inspirasi

inspirasi

Monday, 9 May 2011

Mengasihi Sepenuhnya


(dirangkum dari buku One Month to Live, Kerry & Chris Shook)

Pada hakikatnya, hubungan merupakan hal yang terpenting. Tidak masalah seberapa banyak uang yang kita miliki, di mana kita hidup, atau seberapa banyak mainan indah yang kita kumpulkan. Tidak satu pun dari hal ini yang bisa membuat kita nyaman, menghibur kita, menangis bersama kita, atau mengasihi kita. Hubungan kita dengan orang lain, itulah satu-satunya hal yang bisa bertahan melampaui waktu hidup kita.

Studi Sosial
Allah merancang kita untuk menjalin hubungan baik secara vertikal denganNya maupun secara horizontal dengan orang-orang di sekitar kita. Namun, sekalipun kita memiliki keinginan yang kuat untuk berhubungan dengan keluarga, teman-teman, dan komunitas kita, kita semua mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Harapan, kekecewaan, pengkhianatan, sakit hati, kebohongan, kesalahpahaman – ada begitu banyak halangan untuk mengasihi orang lain dan dikasihi mereka. Tapi, kita diciptakan untuk menjalin hubungan dan bagaimanapun rumitnya, setiap halangan itu haruslah kita hadapi.

Jadi mengapa kita tidak hidup seolah-olah hubungan kita merupakan hal yang paling berarti? Mengapa kita menunggu sampai orang-orang meninggal untuk memberi mereka bunga? Tampaknya ironis bahwa kebanyakan kita menghargai hubungan kita, tetapi tidak menggunakan energi untuk menjalin hubungan dengan sepenuhnya. Dalam aktivitas hidup kita yang berkecepatan tinggi dengan jadwal yang begitu padat, kebanyakan kita cenderung memperlakukan orang lain asal-asalan saja. Satu-satunya masalah adalah tidak peduli seberapa keras kita berusaha mengasingkan diri kita dari orang lain, hal itu bertentangan dengan sifat dasar kita. Kita semua dirancang sebagai makhluk yang hidup melalui hubungan dengan yang lainnya – makhluk sosial, yang ingin menjadi bagian kelompok. Itulah cara Allah menciptakan kita – sesual gambarNya.

Harga Kasih
Kita dirancang untuk menjalin keintiman sosial dan emosional dengan orang-orang di sekitar kita, tetapi kerinduan kita dicemari oleh kecenderungan sikap egois kita yang hanya memikirkan diri sendiri. Pada dasarnya, kedua kekuatan ini terus menerus berbenturan sepanjang hidup kita. Kita ingin mengasihi orang lain, dan sebagai balasannya kita ingin dikenal, disukai, dan dikasihi. Namun, orang-orang mengecewakan kita, melukai kita, dan tidak selalu menanggapi kita dengan cara seperti yang kita inginkan. Akhirnya, kita memutuskan untuk bermain aman, dan memberi tahu diri sendiri bahwa kita sesungguhnya sama sekali tidak membutuhkan mereka, tetapi hati kita memberi tahu hal yang sebaliknya. Bunda Teresa berkata bahwa kesepian adalah kemiskinan yang paling mengerikan. Ia benar – tanpa kasih kita bangkrut secara emosional.

Cinta tidak dapat dibeli, tetapi cinta tentu saja memiliki harga, dan itu disebut pengorbanan. Bahkan dalam hubungan yang terbaik sekalipun, ada rasa kehilangan yang menghantui – bahwa orang lain suatu hari nanti akan pergi meninggalkan kita sendiri. Kita tidak berhenti mencintai orang-orang ini, tetapi hati kita sakit karena kita tidak dapat bersama-sama dengan mereka dan tidak dapat selalu berhubungan dengan mereka hingga akhir. Di mana ada perjumpaan, suatu saat pasti ada perpisahan. Penderitaan ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari hubungan yang akrab.

Jika kita mau mencintai orang lain, menanggung sakit hati maupun merayakan berbagi kehidupan, kita akan membutuhkan kasih yang lebih besar dari kasih kita sendiri. Kita perlu mengalami kepenuhan kasih Allah bagi kita untuk mati bagi keinginan kita yang egois dan memberi kepada orang lain dengan cuma-cuma. kasihNya begitu besar, bahkan apabila kasih setiap orang di dunia ini dikumpulkan menjadi satu, kasihNya masih jauh lebih besar dari itu. Dengan mengetahui bahwa ada Allah yang memiliki kasih sebesar itu di belakang kita, maka kita akan siap juga untuk mengasihi orang lain dengan sepenuhnya.

