inspirasi

inspirasi

Monday, 28 March 2011

Menjejak di Bumi, Berperan dalam Komunitas

Menurut Muhammad Hatta, tugas perguruan tinggi adalah membentuk manusia susila dan demokrat yang:
1. Memiliki keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakatnya.
2.Cakap dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan.
3. Cakap memangku jabatan atau pekerjaan dalam masyarakat.

Ungkapan pemikiran Hatta di atas dapat disederhanakan dengan kata-kata bahwa tugas perguruan tinggi adalah membentuk insan akademis. Insan akademis yang dimaksud di sini adalah insan yang memiliki dua peran. Pertama, peran untuk selalu mengembangkan diri sehingga menjadi generasi yang tanggap dan mampu menghadapi tantangan masa depan. Kedua, peran yang akan muncul dengan sendirinya apabila mengikuti watak ilmu itu sendiri. Watak ilmu adalah selalu mencari dan membela kebenaran ilmiah. Dengan selalu mengikuti watak ilmu ini maka insan akademis mengemban peran untuk selalu mengkritisi kondisi kehidupan masyarakatnya di masa kini dan selalu berupaya membentuk tatanan masyarakat masa depan yang benar dengan dasar kebenaran ilmiah. Dengan pemaparan ini maka secara teknis, keseluruhan proses pendidikan di perguruan tinggi ditujukan untuk membantu atau memberi alat pada mahasiswa untuk menjawab tantangan masa kini dan masa depan. Selain itu pendidikan juga ditujukan untuk membantu mahasiswa menentukan visinya tentang tatanan masyarakat masa depan yang baik menurut kaidah ilmiah.

Mahasiswa sendiri juga harus ikut serta mendidik dirinya sendiri (learning by themselves) dengan tetap berpedoman pada nilai kebenaran ilmiah. Mereka harus senantiasa melakukan kritik dan koreksi atas dirinya sendiri. Apabila itu semua dilakukan dengan segala kesadaran, maka rasa tanggung jawab sebagai insan akademis akan tertanam. Dalam alam yang merdeka ini mahasiswa menemui suasana yang baik untuk membentuk karakter akademiknya, yaitu kebenaran, keadilan, kejujuran, dan kemanusiaan. (Konsepsi Kemahasiswaan ITB).
Inilah gambaran pemahaman tentang mahasiswa dan kemahasiswaan.

Dari definisi di atas, maka dapat disimpulkan juga apa definisi dari Mahasiswa Kristen. Mahasiswa Kristen adalah seseorang yang sedang berperan sebagai mahasiswa, dimana peran yang sedang dijalankannya ini didasarkan pada nilai-nilai Kekristenan. Seseorang ini memiliki peran yang tidak berbeda dengan mahasiswa lainnya. Dia harus selalu mengkritisi kondisi kehidupan masyarakat di masa kini dan juga berupaya membentuk tatanan masyarakat masa depan yang benar. Namun dasar kenapa dia berperan seharusnya berbeda dengan mahasiswa lainnya, dimana perannya sebagai mahasiswa seharusnya dilakukan sebagai tindakan nyata iman dan ketaatannya kepada Sang Pencipta.

Mengapa demikian?
Sebagai umat Nasrani yang telah mengetahui Berita tentang Kasih Anugerah yang sangat besar itu, sudah selayaknya setiap orang Kristen menjalankan panggilannya, tujuan hidupnya, sesuai dengan perannya masing-masing di dunia ini. Setiap orang Kristen seharusnya menjadi berkat melalui hidupnya, menjadi terang dan garam bagi dunia, menjadikan hidupnya kesaksian yang nyata tentang betapa besarnya penyertaan Allah kepada setiap manusia. Setiap orang Kristen harus menjalankan nilai-nilai kebenaran yang telah diajarkan olehNya, dan sebagai seseorang yang sedang menjalankan kehidupan sebagai mahasiswa, sudah seharusnya seorang pemuda Kristen juga menjadi terang dan garam melalui kehidupan kemahasiswaannya.

