resty namanya. Dia kuliah di UPI sekarang, angkatan 2006 dan saat ini sedang menyusun skripsi untuk jurusan Sekolah Luar Biasa. Mbak Resty juga seorang tunanetra. Mendengar ini aku sempat sedikit malu, karena aku sendiri masih angkatan 2006 dan parahnya masih belum menyusun skripsi hingga detik itu. Tapi besok harus sudah memulailah, besok hari apa dan tanggal berapa? Ya, besok lah. Hehe, kembali ke topik.

Awalnya kami diminta untuk membacakan buku Matematika dan Bahasa Inggris untuk beberapa orang dan hanya dibutuhkan beberapa orang reader saja. Oh iya, reader itu adalah istilah di panti ini untuk orang-orang yang membacakan buku/cerita kepada mereka. Namun, karena keinginan yang sangat besar dari kawan-kawan, dimana setiap orang mengajak kawannya yang lain, maka terjadilah peristiwa ekonomi “supply lebih banyak dari demand”. Jumlah kami yang datang melebihi kebutuhan yang diminta Mbak Resty. Tapi tidak mengapa kata Mbak Resty. Di panti ini terdapat banyak asrama, dimana setiap asrama ditempati oleh beberapa belas kawan-kawan kita yang tunanetra. Kami diminta untuk mendatangi setiap asrama untuk menanyakan apakah ada yang ingin dibacakan buku/cerita, dan kami pun melakukannya.

Kami dibagi-bagi ke setiap asrama yang membutuhkan reader. Ternyata kawan-kawan yang tinggal disini bersekolah mulai dari SD sampai kuliah dan banyak yang bersekolah di sekolah umum. Di beberapa kamar yang kami masuki, mereka ada yang sedang menggunakan laptop, mengobrol tentang kuliah dengan kawan satu kamarnya, dan banyak aktivitas lain. Kebetulan kami datang di Jumat sore dan ini biasanya merupakan jadwal mereka untuk bersantai. Banyak hal baru yang kami saksikan disini, namun ada beberapa hal yang paling berkesan yang kudapat disini.

Di satu asrama, Asrama Nuri, aku berkenalan dengan Leo, seseorang yang tunanetra. Kami bercerita banyak hal. Leo menceritakan bahwa dia berasal dari Bengkulu dan sampai ke tempat ini kira-kira setahun yang lalu. Dulunya dia bisa melihat dan saat itu sudah kelas dua SMA, tapi kecelakaan menyebabkan penglihatannya menjadi terganggu dan dia hanya bisa melihat dari sisi samping matanya. Selama beberapa lama Leo merasa depresi dan frustasi atas kejadian ini sebelum akhirnya dia dibawa oleh keluarganya ke Panti Wyata Guna ini. Disini dia berkenalan dengan teman-teman yang lain dan mulai bisa menyesuaikan diri dengan kondisi baru yang dihadapinya. Sekarang dia sedang menjalani masa rehabilitasi dan sekolah di kursus pijat yang ada di panti ini.

Leo juga menceritakan, dulu masih banyak kawan-kawan mahasiswa yang sering datang kesana untuk menjadi reader, ataupun sekedar berbagi tawa dengan mereka, namun sekarang itu sudah semakin menurun. Dia merasa senang dan berterimakasih karena masih ada yang mau ingat untuk berkunjung ke panti ini. Aku yang mendengarnya sempat tertegun. Aku juga baru kali ini kesini. Ternyata mereka juga sangat merindukan kawan-kawan yang mau menyisihkan sebagian waktu untuk menjadi reader ataupun berbagi cerita dengan mereka.

Kami pun melanjutkan obrolan kami selama beberapa lama. Aku menanyakan tentang bagaimana kawan-kawan yang bersekolah di luar panti pergi ke sekolahnya. Dia mengatakan bahwa mereka pergi dan pulang sendiri. Itu sudah merupakan hal yang biasa mereka lakukan. Bahkan ada yang berkuliah di Jalan Soekarno Hatta. Hal ini juga baru bagiku dan aku semakin mengetahui bagaimana perjuangan mereka dan bagaimana seharusnya aku bersyukur atas apa yang kudapat selama ini.

Lama kami bercerita hingga kemudian datang seorang teman yang lain, Ensah namanya kalau aku tidak salah. Dia meminta tolong kami untuk mencari frekuensi radio di hapenya. Oh iya, satu hal yang juga baru kuketahui disini, mereka sangat menyenangi musik. Di dalam kamar, di teras rumah, ataupun di jalan asrama, banyak kawan-kawan yang mendengarkan mp3 ataupun radio di hape dan tape mereka. Ensah baru pulang dari BEC, berdua dengan temannya, untuk membeli lagu-lagu yang dicopy ke hapenya dan dia kebingungan folder tempat lagu ini disimpan. Aku dan seorang kawan kemudian mencoba mencarinya sambil mengobrol dengannya. Ensah sangat tertarik dengan musik. Panti Wyata Guna memiliki beberapa alat musik dan Ensah tertarik untuk membentuk kelompok band untuk bermain musik bersama. Namun mereka masih belum fasih bermain musik. “Kapan-kapan datang ya kak, ajarin teman-teman main keyboard dan lainnya”. Ensah sendiri berperan sebagai vokalis. Melihat senyumnya ketika membicarakan tentang musik kembali membuatku tertegun. Betapa dengan keterbatasan mereka, mereka bukannya terlarut dengan depresi, tapi menikmati dan mensyukuri apa yang mereka jalani. Sementara di luar sana, masih banyak orang-orang yang tidak mensyukuri apa yang sudah diterimanya, termasuk mungkin aku sendiri.

Aku kemudian masuk ke satu asrama, Asrama Aster namanya. Di asrama ini ada seorang gadis, Fani namanya, seorang anak yang ceria. Dua orang teman sedang menemaninya mengerjakan tugas Bahasa Inggrisnya sambil sesekali diiringi cerita dan tawa. Setelah selesai menjadi reader, kami berkumpul di asrama ini dan mengobrol dengan Fani. Ternyata Fani hari itu berulang tahun dan kami menggodanya untuk bernyanyi. Kami juga menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun untuknya dan bernyanyi beberapa lagu kesukaannya. Dia selalu tersenyum dan menanggapi dengan ceria. Hal yang dulu kukira tidak mungkin bisa keluar dari seseorang yang tunanetra. Ternyata pendapatku itu salah. Di depan mataku terdapat seorang gadis muda yang dengan keterbatasannya bisa menjalani ini semua dengan senyuman.

Kira-kira setengah jam kami berbagi tawa dengannya namun sayang waktu sudah semakin malam dan akhirnya kami pun kembali ke tempat kami masing-masing.

Banyak kesan, banyak makna yang kudapat dari kunjungan ini, namun ternyata hal itu masih belum berakhir.