Pengorbanan kasih yang terbesar dalam sejarah terjadi melalui kematianNya di kayu salib. Pengorbanan Allah mengingatkan kita tentang cerita seorang yang bekerja mengoperasikan jembatan tarik di sebuah pantai di sebuah kota pelabuhan kecil, setiap hari ia berjalan ke kantor di sebelah jembatan tarik, di mana ia bisa mengontrol pengungkitnya. Ia menarik pengungkit tersebut, jembatan tarik dengan rel kereta di atasnya akan naik, dan kapal yang sangat besar akan meluncur lewat. Kemudian ia menurunkan pengungkit itu, dan jembatan tarik itu akan merendah sehingga kereta bisa menyeberang dengan aman.

Hampir setiap hari anak laki-lakinya yang masih kecil pergi bekerja bersamanya. Suatu hari ketika mereka bersama-sama di sana, ayahnya menerima pesan lewat radio bahwa kereta yang tidak dijadwalkan sedang dalam perjalanan dan ia perlu menurunkan jembatan tarik itu. Ia memandang keluar jendela sepintas ketika ia menyentuh pengungkit itu, dan ia melihat anaknya sedang berada di luar bermain di gir besar jembatan tarik itu dekat pantai. Ia berteriak memanggil anaknya, tetapi anaknya tidak bisa mendengarnya karena semua keributan dan kebisingan dekat air itu.

Laki-laki itu berlari ke kantor dan berlari ke arah anaknya supaya bisa menggapainya dan menariknya ke tempat yang aman, tetapi kemudian kebenaran yang mengerikan menyentaknya. Jika ia tidak segera menurunkan pengungkit itu, kereta itu akan jatuh ke sungai dan ratusan penumpang akan mati. Namun, jika ia menurunkan jembatan itu, anaknya akan terbunuh. Pada detik terakhir, ia mengambil keputusan yang sangat berat, berlari kembali ke stasiunnya, da menarik pengungkit itu, jatuh berlutut dengan kesedihan yang luar biasa karena anaknya tergencet jembatan itu dan mati. Dengan air mata bercucuran di pipinya, ia melihat keluar dan melihat kereta itu melaju dengan aman di jembatan. Ia bisa melihat di salah satu jendela orang-orang sedang makan, minum dan tertawa, sama sekali tidak tahu pengorbanan terbesar yang baru saja ia lakukan sehingga mereka bisa tetap hidup.

Begitulah pengorbananNya yang begitu besar. Ketika kita berpikir tentang apa artinya berkorban bagi orang-orang di sekitar kita, mungkin kita perlu terlebih dahulu memikirkan seberapa besar Allah telah berkorban bagi kita. Karena begitu besar kasihNya kepada kita, Allah akan berkorban sekalipun hanya kita satu-satunya penduduk di dunia ini. Jika hanya kita satu-satunya penumpang di kereta itu, Ia masih akan tetap menurunkan jembatan tarik itu – itulah bukti kasihNya yang besar, mengasihi dengan sepenuhnya.

Dengan kasihNya sebagai fondasi kita, kita bisa menemukan kekuatan baru dalam cara berhubungan dengan orang lain. Kita tidak perlu menuntut balasan kasih dari mereka karena kasih yang kita berikan tidak bergantung pada pengakuan, balasan, dan izin dari mereka. Sama seperti Allah yang mengasihi kita dengan sempurna, tidak menuntut balasan apapun dari kita, begitu juga kita tentunya mengasihi orang lain – bahkan yang tidak kita kenal sama sekali, mengasihi mereka dengan sempurna, mengasihi dengan sepenuhnya.

Monday, 2 May 2011

Berbesar Hati


Kembali mengalami sebuah kisah kecil yang mengajarkan hal bermakna.

Sabtu lalu mengikuti semifinal turnamen Futsal GMKI di Plaza Parahyangan. Pertandingan pertama semifinal berjalan dengan alot. Kedua tim saling menyerang dan bertahan dengan baiknya. Pada satu kesempatan, tim A berhasil menjebol gawang tim B, namun oleh wasit gol itu dianulir. Tim A kemudian berusaha mengejar wasit menuntut diubahnya keputusan itu sayangnya keputusan wasit sudah mutlak. Seorang pemain dari tim A  berusaha menenangkan timnya dan pertandingan dilanjutkan kembali.

Menjelang akhir pertandingan, tim B berhasil mencetak gol ke gawang tim A, namun gol tersebut kontroversial. Menurut pengamatan beberapa orang, bola belum melewati garis gawang. Namun wasit telah meniup peluit untuk mengesahkan gol tersebut dan kembali keputusan wasit bersifat mutlak. Beberapa pemain tim A berusaha mengintervensi wasit, bahkan beberapa pemain cadangan juga ikut masuk ke lapangan menuntut gol tersebut dianulir. Seorang pemain cadangan bahkan melempar botol minuman ke dalam lapangan. Kelihatannya pertandingan akan berakhir ricuh. Kembali seorang pemain tim A, pemain yang sama dengan yang kuceritakan di atas, berusaha menenangkan timnya. Akhirnya pertandingan pun berhasil dilanjutkan dan berakhir dengan kekalahan tim A.