Pahlawan Nasional Johannes Leimena pernah mengatakan bahwa umat Kristen memiliki dua kewarganegaraan, warga kerajaan surga dan warga negara dunia. Peran yang dilakukan dari kedwiwarganegaraan ini haruslah seimbang, tidak timpang salah satu. Kadangkala seorang mahasiswa yang memiliki KTP Kristen masih belum benar-benar memahami hal ini. Banyak mahasiswa berKTP Kristen yang begitu aktifnya dalam hal-hal horizontal, namun melupakan vertikal, dan tidak kalah banyaknya juga mahasiswa berKTP Kristen yang begitu khusyuknya dalam hal vertikal namun tidak menyadari perannya dalam hal-hal horizontal. Seharusnya kedua hal ini dilakukan seimbang, sama seperti Hukum Terutama yang telah diajarkan oleh Yesus, Kasihilah Tuhan Allahmu, dan Kasihilah sesamamu manusia.

Begitu banyak permasalahan yang sedang terjadi di tengah-tengah masyarakat dan bangsa saat ini, dan merupakan peran pemuda Kristen untuk bisa menjadi terang dan garam, menjadi jawaban atas setiap permasalahan yang ada di berbagai bidang kehidupan. Tugas ini harus sudah dijalankan sejak dini, sejak mahasiswa melalui perannya di kuliah, organisasi, dan kehidupan bermasyarakat. Seorang penulis Kristen, Yonky Karman, menyatakan di sebuah seminar, “Apakah Injil hanya berurusan dengan masuk surga, sementara kita masih hidup berpuluh-puluh tahun di dunia. Apakah bukan tugas kita untuk melakukan sesuatu di dunia, yang telah Tuhan titipkan kepada kita?”.

Saturday, 26 March 2011

Peduli itu Harus Nyata

Tulisan ini dikutip dari buku Isu-Isu Global karya John Stott. Tulisan yang ketika aku pertama kali baca, sejenak membuatku terdiam dan bertanya kepada diriku, apa aku juga seperti sang perempuan tuliskan. Kadangkala kita merasa hubungan kita begitu baik dengan-Nya, tanpa menyadari bahwa kita lupa pada hukum kedua yang juga terutama, yakni 'Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri'. Semoga tulisan ini bisa membuat kita kembali tersadar akan peran kita, sama seperti yang kurasakan ketika membaca tulisan ini. Selamat membaca.

_________

Ada seorang perempuan malang yang tidak punya tempat berteduh, melapor kepada pendeta akan kondisinya, namun dengan mimik tulus dan serius, namun terlalu sibuk untuk langsung membantu, pendeta itu berjanji akan mendoakannya. Dengan sangat kecewa, perempuan itu meninggalkan gereja, dan menuliskan sajak ini.

"Saya kelaparan,
dan anda membentuk kelompok diskusi untuk membicarakan kelaparan saya.

Saya terpenjara,
dan anda menyelinap ke kapel anda untuk berdoa bagi kebebasan saya.

Saya telanjang,
dan anda mempertanyakan dalam hati akan kelayakan penampilan saya.

Saya sakit,
dan anda berlutut menaikkan syukur kepada Allah atas kesehatan anda.

Saya tak mempunyai tempat berteduh,
dan anda berkotbah kepada saya tentang kasih Allah sebagai tempat berteduh spiritual.

Saya kesepian,
dan anda meninggalkan saya sendirian untuk berdoa bagi saya.

Anda kelihatan begitu suci, begitu dekat kepada Allah.
Tapi saya tetap amat lapar -dan kesepian- dan kedinginan."

Wednesday, 23 March 2011

Lagi-lagi dengan tema yang sama, Lebih baik menyalakan sebatang lilin


Tulisan di bawah ini dikutip dari buku One Month to Live (Apa yang akan Anda lakukan jika waktu hidup Anda tinggal 30 hari?) karya Kerry & Chris Shook. Selamat membacanya dan semoga mendapatkan makna penting yang terkandung di dalamnya.


Kekuatan Satu Orang

Seorang pengusaha yang mengunjungi komunitas resort suatu hari meninggalkan hotelnya pagi-pagi benar untuk berjalan-jalan. Ketika ia sampai di garis pantai, ia melihat sesuatu yang mengherankan; bintang laut yang tak terhitung banyaknya tersapu ke pantai sepanjang malam karena gelombang pasang. Mereka masih bergerak, masih hidup, merangkak, mendekat satu dengan yang lain, berusaha kembali ke laut. Ia tahu tidak lama lagi matahari musim panas akan membakar makhluk malang yang terjebak di pasir ini. Ia berharap bisa melakukan sesuatu, tetapi sejauh mata memandang ada ribuan bintang laut. Tidak ada jalan baginya mengurangi jumlah mereka untuk menyelamatkan mereka.