Hari ini, hari Minggu, aku diajak oleh dua orang kawan yang kemarin ikut juga kesana untuk berkunjung ke Panti Wyata Guna. Mereka membantu Mbak Resty mengerjakan skripsinya dengan mengetik buku yang dipunyai Mbak Resty. Ada dua buku dengan tebal lebih dari 400 halaman dan semua itu harus diketik untuk Mbak Resty. Karena keterbatasan waktu di hari Jumat lalu, mereka membawanya ke kosan dan mengerjakan di kosan mereka. Seorang teman mengerjakannya sepanjang hari Sabtu dari jam 10 pagi sampai jam 10 malam dan harus menahan godaan mengobrol dengan kawan-kawan sekosan ataupun keluar bersama kawan. Aku yang mendengar ini kembali lagi tertegun melihat pengorbanan seorang kawan ini. Aku sendiri belum melakukan sebesar ini.


Kami pun kembali ke Panti Wyata Guna untuk memberikan soft copy buku yang telah diketik kedua kawan ini. Di depan Asrama Aster, kami berjumpa dengan Fani dan sempat berbincang sebentar. Fani ternyata mengingat kami dan juga mengeluarkan pernyataan yang sekali lagi membuatku tertegun. Ulang tahunnya kemarin adalah salah satu ulang tahun terindah yang pernah dialaminya, dimana ada banyak orang yang bernyanyi untuknya. Senyum terpancar dari wajahnya.

Banyak pengalaman baru yang kudapat dari kunjungan ini dan tulisan ini mungkin belum lengkap untuk menyampaikan itu semua. Pengalaman yang mengajarkan untuk bersyukur atas segala sesuatu yang sudah kuterima hingga saat ini. Dan seharusnya merupakan kewajibanku juga untuk bisa membagikan syukurku ini kepada teman-teman di sekitar. Panti ini sendiri ditinggali berpuluh teman-teman kita yang tunanetra mulai dari SD sampai kuliah dan mereka membutuhkan reader setiap harinya untuk membaca buku pelajaran, cerita, dan berbagi tawa dengan mereka. Banyak hal yang bisa didapat disini. Dimana dengan keterbatasan mereka, mereka bisa berjalan sendiri dengan santai, mengobrol, mengenali suara orang lain, belajar dan mengerjakan skripsi, dan hal-hal lainnya yang belum pernah kubayangkan sebelumnya. Aku juga menyadari bahwa mereka ternyata tidak seterbatas itu dan Tuhan juga membuat apa yang ada di mereka menjadi suatu kelebihan untuk mereka. Sementara aku sendiri, dengan kelengkapan tubuh yang diberikan kepadaku, tidak bisa memaksimalkan itu semua sesuai dengan fungsinya masing-masing.


Tadi sore Mbak Resty menghubungi seorang kawan dan dia menyampaikan bahwa ada 10 orang kawan kita yang sekarang sedang kelas 3 SMA dan saat ini ingin mengikuti SPMB di pertengahan tahun. Mereka mengharapkan ada reader yang bisa membantu mereka belajar pelajaran-pelajaran yang akan diujikan pada saat SPMB nanti. Berdasarkan pengalaman Mbak Resty ketika SMA dulu, biasanya mereka mengadakan pertemuan setiap dua kali seminggu dan setiap pertemuan membahas soal dari satu mata pelajaran. Setiap pertemuan cukup membutuhkan dua reader  saja yang ganti-gantian membacakan soal untuk dikerjakan, dan kemudian kunci jawaban dari persoalan itu.

Apakah teman-teman ada yang berminat untuk menyisihkan sebagian dari waktunya, berbagi dengan kawan-kawan kita dan menjadi reader bagi mereka?
Semoga teman-teman memiliki keinginan itu dan bisa merasakan apa yang telah kurasakan dari kunjungan itu.
Mari berbagi kisah dengan mereka.

Sunday, 9 January 2011

Teriakan Minta Tolong di Depan ATM

Sebenarnya ini hanyalah sebuah kejadian kecil yang terjadi saat aku dan keluarga pulang dari memperingati acara keagamaan. Tapi entah kenapa, kejadian yang hanya beberapa menit itu menarik perhatianku dan menjadi salah satu refleksi di malam itu.

Saat itu malam, sekitar jam 11an malam dan kami akan kembali ke rumah. Sebelum ke rumah, kami singgah dulu di ATM dan bapakku turun sebentar untuk menarik uang sementara kami semua tetap di dalam mobil. Tidak lama ketika bapakku sudah masuk ke dalam ATM, sebuah motor dengan dua orang pengendaranya berhenti juga di depan pintu masuk ATM. Orang pertama tetap di dekat motor sementara yang satunya lagi segera masuk ke dalam (ATM nya ada dua buah). Orang yang kedua ini kelihatan mengambil kartu ATM nya dan memasukkannya ke mesin ATM, namun beberapa kali dia melirik ke arah mesin ATM di sebelahnya dimana bapakku sedang mengambil uang disana. Kelihatan ada percakapan dan tidak lama kemudian dia keluar, namun tetap menunggu di luar sambil beberapa kali mengintip ke dalam ruang ATM.

Melihat ini aku, sebagai anak yang berbakti kepada orangtua, pun segera keluar dari mobil untuk memastikan apa yang terjadi. Ketika aku mendekati pintu ATM, orang kedua ini mendekatiku dan menanyakan apa aku akan mengambil uang, kalau memang iya, dia ingin minta tolong transfer uang ke rekening temannya karena isi ATM nya kosong sementara dia hanya mempunyai uang kontan. Namun kubilang kalau aku hanya menemani. Dia masih menunggu sebentar, dan setelah beberapa saat, dia pun pergi bersama temannya. Ketika bapakku keluar, aku bertanya kepadanya dan ternyata bapakku mengalami hal yang sama, bahwa orang itu minta tolong untuk mengirim uang ke rekening temannya namun bapakku menolaknya karena curiga terhadap orang ini.

Kami pun naik kembali ke mobil dan selama perjalanan aku memikirkan kejadian tadi. Apakah kedua orang itu berniat menipu atau memang murni ingin minta tolong? Kalau mereka memang benar-benar ingin meminta tolong, maka kami telah mencurigai orang yang salah. Dan misalkan aku yang berada di posisi mereka, apakah orang lain akan curiga juga kalau aku minta tolong? Apakah kondisi masyarakat sekarang sudah dipenuhi dengan kecurigaan dan kebaikan pun sudah dikalahkan oleh kekuatiran?

Aku pun kembali merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini dan muncul pertanyaan terakhir, apakah ke depannya, ketika terjadi kondisi yang hampir sama, pilihan mana yang akan kulakukan? Menjawab permintaan tolongnya, ataukah kecurigaan mengalahkan kebaikan yang seharusnya bisa kulakukan? Apakah kekuatiran akan ‘kejahatan’ membuatku harus juga curiga kepada orang yang sama sekali tidak memiliki niatan jahat?

Aku pun sekarang masih ragu untuk menjawab pilihan yang mana yang kuambil, karena sia-sia semua jawaban yang ideal itu, apabila tanpa adanya tindakan yang sesuai. Sia-sia semua doa kepadaNya agar selalu menjaga dan menyertaiku kalau ternyata setelah aku berdoa, aku masih meragukan Dia telah menjawab doaku dimana keraguan itu kutunjukkan dengan tidak melakukan suatu kebaikan yang tentunya Dia berharap itu aku lakukan dan justru kuatir dan curiga atas sesuatu hal yang belum tentu terjadi. Hanya bisa berharap, semoga aku bisa melakukan apa yang benar-benar sesuai dengan kehendak Allahku.