Selesai pertandingan, beberapa pemain A mendekati wasit yang memimpin pertandingan. Kembali seorang pemain tim A, pemain yang sama, melerai dan menenangkan teman-temannya.

Kebetulan aku duduk di pinggir lapangan dan si pemain tim A, pemain yang berhati besar itu duduk di sebelahku. Dia mengobrol dengan temannya yang paling emosi atas kejadian tadi. Kira-kira kalimatnya seperti ini.

“Sudahlah, tidak perlu mempermasalahkan pertandingan tadi. Pertandingan tentunya tidak mungkin berlangsung sempurna. Selalu ada kesalahan-kesalahan kecil. Wasit juga manusia. Panitia sudah berusaha dengan optimal. Mari kita hargai. Lupakanlah kesalahan yang tadi. Lebih baik kita mempersiapkan diri untuk menghadapi perebutan juara tiga nanti. Berbesar hatilah kita.”

Aku dan seorang kawan pun terdiam mendengar setiap kalimatnya. Mungkin kalau aku di posisi mereka, aku juga tidak bisa menerima kekalahan yang kontroversial itu. Tapi, daripada menghabiskan waktu dan pikiran dengan hal yang sudah lalu, dia lebih memilih untuk berbesar hati dan memandang ke depan. Sungguh menginspirasi.

Akhirnya beberapa kami yang ada di sana pun sepakat bahwa sang pemain ini layak menjadi pemain terbaik di turnamen ini. Selain kemampuannya di lapangan yang di atas rata-rata, hal-hal tadi juga menegaskan kedewasaan berpikir yang dimilikinya. Mmmmm....

Sahabat Kecil


Banyak pembelajaran yang bisa didapat di luar bangku kuliah, terkhusus dalam pembelajaran akan makna kehidupan. Hari minggu lalu kembali aku mendapatkan pembelajaran yang sangat berharga dan para pengajar ini bukanlah seorang profesor, dosen, ataupun ahli lainnya. Para pengajar ini justru sahabat-sahabat kecil yang mungkin mereka sendiri tidak sadar bahwa kehidupan mereka telah memberikan inspirasi berharga bagi kami yang datang saat itu.

Hari Minggu kemarin, kami mengikuti Paskah GMKI ke Panti Asuhan ‘Rumah Pengharapan Baru’ di Lembang. Rencananya kami akan melakukan kebaktian disana, bernyanyi, mempersembahkan nyanyian dari vokal group, dan bermain dengan adik-adik di panti tersebut. Awalnya aku tidak berencana ke sana karena bentrok waktu dengan kegiatan yang lain, tapi karena beberapa hal, aku dan dua orang teman memutuskan untuk menyusul ke Lembang. Pada akhirnya aku sangat bersyukur kepada Tuhan akan keputusanku ini.

Sepertinya untuk mencapai panti ini bukan perkara gampang. Ketika kami masih seperempat jalan hujan turun, tapi kami memutuskan tetap lanjut ke sana. Sampai di panti, acara sudah berlangsung 1,5 jam. Kami mengikuti acara sisanya dan bersama yang lain bernyanyi, bermain permainan kecil, dan juga mengganggu adik-adik kecil yang mungkin masih berumur 1-2 tahun. Satu pembelajaran yang kudapat, banyak dari mereka yang tidak pernah mengenal ayah dan ibu mereka. Mereka tidak pernah merasakan kasih dari orangtua mereka. Bagaimana dengan aku? Kasih itu melimpah sejak aku kecil dan aku kadang lupa untuk menyukuri itu.



Ternyata panti ini memiliki hal penting lainnya. Panti ini tidak hanya tempat untuk anak kecil saja, tapi juga tempat tinggal beberapa orang wanita yang beberapa orang bahkan seumuran dengan kami yang datang. Sebenarnya aku agak tidak enak untuk menuliskan disini, tapi ini adalah kesaksian dari salah seorang kakak disana yang juga menjadi pembelajaran untukku, pembelajaran kedua, ketiga, dan keempat yang harus kita tanamkan dari sekarang. Sang kakak menceritakan tentang kehidupannya beberapa tahun lalu yang pernah berpacaran dan terjatuh ke dalam dosa hubungan pra nikah. Di poin ini aku belajar tentang bagaimana seharusnya hubungan yang terjalin antar dua orang yang harus selalu kudus hingga akhir hayat memisahkan. Bagi kawan-kawan yang membaca tulisan ini, mari jaga kekudusan hubunganmu kawan, kalau awak sih masih single, hehe.