Ia pun meneruskan perjalanannya. Ketika berjalan lebih jauh di pantai, ia bertemu seorang anak kecil yang sedang membungkuk, mengambil bintang laut itu dan melemparkannya seperti Frisbee ke laut. Ia mengulang proses ini berkali-kali, melakukannya dengan cepat, dan jelas berusaha untuk menyelamatkan bintang laut itu sebanyak mungkin.

Ketika orang itu menyadari apa yang sedang dilakukan anak kecil itu, ia merasa bertanggung jawab untuk membantunya dengan memberitahu pelajaran kehidupan yang keras. Ia berjalan mendekati anak itu dan berkata, “Nak, izinkan saya memberitahu kamu. Apa yang kamu lakukan ini sungguh mulia, tetapi kamu tidak bisa menyelamatkan semua bintang laut itu. Jumlahnya ribuan. Matahari akan segera naik, dan mereka semua akan mati. Kamu lebih baik melakukan yang kamu suka dan bermain. Kamu sungguh-sungguh tidak bisa membuat perbedaan di sini.”

Anak kecil itu tidak berkata apa-apa mulanya; ia hanya memandang pengusaha itu. Kemudian ia membungkuk dan mengambil bintang laut lainnya, dan melemparkannya ke laut sejauh mungkin, dan berkata, “Ya, saya membuat semua perbedaan yang diperlukan untuk satu bintang laut ini.”

Anak kecil ini tidak mengizinkan besarnya masalah menghalanginya untuk melakukan sesuatu yang bisa ia lakukan: menyelamatkan satu bintang laut setiap kali.

___

Lagi-lagi menuliskan tema yang sama, yang kuulang-ulang dalam beberapa tulisan. Realita yang terjadi sekarang ini, kita juga sering menghadapi hal yang sama dengan yang dihadapi sang anak. Masalah ada di depan mata. Kita sering bertanya, apa yang bisa kulakukan? Aku cuma seseorang yang berada di tengah penduduk dunia, hanya setitik jarum di muka bumi ini. Begitu banyak masalah, dan apa yang bisa kulakukan. Tidak mungkin mengubah itu semua. Dunia ini, bangsa ini, masyarakat ini sudah terlalu sulit untuk diubah. Mati konyol kalau melakukan sesuatu. Lebih baik menjalani kehidupanku sendiri. Mungkin itu pemikiran aku, kau, mereka, kita semua. Tapi, apakah memang hanya itu yang bisa kita lakukan?

Ketika dunia begitu jahat sekarang ini, apakah itu membuat kita akhirnya hanya bersembunyi di kursi-kursi gereja, ataupun di kolong-kolong tempat persekutuan, tidak melakukan apa-apa dan hanya menunggu kedatangan-Nya saja? Apakah ketika kelihatannya perubahan itu sulit dilaksanakan, kebaikan itu sulit untuk dilakukan, membuat kita memiliki untuk tidak melakukan apa-apa? Lalu dimana letak peran kita, tanggung jawab kita, tujuan kita ada di dunia ini. Lalu apa maksud kutipan ini, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” kalau akhirnya kita tidak berani untuk melakukannya.

Helen Keller merangkumnya dengan baik: “Saya hanya seorang, tetapi saya masih berarti. Saya tidak bisa melakukan segala sesuatu, tetapi saya masih bisa melakukan sesuatu, dan karena saya tidak dapat melakukan segala sesuatu, saya tidak akan menolak untuk melakukan sesuatu yang bisa saya lakukan.” (dikutip dari buku One Month to Live)

Yang manakah kita? Apakah seperti seorang pengusaha yang memilih untuk membiarkan kondisi yang ada karena besarnya masalah tersebut, ataukah seperti sang anak kecil yang mau keluar dari zona nyamannya, dan melakukan sesuatu, sekecil apapun itu. Yang manakah kita? Aku juga masih sering terjerembab di pertanyaan ini.

