inspirasi

inspirasi
Showing posts with label garam. Show all posts
Showing posts with label garam. Show all posts

Thursday, 17 March 2016

Menantang Kepemimpinan Kristen

Buku ini berjudul Isu – Isu Global Menantang Kepemimpinan Kristen, diterjemahkan dari judul aslinya Issues Facing Christians Today. Ditulis oleh Rev. John Stott, namanya pernah tercatat dalam majalah Time 2005 sebagai salah satu dari 100 orang paling berpengaruh di dunia.

Prestasi prestasi yang di raihnya tak pelak membuatnya begitu dikenal bukan saja di kalangan gerejawi, tetapi membawa pengaruh bagi dunia. Buku karyanya ini sudah mengalami cetak ulang keempat (2005) dengan jumlah 479 (empat ratus tujuh puluh sembilan) halaman.

Buku ini terdiri dari tujuh belas bab yang membahas tentang isu-isu yang sedang terjadi di tengah masyarakat. Yang menarik, buku ini sudah dituliskan beberapa puluh tahun lalu, namun masih kontekstual dan sesuai dengan permasalahan dunia di masa sekarang.

Beberapa isu yang masih banyak dibahas hingga dewasa ini, antara lain:
Bab 1: Keterlibatan Orang Kristen Dalam Masyarakat: Apakah Perlu? Bab 3: Pluralisme: Apakah Harus Kita Paksakan Pandangan-Pandangan Kita? Bab 5: Ancaman Nuklir Bab 6: Lingkungan Hidup Manusia Bab 7: Ketimpangan Ekonomi Utara-Selatan Bab 8: Hak-hak Asasi Manusia
Bab 9: Masalah Kerja dan Pengangguran Bab 10: Hubungan-hubungan Industrial Bab 11: Mimpi Tentang Masyarakat Multi Rasial Bab 13: Wanita, Pria dan Allah Bab 14: Perkawinan dan Perceraian Bab 16: Pasangan Hidup Homoseksual? Bab 17: Kepemimpinan Kristiani

Sekarang ini dunia sedang mengalami berbagai permasalahan seperti permasalahan global (peperangan, persenjataan nuklir, pelanggaran HAM), permasalahan sosial (pengangguran, masalah ekonomi, masalah rasial, moralitas), dan permasalahan spiritual (pengaruh materialisme dan minimnya kualitas dan kuantitas kepemimpinan). Untuk menghadapinya, John Stott memberikan lima unsur esensi kepemimpinan (lebih rinci di Bab 17), yakni Visi, Kerajinan Bekerja, Ketekunan, Pelayanan, Disiplin.
Di halaman 88, John Stott memberikan pernyataan yang sangat renyah dan tepat menjadi refleksi kita; Jika rumah menjadi gelap karena malam tiba, tidak ada gunanya menyalahkan rumah itu, sebab itulah yang terjadi kalau matahari tenggelam. Pertanyaan yang perlu kita ajukan ialah:
Buku ini masih banyak beredar di toko buku. Silakan dicari dan dilahap oleh teman sekalian.
'Dimana lampu-lampunya?' Jika daging menjadi busuk dan tak termakan lagi, maka tidak ada gunanya menyalahkan daging itu, karena itulah yang terjadi bila kuman-kuman dibiarkan membiak di dalamnya. Pertanyaan yang harus dikemukakan ialah: 'Dimana garam-garamnya?'

Saya sangat merekomendasikan teman-teman memiliki buku ini. Silakan dicari di toko buku terdekat. :D

Wednesday, 23 March 2011

Lagi-lagi dengan tema yang sama, Lebih baik menyalakan sebatang lilin


Tulisan di bawah ini dikutip dari buku One Month to Live (Apa yang akan Anda lakukan jika waktu hidup Anda tinggal 30 hari?) karya Kerry & Chris Shook. Selamat membacanya dan semoga mendapatkan makna penting yang terkandung di dalamnya.


Kekuatan Satu Orang

Seorang pengusaha yang mengunjungi komunitas resort suatu hari meninggalkan hotelnya pagi-pagi benar untuk berjalan-jalan. Ketika ia sampai di garis pantai, ia melihat sesuatu yang mengherankan; bintang laut yang tak terhitung banyaknya tersapu ke pantai sepanjang malam karena gelombang pasang. Mereka masih bergerak, masih hidup, merangkak, mendekat satu dengan yang lain, berusaha kembali ke laut. Ia tahu tidak lama lagi matahari musim panas akan membakar makhluk malang yang terjebak di pasir ini. Ia berharap bisa melakukan sesuatu, tetapi sejauh mata memandang ada ribuan bintang laut. Tidak ada jalan baginya mengurangi jumlah mereka untuk menyelamatkan mereka.