Kemudian sang kakak juga bercerita bahwa setelah pacarnya mengetahui dia hamil, pacarnya ini meninggalkannya. Di sini aku belajar tentang bagaimanakah komitmen itu. Mungkin hubungan antara kita dan pasangan kita pernah salah, atau jatuh ke dalam dosa. Namun yang paling utama bukanlah kita lari dari masalah itu dan menjalani penyesalan yang panjang dan penuh putus asa, tapi bagaimana kita berusaha bangkit dan keluar dari masalah itu. Jangan lupa, ada Seseorang mengasihi kita dan telah berjanji memegang tangan kita ketika kita terjatuh. Buluh yang terkulai takkan dipatahkanNya. Dan sang kakak kemudian berjumpa dengan seorang teman yang berusaha menguatkannya dan mengingatkan lagi bahwa ada Seseorang yang selalu dan selalu mengasihinya.

Kemudian dia juga bercerita bahwa dia sempat memilih untuk melakukan aborsi, tapi setelah dia berjumpa dengan seorang teman ini, dia disadarkan bahwa keputusannya itu salah. Tuhan telah menitipkan suatu kehidupan baru di rahimnya dan merupakan tugas dan tanggung jawabnya untuk menjaga apa yang telah Tuhan berikan kepadanya. Awalnya dia berpikir bahwa anaknya akan cacat atau memiliki kekurangan karena dosa yang telah dilakukannya itu. Tapi setelah anak itu lahir, anak itu lahir dengan fisik yang sehat dan dia sangat bersyukur akan kelahiran anaknya ini. Sang kakak pun semakin lupa akan perihnya permasalahan yang dihadapinya dulu. Ini pembelajaran keempat yang kudapat, bahwa kesalahan, dosa yang kita buat, ketika kita telah menyesal dan mengaku akan kesalahan kita ini, maka Dia Yang Maha Baik dan Pengampun akan membuat hal baik dari kesalahan atau dosa kita itu.

Setelah kesaksian sang kakak, kami kembali bernyanyi, berfoto, dan akhirnya tiba saat berpisah untuk kembali ke Bandung. Kami membagikan kue dan mainan untuk sahabat-sahabat kecil kami dan jam 6 sore kami pun keluar dari rumah pengharapan itu. Ternyata cuaca di luar masih hujan dan selama kurang lebih 30 menit kami semua berdiri di luar memandang air hujan yang belum juga berhenti turun ke bumi pertiwi. Kami bermain bersama beberapa adik kecil yang ikut menemani kami menghabiskan waktu. Kemudian seorang kakak keluar dan mengajak kami kembali masuk ke dalam. Di dalam ruangan kami kembali bermain dengan sahabat-sahabat kecil. Mereka ternyata sudah mandi dan wangi anak kecil tercium di badan mereka. Jadi semakin gemas. Haha.

Jam 19.30, karpet digelar dan mereka semua duduk di sana. Ternyata mereka akan melakukan Doa Malam yang rutin dilakukan tiap hari di rumah itu. Biasanya mereka melakukan ini jam 20.30, tapi karena hari itu ada tiga kunjungan ke rumah itu termasuk kunjungan kami, mereka ingin beristirahat lebih cepat malam itu. Lagu-lagu pun dinyanyikan dan kemudian ditutup dengan doa bersama dan pembacaan ayat. Di sinilah pembelajaran kelima yang kudapat dan paling menohokku.

Seorang adik berumur 16 tahun memimpin doa bersama itu. Metodenya dia akan membacakan topik doa dan yang lain akan bersama-sama berdoa tentang topik itu. Seperti yang kutuliskan di atas, kebanyakan adik-adik yang ada disana tidak mengenal keluarga mereka sejak kecil, termasuk sang adik yang memimpin doa ini. Kemudian tiba pada satu topik doa yang menohokku, sang adik menyebutkan doa untuk keluarga. Kemudian mereka bersama-sama mendoakan keluarga mereka. Berbagai suara keluar, mulai dari suara anak paling kecil yang sudah bisa berdoa, dan suara yang sudah lebih tua dan juga kami. Mereka mendoakan keluarga. Keluarga yang mana? Keluarga yang tidak pernah mereka kenal. Keluarga yang mungkin tidak pernah mereka rasakan kasih sayangnya. Tapi mereka mendoakan keluarga mereka ini. Bagaimana dengan aku? Apakah aku ingat mendoakan keluargaku, yang telah kulihat sejak aku keluar dari kandungan dan selalu mengasihiku hingga sekarang? Ya aku ingat. Tapi kadang itu pun hanya formalitas saja. Sementara mereka melakukan itu tiap malam, tiap hari, mendoakan keluarga yang tidak pernah mereka kenal.
Ya, itu benar-benar sangat menohokku.

Kemudian setelah doa malam kami kembali bermain dengan adik-adik kecil. Sebelum pulang aku bermain dengan seorang adik. Beberapa minggu lalu dia baru berulang tahun dan sepertinya ingatan itu masih terus ada di kepalanya. Aku sedang memegang gitar dan kemudian dia berbisik, menyebut kata ‘selamat ulang tahun’. Aku sempat bingung sebelum seorang teman memberitahuku tentang fakta tadi. Baru aku sadar kalau dia memintaku melantunkan lagu ‘selamat ulang tahun’. Kemudian dia juga meminta lagu ‘happy birthday’, ‘tiup lilinnya’, dan ‘potong kuenya’. Kami menyanyikan ini berdua dan aku tidak bisa menggambarkan dengan kata-kata bagaimana perasaanku saat itu. Aku selalu merayakan ulang tahunku setiap tahunnya, menyanyikan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan, tapi mungkin baru kali itulah aku benar-benar memaknai nyanyian itu bersama sahabat kecilku yang baru ini.