Mengutip tulisan dari catatan seorang kawan, “Semoga ini hanya diriku saja, karena jika tidak betapa malangnya bangsa ini. Semoga juga aku bisa beranjak dari mengutuki diri ke tahap mengubah diri dan tak lagi malu pada apa yang seharusnya aku katakan ke orang lain tentang siapa diriku sebenarnya. Bahwa aku bukanlah seorang pengecut yang memuji Tuhan dan seorang manja yang mengeluh pada Ibu Pertiwi.” (diubah seperlunya tanpa menghilangkan makna yang dikandung)


Karena bagaimanapun, lebih baik menyalakan sebatang lilin, dan menstimulus nyalanya lilin-lilin lain, daripada meneriaki kegelapan itu. Karena memang itu tujuan adanya terang dan garam itu. Karena memang itu pasti tujuan masing-masing kita ditetapkan ada.

Menuju Tarbantin yang Seutuhnya

ternyata kegelisahan itu tidak sendiri,
akhirnya dia menemukan kompatriotnya,

saatnya mencari jawaban,
sebelum tiba akhir dari masa,
yang sudah semakin mendekat,

harapan revolusi itu ada, bukan evolusi,
dan itu harus dimulai sekarang,
ketika waktu itu masih tersisa,
dan ketika kegelisahan itu sudah menyatu,
siap menghentakkan langkah,
menuju tarbantin yang seutuhnya,

(Sunken Court, 10 Maret 2011)

Friday, 25 February 2011

Sedikit Waktu, Banyak Kerjaan

sudah tinggal sedikit waktu, padahal masih banyak hal yang belum dilakukan,

sangat sedikit sumber daya, padahal banyak hal yang bisa dikerjakan,

Thursday, 24 February 2011

Masihkah Tempat Itu Menjadi Tempat Sepasang Kaki Terhenti (Sebuah Perbincangan Santai Sebelum Tidur)

Durasi baca: 3-5 menit

Tulisan ini ditujukan untukmu. Ya, untukmu. Ini cerita tentangmu dan Si Dia. Si Dia yang selalu menunggumu. Si Dia yang sudah rindu akan setiap lantunan musik yang dulu pernah kau nyanyikan di samping telinganya. Si Dia yang sudah lama tidak menyaksikan gerak gemulai tarian yang kau tampilkan di depan matanya. Si Dia yang hanya bisa menunggu kehadiranmu di siang hari, mendengar segala hal cerita yang kau bincangkan dengan temanmu, namun tak satu pun yang menyinggung dirinya. Si Dia yang selalu menanti saat-saat dimana kau bersama yang lain berkumpul di depannya, berdiskusi tentang segala cita yang mungkin dicapai, dan bersatu untuk meraih tujuan yang telah ditetapkan. Ya, tulisan ini ditujukan untukmu, dan juga untuk Si Dia.


Tempat sepasang kaki terhenti
Di rumah budaya bangsaku
Kuikrarkan dalam jiwaku
Budayaku cermin bangsaku
Kuderapkan langkah bersatu
Menuju cita mulia


Teks diatas adalah sepenggal lirik hymne dari sebuah unit di suatu kampus ternama. Unit yang sudah berdiri sejak tahun 1978 dan tahun ini sudah berumur 32 tahun dan apabila dianalogikan dengan manusia, masa ini seharusnya merupakan masa dewasa dari kehidupan seseorang, kala dimana seseorang yang sudah belajar sejak muda mendedikasikan dan membaktikan dirinya bagi keluarga, teman, dan bangsanya. Masa dimana seseorang sudah bisa berbuat dan tidak hanya melihat saja. Masa ketika seseorang tidak lagi hanya memikirkan kemajuan dirinya, tapi juga memikirkan kemajuan lingkungan di sekitarnya. Ya, kira-kira seperti itu.

Bagaimana dengan unit ini sendiri?

Ketika menyanyikan hymne diatas, timbul berbagai pertanyaan di benakku,
Masihkah unit itu menjadi rumah budaya bangsa?
Apakah kader-kadernya masih mengikrarkan di dalam jiwanya, budaya merupakan cermin bangsanya?
Apakah langkah itu masih berderap bersatu menuju cita mulia di ujung jalan?
Dan masihkah tempat itu menjadi tempat sepasang kaki terhenti??