Friday, 7 January 2011

25 Desember, Kasih Allah kepada Manusia


Akhir Desember, akhir dari segala hal tentang ujian serta perkuliahan,dan saat memulai waktu liburan, waktu untuk melupakan segala hal tadi untuk sesaat, mengisi waktu dengan hal-hal yang mungkin jarang dilakukan pada hari-hari biasa. Keluar masuk pusat perbelanjaan bagi para pecinta shopping. Melihat sunrise dari gunung bagi para pecinta hiking. Jalan dengan kawan-kawan, ataupun ke toko buku untuk meminjam ataupun membeli buku bagi para pecinta buku. Untuk aku sendiri, tahun ini kembali bisa pulang ke kampung halaman untuk bisa menghabiskan waktu libur bersama keluarga. Waktu libur ini ternyata bertepatan dengan Perayaan Hari Raya pada tanggal 25 Desember dan kalau dibandingkan dengan beberapa kawan yang tidak bisa pulang dan merayakannya di Bandung, aku dapat merayakannya bersama keluarga. Pada tanggal ini, dan malam sebelumnya, 24 Desember, kami sekeluarga, dan jutaan manusia lainnya merayakan Natal, tanggal yang dipercaya merupakan hari kelahiran Yesus Kristus, atau Isa Almasih, kira-kira 2000 tahun yang lalu. Tapi apakah benar memang tanggal 25 Desember atau 24 Desember malam? Dan apakah makna dari perayaan ini? Hal inilah yang membuatku berpikir beberapa lama, menjadi bahan refleksi dan mencoba menuliskannya disini.

25 Desember, tanggal yang dipercaya merupakan hari kelahiran Yesus Kristus, atau Isa Almasih, sampai sekarang pun masih menjadi kontroversi dan diperdebatkan oleh banyak sejarahwan. Beberapa asumsi muncul dari penetapan tanggal ini. Salah satu contoh adalah bahwa di Israel, pada bulan Desember sedang musim dingin, sedangkan pada saat kelahiranNya 2000 tahun lalu, para gembala sedang membawa domba-dombanya keluar kandang. Apakah mungkin mereka melakukannya pada saat musim dingin? Di dalam Alkitab sendiri tidak terdapat penanggalan yang benar-benar jelas tentang kapan tanggal kelahiran ini. Bahkan sebagai contoh belum satu suaranya semua umat Kristen dalam penetapan tanggal 25 Desember ini, Kristen Ortodoks merayakan Natal setiap tahunnya pada tanggal 7 Januari. Pada hari ini, para Kristen Ortodoks di seluruh dunia sedang merayakan dan memperingati hari kelahiran Sang Juruselamat, Tanggal manakah yang benar? 25 Desember? 7 Januari? Atau mungkin nanti akan bermunculan tanggal-tanggal lain seperti 10 Juni, 8 September, ataupun 1 Maret?

Menurutku sendiri, dan mohon koreksi kalau aku salah karena aku juga masih harus mencari tahu lagi kebenaran dari ‘menurutku’ ini, tanggal bukanlah hal yang esensial. Yang esensial adalah apa sebenarnya yang ada di tanggal itu. Dan ketika kita benar-benar memaknai apa yang ada di tanggal itu, maka tanggal bukanlah menjadi suatu hal yang penting lagi karena makna yang terkandung jauh lebih luas, besar, dan tidak bisa dibatasi oleh satu hari saja. Apakah Natal itu? Kenapa Dia lahir ke dunia ini? Dan setelah kita benar-benar memaknai kedua pertanyaan ini, maka pastinya kita akan bisa menjawab pertanyaan selanjutnya, kapankah Natal itu? Atau mungkin pertanyaan yang lebih tepat, Apakah Natal itu hanya dirayakan pada tanggal 25 Desember ataupun 7 Januari saja?

Apakah Natal itu dan kenapa Dia harus lahir ke dunia ini?
Pada saat masih sekolah minggu, beberapa tahun lalu, ketika aku masih lugu, baik, imut, dan lucu-lucunya, menurutku Natal itu adalah hari kelahiran Yesus yang harus diisi dengan liturgi, kado natal, lilin, lagu-lagu Natal, dan hal-hal lainnya. Dan seiring dengan waktu, aku semakin mengerti apa arti Natal yang sebenarnya. Alasan kedatanganNya yang menurutku akan terlalu panjang apabila dituliskan disini dan karena bukan itu topik utama note ini, marilah masuk ke pertanyaan selanjutnya.

Kapankah Natal itu? Atau mungkin pertanyaan yang lebih tepat, Apakah Natal itu hanya dirayakan pada tanggal 25 Desember ataupun 7 Januari saja?
Kalau aku masih sekolah minggu, aku pasti akan menjawab dengan cepat 25 Desember, ataupun kalau aku merupakan Kristen Ortodoks, maka aku akan menjawab 7 Januari. Tapi apakah memang benar tanggal itu? Seberapa penting kita harus mengetahui kapan tanggal sebenarnya Dia lahir dibandingkan dengan seberapa penting kita harus mengetahui apa maksud sebenarnya Dia lahir ke dunia ini dan apakah kita sudah benar-benar menerima maksud itu? Mana yang lebih penting dan utama?

Apakah kasih yang ditunjukkan oleh Allah kita secara jelas pada Natal ini juga sudah benar-benar kita rasakan? Dan apakah kasihNya itu sudah kita tunjukkan dan lakukan juga kepada keluarga, teman, dan lingkungan sekitar kita, tanpa pandang bulu? Mungkin kita dapat menjawab ‘iya’ untuk dua pertanyaan diatas, dan pertanyaan selanjutnya adalah apakah itu semua hanya dapat kita rasakan ataupun lakukan pada tanggal 25 Desember atau 7 Januari saja, atau mungkin pada bulan Desember saja? Bagaimana dengan tanggal dan bulan lain? Bukankah pada waktu-waktu itu kita juga dapat mensyukuri kasih Allah itu dan juga dapat menunjukkan rasa syukur kita itu dengan menunjukkan kasih kita kepada sesama kita?
Aku pun merenung dan menyadari bahwa aku belum benar-benar melakukan itu dan sering terlena dengan kenyamanan.

Mungkin memang dibutuhkan suatu tanggal sebagai pengingat kita bahwa 2000 tahun lalu pada satu hari, Yesus Kristus atau Isa Almasih telah lahir ke dunia ini, tapi tanggal itu sendiri bukanlah untuk ‘didewakan’ dan akhirnya kita menganggap tanggal itu lebih kudus dari tanggal lain dan melupakan makna penting yang terkandung dari Natal itu sendiri. Seperti yang kualami sekarang, dimana pada 25 Desember tahun ini kembali diingatkan bahwa aku belum benar-benar memaknai Natal itu, yaitu masih belum benar-benar menunjukkan kasih kepada sesama di tanggal-tanggal lain di 364 sisa hari lainnya.