Setelah bernyanyi, dia kemudian melipat tangannya. Aku hanya mengamatinya saja, apalagi yang akan dilakukan adik kecil ini. Kemudian dia mengucapkan ‘Tuhan’, sambil melihat aku. Aku pun mengikutinya membilang ‘Tuhan’. Kemudian aku diam lagi dan memandang dia. Dia juga hanya memandangi aku. Setelah beberapa detik kami berpandang-pandangan, akhirnya aku sadar kalau dia ingin aku memimpin doa dan dia mengikutinya. Aku pun memimpin doa.
“Tuhan”, kataku.
“Tuhan”, katanya.
“Terima kasih aku sudah ulang tahun”, kataku.
“Telima kacih aku cudah ulang tahun”, katanya.
“Berkatilah aku Tuhan”, kataku lagi.
“Belkatilah aku Tuhan”, katanya dengan suara mungilnya.
“Semoga aku tambah baik”, balasku.
“Cemoga aku tambah baik”, jawabnya.
“Tambah pintar”, ucapku.
“Tambah pintal”, katanya.
“Dan tambah sayang sama Tuhan”, kataku kemudian.
“Dan tambah cayang cama Tuhan”, katanya lagi.
“Terimakasih ya Tuhan”, kataku.
“Telimakacih ya Tuhan”, katanya juga.
“Aminnn”, akhir dariku.
“Aminnnn”, akhir darinya.
Kemudian kucium dan menyalam tangannya. Selamat ulang tahun ya dek.



Kami pun meninggalkan rumah pengharapan itu. Seorang junior yang sedari tadi menggendong adik kecil hendak melepas adik kecil ini. Tapi adik kecil ini tidak mau. Kemudian si adik kecil menangis dan terus menangis, tidak ingin sang kakak meninggalkan rumah itu. Aku sempat bercanda kepada sang junior supaya dia tetap tinggal dan besok aja kembali ke Bandung. Akhirnya kami melepaskan adik itu dan dia terus menangis di gendongan kakak penghuni rumah. Sang junior pun akhirnya ikut menangis melihat air mata adik kecil yang terus terjatuh. Aku pun ikut menangis di dalam hati melihat kejadian itu dan berjanji dalam hati bahwa semoga ini bukan kunjungan yang hanya dilakukan pada saat event tertentu saja. Semoga kami bisa datang kesini lagi secara rutin bertemu dan berbagi kasih dan cerita dengan adik-adik di sana. Dan janji ini juga ternyata tidak tertanam di aku saja, tapi kedua puluh orang yang lain yang datang ke rumah itu, sore itu.

Sebelum meninggalkan tempat, aku juga sempat mengucapkan janji dengan beberapa sahabat kecil yang sudah sekolah SD. Mereka akan menghadapi ujian akhir semester dan kusemangati mereka agar terus semangat belajar dan sekolah hingga SMP, SMA, dan kuliah. Semoga Tuhan terus memberkati mereka.

Terimakasih kepada Ruben, Moses, Louis, Gaby, Morina, dan juga adik-adik lainnya yang telah menjadi guru dan memberikan pembelajaran akan makna kehidupan kepada kami. Begitu juga dengan kakak-kakak di sana yang telah menghadapi tantangan dan permasalahan, tapi bangkit dan terus berdiri teguh, tidak goyah. Tuhan memberkati kalian juga kak.

Sangat bersyukur akan hari ini. Akan pembelajaran yang kudapat. Benar pernyataan paling atas. Bahwa pembelajaran itu tidak hanya didapat berdasarkan teks saja, tapi justru akan benar-benar tertanam ketika kita melihat konteks, melihat langsung permasalahan ataupun kondisi yang ada.

Thursday, 28 April 2011

Semakin Seperti

Durasi baca: 3-4 menit

Malam ini makan malam bersama dua orang sahabat. Tak berbeda dengan orang lain, sambil menunggu datangnya hidangan, kami berdiskusi tentang banyak hal dan akhirnya sampai ke topik yang menjadi judul tulisan ini. Semakin seperti.

Semakin seperti apa? Atau semakin seperti siapa?

Aku akan coba membagikan apa yang kami diskusikan di tulisan ini.