Beberapa pertanyaan yang seharusnya kita pertanyakan ketika kita menyanyikan hymne itu, agar hymne itu tidaklah menjadi nyanyian kosong tanpa arti, ataupun menjadi lirik yang sarat makna tanpa aksi. Demikianlah hymne itu dibuat untuk tidak hanya menjadi lagu yang harus dihapalkan ketika kita dulu berdiri dengan tekad dan semangat menggebu-gebu, menggedor-gedor pintu gerbang rumah itu, namun ketika gerbang sudah dibukakan, dan kita sudah masuk ke halaman rumahnya, hymne itu terus menjadi lagu yang dihapalkan, dan terus dihapalkan, tapi tanpa aksi. Kebanggaan pun akan timbul, tapi hanya kebanggaan yang semu, tanpa tindakan yang jelas.

Apakah benar seperti itu? Ini hanyalah asumsi, semoga tidak itu yang terjadi. Apabila tidak, mari kita berharap hal itu tidak akan pernah terjadi di rumah ini. Semoga setiap kader yang telah dan akan berdiri di depan pintu gerbang itu tidak hanya menghapalkan hymne itu, namun juga merasakan makna dari setiap kata yang diucapkan, dan melakukan tindakan dari rasa yang sudah mengalir di dalam dada.

Tapi kalau ternyata asumsiku ini benar, walau tidak semua kader, mungkin hanya segelintir, apa yang harus kita lakukan? Apakah hanya membiarkan hal itu terus terjadi? Dan Si Dia, rumah itu, hanya bisa terus menunggu, dan terus menunggu, tanpa bisa melakukan apa-apa. Karena memang begitulah kondisinya, rumah itu akan menjadi rumah seperti yang dinyanyikan di hymne itu, ketika para penghuninya melakukan sesuatu, namun hanya akan menjadi rumah kosong tanpa makna, ketika kita, para penghuninya memakainya untuk menjadi tempat persinggahan semata, bukan menjadi tempat sepasang kaki terhenti.

Jadi, bagaimana? Apa yang bisa kita lakukan? Sebelum kita melakukan sesuatu, mungkin ada satu pertanyaan yang harus dijawab terlebih dahulu. Apakah cita mulia itu? Apakah cita mulia yang menurut hymne ini harus dituju bersama dengan langkah bersatu?

Menurutku, dan juga beberapa kawan-kawanku, dan aku harap kau dan aku bisa berdiskusi bersama mengenai hal ini, karena mungkin aku dan kawan-kawanku masih keliru dalam memaknai cita mulia ini, tapi menurut kami cita mulia itu bukanlah bercerita tentang cita yang bisa dicapai saat ini. Cita itu bercerita tentang sesuatu yang akan terjadi nanti, tapi harus kita usahakan sejak saat ini dengan langkah yang berlelah namun tidak pernah berhenti untuk mencapainya. Bahkan ketika tiba saat dimana kita harus keluar dari rumah itu untuk melihat luasnya lingkungan di sekitar, cita itu mungkin masih belum juga tercapai dan kita pun masih harus terus melangkah untuk mencapainya. Namun karena sejak dibina di rumah itu kita terus memupuk rasa cinta untuk mencapai cita itu, maka ketika tiba saat ketika kita harus keluar dan berada di lingkungan yang lebih besar, keinginan untuk melangkah mencapai cita mulia itu seharusnya akan terus tertanam, di hatiku, hati kawan-kawanku, dan hatimu juga. Seharusnya seperti itu. Karena menurut kami, sebenarnya itulah peran dari rumah ini. Menyiapkan kader-kadernya selama masih di dalam rumah, agar memiliki kecintaan dalam mencapai cita mulia itu, sehingga ketika tiba saat untuk keluar rumah, kecintaan itu akan terus tertanam, dan hal besar bisa dilakukan untuk mencapai cita itu.

Cita seperti apakah itu? Apakah pelestarian budaya? Atau seperti apa? Jawabnya ya dan tidak. Ya untuk pelestarian budaya, tapi tidak apabila hanya pelestarian budaya. Apa yang bisa dilakukan seorang mahasiswa teknik untuk bisa melestarikan budaya? Apakah nantinya kita akan menjadi para seniman, pemusik, atau penari untuk melestarikan budaya ini? Tidak salah memang, tapi berdasarkan peran yang seharusnya kita lakukan, bukan sebatas itu yang bisa kita lakukan. Jadi, apa yang bisa kita lakukan?