Semoga kita, melalui satu hari di 25 Desember 2010 ini dapat diingatkan lagi dan akhirnya setelah kita ingat, 364 hari lain yang akan kita lewati sebelum mencapai tanggal 25 Desember 2011 akan lebih bermakna dan kita bisa melakukan tanggung jawab kita sebagai orang yang sudah paham akan makna Natal itu sendiri. Mari kita membagikan kasih kita kepada sesama sebagai bentuk rasa syukur kita atas kasih Allah kepada kita.

Walau telat berdasarkan tanggal, tapi tetap belum terlambat dalam hal makna, untuk mengucapkan,
Selamat Natal, kawan.

Saturday, 11 December 2010

Khotbah Jumatan di Salman


Hari Jumat, 19 November 2010, jam 11.50,
Aku sedang berjalan di dekat parkiran SR ITB ketika suara lantang dari soundsystem menggoda telingaku. Selama ini setiap melewati jalur itu di hari yang sama, aku tidak terlalu mendengar suara yang ada. Tapi kali ini berbeda, isi khotbah sang khotib membuatku berhenti sejenak dan akhirnya malah duduk di bawah sebuah pohon, mendengarkan khotbah itu hingga selesai. Isi khotbah itu mengusikku dan membuatku panas.  Apa yang disampaikan sang khotib benar, dan merupakan khotbah yang menurutku tidak hanya perlu didengar oleh jamaah yang hadir saat itu, tapi juga perlu didengar oleh kawan-kawan yang lain, dari latar belakang agama, suku, dan golongan apapun. Inilah yang membuatku memutuskan untuk coba menuliskan dan membagikan apa yang kudapat dari beberapa menit khotbah yang kudengar, namun beberapa menit yang melahirkan banyak pemahaman dan makna. Semoga aku dapat menyampaikan makna besar yang hendak disampaikan sang khotib melalui tulisanku ini dan semoga ini bermanfaat bagi kawan-kawan sekalian.

Khotbah itu sendiri mungkin sudah berlangsung sekitar beberapa puluh menit sebelum aku melintas, dan ketika aku melewati jalan yang biasa kulalui, saat itu sang khotib sedang membandingkan beberapa kondisi yang ada di penjuru dunia. Beliau membandingkan kondisi di Afrika, Eropa, Asia Timur, Amerika, dan terakhir Indonesia. Dan topik yang dibahas adalah tentang TOKOH.

Afrika adalah benua yang luas dan pada zaman dahulu merupakan kawasan yang cukup makmur. Kota-kotanya banyak disebutkan di dalam sejarah dan itu menunjukkan peran besar Afrika dalam kehidupan manusia kala itu. Namun kondisi sekarang ini sangat memprihatinkan. Benua ini mengalami banyak permasalahan. Kemiskinan, penyakit, perang saudara, dan banyak hal lainnya yang akhirnya mengeruk kekayaan dari benua ini dan justru membawa derita berkepanjangan terhadap rakyatnya.

Bagaimana dengan Eropa dan Asia Timur? Asia Timur adalah kawasan yang juga memiliki sejarah yang cukup panjang, namun masih lebih muda dari sejarah di kawasan Afrika dan Timur Tengah. Dan berbanding lurus dengan sejarahnya yang cemerlang itu, Asia Timur sekarang ini secara umum dapat dilihat sebagai salah satu kawasan yang memiliki pengaruh dalam berjalannya perekonomian dunia. Sama halnya dengan Eropa. Sejarah Eropa masih sangat muda apabila dibandingkan dengan nama-nama sebelumnya. Namun sejarah yang masih sangat muda itu memiliki berbagai kegemilangan yang dapat terus dipertahankan hingga saat ini dimana Eropa saat ini dipandang sebagai kawasan yang sangat berpengaruh dalam keberjalanan kehidupan di dunia ini. Apa perbedaan dari ketiga kawasan ini? Menurut sang khotib salah satu jawabannya adalah penokohan.

Asia Timur dan Eropa adalah kawasan yang sangat menghargai para tokoh yang sudah memberikan hal-hal baru di dalam keberjalanan kehidupan di kawasan tersebut. Walaupun sudah lama tiada, ide, pandangan, pemikiran dan cara hidup dari para tokoh ini terus diceritakan secara turun menurun dan akhirnya menginspirasi generasi-generasi selanjutnya untuk bisa mengikuti kehidupan dari tokoh-tokoh ini. Banyak buku yang menceritakan tentang mereka dan akhirnya generasi-generasi selanjutnya terinspirasi kisah para tokoh yang mungkin tidak pernah mereka lihat secara langsung, namun kisah hidup dan apa yang mereka perjuangkan terus abadi tanpa pernah dibatasi ruang dan waktu.

Bagaimana dengan Afrika? Benua ini memilih jalan yang berbeda. Kisah dari tokoh-tokoh yang ada jarang diceritakan secara turun menurun. Masyarakat lebih mengenal cerita tentang mistis dan hal-hal tidak membangun lainnya. Pada akhirnya mereka kehilangan tokoh yang bisa menginspirasi mereka untuk bisa berjuang dalam menjalani kehidupan mereka.

Sang khotib kemudian membahas tentang Amerika. Benua ini dikenal sebagai dunia baru dan merupakan benua yang ditemukan paling terakhir. Sejarah yang terjadi di benua ini mungkin tidak selama benua lainnya, namun mereka memiliki kesadaran akan pentingnya arti sejarah. Mereka mengisahkan perjuangan para tokoh yang pernah hidup kepada generasi-generasi selanjutnya agar para kaum muda terinspirasi dari ide, pemikiran, dan cara hidup dari para tokoh ini. Dan seperti yang dapat kita lihat sekarang, Amerika dapat terus berkembang dimana para generasi mudanya mengetahui kisah tentang tokoh-tokoh yang akhirnya menginspirasi mereka.

Dan sampai ke pertanyaan terakhir. Bagaimana dengan Indonesia sendiri? Sang khotib pun melanjutkan penjelasannya, Indonesia adalah negara yang juga mempunyai kisah panjang tentang para tokoh, namun sayangnya kisah itu jarang diceritakan secara luas dan hanya diketahui oleh generasi-generasi yang tertarik saja. Justru kisah yang diceritakan adalah kisah yang tidak memberikan pembelajaran yang berarti. Sang khotib memberikan beberapa contoh. Mitos-mitos Indonesia yang banyak menceritakan hal-hal mistis seperti membangun candi dan kapal dalam satu malam, dan kisah-kisah lainnya. Dan pada saat sekarang ini salah satu contohnya adalah cerita kehidupan para artis yang kadang justru menunjukkan hal-hal negatif dan tidak mendidik, dan mungkin banyak contoh lainnya.