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, marilah kita beralih sejenak ke kehidupan selebritis. Seorang fans yang menggemari artis idolanya biasanya akan meniru apa yang dilakukan atau dikenakan oleh idolanya itu. Biasanya barang-barang yang dikenakan artis itu akan jadi tren dan laku di pasaran. Itu juga yang membuat sering kali selebritis ditawarkan menjadi model sebuah brand dimana dia akan disewa selama beberapa waktu menjadi ‘iklan berjalan’ brand tersebut. Hal ini karena melihat psikologis manusia yang biasanya berusaha untuk menjadi seperti siapa yang diidolakannya.

Sekarang kita beralih ke klub sepakbola. Sudah jelas fakta bahwa sepakbola merupakan olahraga yang paling banyak digemari di dunia. Setiap negara biasanya mempunyai kompetisi dan klub-klub sepakbolanya masing-masing. Tentunya setiap klub ini juga punya fans setia bahkan di beberapa klub, mereka mempunyai fans yang tidak hanya setia, tapi juga fanatik dan bahkan siap berkorban nyawa demi klub idolanya ini.

Salah satu klub terbaik yang mempunyai penggemar terbanyak di dunia adalah Manchester United (hehe, silakan anda tentukan sendiri klub terbaik menurut anda). Sama halnya dengan selebritis tadi, seorang fans MU pastinya akan berusaha semakin seperti klub yang diidolakannya ini. Dia akan membeli merchandise klub tersebut, menonton setiap pertandingan klub itu, dan mencari tahu informasi-informasi yang berhubungan dengan klub tersebut. Seperti itulah psikologis manusia, berusaha semakin seperti apa yang dicintainya, apa yang diidolakannya.

Terus, ke arah mana tujuan tulisan ini? Hehe, sebelum sampai kesana, kita akan membahas contoh kasus terakhir.

Umumnya setiap orang punya sosok yang diidolakannya. Sosok itu seperti ayahnya, ibunya, gurunya, pahlawan nasional, ataupun tokoh-tokoh lain yang menurutnya melakukan hal-hal yang menginspirasinya. Setelah mengidolakan mereka, biasanya seseorang ini akan berusaha belajar dari kehidupan sosok yang diidolakannya ini, mengenalinya lebih jauh, dan mencontoh apa yang telah dilakukan oleh mereka. Seperti itulah psikologis manusia, berusaha semakin seperti siapa yang dicintainya, siapa yang diidolakannya.

Seperti itulah psikologis manusia, berusaha semakin seperti apa yang dicintainya, apa yang diidolakannya. Seperti itulah psikologis manusia, berusaha semakin seperti siapa yang dicintainya, siapa yang diidolakannya. Dan seharusnya seperti itulah juga manusia, ketika mencintai Tuhan yang dicintainya. Berusaha semakin seperti Tuhan yang dicintai dan disembahnya.

Berusaha semakin seperti Tuhan ini tentunya bukan bermakna dangkal yaitu bahwa manusia itu berusaha menjadi Tuhan, menyamai Tuhan, bahkan berusaha melebihi Tuhan. Beribu-ribu tahun yang lalu, peristiwa di Babel menjadi contoh nyata bagaimana kecongkakan manusia yang dengan pemahaman dangkalnya berusaha menyamai Tuhan, telah diceraiberaikan oleh Tuhan ke penjuru dunia. Hanya Tuhan Yang Maha Tahu, Maha Pencipta, dan Maha Segalanya, itu sudah jelas.

Terus, bagaimana kita berusaha semakin seperti Tuhan?

Semakin seperti Tuhan disini menurutku adalah sama seperti contoh-contoh di atas tadi. Mengenal Tuhan lebih jauh, berusaha belajar tentang semua hal yang diajarkanNya, terus dan terus berusaha memahami apa yang diinginkanNya.

Tuhan Maha Baik, Maha Penyayang, Maha Pengasih, Maha Adil, dan Maha lainnya, tentunya kita juga sebagai manusia seharusnya berusaha untuk semakin sepertiNya, semakin baik, semakin penyayang, semakin pengasih, semakin adil, dan semakin lainnya.
Seperti itulah psikologis manusia, berusaha semakin seperti siapa yang dicintainya. Dan seharusnya seperti itulah juga manusia, ketika mencintai Tuhan yang dicintainya. Berusaha semakin seperti Tuhan yang dicintai dan disembahnya.

Kita saja berusaha untuk meniru apa yang dikenakan artis idola kita, atau mencari semua informasi yang berhubungan dengan klub kesayangan kita, ataupun berusaha belajar dari kehidupan Ayah kita yang merupakan sosok idola kita, masa kita tidak juga berusaha mengenali Tuhan yang kata kita, sangat kita cintai???

Ketika seseorang berkata bahwa dia menyembah dan mencintai Tuhan yang disembahnya, tapi dia tidak pernah berusaha untuk mengenalNya lebih jauh, tidak belajar tentang nilai-nilai yang diajarkanNya, dan tidak berusaha memahami apa yang diinginkanNya, maka perkataan seseorang ini bahwa dia mencintai Tuhan yang disembahnya harus dipertanyakan lagi.