Seperti yang  dianalogikan di awal tentang seseorang yang berumur 32 tahun, seharusnya yang kita lakukan sekarang tidaklah sebatas kita saja yang melestarikan budaya itu, tapi bagaimana agar orang lain juga melestarikan dan menghargai budaya itu. Bahkan juga bagaimana membuat budaya itu bisa dihargai di tempat asalnya, dan juga memancing orang-orang dari luar untuk ikut tertarik dan menikmati budaya itu. Akhirnya pelestarian budaya itu bisa berbuat banyak, tidak hanya membuat budaya itu tetap ada dan dilestarikan, tapi pelestarian budaya itu sendiri juga memberikan dampak yang baik bagi orang-orang yang melestarikannya, yaitu dengan peningkatan taraf hidup dan perekonomian mereka karena banyaknya orang-orang dari luar yang ingin menikmati budaya itu dengan datang ke tempat asal budaya itu. Berat dan luas cita itu, tapi memang begitulah, menurut kami. Itulah porsi yang seharusnya bisa kita kerjakan, agar kita tidak berhenti sebagai orang yang melestarikan saja, tapi juga membuat orang lain ikut menghargai dan melestarikan budaya itu.

Hal itulah yang menghasilkan kesimpulan bahwa cita itu mungkin baru akan terwujud nanti, tapi usaha-usaha yang kita lakukan sekarang bisa semakin mempercepat dan mempermudah terwujudnya cita itu nanti.

Usaha-usaha apa saja yang bisa kita lakukan??
Aku harap kita bisa berdiskusi disini.

Akhir kata, ada sebuah cerita, kisah fiksi tentunya, mohon maaf kalau ada kesamaan nama ataupun tempat.

Di sebuah kampus terdapat empat orang mahasiswa yang masih tingkat pertama. Mereka berasal dari daerah yang sama, namun tidak saling mengenal karena berbeda sekolah. Andi seorang mahasiswa dari suatu kabupaten yang jauh dari ibukota provinsi. Perekonomian keluarga dan penduduk di desanya pas-pasan dan dia memiliki keinginan untuk bisa memajukan daerahnya.

Johan adalah seorang mahasiswa yang memiliki jiwa idealis sejati. Sejak SMA dia sudah banyak membaca berbagai artikel di koran dan sering kali merasa kecewa dengan keadaan daerahnya. Dia pun berjanji untuk terus menanamkan idealisme itu selama kuliah agar ketika dia sudah kerja nanti, dia bisa melakukan perubahan yang berarti di lingkungan pekerjaannya.

Mahasiswa yang ketiga, tepatnya mahasiswi, bernama Tika. Dia hidup di dalam keluarga yang harmonis. Sejak kecil di dalam keluarganya sudah ditanamkan ketaatan dalam beragama dan akhirnya sekarang dia sudah memiliki jawaban panggilan hidupnya di dunia. Dia yakin bahwa dia memiliki tanggung jawab juga untuk bisa melakukan perubahan, sekecil apapun itu, untuk bisa membuat bangsa dan negaranya menjadi lebih baik lagi. Dan dia bertekad untuk terus memperkuat keimanannya dan juga kepeduliannya kepada sesama sehingga ketika sudah bekerja, dia bisa melakukan sesuatu yang berarti.

Dan mahasiswa yang terakhir bernama Roni. Dia adalah mahasiswa yang sangat pintar dan memiliki kemampuan akademik di atas rata-rata. Memiliki orangtua yang keduanya merupakan ilmuwan dan bekerja di LIPI membuatnya memiliki semangat untuk meneruskan jejak kedua orangtuanya. Dia bertekad menghasilkan sesuatu yang hebat untuk negaranya dan untuk mencapai itu, selama kuliah dia banyak membaca buku-buku di perpustakaan kampusnya.

Dari keempat mahasiswa ini, sepertinya kita bisa menyimpulkan satu kesamaan dari mereka, yaitu mereka memiliki cita yang sama, yaitu melakukan sesuatu untuk daerahnya, untuk bangsanya. Tapi sayang, keempat mahasiswa ini tidak pernah berjumpa selama di kampus, dan kesempatan menyatukan serta mendiskusikan pemikiran dan cita itu tidak pernah terjadi. Mereka juga tidak pernah berkeinginan mengajak kawan-kawannya yang lain untuk memiliki cita yang sama dan hanya menanamkan cita itu di benak mereka sendiri.