Bagaimana kisah para tokoh seperti pada zaman kerajaan di Indonesia yang merupakan salah satu zaman keemasan Indonesia di dunia, kisah Kerajaan Majapahit, Sriwijaya, dan para tokoh-tokoh yang hidup di masa itu. Begitu juga kisah di masa-masa selanjutnya hingga masa-masa kemerdekaan. Banyak kisah tokoh-tokoh seperti Ki Hajar Dewantara, Setiabudi, Tan Malaka, Soekarno, Hatta, Syahrir, Leimena, dan banyak tokoh-tokoh lainnya. Kisah ini banyak tersimpan di rak buku yang berdebu ataupun ingatan orang-orang tua dan hanya sedikit kaum muda yang ingin mengetahui kisah para tokoh ini. Kisah-kisah yang seharusnya bisa memberikan inspirasi para kaum muda dalam melakukan sesuatu yang berarti untuk bangsanya. Namun seperti kata sang khotib, inilah kesalahan Indonesia, kesalahan yang kita lakukan, dimana kita sendiri jarang menceritakan kisah para tokoh kita, ide, pandangan, dan pemikiran-pemikiran mereka dan justru menceritakan kisah-kisah yang tidak mendidik. Seperti kata seorang tokoh, ‘Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya’.

Akhir pesan dari sang khotib, seperti yang sama-sama kita ketahui, Indonesia sekarang sedang mengalami banyak permasalahan, dan tugas kaum muda Indonesia untuk bisa menyiapkan dirinya agar nantinya bisa melakukan perubahan untuk pembangunan Indonesia. Saatnya para kaum muda untuk belajar dari kisah para tokoh, yang sudah mengalami kegagalan dan keberhasilan pada masanya, yang pasti akan memberikan pembelajaran yang sangat berarti untuk generasi sekarang.


Mari kita memberitahu orang-orang muda bahwa buku terbaik masih belum ditulis, lukisan terbaik masih belum dilukis, pemerintahan terbaik masih belum dibentuk, hal yang terbaik yang akan dilakukan oleh mereka. (John Erskine)
Ukuran kehidupan, bagaimanapun juga, bukan berapa lamanya, melainkan apa sumbangan yang sudah diberikan. (Corrie Ten Boom)


Mari belajar dari para tokoh, kawan, dan menyiapkan diri kita untuk melanjutkan perjuangan mereka yang masih belum selesai...


(dituliskan ulang dari sebagian khotbah sang khotib dengan beberapa penambahan)

Saturday, 16 October 2010

Foto Bernama Keluarga

Kali ini mencoba membagikan pengalaman yang aku dapatkan baru-baru ini. Untuk pertama kalinya datang ke Car Free Day hari Minggu di sepanjang Dago. Bersama teman, sambil berjalan sepanjang jalan, mencoba mendokumentasi berbagai hal yang terjadi disana. Setelah mengambil beberapa foto dan melihat hasilnya, aku tertarik melihat satu objek fotoku, tiga orang dalam satu keluarga yang sedang berjalan bersama sambil bersenda gurau. Setelah melihat foto ini, akhirnya aku memutuskan untuk hari ini fokus mengabadikan keluarga-keluarga yang menghabiskan Minggu paginya berolahraga di Dago. Dan hunting foto pun dimulai.





Setelah selesai menjalankan aksi di pagi hari yang cerah, sambil beristirahat di Wisma Sejahtera, aku mencoba melihat foto-foto yang kuambil. Setiap foto menunjukkan keakraban di dalam keluarga. Berjalan bersama, berlari bersama, berfoto bersama, dan lainnya. Tiba-tiba, pikiran pun terbawa angin hingga jauh ke pulau seberang, beratus-ratus kilometer ke sebuah kota, Medan. Teringat kepada kedua orangtua disana dan juga seorang adik yang masih bersekolah disana. Tanpa diminta ingatan pun membuka setiap halamannya, mencoba mengingatkan kenangan-kenangan ketika keluarga kami berkumpul bersama pada saat liburan. Walaupun kadang diisi dengan perselisihan dan lainnya, namun itulah yang semakin mengakrabkan dan mendekatkan satu sama lain. Kembali melihat foto-foto yang kuambil dan aku pun diingatkan lagi betapa besar kasih orangtua kepada anaknya dan menyadari beberapa minggu ini telah beberapa kali mengecewakan mereka yang pasti selalu membawa namaku dalam setiap lantunan doanya. Teringat juga kepada adik dan kakakku, yang sama-sama merantau ke tanah Jawa ini dan mengingat berbagai hal yang telah dilalui bersama baik ketika berkumpul di Bandung, ataupun ketika di Medan. Berantam, beradu argumen, dan lainnya yang sering memanaskan kepala, tapi kalau diingat-ingat lagi, itu merupakan bumbu-bumbu kasih sayang dan salah satu bentuk perhatian yang diberikan, walaupun kadang dalam penyampaiannya sering berlebihan.





Setelah melihat semua foto yang kuabadikan di pagi hari itu, aku pun berdoa sejenak, berharap yang terbaik selalu diberikanNya kepada mereka. Meminta agar mereka selalu sehat, dimanapun mereka berada. Meminta kepada Tuhan berkat dan rahmat selalu diberikanNya kepada mereka semua. Dan semoga aku, Sahat Martin Philip Sinurat bisa membanggakan mereka.






Untuk keluargaku: Tagor Hasiholan Sinurat, Linda Mariaty Panjaitan, Yohana Rotua Yosefin Sinurat, Martha Christina Sinurat, dan Olivia Dame Masterina Sinurat.

Sunday, 26 September 2010

Berdirilah Teguh, Jangan Goyah

Seminggu ini sepertinya membaca dan mendengar banyak hal tentang kepedulian dan berbagi kasih dengan sesama. Berawal dari note yang ditulis dek sandra, note yang dibuat oleh kak irene (selamat ren sudah lulus,selamat berkarya ya), dilanjutkan tema PA minggu ini di GMKI, dan juga tema jumatan PMK minggu ini. Dunia semakin apatis dan setiap orang sering hanya memikirkan diri sendiri termasuk saya sendiri pastinya. Sebelum sampai pada akhirnya, mungkin aku coba menyimpulkan apa yang bisa kusimpulkan dari keempat hal diatas.

Setelah mencoba mengambil kesimpulan dari keempat hal diatas, hal yang sangat menarik ketika  menyadari bahwa keempat hal diatas tadi seperti membentuk suatu alur dari kecil ke besar.