Ketika seseorang mengatakan bahwa dia mencintai Tuhan yang disembahnya, tapi dia justru melakukan hal yang berseberangan dengan Tuhannya ini, maka perkataannya itu jelas merupakan kata-kata semata.

Hal ini jelas berlaku untuk semua agama yang ada di dunia. Semakin seperti Tuhan yang disembahnya dan tentunya tidak melakukan apa yang tidak diajarkan Tuhannya.


Bila Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan Yang Maha Baik, Maha Penyayang, Maha Adil, dan begitu banyak Maha lainnya, tentunya kita juga harus semakin baik, semakin penyayang, semakin adil, dan semakin lainnya. Bukannya menjadi seseorang yang membenci orang lain, bersikap tidak adil, dan hal-hal lainnya yang bertentangan dengan keinginan Tuhan yang kita sembah.


Semua ini berawal dari pengenalan yang terus menerus akan Tuhan, membaca KitabNya dengan sungguh dan memahami ajaranNya dengan utuh.

Semoga tulisan ini berguna.
^^

Thursday, 21 April 2011

Kamis Putih

Untuk pertama kalinya melalui Kamis Putih menjelang Jumat Agung bukan di Medan ataupun Bandung melainkan di sebuah ibukota kabupaten di Jawa Barat, Cirebon.

Hari ini mulai mengerjakan tugas akhir. Dapat kesempatan mengikuti survei ttg abrasi pantai serta kaitannya dengan sosial ekonomi masyarakat. Padahal sudah tahun kelima, tapi ini merupakan survei pertama yg pernah kuikuti. Ntah apa aja kerjaanku selama ini. Hahaha. Tapi, apapun yg dijalani itu aku yakin gak sia2. Sekarang yg paling penting bagaimana mengakhiri ini semua dgn caraNya, bukan caraku. Ya, memang itulah inti dari ini semua. Menjalani sesuai panggilan.

Hari ini adalah Kamis Putih, hari dimana kurang lebih dua ribu tahun yang lalu Dia melakukan Perjamuan Terakhir dengan para rasul. Anggur dan Roti diberikan, bukti penyertaanNya yang akan selalu setia menjaga perjalanan hidup para rasul, termasuk saya saat ini.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita lupa akan penyertaanNya. Ketika hidup begitu menyenangkan, hari-hari berlalu dengan lancarnya, kita sering berpikir bahwa itu karena hasil usaha kita sendiri. Kita lupa mengucap syukur kepada Sang Khalik pemberi itu semua. Dan akhirnya tiba saat ketika segala masalah datang mengganggu kehidupan kita, kita pun hanya bisa mengeluh mempertanyakan penyertaan Tuhan. Keliatannya Tuhan tidak setia. Tidak. Kita yang tidak setia kepadaNya.

Di Kamis Putih ini, saatnya kita mengoreksi lagi apa yg kita lakukan selama ini. Apakah kita masih setia kepadaNya? Apakah kita menjalani hari-hari yg sesuai dgn keinginanNya? Apakah kita telah menjalani panggilan itu, tujuan kita ada di dunia ini?
Aku pun sering terjatuh dalam hal ini. Bukan sekali, dua kali, tapi sering.

Semoga masa-masa Paskah ini kita kembali dapat merefleksikan pengorbananNya, penyertaanNya, dan perlindunganNya kepada kita, dan sebagai murid, tentunya merupakan tugas kita untuk dapat menjalani hidup sesuai keinginanNya, dan menjadi saksi, membagikan kasihNya kepada sesama.

Selamat menjalani masa-masa Paskah ini dan semakin diperbaharui lagi di dalam kehidupan.
Gb, always.

Monday, 18 April 2011

Solidaritas Keberagaman


Sebuah sikap solidaritas kepada saudara-saudara GKI Taman Yasmin, HKBP Cikeuting, Ahmadiyah, dan saudara-saudara lainnya di bumi Indonesia yang sedang menghadapi permasalahan keberagaman.

Salam damai Indonesia,

65 tahun yang lalu, bahkan sekarang hampir 66 tahun, Indonesia mengalami beratnya perjuangan meraih kemerdekaan.
Para pejuang bahu membahu melawan penjajahan dan harga mempertahankan kemerdekaan itu tidak murah.
Darah beribu-ribu orang telah tercucur.