Akhirnya mereka bekerja di empat bidang yang berbeda, dan memang berusaha melakukan sesuatu di lingkungan kerja mereka, tapi karena setiap lingkungan kerja memiliki hubungan satu sama lain, dan perubahan tidak bisa dilakukan di satu lingkungan saja tapi secara menyeluruh. Dan karena tidak adanya kawan yang memiliki cita yang sama di lingkungan kerja lain, atau mungkin sebenarnya ada, tapi mereka tidak pernah saling mengetahui karena tidak pernah berjumpa sebelumnya, akhirnya mereka tidak mampu berjuang sendiri dan cita itu tidak pernah tercapai.


Bagaimana pendapatmu kawan?
Apakah kita akan seperti mereka? Tidak melakukan apa-apa untuk mencapai cita itu dan hanya menanamkan cita itu di benak kita sendiri. Kalau itu yang kita lakukan, mungkin seperti cerita di atas, akhirnya kita akan berjuang sendiri dan cita mulia itu tidak akan pernah bisa kita capai sekuat apapun kita melangkah mengejarnya.

Jadi, apa yang bisa kita lakukan?
Mari kita diskusikan disini kawan, karena kau lah sekarang, bersama kawan-kawan yang lain yang melanjutkan tongkat estafet perjuangan di rumah itu, sebab sedikit waktu lagi sebelum tiba waktu kami untuk keluar dari rumah itu, dan melakukan tugas dan tanggung jawab kami untuk melangkah mencapai cita mulia kita.


Masihkah tempat itu menjadi tempat sepasang kaki terhenti? Tempat untuk berhenti dan belajar banyak hal, memupuk rasa cinta dan keinginan untuk melakukan sesuatu, sebelum tiba saat untuk melangkahkan sepasang kaki, keluar dari rumah, menuju lautan perjuangan mencapai cita, yang mungkin tidak akan berhenti hingga akhir hayat. Aku yakin masih. Apabila kau mau, mari kita diskusikan itu disini. Agar teriakan yel-yel itu tidaklah menjadi teriakan semu tanpa tindakan. Ataupun menjadi sebuah arogansi tanpa aksi. Semoga tidak demikian.

Selamat malam kawan.


Rumah di Pulau Di Tengah Pulau

Bersama budaya lokal
Museum

Hidupilah Hidup

durasi baca: 1-2 menit




 


hidupilah hidup,
dan jangan pernah membiarkan mimpi dan cita yang sudah ada di benak kita itu hanya menjadi mimpi belaka tanpa pernah diusahakan terjadi,
berbangga dan  berbahagialah kita telah diberi kesempatan oleh Yang Diatas untuk mendapatkan mimpi dan cita itu dari sekarang, sejak kita muda,
tapi ingat satu hal,
setiap orang juga diberikan mimpi dan cita, sesuai tujuan kita masing-masing ada di dunia ini,
namun hanya sedikit yg berani keluar dari zona nyaman,
dan melakukan sesuatu yang berarti untuk menggapai mimpi dan cita itu,




yang manakah diri kita?
mari membuat sejarah kita sendiri,
dari sekarang,
mulai dari hal yang kecil,
karena bagaimanapun,
apa yang kita mulai dari sekarang,
pasti tetap berarti untuk merintis jalan,
melangkah lebih dekat menuju mimpi dan cita itu,
dan mimpi serta cita itu aku yakin,
bukan sebatas apa yang terjadi tentang kita,
tapi apa yang dapat kita lakukan, untuk mereka,
karena itu pasti tujuan masing-masing kita ditetapkan ada,
bukan lagi tentang aku, atau kita,
tapi tentang apa yang bisa kita lakukan, untuk mereka, untuk sekitar kita,

mari mulai dari sekarang,
sampai tiba akhir dari kita.



selamat beraktivitas,
dan melangkah lebih dekat,
selangkah, dua langkah, tiga langkah,
menuju mimpi dan cita di ujung jalan.
Yang Diatas akan selalu menyertai langkah kita,
^^