Pada note sandra , salah satu kesimpulan yang bisa kusimpulkan (maaf kalau salah menyimpulkan dek, kurang atau lebih jangan dikoreksi disini ya, malu, haha) adalah tentang semakin menyebarnya virus ketidakpedulian di masyarakat saat ini, terkhusus yang disorot adalah kaum pemuda. Pemahaman tentang kasih sudah terdistorsi, dan melalui tulisan ini kita, para pemuda-pemudi yang tahu defenisi sebenarnya dari kasih dan kepedulian diajak untuk mau terus mengaplikasikan hal tersebut dalam kehidupan di lingkungan kita masing-masing. Untuk kesimpulan yang lebih lanjut, dapat membaca langsung di link ini. (http://www.facebook.com/notes.php?id=1373377815&notes_tab=app_2347471856#!/note.php?note_id=438911219729)

Pada note irene, satu kesimpulan yang bisa kuambil (maaf juga kalau salah ya ren) adalah walaupun mungkin tinggal sedikit, tapi keramahtamahan, salah satu implementasi dari kasih, masih ada terdapat di sekitar kita, bahkan dari orang-orang yang tidak kita duga seperti dari orang yang tidak kita kenal, dari teman-teman yang tidak seiman, dan lainnya. Kita sendiri, bagaimana sikap kita? Di tulisan ini, penulis lebih menyoroti tentang bagaimana anak-anak PMK, LP, atau secara umumnya pemuda-pemudi Kristen menanggapi hal ini. Apakah terus bersikap tidak peduli dan hanya mau berinteraksi dengan orang yang itu-itu saja? Atau mau untuk keluar dari zona nyamannya, melepas arogansi diri, berinteraksi dengan teman-teman kita yang lain, seluas-luasnya, sebanyak-banyaknya, dari latar belakang apapun mereka. Lebih lanjut dapat teman-teman baca dan diskusikan langsung dengan penulisnya (hehe) di link ini. (http://www.facebook.com/note.php?note_id=429575603923)

Pada tema PA minggu ini di GMKI yang kucoba simpulkan, kita, dalam hal saat itu aku, kembali diajarkan bagaimana cara untuk bisa peduli dan berbagi kasih dengan sesama. Intinya hanyalah satu kalimat, kalimat yang terdiri dari empat kata dan hanya membutuhkan dua detik untuk mengucapkannya. Namun dalam mengaplikasikannya, wow, sangat berat tentunya kalau kita bersandar pada kemampuan kita sendiri. Kalimat apa itu? Hidup seperti Dia hidup. Bagaimana teman? Cukup dua detik saja kan mengucapkannya, kalau lebih lama dari dua detik, sepertinya harus coba belajar mengeja lagi (just kidding,^^), namun dalam mengimplementasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari, butuh perjuangan yang sangat berat kawan. Hidup seperti Dia hidup, sepertinya tidak perlu dijabarkan lagi seperti apa Dia hidup. Andai setiap kita di dunia ini bisa mengimplementasikannya, dunia ini pastinya akan sempurna, dan tidak perlu ada tulisan yang aku tulis ini, ataupun sandra dan irene tulis. Setiap orang saling peduli satu sama lain, dan lebih luasnya lagi, semua negara akan hidup makmur, bahkan hukum pun tidak dibutuhkan lagi karena siapa lagi yang mau melanggarnya, karena setiap orang sudah peduli, setiap orang tidak mementingkan dirinya sendiri. Sebuah utopia terjadi di bumi ini. Apakah itu mungkin terjadi di muka bumi ini? Tentunya sulit karena dunia sudah dipenuhi oleh kejahatan (dosa). Tapi apakah karena sangat sulit, akhirnya kita sendiri juga memilih untuk tidak melakukan apa-apa dalam merealisasikannya, kita yang sudah tahu seperti apa Dia hidup, namun memilih untuk hanya sekedar diam, dan menyimpan setiap hal yang kita ketahui itu dalam ingatan kita saja. Kalau begitu, apa gunanya Dia mengajarkan itu semua kepada kita, dan kita tahu tentang hal itu kalau toh kita tidak melakukan apa. Dia yang dulu menolong orang-orang, orang yang tidak dikenalnya, berbeda suku dengan dia, bahkan orang-orang yang membencinya. Dia yang selalu membagikan kepedulian dan kasih kepada sesama, apakah bukan bagian kita juga melakukan hal yang sama? Kalaupun dunia ini begitu apatis, apakah pada akhirnya akan membuat kita juga menjadi apatis, dan menyia-nyiakan semua hal yang sudah Dia ajarkan kepada kita. Ajaran tentang nilai-nilai kemanusiaan itu.
Kurang lebih seperti itu kesimpulan yang bisa kuambil dari PA kemarin. Sayang, kali ini tidak ada linknya. Jadi percaya saja pada apa yang kutulis ini. Haha.

Yang terakhir sebelum pada akhirnya, jumatan minggu ini di PMK. Tiba di puncak dari semua alur ini. Bagaimana kita peduli dengan bangsa ini. Bagaimana kita bisa berdampak bagi bangsa ini, melakukan perubahan untuk bisa membangun lagi bangsa kita yang telah Tuhan kita berikan pada kita. Jumatan ini adalah jumatan yang spesial menurutku, karena untuk pertama kalinya selama aku mengikuti jumatan PMK (kalau ternyata salah, mungkin saat itu terjadi, aku gak datang jumatan) kebaktian dilakukan bukan dengan metode kebaktian biasa, tapi dengan metode diskusi interaktif, tanpa pembicara, mahasiswalah yang berbicara. Diawali dengan pemutaran dua buah slide, dan kemudian pemimpin pujian, Mordekhai, menantang setiap mahasiswa yang hadir untuk maju ke depan membagikan apa yang bisa dibagikan. Ada tiga orang yang maju kemarin itu, dua orang dari angkatan 2010 (salut dengan semangat dan keberanian kalian) dan satu dari angkatan 2007 (kalau yang satu ini memang tidak tahu malu,hehe), dan kesimpulan yang bisa diambil dari ketiganya, setiap mereka mengajak kita untuk lebih peduli lagi dalam membangun bangsa ini, menggunakan kesempatan yang sangat berharga saat ini untuk belajar dan menambah pengetahuan karena bekal inilah yang akan kita butuhkan untuk membangun bangsa kita ini setelah kita lulus nanti.

Saat itu sebenarnya ingin maju juga untuk coba membagikan apa yang bisa kubagikan terkait tema jumatan kali ini, tapi apa daya, hati ingin melakukan, tapi kaki menahan setiap langkahnya. Grogi sepertinya berdiri di depan. Mungkin memang bukan bagian saya untuk berdiri di depan dan berbicara. Sepertinya posisi sekarang sudah tepat, duduk di atas kursi dan mencoba menuliskan sesuatu yang bisa kubagikan kepada rekan-rekan yang berminat membacanya. Dan berharap rekan-rekan bisa menemukan hal yang baik dari tulisan ini dan membagikannya kepada kawan-kawan yang lain. Semoga terus ada 2010-2010 lain (aku lupa nama mereka dua yang maju kemarin), Arion-arion lain, Mordekhai-Mordekhai lain, yang berani dan mau untuk mengeluarkan pemikiran mereka, dan mengajak rekan-rekan yang lain untuk bergabung melakukannya. Kenapa itu perlu, akan kita bahas pada akhirnya. Inti kesimpulan dari jumatan ini, apakah bukan tugas kita untuk bisa mengatasi kebobrokan dari bangsa kita ini, apakah bukan tugas kita untuk bisa peduli kepada nasib bangsa ini, ataukah kita cukup nyaman dengan aktivitas kita sehari-hari?
Hidup seperti Dia hidup. Tentunya melalui integritas yang telah Dia ajarkan kepada kita, itu juga dapat kita implementasikan dalam kehidupan kita untuk menjadi jawaban atas setiap permasalahan yang ada di dalam masyarakat. Mungkin itu kesimpulan yang bisa saya ambil dari jumatan kemarin, lebih kurang bisa langsung tanya ke pemimpin pujian atau koordinator PMK. Hehe. Oiya, untuk coba sama-sama kita memikirkan tentang hal ini, teman-teman bisa membuka link ini, salah satu slide yang diputar pada jumatan kemarin dan semoga melalui slide ini, kita semua semakin sadar bahwa peran kita sangat dibutuhkan untuk mengubah bangsa ini. Selamat menikmati videonya. (http://www.facebook.com/notes.php?id=1382956990&notes_tab=app_2347471856#!/video/video.php?v=1629826230534)