Ia pun meneruskan perjalanannya. Ketika berjalan lebih jauh di pantai, ia bertemu seorang anak kecil yang sedang membungkuk, mengambil bintang laut itu dan melemparkannya seperti Frisbee ke laut. Ia mengulang proses ini berkali-kali, melakukannya dengan cepat, dan jelas berusaha untuk menyelamatkan bintang laut itu sebanyak mungkin.

Ketika orang itu menyadari apa yang sedang dilakukan anak kecil itu, ia merasa bertanggung jawab untuk membantunya dengan memberitahu pelajaran kehidupan yang keras. Ia berjalan mendekati anak itu dan berkata, “Nak, izinkan saya memberitahu kamu. Apa yang kamu lakukan ini sungguh mulia, tetapi kamu tidak bisa menyelamatkan semua bintang laut itu. Jumlahnya ribuan. Matahari akan segera naik, dan mereka semua akan mati. Kamu lebih baik melakukan yang kamu suka dan bermain. Kamu sungguh-sungguh tidak bisa membuat perbedaan di sini.”

Anak kecil itu tidak berkata apa-apa mulanya; ia hanya memandang pengusaha itu. Kemudian ia membungkuk dan mengambil bintang laut lainnya, dan melemparkannya ke laut sejauh mungkin, dan berkata, “Ya, saya membuat semua perbedaan yang diperlukan untuk satu bintang laut ini.”

Anak kecil ini tidak mengizinkan besarnya masalah menghalanginya untuk melakukan sesuatu yang bisa ia lakukan: menyelamatkan satu bintang laut setiap kali.

___

Lagi-lagi menuliskan tema yang sama, yang kuulang-ulang dalam beberapa tulisan. Realita yang terjadi sekarang ini, kita juga sering menghadapi hal yang sama dengan yang dihadapi sang anak. Masalah ada di depan mata. Kita sering bertanya, apa yang bisa kulakukan? Aku cuma seseorang yang berada di tengah penduduk dunia, hanya setitik jarum di muka bumi ini. Begitu banyak masalah, dan apa yang bisa kulakukan. Tidak mungkin mengubah itu semua. Dunia ini, bangsa ini, masyarakat ini sudah terlalu sulit untuk diubah. Mati konyol kalau melakukan sesuatu. Lebih baik menjalani kehidupanku sendiri. Mungkin itu pemikiran aku, kau, mereka, kita semua. Tapi, apakah memang hanya itu yang bisa kita lakukan?

Ketika dunia begitu jahat sekarang ini, apakah itu membuat kita akhirnya hanya bersembunyi di kursi-kursi gereja, ataupun di kolong-kolong tempat persekutuan, tidak melakukan apa-apa dan hanya menunggu kedatangan-Nya saja? Apakah ketika kelihatannya perubahan itu sulit dilaksanakan, kebaikan itu sulit untuk dilakukan, membuat kita memiliki untuk tidak melakukan apa-apa? Lalu dimana letak peran kita, tanggung jawab kita, tujuan kita ada di dunia ini. Lalu apa maksud kutipan ini, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” kalau akhirnya kita tidak berani untuk melakukannya.

Helen Keller merangkumnya dengan baik: “Saya hanya seorang, tetapi saya masih berarti. Saya tidak bisa melakukan segala sesuatu, tetapi saya masih bisa melakukan sesuatu, dan karena saya tidak dapat melakukan segala sesuatu, saya tidak akan menolak untuk melakukan sesuatu yang bisa saya lakukan.” (dikutip dari buku One Month to Live)

Yang manakah kita? Apakah seperti seorang pengusaha yang memilih untuk membiarkan kondisi yang ada karena besarnya masalah tersebut, ataukah seperti sang anak kecil yang mau keluar dari zona nyamannya, dan melakukan sesuatu, sekecil apapun itu. Yang manakah kita? Aku juga masih sering terjerembab di pertanyaan ini.

Mengutip tulisan dari catatan seorang kawan, “Semoga ini hanya diriku saja, karena jika tidak betapa malangnya bangsa ini. Semoga juga aku bisa beranjak dari mengutuki diri ke tahap mengubah diri dan tak lagi malu pada apa yang seharusnya aku katakan ke orang lain tentang siapa diriku sebenarnya. Bahwa aku bukanlah seorang pengecut yang memuji Tuhan dan seorang manja yang mengeluh pada Ibu Pertiwi.” (diubah seperlunya tanpa menghilangkan makna yang dikandung)


Karena bagaimanapun, lebih baik menyalakan sebatang lilin, dan menstimulus nyalanya lilin-lilin lain, daripada meneriaki kegelapan itu. Karena memang itu tujuan adanya terang dan garam itu. Karena memang itu pasti tujuan masing-masing kita ditetapkan ada.