Apakah darah itu hanya milik satu ragam manusia saja?
Atau hanya milik satu etnis penduduk Indonesia?
Jelas tidak.
Sejarah telah menjadi saksi dari perjuangan beragam manusia, manusia Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.
Ada suku Aceh, Batak, Melayu, dan lainnya di Pulau Sumatra.
Ada suku Jawa, Sunda, Madura, dan suku lainnya di Pulau Jawa.
Dan berpuluh-puluh suku lainnya di seluruh Indonesia yang setiap darah dari manusianya telah berkontribusi nyata bagi kemerdekaan yang kita nikmati sekarang.
 Suku Dayak dan lainnya di Kalimantan.
Suku Toraja dan suku-suku lainnya di Sulawesi.
Beragam suku di Maluku dan Papua, serta suku-suku di kawasan Nusa Tenggara.
Tidak lupa juga orang Tionghoa, India, dan lainnya yang walaupun suku pendatang di Indonesia, tapi juga memiliki jiwa Indonesia yang tidak kalah dari suku-suku asli.
Beragam agama juga ikut mempertahankan kemerdekaan.  Orang Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan agama, kepercayaan lainnya ikut berdiri bagi bangsa.
Darah mereka semua telah jatuh ke bumi pertiwi, ke tanah tempat kita berpijak sekarang.

Apakah setelah mereka mati, jasad dan darah mereka  terpisah menurut ragam, etnis, suku, dan agama mereka?
Jelas tidak!!
Darah mereka semua mengalir bersama dengan bangganya, ke tanah air yang kita injak sekarang.
PERSATUAN ITULAH YANG MENJADI JAWABAN ATAS KEMERDEKAAN INI!!!

Saya seorang beragama Kristen. 22 tahun lalu saya dilahirkan dari kandungan ibu saya. Tapi sebelum saya mengetahui fakta bahwa saya seorang Kristen, saya terlebih dahulu telah menjadi orang Indonesia. Hal ini jelas. Saya seorang Kristen, Kristen Indonesia.
Begitu juga saudara-saudara saya yang lain. Islam Indonesia, Katolik Indonesia, Budha Indonesia, Hindu Indonesia, Aceh Indonesia, Batak Indonesia, Jawa Indonesia, Tionghoa Indonesia, Toraja Indonesia, Asmat Indonesia, dan beragam Indonesia lainnya.
PERBEDAAN ITU BUKAN UNTUK DIBANDINGKAN, TAPI DISANDINGKAN!!!

Masih banyak permasalahan-permasalahan di Indonesia yang belum selesai. Dari Sabang sampai Merauke dipenuhi permasalahan kemiskinan, ketidakadilan, korupsi, dan banyak permasalahan lainnya.
Kota-kota besar dan kecil banyak menghadapi permasalahan yang berlarut-larut.
Sudah bukan saatnya untuk membuat permasalahan yang dulunya justru adalah jawaban dari permasalahan-permasalahan yang ada.
Rakyat Indonesia sudah terlalu banyak mengeluarkan air mata menghadapi segala permasalahan kemiskinan, ketidakadilan, dan lainnya dan TANGISAN ITU JANGAN DITAMBAHKAN LAGI DENGAN PERMASALAHAN KEBERAGAMAN INI!!!

PERSATUAN ITULAH YANG DULU MENJADI JAWABAN ATAS KEMERDEKAAN, DAN SEKARANG KAMI YAKINI JUGA MERUPAKAN JAWABAN ATAS PERMASALAHAN-PERMASALAHAN YANG ADA DI INDONESIA KITA TERCINTA INI!!!!

Pemerintah, para pimpinan yang telah dipilih oleh suara rakyat harus tegas menyikapi hal ini. Setiap pelanggaran yang ada tidak boleh ditoleransi, tapi harus dikenakan hukuman yang jelas.
Tunjukkan ketegasan kalian!!

Wahai para pemimpin rakyat, masih pahamkah kalian dengan salah satu nilai yang ada di dalam demokrasi, DARI RAKYAT, OLEH RAKYAT, UNTUK RAKYAT???
Apakah kalian lupa, bahwa kalian berasal dari kami, kamilah yang memilih kalian, dan kami menunggu perubahan-perubahan besar yang bisa kalian lakukan untuk membuat bangsa ini bisa semakin baik lagi.
Bukan hanya kemajuan kalian, keluarga kalian, ataupun kelompok-kelompok kalian,
Tapi kemajuan kita sebagai bangsa, kita sebagai bangsa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Kami menunggu ketegasan kalian wahai para pemimpin yang kami hormati dan cintai.

Ingat,
Persatuan itulah yang dulu menjadi jawaban atas kemerdekaan, dan sekarang kami yakini juga merupakan jawaban atas permasalahan-permasalahan yang ada di Indonesia kita tercinta ini!!!!


Ingat,
Setiap ragam saudara-saudara yang sedang mengalami diskriminasi saat ini juga merupakan bagian dari bangsa Indonesia ini.
Saya yakin, kami yakin, semangat, keinginan, dan darah mereka juga tidak kalah dari ragam saudara-saudara lain yang tidak terdiskriminasi dalam berjuang mengisi kemerdekaan dan membangun bangsa yang kita cintai ini...

Hidup keberagaman,
Hidup kebebasan umat beragama,
Hidup persatuan Indonesia,
Hidup Bhinneka Tunggal Ika,

Jaya selalu Negara Kesatuan Republik Indonesia!!!!

MERDEKA!!!!