Tiba di akhir cerita. Kita sudah berjalan-jalan dari note sandra hingga jumatan PMK dan sudah berdiri di puncak alur. Pada akhirnya, sudah berada di akhir alur dan sudah berada di puncaknya, tujuan dari ini semua. Apalagi yang masih kurang? Sedikit dari saya untuk coba melengkapi keempat hal tadi. Tantangan terberat selanjutnya yang akan kita hadapi, terpaan angin yang sangat kuat dari kiri dan kanan yang menggoyahkan pendirian kita. Akhir dari saya, Berdirilah teguh, jangan goyah.

Berdirilah teguh, jangan goyah. Sebuah kalimat yang terus terngiang di pikiranku selama beberapa bulan ini, dan ternyata memiliki makna yang sangat mendalam. Kenapa sangat mendalam? Mungkin melalui berbagai kasus, musibah, dan peristiwa yang terjadi beberapa bulan ini di bangsa kita, membuat kita, dalam hal ini aku, memiliki keinginan untuk coba melakukan sesuatu yang berarti bagi bangsa ini ketika aku nanti terjun ke dalamnya. Dan perasaan dan tekad itu mungkin juga kawan-kawan rasakan dan kita semua sudah memiliki keinginan tekad yang elips. Dan mungkin melalui tulisan diatas dan video yang telah kawan-kawan lihat, tekad kita yang sudah membentuk elips itu menemukan keutuhannya dan menjadi bulat dan semangat itu ada di dada setiap kita. Namun, perasaan dan tekad yang sudah kita rasakan sekarang, seharusnya tidaklah sebatas sekarang saja, tapi terus dipertahankan hingga akhir nanti. Karena itulah kuncinya. Karena begitulah yang sering terjadi, perasaan dan tekad untuk mengubah bangsa yang sudah dibangun pada saat mahasiswa, sering hilang lenyap tak tersisa ketika sudah berhadapan dengan dunia sebenarnya. Di saat-saat inilah semangat itu harus terus kita jaga. Berdirilah teguh, jangan goyah.

Selain mempertahankan semangat itu, saatnya juga untuk melakukan hal lainnya yang tidak kalah penting. Mengajak rekan-rekan yang lain untuk juga bisa merasakan perasaan dan tekad yang sama. Karena akan sangat berat melakukan hal itu sendiri, ataupun berdua, ataupun bertiga. Dan pendirian kita juga akan semakin mudah digoyahkan. Dibutuhkan barisan sebanyak-banyaknya, semakin banyak pemuda-pemudi yang memiliki semangat yang sama ini, maka akan semakin kuat kita berdiri, dan akan semakin besar dan cepat kans bangsa ini berubah menuju arah yang lebih baik.

Bagaimana cara mengajak rekan-rekan kita? Tentunya dengan bertukar pikiran, berdiskusi, mencoba membagikan semangat yang sudah kita punya kepada mereka dengan berbagai metode. Tanpa pandang latar belakang, suku,agama, ras, atau apapun, saatnya kita menghimpun pemuda-pemudi yang mempunyai keinginan yang sama, membangun bangsa ini.

Dimana melakukannya? Tentunya tidak akan bisa apabila kita hanya bergelut di kosan, ataupun berkeliaran di jalanan. Saatnya masuk ke himpunan jurusan, unit-unit budaya, kajian, olahraga, serta organisasi-organisasi kemahasiswaan ataupun sosial lainnya. Saatnya masuk kesana, dan berbagi tentang hal ini. Saatnya melakukan diskusi-diskusi, kajian ilmu, bakti sosial, pengabdian masyarakat, ataupun hal-hal lainnya yang sesuai dengan ciri khas organisasi tersebut.

Untuk apa kita melakukan hal-hal tersebut? Mungkin semua hal yang kita lakukan ini tidaklah menghasilkan hal yang signifikan bagi perubahan masyarakat saat ini, tapi satu yang menjadi poin sangat penting yang bisa didapat adalah melalui metode-metode itu kita bisa semakin menanamkan perasaan dan tekad yang sudah kita miliki ini ke rekan-rekan kita yang lain. Mereka yang mengikuti kegiatan-kegiatan itu tentunya diharapkan bisa memaknai tujuan dari kegiatan-kegiatan ini dan pada akhirnya makna dan semangat itu terus mengalir di urat darah mereka hingga tiba di dunia kerja nantinya. Mungkin awalnya barisan kita hanya 20 orang, namun ketika kita melakukan hal diatas, barisan kita akan terus bertambah dan mimpi kita, Indonesia yang makmur dari Sabang sampai Merauke akan semakin mendekati kenyataan.

Saat-saat ini mungkin kita tidak bisa melakukan sesuatu yang sangat besar yang dapat langsung mengubah bangsa ini secara drastis, tapi sekaranglah saatnya kita belajar dan juga memperkuat barisan, sehingga ketika tiba waktunya, barisan kita akan kuat, dan senjata yang kita gunakan tidak hanya sebatas omongan saja, tapi kita juga sudah dibekali pemahaman dari keilmuan kita, soft skill, dan kemampuan-kemampuan lainnya dan itu semua bisa kita usahakan saat ini, bukan nanti, tapi saat ini.
Ketika kita sudah memutuskan untuk berjuang membangun bangsa, tapi kita sekarang tidak mengajak kawan-kawan kita yang lain untuk berjuang bersama, itu sama saja dengan bunuh diri. Tidak salah memang, tapi tanpa persiapan. Sulit untuk mengubah bangsa yang tersebar dari Sabang dari Merauke, dengan segala kebobrokannya kalau jumlah kita hanya 20,50, ataupun sebanyak mahasiswa yang datang jumatan kemarin. Tapi akan sangat besar kemungkinan apabila setiap kita mengajak kawan-kawan kita yang lain, setiap satu orang mendiskusikannya dengan yang lain, maka barisan kita akan semakin kuat.
Seperti apa memberitahukannya? Seperti yang sudah dituliskan diatas, aktif di unit, himpunan, organisasi kemahasiswaan lainnya dan melakukan kegiatan-kegiatannya yang membuat kita dan juga rekan-rekan kita bisa belajar menemukan dan memupuk semangat itu.
Ada beberapa himpunan jurusan yang sudah memiliki program pengabdian masyarakat sendiri, apakah teman-teman terlibat di dalamnya? Apakah semangat pengabdian itu hanya dibutuhkan pada saat mahasiswa saja?
Banyak himpunan yang belum memiliki program pengabdian masyarakat, termasuk himpunanku. Apakah kita hanya tinggal diam saja?
Banyak unit-unit yang melakukan kegiatan-kegiatan yang bisa menimbulkan semangat melakukan perubahan sesuai ciri khas nya masing-masing. Ada unit yang memiliki kepedulian tentang lingkungan hidup. Seperti teman-teman tahu, kepedulian terhadap lingkungan hidup masih sangat kurang di bangsa kita. Ada unit yang mendiskusikan tentang isu-isu sosial masyarakat. Ada unit yang melestarikan seni dan budaya karena seni dan budaya itu sendiri bisa dimanfaatkan sebagai media untuk meningkatkan perekonomian masyarakat lokal, dan banyak organisasi-organisasi lainnya yang memiliki ciri khas masing-masing.
Apakah kita sudah berperan di dalamnya atau memilih untuk melihatnya saja? Karena melalui inilah kita bisa semakin memperdalam semangat kita dan juga membagikan semangat kita itu kepada yang lain.

Bagaimana kawan, jalan mana yang kau pilih? Berjuang sendiri, atau berjuang dengan barisan yang kuat?

Berdirilah teguh, jangan goyah.
Sampai sekarang pun aku masih sering takut dan ragu kepada diriku, apakah aku hanya akan menjadi seseorang yang OMDO, omong doang, menuliskan tentang kepedulian kepada bangsa, tapi ketika nanti aku benar-benar dihadapkan dengan kondisi yang ada, aku hanya terdiam saja dan tidak mampu melakukan apa-apa. Disinilah kita saling mendukung, saling menguatkan, agar barisan kita tetap kokoh, hingga akhir nanti dan kita bisa bersama-sama terus berdiri teguh, jangan goyah.

Akan sangat menyenangkan membayangkannya ketika kita semua, para pejuang ini bisa menyelesaikannya hingga akhir, berjuang di medan perjuangan kita masing-masing, tentunya dengan barisan yang kuat, dan mengakhirinya dengan indah, kita bisa melakukan perubahan, sekecil apapun itu, bagi bangsa kita ini. Dan disinilah terjawab kenapa dibutuhkan 2010-2010 lain, Mordekhai-Mordekhai lain, Arion-Arion lain, yang berani dan mau untuk mengajak rekan-rekan yang lain, sehingga barisan kita bisa semakin kuat, dan semakin kuat lagi, untuk melakukan perubahan bagi bangsa ini.

Sungguh sangat menyenangkan ketika kita bisa berkata-kata seperti Paulus, ‘aku telah mengakhiri pertandingan dengan baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman’. Pertandingan yang tentunya akan penuh dengan tantangan dan permasalahan teman.
Mari kita saling mendukung dan menguatkan dalam menghadapi pertandingan ini kawan. Dan sekarang ini saatnya mempertajam kualitas diri dan memperkuat barisan, agar kita bisa terus BERDIRI TEGUH, JANGAN GOYAH.

Selamat menjalani pertandingan teman-teman,
Semoga senyuman yang akan tampak dari setiap wajah kita, di akhir pertandingan nanti.

Salam perjuangan...

Saturday, 25 September 2010

Monkey bar, kisah perjuangan seorang anak

Saat ini sedang membaca sebuah buku dan ingin berbagi dengan rekan-rekan sedikit kutipan yang aku dapat dari buku ini. Semoga bermanfaat bagi teman-teman semua. Selamat menikmati.


Seorang anak laki-laki bernama Peter, berumur empat atau lima tahun sedang bermain-main di taman bersama orangtuanya. Ia kemudian segera berlari ke tempat favoritnya.

“Tolong angkat saya pada monkey bar (bangunan yang terdiri atas tiang-tiang besi untuk anak-anak panjat dan bermain),” katanya. Kemudian orangtua Peter mengangkat dia ke atas, dan ia menggapai monkey bar itu, dan orangtua itu pun melepaskan dia.
Sepatu Peter yang kecil bergantung sekitar 1,5 meter dari tanah, dan ia sangat bangga. Ia bergantung sendirian dengan senyuman lebar pada wajahnya.

Setelah kurang lebih semenit ia menjadi capai dan berkata, “ Oke, tolong turunkan aku.”

Sang orangtua berkata, ”Peter, lepaskan saja peganganmu, dan aku akan menangkapmu.”

Wajah Peter tampak cemas dan ia berkata, ”Tidak, turunkan aku.”

Sang orangtua berkata, “Peter, jika kamu melepaskan tanganmu, aku akan menangkapmu.”

“Tidak, tolong turunkan aku.”

“Peter, aku menyayangimu. Aku berjanji, aku akan menangkapmu.”

Namun Peter tetap berpaut dengan segenap kekuatannya. Ia terus berpaut sampai buku jarinya menjadi pucat dan ia tidak dapat berpaut lagi lebih lama. Akhirnya, ia melepaskan tangannya, dan orangtua tersebut menangkapnya.

Senyuman lebar tersembul di wajahnya, dan ketika dia didudukkan, ia kembali berlari untuk bermain ayunan. Dan ia segera melupakan semua yang baru saja terjadi.


Pesan apa yang dapat kita ambil dari cerita di atas?

Melalui pesan ini, Allah seakan-akan hendak berkata, “Seperti itulah cara kamu berhubungan dengan-Ku. Kamu berpaut habis-habisan dan berusaha untuk melakukan segala sesuatu dengan kekuatanmu sendiri. Kamu terus bergumul, berusaha mengontrol segala sesuatu, berusaha membuat segala sesuatu tepat seperti yang kau inginkan, berusaha menyenangkan orang-orang, berusaha mengontrol setiap situasi. Kamu berpaut dan berpikir tidak ada orang yang akan menangkapmu sehingga kamu lebih baik menggenggam lebih kuat dan berpaut lebih kuat. Sementara kamu tergantung di sana dan buku-buku jarimu berubah jadi pucat, Aku berkata, ‘Lepaskan tanganmu, dan Aku akan menangkapmu. Lepaskan saja tanganmu. Aku berjanji, Aku menyayangimu, dan Aku akan menangkapmu’. Begitu sering dirimu berpaut dan tidak mau melepaskan genggamanmu, dan ketika genggamanmu terlepas, Aku pasti selalu ada di sana, menangkapmu. Namun setelah dirimu tersenyum atas pertolongan-Ku, di saat itu juga selalu kau segera melupakannya dan kembali berpaut di monkey bar itu dan tidak mau melepaskan genggamanmu ketika kau lelah. Kau selalu mengandalkan dirimu, berusaha untuk melakukan segala sesuatu dengan kekuatanmu sendiri. Tapi, Aku tetap dan selalu mengasihimu. Percayalah, Aku selalu ada disana. Dan ketika genggamanmu terlepas, Aku akan selalu ada menangkapmu.”

(dikutip dari buku One Month to Live karya Kerry & Chris Shook dengan perubahan seperlunya)



Mari kita jangan membatasi kemampuan diri kita, tapi jangan juga hanya mengandalkan kemampuan kita sendiri.
Selalu berserah dan percayakan kepadaNya segala permasalahan yang sedang kita kerjakan.
Semangat menjalani hari-harimu.